Jurnal Menara Pengabdian Vol. No. Juni, 2026 Integrasi Soft Skills dan Kepemimpinan Islami Anak Asuh Panti AoAisyiyah dalam Ekosistem Pendidikan Sumatera Barat Syahrizal. Universitas Syedza Saintika, syahrizal1622@gmail. Armalena. Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, lenaarma39@gmail. Sri Wahyuni. Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, sriwahyuni20201988@gmail. Asril. Universitas PGRI Sumatera Barat, asril. syalwa@gmail. Febrina Riska Putri. Afiliasi, fbrnriska128@gmail. Keywords: Soft-skills. Kepemimpinanislami. Anak-asuh. Pendidikan-karakter. Pengabdianmasyarakat Abstrak: Permasalahan utama yang dihadapi mitra meliputi rendahnya kemampuan komunikasi, kurangnya rasa percaya diri, minimnya pembinaan kepemimpinan Islami, keterbatasan kemampuan kerja sama tim, serta belum optimalnya penguatan karakter berbasis nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, perkembangan era digital dan tantangan globalisasi menuntut anak asuh untuk memiliki kemampuan kepemimpinan yang kuat agar mampu bersaing secara positif di lingkungan sosial maupun dunia pendidikan. Metode pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan partisipatif . articipatory approac. melalui tahapan analisis kebutuhan, perencanaan program, pelaksanaan pelatihan, simulasi, role play, diskusi kelompok, praktik kepemimpinan, serta pendampingan secara langsung. Materi yang diberikan meliputi komunikasi efektif, manajemen diri, kerja sama tim, literasi digital berbasis nilai Islami, kepemimpinan Islami, penguatan nilai amanah, musyawarah, tanggung jawab, disiplin, dan kepedulian sosial. Evaluasi dilakukan melalui observasi perilaku peserta, refleksi diri, lembar penilaian keterlibatan, serta umpan balik dari pengurus panti. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada kemampuan komunikasi, keberanian berbicara di depan umum, kemampuan bekerja sama, keterampilan memimpin kelompok kecil, serta peningkatan sikap tanggung jawab dan disiplin peserta. Anak asuh juga menunjukkan perkembangan dalam memahami dan menerapkan nilai-nilai kepemimpinan Islami dalam aktivitas sehari-hari. Pendahuluan Pendidikan merupakan proses strategis dalam membentuk kualitas sumber daya manusia yang unggul, berkarakter, dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Dalam konteks pembangunan nasional, pendidikan tidak hanya berorientasi pada p-ISSN: 2797-7617, e-ISSN: 2797-9571 | CC-BY SA Jurnal Menara Pengabdian Vol. No. Juni, 2026 penguasaan aspek akademik semata, tetapi juga mencakup penguatan karakter, keterampilan sosial, serta kemampuan kepemimpinan yang menjadi bagian penting dalam pembentukan kepribadian individu. Salah satu kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian khusus dalam penguatan pendidikan karakter adalah anakanak yang tinggal di panti asuhan. Panti Asuhan AoAisyiyah Cabang Ampang Kota Padang merupakan lembaga sosial yang memiliki peran penting dalam pembinaan anak yatim, piatu, dan dhuafa melalui pendidikan formal, pembinaan keagamaan, serta penguatan nilai-nilai moral dan sosial. Dalam pelaksanaannya, panti asuhan tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai lingkungan pendidikan yang bertanggung jawab membentuk karakter dan masa depan anak asuh. Namun demikian, tantangan perkembangan zaman menuntut lembaga sosial seperti panti asuhan untuk tidak hanya fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar dan pendidikan formal, tetapi juga memperhatikan pengembangan soft skills dan kepemimpinan. Perkembangan era globalisasi dan