Juraliansi : Jurnal Lingkup Anak Usia Dini ISSN . : 2715-7032. ISSN (Prin. : 2715-7024 Vol. No. 1, (Mei, 2. , pp. http://ejournal. id/index. php/Juraliansi TANTANGAN DIGITALISASI DAN PERGESERAN NILAI-NILAI BUDAYA TRANSFORMATIF ANAK USIA DINI St. Marwana Aisyah1*. Siska2 ,Nurul Putri Ramadhani 3,Hajerah4,Muhammad Akil Musi5 Pascasarjana. Universitas Negeri Makassar. Indonesia marwanaaisyahst@gmail. com, siskaika1998@gmail. com, nurulputriramadhani10@gmail. com, hajerah@unm. akrimna@yahoo. Article Info ABSTRACT Article History Accepted : Abstract: The current global challenge focuses on the role of digitalization, which increasingly leads to changes in transformative cultural values for children. The purpose of this study is to describe the challenges of digitalization in shifting transformative-based cultural values in early This study uses a Systematic Literature Review (SLR) through data analysis of 287 literature manuscripts. As well as sorting data based on the needs of research variables using 42 literature manuscripts, reviewed by the data retrieval process using 22 literature manuscripts that include research results and discussions that explain the shift in transformative cultural values that have been inserted through AI (Artificial Intelligenc. -based digital content. The content presented really shows the perfection of the design without any design that can differentiate non-AI-based content. In addition, the technological approach without rules and guidance by adults. Transformative-based cultural values without conceptual filtering. Will affect children's ability to think impulsively, negative stimulus disorders . based on situations based on their imagination. A digital-based environment can dominate children's thinking, disrupting behavioral patterns in early childhood. However, current government regulations restrict access to digital technology for children under 16. This is a positive step taken by the government to protect children from the impact of shifting cultural values caused by digitalization. The research suggests that parents should be more aware of the limitations of current technological developments, especially if technology has already taken over children's Abstrak: Tantangan global saat ini terfokus pada peranan digitalisasi yang semakin menujukan perubahan pada nilai-nilai budaya bersifat transformatif untuk anak. Tujuan penelitian untuk mendiskripsikan tentang bentuk tantangan digitalisasi dalam pergeseran nilai-nilai budaya berbasis transformatif pada anak usia dini. Penelitian ini menggunakan Systematic Literature Review (SLR) melalui analisis data sebanyak 287 naskah literatur. Serta melakukan pemilahan data berdasarkan kebutuhan variable penelitian dengan menggunakan 42 naskah literatur , di tinjau dengan proses penarikan data dengan menggunakan 22 naskah literatur yang mencangkup sebagai hasil penelitian dan pembahasan yang menjelaskan tentang pergesertan nilai-nilai budaya transformatif telah disisipkan melalui konten digital berbasis AI (Artificial Intellegenc. Konten yang disajikan sangat menujukkan kesempurnaan desain tanpa adanya desain yang dapat membedaan konten yang bukan berbasis AI. Selain itu, pendekatan teknologi tanpa adanya aturan dan pendampingan oleh orang dewasa. Nilai-nilai budaya berbasis tranformatif tanpa adanya penyaringan secara konseptual. Akan mempengaruhi kemampuan berfikir anak secara implusif, ganguan stimulus negative . berdasarkan situasi yang dilandasi oleh Lingkungan berbasis digitalisasi mampu menguasai pemikiran anak saat ini, hingga menggangu pada perubahan pola perilaku anak usia dini. Namun, peraturan pemerintah saat ini telah melakukan pembatasan akses digitalisasi untuk anak usia dini bawah 16 th. Langkah baik yang digerakan oleh pemerintah untuk menyelamatkan anak dalam pengaruh adanya pergeseran nilai-nilai budaya yang disebabkan oleh digitalisasi. Saran penelitian, diharapkan orangtua dapat perduli dalam membatasi dengan adanya perkembangan teknologi saat ini, jika teknologi telah mengusai tumbuh kembang anak saat ini. 26 Mei 2026 Approved : 30 Mei 2026 Keywords: Tantangan digitalisasi. Pergeseran nilai-nilai budaya. Transformatif . Anak usia dini Juraliansi : Jurnal Lingkup Anak Usia Dini, 7. , 2026 | 217 Copyright . 