Ulul Amri: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam e-ISSN: 3830-1420 Vol. No. : 405-417 http://urj. uin-malang. id/index. php/uajmpi MANAJEMEN SEKOLAH ADIWIYATA DALAM MEMBANGUN BUDAYA DAN LINGKUNGAN BELAJAR KONDUSIF PESERTA DIDIK Shabrina Ratu Alam Shufiatuddin Jurusan Manajemen Pendidikan Islam. Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Republik Indonesia ras@gmail. ABSTRACT The Adiwiyata program is the art of managing strategies for providing environmental education implemented by the government with the aim of creating educational institutions that care and are environmentally cultured in a sustainable manner. With the Adiwiyata School, it is necessary to have a systematic and practical management or management for both the school environment and the students of the school so that learning continues in a conducive manner. The research method that will be carried out by researchers is using qualitative research methods. The results of the research that has been carried out by researchers will provide a discussion of Adiwiyata school management and the culture of a conducive learning environment at SMAN 5 Jember. Keywords: Management. Adiwiyata School. Culture. Environtment at SMAN 5 Jember ABSTRAK Program Adiwiyata adalah seni untuk mengatur strategi pemberian pendidikan lingkungan hidup yang dilaksanakan oleh pemerintah dengan tujuan menciptakan lembaga pendidikan yang peduli dan berbudaya lingkungan secara berkelanjutan. Dengan adanya Sekolah Adiwiyata maka diperlukan adanya pengelolaan atau manajemen yang tersusun secara sistematis dan praktis baik bagi lingkungan sekolah maupun peserta didik sekolah tersebut sehingga pembelajaran tetap berjalan secara Adapun metode penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti yaitu menggunakan metode penelitian kualitatif. Hasil Penelitian yang telah dilakukan peneliti akan memberikan pembahasan mengenai manajemen sekjolah adiwiyata dan budaya lingkungan belajar kondusif di SMAN 5 Jember. Kata-Kata Kunci: Manajemen. Sekolah Adiwiyata. Budaya dan Lingkungan. Peserta didik SMAN 5 Jember PENDAHULUAN Pelaksanaan program lingkungan di lingkup pendidikan melalui pendidikan formal yang dikenal dengan adiwiyata atau greening the curriculum, dilakukan dengan penyampaian bahan ajar yang diintegrasikan dengan mata pelajaran terkait sehingga tidak menjadi mata pelajaran sendiri yang akan menambah beban kurikulum. Melalui pengembangan peran serta dunia pendidikan untuk lebih peduli terhadap masalah lingkungan diharapkan dapat memberikan kontribusi pada pembanguna berkelanjutan (Gordon, 2. Lingkungan adalah segala sesuatu yang terdapat disekitar makhluk hidup dan berpengaruh terhadap aktivitas makhluk hidup (Sirait, 2. Menurut Undang-Undang tentang Pengelolaan Makhluk Hidup No. 23 tahun 1997 dalam. Lingkungan Hidup adalah Ulul Amri: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. No. kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Kebersihan dan kesehatan lingkungan sekolah perlu diwujudkan sebagai bentuk kebersamaan antara dunia pendidikan dan Salah satu program untuk mewujudkan sekolah berwawasan lingkungan hidup adalah dengan mengadakan kegiatan penilaian penyelenggaraan sekolah berwawasan lingkungan hidup. Lingkungan memiliki peran penting untuk menunjang kehidupan manusia mencapai kualitas hidup yang lebih baik. seiring dengan perkembangan zaman fungsi lingkungan sebagai penunjang hidup manusia kini terancam oleh polusi, pemborosan penggunaan sumber daya alam dan tekanan populasi. Salah satu cara pencegahan yang efektif untuk menghentikan kerusakan lingkungan adalah dengan adanya sosialisasi akan pentingnya melindungi dan menjaga lingkungan kepada masyarakat khususnya kepada generasi muda dengan menanamkan pendidikan lingkungan (Yuni Lestarri, 2. Sejak tahun 1989/1990 hingga saat ini berbagai pelatihan tentang lingkungan hidup telah diperkenalkan oleh Departemen Pendidikan Nasional