Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Halaman jurnal di https://journal. id/skenoo AuKota yang KuatAy: Resiprokal Unsur-unsur Pembentukan Karakter mengenai Strata Sosial (Paralelisme Kitab Amsal 10:15 dan 18:. Farel Yosua Sualanga. Aska Aprilano Pattinajab aSekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Yogyakarta, bSekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Ambon email: sualangfarel@gmail. com, apattinaja@gmail. INFO ARTIKEL Sejarah artikel: Dikirim 04 April 2025 Direvisi 13 Oktober 2025 Diterima 20 November 2025 Terbit 18 Desember 2025 Kata kunci: Paralelisme Kota yang Kuat Pembentukan Karakter Kitab Amsal Interpretasi Keywords: Parallelism Strong City Character Building Book of Proverbs Interpretation ABSTRAK Kitab Amsal banyak mengungkapkan suatu paralelisme antara topik dari satu ayat kepada ayat lainnya pada lingkup kumpulan-kumpulan Amsal 10-29. Tidak terkecuali paralelisme antara Amsal 10:15 dan 18:11 yang membahas tentang gambaran Aukota yang kuatAy pada konteks kekayaan dan kemiskinan. Sejauh ini para penafsir telah menemukan bahwa interpretasi paralelisme Amsal 10:15 dan 18:11 berfokus pada interpretasi teologis, pengalaman individu, persepsi budaya, respon emosional, pola penalaran, tetapi tidak berintegrasi kepada unsurunsur pembentukan karakter. Oleh sebab itu, dengan penggunaan metode kualitiatif dengan sub interpretative design sastra hikmat yang secara khusus mengamati terjemahan teks, strktur paralelisme dan gaya bahasa kiasan, penelitian ini menemukan bahwa gambaran Aukota yang kuatAy dalam Amsal 10:15 dan 18:11 dapat diintegrasikan pada unsurunsur pembentukan karakter yaitu evaluasi karakter, konsistensi pada perilaku hikmat dan pengambilan keputusan. Kontribusi riset ini dapat memberikan suatu hubungan bijak dan etika sosial antara orang kaya dan orang miskin sebagai suatu peradaban etis dalam lingkungan komunitas masyarakat. ABSTRACT A close examination of the Book of Proverbs reveals numerous parallels between the topics of one verse and another within the collection of Proverbs 10-29. This includes the parallelism between Proverbs 10:15 and 18:11, which discuss the image of a "strong city" in the context of wealth and poverty. According to the findings of interpreters up to this point, the interpretation of the parallelism in Proverbs 10:15 and 18:11 has centered on theological interpretation, individual experience, cultural perception, emotional response, and patterns of reasoning. However, there has been an absence of integration of elements of character Therefore, employing a qualitative method with a sub-interpretative design of wisdom literature that specifically observes text translation, parallelism structure, and figurative language style, this study finds that the image of a "strong city" in Proverbs 10:15 and 18:11 can be integrated into character-building elements, namely character evaluation, consistency in wise behavior, and decision-making. The findings of this study offer a novel perspective on the potential for fostering ethical and equitable social relations between economic classes within a community setting. Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 185 PENDAHULUAN Kitab Amsal merupakan salah satu literatur kebijaksanaan . elain kitab Ayub dan Pengkhotba. dalam Perjanjian Lama yang banyak mengungkapkan bentuk-bentuk perkataan kebijaksanaan. Ada 3 . bentuk perkataan kebijaksanaan yang cukup sering ditemukan dalam kitab Amsal yaitu, perkataan pengajaran, perkataan amsal dan secara khusus perkataan yang berdasarkan observasi ataupun pengalaman. 1 Jika memperhatikan keunikan dari perkataan berdasarkan pengalaman, maka dapat ditemukan bahwa penulis kitab Amsal menyuguhkan suatu kata-kata hikmat yang didasarkan pada pengamatan, penggambaran, sintesis dan pengambilan keputusan sebagai suatu kebiasaan dari panca inderanya pada konteks lingkungan Israel Kuno. 2 Tidaklah heran, bahwa perkataan berdasarkan pengalaman pada kitab Amsal dapat ditemukan secara paralelisme dalam teksteks lain di Mesir seperti teks Amenemope. 3 Itulah sebabnya, perkataan berdasarkan pengalaman banyak ditemukan pada keseluruhan kitab Amsal seperti pada bagian prolog dari Amsal pasal 1-9, bagian kumpulan-kumpulan Amsal pasal 10-29 dan bagian epilog yaitu Amsal pasal 30-31. Perkataan berdasarkan pengalaman dapat ditemukan pada berbagai topik dalam kitab Amsal, seperti ketekunan, kemalasan, kekayaan, kemiskinan, ataupun topiktopik yang saling beririsan seperti kekayaan-kemiskinan-integritas, ketekunan-kemalasankekayaan dan lain-lainnya. Salah satu topik yang diangkat pada riset ini adalah kekayaan yang berhubungan dengan Aukota yang kuatAy pada Amsal 10:15 dan 18:11. Sekalipun, dapat diketahui bahwa teks-teks Amsal yang berhubungan dengan gambaran AukotaAy dapat ditemukan pada Amsal 1:21. 8:3. 9:3. 10:15. 11:10. 11:11. 16:32. 18:11, 19. 21:22. 25:28. 29:8, sebagaimana yang diteliti Golec Jr mengenai gambaran kota sebagai wacana politik dalam Amsal 1-31. 4 Namun begitu, masih ditemukan suatu kesenjangan penelitian interpretasi terhadap paralelisme antara Amsal 10:15 dan Amsal 18:11. Sebagai contohnya adalah temuan Scheffler, ia menemukan bahwa interpretasinya secara khusus pada paralelisme Amsal 10:15 dan 18:11 memberikan suatu pengamatan sosial antara orang kaya dan miskin sebagai isu utama mengenai teologi kemiskinan dalam perspektif hikmat kitab Amsal. 5 Nampaknya. Scheffler menjelaskan teologi kemiskinan dalam kitab Amsal sebagai lensa yang sangat 1 Suzanna R. Millar. AuThe Multiple Genres of Wisdom,Ay in The Cambridge Companion to Biblical Wisdom Literature, ed. Katherine J. Dell. Suzanna R. Millar, and Arthur J. Keefer (Cambridge: Cambridge University Press, 2. , 36Ae38. 