2026 Marwana aisyah, . PENDAHULUAN Masa kanak-kanak awal merupakan fase paling kritis dalam rentang kehidupan manusia. Pada rentang usia 0 hingga 6 tahun, otak manusia berada dalam kondisi paling plastis, yakni sangat terbuka terhadap berbagai rangsangan lingkungan, termasuk nilai-nilai, norma sosial, dan identitas budaya yang kelak menjadi pondasi kepribadian yang bertahan sepanjang hayat (Santrock, 2. Ironisnya, fase perkembangan yang paling menentukan ini kini berlangsung di tengah gelombang digitalisasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah peradaban manusia. Anak-anak tumbuh dalam ekosistem digital yang bergerak cepat, sementara tradisi dan nilai budaya lokal yang seharusnya menjadi fondasi pembentukan karakter mereka justru terancam terpinggirkan. Kondisi ini diperkuat oleh data empiris yang tidak dapat diabaikan. Data analisis peneliti melalui UNICEF pada tahun 2022 menunjukkan bahwa lebih dari 175 juta anak di bawah usia enam tahun terpapar layar digital setiap harinya. Di Indonesia, survei yang dilakukan pada tahun 2023 melalui web Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa penetrasi internet di kalangan anak usia dini telah mencapai angka yang mengkhawatirkan, dengan rata-rata durasi penggunaan perangkat digital melebihi dua jam per hari. Realitas ini mencerminkan ketimpangan yang mendasar antara pola konsumsi digital anak-anak dan standar kesehatan perkembangan yang direkomendasikan oleh para ahli. Persoalan yang muncul sesungguhnya bukan pada pertanyaan apakah teknologi bermanfaat atau merugikan. Sebab, dikotomi semacam itu terlalu menyederhanakan realitas yang Isu yang jauh lebih mendesak adalah bagaimana digitalisasi memengaruhi ruang budaya tempat anak-anak berkembang dan sejauh mana dampaknya terasa pada upaya pelestarian nilai-nilai budaya yang telah lama menjadi bagian dari identitas nasional bangsa Indonesia. Pertanyaan ini memperoleh relevansi yang semakin tajam mengingat Indonesia adalah negara dengan kekayaan budaya yang luar biasa, mencakup lebih dari 700 bahasa daerah, ribuan tradisi lokal (Fadhillah. ,2. Ketika ruang digital mulai mendominasi kehidupan sehari-hari anak-anak, fondasi budaya yang masih mampu bertahan dan diwariskan. Pergeseran nilai-nilai budaya pada anak usia dini bukanlah sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba. Pergeseran ini merupakan hasil dari proses yang panjang dan bertahap, yang diakibatkan oleh interaksi antara berbagai faktor yang saling memengaruhi intensitas konsumsi konten digital yang tinggi tanpa pengawasan orang dewasa yang memadai, serta ketidaksiapan guru dalam menghadapi tantangan pedagogis era digital (Yulianto & Rahayu. , 2022. Nasution, dkk. , 2. Pengaruh perkembangan anak yang terpapar konten digital tanpa mediasi budaya yang tepat menunjukkan pemahaman yang lebih rendah terhadap tradisi lokal dibandingkan dengan generasi sebelumnya, meskipun mereka memiliki akses informasi yang jauh lebih luas (Rahmawati, dkk. , 2. Hal tersebut mengindikasikan bahwa akses informasi semata tidak menjamin terpeliharanya identitas budaya. Di sinilah urgensi artikel ini berakar. Meskipun terdapat banyak penelitian yang telah mengkaji aspek-aspek spesifik dari fenomena ini, masih sedikit kajian yang secara komprehensif dan kritis mengevaluasi dimensi pedagogis, sosiokultural, dan kebijakan dalam konteks Indonesia secara terpadu (Putri dkk. , 2. Kesenjangan inilah yang menjadi titik tolak sekaligus justifikasi akademis dari studi literatur ini dan bertujuan untuk memetakan dan menganalisis temuan-temuan Juraliansi : Jurnal Lingkup Anak Usia Dini, 7. , 2026 | 218 Copyright . 