bagi guru-guru SD. SMP dan SMA termasuk Sekolah Kejuruan (Anonym. Sekolah sebagai institusi pendidikan dan juga merupakan tempat mendidik manusia yang merupakan target utama untuk dilibatkan dalam upaya pengelolaan lingkungan hidup lewat implementasi dalam setiap mata pelajaran yang ada dalam dunia pendidikan ini. Sekolah merupakan salah satu komponen utama dalam kehidupan seorang remaja, selain keluarga dan lingkungan sekitar mereka. Secara umum sekolah merupakan tempat distimulasi anak untuk belajar di bawah pengawasan guru. Konsep green school dan green curriculum di Indonesia diaplikasikan pada program Adiwiyata. Program Adiwiyata merupakan bentuk komitmen pemerintah terhadap pengelolaan dan perlindungan lingkungan melalui pendidikan. Kebijakan yang dibuat oleh pemerintah melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 5 Tahun 2013 diterjemahkan menjadi program sekolah Adiwiyata (Mohammad Dendy, 2. Program sekolah Adiwiyata memiliki peran strategis dalam peningkatan kepedulian terhadap lingkungan hidup. Dengan tujuan dan peran tersebut, kontribusi program Adiwiyata terhadap pembentukan karakter peduli lingkungan sangat mungkin terwujud. Program sekolah Adwiyata memiliki empat aspek didalam pelaksanaannya, antara lain adalah aspek kebijakan berwawasan lingkungan, aspek kurikulum sekolah berbasis lingkungan, aspek kegiatan berbasis partisipatif dan yang terakhir adalah aspek pengelolaan sarana pendukung ramah lingkungan. Aspek-aspek tersebut berperan dalam mengkondisikan lingkungan sekolah untuk membiasakan perilaku peduli lingkungan siswa dan warga sekolah lainnya. Menciptakan suatu lingkungan di mana peserta didik selalu terlibat dalam aktifitas yang kondusif adalah tanggung jawab yang besar. Sejak lahir anak selalu mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Selama proses pertumbuhan, anak tidak statis melainkan Dengan adanya sifat dinamis inilah menyebabkan individu itu selalu tumbuh dan berkembang ke arah yang lebih baik, lebih maju dan berbeda dengan sebelumnya. Pertumbuhan dan perkembangan ini terjadi salah satunya pada lingkungan sekolah, lingkungan sekolah inilah yang akan bertanggung jawab menyediakan lingkungan yang dapat mendorong pertumbuhan dan perkembangan peserta didik (Jumrawarsi dan Niviyarni. MANAJEMEN SEKOLAH ADIWIYATA DALAM MEMBANGUN BUDAYA DAN LINGKUNGAN BELAJAR KONDUSIF PESERTA DIDIK Shabrina Ratu Alam Shufiatuddin Faktor penentu tercapainya tujuan proses belajar mengajar adalah kemampuan yang dimiliki oleh guru, kurikulum, penggunaan metode pembelajaran, fasilitas prasarana, serta lingkungan pembelajaran baik lingkungan alam, psiko-sosial dan budaya (Depdikbud 1. Dengan kata lain lingkungan pembelajaran di sekolah mempunyai pengaruh terhadap tumbuh berkembangannya peserta didik. Lingkungan belajar yang kondusif adalah lingkungan belajar di sekolah dalam suasana berlangsungnya interaksi pembelajaran. Situasi belajar yang kondusif ini perlu diciptakan dan dipertahankan agar pertumbuhan dan perkembangan peserta didik efektif dan efisien, sehingga tujuan tercapai optimal. Situasi belajar mengajar yang kondusif ini penting dirancang dan diupayakan oleh guru sengaja agar dapat dihindarkan kondisi yang merugikan peserta didik. Permasalahan yang timbul dan perlu dipecahkan bagaimana peran seorang guru dalam meciptakan suasana belajar yang kondusif. KAJIAN LITERATUR Manajemen Sekolah Adiwiyata Kata AuManajemenAy merupakan kata yang berasal dari bahasa latin ialah manus yang artinya tangan, lalu agree yang artinya melakukan. Jika digabungkan dua kata tersebut maka akan menjadi AumanagerAy, yang artinya adalah menangani. Dalam bahasa inggris bentuk kata kerja to manage, dengan kata benda dari management, dan kata manager yaitu kata untuk objek oseseorang yang melakukan kegiatan manajemen. Lalu kata management diartikan ke dalam bahasa Indonesia menjadi manajemen atau pengelolaan (Agus, 2. Menurut Athoillah, manajemen berisi