transformasi digital membawa perubahan besar dalam kehidupan sosial masyarakat. Anak-anak dan remaja saat ini dihadapkan pada tuntutan kemampuan komunikasi, kerja sama, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, kepemimpinan, dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan yang terus Kondisi tersebut menjadikan soft skills sebagai salah satu aspek penting yang harus dimiliki oleh generasi muda. Soft skills tidak hanya mendukung keberhasilan individu dalam dunia kerja, tetapi juga berperan penting dalam kehidupan sosial dan pengembangan karakter. Menurut Robles . , soft skills merupakan atribut personal yang mendukung efektivitas interaksi sosial dan keberhasilan individu dalam lingkungan kerja maupun kehidupan sehari-hari. Soft skills mencakup kemampuan komunikasi, kerja sama, kepemimpinan, etika, disiplin, tanggung jawab, kemampuan memecahkan masalah, serta kemampuan manajemen diri. Heckman dan Kautz . menjelaskan bahwa keberhasilan seseorang lebih banyak dipengaruhi oleh kemampuan non teknis dibandingkan kemampuan teknis semata. Dengan demikian, pengembangan soft skills menjadi kebutuhan mendesak bagi anak-anak usia sekolah, termasuk anak asuh panti. Di sisi lain, pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Islam juga memiliki posisi penting dalam pembentukan generasi muda yang berakhlak mulia. Dalam konteks masyarakat Sumatera Barat, filosofi adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah menjadi landasan utama dalam kehidupan sosial masyarakat Minangkabau. Filosofi tersebut menekankan bahwa seluruh aspek kehidupan masyarakat harus berlandaskan nilai-nilai agama Islam. Oleh karena itu, pengembangan soft skills pada anak asuh perlu diintegrasikan dengan nilai-nilai kepemimpinan Islami agar tercipta keseimbangan antara kecerdasan intelektual, emosional, sosial, dan spiritual. Kepemimpinan Islami merupakan konsep kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai Al-QurAoan dan Sunnah. Konsep ini menekankan pentingnya amanah, p-ISSN: 2797-7617, e-ISSN: 2797-9571 | CC-BY SA Jurnal Menara Pengabdian Vol. No. Juni, 2026 kejujuran, keadilan, musyawarah, tanggung jawab, dan kepedulian sosial dalam memimpin diri sendiri maupun orang lain. Beekun dan Badawi . menjelaskan bahwa kepemimpinan Islami tidak hanya berorientasi pada pencapaian tujuan organisasi, tetapi juga pada pembentukan moral dan akhlak yang baik. Dalam konteks pendidikan anak asuh panti, kepemimpinan Islami dapat menjadi dasar dalam membentuk karakter dan perilaku positif peserta. Berdasarkan hasil observasi awal di Panti Asuhan AoAisyiyah Cabang Ampang Kota Padang, ditemukan beberapa permasalahan yang dihadapi oleh anak asuh. Permasalahan tersebut meliputi rendahnya rasa percaya diri, kurang optimalnya kemampuan komunikasi, minimnya keterampilan kerja sama tim, kurangnya pembinaan kepemimpinan Islami secara sistematis, serta terbatasnya ruang aktualisasi diri bagi anak asuh. Sebagian anak asuh masih merasa kurang percaya diri ketika berinteraksi dengan masyarakat luar, belum mampu menyampaikan pendapat secara efektif, dan belum terbiasa bekerja sama dalam kelompok. Selain itu, kegiatan pembinaan di panti masih lebih banyak berfokus pada pendidikan formal dan pemenuhan kebutuhan dasar sehingga pengembangan karakter dan soft skills belum dilakukan secara intensif dan berkelanjutan. Padahal, anak-anak panti membutuhkan penguatan kapasitas diri agar mampu menghadapi tantangan kehidupan di masa depan dengan lebih baik. Berdasarkan kondisi tersebut, tim pengabdian masyarakat