Volume 4 Number 1 . January Ae June 2026 Page: 37-44 ISSN: 3062-7125 EDUJAVARE PUBLISHING https://edujavare. com/index. php/Ijelac Implementasi Nilai Multikultural dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Implementation of Multicultural Values in Islamic Religious Education Learning in Higher Education 1,2,3,4 Eko Prayitno1. Fery Diantoro2. Laela Hazmi3. Shilviana4 Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo. Indonesia. * Email korespondensi. laelahazmi284@gmail. * Nomor WhatsApp: 08999934389 Article history Submitted: 2026/04/12. Abstract The increasing diversity of student backgrounds in higher education requires educational approaches that foster tolerance, inclusiveness, and mutual Islamic Religious Education (PAI) plays a strategic role in cultivating these values through the integration of multicultural perspectives into learning processes. This study aims to examine the implementation of multicultural values in PAI learning in higher education, focusing on its conceptual foundations, forms of implementation, challenges, and strengthening efforts. The research employed a qualitative approach using a library research method, drawing data from books, scientific journals, and relevant academic documents. Data were analyzed through descriptive qualitative techniques based on multicultural education theory and the concept of religious moderation. The findings indicate that multicultural values are implemented through the integration of multicultural content into learning materials, the application of dialogic and participatory learning methods, and the exemplary role of lecturers in promoting inclusive and moderate attitudes. However, challenges remain, including the dominance of cognitive-oriented learning, limited lecturer competence in multicultural pedagogy, and the complexity of managing diverse student backgrounds. The study concludes that the successful implementation of multicultural values requires synergy among curriculum development, pedagogical innovation, lecturer professionalism, and supportive campus culture. This research contributes to the development of a holistic framework for multicultural Islamic education in higher education by linking conceptual, pedagogical, and institutional dimensions to strengthen religious moderation and social cohesion in diverse academic communities. Higher Education. Islamic Education. Islamic Moderation. Multicultural Keywords Revised: 2026/05/22. Accepted: 2026/06/11 A 2026 by the authors. This is an open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution International (CC SA) https://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. PENDAHULUAN Indonesia dikenal sebagai negara dengan tingkat keberagaman yang tinggi, baik dari segi suku, budaya, bahasa, maupun agama. Kondisi tersebut menjadikan toleransi dan sikap saling menghargai Published by Edujavare Publishing. Indonesia Implementasi Nilai Multikultural dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Eko Prayitno et al,. sebagai kebutuhan penting dalam kehidupan bermasyarakat. Perguruan tinggi sebagai ruang pertemuan mahasiswa dari latar belakang yang berbeda memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai kebersamaan dan penghargaan terhadap perbedaan. Namun, dalam praktiknya masih ditemukan sikap eksklusif, kurangnya pemahaman terhadap keberagaman, serta potensi konflik akibat perbedaan pandangan keagamaan. