Lifelong Education Journal https://journal. id/index. php/lej Vol. 2 No. Bulan Oktober Tahun 2022 ISSN: e 2776-785X Model Magang Pendidikan Informal Mira Nurlela1A. Adang Danial2. Lulu Yuliani3 1,2,3Jurusan Pendidikan Masyarakat FKIP Universitas Siliwangi Email : 182103063@student. id1, adangdanial@unsil. id2, luluplspascaupi@gmail. Article history: Received: 2022-07-08 Revised: 2022-10-26 Accepted: 2022-10-29 ABSTRAK Model magang merupakan program pelatihan yang di berikan kepada warga belajar oleh pamong belajar atau sumber belajar yang berpengalaman dalam bidang kerajinan dan produksi dengan menerapkan dalam pendidikan informal dimana pembelajaran ini di lakukan di lingkungan masyarakat yang mana pemilik industri menerapkan pembelajaran dengan asas kekeluargaan serta ikut serta dalam memberikan arahan pada proses Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bagaimana proses model magang pendidikan informal pada pengrajin kayu di industri kerajinan kayu di Kelurahan Sukahurip. Kecamatan Tamansari. Kota Tasikmalaya. Penelitian ini dilakukan karena ditemukan adanya salah satu home industry kerajinan kayu yang menerapkan model magang pendidikan informal pada pengrajin kayu tanpa ada campur tangan dan dukungan dari pemerintah setempat. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan tiga metode, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menujukkan bahwa Model Magang Pendidikan Informal yang berdasarkan analisis penelitian di lapangan dilakukan oleh pemilik industri kerajinan kepada pengrajin atau pemagang yang mencakup pada 10 patokan DIKMAS. Pelaksanaan magang di laksanakan oleh pemilik yang di awali dengan perekrutan warga belajar yang berasal dari lingkungan sekitar dan dari luar. Proses pelatihan dalam pembelajaran di lakukan dalam beberapa tahapan yaitu tahap pembuatan pola, pemotongan kayu, bubut kayu, mengamplas kayu dan pemanggangan kayu. Setelah proses pembelajaran warga belajar memiliki pengetahuan, keterampilan dan kemampuan dalam pembuatan kerajinan bahkan ada yang perpindahan profesi menjadi pemagang mandiri. Simpulan dari penelitian ini yaitu model magang pendidikan informal dilakukan pemilik industri kerajinan dengan asas kekeluargaan di mana dalam proses pembelajaran warga belajar di bimbing langsung oleh pemilik sendiri dan dari segi biaya relatif murah. Kata Kunci: Model Magang. Pendidikan Informal. Pengrajin Kayu ABSTRACT The apprenticeship model is a training program given to learning residents by tutors or learning resources who are experienced in the field of crafts and production by applying it in informal education where this learning is carried out in a community environment where industry owners apply learning with the principle of kinship and participate in provide direction in the learning process. The purpose of this study was to find out how the informal education apprenticeship model process for wood craftsmen in the wood craft industry in Sukahurip Village. Tamansari District. Tasikmalaya City. This research was conducted because it was found that there was a wood craft home industry that implemented an informal education trainning model for wood craftsmen without any intervention and support from the local government. This study uses descriptive qualitative research methods. Data was collected by three methods, namely observation, interviews, and documentation. The data analysis technique used is data reduction, data presentation and conclusion drawing. The results of this study indicate that the Informal Education Apprenticeship Model based on analysis of research in the field is carried out by the owner of the craft industry to craftsmen or apprentices covering ten public education standards. The internship is carried out by the owner, which begins with the recruitment of learning residents who come from the surrounding environment and from outside. The training process in learning is carried out in several stages, namely the stage of pattern making, wood cutting, wood lathe, wood sanding and wood roasting. After the learning process, the citizens learn to have the knowledge, skills and abilities in making handicrafts and some even switch professions to become independent apprentices. The conclusion of this study is that the informal education trainning model is carried out by the owner of the craft industry on the principle of kinship where in the learning process the learning residents are guided directly by the owner himself and in terms of the relatively low cost Keywords: Trainning Model. Informal Education. Wood Crafts Lifelong Education Journal https://journal. id/index. php/lej Vol. 2 No. Bulan Oktober Tahun 2022 ISSN e 2776-785X