dari beberapa perguruan tinggi di Sumatera Barat melaksanakan program pengembangan soft skills dan kepemimpinan Islami bagi anak asuh Panti Asuhan AoAisyiyah Cabang Ampang Kota Padang. Program ini dirancang melalui pendekatan partisipatif dengan melibatkan pengurus panti, anak asuh, relawan, serta unsur masyarakat sekitar. Program pengabdian ini bertujuan untuk: Meningkatkan kemampuan komunikasi dan interpersonal anak asuh. Mengembangkan kemampuan kerja sama tim dan kepemimpinan. Menanamkan nilai-nilai kepemimpinan Islami dalam kehidupan sehari-hari. Meningkatkan rasa percaya diri dan tanggung jawab peserta. Memperkuat kolaborasi antara panti asuhan, perguruan tinggi, sekolah, dan Melalui program ini diharapkan anak asuh tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, keterampilan sosial yang baik, serta jiwa kepemimpinan Islami yang dapat menjadi bekal dalam menghadapi kehidupan di masa Dalam kajian sebelumnya, beberapa penelitian menunjukkan bahwa pengembangan soft skills melalui metode partisipatif dan experiential learning mampu meningkatkan keterampilan interpersonal peserta secara signifikan. Johnson dan Johnson . menjelaskan bahwa pembelajaran kolaboratif dapat meningkatkan p-ISSN: 2797-7617, e-ISSN: 2797-9571 | CC-BY SA Jurnal Menara Pengabdian Vol. No. Juni, 2026 kemampuan sosial, komunikasi, dan tanggung jawab individu. Goleman . juga menegaskan bahwa kecerdasan emosional memiliki kontribusi besar terhadap keberhasilan individu dalam kehidupan sosial dan profesional. Sementara itu, pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Islam terbukti efektif dalam membentuk perilaku positif peserta didik. Lickona . menjelaskan bahwa pendidikan karakter harus dilakukan secara terintegrasi melalui pembiasaan, keteladanan, dan pengalaman langsung dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, integrasi antara pengembangan soft skills dan kepemimpinan Islami menjadi strategi yang relevan dalam membangun generasi muda yang berkarakter dan berdaya Program pengabdian ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem pendidikan di Sumatera Barat. Kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga sosial, sekolah, dan masyarakat merupakan bentuk sinergi yang penting dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan. Keberadaan program ini diharapkan dapat menjadi model pembinaan karakter anak asuh berbasis soft skills dan nilai-nilai Islami yang dapat diterapkan pada lembaga pendidikan dan panti asuhan Pelaksanaan dan Metode Lokasi dan Waktu Pelaksanaan Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Panti Asuhan AoAisyiyah Cabang Ampang Kota Padang. Sumatera Barat pada tanggal 10 Januari Pemilihan lokasi didasarkan pada hasil observasi awal yang menunjukkan bahwa panti asuhan tersebut memiliki kebutuhan yang cukup besar dalam pengembangan soft skills dan pembinaan kepemimpinan Islami bagi anak asuh. Peserta kegiatan terdiri atas anak asuh tingkat SMP dan SMA yang berada di lingkungan panti asuhan. Selain itu, kegiatan juga melibatkan pengurus panti, relawan, dosen, mahasiswa, dan masyarakat sekitar sebagai bagian dari upaya penguatan ekosistem pendidikan berbasis kolaborasi. Pendekatan Pelaksanaan Metode pelaksanaan program menggunakan pendekatan partisipatif . articipatory approac. Pendekatan ini dipilih karena menempatkan peserta sebagai subjek utama dalam kegiatan sehingga anak asuh dapat terlibat secara aktif dalam seluruh proses pembelajaran dan pengembangan diri. Pendekatan partisipatif memberikan ruang bagi peserta untuk