2026 Marwana aisyah, . yang tersebar di berbagai literatur, memberikan perspektif yang lebih menyeluruh tentang relasi antara digitalisasi dan nilai-nilai budaya dalam konteks pendidikan anak usia dini, sekaligus merumuskan strategi integratif yang dapat diimplementasikan oleh para pemangku kepentingan. Secara spesifik, transformasi pembelajaran PAUD di era digital mampu mengidentifikasi bentukbentuk pergeseran nilai budaya pada anak usia dini akibat digitalisasi, memetakan tantangan yang dihadapi guru PAUD dalam menanamkan nilai budaya( Sandriester,et. ,2. Peran orang tua dalam pengawasan digital anak dan pembentukan karakter anak. Serta, mengembangkan strategi integratif bagi pelestarian nilai budaya dalam pembelajaran PAUD digital. Membangun argumen yang runtun dan komprehensif mengenai tantangan pelestarian budaya di era digital. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) sebagai teknik utama pengumpulan dan analisis data. Metode ini dipilih karena kemampuannya mensintesis temuan dari berbagai sumber secara terstruktur dan transparan, sehingga menghasilkan gambaran yang lebih komprehensif dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dibandingkan tinjauan literatur konvensional (Ramayanti,dkk. Pilihan metode ini juga didorong oleh kesadaran bahwa kompleksitas fenomena digitalisasi dan pergeseran nilai budaya pada anak usia dini memerlukan pembacaan lintas disiplin dan lintas konteks yang tidak dapat dicapai hanya melalui satu atau dua sumber tunggal. Kriteria inklusi yang ditetapkan, meliputi artikel yang diterbitkan antara tahun 2020 dan 2024, artikel yang membahas topik berkaitan dengan pendidikan anak usia dini rentang 0Ae8 tahun, nilai-nilai budaya, dan/atau digitalisasi Pendidikan, artikel yang diterbitkan dalam jurnal peer-review atau laporan resmi dari lembaga bereputasi, artikel yang tersedia dalam bahasa Indonesia atau Inggris, serta artikel yang memiliki metodologi penelitian yang jelas dan dapat diverifikasi. Sebaliknya, artikel yang tidak memiliki abstrak yang jelas, bersifat opini tanpa dukungan empiris, atau membahas kelompok usia di luar rentang yang ditentukan dikecualikan dari analisis. Dari 287 artikel yang teridentifikasi pada tahap pencarian awal, proses penyaringan berlapis dilakukan berdasarkan judul, abstrak, dan teks Setelah seleksi ketat sesuai kriteria yang telah ditetapkan, sebanyak 42 sumber digunakan sebagai bahan analisis utama, dengan 22 di antaranya dikutip secara eksplisit dalam artikel ini. Proses analisis menggunakan pendekatan tematik, yakni mengkategorikan setiap sumber berdasarkan tema-tema utama yang relevan dengan tujuan penelitian. Matriks perbandingan digunakan dalam proses sintesis untuk mengidentifikasi pola, konsensus, dan kontradiksi antar sumber, sehingga argumentasi yang dibangun dalam artikel ini bersifat berbasis bukti dan tidak sekadar deskriptif. HASIL DAN PEMBAHASAN Transformasi digital pendidikan anak usia dini (PAUD) bukan sekadar transisi dari papan tulis ke layar sentuh. Transformasi ini mencakup perubahan mendasar dalam cara anak-anak berinteraksi dengan lingkungan mereka, satu sama lain, dan pengetahuan. Skantz-yIberg, dkk. melakukan penelitian terhadap 1. 200 anak usia dini di Swedia dan Indonesia, yang menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis digital dapat secara signifikan meningkatkan motivasi Juraliansi : Jurnal Lingkup Anak Usia Dini, 7. , 2026 | 219 Copyright . 2026 Marwana aisyah, . intrinsik anak. Namun, penting untuk mengakui bahwa peningkatan motivasi ini tidak selalu berkorelasi positif dengan kedalaman pemahaman konseptual. Digitalisasi pendidikan anak usia dini (PAUD) di Indonesia menawarkan peluang yang sebelumnya tidak terbayangkan. Konten pendidikan berkualitas yang sebelumnya hanya dapat diakses di pusat-pusat kota kini dapat diakses oleh anak-anak di daerah pedesaan. Menurut Kurniawan, dkk. , . memperingatkan bahwa akses ke konten digital tanpa bimbingan pedagogis yang tepat dapat berdampak negatif. Perkembangan pada masa pertumbuhan anak yang terus menerus melihat dunia konten digital tanpa bimbingan akan cenderung berdampak pada pengembangan pola pikir impulsif, reaktif, dan berorientasi pada kepuasan instan, yang bertentangan langsung dengan nilai-nilai budaya Indonesia berbasis transformatif (Nisa. ,2. Peran guru PAUD juga sangat berubah akibat transformasi ini. Sebelumnya, guru adalah satu-satunya sumber pengetahuan yang berwibawa bagi anak-anak. Namun, kini mereka dipaksa untuk bersaing dengan ribuan produsen konten digital yang menyajikan informasi dengan