PENDAHULUAN Indonesia kaya akan potensi yang salah satunya dalam bidang industri khususnya pada industri pengolahan. Industri memiliki peran besar dalam memberikan potensi pada perluasan perekonomian masyarakat. Pengaruh globalisasi pada perkembangan ekonomi di indonesia salah satunya dengan tumbuhnya kreativitas - kreativitas para pelaku bidang ekonomi indonesia serta semakin mendunianya produk-produk lokal buatan Indonesia. Pada era sekarang persaingan serta tuntutan kebutuhan masyarakat, pendidikan memiliki peran yang sangat strategis yakni dengan pendidikan mampu membantu memecahkan permasalahan yang terjadi. Di Indonesia, pendidikan dilaksanakan pada tiga jalur yaitu pendidikan formal, pendidikan non formal, dan pendidikan informal. Ketiga lembaga tersebut menjadi tempat terselenggaranya proses pendidikan belajar mengajar yang dilakukan dengan tujuan untuk merubag tingkah laku individu menuju ke arah yang lebih baik melalui interaksi baik dengan keluarga maupun dari lingkungan sekitar. Pembelajaran merupakan proses yang dilaksanakan dalam suatu kegiatan dimana dari seorang pendidik yang sudah memiliki keahlian dalam bidangnya memberikan pengetahuan kepada warga belajar nya sehingga memiliki pengetahuan, kemampuan dan bahkan keterampilan dalam dirinya. Sebagaimana menurut Djamaluddin Ahdar . 9, . pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Kota Tasikmalaya memiliki beragam budaya dan memiliki berbagai keterampilan, warisan budaya serta ciri khas dalam suatu daerah yang memiliki nilai-nilai baik tentunya masih dijaga kelestariannya, sehingga pendidikan keluarga pada masyarakat maupun lingkungan sekitar sangat diperlukan dalam upaya pelestarian budaya lokal. Sebagaimana menurut Sudiapermana . menyatakan bahwa pendidikan informal merupakan pendidikan keluarga, dimana pendidikan dimulai dari keluarga maupun dari lingkungan sekitar. Undang - Undang No 20 Tahun 2003 pasal 27 menyatakan bahwa pendidikan informal merupakan jalur pendidikan dari keluarga bahkan lingkungan, proses pendidikan informal sendiri dilakukan keluarga dan lingkungan melalui kegiatan pembelajaran secara mandiri dan tidak Kegiatan pendidikan yang dilakukan oleh orang tua ataupun masyarakat sekitar yang tidak begitu terorganisasikan tersebut biasanya disebut pendidikan informal. Berdasarkan hasil observasi yang ditemui dilapangan yaitu adanya proses pembelajaran informal dalam bentuk magang yang diterapkan pada pengrajin kayu di home industry kerajinan kayu di Kelurahan Sukahurip Kecamatan Tamansari Kota Tasikmalaya, tepatnya di kampung ciwaas depok 2. RT 04/RW 07. Adapun alasan peneliti melakukan penelitian ini adalah melihat adanya fenomena yang menarik untuk diteliti yakni adanya proses pembelajaran informal dalam bentuk magang di salah satu home industry kerajinan kayu dimana dalam proses pembelajarannya pemilik langsung turun tangan sebagai sumber belajar, kemudian sistem magang disini pengrajin bisa belajar sambil bekerja, sehingga bisa cepat dengan mudah memahami dalam proses pembuatan kerajinan Adapun permasalahan yang ditemui dilapangan yaitu dalam segi sarana dan prasarana yang terdapat di home industry kerajinan kayu ini kurang luas sehingga masyarakat dalam proses pembelajaran dan pekerjaannya tidak leluasa. Permasalahan lainnya ditemui dalam proses pembelajaran, karena masayarakat pengrajin / pemagang rata-rata usianya sudah dewasa, sehingga dalam pelaksanaan pembelajaran magang lebih banyak praktek dari pada teori. Jadi dalam proses pembelajaran informal dalam bentuk magang ini pemilik yang juga sebagai sumber belajar memberikan materi secukupnya dan lebih ke praktek langsung. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di Kampung Ciwaas depok II RT 04/RW 07 Kelurahan Sukahurip Kecamatan Tamanasari Kota Tasikmalaya dengan waktu 6 bulan dari bulan Januari sampai bulan Juni 2022. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan dilakukan dengan tiga metode yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu tahapan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Page 118 of 9 MODEL MAGANG PENDIDIKAN INFORMAL Mira Nurlela1A. Adang Danial2. Lulu Yuliani3 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN Warga Belajar Pembelajaran model magang pendidikan infomal yang dilakukan di home industry kerajinan kayu melibatkan para pengrajin yang mau bergabung atau mau memiliki kemampuan, keterampilan serta kemampuan dalam bidang pembuatan kerajinan kayu. Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak AP sebagai pemilik industri kerajinan menyebutkan bahwa warga belajar yang mengikuti pembelajaran magang sebanyak 5 orang, dimana mereka yang berasal dari sekitaran industri kerajinan bahkan ada yang dari luar juga. Warga belajar yang mengikuti proses magang di industri tersebut tidak hanya dari masyarakat pengrajin, bahkan ada juga dari keluarga pemilik industri yang pernah ikut serta dalam magang Menurut Bapak AP sebagai pemilik industri menyebutkan bahwa anaknya sendiri serta kerabatnya ikut serta dalam pembelajaran magang. Dalam proses perekrutan warga belajar jika ingin bergabung dalam industri tersebut harus melalui tahapan magang terlebih dahulu. Proses perekrutan warga belajar di industri tersebut tidak adanya persyaratan. Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak AP bahwa dalam pererkrutan warga belajar yaitu adanya kemauan dari diri sendiri untuk belajar dalam pembuatan kerajinan kayu di industry kerajinan. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa warga belajar yang mengikuti dalam proses pembelajaran magang pendidikan informal berjumlah 5 orang yang berasal dari lingkungan sekitar bahkan dari luar, dimana perekrutan nya harus melalui tahapan magang terlebih dahulu, namun tidak ada persyaratan dalam perekrtan warga belajar di industri tersebut. Sumber Belajar Model magang pendidikan informal yang dilakukan oleh salah satu industri di Kelurahan Sukahurip dalam proses pembelajarannya menerapkan atau mengambil sumber belajar. Sumber belajar dapat berupa buku-buku, bahan ajar baik dari buku ataupun dari perpustakaan. Namun, dalam proses pembelajaran ini tidak adanya sumber belajar yang berasal dari buku-buku akan tetapi seorang tutor atau pengajar yang mengajarkan serta membimbing warga belajar dengan memberikan sedikit materi yang sesuai dengan keterampilan yang diambil warga belajar, karena dalam pembelajaran ini lebih fokus dalam praktek langsung, sehingga warga belajar dapat belajar sambil bekerja. Berdasarkan hasil penelitian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa sumber belajar dalam proses pembelajaran magang pendidikan informal berasal dari tutor sendiri yang langsung mengajarkan dan memberikan sedikit materi sesuai dengan keterampilan yang ambil warga belajar, sehingga warga belajar bisa belajar sambil bekerja. Menurut Bapak IK sebagai warga belajar pengambilan sumber belajar yang dilakukan dalam pembelajaran magang materi yang diberikan sesuai dengan apa yang dibutuhkan warga belajar atau pemagang, dimana dalam pembelajaran lebih fokus dalam praktek langsung menjadikan warga belajar mudah pahami dan mengerti dan dengan adanya sumber belajar membantu warga belajar dalam membantu serta membimbing pemagang dalam pembelajaran. Sedangkan menurut Bapak AM menyebutkan bahwa pengambilan sumber belajar sesuai karena membantu pemagang dalam memperoleh pengetahuan serta keterampilan dalam bidang kerajinan kayu sehingga dengan adanya sumber belajar juga sangat membantu, karena dengan adanya teori yang diberikan sedikit dan lebih ke praktek langsung jadi bapak mudah untuk paham dan mengerti dalam pembelajaran. Bahan ajar yang diberikan sudah sesuai juga dengan pembelajaran. Berdasarkan hasil uraian diatas, maka dapat di simpulkan bahwa dalam pemilihan sumber belajar yang dilakukan oleh pemilik industri yang meliputi bahan ajar yag diberikan sudah sesuai dengan apa yang di butuhkan warga belajar dalam proses pelaksanaan pembelajaran berlangsung karena dapat membantu dalam mendapatkannya pengetahuan, keterampilan bahkan kemampuan dalam bidang kerajinan kayu. Pamong Belajar Pamong belajar pada proses pembelajaran magang pendidikan informal di industri kerajinan kayu berasal dari pengrajin industri. Pada proses pembelajaran magang, pamong belajar terdiri dari 3 orang termasuk pemilik yaitu Bapak AP sendiri dengan dibantu pengrajin yang berasal dari industri kerajinan yang sudah lama dan berpengalaman dalam pembuatan kerajinan serta produksi. Menurut Bapak IK dan Bapak AM sebagai pemagang di industri kerajinan menyebutkan bahwa dalam 119 | P a g e Lifelong Education Journal https://journal. id/index. php/lej Vol. 2 No. Bulan Oktober Tahun 2022 ISSN e 2776-785X penyampaian materi oleh pamong belajar dapat mudah di mengerti, karena dalam pembelajaran pamong belajar lebih memfokuskan ke dalam praktek langsung dari pada teori yang berikan. Berdasarkan hasil wawancara dapat di simpulkan bahwa pamong belajar dalam kegiatan magang terdiri dari 3 orang yang sudah lama bekerja di industri serta berpengalaman dalam proses pembuatan kerajinan kayu dan produksi. Pada pelaksanaan pembelajaran yang diterapkan sudah sesuai dengan apa yang di butuhkan oleh para pemagang di industri kerajinan, di mana pamong belajar lebih fokus pada praktek langsung dari pada pemberian materi banyak yang diberikan pada pengrajin kayu. Sarana Belajar Sarana belajar yang disediakan ketika proses pembelajaran berlangsung oleh pemilik industri sudah cukup memenuhi. Menurut Bapak IK dan Bapak AM menyebutkan bahwa dalam sarana yang tersedia terhadap pembelajaran berlangsung sudah memenuhi kriteria pembelajaran sudah cukup Adapun sarana yang tersedia menurut kedua nya adalah salah satunya tempat penginapan untuk pemagang yang berasal dari luar sih neng, kemudian dalam pembelajaran seperti alat pemotong kayu, bubut kayu, panggangan kayu serta alat amplas untuk menghaluskan kayu. Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa dalam proses pembelajaran yang di lakukan sudah cukup memenuhi, dimana di antaranya yaitu alat pembuatan pola, alat pemotongan kayu, alat bubut, alat amplas serta alat pemanggangan kayu. Tempat Belajar Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa informan dalam penelitian yang mengatakan bahwa proses pembelajaran dilakukan di salah satu home industry kerajinan kayu milik Bapak AP di Ciwaas depok 2 Kelurahan Sukahurip Kecamatan Tamansari Kota Tasikmalaya. Home Industry yang di gunakan dalam proses pembelajaran merupakan industri milik Bapak AP yang di gunakan dalam usaha produksi dalam bidang kerajinan kayu serta dalam proses pembelajaran magang yang bersifat mandiri tidak ada nya campur tangan pemerintah setempat. Dana Belajar Proses pembelajaran magang pendidikan informal yang dilakukan di salah satu industri kerajinan menggunakan dana belajar demi berlangsungnya kegiatan pembelajaran. Sebagaimana Bapak AP sebagai pemilik menyebutkan bahwa modal yang digunakan berasal dari uang pendaftaran awal dari warga belajar yang mengikuti pembelajaran magang di industri kerajinan kayu dan dari uamg pribadi pemilik industri. Bapak AP juga mengatakan bahwa selain dari uang pendaftaran warga belajar serta uang pribadi tidak adanya bantuan sama sekali bahkan dari pemerintahan setempat pun tidak ada. Sedangkan menurut Bapak IK dan Bapak AM menyebutkan bahwa dalam proses pendaftaran adanya biaya setiap pemagang sebesar 50 ribu per orang nya, sehingga di beri arahan dan keterampilan dalam salah satu keterampilan yang di pilih. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dalam proses pembelajaran magang dana yang di hasilkan salah satunya dari uang pendaftaran warga belajar serta uang pribadi dari pemilik industri tempat magang. Ragi Belajar Pembelajaran magang yang dilaksanakan oleh pemilik industry kerajinan tidak adanya kurikulum yang di terapkan dalam proses pembelajaran. Pada proses pembelajaran, materi yang di berikan kepada warga belajar, menurut Bapak AP yaitu dari awal membuat pola, memotong kayu, membubut kayu, mengamplas kayu, memanggang kayu sampai penjemuran kerajinan kayu dengan metode yang digunakan dalam pembelajaran yaitu metode ceramah diakarenakan lebih mudah dan dapat secara langsung memberikan praktek langsung ke warga belajar dalam pembuatan kerajinan Berdasarkan uraian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa ragi dalam pembelajaran magang di industri yaitu dari mulai materi yang diberikan dari awal pembuatan pola sampai tahap akhir penjemuran kerajinan kayu kepada warga belajar, kemudian metode yang digunakan adalah metode ceramah, serta media yang di pakai dalam proses pembelajaran yaitu dari mulai alat pembuatan pola, alat pemotong kayu, alat bubut kayu, alat amplas dan alat pemanggangan kayu. Kelompok Belajar Pada proses pembelajaran magang pendidikan informal yang dilakukan di industri, terdapat pembagian kelompok belajar dalam pelaksanaan pembelajaran. Menurut Bapak IK dan Bapak AM juga menyebutkan bahwa dalam proses pembelajaran adanya pembagian kelompok belajar sesuai dengan fokus keterampilan yang diambil oleh setiap para pemagang. Maka berdasarkan hasil Page 120 of 9 MODEL MAGANG PENDIDIKAN INFORMAL Mira Nurlela1A. Adang Danial2. Lulu Yuliani3 wawancara dengan berbagai informal dapat di simpulkan bahwa adanya pembagian kelompok belajar dalam proses pembelajaran magang di industri sesuai dengan bidang keterampilan yang di ambil oleh para pemagang. Program Belajar Menurut Bapak AP program belajar yang di laksanakan waktu dalam pembelajarannya tidak ditentukan dikarenakan flexibel tidak ada batasan sampai warga belajar memiliki kemampuan dan mahir di bidang keterampilan yang di pilih, terkadang ada yang sampai 2 sampai 3 bulan Adapun jenis keterampilan yang diterapkan pada pembelajaran magang, sebagaimana hasil wawancara dengan Bapak AP mengatakan bahwa untuk keterampilan yang diterapkan disini dari mulai pembuatan pola kerajinan, pemotongan kayu, membubut kayu dan mengamplas kayu. Dalam kegiatan pembelajaran ini program dilakukan oleh pemilik industri sendiri tanpa adanya suruhan dari orang lain atau bahkan dari