Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Kolaborasi Antar Generasi Guru PAI dalam Meningkatkan Kepuasan Belajar Siswa di SMA Oktio Frenki Biantoro Universitas Islam Negeri Salatiga. Indonesia Email: oktiofrenkibiantoro@uinsalatiga. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kolaborasi antar generasi guru PAI dalam meningkatkan kepuasan belajar siswa di SMA. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk menggali dan menjelaskan fenomena yang kompleks dalam konteks pengajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMA Negeri 1 Balong Ponorogo. Metode pengumpulan data yaitu observasi partisipan, wawancara mendalam, dan analisis dokumen. Proses analisis data mencakup analisis interaktif, kondensasi data, penyajian data, dan verifikasi data dengan menjaga keabsahan melalui konsep credibility, transferability, dependability, dan confirmability. Hasil penelitian membahas perbandingan tingkat kepuasan belajar siswa terhadap pengajaran guru PAI yang berusia muda dan berusia tua. Siswa cenderung lebih puas dengan pendekatan kreatif dan efektif yang diterapkan oleh guru muda, sementara guru senior dinilai lebih unggul dalam menjelaskan materi secara jelas dan memberikan dukungan identifikasi kelemahan Kolaborasi antara kedua kelompok guru ini memberikan dampak positif dengan memberikan motivasi kepada siswa dan memfasilitasi pengembangan dimensi spiritual dan emosional siswa, menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan holistik. Penelitian ini memiliki tujuan untuk memberikan pemahaman mendalam dan kontekstual terhadap fenomena pengajaran PAI di SMA Negeri 1 Balong Ponorogo. Kata Kunci: Kolaborasi. Antar Generasi Guru PAI. Kepuasan Belajar. Siswa SMA PENDAHULUAN Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peranan penting dalam membentuk karakter dan moral siswa di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Efektivitas pengajaran PAI sangat tergantung pada tingkat pemahaman, metode pengajaran, dan pendekatan yang diterapkan oleh guru PAI. Dalam konteks ini, pemahaman bahwa setiap generasi guru memiliki gaya pengajaran yang unik dapat berkontribusi secara besar terhadap peningkatan kepuasan siswa terhadap mata pelajaran PAI. (Syahid. , 2. Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) berperan penting dalam membimbing siswa untuk memahami nilai-nilai keagamaan, etika, dan moralitas. Ketika pengajaran PAI dilakukan secara efektif, hal ini akan berdampak positif pada perkembangan dimensi spiritual dan sosial siswa. (Jannah. , 2. Setiap guru memiliki sejarah pendidikan, pengalaman, dan gaya mengajar yang Para guru yang senior mungkin lebih cenderung mengadopsi metode tradisional, sementara generasi yang lebih muda lebih suka mengintegrasikan teknologi dan pendekatan inovatif dalam proses pembelajaran. Mengakui variasi ini dapat menjadi langkah penting dalam menilai dan meningkatkan mutu pengajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). (Nudin, , 2016, 41-62. Tingkat kepuasan siswa terhadap pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dapat mencerminkan sejauh mana guru berhasil dalam menyampaikan materi, menciptakan lingkungan belajar yang mendukung, dan merespons kebutuhan individual siswa. Kepuasan Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 yang tinggi menjadi petunjuk bahwa pendekatan pengajaran yang diterapkan mampu menginspirasi siswa serta memberikan pemahaman yang optimal terhadap materi pelajaran. (Mudlofir. , & Rusydiyah. , 2. Seiring dengan terus majunya teknologi dan perubahan dinamika sosial, pemahaman mengenai dampak generasi guru terhadap kepuasan belajar siswa menjadi aspek yang penting. Penelitian ini memberikan wawasan baru untuk meningkatkan efisiensi pengajaran Pendidikan Agama Islam di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kolaborasi antar generasi guru PAI dalam meningkatkan kepuasan belajar siswa berdasarkan generasi guru PAI yang mengajar. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang mendalam tentang pengaruh generasi guru terhadap kepuasan siswa, dan memberikan dasar bagi perbaikan strategi pengajaran PAI di masa depan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada pengembangan strategi pembelajaran PAI yang lebih efektif di SMA, meningkatkan kepuasan siswa, dan pada akhirnya, membantu dalam mencetak generasi yang lebih berkarakter dan moral. Selain itu, penelitian ini dapat memberikan masukan kepada pihak sekolah dan guru PAI untuk melakukan penyesuaian dalam pendekatan pembelajaran mereka sesuai dengan kebutuhan dan preferensi siswa. METODE Dalam penelitian ini, pendekatan yang diterapkan adalah pendekatan kualitatif, yang mendukung peneliti dalam memahami dan menjelaskan fenomena yang kompleks secara Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Balong Ponorogo, lembaga ini dipilih karena lembaga ini memiliki kolaborasi yang baik antar generasi guru PAI. Teknik pengumpulan data yang digunakan mencakup observasi partisipan, wawancara mendalam, dan analisis dokumen. Observasi partisipan memungkinkan peneliti terlibat langsung dalam situasi yang diamati, sementara wawancara mendalam memberikan kesempatan untuk mendapatkan perspektif langsung dari responden. Dokumentasi juga digunakan untuk mengumpulkan data yang relevan dan mendukung penelitian. Proses analisis data dilakukan melalui tahap-tahap seperti analisis interaktif, kondensasi data, penyajian data, dan verifikasi data atau penarikan kesimpulan. Keabsahan data dijaga melalui konsep-konsep seperti credibility . , transferability . , dependability . , dan confirmability . Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan teknik-teknik ini, penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang mendalam dan kontekstual terhadap fenomena yang sedang diamati. HASIL DAN PEMBAHASAN Persepsi Siswa terhadap Kualitas Pengajaran Guru PAI yang Berusia Muda di SMA Negeri 1 Balong Ponorogo Di SMA Negeri 1 Balong Ponorogo, perbandingan tingkat kepuasan siswa terhadap pengajaran guru muda dan guru tua menjadi fokus penelitian. Meskipun keahlian dan pengalaman guru tua sering diapresiasi, pola yang tampak menunjukkan bahwa siswa lebih merasa puas ketika diajar oleh guru muda. Faktor utama yang memengaruhi persepsi positif Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 siswa tampaknya terletak pada kesesuaian gaya pengajaran yang lebih dinamis dan interaktif yang umumnya diperlihatkan oleh guru muda. Guru muda cenderung lebih familiar dengan perkembangan teknologi, mencerminkan pendekatan pengajaran yang terintegrasi dengan teknologi, presentasi multimedia, dan metode kolaboratif. Keberanian guru muda untuk mencoba pendekatan baru dan keterbukaan terhadap ide-ide segar memberikan warna unik dalam proses pembelajaran di SMA Negeri 1 Balong Ponorogo. Selain itu, hubungan interpersonal yang lebih dekat dan akrab dengan guru muda juga menjadi nilai tambah yang signifikan. Kemampuan guru muda untuk beradaptasi dengan gaya hidup dan kebutuhan siswa menciptakan atmosfer kelas yang nyaman dan mendukung. Keterlibatan aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler, pendekatan yang lebih ramah, dan pemahaman yang lebih dalam terhadap permasalahan siswa turut menyumbang pada kepuasan siswa. Namun, perlu perhatikan jika tingkat kepuasan siswa bersifat subjektif dan dapat bervariasi tergantung pada preferensi dan gaya pembelajaran individual masing-masing siswa. Walaupun