REAL DIDACHE: Journal of Christian Education Vol. No. Maret 2026, hal. ISSN: 2722-4678 . https://ojs. id/index. php/didache Sekolah Tinggi Teologi Real Batam Manajemen Pembelajaran PAK bagi Anak Berkebutuhan Khusus: Kajian Manajerial. Pedagogis, dan Teologis di SLBN Pembina Kota Kupang Learning Management of Christian Religious Education for Children with Special Needs: A Managerial. Pedagogical, and Theological Study at SLBN Pembina Kupang City Autor: Yusuf Elpontus Tanaem1* Imelda Marina Djira2 Nimrot Doke Para3 Sonia Magdewati Nubatonis4 Armanjo Kamlasi5 Afilation Institut Agama Kristen Negeri Kupang. Indonesia1,2,3,4,5 *Email: yusuftanaem86@gmail. Dates: Submitted: 08/08/2025 Revised: 29/09/2025 Accepted: 10/03/2026 DOI : https://doi. org/10. 47/j15nh662 Licensee: REAL DIDACHE. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike International License Abstrak Pendidikan yang berkualitas merupakan hak konstitusional setiap warga negara Indonesia, termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK). Namun dalam praktiknya, implementasi Pendidikan Agama Kristen (PAK) bagi ABK di Sekolah Luar Biasa (SLB) masih menghadapi tantangan sistemik yang belum banyak dikaji, khususnya dari perspektif manajerial sekaligus teologis. Penelitian ini bertujuan menganalisis secara mendalam manajemen pembelajaran PAK bagi ABK di SLBN Pembina Kota Kupang, yang melayani lima kategori ketunaan: tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, dan Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi kelas, dan dokumentasi terhadap empat subjek penelitian, yaitu satu kepala sekolah dan tiga guru PAK, yang dipilih secara purposive. Keabsahan data dijamin melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik, serta dianalisis menggunakan model interaktif Miles. Huberman, dan Saldana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen pembelajaran PAK di SLBN Pembina Kupang dilaksanakan melalui tiga tahapan: . perencanaan berbasis asesmen individual, di mana guru merancang RPP yang disesuaikan dengan jenis dan tingkat ketunaan setiap peserta didik. pelaksanaan adaptif multisensori, dengan pemilihan metode dan media yang disesuaikan secara situasional berdasarkan kondisi sensoris, kognitif, dan emosional anak. evaluasi harian berkelanjutan, yang dilakukan setiap hari karena kondisi emosional ABK bersifat fluktuatif dan tidak dapat distandarkan. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi tiga perspektif secara simultan: manajerial, pedagogis, dan teologis-Alkitabiah, yang belum dijumpai dalam penelitian sejenis di Indonesia. Temuan ini berkontribusi pada pengembangan model pembelajaran PAK yang inklusif dan adaptif, serta menjadi dasar rekomendasi kebijakan bagi guru, sekolah, dan orang tua dalam mendampingi ABK Kata kunci: anak berkebutuhan khusus. evaluasi adaptif. manajemen pembelajaran. agama kristen. sekolah luar biasa Abstract Quality education is a constitutional right of every Indonesian citizen, including children with special needs (CSN). In practice, however, the implementation of Christian Religious Education (CRE) for CSN in Special Schools still faces systemic challenges that have rarely been studied, particularly from a simultaneously managerial and theological perspective. This study aims to analyze in depth the management of CRE learning for CSN at SSNS Pembina Kupang City, which serves five disability categories: visual impairment, hearing impairment, intellectual disability, physical disability, and A qualitative descriptive approach was employed. Data were collected through in-depth interviews, classroom observations, and documentation involving four purposively selected research subjects: one principal and three CRE teachers. Data validity was ensured through source triangulation and technique triangulation, and analyzed using the interactive model of Miles. Huberman, and Saldana. The findings reveal that CRE learning management at SSNS Pembina Kupang is carried out through three stages: . individual assessment-based planning, in which teachers design lesson plans tailored to each child's type and level of disability. multisensory adaptive implementation, using methods and media selected situationally based on each child's sensory, cognitive, and emotional conditions. continuous daily evaluation, conducted every