Jurnal Abdimas PHB Vol 5 No 1 Tahun 2022 p-ISSN:2598-9030 e-ISSN:2614-056X Peer Group Support Untuk Menurunkan Kecemasan Pedagang Wedangan Terdampak Pandemi di Surakarta Taufik Akbar Rizqi Yunanto1. Annisa Zaenab Nur Fitria2. Bramson Alan Santoso3. Aileen Valerie Octavia4. Steven Harischandra5. Brandon Riccardo Utama6. Christ Diamantika7. Wulang Danendra8 1,2,3,4,5,6,7,8 Program Studi Psikologi. Fakultas Psikologi. Universitas Surabaya Jl. Raya Rungkut. Kali Rungkut. Kec. Rungkut. Kota Surabaya. Jawa Timur Telp 60293, . 2981005 e-mail: *1taufik_yunanto@staff. Abstrak Munculnya pandemi yang terjadi pada awal tahun 2020 membawa efek buruk bagi perkembangan ekonomi di Indonesia. Pandemi SARS-CoV-2 atau umum dikenal sebagai COVID-19 telah menggugurkan sendi perekonomian masyarakat. Selama pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) membuat usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) mengalami penutupan sehingga ekonomi tidak berjalan dengan baik. Salah satu bentuk UMKM yang terkena imbas dari PPKM adalah pedagang wedangan yang ada di kota Surakarta. Jam operasional untuk bekerja menjadi tidak optimal sehingga berdampak pada proses usaha tersebut dijalankan. Hal tersebut membuat banyak pedagang wedangan merasakan cemas akan masa depan pekerjaanya. Hal tersebut membuat peneliti tertarik untuk memberikan intervensi berupa peer group support bagi pedagang wedangan untuk menurunkan kecemasan tersebut di masa pandemi. Topik ini penting bagi masyarakat terutama pedagang yang tentunya juga mengalami rasa cemas ketika menghadapi pandemi yang melanda ini. Dari hasil pengabdian masyarakat ini, metode intervensi peer group support dapat memberikan dampak positif pada perasaan dan pemikiran pedagang wedangan. Para pedagang wedangan menunjukkan penurunan rasa kecemasan dan keraguan terhadap Para pedagang juga menunjukkan peningkatan motivasi mereka untuk bekerja serta menunjukkan kemampuan untuk mencari solusi terhadap masalah usaha mereka. Diharapkan intervensi peer group support ini dapat menjadi solusi untuk menyelesaikan berbagai permasalahan. Kata kunci: Peer group support. UMKM, pedagang wedangan, kecemasan, pandemi COVID-19. PENDAHULUAN Membangun usaha merupakan suatu intrik positif bagi sebagian orang. Mengingat usaha merupakan suatu komitmen yang dapat berbuah manis. Memulai langkah dalam berbisnis merupakan suatu hal yang istimewa karena banyak orang yang takut akan kegagalan, walau begitu ia menyampaikan bahwa dalam memulai bisnis juga dapat membantu mengatur rasa kepercayaan diri dalam menghadapi tantangan baru. Memulai agenda baru pada tahun 2020 merupakan langkah besar, karena tantangan yang begitu nyata didepan mata. Mengingat pada awal tahun 2020 terjadi pandemi SARS-CoV-2 atau bisa disebut juga sebagai COVID-19. Pandemi COVID-19 menggugurkan perekonomian masyarakat. Karena adanya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Jurnal Abdimas PHB Vol 5 No 1 Tahun 2022 p-ISSN:2598-9030 e-ISSN:2614-056X Masyarakat (PPKM). 1 Hal ini membuat sektor bisnis perlu terus melakukan penyesuaian dan perubahan, dan salah satu nya transformasi digital. Adaptasi dan transformasi tersebut menjadi tantangan yang perlu dilakukan sektor bisnis agar dapat memulihkan perekonomian masyarakat. melihat dari jangka panjang suatu bisnis yang baru berkembang ataupun yang telah lama berjalan akan tetap mendapati kerugian yang Dampak yang dimunculkan membuat berbagai usaha terpaksa tutup dengan alasan yang variatif. Dalam data yang didapatkan mencatat bahwa selama periode Juni hingga Juli tepatnya terjalin selama masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sebanyak 40,3 persen Usaha Mikro. Kecil dan Menengah (UMKM) terpaksa menutup usahanya sementara. Pedagang wedangan menjadi salah satu pedagang UMKM yang mengalami imbas pandemi COVID-19 di kota Surakarta. Jawa Tengah. 