mayoritas siswa mungkin lebih menyukai metode guru muda, sebagian siswa mungkin tetap merasa nyaman dengan gaya pengajaran yang lebih tradisional dan teruji waktu yang diterapkan oleh guru tua. Secara keseluruhan, perbandingan ini menunjukkan bahwa faktor-faktor seperti keakraban dengan teknologi, pendekatan inovatif, dan keterlibatan personal dapat memberikan dampak positif terhadap tingkat kepuasan siswa saat diajar oleh guru muda di SMA Negeri 1 Balong Ponorogo. Penilaian kinerja merupakan usaha yang dilakukan oleh pihak manajerial suatu organisasi untuk mengevaluasi perkembangan guru secara teratur, berkala, dan terjadwal. Fungsinya adalah sebagai standar untuk meningkatkan kinerja guru, sehingga mereka dapat menjadi tenaga kerja yang lebih profesional dan produktif. Harapannya, dengan adanya penilaian kinerja yang efektif dan terencana, akan menghasilkan Sumber Daya Manusia yang (Anifah. , & FoEh. , 2022, 253-. Di SMA Negeri 1 Balong Ponorogo, guru-guru muda telah menunjukkan kepiawaian dan kreativitas dalam menerapkan metode pengajaran yang menarik dan efektif. Mereka tidak hanya menghantarkan materi secara konvensional, tetapi juga menggabungkan elemenelemen inovatif guna meningkatkan daya tarik pembelajaran. Salah satu pendekatan yang umum digunakan adalah pembelajaran berbasis proyek, di mana siswa diberikan tantangan untuk menyelesaikan proyek yang berfokus pada masalah sehari-hari. Pendekatan ini tidak hanya memperkuat pemahaman konsep, tetapi juga mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan kreativitas siswa. Tidak hanya itu, penerapan teknologi dalam pembelajaran juga menjadi ciri khas para guru muda di SMA Negeri 1 Balong Ponorogo. Mereka memanfaatkan perangkat lunak pembelajaran interaktif, presentasi multimedia, dan platform pembelajaran online untuk menciptakan pengalaman pembelajaran yang lebih dinamis dan interaktif. Penggunaan teknologi ini tidak hanya membuat proses pembelajaran lebih menarik, tetapi juga mempersiapkan siswa untuk menghadapi tantangan dalam era digital. (Rahmawati. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Para guru muda di SMA Negeri 1 Balong Ponorogo juga sering menggunakan metode diskusi dan kolaboratif. Mereka menciptakan atmosfer kelas yang mendorong siswa untuk berpartisipasi aktif, berbagi ide, dan bekerja sama dalam menyelesaikan tugas. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan keterlibatan siswa, tetapi juga membentuk keterampilan sosial dan komunikasi yang baik untuk masa depan mereka. (Wakhudin, dkk. , 2. Dengan menggabungkan beragam metode pembelajaran yang inovatif, para guru muda di SMA Negeri 1 Balong Ponorogo berhasil tidak hanya meningkatkan minat belajar siswa, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap prestasi akademis dan perkembangan pribadi mereka. Dengan semangat kreativitas dan dedikasi, para guru muda ini menciptakan lingkungan pembelajaran yang memberikan dukungan dan motivasi bagi siswa untuk mencapai potensi maksimal mereka. Seorang pendidik yang handal tidak hanya terampil dalam menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga memiliki keterampilan dalam mengelola proses pembelajaran. Dalam konteks ini, seorang guru kompeten perlu menjalankan beberapa langkah esensial. Pertamatama, guru perlu merumuskan dengan jelas tujuan instruksional atau pembelajaran yang ingin Hal ini melibatkan pengidentifikasian hasil yang diinginkan dari pengajaran. Langkah berikutnya adalah mengenal dan mampu menggunakan proses instruksi yang sesuai. Seorang guru yang berkompeten harus dapat memilih dan mengimplementasikan metode pengajaran yang efektif, sehingga pesan yang disampaikan dapat dipahami dengan baik oleh para siswa. Eksekusi program