ilmu dan seni yang dikemas dalam rangka pengaturan proses pendayagunaan sumber daya manusia secara efektif, dengan dukungandari sumber-sumber lain dalam sebuah organisasi demi ketercapaian suatu tujuan (Anton, 2. Program adiwiyata adalah program yang ditujukan sebagai upaya pembentukan pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dalam hal pelestarian lingkungan hidup melalui prinsip edukatif, partisipatif, dan berkelanjutan (Ratih Sulistyowati, 2. Kata manajemen juga dapat diartikan sebagai proses yang terkandung dalam perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengontrolan, penentuan, dan pemenuhann tujuan yang sudah ditetapkan dengan menggunakan orang-orang dan sumber daya lainnya (Arita Marini, 2. Dari segi pengertian istilah, manajemen diapat dipahami bahwa sebagai upaya pengambilan manfaat dari berbagai cara percayai untuk memperoleh hal yang besar dan terbaik terhadap waktu yang meminimalisisr mungkin, dan semua yang telah dilakukan itu adalah untuk semata-mata kare beribadah kepada Allah taAoala. Konsep ini tercantum dalam Al-QurAoan Surah Hud ayat 61 yang memiliki arti : AuDialah Allah yang menciptakanmu dari unsur tanah dan memerintahkan kalian untuk memakmurkan, mengelola lingkungan. Ay (QS. Hud/ 11 : . Menurut Ibn Katsir, ayat tersebut dipahami dengan makna melaksanakan pembangunan dan mengolah bumi. Ungkapkan tersebut dapat dimaknai bahwa memakmurkan bumi hakikatnya adalah pengelolaan lingkungan secara baik dan benar. Muhammad Iqbal berpendapat bahwa Allah dalam merekacipta lingkungan ini belum selesai, sehingga daya dukung lingkungan masih bersifat potensial. Oleh karena itu tugas penyempurnaan penciptaan lingkungan yakni proses mengaktualisasikan daya dukung lingkungan potensial diserahkan kepada manusia. Karena Allah melihat manusia berpotensi dan memiliki kesiapan untuk menjadi makhluk pembangun. (Mujiono Abdillah, 2. Ulul Amri: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. No. Kata Adiwiyata berasal dari kata Sansekerta AuAdiAy yang mengandung makna: luar biasa, hebat, mengagumkan. Sedangkan "Wiyata" berarti tempat di mana seseorang dapat memperoleh informasi dan standar. Jadi pemikiran wiyata adalah tempat yang layak dan ideal di mana seseorang dapat memperoleh semua informasi dan berbagai standar dan moral yang dapat digunakan sebagai landasan manusia menuju pembentukan kehidupan yang sejahtera menuju tujuan pergantian peristiwa yang layak. Adiwiyata disiarkan untuk memberdayakan dan membingkai sekolah-sekolah di Indonesia agar mereka dapat mengambil bagian dalam menyelesaikan upaya pemerintah menuju pelestarian ekologi dan kemajuan yang layak untuk mendukung masa kini dan masyarakat di masa depan (Tri Rismawati, 2. Alasan program Adiwiyata adalah untuk mengembangkan dan membingkai semua individu sekolah yang memiliki kesadaran akan harapan tertentu untuk memastikan dan menangani iklim dengan menjadikan ekosistem sekolah sebagai kerangka dewan. Oleh karena itu, dipercaya sekolah akan menjadi tempat yang nyaman dan optimal untuk memperoleh dan mempelajari informasi untuk mewujudkan kehidupan yang sejahtera. Prinsip dasar pelaksanaan Adiwiyata sebagai berikut ini: Partisipatif, khususnya Penduduk sekolah adalah penghibur yang terlibat dengan sekolah para eksekutif yang menggabungkan seluruh proses persiapan, pelaksanaan dan penilaian sesuai dengan kewajiban dan pekerjaan mereka yang terpisah. Pelibatan warga sekolah apapun itu dalam pelaksanaan program Adiwiyata merupakan poin penting bagi pencapaian program tersebut. Penghuni sekolah untuk situasi ini adalah semua bagian sekolah yang mencakup kepala sekolah, pendidik, perwakilan, pekerja, dan bahkan perwakilan botol diperlukan untuk mengambil bagian yang berfungsi dalam membuat budaya yang benar-benar berfokus pada iklim. Layak. pelaksanaan program Adiwiyata harus didasarkan pada proses administrasi yang baik dan wajar. Baik sejauh mengatur, memilah, melaksanakan, mengamati, dan