day due to the fluctuating emotional conditions of CSN, which cannot be standardized. The novelty of this study lies in its simultaneous integration of three perspectives: managerial, pedagogical, and biblical-theological, which has not been found in previous similar studies in Indonesia. These findings contribute to the development of an inclusive and adaptive CRE learning model and provide a basis for policy recommendations for teachers, schools, and parents in accompanying CSN. Keywords: adaptive evaluation. children with special needs. christian religious education. special school Copyright A 2026: Real Didache. ISSN 2722-4678 (Onlin. REAL DIDACHE Vol. No. Maret 2026, hal. Available online: https://ojs. id/index. php/didache Tanaem Dan Kawan-Kawan PENDAHULUAN Kualitas sumber daya manusia suatu bangsa berbanding lurus dengan kualitas penyelenggaraan pendidikannya (Maulansyah et al. , 2. Pendidikan yang bermutu tidak hanya menghasilkan lulusan yang kompeten secara akademis, tetapi juga membentuk individu yang mampu berkontribusi secara produktif bagi masyarakat. Upaya peningkatan mutu pendidikan tidak dapat diemban oleh satu pihak saja. Syevila dan Syukri . menegaskan bahwa mutu pendidikan di sekolah akan tercapai apabila seluruh pemangku kepentingan . uru, siswa, orang tua, pemerintah, dan masyaraka. berkolaborasi dan saling mendukung secara sinergis. Dalam ekosistem kolaboratif ini, manajemen pembelajaran menjadi inti dari seluruh proses peningkatan mutu. Khaeroni et al. menegaskan bahwa kualitas pembelajaran sangat ditentukan oleh efektivitas pengelolaan kelas, yang mencakup perencanaan sistematis, pelaksanaan adaptif, dan evaluasi yang berkelanjutan. Semakin terstruktur dan adaptif manajemen pembelajaran yang diterapkan, semakin besar kemungkinan tercapainya tujuan pendidikan yang bermakna bagi seluruh peserta didik (Ningsih et al. , 2. Namun, kompleksitas manajemen pembelajaran mencapai titik tertingginya ketika berhadapan dengan anak berkebutuhan khusus (ABK). Pendidikan yang berkualitas merupakan hak konstitusional yang dijamin oleh Undang-Undang Dasar 1945 dan UndangUndang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas (Putri et al. , 2. Dalam realitas empirisnya, pemenuhan hak pendidikan ABK masih jauh dari kondisi ideal. Sekolah bagi ABK dipisahkan dari sekolah reguler, dan penempatan ABK di sekolah khusus belum sepenuhnya memberikan solusi pedagogis yang memadai, karena pembelajaran di dalamnya masih sering disamaratakan tanpa mempertimbangkan kekhususan masing-masing individu secara mendalam. Tantangan tersebut semakin berlapis ketika menyentuh ranah Pendidikan Agama Kristen (PAK) bagi ABK. Secara pedagogis, guru dituntut menyampaikan nilai-nilai iman Kristen kepada anak-anak yang memiliki keterbatasan sensoris, motoris, dan kognitif yang berbeda-beda. Mega dan Arifianto . menyatakan bahwa strategi pembelajaran PAK bagi ABK harus mempertimbangkan tiga dimensi secara bersamaan: dimensi kognitif . emahaman konsep ima. , dimensi afektif . embentukan sikap spiritua. , dan dimensi psikomotorik . raktik kehidupan ima. Ketiga dimensi ini tidak dapat disampaikan melalui pendekatan Copyright A 2026: Real Didache. ISSN 2722-4678 (Onlin. Manajemen Pembelajaran PAK bagi Anak Berkebutuhan Khusus: Kajian Manajerial. Pedagogis, dan Teologis di SLBN Pembina Kota Kupang Vol. No. Maret 2026 yang seragam, melainkan harus direspons secara individual dan kontekstual sesuai dengan kebutuhan setiap peserta didik. Secara teologis, pelayanan terhadap ABK memerlukan landasan Alkitabiah yang Jacobson . menggarisbawahi pentingnya membangun fondasi Alkitabiah yang kuat dalam menjangkau kelompok-kelompok yang selama ini kurang terlayani, termasuk penyandang disabilitas pendengaran. Lebih jauh. Shorter et al. mengingatkan bahwa penyampaian pesan Injil kepada kelompok marjinal harus peka terhadap konteks sosialbudaya setempat, agar transformasi spiritual yang diharapkan benar-benar terwujud dalam kehidupan nyata peserta didik (Shorter et al. , 2. Dengan demikian, guru PAK di SLB tidak hanya berperan sebagai pendidik, tetapi juga sebagai pelayan yang merespons panggilan teologis untuk menjangkau mereka yang terpinggirkan. Tidak heran jika dalam berbagai pengabdian beberapa komunitas seperti dalam riset dan pengabdia (Marbun et al. , 2023. Pasaribu et