belajar mengajar juga merupakan aspek penting dalam memastikan keberhasilan pembelajaran. (Sitorus. , & Harahap. , 2. Mengenal kemampuan individual anak didik adalah langkah berikutnya yang tak kalah Seorang guru yang berkompeten harus dapat memahami perbedaan dalam kemampuan siswa dan menyusun rencana pembelajaran yang memperhitungkan keberagaman ini. Pemahaman ini membantu dalam perencanaan dan pelaksanaan program remedial yang mungkin diperlukan untuk mendukung perkembangan siswa yang lebih lambat atau memiliki kebutuhan khusus. Dalam pemilihan metode dan materi pelajaran, seorang guru harus mempertimbangkan secara seksama kemampuan siswa yang sedang diajar. Adanya variasi kemampuan di antara siswa memerlukan pendekatan yang berbeda, dan guru yang berkompeten dapat memilih metode yang paling sesuai dengan kebutuhan masingmasing siswa. Secara keseluruhan, seorang guru kompeten bukan hanya ahli dalam menyampaikan informasi, tetapi juga mampu mengelola pembelajaran dengan efektif, mengidentifikasi kebutuhan siswa, dan merancang strategi pembelajaran yang sesuai dengan tingkat kemampuan individu. (Badrus. , 2018, 143-. Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) yang berusia muda di SMA Negeri 1 Balong Ponorogo telah melakukan peran yang sangat penting dalam meningkatkan prestasi siswa. Dalam perbandingan dengan rekan-rekan mereka yang lebih senior, para guru ini membawa semangat dan pendekatan yang lebih dinamis ke dalam proses pembelajaran. Mereka, sebagai generasi guru PAI yang lebih muda, menunjukkan keterbukaan yang tinggi terhadap teknologi dan inovasi dalam metode pengajaran. Kemampuan mereka dalam memanfaatkan berbagai media dan alat pembelajaran modern telah menjadikan materi PAI lebih menarik dan relevan bagi siswa, terutama yang hidup di era teknologi informasi. (Saputra. , 2. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Guru PAI muda juga memiliki kemampuan untuk dengan cepat memahami dan merespons perubahan sosial dan budaya. Kemampuan mereka untuk mengintegrasikan isuisu kontemporer ke dalam pembelajaran agama Islam membuat materi tersebut lebih sesuai dengan kehidupan sehari-hari siswa. Pemahaman mereka tentang tren dan dinamika masa kini membantu menciptakan lingkungan pembelajaran yang lebih dinamis dan terkini. samping itu, komunikasi antara guru PAI muda dan siswa seringkali lebih lancar. Perbedaan usia yang tidak terlalu signifikan memungkinkan terbentuknya kedekatan dalam hubungan guru-siswa. Guru PAI muda dapat lebih dekat dengan perasaan dan kebutuhan siswa, menciptakan iklim kelas yang lebih positif dan mendukung perkembangan akademis mereka. (Fikri. , 2. Namun demikian, perlu diperhatikan bahwa keberhasilan pembelajaran tidak hanya tergantung pada usia guru, melainkan juga pada keterampilan, dedikasi, dan pemahaman mereka terhadap materi serta kebutuhan siswa. Kolaborasi antara pengalaman guru berusia tua dan semangat inovatif dari guru berusia muda di SMA Negeri 1 Balong Ponorogo dapat menciptakan lingkungan pembelajaran yang seimbang dan berdaya saing, memberikan kontribusi positif terhadap prestasi siswa. Persepsi Siswa terhadap Kualitas Pengajaran Guru PAI yang Berusia Tua di SMA Negeri 1 Balong Ponorogo Di SMA Negeri 1 Balong Ponorogo, terdapat ciri khas yang baik terkait dengan kemampuan mengajar para guru senior. Para pendidik yang telah mengalami berbagai dinamika pendidikan berhasil menyampaikan materi pelajaran dengan kejelasan dan kemudahan pemahaman yang baik. Keberhasilan ini dapat diatributkan pada keterampilan dan kebijaksanaan yang terakumulasi selama bertahun-tahun mengajar. Guru-guru senior di SMA Negeri 1 Balong Ponorogo menunjukkan keahlian dalam menguraikan setiap aspek materi