2 Anne W. Stewart. AuWisdomAos Imagination: Moral Reasoning and the Book of Proverbs,Ay Journal for the Study of the Old Testament 40, no. : 358Ae359. Tremper Longman i. AuThe Scope of Wisdom Literature,Ay in The Cambridge Companion to Biblical Wisdom Literature, ed. Katherine J. Dell. Suzanna R. Millar, and Arthur J. Keefer (Cambridge: Cambridge University Press, 2. , 17. 3 Katharine J. Dell. The Book of Proverbs in Social and Theological Context. The Book of Proverbs in Social and Theological Context (Cambridge: Cambridge University Press, 2. , 52, 65. 4 James E. Golec Jr. AuWisdom City: Towards a Political Reading of Teh Wisdom GenreAy (Liberty University, 2. , 27-43. 5 Eben Scheffler. AuPoverty in the Book of Proverbs: Looking From Above?,Ay Scriptura 111, no. : 48Ae496. 186 Ae Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ia memberikan suatu pemahaman diri bagi pembacanya bahwa AukemiskinanAy bukan hanya dilihat dalam konteks materi, namun juga termasuk kepada motif ataupun hubungan yang tidak berdasarkan takut akan Tuhan. Sedangkan. Rathbone menemukan bahwa interpretasi Amsal 10:15 dan 18:11 harus dibaca sebagai suatu keamanan dan keharmonisan sebagai Aukota yang kuat,Ay melainkan hanya Tuhanlah sebagai Aumenara yang Ay Kedua amsal ini memberikan pemahaman bahwa kekayaan bisa menjadi sumber kenyamanan dan keamanan yang palsu sebagai bentuk kritis Rathbone terhadap masalahmasalah sosio-ekonomi di Afrika Selatan. 6 Oleh sebab itu, interpretasi Scheffler dan Rathbone memiliki suatu kesamaan untuk memperhatikan teologi kitab Amsal tentang kekayaan dan kemiskinan dalam perspektif Autakut akan Tuhan. Ay Sekalipun. Scheffler lebih menekankan pada hal-hal mendasar secara filosofis, motif dan tindakan yang bijak tentang kemiskinan, sedangkan interpretasi Rathbone lebih kepada area praktis dalam konteks keharmonisan sosial terhadap sosio-ekonomi di Afrika Selatan. Permasalahan interpretasi Amsal 10:15 dan 18:11 seringkali juga dipahami dalam konteks gambaran ataupun imajinasi Aukota yang kuatAy yang berkaitan pada respon, tindakan, budaya, namun belum berintegrasi pada pembentukan karakter. Sebagai contohnya adalah pandangan Millar mengenai kedua amsal ini terhadap interpretasi Aukota yang kuat. Ay Ia memaparkan bahwa Aukota yang kuatAy merupakan suatu gambaran yang memberikan konsep-konsep terkait mengenai pengalaman individu, persepsi budaya, respon emosional, pola penalaran, bahkan hubungan dari satu budaya ke budaya lainnya (Pandangan serupa juga ditemukan oleh Widyaningtyas. Gani. Handayani. Bae dan Sualang mengenai tatanan lingkungan sosial yang juga memperhatikan aspek nilai-nilai dan bahasa tubuh ataupun komunikasi sosial masyarakatny. 7 Millar menggunakan suatu paradigma yang lebih kreatif untuk melihat bahwa interpretasi Amsal 10:15 dan 18:11 dapat dipakai dalam bentuk-bentuk pendekatan interdisipliner. Itulah sebabnya, interpretasi dalam teks-teks dalam kitab Amsal bisa melihat banyak cangkupan interdisipliner, termasuk di dalamnya adalah pembentukan 8 Sebagaimana yang dijelaskan oleh Sualang bahwa unsur-unsur pembetukan karakter dapat dilihat dari tindakan keputusan, evaluasi karakter dan kegairahan sifat-sifat 6 Mark Rathbone. AuSelf-Interest. Wealth and the Book of Proverbs in the South African Context: Towards a Smithian Alternative,Ay HTS Teologiese Studies / Theological Studies 75, no. : 1Ae9. 7 Suzanna R. Millar. AuOpen Proverbs: Exploring Genre and Openness in Proverbs 10:1-22:16Ay (University of Cambridge, 2. , 51-52. Ester Widiyaningtyas and Mario Gani. AuTelaah Tabernakel Dalam Perspektif Filosofis Ilmu Arsitektur,Ay Skenoo : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 2, no. : 73. Magpika Handayani. Sung Hyun Bae, and Farel Yosua Sualang. AuEmbodiment as a Means of Communication in Establishing a Reputation: A Literary Analysis of Wisdom from Proverbs 12:23,Ay TELEIOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 4, no. 2 (December 3, 2. : 127, https://ejournal. stransformasi-indonesia. id/index. php/teleios/article/view/158. 8 Alice Ogden Bellis. AuProverbs in Recent Research,Ay Currents in Biblical Research 20, no. 141Ae142. Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 187 bijak. 9 Dengan demikian, interpretasi Amsal 10:15 dan 18:11 bisa memberikan suatu peluang penelitian yang baru, di mana penelitian-penelitian sebelumnya kurang menyinggung suatu kajian tentang maksud frase Aukota yang kuatAy dan hubungannya pada unsur-unsur pembentukan karakter. Jika memperhatikan kesenjangan riset interpretasi yang telah dijelaskan melalui hasil riset-riset sebelumnya, maka artikel ini menemukan bahwa interpretasi mengenai gambaran Aukota yang kuatAy dalam Amsal 10:15 dan 18:11 dapat diintegrasikan kepada ketiga unsur pembentukan karakter . eputusan, sifat-sifat bijak dan evaluasi karakte. sebagai bentuk hubungan resiprokal mengenai kekuatan hikmat seperti suatu gambaran Aukota yang kuatAy terhadap strata sosial antara orang kaya dan miskin. Ada 3 . hal yang mendasari temuan riset ini. Pertama, paralelisme antara Amsal 10:15 dan 18:11. Kedua, penggunaan metafora mengenai gambaran Aukota yang kuatAy dari kedua Amsal tersebut. Ketiga, unsur-unsur pembentukan karakter yang ditemukan bagi hubungan strata sosial antara orang kaya dan Alhasil, penelitian ini berkontribusi pada etika sosial dan hubungan yang bijak yang memperhatikan unsur-unsur pembentukan karakter antara orang kaya dan miskin sebagai suatu bentuk dari gambaran Aukota yang kuat. METODE Berdasarkan pada kesenjangan riset dan temuan yang diharapkan dari interpretasi AuKota yang Kuat:Ay resiprokal unsur-unsur pembentukan karakter mengenai paralelisme Amsal 10:15 dan 18:11, artikel memakai suatu metode penelitian yang sesuai dengan teknik Penafsiran mengenai paralelisme Amsal 10:15 dan 18:11 menggunakan suatu kajian kualitatif dengan fokus utama yaitu interpretative design dengan sub pendekatan hermeneutika sastra hikmat. 