3 Pedagang wedangan atau dulunya disebut angkring/angkringan sangat marak ditemukan di kota Surakarta. Pedagang wedangan biasanya menjual berbagai macam makanan tetapi ciri khas dari pedagang wedangan adalah adanya menu racikan teh yang berbeda di setiap pedagang sehingga menjadikan pedagang wedangan marak di kota Surakarta. Awalnya pedagang wedangan berjualan dengan dipikul atau angkringan, kemudian berubah dengan menggunakan gerobak. Pedagang yang sebelumnya berkeliling, sekarang hanya bertempat di suatu tempat untuk menunggu pembeli. 4 Dengan berdiam di satu lokasi untuk menunggu pembeli, tentunya adanya aturan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dapat memperhambat usaha dari pedagang wedangan. Sejak diumumkan masuknya pandemi di Indonesia pada bulan Februari 2020 permasalahan yang dihadapi oleh pedagang tidak hanya mengganggu perekonomian mereka tetapi juga menciptakan perasaan-perasaan negatif. 5 Pedagang wedangan ketika pandemi merasa kebingungan mencari cara untuk mendapatkan uang akibat adanya PPKM. Kebingungan tersebut membuat pedagang wedangan takut dan ragu-ragu menentukan masa depan pekerjaannya. Jika pedagang melanjutkan membuka wedangan takut untuk terjangkit dan menyebarkan penyakit kepada masyarakat sedangkan jika tidak bekerja tentunya akan kesulitan untuk memenuhi perekonomian Pada akhirnya pedagang pada saat pandemi merasa hanya perlu pasrah dengan keadaan dan mengikuti aturan yang telah ditentukan pemerintahan. Setelah wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan partisipan pak Kikil sebagai berikut. AuSaya pribadi juga takut, yang makan juga takut, saya bentar-bentar juga harus nutup makanannya, belum lagi kalo ada yang bersin kan ya takut di situasi seperti ini mas. Tapi ya mengikuti yang ada aja masAy (Bapak Kikil . ama samara. , 19 Agustus 2. Selain dari sisi pedagang, pandemi juga membuat masyarakat takut terjangkit virus COVID-19 jika makan ditempat. Begitu pula pedagang wedangan juga merasa takut untuk tertular. Rasa takut pada masyarakat tersebut juga membuat masyarakat lebih cenderung menggunakan aplikasi online seperti gofood. Tentunya penggunaan aplikasi online tersebut juga menjadi kegelisahan pedagang. Pedagang wedangan merasa kesulitan dan tidak paham dengan penggunaan teknologi online dalam bisnis. Setelah wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan partisipan pak Boga sebagai AuBisanya buka cuma wedangan mas jadi ya saya coba lagi, masalah rame atau ga saya juga kurang yakin. Semakin lama orang-orang juga takut makan diluar/ makan ditempat . , pakai go food online juga dan yang terakhir ini saya juga kan ga paham teknologi semakin maju. Ay (Bapak Boga . ama samara. , 17 Agustus 2. Perasaan negatif seperti takut untuk memulai berdagang, bingung cara bekerja di saat pandemi ini dan pasrah akan nasib yang dialami merupakan bentuk kondisi kecemasan yang dialami pedagang wedangan di kota Surakarta. Kecemasan merupakan perasaan gelisah, takut, sedih yang dirasakan seseorang ketika berada di situasi Jurnal Abdimas PHB Vol 5 No 1 Tahun 2022 p-ISSN:2598-9030 e-ISSN:2614-056X 6 Individu yang memiliki gangguan kecemasan umum sering salah dalam mempersepsikan kejadian yang dialami menjadi sesuatu yang mengancam serta akan fokus mengantisipasi untuk menghadapi bencana yang akan datang. 7 Sama halnya dengan pedagang wedangan ketika pandemi, pedagang wedangan akan merasa bahwa pandemi dan aturan pembatasannya merupakan ancaman bagi pekerjaannya sehingga memunculkan kecemasan. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah memberikan intervensi peer group support untuk menurunkan kecemasan yang terjadi pada pedagang wedangan di masa pandemi ini. Sehingga diharapkan pedagang wedangan dapat menemukan solusi permasalahannya dan dapat menurunkan kecemasannya di masa pandemi ini. METODE Metode intervensi ini menggunakan metode intervensi Peer group support. Sebelum melakukan Peer group support peneliti akan melakukan pretest dan posttest. Tujuan pemberian pretest dan posttest ini untuk mengetahui awal partisipan sebelum diberikan peer group support dan mengetahui kondisi serta evaluasi partisipan setelah melakukan peer group support. Partisipan yang peneliti tentukan merupakan 5 orang pedagang wedangan yang terletak di kota Surakarta. Proses peer group support dilakukan dengan mengumpulkan 5 partisipan pedagang wedangan di satu tempat, lalu berbicara santai mengenai pandemi covid-19 yang memberi dampak kepada usaha wedangan mereka hingga strategi yang dilakukan untuk meningkatkan penjualan. Peer Group Support atau bisa juga disebut bantuan kelompok adalah pengertian dari suatu kegiatan memberi dan menerima bantuan, dukungan, empati agar bisa saling menguatkan orang-orang yang lemah pada suatu kelompok. Definisi dari peer group support menurut Solomon yaitu sebuah pemberian support yang dapat berbentuk sosioemosional,instrumental, dan saling berbagi di apapun situasi kondisi agar adanya perubahan yang semakin baik. Terdapat tiga manfaat dari peer group support yaitu: membuat lingkungan yang damai sejahtera dan mendukung sesama masyarakat, menghasilkan kesan yang baik pada lingkungan dengan adanya penerimaan dan Memberikan pengetahuan untuk satu sama lain melalui belajar bersama. 9 Selain manfaat adanya 4 karakteristik yang dapat menjadi tanda jika peer group support dilaksanakan dengan baik yaitu . tidak menganggap orientasi sebagai masalah dan justru belajar dari cerita pengalaman orang lain, juga bersikap terbuka, . partisipan merasa memiliki tanggung jawab bersama dan melakukan komunikasi untuk menjelaskan kebutuhan yang dibutuhkan kepada satu sama lain dengan tidak adanya keterpaksaan, . terdapat proses timbal balik untuk membangun hubungan yang alami, . partisipan dalam peer group support memikirkan keselamatan menjadi tanggung jawab bersama. Terdapat tiga aspek yang terdapat pada peer Group support yaitu pertama. Emosional dengan menawarkan harga diri dan kepastian. Kedua. Instrumental dengan memberikan bahan, barang, dan jasa. Ketiga. Informasi dengan memberikan saran, bimbingan, dan feedback atau umpan balik. Dalam penelitian ini intervensi yang digunakan adalah intervensi peer group support dan partisipan nya adalah 5 pedagang wedangan yang sebelumnya juga telah pernah kami wawancara, akan tetapi dari 5 pedagang wedangan yang kami undang terdapat 1 pedagang wedangan yaitu Ibu Wiwik yang mendadak berhalangan hadir untuk mengikuti kegiatan peer group support yang kami lakukan ini. Dan kegiatan peer Jurnal Abdimas PHB Vol 5 No 1 Tahun 2022 p-ISSN:2598-9030 e-ISSN:2614-056X group support ini diadakan pada tanggal 13 september 2021 dan dilaksanakan di rumah Bramson Alan sebagai salah satu anggota kami. Peer support group dilaksanakan peneliti sejalan dengan menggunakan kerangka kerja self help group sebagai berikut:10 Memahami Masalah Dalam intervensi tahap satu berisi pemahaman masalah, fasilitator memberi forum atau tempat untuk para partisipan berkenalan dan menceritakan masalah yang dialami setiap wedangan. Fasilitator akan membuka sesi pertama untuk mengawali pembicaraan dan menjadi mediator, partisipan akan duduk bersama dengan prokres ketat. Cara Penyelesaian Masalah Untuk intervensi tahap dua lebih mengarah kepada cara untuk penyelesaian masalah, fasilitator mencoba untuk menarik benang merah dari permasalahan yang Fasilitator juga meminta partisipan untuk menyebutkan harapan, saran dan solusi yang mereka rasa paling efektif. Pada tahap ini fasilitator juga memberi pengertian dan feedback yang diambil dari teori kecemasan. Pemilihan Cara Penyelesaian Masalah Dalam intervensi tahap ketiga berisi mengenai pemilihan cara untuk mengatasi permasalahan yang sedang terjadi. Tahap ini berisikan bagaimana partisipan menentukan saran atau solusi yang dirasa tepat dengan cara masing masing partisipan