cara yang jauh lebih menarik secara visual. Nasution, dkk. , . menjelaskan bahwa krisis otoritas pedagogis, di mana guru kehilangan sebagian peran sentral mereka sebagai penyebar budaya. Ini tidak berarti bahwa fungsi pendidik telah menjadi usang. melainkan, menjadi lebih rumit dan signifikan, karena mereka harus mampu menghubungkan dunia digital dengan nilai-nilai budaya yang ingin mereka sampaikan. Penting juga untuk mengakui bahwa transformasi digital dalam pendidikan anak usia dini (PAUD) tidak terjadi secara seragam. Terdapat kesenjangan yang cukup besar antara pendidikan perkotaan dan pedesaan, sekolah swasta dan negeri, serta wilayah yang memiliki dan tidak memiliki infrastruktur digital yang memadai. Kualitas pengalaman digital yang diterima anak-anak dipengaruhi oleh kesenjangan ini, yang secara tidak langsung memperkuat atau mengurangi paparan mereka terhadap nilai-nilai budaya lokal (Dewi & Sulistyowati. , 2. Transformasi nilai-nilai budaya pada masa bayi di era digital bukanlah fenomena tunggal hal ini ditandai oleh berbagai dimensi dan manifestasi yang saling terkait (Hasmawati,et. ,2. Penelitian komprehensif yang dilakukan oleh Yulianto & Rahayu. , . menjelaskan bahwa pada 380 anak prasekolah di empat provinsi Indonesia mengidentifikasi setidaknya enam dimensi pergeseran yang dapat diamati secara empiris. Dimensi pertama berkaitan dengan perubahan dalam komunikasi dan bahasa. Bahkan dalam konteks komunikasi biasa, anak-anak yang terpapar konten digital berbahasa asing, khususnya bahasa Inggris dan Korea melalui K-Pop dan drama Korea, cenderung menggabungkan bahasa ibu mereka dengan kosakata asing. Selain itu, ada kekhawatiran yang berkembang bahwa anak-anak tertentu mulai menunjukkan preferensi terhadap bahasa asing daripada bahasa daerah mereka sendiri, yang merupakan sarana utama untuk menyampaikan nilai-nilai budaya lokal. Dimensi kedua berkaitan dengan perubahan dalam ekspresi dan permainan. Permainan tradisional, termasuk congklak, petak umpet . embunyi-sembuny. , engklek, dan gobak sodor, yang berfungsi sebagai hiburan sekaligus alat sosialisasi nilai-nilai kerja sama, sportivitas, dan kearifan lokal, kini digantikan oleh permainan digital yang lebih individualistis dan kompetitif (Putri dkk. , 2. Berbeda dengan 67% anak-anak dalam kelompok yang sama dua dekade lalu, data penelitian dari Putri dkk. menunjukkan bahwa hanya 23% anak prasekolah di daerah Juraliansi : Jurnal Lingkup Anak Usia Dini, 7. , 2026 | 220 Copyright . 2026 Marwana aisyah, . perkotaan yang masih mengenal setidaknya lima kategori permainan tradisional. Dimensi ketiga adalah perubahan cara konsumsi seni dan estetika. Lagu-lagu pop global yang mendominasi platform streaming kini bersaing ketat yang memiliki nilai dan filosofi sebagai konten digital memiliki pengulangan lagu yang lebih luas dalam hal kuantitas, tetapi konten budaya lokal mereka jauh lebih kecil (Tillayeva. ,2. Perubahan nilai-nilai sosial dan moral pada konten digital, khususnya yang tidak disaring dengan benar, seringkali menunjukkan nilai-nilai individualisme, materialisme, dan sensasionalisme yang bertentangan dengan nilai-nilai kerja sama timbal balik, kerendahan hati, dan kesederhanaan yang ditekankan dalam budaya Indonesia (Judijanto,et. ,2. Para pengajar prasekolah yang aktif menggunakan media digital mengidentifikasi peningkatan perilaku individualistis dan penurunan empati sosial pada siswa mereka, menurut Rahmawati, dkk. , . Dimensi kelima melibatkan perubahan dalam gagasan kesabaran dan waktu. Anak-anak yang terbiasa dengan konten digital instan, seperti video pendek, respons cepat, dan kepuasan langsung, mengalami kesulitan untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang membutuhkan kesabaran dan ketekunan, seperti mendengarkan cerita panjang, berpartisipasi dalam kerajinan tradisional, atau berpartisipasi dalam ritual yang panjang (Livingstone & Blum-Ross. , 2. Pola ini menimbulkan ancaman terhadap pelestarian tradisi budaya yang membutuhkan disiplin dan konsentrasi. Dimensi keenam, yang mungkin paling jarang dibahas tetapi tidak kalah pentingnya, adalah perubahan dalam hubungan antar generasi. Secara