10 Interpretative design digunakan sebagai metode yang memberikan makna teks, sehingga dapat diterapkan secara interpretatif, secara khusus memakai sastra hikmat sebagai genre dalam kitab Amsal. Adapun 4 . langkah operasional hermeneutika sastra hikmat pada kajian Paralelisme Amsal 10:15 dan 18:11. Pertama, melakukan analisis terjemahan. Pada bagian awal ini, perlu dilakukan suatu terjemahan teks Amsal 10:15 dan 18:11 dari bahasa Ibrani Teks Biblia Hebraica Stuttgartensia kepada Bahasa Indonesia. Kedua, mengkaji 9 Farel Yosua Sualang. AuKeterikatan Pengambilan Keputusan. Konsistensi Sifat-Sifat Bijak Dan Evaluasi Karakter Dalam Pembentukan Integritas (Paralelisme Amsal 28:6. ,Ay DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika 6, no. : 22Ae37. 10 Sonny Eli Zaluchu. AuStrategi Penelitian Kualitatif Dan Kuantitatif Di Dalam Penelitian Agama,Ay Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat 4, no. : 28. Sonny Eli Zaluchu. AuPola Hermenetik Sastra Hikmat Orang Ibrani,Ay Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat 3, no. : 21Ae29. Farel Yosua Sualang. AuPrinsip-Prinsip Hermeneutika Genre Hikmat Dalam Kitab Amsal: Suatu Pedoman Eksegesis,Ay Jurnal PISTIS 1, no. Old Testament. Genre of Wisdom. Hermeneutics . : 93Ae112. 11 Mark Sneed. AuThe Social Setting of Wisdom Literature,Ay in The Oxford Handbook of Wisdom and the Bible, ed. Will Kynes (New York: Oxford University Press, 2. , 340, 346. 188 Ae Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. konteks antar topik pada area kumpulan-kumpulan Amsal. 12 Kekahasan dari analisis konteks antar topik adalah memperhatikan hubungan yang berparalel mengenai topik tentang AuKota yang kuatAy dalam Amsal 10:15 dan Amsal 18:11. Ketiga, menganalisis bagian-bagian baris Amsal yang berparalelisme dan penggunaan pola sebab-akibat. 13 Amsal 10:15 dan 18:11 menunjukkan adanya suatu paralelisme sinonim dan paralelisme antitesis yang saling melengkapi, serta pola sebab akibat yaitu item-evaluasi. Keempat, menginterpretasikan penggunaan gaya bahasa puisi. 14 Amsal 10:15 dan 18:11 dapat ditemukan adanya penggunaan gaya bahasa kiasan yang khas, seperti gaya bahasa perbandingan yaitu metafora dan simile. Dengan demikian, 4 . prosedur hermeneutika sastra hikmat diharapkan dapat menemukan hubungan resiprokal unsur-unsur pembentukan karakter mengenai gambaran Aukota yang kuatAy terhadap Amsal 10:15 dan 18:11. HASIL DAN PEMBAHASAN Interpretasi Amsal 10:15 dan 18:11 Amsal 10:15 memberikan suatu penjelasan mengenai kenyamanan seseorang terhadap Ayat ini juga menunjukkan suatu realita dan fenomena sosial terhadap orang yang kaya dan permasalahan kepada orang yang miskin. Jika memperhatikan konteks dekat, maka Amsal 10:15 dan Amsal 18:11 merupakan jenis perkataan yang berdasarkan pengalaman. Kedua Amsal ini adalah hasil suatu pengamatan yang berdasarkan realita umum di dalam masyarakat, khususnya strata sosial di dalam kehidupan masyarakat Israel kuno. 16 Orang kaya akan melandaskan kehidupannya dengan hartanya, namun orang miskin mendapatkan kesusahan dan malapetaka, karena ketidakcukupan hartanya. Akan tetapi, realita sosial ini tidak dipahami bahwa orang kaya patut dihormati setinggi-tingginya, sedangkan orang miskin harus diabaikan ataupun direndahkan. Dengan demikian, pemaparan konteks dekat dan jauh pada paragraf di bawah ini akan menunjukan penjelasan lebih lanjut. Markus Saur. AuThe Chronological Development of Wisdom Literature,Ay in The Oxford Handbook of Wisdom and the Bible, ed. Will Kynes (New York: Oxford University Press, 2. , 375. 13 Annette Schellenberg. AuEpistemology: Wisdom. Knowledge, and Revelation,Ay in The Oxford Handbook of Wisdom and the Bible, ed. Will Kynes (New York: Oxford University Press, 2. , 33. Neal Gold. AuAo Guzzlers and Gluttons Will Be Impoverished Ao: The Rhetoric of Wealth . Poverty , and Their Causes in the Book of Proverbs,Ay The Reform Jewish Quaterly 3, no. : 180, https://w. org/the-reform-jewish-quarterly-summer-2020/. 14 Anneke Viljoen. AuTheological Imagination as Hermeneutical Device: Exploring the Hermeneutical Contribution of an Imaginal Engagement with the Text,Ay HTS Teologiese Studies / Theological Studies 72, no. : 7. William P. Brown. AuVirtue and Its Limits in the Wisdom Corpus: Character Formation. Disruption and Transformation,Ay in The Oxford Handbook of Wisdom and the Bible. Will Kynes (New York: Oxford University Press, 2. , 47-48. 15 Elizabeth M. Currier. AuThe Personal Implications of Proverbs: Wealth and the Rich. Poverty and the PoorAy (University of Wisconsin-Madison, 2. , 22. 16 James L. Crenshaw. Poverty and Punishment in the Book of Proverbs (Macon: Mercer University Press, 1. , 396. Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 189 Hubungan konteks dekat Amsal 10:15 memiliki keterkaitan dengan ayat keenam belas. Fakta sosial orang kaya dan miskin telah dipaparkan pada ayat kelima belas, namun ayat keenam belas memberikan penjelasan terhadap prinsip-prinsip moral. 17 Garret dan Waltke memberikan interpretasi pada ayat 16 bahwa uang menjadi tolok ukur perlindungan seseorang, jika ia dapat mengatur harta tersebut secara benar. Namun begitu, pengelolaan harta dengan sifat-sifat bebal akan menjerumuskan seseorang pada suatu kegagalan, kehancuran atau hukuman. 18 Sekalipun, ayat 15 dan 16 tidak memiliki kesinambungan secara paralel, namun memberikan penekanan yang sama tentang pengelolaan harta. Hildebrandt memaparkan bahwa ayat 15 dan 16 memberikan evaluasi prositif dan negatif tentang keberadaan atau status sosial pada kepemilikan harta seseorang. Hanya saja ayat 16 menyandingkan pentingnya peranan sifat-sifat bijak . eperti: kebenaran dan keadila. sebagai suatu upaya dari pekerjaan yang benar . al yang sama juga ditekankan Whybary dalam penafsirannya Amsal 10:. 