menyampaikan pendapat, berdiskusi, bekerja sama, dan memperoleh pengalaman langsung melalui praktik dan simulasi. Melalui metode ini, peserta tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga memperoleh pengalaman nyata dalam mengembangkan kemampuan interpersonal dan kepemimpinan. p-ISSN: 2797-7617, e-ISSN: 2797-9571 | CC-BY SA Jurnal Menara Pengabdian Vol. No. Juni, 2026 Tahapan Pelaksanaan Analisis Kebutuhan Tahap awal kegiatan dilakukan melalui observasi lapangan dan wawancara dengan pengurus panti serta anak asuh. Kegiatan ini bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan utama peserta terkait pengembangan soft skills dan Hasil observasi menunjukkan beberapa permasalahan utama sebagai berikut: Rendahnya rasa percaya diri anak asuh. Kurangnya kemampuan komunikasi interpersonal. Belum optimalnya kemampuan kerja sama tim. Minimnya pembinaan kepemimpinan Islami. Kurangnya ruang aktualisasi diri peserta. Rendahnya literasi digital berbasis nilai Islam. Data hasil observasi tersebut menjadi dasar dalam penyusunan program pelatihan dan pendampingan. Perancangan Program Berdasarkan hasil analisis kebutuhan, tim pengabdian menyusun modul pelatihan yang disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik peserta. Modul pelatihan dirancang secara sederhana, aplikatif, dan berbasis pengalaman Adapun Materi pelatihan yang diberikan meliputi: Komunikasi efektif. Kerja sama tim. Manajemen diri. Kepemimpinan Islami. Musyawarah dan pengambilan keputusan. Penguatan karakter Islami. Literasi digital berbasis etika Islam. Pengembangan rasa percaya diri. Dalam penyusunan program, tim pengabdian juga mempertimbangkan nilainilai budaya lokal Minangkabau yang berlandaskan filosofi adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Metode Pembelajaran Untuk mencapai tujuan program secara optimal, kegiatan dilaksanakan menggunakan beberapa metode pembelajaran sebagai berikut: p-ISSN: 2797-7617, e-ISSN: 2797-9571 | CC-BY SA Jurnal Menara Pengabdian Vol. No. Juni, 2026 Ceramah Interaktif Metode ceramah digunakan untuk menyampaikan konsep dasar mengenai soft skills dan kepemimpinan Islami. Namun, penyampaian materi dilakukan secara interaktif dengan melibatkan peserta dalam diskusi dan tanya jawab. Simulasi Simulasi digunakan untuk melatih kemampuan komunikasi, kerja sama tim, dan penyelesaian masalah. Peserta diminta memainkan peran tertentu dalam situasi yang mendekati kondisi nyata. Role Play Role play dilakukan untuk meningkatkan keberanian peserta dalam berbicara di depan umum dan mempraktikkan nilai-nilai kepemimpinan Islami. Diskusi Kelompok Peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil untuk mendiskusikan tema tertentu dan menyampaikan hasil diskusi di depan kelompok lain. Praktik Kepemimpinan Anak asuh diberikan kesempatan menjadi pemimpin kelompok dalam berbagai aktivitas sehingga mereka memperoleh pengalaman langsung dalam memimpin dan mengambil keputusan. Pendampingan Langsung Pendampingan dilakukan secara intensif oleh tim pengabdian selama kegiatan Pendampingan bertujuan membantu peserta mengatasi rasa malu, meningkatkan motivasi, dan membangun rasa percaya diri. Pelaksanaan Kegiatan Pelaksanaan kegiatan dilakukan dalam beberapa sesi utama sebagai berikut: Sesi 1: Pembukaan dan Motivasi Kegiatan diawali dengan pembukaan resmi yang dihadiri oleh pengurus panti, tim pengabdian, dan peserta. Pada sesi ini peserta diberikan motivasi mengenai pentingnya pengembangan karakter, soft skills, dan kepemimpinan dalam kehidupan sehari-hari. Sesi 2: Pelatihan