untuk menyuarakan pendapatnya disambung dengan merefleksikan penjelasan fasilitator mengenai teori kecemasan dengan permasalahan yang Melakukan Tindakan Untuk Penyelesaian Masalah Dalam tahap intervensi keempat berisi mengenai perencanaan yang akan dibuat oleh partisipan untuk mencapai hasil yang diinginkan, menyusun strategi dan menjalankan strategi untuk mengatasi permasalahan yang sedang terjadi dengan didampingi fasilitator. HASIL DAN PEMBAHASAN Sebelum melakukan intervensi peer group support, kami juga melakukan wawancara saat sebelum dan sesudah dilakukannya intervensi. Hasil wawancara dengan para partisipan saat sebelum dilakukan intervensi adalah adanya perasaan kecemasan dan ketidakyakinan para partisipan untuk membuka usaha wedangannya lagi di kondisi seperti ini dikarenakan para partisipan cemas jika tetap membuka usaha nya dalam kondisi ini apakah dagangan nya akan laku dan bisa seramai dulu sebelum adanya pandemi covid-19 karena orang-orang yang masih takut untuk makan diluar rumah di kondisi sekarang ini. Juga para partisipan merasa cemas jika mereka membuka usaha wedangan nya lagi, mereka akan dapat tertular oleh virus covid-19 yang bisa saja ditularkan dari para pelanggan nya atau orang lain. Lalu hasil wawancara setelah dilakukan nya intervensi peer group support adalah para partisipan mengalami penurunan tingkat kecemasan yang drastis dan sekarang mempunyai semangat serta keinginan untuk membuka usaha wedangan nya lagi. Hasil penelitian dijabarkan dengan data kualitatif melalui pelaksanaan wawancara berupa teks naratif yang berhubungan dengan kondisi dan masalah-masalah yang dialami partisipan di situasi pandemi Covid-19. Narasi hasil wawancara berisi kondisi penjualan di masa pandemi, turunnya penjualan, usaha yang dilakukan pedagang wedangan untuk menghadapi masa pandemi Covid-19 yang diperlukan agar partisipan membuka usaha wedangannya lagi dalam kondisi pandemi covid-19 seperti Jurnal Abdimas PHB Vol 5 No 1 Tahun 2022 p-ISSN:2598-9030 e-ISSN:2614-056X ini dikarenakan partisipan masih ragu jika membuka wedangan nya lagi apakah bisa ramai dan laku seperti dahulu saat sebelum terjadinya pandemi covid-19. Masalah yang dialami oleh usaha wedangan milik partisipan selama adanya pandemi covid-19 adalah terkait peraturan jam operasional yang diterapkan selama PPKM kemarin yang merugikan pedagang wedangan karena selama PPKM kemarin semua tempat usaha dan tempat makan harus sudah tutup jam 20. 00 malam, sedangkan partisipan baru membuka lapak wedangan nya jam 17. 00 sore karena mereka berjualan di depan toko orang lain dan rata-rata toko itu tutup antara jam 16. 00 sore dan mulai ramai pembeli jika sudah diatas jam 21. 00 malam dan tutup pada jam 01. 00 pagi dan jika partisipan pada jam 20. 00 belum menutup wedangan nya maka satpol PP akan membubarkan menutup paksa hingga menyita tikar dan kursi di wedangan tersebut serta akan memberikan denda sebagai sanksi karena pedagang masih beroperasional di jam tersebut. Dikarenakan tempat usaha wedangan partisipan yang tidak luas, hal ini menyebabkan pengunjung tidak bisa menjaga jarak seperti yang dihimbaukan oleh Partisipan masih ragu-ragu dan tidak yakin untuk membuka usaha wedangan nya lagi dalam kondisi sekarang ini karena berbagai pertimbangan seperti: partisipan yang sudah kehabisan modal karena tidak ada pemasukan, tidak ada pembeli karena masih takut keluar rumah dan jika tidak ada yang membeli maka makanan-makanan nya akan basi dan tidak laku, pengalaman kemarin mengenai jam buka yang sangat sebentar dan orang-orang yang masih takut untuk makan diluar sehingga wedangannya sepi dan saat ini masyarakat lebih memilih untuk memakai aplikasi online untuk membeli makanan. Hasil yang diperoleh setelah dilaksanakan intervensi peer group support yaitu ditemukan permasalahan utama yang dialami oleh semua bapak/ibu pedagang wedangan ini adalah kecemasan dan