pemerintah setempat. Proses pembelajaran magang di industri tidak dilaksanakan setiap hari, sebagaimana hasil wawancara dengan Bapak IK dan Bapak AM mengatakan bahwa pembelajaran magang di lakukan dalam waktu 6 hari dari jam 8 sampai jam 4 kecuali pada hari jumAoat di liburkan. Melalui program belajar para pemagang memiliki keterampilan dalam bidang masing-masing. Bapak IK menyebutkan bahwa keterampilan yang di miliki diri nya saat ini dalam pembuatan pola dan pemotongan kayu, sedangkan Bapak AM menyebutkan keterampilan yang diliki saat ini dalam bubut kayu serta mengamplas kerajinan kayu. Hasil Belajar Hasil belajar setelah mengikuti pembelajaran magang di industri akan dirasakan oleh setiap warga belajar. Menurut Bapak IK dan Bapak AM sebagai pemagang di industri yang mengikuti proses pembelajaran magang menyebutkan bahwa hasil yang dirasakan setelah mengikuti magang menmperoleh pengetahuan dari yang tadinya tidak tau menjadi tau dalam pembuatan kerajinan kayu bahkan memiliki keterampilan dalam bidang kerajinan yang di pilih seperti keterampilan membuat pola kerajinan, memotong kayu, membubut kayu serta mengamplas kerajinan kayu. Tidak hanya itu, setelah proses pembelajaran dalam diri pemagang terdapat beberapa keinginan dalam dirinya untuk bisa mandiri sehingga membantu masyarakat sekitar juga dalam belajar sehingga memperoleh pengetahuan dalam keterampilan kerajinan kayu serta meningkatkan kualitas hidup dan juga meningkatkan perekonomian keluarga para pemagang. Proses pembelajaran magang di industri kerajinan kayu tidak hanya di rasakan oleh para pemagang industri, akan tetapi di rasakan juga para pemagang mandiri yang sebelumnya pernah bekerja di industri tersebut. Menurut Bapak SH sebagai pemagang mandiri juga menyebutkan bahwa dirinya pernah bekerja dulu di industru tempat magang sebelum memberanikan dalam membuka usaha secara mandiri, sehingga kedua pemagang mandiri memiliki produk yang di hasilkan di industri masing-masing. Produksi yang dihasilkan di industri Bapak SH terdiri dari kerajinan perabotan dapur seperti spatula dan tanlendan. Dalam proses pemasaran kerajina, keduanya sama-sama masih bekerja sama dengan industri kerajinan dimana tempat magang yang pernah di ikuti. Bapak SH menyebutkan industri yang bekerja sama menampung berbagai kerajina untuk di pasarkan ke daerah baik di dalam maupun luar kota. Menurut Bapak NG dan Bapak SH mengatakan setelah mengikuti proses pembelajaran magang di industri, sama-sama mendapatkan pengetahuan, keterampilan bahkan kemampuan dalam pembuatan kerajinan kayu sehingga terjadinya perubahan profesi pada kedua nya yang awal nya pemagang atau pengrajin di industri sekarang menjadi pemagang atau pengrajin mandiri bahkan sangat berpengaruh dalam kehidupan keluarga para pemagang mandiri. Bapak NG menyebutkan bahwa adanya peningkatakan perekonomian dalam keluarga setelah membuka usaha secara mandiri di rumah nya, tidak hanya itu Bapak SH juga mengatakan bahwa seiring berjalannya waktu meningkatnya pendapatan dalam keluarga setelah membuka usaha mandiri. Pembahasan Berdasarkan data hasil penelitian yang di teliti dapatkan baik dari data hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan oleh peneliti sebagai sumber data penelitian serta studi dokumentasi yang peneliti dapatkan, maka peneliti melakukan pembahasan mengenai Model Magang Pendidikan Informal pada Pengrajin Kayu di Kelurahan Sukahurip Kecamatan Tamansari Kota Tasikmalaya. Pembahasan ini menyajikan berupa hasil penelitian dan temuan sehingga dapat menjawab rumusan masalah yang menjadi fokus dalam penelitian. 121 | P a g e Lifelong Education Journal https://journal. id/index. php/lej Vol. 2 No. Bulan Oktober Tahun 2022 ISSN e 2776-785X Pembelajaran yang merupakan upaya pendidik dalam membantu dalam proses transfer ilmu pengetahuan yang terjadi kepada warga belajar sehingga memperoleh keterampilan dan juga kemampuan dalam diri peserta didik. Pembelajaran dapat dilakukan baik dalam pendidikan formal, nonformal, bahkan informal. Dalam penelitian ini ditemui proses pembelajaran melalui informal yang mana pembelajaran informal bisa didapatkan baik dari lingkungan keluarga maupun dari lingkungan sekitar, baik dari seorang pemilik usaha melalui anaknya ataupun pemilik pada masyarakat sekitar. Dari hasil penelitian dalam pembelajaran informal pada pengrajin kayu ini mendeskripsikan bahwa penerapan pembelajaran informal dilakukan pemilik kepada pengrajin yang mau belajar sambil bekerja di home indutry kerajinan dalam bentuk magang yang di Kelurahan Sukahurip Kecamatan Tamansari Kota Tasikmalaya. Dalam pembelajaran informal pada bentuk magang ini, warga belajar diberi sedikit materi dari sumber belajar, dan