Soft Skills Pada sesi ini peserta memperoleh materi mengenai: Komunikasi efektif. Public speaking. Etika berkomunikasi. Kerja sama tim. Manajemen emosi. Penguatan rasa percaya diri. Peserta juga mengikuti simulasi dan praktik komunikasi interpersonal. p-ISSN: 2797-7617, e-ISSN: 2797-9571 | CC-BY SA Jurnal Menara Pengabdian Vol. No. Juni, 2026 Sesi 3: Pelatihan Kepemimpinan Islami Materi kepemimpinan Islami mencakup: Konsep amanah. Musyawarah. Tanggung jawab. Keteladanan. Kepedulian sosial. Disiplin dan kejujuran. Peserta dilatih untuk menerapkan nilai-nilai tersebut melalui diskusi kelompok dan praktik kepemimpinan. Sesi 4: Praktik Kelompok dan Musyawarah Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok kecil untuk menyelesaikan tugas tertentu melalui musyawarah dan kerja sama. Setiap kelompok dipimpin oleh salah satu peserta secara bergiliran. Sesi 5: Refleksi dan Evaluasi Pada akhir kegiatan peserta diminta melakukan refleksi diri mengenai pengalaman yang diperoleh selama pelatihan. Tim pengabdian juga melakukan evaluasi terhadap perubahan perilaku dan keterampilan peserta. Teknik Evaluasi Evaluasi kegiatan dilakukan melalui beberapa teknik berikut: Observasi Perilaku Tim pengabdian mengamati perubahan perilaku peserta selama kegiatan berlangsung, terutama dalam aspek komunikasi, kerja sama, dan kepemimpinan. Lembar Penilaian Keterlibatan Setiap peserta dinilai berdasarkan tingkat partisipasi, keberanian berbicara, kemampuan bekerja sama, dan tanggung jawab dalam kelompok. Refleksi Diri Peserta Peserta diminta menuliskan pengalaman, kesan, dan perubahan yang dirasakan setelah mengikuti kegiatan. Umpan Balik Pengurus Panti Pengurus panti memberikan penilaian terhadap perubahan perilaku peserta setelah mengikuti program. Indikator Keberhasilan Keberhasilan program diukur berdasarkan beberapa indikator berikut: Peningkatan keberanian berbicara di depan umum. Peningkatan kemampuan komunikasi interpersonal. Meningkatnya kemampuan kerja sama tim. p-ISSN: 2797-7617, e-ISSN: 2797-9571 | CC-BY SA Jurnal Menara Pengabdian Vol. No. Juni, 2026 Tumbuhnya jiwa kepemimpinan. Peningkatan sikap disiplin dan tanggung jawab. Internalisasi nilai-nilai Islami dalam kehidupan sehari-hari. Terbangunnya kolaborasi antara panti, perguruan tinggi, dan masyarakat. Partisipasi Mitra Pihak panti asuhan berperan aktif dalam mendukung pelaksanaan program, mulai dari penyediaan tempat, koordinasi peserta, hingga pendampingan selama kegiatan Pengurus panti juga membantu melakukan monitoring terhadap perkembangan anak asuh setelah kegiatan selesai. Keterlibatan aktif mitra menjadi faktor penting dalam keberhasilan program karena memungkinkan kegiatan berjalan secara lebih efektif dan berkelanjutan. Gambar 1. Kegiatan PKM Pengambangan Soft Skill dan Kepemimpinan Islami Hasil dan Pembahasan Hasil Pelaksanaan Program Pelaksanaan program pengabdian masyarakat berjalan dengan baik dan mendapat respons positif dari peserta maupun pengurus panti. Tingkat kehadiran peserta mencapai lebih dari 90%, menunjukkan tingginya minat dan antusiasme anak asuh terhadap kegiatan yang dilaksanakan. Peserta mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan aktif, terutama pada sesi simulasi komunikasi, role play, diskusi kelompok, dan praktik kepemimpinan. Selama kegiatan berlangsung, terlihat adanya perubahan sikap dan peningkatan keterampilan interpersonal peserta. Berdasarkan hasil observasi dan evaluasi, diperoleh peningkatan pada beberapa aspek berikut: p-ISSN: 2797-7617, e-ISSN: 2797-9571 | CC-BY SA