19 Oleh sebab itu, ayat 15 dan 16 memberikan pengertian secara integral antara keberadaan seseorang yang memiliki harta yang banyak dengan ketepatan terhadap pengelolaan harta. Interpretasi Amsal 10:15 Teks Biblia Hebraica Stuttgartensia Tabel 1. Terjemahan Amsal 10:15 Terjemahan Teks A ii Ao A o nc iA15 15. ( Stich A) Harta seorang kaya adalah kota bentengnya, . (Stich B) kehancuran orang miskin adalah kemiskinannya. AoyEA A AA n e A uoy AA Amsal 10:15 memaparkan suatu pernyataan yang kontras antara harta orang kaya sebagai kota bentengnya dan kehancuran orang miskin oleh karena kemiskinannya. Amsal ini memberikan penekanan bahwa kekayaan dapat memberikan keselamatan dan perlindungan, sedangkan kemiskinan mengalami suatu masalah terhadap kebutuhan ataupun situasi. Artinya bahwa kemiskinan merupakan sesuatu yang tak diingini, namun begitu kekayaan adalah sesuatu yang tak dapat dihindari, sehingga Amsal 10:15 mengungkapkan suatu manfaat atas kekayaan dan bahaya tentang kemiskinan. 17 Duane. A Garret. The New American Commentary:An Exegetical and Theological Exposition of Holy Scripture Proverbs. Ecclesiastes. Song of Songs (Nashville: Broadman & Holman Publishers, 1. ,93. 18 Bruce K. Waltke. The Book of Proverbs Chapters 1-15 (Grand Rapids: Wm. Eerdmans Publishing, 2. , 462-463. 19 Ted Hildebrandt. AuProverbial Strings: Cohesion in Proverbs 10,Ay Grace Theological Journal 11, 2 . : 179. Whybray. The New Century Bible Commentary-Proverbs (Grand Rapids: Wm. Eerdmans, 1. , 63. 190 Ae Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ada 4 . hal yang patut dilakukan pada interpretasi Amsal 10:15. Pertama. A AoA . merupakan kata sifat yang diterjemahkan sebagai Auharta, seorang kaya ataupun Ay20 Namun begitu, pemakaiannya dalam Amsal 10:15 dapat didefinisikan sebagai Auseorang yang kaya. Ay Selain dari pada itu, terjemahan RSV. KJV dan NAS juga mengartikannya sebagai Auseorang yang kaya. Ay Kata sifat A( AoAashy. lebih merujuk pada strata sosial seseorang yang berorientasi pada kekayaan . apat ditunjukkan pada Amsal 14:20. 18:11, 22:2, 7, 16. 28:6, . 21 Status sosial dipengaruhi oleh tindakan seseorang dalam mengelola Hal ini berdampak pada rasa kenyamanan seseorang terhadap kekayaannya. Uniknya, kata sifat A( AoAashy. bergandengan penggunaannya dengan kata benda A( iiAhy. pada ayat 15. Biasanya, kata benda A( iiAhy. memberikan penjelasan tentang tindakan pengelolaan, pengaturan dan pemenuhan kebutuhan material seseorang dengan menggunakan sifat-sifat bijak . eperti: kejujuran, kerja keras ataupun ketekuna. , sebagaimana interpretasi yang telah dilakukan oleh penulis dalam Amsal 10:2-3, 4. 13:11, 22. 22 Dengan demikian, seorang yang kaya secara implisit telah menunjukan keberadaan sosialnya di lingkungan sekitar. Sekalipun, keberadaan ini berkaitan dengan tindakan pengelolaan seseorang terhadap harta. Kedua, penggunaan frase A( A o nc iAqiryyt ez. dapat didefinisikan sebagai Aukota Ay23 Penggunaan frase ini pada Amsal 10:15 dapat diartikan sebagai Autempat yang Ay24 Uniknya, frase ini tidak lepas dari pengertian Auharta seorang yang kayaAy yang menjadikan seseorang merasa nyaman. Ross juga menekankan bahwa kenyamanan seseorang beriringan dengan kepemilikan hartanya. Menurutnya, penggunaan frase Aukota bentengnyaAy dapat menjaga suatu penduduk dari setiap kepelikan. Harta telah memberikan suatu pertanggungan bagi seseorang untuk menjalani suatu keadaan yang sulit. 25 Dengan demikian, ayat 15 memaparkan suatu fakta sosial yang terjadi secara umum dalam lingkungan masyarakat, dimana harta dapat mendukung dan memberikan rasa nyaman seseorang, sehingga ia dapat mencukupi masing-masing keperluannya. 20 William L Holladay. A Concise Hebrew and Aramaic Lexicon of the Old Testament, ed. Brill (Michigan: Eerdmans Publishing, 2. , 286. 21 R. Whybray. Wealth and Poverty in the Book of Proverbs (Sheffield: JSOT Press, 1. , 14. Farel Yosua Sualang and Eden Edelyn Easter. AuIntegrasi Integritas Dan Lingkungan Sosial Untuk Membentuk Reputasi: Analisis Sastra Hikmat Amsal 22:1-2,Ay HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen 2, no. : 56. Elizabeth M. Currier. AuThe Personal Implications of Proverbs: Wealth and the Rich. Poverty and the Poor,Ay 4. 22 Farel Yosua Sualang. AuSuatu Kajian Mengenai Keterkaitan Faktor-Faktor Pembentukan Karakter Dalam Kitab Amsal,Ay HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen 4, no. 2 (June 30, 2. 92, https://sttkalimantan. id/e-journal/index. php/huperetes/article/view/171. Farel Yosua Sualang. Pembentukan Karakter Melalui Teks-Teks Harta Dalam Amsal 10:1-22:16 (Ponorogo: Gracias Logis Kreatif, 2. 23 John J. Owens. Analytical Key to the Old Testament (Grand Rapids: Baker Book House, 2. , 24 Holladay. A Concise Hebrew and Aramaic Lexicon of the Old Testament, 269, 325. 25 Tremper Longman i. David E. Garland, and Allen P. Ross. The Expositors Bible CommentaryVolume 6: Proverbs-Isaiah, ed. Allen P. Ross (Grand Rapids: Zondervan, 2. , 114. Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 191 Jika memperhatikan konteks jauh, maka Amsal 10:15 memiliki kesinambungan antar topik dengan Amsal 13:8a, 18:1, 23. 