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara idealitas pendidikan Islam yang mengajarkan toleransi dan realitas sosial di lingkungan kampus (Freire, 2. Secara teoretis, pendidikan multikultural menekankan pentingnya pengakuan terhadap keberagaman, keadilan, kesetaraan, serta penghargaan terhadap perbedaan. Pendidikan Agama Islam seharusnya menjadi media strategis dalam menanamkan nilai tersebut karena ajaran Islam mengandung prinsip persaudaraan, keadilan, dan hidup berdampingan secara damai. Namun, implementasi nilai multikultural dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di perguruan tinggi belum selalu berjalan optimal. Pembelajaran masih sering berfokus pada aspek kognitif dan kurang menekankan pada penguatan sikap sosial yang inklusif. Kesenjangan inilah yang menjadi dasar pentingnya kajian mengenai implementasi nilai multikultural dalam pembelajaran PAI di perguruan tinggi (Abdullah, 2. Sejumlah penelitian terdahulu telah mengkaji pendidikan multikultural dalam konteks pendidikan Islam. Integrasi nilai multikultural dalam pembelajaran PAI dinilai mampu meningkatkan sikap toleransi mahasiswa, tetapi pembahasannya masih banyak terbatas pada aspek materi Kajian lain menekankan pentingnya peran dosen sebagai teladan dalam membangun sikap moderat di perguruan tinggi. Dialog lintas budaya di kampus juga berperan dalam memperkuat sikap saling menghargai, meskipun belum selalu terintegrasi secara sistematis dalam kurikulum. Selain itu, metode pembelajaran diskusi dan studi kasus efektif dalam menanamkan nilai toleransi, tetapi belum secara khusus dikaitkan dengan pembelajaran PAI di perguruan tinggi (Huda, 2021. Hasan, 2018. Suryana, 2022. Fauzan, 2. Berdasarkan penelitian terdahulu tersebut, terlihat bahwa kajian mengenai pendidikan Islam multikultural telah banyak dilakukan, namun sebagian besar masih membahas aspek tertentu secara Kebaruan penelitian ini terletak pada upaya mengkaji implementasi nilai multikultural dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam secara lebih menyeluruh, meliputi konsep, bentuk implementasi dalam pembelajaran, serta tantangan dan upaya penguatannya di lingkungan perguruan Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai penerapan pendidikan Islam multikultural di perguruan tinggi (Hasan, 2. Berdasarkan latar belakang tersebut, fokus penelitian ini adalah implementasi nilai multikultural dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di perguruan tinggi. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana konsep pendidikan Islam multikultural di perguruan tinggi, bagaimana bentuk implementasinya dalam pembelajaran PAI, serta bagaimana tantangan dan upaya penguatannya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konsep pendidikan Islam multikultural, menjelaskan implementasinya dalam pembelajaran PAI, serta mengidentifikasi tantangan dan upaya penguatan penerapannya di perguruan tinggi. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai penerapan pendidikan Islam multikultural di perguruan tinggi serta memberikan kontribusi dalam pengembangan pembelajaran PAI yang lebih inklusif dan moderat. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kepustakaan atau library Pendekatan ini dipilih karena penelitian berfokus pada kajian konsep, teori, serta hasil IJELAC: Indonesian Journal of Education. Language, and Cognition penelitian yang berkaitan dengan implementasi nilai multikultural dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di perguruan tinggi. Penelitian bersifat deskriptif, yaitu menggambarkan secara sistematis fenomena dan temuan yang diperoleh dari berbagai sumber literatur (Creswell & Creswell. Sumber data penelitian berasal dari buku, artikel jurnal ilmiah, serta dokumen akademik yang relevan dengan pendidikan Islam, pendidikan multikultural, dan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di perguruan tinggi. Dalam penelitian kepustakaan, partisipan tidak berupa responden lapangan, melainkan sumber tertulis yang memiliki keterkaitan dengan topik kajian. Instrumen penelitian yang digunakan adalah peneliti sendiri sebagai instrumen utama dengan bantuan catatan dokumentasi untuk mengidentifikasi, mengklasifikasi, dan mengorganisasi data dari berbagai literatur (George. Prosedur penelitian dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu penelusuran sumber literatur yang relevan, pengumpulan data melalui kegiatan membaca dan mencatat, pengelompokan data sesuai tema pembahasan, serta penyusunan data secara sistematis. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif. Proses analisis dilakukan dengan menyeleksi informasi yang relevan, menginterpretasikan temuan berdasarkan kerangka teori pendidikan multikultural, kemudian menyusun hasil analisis secara runtut sesuai fokus penelitian. Metode ini diharapkan mampu memberikan gambaran yang jelas dan komprehensif mengenai implementasi nilai multikultural dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di perguruan tinggi. TEMUAN DAN PEMBAHASAN Temuan Berdasarkan telaah literatur, pembahasan penelitian ini disusun berdasarkan tiga fokus utama, yaitu konsep pendidikan Islam multikultural di perguruan tinggi, bentuk implementasinya dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam, serta tantangan dan upaya penguatan yang diperlukan. Ketiga aspek ini saling berkaitan dalam membentuk praktik pendidikan yang inklusif dan kontekstual di lingkungan perguruan tinggi (Arifin, 2. Konsep Pendidikan Islam Multikultural di Perguruan Tinggi Secara konseptual, pendidikan Islam multikultural di perguruan tinggi berangkat dari kesadaran bahwa keberagaman merupakan realitas sosial sekaligus sunnatullah yang tidak dapat dihindari. Dalam kerangka ini, pendidikan Islam tidak hanya dimaknai sebagai proses transmisi ajaran normatif, tetapi juga sebagai upaya membentuk kesadaran sosial yang mampu mengelola perbedaan secara Nilai dasar seperti toleransi, keadilan, dan penghargaan terhadap perbedaan menjadi fondasi utama dalam membangun paradigma pendidikan yang inklusif. Nilai tersebut tidak hanya dipahami sebagai konsep teoritis, tetapi juga harus terinternalisasi dalam pola pikir dan perilaku Dengan demikian, pendidikan Islam multikultural mengarahkan mahasiswa untuk tidak terjebak pada sikap eksklusif, melainkan mampu mengembangkan cara pandang yang terbuka dan adaptif terhadap pluralitas (Rahman, 1982. Baidhawy, 2. Dalam perspektif pendidikan tinggi, konsep ini memiliki relevansi yang kuat karena kampus merupakan ruang interaksi sosial yang mempertemukan individu dari latar belakang yang beragam. Oleh karena itu, pendidikan Islam multikultural berfungsi sebagai kerangka normatif sekaligus praktis dalam membangun kehidupan akademik yang harmonis. Hal ini menunjukkan bahwa PAI memiliki posisi strategis tidak hanya dalam pembentukan religiusitas, tetapi juga dalam penguatan kohesi sosial. Lebih jauh, konsep ini sejalan dengan pendekatan pendidikan multikultural yang menekankan Implementasi Nilai Multikultural dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Eko Prayitno et al,. pentingnya kesetaraan, pengakuan identitas, dan keadilan sosial. Integrasi antara nilai keislaman dan prinsip multikulturalisme menghasilkan model pendidikan yang religius, humanis, dan responsif terhadap dinamika masyarakat modern (Rahmawati, 2023. Banks, 2. Bentuk Implementasi dalam Pembelajaran PAI Implementasi nilai multikultural dalam pembelajaran PAI di perguruan tinggi tidak dapat dilepaskan dari strategi pedagogis yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga bentuk utama implementasi yang saling melengkapi, yaitu integrasi dalam materi pembelajaran, penggunaan metode dialogis, serta keteladanan dosen dalam praktik akademik. Pada aspek materi, nilai multikultural diintegrasikan dalam konten pembelajaran PAI melalui pembahasan tema seperti toleransi, moderasi beragama, dan hubungan antarumat beragama. Materi tidak lagi disajikan secara normatif-doktrinal, tetapi dikontekstualisasikan dengan realitas sosial yang dihadapi mahasiswa. Pendekatan ini memungkinkan mahasiswa memahami bahwa ajaran Islam memiliki relevansi dalam menjawab persoalan keberagaman (Mahfud, 2016. Rahmawati, 2. Pada aspek metode, pembelajaran dialogis menjadi pendekatan yang dominan. Diskusi, studi kasus, dan pertukaran gagasan digunakan sebagai sarana untuk membuka ruang interaksi yang lebih Melalui