ketidakyakinan untuk membuka usaha wedangannya lagi dalam kondisi pandemi covid-19 seperti ini dikarenakan bapak/ibu pedagang wedangan ini masih ragu jika membuka wedangan nya lagi apakah bisa ramai dan laku seperti dahulu saat sebelum adanya pandemi covid-19 ini. Tiga dari empat pedagang wedangan menginginkan saran atau solusi yaitu dengan meminta pemerintah untuk mendukung usaha wedangan mereka seperti menyediakan tempat berjualan agar tidak berjualan di depan toko orang, memberi Bantuan Langsung Tunai (BLT). PPKM ini diberhentikan, serta ada saran atau solusi secara psikologis yang disebutkan oleh Ibu Sari yaitu bisa dengan melihat serta belajar dari pedagang wedangan lain yang usaha wedangannya masih dapat bertahan sampai saat ini. Gambar 1. Intervensi Peer Group Support Jurnal Abdimas PHB Vol 5 No 1 Tahun 2022 p-ISSN:2598-9030 e-ISSN:2614-056X Beberapa hasil pemikiran mengenai harapan, saran, dan solusi yang disebutkan oleh para bapak/ibu pedagang wedangan ini seperti: pemerintah memberikan bantuan uang kepada masyarakat yang membutuhkan, pemerintah menyediakan lahan untuk berjualan agar tidak berjualan di depan toko orang, diberlakukan jeda PPKM, serta melihat dan belajar dari keberhasilan pedagang wedangan lain yang masih bisa mempertahankan usaha wedangan nya di kondisi pandemi covid-19 ini. Ditinjau dari hasil intervensi menggunakan peer group support yang telah dilakukan peneliti. Saran atau solusi yang diinginkan oleh partisipan, yakni pedagang wedangan tak jauh dari bantuan secara finansial dari pihak pemerintah untuk mengangkat keadaan ekonomi mereka. Hal ini disebabkan oleh sepinya pembeli wedangan karena masyarakat yang masih takut untuk keluar rumah, adanya pembatasan jam operasional untuk usaha tempat makan yang juga sangat merugikan pedagang wedangan selama masa PPKM berlangsung karena rata-rata tempat wedangan buka dari sore dan tutup baru saat dini hari dan selama PPKM hal tersebut dilarang karena hanya dibatasi hingga jam 20. 00 malam, dan habisnya modal dari para pedagang Hasil intervensi ,peer group support yang sudah dilakukan kepada partisipan dapat mengurangi kecemasan para partisipan pedagang wedangan serta juga telah membangkitkan semangat partisipan lagi untuk membuka usaha wedangan nya. Penjelasan tersebut dapat diperkuat dari hasil pretest dan posttest yang peneliti lakukan sebelum dan sesudah melakukan peer group support sebagai berikut. Gambar 2. Hasil Pre-test dan Post-test Hasil pretest dan posttest tersebut menunjukkan bahwa penggunaan peer group support pada pedagang wedangan dapat menurunkan kecemasan mereka dikala Hasil penelitian ini sejalan dengan beberapa hasil dari penelitian terdahulu. Penelitian yang terdahulu menunjukan bahwa peer group support yang dilakukan kepada caregiver bisa mengurangi kecemasan pada caregiver ODGJ. 11 Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa ada penurunan tingkat kecemasan setelah partisipan melakukan peer group support yang sesuai dengan penjelasan dari penelitian 12 Partisipan dari penelitian tersebut menjelaskan manfaat dari pemberian Jurnal Abdimas PHB Vol 5 No 1 Tahun 2022 p-ISSN:2598-9030 e-ISSN:2614-056X peer group support yaitu mereka mendapatkan tempat untuk bisa meluapkan perasaan mereka masing-masing dan saling menceritakan kejadian yang kurang menyenangkan kepada partisipan lainnya. Sedangkan hasil penelitian sebelumnya juga menjelaskan jika peer group support juga efektif dilakukan untuk para korban bencana dalam mengurangi kecemasan. Pada penelitian tersebut, peer group support mempunyai efek yang sangat berarti dalam mengurangi kecemasan pada orang-orang yang menjadi korban bencana. Dikarenakan partisipan menjadi merasa tidak hanya dirinya saja yang mengalami kondisi tersebut dan partisipan juga menjadi sadar jika ada orang lain yang juga senasib dengan nya. Berdasarkan hasil penelitian terdahulu menyatakan jika banyak