22:7 yang memaparkan tentang keuntungan terhadap 26 Harta dapat digunakan sebagai alat tebusan untuk menghalau kesulitan ataupun ancaman atas dirinya (Ams. Bahkan, melalui hartanya, orang yang kaya dapat mempengaruhi orang miskin (Ams. 18:23. , begitupun orang miskin membutuhkan pertolongan dari orang yang kaya. 27 Ada . faktor utama yang mempengaruhi hubungan integral tersebut. Ada orientasi bahwa orang miskin memerlukan pekerjaan dari orang kaya sebagai budak ataupun pekerja . Kesukaran orang miskin dalam urusan finansial banyak dijelaskan dalam Amsal 22:7b,Ay dan yang berhutang menjadi budak yang menghutangi. Ay Pemakaian frase Aumenjadi budakAy menjadi tanda keterbatasan orang miskin karena tidak dapat melunasi hutang (Kel. 21:2-. Jika memperhatikan aturan dalam kehidupan Israel kuno, maka seseorang dapat ditebus oleh orang lain, supaya dapat melunai hutangnya. Whybray menafsirkan bahwa budak dipahami sebagai budak istana dan keluarga, karena pemakaian terhadap kata AubudakAy sering dipahami alam bentuk kata benda tunggal. Alhasil, suatu keluarga hanya memperkerjakan satu budak. 28 Kesusahan secara finansial akan mengupayakan orang miskin untuk bekerja, sehingga ia dapat mencukupi kebutuhannya. Penulis Amsal mengajarkan orang kaya, supaya menunjukan belas kasihan kepada orang yang miskin sebagai suatu kepedulian yang berasal dari Allah terhadap kemakmurannya (Amsal 14:31. 19:17. 22:16, 22:22-23. 23:10-11. Ketiga. A( A nAmekhitty. merupakan kata benda yang dapat diterjemahkan sebagai Aukehancuran, kejatuhan dan kebinasaan. Ay30 Pemakaiannya dalam ayat 15, kata A( A nAmehiitty. bisa diartikan sebagai Aukehancuran. Ay Terjemahan RSV. NIV. NAS, dan NAB juga menggunakan kata AuruinAy yang diartikan sebagai Aukehancuran. Ay Kehancuran dipahami sebagai konsekuensi dari apa yang telah dialami oleh orang miskin. Kata benda tersebut telah memberikan rujukan pada stich sebelumnya dari frase Aukota bentengnya,Ay karena kehancuran yang dimaknai oleh penulis Amsal sebagai Aurobohan dari benteng kota. Ay31 Dengan demikian, kata A( A nAmehitty. menjelaskan bahwa orang miskin tidak dapat melandaskan keamanannya pada kemiskinan. 32 Oleh sebab itu. Kehancuran ini menyadari kepada orang miskin bahwa kesulitan dan kemelaratan finansial tidak dapat memberikan rasa nyaman atas dirinya. 26 Gheorghe Girbea. AuThe Proverbs in Christianity and in the Romanian Culture,Ay in Selected Papers Of The 14th International Conference of the Faculty of Theology. Letters. History and Arts, 2018, 227. 27 R. E Harlow. Proverbs: The KingAos Wisdom (Scarborough: Everyday Publications, 1. , 112. Crenshaw. Poverty and Punishment in the Book of Proverbs, 400. Mark Sneed. AuTwice-Told Proverbs as Inner-Biblical Exegesis,Ay in Reading Proverbs Intertextually (London: T&T Clark, 2. , 96. 28 Whybray. Wealth and Poverty in the Book of Proverbs, 42-43. 29 Michael V. Fox. Proverbs 1-9: A New Tranlation with Introduction and Commentary (New Haven: Yale University Press, 2. , 519. 30 Holladay. A Concise Hebrew and Aramaic Lexicon of the Old Testament, 191. 31 Katharine J. Dell. AuWisdom and Folly in the City: Exploring Urban Contexts in the Book of Proverbs,Ay Scottish Journal of Theology 69, no. : 391. 32 Risnawaty Sinulingga. Tafsiran Alkitab: Amsal 10:1-22:16 (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 192 Ae Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Analisis kata yang terakhir dalah kata benda vyr . Kata ini didefinsikan sebagai AukemiskinanAy yang hanya ditemukan dalam kitab Amsal, sebanyak 32 kali. 33 Akar dari kata benda vyr . lebih menjelaskan keadaan seseorang yang mengalami strata sosial rendah pada suatu lingkungan masyarakat. 34 Seperti pada kata A( A nAmehitty. , kemiskinan mengakibatkan suatu malapetaka dalam diri seseorang. Keputusasaan dan keberadaan dari situasi yang sulit mengakibatkan seseorang tidak dapat memenuhi kebutuhan dirinya sendiri. Lebih daripada itu. Scheffler juga menjelaskan bahwa kemiskinan adalah salah satu faktor bagi seseorang yang mendatangkan kekayaan melalui tindakan-tindakan yang bebal. Hal ini merupakan konsekuensi dari seseorang yang tidak dapat melandaskan kehidupannya pada sifat-sifat bijak, sehingga ia terseret pada sikap perilaku yang jahat. 35 Penulis Amsal memberikan penekanan bahwa orang miskin merupakan sekelompok dari keberadaan status sosial yang rendah, karena sekumpulan AuwargaAy ini tidak dapat mencukupi kebutuhannya. Tentunya, banyak faktor yang menjatuhkan seseorang untuk menjadikannya miskin, entah perwujudan dari sifat-sifat bebalnya, pengaturan kekayaan yang keliru . embrono dan pemborosa. , ataupun faktor-faktor lainnya. Jika memperhatikan pemaparan dari paragraf-paragraf di atas, maka Amsal 10:15 menunjukan adanya bentuk paralelisme antitesis . antara baris A dan baris B, dengan model dua baris . istich patter. 36 Baris A dan B memaparkan kalimat yang berlawanan antara strata sosial orang kaya dan miskin. Sekalipun. Amsal 10:15 tidak menggunakan kata penghubung . seperti w> . A ). Aayu (Ay ), dan lain-lain. Amsal ini juga memberikan pola konsentris . antar frase dengan model a-b-bAo-aAo. 37 Lebih lagi. Amsal dua baris ini juga mempunyai bentuk chiastik juxtaposition . , dimana stich A dan stich B menaruh kedua oknum secara bersama-sama atau kedua kata benda dalam satu kalimat, namun tidak mempunyai satupun kata kerja. Patut untuk diperhatikan bahwa Amsal 10:15 memakai bahasa Ibrani yang tidak menggunakan satupun kata keja copula ataupun substantif dalam bahasa Ibrani. Hal ini berbeda dengan penggunaannya dalam bahasa Yunani dan Inggris. Oleh sebab itu, terjemahan RV dan AV memakai italic/huruf miring kepada kata kerja Auis, are, wereAy dan lain-lain. 38 Alhasil. Amsal 10:15 menunjukan adanya juxtaposition di antara kedua kata benda antara stich A: AuHarta seorang kaya-kota bentengnyaAy dan stich B: Aukehancuran orang miskin-kemiskinannyaAy pada satu kalimat, namun tidak mempunyai 33 Holladay. A Concise Hebrew and Aramaic Lexicon of the Old Testament, 339. 34 Ibid. 35 Scheffler. AuPoverty in the Book of Proverbs: Looking From Above?Ay Janes Sinaga et al. AuAnalisis Ulangan 19 : 1-13 AoKota-Kota Perlindungan,AoAy Skenoo : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 2, no. : 47. 36 Keil and Delitzsch. Biblical Commentary on The Old Testament, 219. 