menilai. Setiap gerakan harus dilakukan dengan cara yang teratur dan dapat diatur. Untuk menjamin program dapat berjalan dengan baik maka perlu dilakukan pengecekan dan Pelaksanaan pengecekan dan penilaian dilakukan dari setiap tahapan/proses yang dilakukan. Dengan memimpin pengecekan dan penilaian maka akan didapat gambaran penilaian pelaksanaan program Adiwiyata, dan dipercaya akan muncul sumber-sumber informasi dan ide untuk perbaikan kelanjutan program di kemudian hari. Budaya dan Lingkungan Menurut kamus Bahasa Indonesia, kata budaya berasal dari bahasa Sansekerta Bodhya yang berarti akal budi, sinonimnya adalah kultur yang berasal dari bahasa Inggris Culture atau Cultuur dalam Bahasa Belanda. Kata Culture sendiri berasal dari bahasa Latin Colere . engan akar kata AuCaloAy yang berarti mengerjakan tanah, mengolah tanah atau memelihara ladang dan memelihara hewan ternak. Budaya adalah suatu hasil dari budi dan atau daya, cipta, karya, karsa, pikiran dan adat istiadat manusia yang secara sadar maupun tidak, dapat diterima sebagai suatu perilaku yang beradab. Dikatakan membudaya bila kontinu. Menurut Pacanowsky dan OAodonnell Trijulo, budaya adalah suatu cara hidup di dalam sebuah organisasi. Budaya organisasi mencakup iklim atau atmosfer emosional dan Budaya organisasi juga mencakup semua simbol . indakan,rutinitas,percakapan MANAJEMEN SEKOLAH ADIWIYATA DALAM MEMBANGUN BUDAYA DAN LINGKUNGAN BELAJAR KONDUSIF PESERTA DIDIK Shabrina Ratu Alam Shufiatuddin dan sebagainy. dan makna makna yang terjadi antar karyawan dan manajemen. Sedangkan menurut Robbins, budaya organisasi sebagai nilai-nilai dominan yang disebarluaskan dalam organisasi yang dijadikan filosofi kerja karyawan yang menjadi panduan bagi kebijakan organisasi dalam mengelola karyawan dan konsumen (Pabundu Tika, 2. Menurut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Pasal 1 menyebutkan Aulingkungan hidup adalah kesatuan ruang semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan kehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk lainAy. Hal demikan, menjadikan semua peristiwa kehidupan yang didalamnya terdapat makhluk hidup termasuk manusia saling mempengaruhi kehidupan makhluk Menurut Tika, lingkungan hidup dikelompokan menjadi tiga bagian, yaitu: Lingkungan alam merupakan faktor lingkungan alamiah. Lingkungan sosial adalah manusia, sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial yang selalu berinteraksi. Lingkungan budaya adalah hasil aktivitas manusia baik karsa, karya maupun asa. Lingkungan hidup juga tidak sebatas pada hal-hal yang berwujud benda, baik benda hidup maupun benda mati melainkan menghimpun perilaku yang sangat berpengaruh terhadap unsur-unsur manusia hidup lainnya. Pengertian tersebut dapat disimpulkan lingkungan hidup wujud dari makhluk hidup dan makhluk tak hidup, merupakan faktor keselarasan dengan alam dan ekosistem lingkungan, sosial dan budaya yang berkesinambungan dan berkelanjutan (Tika, 2. Tujuan dari pendidikan lingkungan hidup Nur jahani dalam Lendrawati menjelaskan bahwa pendidikan lingkungan dibutuhkan dan harus diberikan kepada anak sejak usia dini agar peserta didik mengerti dan tidak merusak lingkungan disekitar. Hal ini dipengaruhi beberapa aspek antara lain: Aspek kognitif, pendidikan lingkungan hidup mempunyai fungsi untuk meningkatkan pemahaman atau memberi ilmu pengetahuan terhadap permasalahan lingkungan . Aspek afektif, pendidikan lingkungan hidup 20 berfungsi meningkatkan penerimaan, penilaian dalam menata kehidupan dalam keselarasan dengan alam yang berkesinambungan dan berkelanjutan . Aspek psikomotorik, pendidikan lingkungan hidup berperan meniru dan memanipulasi dalam upaya meningkatkan budaya mencintai lingkungan dan melestarikannya (Lendrawati, 2. Adapun pendidikan lingkungan hidup merupakan salah satu faktor penting dalam pengelolaan lingkungan hidup dan juga menjadi sarana yang sangat penting dalam