Jurnal Menara Pengabdian Vol. No. Juni, 2026 Aspek Penilaian Sebelum Program Sesudah Program Kepercayaan diri Rendah Meningkat Komunikasi efektif Kurang aktif Aktif berbicara Kerja sama tim Kurang optimal Lebih kolaboratif Kepemimpinan Belum terlihat Mulai berkembang Tanggung jawab Cukup Baik Kepedulian sosial Rendah Meningkat Disiplin Kurang konsisten Lebih baik Perubahan paling terlihat terjadi pada aspek komunikasi dan rasa percaya diri peserta. Anak asuh yang sebelumnya cenderung pasif mulai berani menyampaikan pendapat di depan kelompok dan mampu berinteraksi dengan lebih Peningkatan Kemampuan Komunikasi Kemampuan komunikasi merupakan salah satu soft skills utama yang dikembangkan dalam program ini. Sebelum kegiatan berlangsung, sebagian besar peserta menunjukkan sikap malu dan kurang percaya diri ketika berbicara di depan Melalui metode simulasi, role play, dan diskusi kelompok, peserta memperoleh pengalaman langsung dalam menyampaikan pendapat dan berinteraksi dengan orang lain. Pendekatan pembelajaran yang bersifat partisipatif terbukti mampu meningkatkan keberanian peserta. Pada akhir kegiatan, sebagian besar peserta mulai aktif bertanya, menyampaikan pendapat, dan memimpin diskusi kelompok. Perubahan ini menunjukkan bahwa metode experiential learning mampu memberikan dampak positif terhadap pengembangan keterampilan komunikasi. Hasil tersebut sejalan dengan pendapat Robles . yang menyatakan bahwa kemampuan komunikasi merupakan salah satu soft skills utama yang menentukan keberhasilan individu dalam kehidupan sosial dan profesional. Pengembangan Kerja Sama Tim Kemampuan bekerja sama merupakan keterampilan penting dalam kehidupan sosial maupun dunia kerja. Pada awal kegiatan, beberapa peserta masih menunjukkan sikap individualis dan kurang mampu berkolaborasi dengan Melalui aktivitas kelompok dan simulasi pemecahan masalah, peserta dilatih untuk saling membantu, menghargai pendapat orang lain, dan bekerja sama mencapai tujuan bersama. Praktik kerja kelompok juga membantu peserta memahami pentingnya komunikasi dan koordinasi. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa peserta menjadi lebih terbuka terhadap pendapat teman dan lebih aktif terlibat dalam kegiatan kelompok. Perubahan ini p-ISSN: 2797-7617, e-ISSN: 2797-9571 | CC-BY SA Jurnal Menara Pengabdian Vol. No. Juni, 2026 menunjukkan bahwa pembelajaran kolaboratif mampu meningkatkan kemampuan sosial peserta. Temuan ini sesuai dengan teori Johnson dan Johnson . yang menjelaskan bahwa pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kemampuan sosial, tanggung jawab, dan interaksi interpersonal. Penguatan Kepemimpinan Islami Salah satu fokus utama program adalah pengembangan kepemimpinan Islami pada anak asuh. Kepemimpinan Islami tidak hanya dipahami sebagai kemampuan memimpin orang lain, tetapi juga kemampuan memimpin diri sendiri melalui pembentukan akhlak dan karakter yang baik. Materi kepemimpinan Islami disampaikan melalui pendekatan kontekstual dengan menekankan nilai amanah, adil, disiplin, tanggung jawab, musyawarah, dan kepedulian sosial. Peserta diberikan kesempatan menjadi pemimpin kelompok secara bergiliran dalam berbagai aktivitas. Pengalaman tersebut membantu peserta memahami tanggung jawab seorang pemimpin dan pentingnya menghargai anggota Dalam praktik musyawarah, peserta belajar mendengarkan pendapat orang lain dan mengambil keputusan secara bersama-sama. Aktivitas ini memberikan pengalaman nyata mengenai penerapan nilai demokrasi dan toleransi dalam perspektif Islam. Hasil observasi