al. , 2. hal ini sangat urgensial, mengingat orang-orang yang berkebutuhan khusus juga memerlukan pendidikan dan keberpihakan terhadap mereka. Secara empiris, penelitian tentang manajemen pembelajaran PAK bagi ABK di Indonesia masih tampak minim. Kajian yang paling relevan ditemukan dari Shobirin dan Agusta . , yang meneliti manajemen pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) bagi ABK tunarungu di SLB Negeri Jombang. Meski demikian, penelitian tersebut memiliki dua keterbatasan mendasar: pertama, hanya mencakup satu kategori ketunaan . kedua, tidak mengintegrasikan dimensi teologis Kristen dalam analisisnya. Kesenjangan penelitian . esearch ga. ini menegaskan perlunya kajian yang lebih komprehensif, multikategori, dan bernilai teologis dalam konteks PAK bagi ABK di Indonesia. SLBN Pembina Kupang yang didirikan pada tahun 2004 merupakan satu-satunya SLB negeri di Kota Kupang yang melayani lima kategori ketunaan secara bersamaan: tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, dan autisme. Dengan 122 peserta didik dan 5 guru PAK dari total 46 tenaga pengajar, sekolah ini menjadi lokus penelitian yang representatif dan strategis untuk mengkaji kompleksitas manajemen pembelajaran PAK bagi ABK secara Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan menganalisis secara komprehensif manajemen pembelajaran PAK bagi ABK di SLBN Pembina Kupang, meliputi empat dimensi utama: perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan kendala yang dihadapi guru. Copyright A 2025: Real Didache. ISSN 2722-4678 (Onlin. REAL DIDACHE Vol. No. Maret 2026, hal. Available online: https://ojs. id/index. php/didache Tanaem Dan Kawan-Kawan sekaligus mengintegrasikan temuan lapangan dengan perspektif teologis-Alkitabiah sebagai sumbangan orisinal bagi khazanah ilmu PAK di Indonesia. KERANGKA TEORY Manajemen Pembelajaran: Konsep dan Fungsi Manajemen pembelajaran merupakan salah satu konsep kunci dalam penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas. Secara etimologis, manajemen berasal dari kata to manage yang berarti mengelola atau mengatur. Manajemen adalah proses yang terdiri atas empat fungsi utama: perencanaan . , pengorganisasian . , penggerakan . , dan pengendalian . , yang dijalankan secara sistematis untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Mataruka, 2. Dalam konteks pembelajaran, keempat fungsi manajerial tersebut diadaptasi menjadi tiga tahap inti yang saling berkesinambungan: perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi (Ergawati et al. , 2. Perencanaan pembelajaran merupakan tahap awal yang menentukan arah dan kualitas seluruh proses pendidikan. Badan Standar. Kurikulum dan Asesmen Pendidikan . menegaskan bahwa perencanaan yang baik dimulai dari asesmen awal untuk mengetahui kesiapan belajar peserta didik, sehingga guru dapat merancang pengalaman belajar yang relevan, bermakna, dan sesuai dengan kebutuhan aktual peserta didik. Tanpa asesmen yang memadai, perencanaan pembelajaran hanya akan menjadi dokumen administratif yang tidak mencerminkan kebutuhan nyata di lapangan. Pelaksanaan pembelajaran merupakan tahap di mana rencana diwujudkan menjadi interaksi belajar yang nyata antara guru dan peserta didik. Ergawati et al. menekankan bahwa guru memiliki peranan yang sangat penting dalam menentukan kuantitas dan kualitas pengajaran yang dilaksanakan. Pemilihan metode yang tepat, penggunaan media yang relevan, serta kemampuan guru dalam mengelola dinamika kelas secara responsif menjadi penentu utama ketercapaian tujuan pembelajaran. Semakin tinggi kemampuan guru dalam mengadaptasi strategi pembelajaran terhadap kondisi peserta didik, semakin efektif proses pembelajaran yang berlangsung. Evaluasi pembelajaran merupakan tahap penutup sekaligus umpan balik bagi siklus Evaluasi bukan sekadar pengukuran hasil belajar pada akhir periode, melainkan Copyright A 2026: Real Didache. ISSN 2722-4678 (Onlin. Manajemen Pembelajaran PAK bagi Anak Berkebutuhan Khusus: Kajian Manajerial. Pedagogis, dan Teologis di SLBN Pembina Kota Kupang Vol. No. Maret 2026 proses yang berlangsung secara berkelanjutan dan terintegrasi dalam setiap sesi pembelajaran (Huberman et al. , 2. Melalui evaluasi yang berkelanjutan, guru dapat mendeteksi perkembangan, hambatan, dan kebutuhan peserta didik secara real-time, sehingga penyesuaian pembelajaran dapat dilakukan segera tanpa harus menunggu akhir semester. Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus: Karakteristik dan Tantangan Anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah individu yang memiliki karakteristik fisik, intelektual, sosial, atau emosional yang berbeda secara signifikan dari perkembangan tipikal, sehingga membutuhkan layanan pendidikan yang dimodifikasi agar potensinya dapat berkembang secara optimal (Nurfand et al. , 2. Di Indonesia, kategori ABK yang dilayani di Sekolah Luar Biasa mencakup tunanetra . ambatan penglihata. , tunarungu . ambatan pendengara. , tunagrahita . ambatan intelektua. , tunadaksa . ambatan fisik/motori. , dan autisme . ambatan komunikasi, interaksi sosial, dan pola perilak. (Siahaan, 2. Setiap kategori ketunaan membawa implikasi pedagogis yang berbeda dan tidak dapat Anak tunanetra membutuhkan stimulasi auditori dan taktil yang kuat sebagai pengganti informasi visual (AuThe Role of Media in Educational Social Construction of Children with Special Needs,Ay 2. Anak tunarungu mengandalkan komunikasi visual seperti bahasa isyarat, gambar, dan ekspresi wajah sebagai media utama belajar. Anak tunagrahita memerlukan pengulangan materi yang intensif, instruksi yang sederhana, dan waktu belajar yang lebih panjang. Anak tunadaksa membutuhkan modifikasi lingkungan fisik dan media pembelajaran yang dapat diakses secara motoris. Sementara anak autisme memerlukan struktur rutinitas yang konsisten, lingkungan belajar yang minim distraksi, serta pendekatan individual yang sangat intensif (Mega & Arifianto, 2. Keberhasilan pengelolaan pembelajaran bagi ABK tidak hanya ditentukan oleh kompetensi guru secara individual, tetapi juga oleh kolaborasi sistemik yang melibatkan berbagai pihak. Nurfand et al. menegaskan bahwa kolaborasi antara guru kelas, guru pendamping khusus, orang tua, dan lingkungan sekolah terbukti menjadi faktor penentu dalam menciptakan suasana belajar yang inklusif, adaptif, dan ramah terhadap keberagaman kebutuhan peserta didik. Tanpa kolaborasi yang terstruktur, beban pengelolaan pembelajaran ABK akan terpusat pada guru dan berisiko menurunkan kualitas layanan secara keseluruhan. Copyright A 2025: Real Didache. ISSN 2722-4678 (Onlin. REAL DIDACHE Vol. No. Maret 2026, hal. Available online: https://ojs. id/index. php/didache Tanaem Dan Kawan-Kawan Pendidikan Agama Kristen bagi Anak Berkebutuhan Khusus PAK dalam konteks pendidikan formal bagi ABK bukan sekadar transfer pengetahuan teologis, melainkan sebuah proses holistik yang mencakup pembentukan karakter, nilai, dan relasi spiritual yang disesuaikan dengan kapasitas dan kebutuhan individual anak (Tanasyah & Missa, 2. Mega dan Arifianto . menegaskan bahwa strategi pembelajaran PAK bagi ABK harus mempertimbangkan tiga dimensi secara bersamaan dimensi kognitif . emahaman konsep ima. , dimensi afektif . embentukan sikap dan nilai spiritua. , dan dimensi psikomotorik . raktik kehidupan iman dalam keseharia. Ketiga dimensi ini tidak dapat dipaksakan melalui pendekatan seragam, melainkan harus direspons secara individual dan kontekstual. Dari perspektif teologis, pelayanan kepada ABK memiliki dasar Alkitabiah yang kuat dan tidak dapat diabaikan dalam konteks PAK. Mazmur 139:13-14 menegaskan bahwa setiap manusia . ermasuk ABK) diciptakan secara unik dan ajaib oleh Allah. Bahkan didalam rahim sekalipun mereka sudah dipilih (Abraham & Purnama, 2. Sekalipun banyak orang menganggap hal ini sebagai takdir, namun Alkitab tidak pernah memandang kehinaan dan ketidak layakan bagi mereka yang berkebutuhan khusus (Epistatu, 2. Penegasan ini memberi landasan teologis bahwa ABK bukanlah suatu AykekuranganAy atau Aykecelakaan ciptaanAy, melainkan ekspresi keanekaragaman dan keindahan karya Ilahi yang harus dihormati dan dilayani dengan penuh kasih. Implikasinya bagi manajemen pembelajaran PAK adalah bahwa setiap keputusan pedagogis . ari perencanaan hingga evaluas. harus dilandasi oleh sikap hormat terhadap martabat dan keunikan setiap anak. Pertama Korintus 12:22-23 menambahkan dimensi eklesial yang penting dimana anggota tubuh yang dianggap lemah justru sangat dibutuhkan. Manumpak dan Gultom . melihat sisi yang berbeda dari kesatuan tubuh, melalaui teologi memberi, yang mengesampingkan kebutuhan pribadi demi penghormatan kepada