metode ini, mahasiswa tidak hanya menerima informasi, tetapi juga terlibat aktif dalam proses konstruksi pengetahuan. Interaksi yang terjadi dalam pembelajaran dialogis mendorong mahasiswa untuk melihat suatu persoalan dari berbagai perspektif, sehingga mampu mengurangi sikap stereotip dan prasangka. Pada aspek keteladanan, dosen memainkan peran sentral sebagai figur yang mencerminkan nilai multikultural dalam praktik nyata. Sikap terbuka, adil, dan moderat yang ditunjukkan dosen dalam proses pembelajaran menjadi referensi langsung bagi mahasiswa. Dalam konteks ini, internalisasi nilai tidak hanya terjadi melalui materi yang diajarkan, tetapi juga melalui pengalaman interaksi yang dialami mahasiswa selama proses pembelajaran (Azra, 2012. Fauzan, 2. Dengan demikian, implementasi nilai multikultural dalam PAI bersifat holistik karena mencakup dimensi kognitif, afektif, dan sosial secara simultan. Hal ini memperkuat argumentasi bahwa keberhasilan pendidikan multikultural sangat bergantung pada integrasi antara isi pembelajaran, metode, dan lingkungan akademik (Banks, 2. Tantangan dan Upaya Penguatan Meskipun implementasi nilai multikultural dalam pembelajaran PAI menunjukkan arah yang positif, penelitian ini mengidentifikasi sejumlah tantangan yang masih perlu diatasi. Salah satu tantangan utama adalah dominasi pendekatan pembelajaran yang masih berorientasi pada aspek Hal ini menyebabkan internalisasi nilai belum sepenuhnya menyentuh dimensi sikap dan perilaku mahasiswa. Selain itu, terdapat kesenjangan dalam pemahaman dosen terkait konsep pendidikan multikultural dan moderasi beragama. Tidak semua dosen memiliki kesiapan pedagogis untuk mengelola pembelajaran yang berbasis keberagaman, sehingga implementasinya cenderung tidak merata. Tantangan lain muncul dari latar belakang mahasiswa yang beragam, yang dalam beberapa kasus dapat memicu potensi konflik apabila tidak dikelola dengan baik (Kusuma, 2025. Tilaar. Menanggapi tantangan tersebut, diperlukan langkah strategis sebagai upaya penguatan. Pertama, kurikulum perlu dikembangkan dengan memasukkan nilai multikultural secara eksplisit dalam setiap komponen pembelajaran PAI. Kurikulum tidak hanya berisi materi, tetapi juga harus mendorong pembentukan sikap inklusif. Kedua, kompetensi dosen perlu diperkuat melalui pelatihan yang berfokus pada pendidikan multikultural dan metode pembelajaran dialogis. Penguatan kapasitas ini penting agar dosen mampu berperan sebagai fasilitator yang efektif dalam mengelola keberagaman di IJELAC: Indonesian Journal of Education. Language, and Cognition kelas (Banks, 2019. Suryana, 2. Ketiga, multikulturalisme, seperti forum diskusi lintas budaya, kegiatan kolaboratif, dan interaksi sosial yang Lingkungan yang kondusif akan memperkuat internalisasi nilai yang diperoleh dalam Keempat, sistem evaluasi perlu dikembangkan agar tidak hanya menilai aspek kognitif, tetapi juga aspek afektif dan sosial mahasiswa. Evaluasi yang komprehensif akan memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai keberhasilan implementasi nilai multikultural (Hefner, 2001. Naim & Sauqi, 2. Temuan ini menunjukkan bahwa pendidikan Islam multikultural di perguruan tinggi tidak hanya berkaitan dengan penguasaan konsep, tetapi juga menyangkut transformasi cara berpikir dan sikap mahasiswa dalam menghadapi keberagaman. Integrasi antara konsep, implementasi, dan penguatan menjadi kunci dalam membangun pembelajaran PAI yang relevan, inklusif, dan berkontribusi terhadap terciptanya kehidupan sosial yang harmonis. Dengan posisi tersebut. PAI dapat menjadi ruang akademik yang menumbuhkan religiusitas sekaligus memperkuat kemampuan mahasiswa untuk hidup berdampingan secara adil dan saling menghargai (Nieto, 2. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi nilai-nilai multikultural dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) di perguruan tinggi terutama diwujudkan melalui tiga dimensi yang saling terkait: integrasi konten multikultural ke dalam materi pembelajaran, penerapan metode pembelajaran dialogis, dan peran teladan dosen dalam menumbuhkan sikap inklusif. Temuan ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa pendidikan Islam berorientasi menghormati, dan moderasi beragama di kalangan mahasiswa (Huda, 2021. Rahmawati, 2. Dari perspektif teoretis, hasil ini dapat dijelaskan melalui kerangka pendidikan multikultural Banks, yang menekankan bahwa pembelajaran multikultural yang bermakna harus melampaui penyampaian pengetahuan dan secara aktif menumbuhkan sikap, nilai, dan kompetensi sosial. Integrasi tema multikultural seperti toleransi, hubungan antaragama, dan moderasi ke dalam pembelajaran PAI memungkinkan mahasiswa untuk menghubungkan ajaran agama dengan realitas sosial kontemporer, sehingga menumbuhkan pemahaman Islam yang lebih inklusif. Temuan ini juga sejalan dengan studistudi terbaru yang menunjukkan bahwa pendidikan agama yang kontekstual dan berorientasi pada keragaman secara positif memengaruhi kompetensi antarbudaya dan kohesi sosial siswa (Mansouri , 2024. Yusof & Hassan, 2. Signifikansi hasil ini terletak pada demonstrasi bahwa PAI dapat berfungsi tidak hanya sebagai media pengajaran agama tetapi juga sebagai instrumen strategis untuk memperkuat harmoni sosial dalam masyarakat pluralistik. Temuan penting lainnya adalah efektivitas pendekatan pembelajaran dialogis dan partisipatif dalam meningkatkan kesadaran multikultural di kalangan siswa. Hasil ini mendukung pedagogi kritis Freire, yang berpendapat bahwa dialog menciptakan peluang bagi peserta didik untuk terlibat secara kritis dengan beragam perspektif dan membangun pengetahuan secara kolaboratif. Temuan serupa telah dilaporkan oleh Fauzan . , yang menemukan bahwa pembelajaran dialogis mendorong keterbukaan, empati, dan refleksi kritis dalam lingkungan pendidikan Islam. Namun, studi ini multikultural tidak hanya ditentukan oleh metode pengajaran tetapi juga oleh teladan pribadi yang ditunjukkan oleh para pengajar. Peran dosen sebagai model perilaku inklusif dan moderat memperkuat internalisasi nilai-nilai multikultural di luar ranah kognitif. Pengamatan ini selaras dengan bukti empiris terkini yang menunjukkan bahwa sikap guru dan iklim kelas merupakan salah satu prediktor Implementasi Nilai Multikultural dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Eko Prayitno et al,. terkuat toleransi dan penerimaan siswa terhadap keragaman (Nguyen dkk. , 2024. Garcya-Cano dkk. Oleh karena itu, temuan ini menunjukkan bahwa pembentukan nilai multikultural terjadi melalui kombinasi konten kurikulum, interaksi pedagogis, dan pemodelan sosial, yang menyoroti sifat multidimensional pendidikan nilai dalam konteks pendidikan tinggi. Terlepas dari hasil positif ini, penelitian ini mengidentifikasi beberapa tantangan, termasuk dominasi pembelajaran yang berorientasi kognitif, kesiapan dosen yang tidak merata terkait pedagogi multikultural, dan kompleksitas yang muncul dari latar belakang siswa yang beragam. Temuan ini sebagian berbeda dari penelitian sebelumnya yang cenderung menggambarkan implementasi pendidikan multikultural dengan cara yang lebih normatif dan idealis. Tantangan yang diidentifikasi menunjukkan bahwa hambatan institusional dan pedagogis terus menghambat realisasi penuh tujuan Dari perspektif teori pembelajaran transformatif, hambatan-hambatan ini muncul karena transformasi nilai membutuhkan keterlibatan pengalaman yang berkelanjutan, bukan sekadar pemahaman kognitif. Akibatnya, rekomendasi untuk memperkuat kurikulum, meningkatkan kompetensi dosen, mengembangkan budaya kampus yang inklusif, dan memperluas praktik penilaian secara teoritis dapat dibenarkan dan secara empiris relevan. Penelitian terbaru juga menekankan bahwa pendidikan multikultural yang sukses membutuhkan dukungan institusional sistemik, termasuk reformasi kurikulum, pengembangan profesional, dan lingkungan akademik