menunjukkan bahwa peserta mulai menunjukkan sikap disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap teman-temannya. Sebagian peserta juga mulai mampu mengarahkan kelompok dan membagi tugas secara adil. Temuan ini mendukung pandangan Beekun dan Badawi . bahwa kepemimpinan Islami merupakan proses mempengaruhi orang lain berdasarkan nilai-nilai moral dan spiritual yang bersumber dari ajaran Islam. Penguatan Pendidikan Karakter Program pengabdian ini tidak hanya berfokus pada peningkatan keterampilan teknis, tetapi juga pada penguatan pendidikan karakter peserta. Nilainilai karakter seperti disiplin, tanggung jawab, kerja keras, kejujuran, dan kepedulian sosial diintegrasikan dalam seluruh aktivitas program. Pendekatan pembiasaan dan keteladanan menjadi strategi utama dalam pembentukan karakter. Pengurus panti menyampaikan bahwa setelah kegiatan berlangsung, peserta menjadi lebih disiplin dalam mengikuti kegiatan panti, lebih aktif membantu teman, dan lebih bertanggung jawab terhadap tugas sehari-hari. Peningkatan karakter tersebut menunjukkan bahwa pendidikan karakter akan lebih efektif apabila dilakukan melalui pengalaman langsung dan pembiasaan dalam lingkungan sosial Peran Pendampingan dalam Meningkatkan Motivasi Peserta Pendampingan secara langsung menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan program. Sebagian peserta awalnya merasa malu dan kurang percaya diri untuk tampil di depan umum. Melalui pendekatan personal dan motivasi yang p-ISSN: 2797-7617, e-ISSN: 2797-9571 | CC-BY SA Jurnal Menara Pengabdian Vol. No. Juni, 2026 diberikan oleh tim pengabdian, peserta menjadi lebih nyaman dan berani berpartisipasi dalam kegiatan. Pendampingan juga membantu peserta mengatasi rasa takut gagal dan membangun motivasi belajar. Hubungan yang terjalin antara tim pengabdian dan peserta menciptakan suasana pembelajaran yang lebih hangat dan menyenangkan sehingga peserta dapat berkembang secara optimal. Penguatan Ekosistem Pendidikan Program pengabdian ini juga berhasil memperkuat kolaborasi antara panti asuhan, perguruan tinggi, sekolah, dan masyarakat sekitar. Keterlibatan berbagai pihak menunjukkan bahwa pengembangan pendidikan karakter dan soft skills membutuhkan dukungan lingkungan yang luas dan berkelanjutan. Perguruan tinggi berperan sebagai fasilitator dan sumber pengetahuan, sedangkan panti asuhan berfungsi sebagai lingkungan pembinaan karakter. Masyarakat dan sekolah turut mendukung proses pembelajaran peserta melalui interaksi sosial yang positif. Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan di Sumatera Barat. Tantangan dalam Pelaksanaan Program Meskipun kegiatan berjalan dengan baik, terdapat beberapa tantangan yang dihadapi selama pelaksanaan program, antara lain: Perbedaan tingkat kepercayaan diri peserta. Keterbatasan waktu pelaksanaan kegiatan. Perbedaan kemampuan komunikasi peserta. Kurangnya pengalaman peserta dalam kegiatan kelompok. Keterbatasan sarana pendukung pelatihan. Namun demikian, tantangan tersebut dapat diatasi melalui pendekatan yang fleksibel, pendampingan intensif, dan suasana pembelajaran yang menyenangkan. Dampak Program terhadap Anak Asuh Program pengabdian memberikan dampak positif terhadap perkembangan anak asuh, baik dalam aspek keterampilan sosial maupun karakter. Dampak positif tersebut meliputi: Meningkatnya rasa percaya diri peserta. Tumbuhnya keberanian berbicara di depan umum. Meningkatnya kemampuan bekerja sama. Berkembangnya kemampuan kepemimpinan. Meningkatnya disiplin dan tanggung jawab. Tumbuhnya sikap