bagian yang lain (Mereka sebagai Tubuh Kristu. Prinsip ini meneguhkan bahwa keberadaan ABK dalam komunitas belajar bukanlah beban, melainkan bagian yang tidak terpisahkan dari keutuhan tubuh Kristus. Dalam konteks pembelajaran, hal ini berarti guru PAK dipanggil untuk merancang strategi yang memungkinkan partisipasi aktif dan bermakna bagi setiap ABK, bukan sekadar kehadiran fisik di ruang kelas. Sementara itu. Keluaran 4:11-12 meneguhkan bahwa segala Copyright A 2026: Real Didache. ISSN 2722-4678 (Onlin. Manajemen Pembelajaran PAK bagi Anak Berkebutuhan Khusus: Kajian Manajerial. Pedagogis, dan Teologis di SLBN Pembina Kota Kupang Vol. No. Maret 2026 keterbatasan fisik dan intelektual berada dalam kedaulatan Allah yang berjanji menyertai dan Prinsip ini menjadi sumber motivasi teologis bagi guru PAK untuk tidak menyerah di hadapan kompleksitas dan tantangan dalam mendidik ABK. Kerangka Konseptual Penelitian Berdasarkan kajian teoretis di atas, penelitian ini menggunakan kerangka konseptual Pertama, manajerial,manajemen pembelajaran PAK dikaji melalui tiga fungsi utama: perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi, ditambah satu indikator tambahan berupa kendala yang dihadapi Kedua, perspektif pedagogis, efektivitas pembelajaran dianalisis berdasarkan kesesuaian metode, media, dan evaluasi dengan kebutuhan individual setiap kategori ketunaan. Ketiga, perspektif teologis-Alkitabiah, seluruh temuan lapangan diinterpretasikan melalui lensa teologi Kristen yang mengafirmasi martabat, partisipasi, dan penyertaan Allah bagi setiap ABK. Integrasi ketiga perspektif inilah yang menjadi kebaruan dan orisinalitas penelitian ini dibandingkan kajian-kajian sebelumnya. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif untuk memaparkan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta, karakteristik, serta hubungan antarfenomena manajemen pembelajaran PAK bagi ABK dalam konteks Penelitian dilaksanakan di SLBN Pembina Kupang. Kelurahan Penfui. Kecamatan Kelapa Lima. Kota Kupang, selama periode JuniAeJuli 2024. Subjek penelitian berjumlah empat orang yang dipilih secara purposive berdasarkan keterlibatan langsung dalam pengelolaan pembelajaran PAK, terdiri atas satu kepala sekolah sebagai informan kunci . ey informan. dan tiga guru PAK sebagai informan utama. Data dikumpulkan melalui tiga teknik yang saling melengkapi: wawancara mendalam dengan panduan semistruktur, observasi partisipatif di ruang kelas, dan studi dokumentasi terhadap RPP, catatan penilaian harian, serta kebijakan sekolah terkait pengelolaan pembelajaran ABK. Copyright A 2025: Real Didache. ISSN 2722-4678 (Onlin. REAL DIDACHE Vol. No. Maret 2026, hal. Tanaem Dan Kawan-Kawan Available online: https://ojs. id/index. php/didache Keabsahan data dijamin melalui dua strategi triangulasi yaitu triangulasi sumber, yakni membandingkan data dari kepala sekolah dengan data dari masing-masing guru PAK. triangulasi teknik, yakni mengonfirmasi data wawancara dengan hasil observasi dan Analisis data menggunakan model interaktif Miles. Huberman, dan Saldana . yang terdiri atas empat tahap siklis dan simultan: pengumpulan data . ata collectio. , kondensasi data . ata condensatio. , penyajian data . ata displa. , serta penarikan kesimpulan dan verifikasi . onclusion drawing and verificatio. Proses analisis berlangsung secara terus-menerus sejak pengumpulan data pertama hingga seluruh data tersaturasi dan kesimpulan dapat diverifikasi secara konsisten. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian disajikan berdasarkan empat indikator manajemen pembelajaran PAK yang dikaji di SLBN Pembina Kupang. Setiap temuan lapangan diikuti dengan pembahasan yang mendialogkan data empiris dengan teori yang relevan dan perspektif teologis-Alkitabiah secara terpadu, sebagai bentuk analisis yang komprehensif dan orisinal. Perencanaan Pembelajaran Berbasis Asesmen Individual Temuan pertama menunjukkan bahwa guru PAK di SLBN Pembina Kupang secara konsisten melakukan asesmen awal sebelum menyusun perencanaan pembelajaran. Asesmen dilakukan dengan mengamati perilaku anak dan mengukur kapasitas belajarnya pada awal pertemuan, sehingga menghasilkan profil individual setiap peserta didik. Profil inilah yang menjadi landasan penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang bersifat individual