37 Roland Meynet. Rethorical Analysis: An Introduction to Biblical Rhetoric (Sheffield: Sheffield Academic Press, 1. , 231. 38 Roland E. Murphy. The Wisdom Literature (Grand Rapids: Wm. Eerdmans Publishing, 1. , 65. Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 193 satupun kata kerja. Penjelasan dari beberapa kalimat di atas akan dipaparkan melalui Tabel 2 tentang struktur Amsal 10:15. Tabel 2. Struktur Amsal 10:15 Analisis Struktur Amsal 10:15 dengan model frase a-b-bAo-aAo Stich A- Harta seorang kaya adalah . kota bentengnya . (Tetap. Stich BKehancuran orang miskin adalah . rase bA. rase aA. Selain daripada itu, juga ditemukan bahwa anak kalimat a-b dan anak kalimat b-aAo mempunyai paralel identik. Namun begitu, juga ditemui adanya antitesis antara frase a-aAo dan frase bAo-bAo. Frase a dan frase aAo menunjukan suatu antitesis di antara status sosial yang berbeda, yaitu orang kaya dan miskin. Nampaknya, penulis Amsal memperhatikan perbedaan status sosial ini untuk menjelaskan suatu realita dari keuntungan orang kaya daripada orang miskin, yang mana mendapatkan kesulitan, kegagalan ataupun kehancuran. Pada bagian ini memang orang kaya dan miskin dibandingkan secara antitesis, sekalipun tidak berarti bahwa orang kaya harus dihormati setinggi-tingginya dan orang miskin direndahkan. 39 Akan tetapi, anak kalimat b-bAo menunjukan adanya evaluasi strata sosial orang kaya dan miskin. Itulah sebabnya, penulis Amsal menggunakan frase Aukota bentengnyaAy untuk mengevaluasi orang kaya yang dapat memenuhi masing-masing kebutuhannya. Penulis Amsal juga menggunakan frase Aukehancuran orang miskinAy untuk mengevaluasi orang miskin sebagai kaum sosial yang sukar dan sulit dalam pengelolaan Amsal 10:15 menunjukan suatu perkataan yang berdasarkan pengalaman. Ini adalah realita sosial yang terjadi dalam kehidupan masyakarat mengenai strata sosial orang kaya dan orang miskin. Penulis Amsal semata-mata menunjukan suatu kelebihan dari orang yang kaya dan kesusahan yang dihadapi oleh orang miskin. 40 Oleh sebab itu, realita sosial yang didasarkan oleh pengamatan penulis Amsal sangat terlihat dalam struktur Amsal 10:15. Apabila merujuk masing-masing pernyataan di atas, maka Amsal 10:15 menggunakan model sebab-akibat yaitu Auitem-evaluasi. Ay41 Penulis Amsal menggunakan kekhasan paralelisme ini untuk memaparkan makna yang jelas kepada pembacanya. Alhasil, kedua item dari anak kalimat a-b memberikan suatu evaluasi yang berbeda terhadap kenyamanan orang kaya . nak kalimat aA. dan kehancuran bagi orang miskin . nak kalimat bA. Inilah yang disebut sebagai gap di antara kedua penilaian yang berbeda . onclusion gappe. antara status 39 P. T Haton. Contradiction in the Book of Proverbs. The Deep Waters of Counsel (Hampshire: Ashgate Pub, 2. , 92-93. 40 R. Y Scott. Proverbs-Ecclesiastes Introduction. Translation, and Notes (Garden City: Doubleday, 1. , 84. Murphy. Word Biblical Commentary-Volume 22- Proverbs, 74. 41 D. Brent Sandy and Ronald L. Giese Jr. Cracking Old Testament Codes: A Guide Interpreting the Literary Genres of the Old Testament (Nashville: Broadman & Holman Publishers, 1. , 236. 194 Ae Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. sosial orang kaya dan orang miskin. 42 Pola sebab-akibat dalam Amsal 10:15 diperjelas melalui tabel di bawah ini. Tabel 3. Pola sebab-akibat Amsal 10:15 Tipe sebab-akibat item-evaluasi Baris Frase Item Frase Evaluasi Baris Frase bAo Harta seorang kaya Evaluasi Kehancuran orang Frase aAo Kota bentengnya Item Kemiskinannya Struktur Paralelisme Amsal 10:15 dan 18:11 Hal yang serupa juga ditemukan bahwa Amsal 10:15 menunjukan struktur paralelisme sinonim dan daikhiri dengan paralelisme emblematic . dengan Amsal 18:11. Sekalipun, kedua stich dalam Amsal 10:15 menunjukan adanya paralelisme antitesis antara stich A dan stich B . eperti penjelasan penulis di ata. , namun begitu Amsal ini memiliki kesinambungan secara simbolik antara stich A dan kedua stich dari Amsal 18:11. 43 Tabel di bawah ini menjelaskan suatu pengertian mengenai struktur paralelisme Amsal 10:15 dan 18:11. Tabel 4. Paralelisme antara Amsal 10:15 dan Amsal 18:11 Teks Biblia Hebraica Stuttgartensia Terjemahan Teks A ii Ao A o nc iA10:15 10:15 (Stich A) Harta seorang kaya adalah PA1/PS1 Kota bentengnya. PA2/PS2 Tetapi AoyEA A AA n e A uoy AA (Stich B) kehancuran orang miskin PA2Ao adalah kemiskinannya. PA1Ao A ii Ao A o nc iA18:11 18:11 (Stich AA. Harta seorang kaya PS1Ao adalah Kota yang kuat, . PS2Ao (Stich BA. seperti tembok yang tinggi Aii u A e ci c uA AoiEA u AiuA PS3 Dalam Pemikirannya. 42 Anne W. Stewart. AuWisdomAos Imagination: Moral Reasoning and the Book of Proverbs,Ay Journal for the Study of the Old Testament 40, no. : 356. Andrea L. Robinson. AuThe Ecosapiential Theology of Proverbs. Ecclesiastes, and Job,Ay Ert 41, no. : 136. 43 Heim. Poetic Imagination in Proverbs: Variant Repetitions and the Nature of Poetry, 335. Rathbone. AuSelf-Interest. Wealth and the Book of Proverbs in the South African Context: Towards a Smithian Alternative. Ay 488. Girbea. AuThe Proverbs in Christianity and in the Romanian Culture. Ay Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 195 PS4 Keterangan: Paralelisme Antitesis (PA) dan Paralelisme Sinonim (PS) PA1 vs PA1Ao = Harta seorang kaya vs kemiskinannya PA2 vs PA2Ao = Kota bentengnya vs kehancuran orang miskin PS1 dan PS1Ao = Harta seorang kaya AudanAy Harta seorang kaya PS2 dan PS2Ao = Kota bentengnya AudanAy kota yang kuat Kesimpulan: PS1/PS1Ao dan PS4 = Harta seorang kaya AudanAy dalam pemikirannya . tem-evaluas. PS2/PS2Ao dan PS3 = Kota bentengnya/kuat AudanAy seperti tembok yang tinggi . Paralelisme sinonim antara Auharta seorang kayaAy dan Audalam pemikiranyaAy memberikan pengulangan makna terhadap stich A: Auharta seorang