historis, interaksi intim antara anak dan kakek-nenek telah menjadi salah satu mekanisme transmisi budaya yang paling ampuh. Dalam interaksi ini, cerita rakyat, kearifan hidup, dan nilai-nilai moral disampaikan dalam konteks yang hangat dan emosional. Di era digital, waktu yang sebelumnya dialokasikan untuk interaksi ini sering digantikan oleh layar, yang berdampak besar pada rantai transmisi budaya antar generasi (Ulfah. , 2. Ironisnya, para pengajar pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah kelompok yang paling kurang mendapat dukungan dalam mengatasi perjuangan untuk nilai-nilai budaya ini, meskipun mereka merupakan pemimpin di bidang tersebut. Nasution, dkk,. melakukan penelitian terhadap 256 guru PAUD di Sumatera Utara, yang mengungkapkan gambaran yang 71% responden melaporkan merasa tidak siap untuk mengintegrasikan teknologi digital dengan pembelajaran berbasis nilai-nilai budaya, dan 64% belum pernah menerima pelatihan khusus untuk tujuan ini. Hambatan pertama adalah kompetensi: banyak pendidik PAUD, yang lahir dan dibesarkan di era pra-digital, kini dihadapkan dengan siswa yang merupakan "generasi digital"Ai generasi yang belum pernah mengenal dunia tanpa internet. Kesenjangan kompetensi digital ini mengakibatkan kesenjangan komunikasi yang menghambat guru dalam menggunakan bahasa dan media yang paling efektif untuk anak-anak mereka (Skantz-yIberg. , 2. Guru seringkali menekankan salah satu di atas yang lain ketika kedua tuntutan ini tidak terintegrasi dalam kerangka kurikulum yang koheren, dan nilai-nilai budaya seringkali dikorbankan. Hambatan ketiga berkaitan dengan harapan orang tua. Ironisnya, orang tua seringkali mendorong penggunaan teknologi digital, bahkan sebagai ukuran keberhasilan, sementara pada saat yang sama mengharapkan sekolah untuk mempertahankan nilai-nilai budaya. Guru yang Juraliansi : Jurnal Lingkup Anak Usia Dini, 7. , 2026 | 221 Copyright . 2026 Marwana aisyah, . mencoba membatasi penggunaan teknologi di kelas atau menanamkan nilai-nilai budaya melalui metode tradisional seringkali menghadapi penentangan dari orang tua yang menganggap metode ini sebagai "kuno" (Yulianto & Rahayu. , 2. Hambatan keempat bersifat struktural. Infrastruktur, anggaran, dan dukungan kelembagaan untuk kemajuan pendidikan berbasis budaya di era digital masih sangat terbatas. Sumber daya yang dibutuhkan untuk menciptakan bahan ajar yang secara kreatif mengintegrasikan teknologi dengan nilai-nilai budaya tidak mudah tersedia bagi guru pendidikan anak usia dini, yang seringkali merupakan guru sukarelawan dengan gaji di bawah standar (Putri, dkk. , 2. Studi yang melibatkan ribuan keluarga di Eropa. Livingstone & Blum-Ross. , . memperkenalkan konsep "technoference," yang mengacu pada gangguan teknologi terhadap kualitas interaksi orang tua-anak. Konsep ini merupakan salah satu faktor risiko paling signifikan bagi transisi nilai-nilai budaya anak. Di Indonesia. Dewi & Sulistyowati . menemukan pola paradoks: orang tua yang menyatakan keprihatinan tingkat tinggi tentang dampak negatif teknologi pada anak-anak mereka cenderung lebih permisif dalam memberikan akses digital fenomena yang diklasifikasikan oleh para peneliti sebagai "permisivitas yang didorong oleh rasa bersalah. " Orang tua mengalami perasaan menyesal atas ketidakmampuan mereka untuk memberikan pendampingan yang lengkap kepada anak-anak mereka. Untuk meringankan hal ini, mereka menyediakan perangkat yang berfungsi sebagai "pengasuh digital. Penelitian telah menunjukkan bahwa literasi digital orang tua merupakan penentu penting efektivitas pengawasan. Orang tua yang memiliki literasi digital yang memadai mampu tidak hanya menggunakan alat kontrol orang tua, tetapi juga membantu anak-anak mereka dalam memilih dan menafsirkan konten yang mereka konsumsi. Hal ini mengubah pengalaman digital menjadi kesempatan belajar nilai-nilai, bukan sekadar konsumsi pasif (Kurniawan, dkk. , 2. Fakta bahwa sebagian besar intervensi pemerintah terus memprioritaskan aspek "keamanan digital" dalam melindungi dari konten yang merugikan, predator daring, dan perundungan siber sangat mengkhawatirkan, karena dimensi budaya