dan terdiferensiasi. Guru PAK pertama mengungkapkan hal tersebut sebagai AyKami tidak bisa langsung mengajar begitu saja. Setiap anak itu berbeda-beda kondisinya, bahkan dari hari ke hari bisa berubah. Jadi sebelum mulai, saya selalu amati dulu Ai anak ini hari ini bagaimana, sudah siap belum belajar. Dari situ baru saya tentukan mau pakai cara apa. Ay (Guru PAK 1, wawancara. Juni 2. Pernyataan tersebut mencerminkan praktik asesmen formatif yang dilakukan secara dinamis, bukan hanya di awal semester. Berbeda dengan sekolah reguler yang menggunakan Copyright A 2026: Real Didache. ISSN 2722-4678 (Onlin. Manajemen Pembelajaran PAK bagi Anak Berkebutuhan Khusus: Kajian Manajerial. Pedagogis, dan Teologis di SLBN Pembina Kota Kupang Vol. No. Maret 2026 Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebagai standar universal, guru di SLBN Pembina Kupang menetapkan capaian belajar yang bersifat individual berdasarkan hasil asesmen. Kepala sekolah menjelaskan lebih lanjut: AyMisalkan ada tiga anak belajar mengenal abjad. Dua orang hanya bisa sebut 'A', satu orang sudah bisa sampai 'C'. Yang paling bisa itu yang jadi standarnya. Tidak bisa dan tidak boleh kita paksakan. KKM itu untuk anak-anak seperti ini sangat personal sifatnya. Ay (Kepala Sekolah, wawancara. Juni 2. Temuan ini selaras dengan prinsip Teaching at the Right Level yang menjadi ruh Kurikulum Merdeka, mengajar sesuai dengan level kemampuan aktual anak, bukan sekadar level usia atau jenjang kelas. Badan Standar. Kurikulum dan Asesmen Pendidikan . menegaskan bahwa asesmen awal adalah pilar utama perencanaan pembelajaran yang bermakna, karena memberikan informasi akurat tentang kesiapan belajar masing-masing peserta didik. Dalam konteks ABK, asesmen bukan hanya alat diagnostik pedagogis, tetapi juga instrumen etis yang menghormati keunikan dan martabat setiap individu. Ergawati et al. menambahkan bahwa guru yang melakukan perencanaan berbasis data asesmen terbukti menghasilkan pembelajaran yang lebih efektif, responsif, dan bermakna dibandingkan guru yang hanya berpedoman pada target kurikulum semata. Dari perspektif teologis, praktik perencanaan berbasis asesmen individual ini mencerminkan penghormatan terhadap keunikan setiap ciptaan Allah sebagaimana ditegaskan dalam Mazmur 139:13-14. Setiap anak . engan segala kekhususan dan keterbatasanny. adalah karya tangan Allah yang unik dan berharga, sehingga perencanaan pembelajaran yang mengabaikan keunikan individual setiap ABK sejatinya bertentangan dengan nilai teologis penciptaan itu sendiri. Pelaksanaan Pembelajaran Adaptif Multisensori Pelaksanaan pembelajaran PAK di SLBN Pembina Kupang mengikuti struktur tiga tahap: pembukaan . alam dan penyambutan ana. , inti pembelajaran, serta penutup dan evaluasi formatif. Yang membedakan implementasinya dari sekolah reguler adalah fleksibilitas metodologis yang sangat tinggi. Guru tidak menggunakan metode yang sama setiap minggu, melainkan menyesuaikannya secara situasional berdasarkan kondisi emosional Copyright A 2025: Real Didache. ISSN 2722-4678 (Onlin. REAL DIDACHE Vol. No. Maret 2026, hal. Tanaem Dan Kawan-Kawan Available online: https://ojs. id/index. php/didache anak dan jenis ketunaan yang relevan pada hari tersebut. Guru PAK kedua mendeskripsikan AyKalau anak tunanetra, saya fokus ke pendengaran Ai banyak bercerita, nyanyian, atau hafalan dengan suara yang jelas. Kalau tunarungu, saya pakai gambar besar, video, atau kartu kata bergambar. Kalau autis, saya harus ekstra sabar Ai kadang satu materi diulang berkali-kali dengan cara yang berbeda. Tidak ada satu metode yang cocok untuk semua Ay (Guru PAK 2, wawancara. Juli 2. Deskripsi . ultisensory learnin. yang secara implisit telah dipraktikkan oleh guru, meski tidak secara formal dinamakan demikian dalam dokumen perencanaan mereka. Pendekatan ini mengoptimalkan berbagai saluran sensoris anak . isual, auditori, dan kinesteti. secara bergantian sesuai dengan kebutuhan dominan setiap kategori ketunaan. Media pembelajaran yang digunakan pun bervariasi: gambar, video, benda konkret, hingga alat peraga kreatif yang dibuat sendiri oleh guru dengan memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di lingkungan Hasilnya signifikan dan konsisten, sebagaimana diungkapkan oleh guru PAK ketiga: AyAnak-anak bisu-tuli itu kalau dikasih gambar