kaya adalah kota bentengnnyaAy pada Amsal 10:15. Orientasi terhadap harta memberikan dasar keamanan sebagai suatu ukuran perlindungan bagi orang yang kaya. Namun begitu, jika memperhatikan paralelisme sinonim dari Aukota bentengnyaAy dan Aukota yang kuat,Ay maka ditemukan juga suatu paralelisme emblematik antara frase Aukota bentengnya/kuatAy dan frase Auseperti yang tinggi. Ay Uniknya. Aukota kuat/bentengnyaAy merupakan suatu gaya bahasa perbandingan metafora yang menjelaskan tentang kekayaan sebagai dasar keamanan bagi orang yang kaya. Metafora terhadap Aukota bentengnyaAy menggambarkan kota yang berbenteng kuat dan tebal, yang dapat mendatangkan suatu kenyamanan dari setiap ancaman dan memberikan jaminan terhadap seseorang dari keadaan-keadaan yang sulit. Contoh penggunaan lainnya dalam Perjanjian Lama yang memakai metafora dan tidak menggunakan kata kerja adalah Maz. 23:1 AuTuhan adalah Gembalaku,Ay Mazmur 82: 12. Mazmur 127 beserta ayat-ayat lainnya. 44 Akan tetapi, penggunaan metafora terhadap Aukota yang kuat,Ay beralih kepada konsekuensi kepada penggunaan gaya bahasa simile terhadap frase Auseperti tembok yang tinggi. Ay45 Perubahan gaya bahasa ini cukup mengejutkan terhadap AuekspektasiAy secara umum bagi seorang yang Fox dan Sualang menyebutnya sebagai gap di antara premis dan kesimpulan (Aupremises and conclusion gappedA. ,46 sehingga premis Auharta seorang kayaAy dan Aukota yang kuatAy memberikan kesimpulan ataupun konsekuensi mengenai Auseperti tembok yang tinggi. Ay 44 Viljoen. AuTheological Imagination as Hermeneutical Device: Exploring the Hermeneutical Contribution of an Imaginal Engagement with the Text. Ay Denis Andrian and Farel Yosua Sualang. AuSinergi Kedaulatan Ilahi Dan Usaha Manusia : Analisis Struktur Paralelisme Dan Kiasmus Dalam Mazmur 127,Ay Mitra Sriwijaya: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen 5, no. 2 (December 29, 2. : 200Ae 217, https://sttsriwijaya. id/e-journal/index. php/mitra_sriwijaya/article/view/126. 45 William W. Klein. Craig L. Blomberg, and Robert L. Hubbard. Introduction to Biblical Interpretation 2 (Malang: Penerbit SAAT, 2. , 170. 46 Fox. AuThe Rhetoric of Disjointed Proverbs,Ay 168-169. Farel Yosua Sualang. Mariam Van Butin, and Ni Putu Sumarmi. AuPenggunaan Premises and Conclusions Gapped Terhadap Makna AoMemukul Dengan RotanAo Berdasarkan Amsal 23:14,Ay Integritas: Jurnal Teologi 5, no. 2 (December 30, 2. : 120Ae 138, https://journal. id/index. php/JI/article/view/181. 196 Ae Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Seorang kaya dapat mendasari kenyamanannya pada kekayaan, namun begitu, tidak semua keputusan ataupun solusi bisa diambil melalui kekayaannya. Memang, orang miskin lebih tidak berdaya daripada orang kaya, namun begitu McKane. Currier. Okyere dan Van Leeuwen menambahkan pemikirannya bahwa kepemilikan terhadap harta yang banyak tidak dapat memberikan perlindungan yang absolut. Kekayaan tidak dapat menutupi dan melindungi pemiliknya seperti tembok menutupi dan melindungi penduduknya. Hal ini juga ditekankan dalam Amsal 27: 24 bahwa Aukekayaan harta tidaklah abadi. Ay Penulis Amsal mengajarkan kepada pembacanya agar tidak memiliki ambisi untuk menjadi kaya, karena kekayaan dapat lenyap. Pengajaran seperti ini banyak didapatkan dalam instruksi Amenemope dan bangsa-bangsa di sekitar Timur dekat kuno. 47 Selain dari pada itu, penggunaan gaya bahasa simile Auseperti tembok yang tinggiAy telah memberikan penekanan kepada kekuatan manusia yang berorientasi kepada kekayaan, berbeda secara antitesis dengan konteks sebelumnya dari Amsal 18:10 yang menekankan Aunama TuhanAy sebagai metafora dari Aumenara yang kuat. Ay Alhasil, kualitas karakter tidak dapat didasarkan pada kekayaan Harta benda memiliki dampak ataupun efek yang terbatas. 48 Namun selayaknya, orang bijak mendasarkan kenyamanannya kepada Tuhan yang diejawantahkan melalui sifatsifat bijaknya. Dari penjelasan paragraf-paragraf di atas, maka dapat disimpulkan bahwa harta dapat memberikan keamanan dalam kehidupan seseorang. Orang kaya bisa membuat banyak hal. Namun begitu, penulis Amsal juga menekankan bahwa kekayaan bukanlah tempat perlindungan yang sejati ataupun absolut. Kekayaan tidak cukup untuk melindungi seseorang dari kejahatan. Bahkan, kekayaan akan menunjukan keberadaannya dalam lingkungan sosial. Sedangkan, orang miskin mengalami kesulitan atas keberadaannya. mungkin bisa merasa Aunyaman,Ay kecuali ia merasa cukup dengan hasil yang telah diperoleh. Inilah yang diperhatikan oleh penulis Amsal terhadap suatu realita yang terjadi pada lingkungan masyarakat. Unsur-unsur Pembentukan Karakter Unsur-unsur pembentukan karakter sangat tepat untuk diperhatikan dalam konteks lingkungan masyarakat. Lingkungan sosial masyarakat akan memberikan kesadaran untuk mengatur perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. 49 Itulah sebabnya, pemaparan mengenai Pembentukan karakter dalam kitab Amsal dapat didasarkan pada 3 faktor utama, beserta dengan masing-masing unsurnya. Pertama, faktor takut akan Tuhan yang terdiri dari unsur pemahaman diri, transformasi karakter, imitasi, dan sifat-sifat moral. Kedua, faktor karakter Kojo Okyere. AuThe Relationship Between Work and Wealth in Proverbs of Two AoContradictoryAo Sayings (Proverbs 14:23 and 23:4-. ,Ay McMaster Journal of Theology and Ministry 21, no. : 90. 48 Robert Sheppard. AuCharles Spurgeon and a Biblical View of WealthAy (Liberty University, 2. , 3. 49 Lie Thien Siang. AuSampah: Tinjauan Teologis Terhadap Perilaku Ekonomis Yang Berdampak Pada Lingkungan,Ay Skenoo : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 4, no. : 205. Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 197 konsekuensi yang diejawantahkan dari unsur peran hati nurani, tindakan keputusan, ketetapan sifat-sifat bijak, penilaian karakter dan pembiasaan pada tindakan. Ketiga, instruksi moral dari peran orang tua melalui unsur imitasi, teguran, pembiasaan dan evaluasi 50 Jika memperhatikan interpretasi Amsal 10:15 dan paralelismenya dalam Amsal 18:11, maka dapat ditemukan adanya faktor karakter-konsekuensi dengan 3 . unsur yang saling berintegrasi antara satu dengan lainnya. Pertama, pengambilan keputusan. Amsal 10:15 memberikan suatu didaktis terhadap realita sosial. Seorang yang mempunyai harta secara implisit menunjukan status sosialnya di tengah-tengah lingkungan sekitar. Alhasil, keberadaan sebagai orang kaya mampu memutuskan sikap perilaku yang bijak dalam pengelolaan harta. Kedua, kesetiaan pada sifat-sifat bijak. Hal ini merupakan kelanjutan dari elemen Amsal 10:15 juga menekankan konsistensi dalam penerapan sifat-sifat bijak . kejujuran, kebenaran dan keadila. , sebagai suatu gairah dari pekerjaan yang benar. Secara implisit, penulis Amsal menegaskan kepada orang kaya dan miskin saling mengejawantahkan belas kasihan. Khususnya, penerapan kata kata benda A( iiAhy. yang diterjemahkan sebagai AuhartaAy dalam kitab Amsal merujuk kepada tindakan pemenuhan kekayaan yang dilakukan dengan ketekunan, kerja keras dan kejujuran. Ketiga, evaluasi karakter. Jika memahami amsal ini dengan eksplisit, maka frase Aukota bentengnyaAy menunjukan suatu evaluasi terhadap orang kaya sebagai kelompok sosial yang dapat memenuhi kebutuhannya . engingat bahwa Amsal 10:15 merupakan jenis perkataan yang berdasarkan pengamatan kepada kehidupan sehari-har. Namun demikian, apabila memperhatikan paralelisme Amsal 10:15 dan 18:11 tidak semua solusi dapat diputuskan melalui kekayaan, melainkan kepada perwujudan sifat-sifat bijak sebagai suatu karakter. Bukanlah hal yang mutlak, seseorang dapat mendasari hidupnya pada kekayaan. Amsal 10:15 dan 18:11 secara khusus menekankan juga evaluasi karakter bagi sesorang yang bijak untuk diingatkan pentingnya Aunama TuhanAy dalam pengelolaan harta. Amsal 10:15 memberikan pengajaran implisit bahwa kekayaan mempunyai dampak yang sangat terbatas. Pernyataan kalimat sebelumnya sangat terbukti dari frase Auseperti tembok yang tinggiAy dalam kesejajaran Amsal 10:15 dan Amsal 18:11. Kekayaan yang dipandang sebagai Aukota bentengAy tidak memberikan perlindungan yang mutlak, hanya Aunama TuhanAy yang merupakan Aukota yang kuat. Ay Gaya bahasa metafora Aunama TuhanAy sebagai AuKota yang kuatAy . Amsal dapat ditemukan dalam Seorang yang bijak tidak sepenuhnya mendasarkan hidupnya pada kekayaan, melainkan mendasarkan kenyamanannya kepada Tuhan melalui sifat-sifat bija. Jika memperhatikan pemaparan ketiga paragraf di atas, maka ditemukan bahwa pengambilan suatu keputusan, kesetiaan sifat-sifat bijak, begitupun evaluasi karakter memiliki hubungan resiprokal antara satu dengan lainnya. Apapun status sosialnya, orang kaya dan miskin patut berperilaku dengan bijak. Kedua status sosial ini mampu mengelola hartanya secara bijak yang dicerminkan melalui ketekunan, kerja keras dan kejujuran secara 50 Sualang. AuSuatu Kajian Mengenai Keterkaitan Faktor-Faktor Pembentukan Karakter Dalam Kitab Amsal,Ay 104. 198 Ae Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Bahkan, orang kaya dan miskin mampu mengevaluasi karakternya untuk semakin bijak dalam pengambilan keputusan. Hubungan resiprokal antara pengambilan suatu keputusan, kesetiaan sifat-sifat bijak serta evaluasi karakter ini merupakan kekuatan bijak antara orang kaya dan orang miskin seperti gambaran ataupun visualisasi Aukota yang kuatAy yang ditekankan pada Amsal 10:15 dan Amsal 18:11. Namun begitu, jika orang kaya dan orang miskin tidak mampu secara bijak memperhatikan unsur-unsur pembentukan karakter ini, maka orang kaya dan miskin tidak mampu mengelola hartanya dengan baik, bahkan cara pandang mereka mengenai harta akan menjadi tidak bijak seperti gambaran Aukota yang tidak kuat. Ay Oleh sebab itu, visualisasi di bawah ini memberikan suatu hubungan resiprokal mengenai 3 . pilar utama sebagai unsur-unsur pembentukan karakter yaitu, pengambilan keputusan, kesetiaan sifat-sifat bijak dan evaluasi karakter sebagai gambaran Aukota yang kuatAy dalam paralelisme Amsal 10:15 dan Amsal 18:10. Bagan 1. Unsur-unsur pembentukan karakter pada gambaran Aukota yang kuatAy dalam Amsal 10:15 dan 18:11 KESIMPULAN Suatu Simpulan mengenai interpretasi Aukota yang kuatAy sebagai unsur-unsur pembentukan karakter menunjukkan suatu kekuatan bijak yang sentral dalam kehidupan strata sosial antara orang kaya dan orang miskin. Hubungan resiprokal unsur-unsur Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 199 pembentukan karakter yang berkaitan pada pengambilan keputusan, kesetiaan terhadap sifatsifat bijak serta evaluasi karakter menjadi modal utama pada lingkup kehidupan bermasyarakat, serta menjadi kontribusi melalui penelitian ini untuk mempunyai konsep dan cara pandang yang bijak terhadap pembentukan karakter. Selain daripada itu, kontribusi riset Amsal 10:15 dan 18:11 dapat memberikan suatu sumbangsih perspektif mengenai suatu etika sosial yang saling berinteraksi secara berkelanjutan mengenai sifat-sifat bijak dan harmonisasi di antara orang kaya dan miskin di dalam pembentukan karakter. Bukan hanya pada satu momentum ataupun peristiwa, melainkan unsur evaluasi karakter dapat ditindaklanjuti di tengah-tengah kehidupan sosial, sehingga masyarakat semakin menghayati hikmat sebagai di dalam kebiasaan etisnya seperti Aukota yang kuat. Ay Dengan demikian, riset ini dapat ditindaklanjuti untuk menemukan pembahasan mengenai kata A( A oAqiryy. yaitu AukotaAy yang berhubungan pada unsur-unsur pembentukan karakter ataupun etika sosial sebagai Aukebijksanaan dalam kehidupan masyarakat perkotaanAy dalam kumpulan-kumpulan Amsal Daftar Pustaka