menghasilkan sumber daya manusia yang dapat membentuk karakter individu melalui kurikulum pendidikan di sekolah. Hal yang sama dijelaskan oleh Hamzah Aukarakter peduli lingkungan bukanlah naluri bawaan, akan tetapi juga merupakan hasil dari suatu proses pendidikan dalam arti luas, karena karakter yang baik haruslah dibentuk dari individu itu sendiri, sehingga setiap individu dapat menjiwai setiap tindakan dan perilakunya dalam menerapkan kelesatarian lingkungan di kehidupan sehari-hariAy. Hamzah menjelaskan bahwa. Aupendidikan lingkungan sebuah kebutuhan yang tak terpisahkan bila kita ingin mewujudkan masyarakat madani seperti yang dicita-citakanAy. Pendidikan lingkungan hidup mempunyai tujuan untuk membentuk karakter atau perilaku individu yang bertanggung jawab terhadap lingkungan ketika terdapat fenomena-fenomena Ulul Amri: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. No. yang terjadi dipermukaan bumi. Pendidikan lingkungan hidup diberikan pada kegiatan formal contohnya sekolah. 20 Yustiana 2006 dalam Bahrudin . menjelaskan Ausecara formal pendidikan lingkungan hidup menjadi salah satu alternatif cara yang rasional untuk memasukan pendidikan lingkungan ke dalam kurikulum dengan pembaruan sebuah inovasiAy. Berdasarkan uraian tersebut mengenai pendidikan lingkungan hidup secara sederhana dapat diartikan bentuk proses perubahan sikap dan perilaku dalam usaha mendewasakan manusia dalam bidang lingkungan hidup sehingga, dalam hal ini peserta didik menjiwai setiap perbuatannya dalam mengupayakan merawat atau melestarikan lingkungan. Belajar Kondusif Peserta Didik Lingkungan belajar peserta didik bisa dikatakan kondusif jika keadaan lingkungan fisik maupun non fisiknya dapat dikatakan aman, nyaman, dan menyenangkan serta dapat menunjang pengembangan pengetahuan, sikap dan keterampilan yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana dijelaskan oleh Sutanto Widura dalam bukunya yang berjudul AuCara Belajar Orang GeniusAy, untuk menunjang minat belajar peserta didik perlu tercipta kondisi lingkungan belajar yang kondusif. Artinya, lingkungan harus mendukung terciptanya suasana yang merangsang minat belajar yang kuat. Oleh karena itu suasana lingkungan harus mendukung kenyamanan untuk belajar. Lingkungan belajar yang kondusif perlu diciptakan dan dipertahankan agar pertumbuhan dan perkembangan peserta didik dalam membentuk perilaku berkarakter dapat tercapai secara efektif dan efisien sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan. Sekolah diharapkan mampu menciptakan suasana sekolah yang kondusif untuk mewujudkan nilai-nilai karakter dalam tindakan sehari-hari di sekolah. Kepala sekolah, guru maupun staf administrasi harus mampu menjadi contoh kepada peserta didik dan warga sekolah. Dengan demikian nilai-nilai karakter dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari- hari oleh semua warga sekolah sebagai kebiasaan (Warni Tune Sumar, 2. Belajar merupakan kegiatan yang membutuhkan lingkungan dan suasana khusus. Hal ini bertujuan agar proses belajar berlangsung dengan baik dan prestasi belajar peserta didik dapat dicapai seoptimal mungkin. Belajar kondusif mengacu pada iklim kelas yang baik yang mana merupakan kualitas lingkungan kelas yang terus-menerus dialamai oleh guru yang memengaruhi tingkah laku peserta didik dalam menciptakan proses pembelajaran yang kondusif. Iklim kelas di tandai dengan munculnya: Sikap saling terbuka Terjalinnya hubungan antar pribadi Sikap saling menghargai satu dengan yang lain Menghormati satu sama lain Mendahulukan kepentingan bersama. (Harjali, 2. Ada dua faktor penentu tercipta atau tidaknya suasana belajar kondusif, antara lain: Suasana dalam kelas Guru menjadi pihak yang paling bertanggung jawab dalam pengelolaan pembelajaran di ruang kelas. Strategi dan metode pembelajaran yang digunakan sangat menentukan kondusif atau tidaknya suasana belajar. Lingkungan di sekitar kelas atau sekolah Suasana