dan video, matanya langsung Mereka tunjuk-tunjuk, senyum, antusias sekali. Tapi kalau kita hanya bicara saja, mereka bingung dan tidak fokus sama sekali. Jadi media itu bukan sekadar pilihan tambahan, itu keharusan bagi kami. Ay (Guru PAK 3, wawancara. Juli 2. Temuan ini selaras dengan Haryati et al. yang menegaskan bahwa pemilihan media yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan sensoris ABK secara signifikan meningkatkan pemahaman dan keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran. Lebih jauh, sekolah juga mewajibkan guru untuk mengikuti pelatihan berkala . aik atas rekomendasi sekolah maupun inisiatif gur. sebagai upaya peningkatan kapasitas metodologis yang berkelanjutan. Hal ini menunjukkan komitmen institusional yang nyata terhadap pengembangan profesionalisme guru ABK, yang menurut Nurfand et al. merupakan salah satu prasyarat terciptanya ekosistem pembelajaran inklusif yang fungsional dan berkelanjutan. Dari perspektif teologis, 1 Korintus 12:22-23 mengingatkan bahwa anggota yang dianggap lemah justru sangat dibutuhkan dalam tubuh Kristus. Prinsip ini menemukan konkretisasinya dalam praktik pembelajaran multisensori: guru yang benar-benar memahami "kelemahan" sensoris setiap ABK justru mampu merancang pengalaman belajar yang paling Copyright A 2026: Real Didache. ISSN 2722-4678 (Onlin. Manajemen Pembelajaran PAK bagi Anak Berkebutuhan Khusus: Kajian Manajerial. Pedagogis, dan Teologis di SLBN Pembina Kota Kupang Vol. No. Maret 2026 bermakna dan transformatif bagi mereka. Pelayanan pedagogis kepada ABK adalah wujud nyata dari eklesiologi tubuh Kristus yang hidup dalam ruang kelas. Evaluasi Harian sebagai Respons atas Fluktuasi Emosional ABK Evaluasi pembelajaran bagi ABK di SLBN Pembina Kupang tidak dapat dilakukan dengan model ujian akhir semester seperti di sekolah reguler. Kondisi emosional ABK yang berfluktuasi setiap hari menjadikan evaluasi harus bersifat harian, observasional, dan sangat Evaluasi mencakup pengamatan sikap berdoa, kemampuan menjawab pertanyaan lisan, dan respons afektif anak selama pembelajaran berlangsung. Guru PAK pertama AyKami tidak bisa menilai anak hanya sekali di akhir semester. Hari ini dia mungkin tidak mau bicara sama sekali, itu bukan berarti dia tidak tahu materinya. Besok moodnya bagus, dia bisa jawab dengan benar dan lancar. Jadi penilaian itu setiap hari, setiap kali kita berinteraksi dengan anak, di situlah penilaian terjadi. Ay (Guru PAK 1, wawancara. Juni 2. Selain evaluasi di sekolah, guru juga memberikan tugas rumah dengan melibatkan orang tua sebagai fasilitator pembelajaran di rumah. Mekanisme koordinasi antara guru dan orang tua menjadi komponen yang tidak dapat dihilangkan, mengingat banyak ABK membutuhkan pendampingan intensif yang tidak mungkin sepenuhnya diberikan di sekolah dalam waktu yang terbatas. Pola kerjasama yang terstruktur antara guru dan orang tua merupakan faktor determinan dalam peningkatan hasil belajar peserta didik berkebutuhan khusus, karena kesinambungan pembelajaran antara sekolah dan rumah memperkuat retensi dan internalisasi materi secara signifikan (May, 2. (Tumanggor et al. , 2. Target capaian pembelajaran PAK bagi ABK pun disesuaikan secara realistis dan bermakna: bukan penguasaan doktrin teologis yang kompleks, melainkan pembentukan habitus spiritual dasar, kemampuan berdoa, mengenal nama Tuhan, memahami kasih Allah secara sederhana, dan mengembangkan kecakapan hidup . ife skill. yang memungkinkan anak menolong dirinya sendiri. Perspektif Keluaran 4:11-12 sangat relevan di sini: segala keterbatasan berada dalam kedaulatan Allah yang berjanji menyertai dan memampukan. Guru PAK tidak perlu khawatir akan kesederhanaan target belajar ABK berarti kegagalan pendidikan, justru di situlah penyertaan Allah secara nyata dalam kehidupan setiap anak. Copyright A 2025: Real Didache. ISSN 2722-4678 (Onlin. REAL DIDACHE Vol. No. Maret 2026, hal. Available online: https://ojs. id/index. php/didache Tanaem Dan Kawan-Kawan Heterogenitas Ketunaan sebagai Tantangan Pengelolaan Kelas Kendala terbesar yang dihadapi guru PAK di SLBN Pembina Kupang adalah heterogenitas ketunaan dalam satu kelas. Ketika satu kelas terdiri atas anak tunanetra, tunarungu, dan tunagrahita secara bersamaan, guru menghadapi tantangan metodologis yang sangat berat: tidak ada satu