belum ditangani secara memadai. Namun, konten yang dianggap "aman" dari sudut pandang keamanan belum tentu "sehat" dalam hal melestarikan nilai-nilai budaya. Sebuah animasi internasional yang bebas dari kekerasan dan pornografi masih dapat berfungsi sebagai katalisator untuk transformasi budaya yang substansial ketika dilihat tanpa konteks budaya yang sesuai (Rahmawati, dkk. , 2. Orang tua tidak hanya terlibat aktif dalam proses konsumsi digital anak-anak mereka dengan mendiskusikan konten yang mereka tonton, menghubungkan cerita digital dengan nilainilai budaya lokal, dan menggunakan teknologi sebagai jembatan menuju tradisi, bukan sebagai penggantinya, tetapi mereka juga membatasi akses anak-anak mereka terhadap teknologi sesuai dengan pendekatan ini. Salah satu topik yang paling kontroversial dalam literatur akademis adalah korelasi antara digitalisasi dan perkembangan karakter anak. Di satu sisi, para optimis teknologi seperti Clements & Sarama. , . berpendapat bahwa teknologi digital dapat menjadi alat yang sangat efektif untuk pendidikan karakter jika dirancang dengan baik. Alat ini memungkinkan anakanak untuk belajar empati melalui narasi digital, mengembangkan kreativitas melalui aplikasi seni, dan membangun keterampilan kolaborasi melalui permainan multipemain edukatif. Juraliansi : Jurnal Lingkup Anak Usia Dini, 7. , 2026 | 222 Copyright . 2026 Marwana aisyah, . Sebaliknya, memperingatkan terhadap efek merugikan kumulatif dari paparan digital yang tidak terkendali terhadap perkembangan karakter, menyarankan adanya korelasi antara peningkatan waktu layar dan penurunan empati, kecemasan sosial, dan kemampuan untuk mentolerir frustrasi yang semuanya penting untuk pengembangan karakter yang kuat (Twenge. Fadhillah. ,2. Perhatian utama bukanlah teknologi itu sendiri, melainkan karakter dari "Ekologi Nilai" yang mengelilinginya anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang secara konsisten menjunjung tinggi nilai-nilai budaya yang kuat, seperti kerja sama timbal balik, kejujuran, dan rasa hormat, akan memiliki tingkat kekebalan budaya yang lebih tinggi terhadap dampak buruk konten digital. Sebaliknya, anak-anak yang dibesarkan dalam "Vakum Nilai" akan lebih rentan terhadap infiltrasi nilai-nilai eksternal melalui media digital Konsep pendidikan karakter digital yang berlandaskan budaya memberikan kompromi yang menarik dalam mendiskusi bentuk metode dalam menolak teknologi, melainkan mengintegrasikannya dengan nilai-nilai budaya dalam kerangka pedagogis yang koheren (Nasution, dkk. , 2. Pendidikan karakter dapat disesuaikan dengan konteks digital kehidupan anak tanpa mengorbankan substansi nilai-nilai budaya yang ingin disampaikan dengan memanfaatkan teknologi sebagai media, bukan sebagai tujuan itu sendiri. Masalah identitas diri seringkali diabaikan dalam diskusi. Anak-anak sedang dalam proses membentuk pemahaman tentang identitas dan asal-usul mereka di usia muda. Jika tidak diimbangi dengan pengembangan identitas budaya yang kuat, teknologi digital, dapat menimbulkan ancaman terhadap proses pembentukan identitas. Arus identitas global yang disebarkan melalui media digital akan lebih mudah diserap oleh anak-anak yang kurang memiliki akar budaya yang kuat (Putri, dkk. , 2. Para penulis mengidentifikasi beberapa strategi integratif yang berpotensi efektif untuk melestarikan nilai-nilai budaya melalui digitalisasi, alih-alih menentangnya, berdasarkan sintesis berbagai sumber literatur yang telah ditinjau. Pendekatan awal melibatkan pembuatan konten digital yang menggabungkan konten budaya lokal. Menciptakan konten digital yang kaya akan nilai-nilai dan estetika budaya lokal merupakan salah satu metode paling langsung untuk memanfaatkan teknologi sebagai instrumen pelestarian budaya. Beberapa contoh hasil positif dalam penelitian meliputi aplikasi game yang berbasis pada permainan tradisional, buku cerita digital yang menampilkan tokoh dan latar budaya Indonesia, dan lagu-lagu daerah dalam format yang menarik secara visual (Dewi & Sulistyowati, 2. Pemerintah harus aktif berpartisipasi dalam pendanaan dan kurasi ekosistem konten digital yang kaya budaya ini. Pendekatan