belajar yang kondusif akan tercipta apabila didukung suasana yang nyaman dan tentram di sekitar kelas atau sekolah. Lokasi sekolah yang berada terlalu dekat dengan keramaian, seperti pasar pinggiran jalan raya atau pabrik cenderung mengganggu MANAJEMEN SEKOLAH ADIWIYATA DALAM MEMBANGUN BUDAYA DAN LINGKUNGAN BELAJAR KONDUSIF PESERTA DIDIK Shabrina Ratu Alam Shufiatuddin konsentrasi peserta didik dalam belajar. Ruang kelas yang kondusif dapat ditinjau dari dua karakter, yaitu kondisi fisik dan psikis. Kedua karakter ini saling mempengaruhi satu sama lainnya dalam meningkatkan kualitas poses pembelajaran di ruang kelas. Menurut Moedjiarto, ciri-ciri lingkungan belajar dikatakan kondusif adalah sebagai berikut: Suasana pembelajaran di kelas, tenang dan jauh dari kegaduhan maupun kekacauan. Adanya hubungan yang akrab, penuh pengertian, dan rasa kekeluargaan antar civitas . Tampak adanya sikap mendahulukan kepentingan sekolah dan kepentingan umum dibandingkan dengan kepentingan pribadi. Semua kegiatan sekolah diatur dengan tertib, dilaksanakan dan dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan merata. Peserta didik mendapat perlakuan adil, tidak dibeda-bedakan antara yang miskin dan kaya, pandai dan yang lamban berpikir. Semua peserta didik mendapat kesempatan yang sama untuk berprestasi dengan sebaik-baiknya. Saat kegiatan pembelajaran berlangsung dapat dilihat adanya aktivitas belajar mengajar yang tinggi. Peserta didik mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang pelajaran yang kurang dipahami, sedangkan guru dengan senang hati senantiasa bersedia menjawabnya. Untuk pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dijawab, dengan bijaksana guru meminta waktu untuk mencari data dan informasi lebih lanjut. Peserta didik saling menghargai satu sama lainnya, dan terhadap gurunya peserta didik memiliki rasa hormat yang tinggi. Meja dan kursi serta perlengkapan yang lainnya di kelas senantiasa ditata dengan rapi dan dijaga kebersihannya. Peserta didik ikut merawat kebersihan perabot sekolah dan kebersihan ruang kelas yang penugasannya dilakukan secara bergilir (Rinja Efendi & Delita Gustriani, 2. METODE Metode yang peneliti gunakan pada penelitian ini adalah kualitatif, yaitu suatu metode yang bertujuan menggambarkan bagaimana keadaan dan fenomena yang sebenarnya, lalu di deksripsikan ke dalam laporan penelitian. Metode kualitatif adalah metode yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sempel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, serta analisis data bersifat kualitatif atau statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan (Sugiono, 2. Sedangkan metode kualitatif menurut Bogdam dan Taylor, adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deksriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orangorang dan perilaku yang diamati (Lexi J. Moleong, 2. HASIL Hasil penelitian yang dilaksanakan oleh peneliti terkait implementasi manajemen boarding school MaAohad Al-Qolam MAN 2 Kota Malang mengacu pada fokus penelitian sebagai berikut: Manajemen Sekolah Adiwiyata di SMA Negeri 5 Jember Ulul Amri: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. No. Manajemen merupakan suatu proses pengelolaan yang dimana mengatur pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber lainnya dalam rangka mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Program pengelolaan dalam manajemen Sekolah Adiwiyata di SMA Negeri 5 Jember ini yaitu Pramuka Lingkungan Hidup yang dimana kegitan program ini berada dalam ekstrakurikuler . yang di ikuti oleh kelas X dan XI. Wawasan lingkungan yang ada di sekolah sudah menyesuaikan dengan keadaan lingkungan sekolah sesuai dengan prosedur yang ditetapkan oleh pemerintah diantaranya yaitu penggunaan hemat energy mulai dari air, listrik, bahkan sampai pengelolaan sampah yang bisa dijadikan kompos untuk tanam memanam. Kegiatan lingkungan berbasis partisipasif yang diadakan di