yang inklusif (Aydin & Kaya, 2024. Leiva-Olivencia dkk. , 2. Secara ilmiah, temuan ini berkontribusi pada wacana yang berkembang tentang pendidikan multikultural Islam dengan menunjukkan bahwa efektivitas implementasi nilai multikultural bergantung pada sinergi antara desain instruksional, kompetensi pendidik, dan budaya institusional. Wawasan ini memperluas kajian yang ada dengan memberikan pemahaman yang lebih holistik tentang bagaimana pendidikan tinggi Islam dapat menumbuhkan komitmen keagamaan dan kewarganegaraan antarbudaya dalam masyarakat yang semakin beragam. KESIMPULAN Studi ini menyimpulkan bahwa implementasi nilai-nilai multikultural dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di perguruan tinggi bukan hanya strategi pengajaran, tetapi juga proses pendidikan transformatif yang mengintegrasikan ajaran agama dengan realitas keragaman sosial. Temuan menunjukkan bahwa nilai-nilai multikultural diinternalisasi secara efektif melalui integrasi materi pembelajaran inklusif, pendekatan pedagogis dialogis, dan perilaku teladan para dosen yang mewujudkan moderasi dan rasa hormat terhadap keragaman. Dimensi-dimensi yang saling terkait ini berkontribusi pada pengembangan toleransi, inklusivitas, dan kemampuan mahasiswa untuk terlibat secara konstruktif dengan perbedaan dalam lingkungan akademik multikultural. Dalam menjawab pertanyaan penelitian, studi ini menunjukkan bahwa konsep pendidikan Islam multikultural berlandaskan pada prinsip-prinsip Islam tentang keadilan, persaudaraan, dan hidup berdampingan secara damai. implementasinya tercermin dalam isi kurikulum, interaksi pembelajaran, dan budaya sementara keberlanjutannya bergantung pada dukungan institusional, kompetensi dosen, dan penciptaan ekosistem kampus yang inklusif. Secara ilmiah, penelitian ini berkontribusi pada wacana tentang pendidikan multikultural Islam dengan menawarkan kerangka kerja holistik yang menghubungkan fondasi konseptual, praktik pedagogis, dan dimensi kelembagaan, sehingga memperkaya perspektif kontemporer tentang peran PAI dalam mendorong moderasi keagamaan dan kohesi sosial dalam pendidikan tinggi. Terlepas dari kontribusi tersebut, penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Sebagai studi penelitian pustaka, temuan-temuan tersebut berasal dari analisis literatur yang ada dan oleh karena itu IJELAC: Indonesian Journal of Education. Language, and Cognition tidak menangkap kompleksitas implementasi nilai multikultural dalam pengaturan kelas yang Ketiadaan data empiris langsung membatasi kemampuan untuk menilai variasi dalam pengalaman siswa, konteks kelembagaan, dan dampak terukur dari praktik pembelajaran Lebih lanjut, penelitian ini sebagian besar berfokus pada aspek konseptual dan pedagogis, sehingga faktor organisasi, teknologi, dan sosial-budaya kurang dieksplorasi. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk menggunakan studi lapangan kualitatif, pendekatan metode campuran, atau desain longitudinal untuk meneliti bagaimana nilai-nilai multikultural diwujudkan, dialami, dan dipertahankan di berbagai lembaga pendidikan tinggi. Studi-studi selanjutnya juga dapat menyelidiki hubungan antara pendidikan Islam multikultural, lingkungan pembelajaran digital, kompetensi antarbudaya, dan keterlibatan sipil siswa dalam masyarakat yang semakin pluralistik. Investigasi semacam itu akan memberikan bukti empiris yang lebih kaya dan memperkuat fondasi teoritis dan praktis pendidikan multikultural dalam konteks pendidikan tinggi Islam. Bagi para peneliti di masa mendatang, disarankan untuk melampaui analisis konseptual dengan melakukan investigasi empiris yang melibatkan mahasiswa, dosen, dan pemangku kepentingan Studi perbandingan antar universitas, wilayah, atau konteks budaya akan sangat berharga untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memfasilitasi atau menghambat keberhasilan implementasi nilai-nilai multikultural dalam pembelajaran PAI. REFERENSI