pelajaran. Dengan pengetahuan yang mendalam, mereka dapat menjelaskan konsep-konsep yang kompleks dengan gaya pengajaran yang jelas dan mudah dimengerti. Penggunaan analogi, contoh konkret, dan pengalaman pribadi sebagai ilustrasi menyeluruh menjadikan proses belajar mengajar lebih dinamis dan menarik. Selain itu, keberadaan guru-guru senior juga memberikan dampak positif dalam menciptakan lingkungan kelas yang kondusif. Kedewasaan dan kebijaksanaan mereka menciptakan hubungan yang harmonis antara guru dan siswa. Siswa merasa nyaman dan terbuka untuk bertanya, mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam, dan membangun hubungan yang memperkaya proses belajar. (Wibowo. , 2. Di SMA Negeri 1 Balong Ponorogo, para guru senior bukan hanya menjadi penyampai informasi, melainkan juga sumber inspirasi dan teladan bagi siswa. Dengan pengalaman yang panjang, mereka membimbing siswa untuk memahami bukan hanya materi pelajaran, tetapi juga nilai-nilai kehidupan dan keterampilan yang relevan di dunia nyata. Oleh karena itu, kehadiran guru-guru senior di SMA Negeri 1 Balong Ponorogo tidak hanya menjadi penopang pendidikan, tetapi juga kekayaan intelektual yang berharga bagi generasi pelajar. Kemunculan efektivitas seseorang dapat disebabkan oleh pelaksanaan pekerjaan atau tugas yang dilakukan dalam periode waktu tertentu, sejalan dengan peran dan deskripsi pekerjaan individu tersebut. Gelar "guru" dapat mencerminkan baik profesi maupun jabatan Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 fungsional di ranah pendidikan, mengacu pada seseorang yang menempati dan menjalankan tanggung jawabnya di bidang pendidikan dan pembelajaran. (Unaisiyah. , 2018, 215-. Guru senior di SMA Negeri 1 Balong Ponorogo memiliki keahlian yang lebih baik dalam mengenali kelemahan siswa dan memberikan dukungan yang efisien. Dengan pengalaman panjang dalam dunia pendidikan, mereka memiliki sensitivitas yang mendalam terhadap berbagai karakteristik dan kebutuhan siswa. Berkat bertahun-tahun pengajarannya, mereka telah terlibat dalam berbagai situasi pembelajaran dan berinteraksi dengan beragam kepribadian siswa, memungkinkan mereka untuk dengan mudah mengidentifikasi potensi dan kelemahan masing-masing siswa. Para guru senior umumnya memiliki kebijaksanaan lebih dalam memahami isyarat nonverbal dan perilaku siswa. Kemampuan mereka membaca ekspresi wajah, sikap tubuh, dan tanda-tanda lainnya yang mungkin mencerminkan ketidaknyamanan atau kesulitan belajar, memungkinkan mereka untuk secara proaktif mengidentifikasi kelemahan siswa sebelum masalah berkembang lebih lanjut. Di SMA Negeri 1 Balong Ponorogo, guru-guru senior juga sering memiliki jaringan hubungan yang kuat dengan siswa. Aktif dalam kehidupan sekolah dan kegiatan ekstrakurikuler, mereka membangun ikatan yang mendalam dengan siswa, memudahkan terbukanya saluran komunikasi yang efektif. Ini memungkinkan guru senior untuk mendengar keluhan dan kebutuhan siswa, dan memberikan dukungan yang sesuai. Sukardi, (H. , 2. Dalam memberikan dukungan kepada siswa yang menghadapi kesulitan, pengalaman guru senior menjadi aset berharga. Mereka telah menyaksikan berbagai strategi pembelajaran dan tahu metode mana yang paling efektif dalam mengatasi tantangan belajar tertentu. Dengan memegang teguh prinsip-prinsip yang teruji dan pengalaman mendalam, guru senior di SMA Negeri 1 Balong Ponorogo dapat memberikan bimbingan yang terarah kepada siswa, membantu mereka mengatasi kelemahan, dan mencapai potensi penuh mereka. Oleh karena itu, peran guru senior di sekolah ini tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing bijaksana dan pendukung bagi perkembangan holistik siswa. (Asrulla. Motivasi guru dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang erat kaitannya dengan pendapatan finansial, pelatihan yang diberikan, tingkat disiplin, pencapaian kinerja, kepuasan kerja, dan kebijakan pemerintah. Faktor-faktor ini memiliki peran signifikan dalam menentukan sejauh mana tingkat motivasi seorang guru. (Badrus. , 2018, 143-. Implikasi Kolaborasi Guru PAI Berusia Muda dan Guru PAI Berusia Tua di SMA Negeri 1 Balong Ponorogo Di SMA Negeri 1 Balong Ponorogo, terdapat kolaborasi yang baik antara guru PAI muda dan guru PAI senior dalam memberikan dorongan kepada siswa untuk belajar. Para guru yang lebih muda, penuh semangat dan ide-ide segar, mengenalkan nuansa keceriaan baru dalam lingkungan pembelajaran. Mereka secara konsisten mempraktikkan pendekatan inovatif dan memanfaatkan teknologi modern untuk menjadikan proses pembelajaran lebih Dengan menerapkan metode pengajaran yang dinamis, mereka berhasil menciptakan atmosfer yang penuh energi di kelas, merangsang minat siswa, dan memberikan motivasi agar siswa lebih mendalam dalam eksplorasi ilmu pengetahuan. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Di sisi lain, para guru PAI senior lebih berpengalaman dalam pembelajaran karena berpengalaman selama bertahun-tahun. Mereka memiliki pemahaman yang mendalam tentang dinamika siswa dan melihat banyak perubahan dalam sistem pendidikan. Guru-guru senior di SMA Negeri 1 Balong Ponorogo menunjukkan tingkat kebijaksanaan dan kesabaran yang tinggi. Melalui bimbingan yang penuh kehangatan, mereka berhasil membangun hubungan emosional yang kuat dengan siswa. Dengan seringnya berbagi kisah hidup dan pengalaman pribadi, guru-guru senior mampu menginspirasi siswa untuk tetap fokus pada tujuan mereka dan memberikan dorongan yang memiliki dampak jangka panjang. Kedua kelompok usia guru ini saling melengkapi, membentuk lingkungan pembelajaran yang seimbang di SMA Negeri 1 Balong Ponorogo. Mereka berkolaborasi sebagai tim, saling menukar pengetahuan, dan memberikan dukungan satu sama lain untuk meningkatkan mutu pendidikan. Sementara guru muda membawa semangat yang baru, guru senior menyumbangkan kekayaan pengalaman yang kokoh. Bersama-sama, mereka menciptakan suasana di mana siswa merasa didorong untuk mencapai potensi terbaik Abraham Maslow menyatakan bahwa motivasi adalah dorongan yang mendorong perilaku menuju tujuan tertentu. Dengan merujuk pada pandangan tersebut, dapat disimpulkan bahwa motivasi memegang peran sentral dalam konteks Lembaga pendidikan. Para siswa akan menunjukkan dedikasi yang tinggi dalam belajar mereka jika memiliki motivasi yang kuat. Ketika motivasi siswa bersifat positif, mereka akan menunjukkan minat, perhatian, dan antusiasme dalam melibatkan diri dalam tugas atau kegiatan. Secara sederhana, siswa akan berhasil dalam menjalankan tugas-tugas mereka jika ada dorongan atau motivasi yang mendorongnya. Motivasi bukan hanya sekadar elemen tambahan dalam setiap kegiatan, motivasi dianggap sebagai elemen esensial yang memberikan energi pada realisasi aktivitas. Tanpa motivasi, kegiatan nyata tidak akan terwujud. (Badrus. , 2018, 143-. Kolaborasi antara guru Pendidikan Agama Islam (PAI) yang memiliki perbedaan usia di SMA Negeri 1 Balong Ponorogo memiliki dampak yang sangat penting terhadap kepuasan siswa dalam pengembangan dimensi spiritual dan emosional mereka. Sinergi antara generasi guru yang lebih muda dan yang lebih tua menciptakan lingkungan belajar yang seimbang dan beragam, di mana keduanya saling melengkapi untuk memberikan kontribusi positif pada pembentukan karakter dan keimanan siswa. (Mahmuda. , 2. Guru PAI yang lebih muda membawa semangat dan pemahaman terkini mengenai dinamika remaja, memungkinkan mereka menyajikan materi dengan cara yang