sekolah dan di ikuti oleh seluruh warga sekolah salah satunya yaitu JumAoat Bersih, yang dimana seluruh guru-guru maupun siswa mengikuti kegiatan ini. Sedangkan dalam kegiatan berwawasan lingkungan yang diikuti oleh sekolah yang berasal dari luar sekolah contohnya adalah workshop bersama dengan Sekolah Adiwiyata lainnya. Sarana pendukung ramah lingkungan juga diterapkan dan digunakan oleh sekolah ini, mulai dari penataan seitan ruangan di sekolah. Contohnya seperti siswa dianjurkan untuk membawa alat makan sendiri untuk keperluan guna mengurangi penggunaan plastic di sekolah. Faktor Pendukung dan Penghambat dalam membangun budaya lingkungan belajar kondusif bagi peserta didik di SMA Negeri 5 Jember Faktor pendukung yang paling utama yaitu kerjasama yang baik antara semua Tim Sekolah khususnya Tim Sekolah Adiwiyata di SMA Negeri 5 Jember. Serta media ramah lingkungan yang ada di sekitar sekolah, mengoptimalkan proses pencapaian tujuan Adiwiyata yaitu mewujudkan warga sekolah yang bertanggung jawab dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup melalui tata kelola sekolah yang baik untuk mendukung pembangunan berkelanjutan. Sedangkan dalam faktor penghambatnya, lebih pada kurangnya pendanaan untuk Selain itu juga kurang adanya kesadaran diri dalam menjaga lingkungan. Sampah juga sulit untuk di tertibkan, dikarenakan masih kurangnya siswa belum paham akan jenis sampah yang akan dipilah. Terakhir yaitu pembelajaran daring selama pandemic, dikarenakan pembelajaran yang tidak dilakukan di sekolah membuat siswa sulit dalam melakukan kegiatan-kegiatan dalam menjaga lingkungan yang ada di sekolah. Termasuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler pramuka lingkungan hidup. Dampak sekolah adiwiyata bagi SMA Negeri 5 Jember . Peduli lingkungan bagi warga sekolah, dengan adanya predikat Sekolah Adiwiyata membuat warga sekolah menjadi lebih peduli terhadap lingkungan yang ada di sekolah terutama dalam kegiatan belajar mengajar. Menjadi salah satu sekolah yang unggul dalam lingkungan hidup, yang dimana salah satu sekolah adiwiyata ini pernah mendapatkan penghargaan sampai ditingkat Nasional. Terbentuknya kebersamaan dan kerjasama bagi seluruh warga sekolah dalam menjaga lingkungan, adanya program sekolah adiwiyata ini menjadi kebiasaan warga sekolah dalam mengingatkan satu sama lain akan pentingnya menjaga lingkungan. Meningkatkan keefektifan dan efisiensi terhadap pelaksanaan kegiatan belajar si kelas, yang dimana kegiatan melajar mengajar menjadi lebih nyaman dan kondusif dengan di dukung lingkungan sekitar yang bersih dan hijau. MANAJEMEN SEKOLAH ADIWIYATA DALAM MEMBANGUN BUDAYA DAN LINGKUNGAN BELAJAR KONDUSIF PESERTA DIDIK Shabrina Ratu Alam Shufiatuddin . Seimbangnya pembelajaran baik mengenai tentang adiwiyata dan mata pelajaran dalam kurikulum. PEMBAHASAN Manajemen Sekolah Adiwiyata di SMAN 5 Jember Pada dasarnya manajemen sekolah adiwiyata ini merupakan seni dalam mengatur seseorang ataupun kelompok organisasi untuk mencapai tujuan yang yang akan dilaksanakan secara efektif dan efisien. Dimana manajemen sekolah adiwiyata ini merupakan tujuan utamanya yaitu menciptakan kondisi yang baik bagi sekolah untuk menjadi tempat pembelajaran dan kesadaran warga sekolah. Sehingga dikemudian hari warga sekolah tersebut dapat turut bertanggungjawab dalam upaya penyelamatan lingkungan bagi sekolah dasar dan menengah. Manajemen sekolah adiwiyata memiliki proses perencanaan dengan salah satunya yaitu merealisasikan adanya program kerja yang dilaksanakan oleh organisasi sekolah adiwiyata yaitu pada ekstrakurikuler Pramuka Lingkungan Hidup. Dimana ekstrakurikuler ini dilakukan wajib bagi siswa-siswi kelas X dan kelas XI. Kegiatan ekstrakurikuler Pramuka Lingkungan Hidup ini memiliki beberapa program kerja yang masihh aktif dalam mengembangkan program adiwiyata di sekolah SMA Negeri 5 Jember, dan wajib di ikuti oleh siswa-siswi kelas X dan XI. Sehingga dengan adanya