saling menghargai. Menguatnya nilai-nilai Islami dalam kehidupan sehari-hari. p-ISSN: 2797-7617, e-ISSN: 2797-9571 | CC-BY SA Jurnal Menara Pengabdian Vol. No. Juni, 2026 Program ini juga memberikan pengalaman baru bagi peserta dalam belajar secara aktif dan kolaboratif. Relevansi Program dengan Kebutuhan Generasi Muda Pengembangan soft skills dan kepemimpinan Islami menjadi kebutuhan penting bagi generasi muda di era globalisasi. Dunia pendidikan saat ini tidak lagi hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga kemampuan interpersonal dan Anak-anak dan remaja membutuhkan keterampilan komunikasi, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kerja sama, dan kemampuan beradaptasi untuk menghadapi tantangan masa depan. Dalam konteks masyarakat Muslim, pengembangan keterampilan tersebut perlu diintegrasikan dengan nilai-nilai agama agar generasi muda tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki moral dan akhlak yang baik. Program pengabdian ini menunjukkan bahwa integrasi antara soft skills dan kepemimpinan Islami dapat menjadi strategi efektif dalam membentuk karakter generasi muda yang unggul dan berdaya saing. Penutup Kesimpulan Program pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan di Panti Asuhan AoAisyiyah Cabang Ampang Kota Padang berhasil meningkatkan kemampuan soft skills dan kepemimpinan Islami anak asuh melalui pendekatan partisipatif dan pembelajaran berbasis pengalaman. Kegiatan yang meliputi pelatihan komunikasi efektif, kerja sama tim, kepemimpinan Islami, simulasi, role play, diskusi kelompok, dan pendampingan langsung mampu memberikan dampak positif terhadap perkembangan karakter dan keterampilan sosial peserta. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kemampuan komunikasi, keberanian berbicara di depan umum, kemampuan bekerja sama, rasa percaya diri, serta keterampilan memimpin kelompok kecil. Selain itu, peserta mulai memahami dan menerapkan nilai-nilai amanah, tanggung jawab, disiplin, musyawarah, dan kepedulian sosial dalam kehidupan sehari-hari. Program ini juga berhasil memperkuat kolaborasi antara panti asuhan, perguruan tinggi, sekolah, dan masyarakat dalam membangun ekosistem pendidikan yang inklusif dan Dengan demikian, integrasi pengembangan soft skills dan kepemimpinan Islami dapat menjadi model pendidikan karakter yang efektif dalam membentuk generasi muda yang berakhlak mulia, percaya diri, dan memiliki daya saing di era globalisasi. Saran Program pengabdian masyarakat di Panti Asuhan AoAisyiyah Cabang Ampang Kota Padang terbukti efektif dalam meningkatkan soft skills dan kepemimpinan Islami anak asuh, terutama melalui pelatihan partisipatif yang menumbuhkan p-ISSN: 2797-7617, e-ISSN: 2797-9571 | CC-BY SA Jurnal Menara Pengabdian Vol. No. Juni, 2026 komunikasi, kerja sama, dan rasa percaya diri. Maka berdasarkan hasil kegiatan ini, beberapa saran yang dapat diberikan antara lain: Program pengembangan soft skills dan kepemimpinan Islami perlu dilaksanakan secara berkelanjutan. Pengurus panti perlu mengintegrasikan kegiatan pembinaan karakter dalam aktivitas rutin anak asuh. Perguruan tinggi perlu memperluas kerja sama pengabdian masyarakat dengan lembaga sosial dan pendidikan. Diperlukan penguatan literasi digital berbasis nilai-nilai Islam bagi anak asuh. Pemerintah dan masyarakat perlu mendukung program pembinaan karakter bagi anak-anak panti asuhan. Melalui sinergi berbagai pihak, diharapkan pembinaan karakter dan pengembangan soft skills anak asuh dapat berlangsung secara optimal dan References