kedua melibatkan peningkatan kompetensi guru dengan memberikan pelatihan dalam pedagogi budaya-digital. Guru pendidikan anak usia dini (PAUD) tidak hanya harus memiliki keterampilan teknis dalam teknologi, tetapi mereka juga harus mampu menggabungkan nilai-nilai budaya ke dalam setiap aplikasi teknologi. Pelatihan komprehensif harus mencakup kemampuan untuk membangun "jembatan budaya" antara dunia digital dan tradisi lokal, kemampuan untuk mengkurasi konten digital yang relevan secara budaya, dan pemahaman tentang ekologi nilai anak-anak (Nasution dkk. , 2. Gagasan berdasarkan sudut pandang Livingstone dan Blum-Ross. mendefinisikan literasi digital budaya sebagai kemampuan orang tua untuk membimbing anak melalui pengalaman digital dengan menerapkan perspektif Juraliansi : Jurnal Lingkup Anak Usia Dini, 7. , 2026 | 223 Copyright . 2026 Marwana aisyah, . Pendekatan ini memungkinkan anak-anak untuk menganalisis nilai-nilai yang disampaikan dalam konten digital dan untuk membangun hubungan dengan tradisi dan nilai-nilai keluarga yang telah diturunkan dari generasi ke generasi. Strategi keempat melibatkan revisi kurikulum pendidikan anak usia dini untuk memasukkan nilai-nilai budaya ke dalam kerangka pembelajaran digital (Ulfah. , 2. Strategi kelima melibatkan pembentukan ekosistem kemitraan multi-pemangku kepentingan. Pelestarian nilai-nilai budaya transformative dalam industri teknologi berintegrasi pada konten budaya lokal ke dalam algoritma platform digital yang digunakan oleh anak Indonesia harus dipromosikan melalui regulasi dan insentif dalam berperan sebagai sumber dan penjaga keaslian konten budaya yang diproduksi secara digital (Ritzer dan Stepnisky. ,2022. Tillayeva. ,2. Strategi keenam melibatkan peningkatan penelitian dan evaluasi berbasis bukti untuk memberikan jawab mengenai efektivitas berbagai intervensi di bidang ini secara sistematis mengevaluasi pengaruh berbagai strategi terhadap internalisasi nilainilai budaya pada perkembangan awal. Kebijakan dan praktik pendidikan akan terus bergantung pada intuisi dan asumsi daripada data empiris yang dapat diandalkan jika tidak ada dasar bukti yang kuat (Clements & Sarama, 2021 . Tillayeva. ,2. SIMPULAN DAN SARAN Evaluasi literatur yang dilakukan dalam artikel ini menghasilkan sejumlah kesimpulan penting yang relevan bagi para pemangku kepentingan di sektor pendidikan anak usia dini di Indonesia. Pertama, digitalisasi pendidikan anak usia dini bukanlah keputusan yang tak melainkan sebuah realitas yang telah dan akan terus berlangsung dengan intensitas yang meningkat. Pertanyaannya bukan lagi apakah kita harus memasukkan teknologi ke dalam pendidikan anak usia dini. melainkan bagaimana kita dapat melakukannya tanpa mengorbankan nilai-nilai budaya yang menjadi dasar identitas nasional. Kedua, fenomena pergeseran nilai-nilai budaya pada anak usia dini sebagai akibat dari digitalisasi adalah kejadian nyata yang terlihat dalam berbagai cara, termasuk bahasa, permainan, seni, nilai-nilai moral, konsep waktu, dan hubungan antar generasi. Transisi ini tidak terjadi secara tiba-tiba. melainkan merupakan hasil dari akumulasi pengalaman digital yang terjadi tanpa mediasi budaya yang memadai. Ketiga, sistem belum memberikan dukungan yang diperlukan kepada guru anak usia dini, dan mereka dihadapkan pada tantangan yang rumit. Mereka tidak hanya membutuhkan pelatihan teknologi, tetapi juga kerangka kerja pedagogis yang kohesif yang menggabungkan nilai-nilai budaya ke dalam pembelajaran digital. Keempat, peran orang tua sangat penting, tetapi seringkali kurang optimal akibat keterbatasan literasi digital budaya. Pengembangan kapasitas orang tua adalah target utama intervensi yang efektif, karena mereka adalah mediator utama antara dunia digital dan tradisi budaya dalam kehidupan anak-anak. Kelima, solusi untuk tantangan ini tidak terletak pada dikotomi yang salah dan tidak produktif antara teknologi dan tradisi. Solusi yang lebih masuk akal adalah integrasi cerdas antara keduanya, di mana teknologi digunakan sebagai media untuk memperkuat transmisi nilai-nilai budaya, bukan untuk melemahkannya. Juraliansi : Jurnal Lingkup Anak Usia Dini, 7. , 2026 | 224 Copyright . 