pendekatan pun yang dapat melayani semua anak secara optimal dalam waktu yang sama. Guru PAK kedua mengungkapkan pengalamannya secara jujur: AyKalau dalam satu kelas ada yang tuli, ada yang tidak bisa jalan, ada yang lambat berpikir, itu berat sekali. Kadang saya merasa tidak cukup dua tangan untuk melayani Yang satu butuh perhatian visual, yang lain butuh diulang terus-menerus. Akhirnya saya atur tempat duduk berdasarkan jenis ketunaan, supaya saya bisa lebih fokus dan anak-anak juga lebih mudah dilayani. Ay (Guru PAK 2, wawancara. Juli 2. Strategi pengaturan tempat duduk berdasarkan jenis ketunaan yang diterapkan secara mandiri oleh guru ini terbukti efektif membantu pengelolaan heterogenitas kelas secara Namun demikian, solusi individual ini belum didukung oleh kebijakan institusional yang sistemik. Nurfand et al. menegaskan bahwa penanganan heterogenitas ABK dalam satu kelas membutuhkan solusi struktural, bukan hanya adaptasi individual guru Ai meliputi kebijakan pembagian kelas berbasis kategori ketunaan yang lebih konsisten, penambahan guru pendamping khusus . hadow teache. yang memadai, serta penguatan mekanisme kolaborasi antara guru, orang tua, dan pihak sekolah yang lebih terstruktur dan Tanpa dukungan sistemik tersebut, beban pengelolaan pembelajaran ABK akan terus terpusat pada guru semata, yang berisiko menurunkan kualitas layanan pendidikan secara keseluruhan. KESIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa manajemen pembelajaran PAK bagi ABK di SLBN Pembina Kupang dilaksanakan melalui empat dimensi yang saling berkaitan. Pertama, perencanaan berbasis asesmen individual yang dinamis, di mana guru merancang RPP secara spesifik sesuai jenis dan tingkat ketunaan setiap peserta didik. Kedua, pelaksanaan adaptif multisensori dengan pemilihan metode dan media secara situasional berdasarkan kondisi sensoris, kognitif, dan emosional anak, yang terbukti meningkatkan keterlibatan dan respons positif ABK secara signifikan. Ketiga, evaluasi harian berkelanjutan yang melibatkan orang tua sebagai mitra aktif, dengan target capaian yang disesuaikan secara realistis pada Copyright A 2026: Real Didache. ISSN 2722-4678 (Onlin. Manajemen Pembelajaran PAK bagi Anak Berkebutuhan Khusus: Kajian Manajerial. Pedagogis, dan Teologis di SLBN Pembina Kota Kupang Vol. No. Maret 2026 pembentukan habitus spiritual dasar dan pengembangan kecakapan hidup . ife skill. Keempat, heterogenitas ketunaan dalam satu kelas merupakan kendala struktural yang membutuhkan solusi kebijakan sistemik, bukan sekadar adaptasi individual guru. Secara teologis, seluruh temuan ini menegaskan bahwa manajemen pembelajaran PAK bagi ABK yang efektif harus dilandasi oleh teologi penciptaan yang menghormati keunikan setiap individu (Mzm. 139:13-. , eklesiologi tubuh Kristus yang mengafirmasi partisipasi aktif setiap anggota termasuk yang dianggap lemah . Kor. 12:22-. , dan keyakinan bahwa Allah turut berkarya dalam setiap proses pendidikan di tengah segala keterbatasan (Kel. 4:11-. Integrasi perspektif manajerial, pedagogis, dan teologis-Alkitabiah secara simultan inilah yang menjadi kontribusi orisinal penelitian ini bagi khazanah ilmu PAK dan pendidikan inklusi di Indonesia. REKOMENDASI Berdasarkan temuan dan kesimpulan penelitian, tiga rekomendasi praktis diajukan kepada pemangku kepentingan yang relevan. Bagi guru PAK, penggunaan media adaptif dan multisensori harus diperlakukan sebagai standar pembelajaran yang tidak dapat ditawar, bukan sekadar opsi tambahan. Guru juga perlu secara aktif mendokumentasikan hasil asesmen individual setiap peserta didik sebagai basis perencanaan yang terstruktur dan dapat Bagi pihak sekolah, kebijakan pembagian kelas berbasis kategori ketunaan perlu diprioritaskan dan diimplementasikan secara konsisten, disertai dengan penambahan guru pendamping khusus . hadow teache. yang memadai dan program pelatihan guru yang dirancang secara spesifik berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan. Bagi orang tua, keterlibatan aktif dalam mendampingi anak belajar di rumah melalui mekanisme koordinasi yang terstruktur dengan guru merupakan komponen pembelajaran yang tidak dapat didelegasikan sepenuhnya kepada sekolah, mengingat kesinambungan antara pembelajaran di sekolah dan di rumah merupakan faktor determinan bagi perkembangan ABK. REFERENSI