segar dan relevan untuk kehidupan sehari-hari siswa. Kemungkinan mereka lebih akrab dengan tren dan tantangan yang dihadapi siswa pada masa kini memberi peluang untuk merancang metode pengajaran yang lebih interaktif dan menarik. sedangkan, guru PAI yang lebih tua membawa kebijaksanaan dan pengalaman panjang dalam mengajarkan nilai-nilai spiritual dan Mereka dapat memberikan wawasan mendalam terhadap tradisi dan nilai-nilai Islam yang klasik, memastikan bahwa pembelajaran tidak hanya bersifat kontemporer tetapi juga terakar pada akar nilai-nilai yang tahan lama. Dalam kolaborasi ini, guru PAI yang lebih muda dan yang lebih tua dapat saling bertukar pengalaman, memberikan inspirasi satu sama lain, dan menciptakan inovasi dalam Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 pengajaran PAI. Misalnya, penggunaan teknologi dan media baru oleh guru yang lebih muda dapat diintegrasikan dengan kebijaksanaan dan pemahaman mendalam materi oleh guru yang lebih tua. Hasilnya, kepuasan siswa terhadap pengembangan dimensi spiritual dan emosional meningkat karena mereka mengalami pembelajaran yang seimbang dan holistik. Kolaborasi ini juga menciptakan lingkungan di mana siswa dapat menghargai perbedaan usia sebagai sumber kekayaan, di mana guru PAI yang lebih muda dan yang lebih tua menjadi teladan yang saling melengkapi. Dengan demikian, kontribusi positif dari kedua generasi guru PAI tersebut menjadi kunci utama dalam meningkatkan kepuasan siswa terhadap pengembangan dimensi spiritual dan emosional di SMA Negeri 1 Balong Ponorogo. (Maisura. , 2. Seorang pendidik memiliki tugas yang mulia untuk merawat dan menjaga agar karakter kebaikan muncul dan tercermin dalam kehidupan sehari-hari peserta didiknya. Prinsipprinsip dalam pendidikan menegaskan bahwa tujuan utamanya adalah membentuk karakter peserta didik. Pertama, manusia dipengaruhi oleh dua aspek, yakni kebenaran dalam dirinya dan dorongan eksternal yang memengaruhi kesadarannya. Kedua, konsep pendidikan menekankan pentingnya kesatuan antara keyakinan, perkataan, dan perbuatan. Ketiga, pendidikan karakter menitikberatkan pada kesadaran pribadi peserta didik untuk dengan ikhlas mengutamakan karakter positif dalam dirinya. Keempat, pendidikan karakter mengarahkan peserta didik menjadi manusia Ulul Albab yang tidak hanya memiliki kesadaran untuk terus mengembangkan dirinya, tetapi juga memperhatikan masalah sekitar, lingkungan, dan memperbaiki kehidupan sesuai dengan pengetahuan dan karakter yang dimilikinya. Kelima, karakter seseorang ditentukan oleh pilihan bebasnya dan tindakan yang dilakukan berdasarkan pilihan tersebut. (Sobihah. , 2020, 78-. KESIMPULAN Kolaborasi antara guru Pendidikan Agama Islam (PAI) yang berusia muda dan guru PAI yang berusia tua di SMA Negeri 1 Balong Ponorogo memiliki dampak positif terhadap kepuasan dan prestasi siswa. Guru muda cenderung membawa kepiawaian dan kreativitas dalam metode pengajaran, yang dapat meningkatkan minat siswa dan hasil belajar mereka. Sedangkan, guru senior memiliki keunggulan dalam menjelaskan materi dengan jelas dan dapat memberikan dukungan yang lebih baik dalam mengidentifikasi kelemahan siswa. Kolaborasi ini bukan hanya memperkaya pengalaman belajar siswa, tetapi juga memberikan motivasi untuk meningkatkan kualitas belajar mereka. Selain itu, melalui kolaborasi ini, dapat menciptakan lingkungan belajar yang mendukung pertumbuhan holistik siswa, termasuk pengembangan dimensi spiritual dan emosional. Oleh karena itu, kolaborasi guru muda dan senior dalam konteks Pendidikan Agama Islam di SMA Negeri 1 Balong Ponorogo memberikan kontribusi positif terhadap pembentukan generasi yang lebih berkualitas secara akademis dan spiritual. DAFTAR PUSTAKA