lebih banyak ke praktek pembuatan kerajinan sehingga dapat menghasilkan suatu produk kerajinan kayu. Pembelajaran informal diterapkan pada pengrajin kayu yang akan bergabung dalam usaha home industry yang melalui proses magang terlebih dahulu sehingga pengrajin dapat bekal pengetahuan, kemampuan bahkan keterampilan dalam dirinya sebelum memulai masuk ke dunia kerja. Keterampilan yang didapatkan para pengrajin sebelum mengikuti pembelajaran di home industry berbeda-beda ada yang lingkungan sekitar atau dari tetangga yang merupakan seorang pengrajin kayu bahkan ada juga yang turun temurun dari orang tua nya sehingga mengikuti magang agar lebih meningkatkan keterampilannya dalam bidang kerajinan kayu. Dalam proses pembelajaran informal dalam bentuk magang dilakukan oleh pemilik home industry sendiri sebagai sumber belajar yang memberikan arahan, materi, dan juga bimbingan praktek kepada warga belajar/pemagang. Warga belajar atau pemagang terdiri dari 5 orang yang mengikuti proses pembelajaran informal dalam bentuk magang yang berasal dari lingkungan sekitar bahkan dari luar, dengan tidak adanya persyaratan dalam perekrutan warga belajar, tapi dengan modal kemauan dan ingin berubah serta menambah wawasan pengetahuan, sehingga dalam proses pembelajaran warga terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran. Hal ini sejalan dengan teori dalam 10 patokan dikmas dimana warga belajar berpartisipasi secara langsung sehingga istilah warga belajar atau kelompok masyarakat merupakan bagian yang terkait atau tidak akan terpisahkan dengan kegiatan pembelajaran. Dalam proses pembelajaran juga warga belajar dilibatkan dalam proses pembuatan kerajinan kayu sehingga warga belajar atau pemagang bisa menghasilkan yang menguntungkan bagi dirinya dalam memperoleh penghasilan. Hal ini sejalan dengan teori Kaplan . dalam (Darmawan, 2017, . bahwa pelibatan peserta warga belajar . arga belaja. dalam segala gerak proses pembelajaran, akan membantu mempercepat penguatan bagi terjadinya perubahan atas diri mereka juga atas dasar kemauan diri mereka, serta membantu perkembangan di masa yang akan datang. Dalam pemilihan sumber belajar yang dilakukan oleh pemilik industri yang meliputi bahan ajar yang diberikan sudah sesuai dengan apa yang di butuhkan warga belajar dalam proses pelaksanaan pembelajaran berlangsung karena dapat membantu dalam mendapatkannya pengetahuan, keterampilan bahkan kemampuan dalam bidang kerajinan kayu serta berasal dari pengrajin industri yang sudah berpengalaman dalam produksi maupun memiliki kemampuan dalam bidang kerajinan. Hal ini sejalan dengan teori 10 patokan dikmas dimana sumber belajar merupakan warga masyarakat sekitar yang memiliki kelebihan baik dibidang pengetahuan, keterampilan, sikap serta mau memberikan ilmu yang dimilikinya kepada warga belajar. Pamong belajar dalam kegiatan magang terdiri dari 3 orang yang sudah lama bekerja di industri serta berpengalaman dalam proses pembuatan kerajinan kayu dan produksi. Pada pelaksanaan pembelajaran yang diterapkan sudah sesuai dengan apa yang di butuhkan oleh para pemagang di industri kerajinan, di mana pamong belajar lebih fokus pada praktek langsung dari pada pemberian materi banyak yang diberikan pada pengrajin kayu. Sebagaimana sejalan dengan teori dalam 10 patokan dikmas pamong belajar merupakan orang yang sudah berpengalaman dalam produksi yang siap membimbing, mengorganisir, membina serta mengarahkan masyarakat atau warga belajar yang mengikuti kegiatan pembelajaran di salah satu lembaga, kemudian pamong belajar akan menjamin terjadinya proses kegiatan pembelajaran untuk warga belajar atau masyarakat yang sudah antusias ikut serta dalam program belajar yang telah dilaksanakan. Sarana merupakan fasilitas yang tersedia pada proses pembelajaran berlangsung, sehingga fasilitas tersebut bisa digunakan untuk melakukan praktek pembuatan kerajinan kayu. Sarana dalam pembelajaran magang sudah cukup memnuhi karena dari alat pola kayu sampai alat panggangan kayu sudah tersedia sehingga dapat mendukung dalam proses pembelajaran berlangsung. Sebagaimana Page 122 of 9 MODEL MAGANG PENDIDIKAN INFORMAL Mira Nurlela1A. Adang Danial2. Lulu Yuliani3 sejalan dengan teori dalam 10 patokan dikmas dimana sarana merupakan alat, bahan atau fasilitas yang terdapat di suatu lembaga pelatihan yang digunakan untuk mendukung dalam kegiatan Sarana belajar biasanya berbentuk buku, alat yang digunakan dalam pembelajaran serta sesuatu yang dapat dipelajari dan digunakan sehingga dapat membantu warga belajar dalam menambah wawasan pengetahuan, keterampilan serta kemampuan dalam membuat suatu produk baik kerajinan atau pun karya. Pembelajaran magang pendidikan informal