2026 Marwana aisyah, . DAFTAR RUJUKAN Clements. , & Sarama. Learning And Teaching Early Math: The Learning Trajectories Approach . rd ed. Routledge. (Onlin. https://doi. org/10. 4324/9781003 Dewi. , & Sulistyowati. Paradoks Orang Tua Dalam Pengawasan Digital Anak Usia Dini. Jurnal Pendidikan Anak. Vol. No. 2, pp : 78Ae91. (Onlin. https://doi. 21831/jpa. Fadhillah. N . Nilai-Nilai Budaya Lokal Dalam Pengembangan Karakter Anak Usia Dini. Institut Agama Islam Negeri Kendari. Jurnal Tunas Siliwangi, 8. , pp : 41Ae51. (Onlin. https://e-journal. id/index. php/tunas-siliwangi/article/view/31 Hasmawati,et. , . The Impact of Digital Cultural Transformation on Elementary School Students' Identity in the Era of Globalization. Universitas Khairun Ternate. Mimbar sekolah dasar. Vol. No. 4, (Onlin. https://ejournal. edu/index. php/mimbar/article /view/91609 Judijanto,L. ,et. , . Cultural Transformation Through Digitalization: a Bibliomatric Approach in Responding to Changes in Social Values. Norms, and Cultural Practice in Society. IPOSS Jakarta. WSSHS : West Science Social and Humanities Studies. Vol. No. 8, (Onlin. https://wsj. com/index. php/wsshs/article/view/1214 Kurniawan. Sari. , & Hidayat. Dampak Pandemi COVID-19 Terhadap Penggunaan Media Digital Pada Anak Usia Dini di Jawa Tengah. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5. , 1800Ae1816. (Onlin. https://doi. org/10. Livingstone. , & Blum-Ross. Parenting For a Digital Future: How Hopes And Fears About Technology Shape ChildrenAos Lives. Oxford University Press. (Onlin. https://doi. org /10. 1093/oso/9780190874698. Nisa,K. Understanding cultural diversity in technology use: Systematic review supporting SDG4. National Dong Hwa University. E3S Web of Conferences 640, 02003. (Onlin. https://doi. org/10. 1051/e3sconf/202564002003 Nasution. Harahap. , & Siregar. Kompetensi Guru PAUD Dalam Pembelajaran Berbasis Teknologi Digital Bermuatan Nilai Budaya. Jurnal Ilmu Pendidikan, 29. , 14Ae (Onlin. https://doi. org/10. 17977/um048v29i12023p014 Putri. Mutiah. , & Fitriani. Permainan Tradisional Versus Digital: Implikasi Bagi Perkembangan Sosial-Kultural Anak Usia Dini. Jurnal Anak Usia Dini, 4. , 1Ae15. (Onlin. https://doi. org/10. 26638/jp. Juraliansi : Jurnal Lingkup Anak Usia Dini, 7. , 2026 | 225 Copyright . 2026 Marwana aisyah, . Rahmawati. Nuraini. , & Azhari. Korelasi Intensitas Penggunaan Media Digital Dengan Pemahaman Nilai Budaya Lokal Pada Anak PAUD. JPPM: Jurnal Pendidikan Pemberdayaan Masyarakat, 9. , 121Ae135. (Onlin. https://doi. org/10. 21831/jppm. Ramayanti,R. ,dkk. Langkah Demi Langkah Systematic Literature Review dan MetaAnalysis. Depok : Rejawali pers Ritzer. , & Stepnisky. Modern Sociological Theory . th ed. USA : SAGE Publications. Sandriester,J. ,et. , . Digital Transformation in the Cultural Heritage Sector and Its Impacts on Sustainable Regional Development in Peripheral Regions. University of Graz. Sustainability, 17. , (Onlin. https://doi. org/10. 3390/su17156661 Santrock. Child Development: An Introduction . th ed. New York : McGraw-Hill Education. Skantz-yIberg. Lantz-Andersson. Lundin. , & Williams. ChildrenAos Digital Competence in Preschool Context. Early Years, 42. , pp: 323Ae337. (Onlin. https://doi. org/10. 1080/09575146. Tillayeva,G. , . The Impact of Digitalization on Cultural Practices and Values. Filosof. IRSHAD : International Journal of La and Policy. Vol. No. 1, (Onlin. https://irshadjournals. com/index. php/ijlp/article/view/263 Twenge. Igen: Why TodayAos Super-Connected Kids Are Growing Up Less Rebellious. More Tolerant. Less Happy And Completely Unprepared For Adulthood. Atria Books. Ulfah. Tantangan Transmisi Nilai Budaya Pada Anak Usia Dini Di Era Post-Pandemi Dan Digital. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 6. , 836Ae848. https://doi. org/10. 31004/obsesi. Yulianto. , & Rahayu. Dimensi Pergeseran Nilai Budaya Pada Anak Usia Dini Pengguna Aktif Media Digital: Studi Multiprovinsial. Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 16. , pp : 203Ae219. https://doi. org/10. 21009/JPUD. Juraliansi : Jurnal Lingkup Anak Usia Dini, 7. , 2026 | 226