dari pasien yang menjalani hemodialisa yang di penelitian tersebut menjadi partisipan mengalami pengurangan tingkat kecemasan setelah dilakukannya Peer Group Support. Peer group support berguna untuk bisa saling memberi dukungan kepada orang yang senasib dan dapat menemukan pemecahan masalah dengan lebih baik melalui saling menceritakan perasaan dan pengalaman, mendengarkan cerita orang lain, saling memberi bantuan bisa berbentuk gagasan atau pengetahuan kepada orang senasib di kelompok tersebut membantu sesama anggota kelompok, saling peduli dengan anggota kelompok agar timbul kondisi yang damai sejahtera sehingga dapat mengurangi rasa cemas dan takut yang ada. Maka dari itu hasil penelitian kami sudah sesuai dengan tujuan utama dari intervensi peer group support yaitu menemukan strategi penyelesaian masalah yang baik untuk dapat mengatasi masalah yang dialami. Adanya orang lain yang memiliki kondisi senasib atau yang sama bisa membuat masing-masing orang dalam kelompok tersebut dapat saling menguatkan dan dapat mengambil pembelajaran dari masalah yang ada. 15 Intervensi peer group support memberi tempat untuk semua individu dalam kelompok tersebut agar bisa saling sharing pengalaman dan pengetahuan, juga memiliki hak yang rata untuk dapat meluapkan keluh kesah yang telah atau sedang KESIMPULAN Pandemi Covid-19 telah memberi efek buruk untuk para pedagang wedangan. Covid-19 telah membuat pemerintah melaksanakan kebijakan PPKM, yang membatasi beberapa kegiatan bisnis. Pedagang wedangan merupakan salah satu UMKM yang terimbas oleh Covid-19 dan PPKM, sebab jam operasional serta lokasinya untuk bekerja pedagang wedangan menjadi tidak optimal sehingga mengefek pada penghasilan mereka. Hasil perekonomian mereka yang buruk juga membuat para pedagang merasa cemas, takut, dan ragu-ragu terhadap situasi mereka. Peer group support merupakan bentuk intervensi yang para peneliti berikan kepada pedagang wedangan untuk mengurangi kecemasan di masa pandemi. Peer group support adalah ketika orang-orang menggunakan pengalaman mereka sendiri untuk saling membantu. Diharapkan dengan mengumpulkan orang-orang yang senasib akan membuat orang-orang tersebut saling memberi dukungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peer group support telah membantu dalam mengurangi kecemasan dan ketakutan partisipan pedagang wedangan dengan saling menceritakan pengalaman mereka. Peer group support juga telah membangkitkan semangat mereka untuk bekerja dan mendorong para pedagang untuk mencari dan memikirkan solusisolusi untuk menangani masalah bisnis mereka, baik penanganan itu merupakan saran kepada untuk pemerintah, masyarakat, ataupun diri mereka sendiri. Jurnal Abdimas PHB Vol 5 No 1 Tahun 2022 p-ISSN:2598-9030 e-ISSN:2614-056X SARAN Kegiatan intervensi peer group support ini disarankan untuk dilakukan kepada para pedagang wedangan yang mengalami kecemasan, karena hasil dari penelitian kami menunjukkan hasil yang dapat menurunkan kecemasan. Diharapkan kegiatan peer group support ini dapat banyak dilaksanakan tidak hanya oleh para pedagang wedangan tetapi juga untuk pedagang lainnya yang berada di kota Surakarta sehingga kondisi perekonomian para pedagang dapat membaik. Kedepannya jika ingin menggunakan intervensi peer group support perlu menambah partisipan agar mendapatkan lebih banyak informasi. Dalam pengambilan data pretest dan posttest akan lebih baik jika menggunakan alat tes kecemasan berstandar. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis memberikan ucapan terima kasih kepada Fakultas Psikologi Universitas Surabaya serta Dosen Pembimbing yang telah memberikan dukungan finansial dan ketersediaan waktu dalam menyertai kegiatan Pengabdian masyarakat, serta para partisipan pedagang wedangan yang telah bersedia untuk berpartisipasi dan meluangkan waktu untuk dapat mengikuti kegiatan Pengabdian masyarakat ini. DAFTAR PUSTAKA