dilaksanakan pada salah satu industri kerajinan kayu di Kelurahan Sukahurip, dimana di tempat belajar terjadinya proses pembelajaran berlangsung yang di lakukan oleh pemilik industri yang berbentuk pabrik kerajinan kayu pada proses bimbingan atau pelatihan kepada warga belajar. Hal ini sejalan dengan teori dalam 10 patokan dikmas yang mana tempat belajar adalah tempat yang dijadikan dalam proses pembelajaran baik itu berbentuk rumah, pabrik atau bangunan lain yang sudah tidak digunakan akan tetapi layak digunakan untuk Tempat belajar digunakan pamong belajar dalam memberikan bimbingan serta pengarahan kepada warga belajar pada proses pembelajaran berlangsung. Dalam proses pembelajaran magang dana yang di hasilkan salah satunya dari uang pendaftaran warga belajar serta uang pribadi dari pemilik industri tempat magang yang digunakan dalam pemenuhan kebutuhan pada proses pembelajaran magang berlangsung. Warga belajar membayar uang sebesar 50 ribu untuk mengikuti proses pembelajaran magang di industri, dengan materi yang di berikan tidak semua keterampilan, akan tetapi salah satu keterampilan yang di pilih warga belajar dalam awal pendaftaran proses magang. Hal ini sejalan dengan teori dalam 10 patokan dikmas yaitu dana belajar merupakan uang yang digunakan dalam menunjang kebutuhan dalam kegiatan pembelajaran, dana belajar bisa di dapat baik dari dukungan masyarakat, pemerintahan setempat, uang pembayaran dari peserta didik bahkan dari modal sendiri yang menyelenggarakan kegiatan pembelajaran. Dalam proses pembelajaran terdapat materi yang disampaikan oleh pemilik home industry dan di bantu pengrajin lainnya sebagai pamong belajar yaitu pada materi pembuatan pola kerajinan kayu, cara pemotongan kayu yang benar agar sesuai dengan pola yang dibuat sehingga dapat menghasilkan produk kerajinan yang diinginkan, selanjutnya cara membubut kayu yang benar sehingga produk kerajinan terlihat estetik, kemudian cara mengamplas kayu yang menjadikan produk kerajinan kayu menjadi halus dan menarik. Hal ini sejalan dengan teori Hakim . 8, . menyebutkan bahwa materi pembelajaran adalah sikap, pengetahuan dan juga keterampilan yang harus dipahami dan dipelajari oleh warga belajar dalam rangka mencapai standar kompetensi yang sudah ditentukan. Adapun proses pembelajaran yang di berikan kepada warga belajar yaitu sebagai berikut : Teknik pembuatan pola Dalam tahapan ini, warga belajar di berikan arahan dalam pembuatan pola kerajinan dengan menggunakan alat atau pola-pola kerajinan. Tahapan ini merupakan tahapan awal dalam pembuatan kerajinan kayu, sehingga dalam tahap ini warga belajar juga di berikan arahan dalam pemilihan bahan baku kayu yang bagus untuk di buat kerajinan agar hasil nya bisa layak dan bisa awet dalam kerajinan. Teknik pemotongan kayu Teknik pemotongan merupakan tahapan setelah pembuatan pola yang kemudian di potong sesuai pola kerajinan yang di buat. pemotongan kerajinan menggunakan alat atau mesin yang tersedia di industri kerajinan, sehingga setelah warga belajar bisa melakukan sendiri setelah di jelaskan dan di arahkan dengan baik oleh pamong belajar. Teknik bubut kayu Teknik bubut kayu merupakan tahapan di mana kerajinan yang sudah di potong sesuai pola selanjutnya di bubut agar kerajinan terlihat lebih bagus dan rapih tidak kasar. Pada tahap ini juga di jelaskan bagaimana cara memegang alat bubut kayu serta cara membubut kerajinan kayu dengan baik sehingga kerajinan terlihat bagus dan menarik. 123 | P a g e Lifelong Education Journal https://journal. id/index. php/lej Vol. 2 No. Bulan Oktober Tahun 2022 ISSN e 2776-785X Teknik mengamplas kayu Teknik mengamplas kayu merupakan tahapan setelah bubut kayu, dalam hal ini kerajinan yang sudah di bubut yang kemudian di amplas supaya kerajinan kayu lebih rapih dan halus dengan menggunakan alat amplas kayu yang tersedia di industri kerajinan. Teknik pemanggangan kayu Teknik pamanggangan kayu di lakukan setelah proses mengamplas kayu selesai, dimana kerajinan kayu di simpan dalam sebuah kotak atau kaleng yang di bawahnya terdapat api yang Tujuan dari pemanggangan kayu ini agar tekstur kayu kerajinan bisa cepat kering. Dalam tahap ini warga belajar di berikan arahan dalam proses pemanggangan yang baik, bagaimana api yang seharusnya di gunakan. Media yang digunakan dalam proses pembelajaran di antaranya yaitu alat pembuatan pola, alat pemotong kayu, alat bubut kayu, alat amplas dan alat pemanggangan kayu. Sebagaimana sejalan dengan teori dalam 10 patokan dikmas dimana ragi belajar merupakan proses rangsangan yang diberikan agar dapat membangkitkan dan meningkatkan semangat belajar bagi peserta didik atau warga belajar, sehingga dalam kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan tidak akan ada unsur keterpaksaan atau pun gertakan bagi warga belajar. Akan tetapi itu semua dilaksanakan karena kesadaran warga belajarnya sendiri. Ragi inilah yang menyebabkan proses pembelajaran terus berjalan sampai tujuan tercapai. Pada proses pembelajaran magang berlangsung pamong belajar menerapkan adanya pembagian kelompok belajar pada warga belajar di industri sesuai dengan bidang keterampilan yang di ambil oleh para pemagang, yang mana keterampilan tersebut terdiri dari keterampilan membuat pola kerajinan, memotong kerajinan kayu, membubut kerajinan kayu, mengamplas kerajinan kayu serta pemanggangan kerajinan. Namun, jika warga belajar sedikit yang mengikuti pembelajaran, kemungkinan ada hanya satu orang dalam keterampilan, karena pemilik industri sendiri tidak memaksa warga belajar harus mengikuti keterampilan yang banyak warga belajar yang mengikuti, akan tetapi di bebaskan sehingga tidak adanya paksaan dalam proses pembelajaran berlangsung. Hal ini sejalan dengan teori dalam 10 patokan dikmas dimana kelompok belajar ialah sekelompok warga belajar yang terdiri dari 3-5 orang, mereka berkumpul dalam satu kelompok, yang memiliki tujuan dan kebutuhan belajar yang sama, dan bersepakat untuk saling membantu dalam setiap proses pembelajaran yang telah ditentukan oleh pamong belajar. Program belajar yang dilakukan di industri waktu pembelajaran nya flexibel tidak adanya batasan serta di lakukan 6 hari dalam seminggu dari pukul 08 pagi samapi pukul 04 sore kecuali hari jumAoat di liburkan. Keterampilan yang diberikan kepada para pemagang mulai membuat pola hingga mengamplas kayu. Kegiatan pembelajaran ini di lakukan oleh pemilik sendiri tidak adanya program dari luar bahkan dari pemerintahan setempat. Hal ini sejalan dengan teori dalam 10 patokan dikmas dimana program belajar merupakan serangkaian kegiatan yang mencerminkan tujuan, isi pembelajaran, cara pembelajaran, waktu pembelajaran, atau sering disebut dengan garis besar kegiatan belajar. Dalam hasil pembelajaran baik dalam pembelajaran formal yang diadakan di setiap sekolah ataupun pembelajaran nonformal yang dilakukan di pkbm, lembaga pelatihan bahkan pembelajaran informal yang berasal dari lingkungan keluarga dan juga lingkungan masyarakat dalam setiap pembelajaran akan memperoleh pengetahuan, keterampilan bahkan kemampuan dalam diri nya pada pembuatan kerajinan kayu sehingga dapat menjadi bekal pengetahuan dalam dunia kerja baik di home industy itu sendiri maupun di luar. Sebagaimana sejalan dengan teori dalam 10 patokan dikmas dimana Hasil kegiatan pembelajaran juga terjadi dalam perpindahan profesi pada pemagang industri yang tadi nya seorang pemagang atau pengrajin di industri lain menjadi seorang pemagang atau pengrajin mandiri yang bisa membuka usaha mandiri di rumah nya. Hal ini sejalan dengan teori Djamaluddin Ahdar . 9, hlm . yang menyatakan bahwa kegiatan belajar juga dapat membentuk sikap seseorang warga belajar. Dengan kata lain, pembentukan sikap mental warga belajar akan sangat berhubungan dalam penanaman nilai-nilai sehingga menumbuhkan kesadaran di dalam dirinya untuk berubah. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan mengenai model magang pendidikan informal yang dilakukan oleh pemilik home industry, maka dapat disimpulkan bahwa Page 124 of 9 MODEL MAGANG PENDIDIKAN INFORMAL Mira Nurlela1A. Adang Danial2. Lulu Yuliani3 model magang pendidikan informal dilakukan secara asas kekeluargaan pada pengrajin kayu ketika ingin masuk dalam industri kerajinan yang harus mengikuti tahapan magang terlebih dahulu yang di terapkan di industri kerajinan, dimana pada proses pembelajaran di lakukan secara langsung oleh pemilik industri serta di bantu oleh pengrajin yang sudah lama atau senior yang berpengalaman dalam pembuatan kerajinan kayu dan dalam produksi, serta dalam biaya pembelajaran tidak di tarif mahal sehingga tidak terlalu membebankan warga belajar dalam segi pembayaran. Hasil yang diperoleh warga belajar dalam proses pembelajaran model magang akan mendapatkan pengetahuan, keterampilan dan bahkan kemampuan dalam pembuatan kerajinan kayu guna untuk menjadi bekal dalam menghadapi dunia kerja baik di industri dalam maupun di dunia kerja industri di luar. Selain itu, pada warga belajar atau pemagang terjadinya perpindahan profesi para pemagang yang awal nya pemagang atau pengrajin mandiri menjadi pemagang atau pengrajin mandiri. UCAPAN TERIMAKASIH Penulis ucapkan terimakasih kepada orang tua yang telah memberi dukungan. Bapak/Ibu dosen pembimbing yang telah mengarahkan, serta pihak-pihak yang telah membantu dalam proses penelitian sehingga artikel ini dapat di selesaikan. REFERENSI