kegiatan program tersebut akan menjadi salah satu alasan dalam mempertahankan ke eksistensian sekolah adiwiyata di SMA Negeri 5 Jember. Program Adiwiyata harus berdasarkan norma-norma Kebersamaan. Keterbukaan. Kejujuran. Keadilan, dan Kelestarian Fungsi Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam. Dari beberapa informan yang telah peneliti dapatkan, itulah yang dijadikan sebagai subjek atau narasumber penelitian. Untuk menggali beberapa informasi, peneliti melakukan wawancara dengan beberapa informan dengan pertanyaan yang sesuai dengan topik Mereka sangat antusias dan informative dalam memberikan jawaban atau informasi bagi peneliti. Adapun salah satu informan dalam subjek penelitian ini yaitu Bapak Drs. Nahrowi selaku Kepala Sekolah. Dalam hal ini, peneliti telah melakukan wawancara terkait bagaimana manajemen sekolah adiwiyata di SMA Negeri 5 Jember. Adapun proses perencanaan dalam sekolah adiwiyata yaitu dengan adanya penyusunan program kerja yang akan dilaksanakan. Dengan beberapa pihak yang terlibat sebagai pelaksana program perlu adanya beberapa tugas dalam membangun sekolah adiwiyata untuk meningkatkan budaya dan lingkungan sekolah menjadi lebih efektif dan efisien. Pelaksanaan program adiwiyata di SMA Negeri 5 Jember perlu adanya penerapan yang dilakukan dalam lingkungan belajar. Maka dari itu perlu adanya integrase yang diterapkan dalam mata pelajaran yang ada di kurikulum. Adapun aksi lingkungan sebagai program kerja dari ekstrakurikuler pramuka lingkungan hidup. Dalam aksi lingkungan ini siswa-siswi SMA Negeri 5 Jember diajarkan mengenai tentang penanaman tanaman, pengolahan sampah untuk membuat kompos, jenisjenis tanaman. Go Green, mempelajari tentang pembibitan, dan ilmu tentang recycle dan Faktor Pendukung dan Penghambat Sekolah Adiwiyata dalam Lingkungan Belajar Kondusif Peserta di SMA Negeri 5 Jember Dalam suatu proses manajemen sekolah adiwiyata pasti terdapat faktor pendukung dan faktor penghambat dalam mencapai visi misi sekolah adiwiyata, baik dalam Ulul Amri: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. No. membangun budaya lingkungan belajar kondusif bagi peserta didik ataupun membangun program adiwiyata di SMA negeri 5 Jember. Adapun faktor pendukung tersebut yaitu: Adanya kepedulian warga sekolah dalam melestarikan lingkungan Bentuk kepedulian warga sekolah dalam melestarikan lingkungan dengan berbagai Salah satunya yaitu dengan tertib dalam membuang sampah, memilah sampah, menanam tanaman, dan lain-lain. Perlu adanya kesadaran diri akan pentingnya kebersihan lingkungan sekitar dengan saling mengingatkan satu sama lain akan peduli terhada suatu karya orang lain. Dari adanya beberapa peraturan sekolah lebih mengedapankan mengenai tentang menjaga lingkungan dengan tetap memenuhi prosedur yang telah ditetapkan serta membangun sistem belajar yang nyaman. Adanya ekstrakurikuler Pramuka Lingkungan Hidup Program ekstrakurikuler pramuka lingkungan hidup yang ada di SMA Negeri Jember menjadi salah satu icon utama dalam membangun karakter siswa peduli Dengan ekstrakurikuler pramuka ini yang di include kan dengan lingkungan sekitar sekolah. Seperti kegiatan-kegiatan aksi lingkungan sebagai program kerja dari sekolah adiwiyata SMA Negeri 5 Jember. Pengaplikasian materi ekstrakurikuler yang dihubungkan dengan lingkungan dapat dikaitkan dengan masalah-masalah yang ada pada mata pelajaran di sekolah. Dari ekskul tersebut guru dan siswa dapat bersinergi untuk meningkatkan kebiasaan yang berwawasan lingkungan dan pendidikan. Selanjutnya, adapun mengenai tentang faktor-faktor penghambat dalam menerapkan sekolah adiwiyata dengan lingkungan belajar yang kondusif bagi peserta didik di SMA Negeri 5 Jember, antara lain : Kurang adanya kesadaran diri dalam menjaga lingkungan Masih ada banyak warga masyarakat SMA Negeri 5 Jember yang akan kurangnnya kesadaran diri dalam menjaga lingkungan. Sampah sulit untuk ditertibkan Di SMA Negeri 5 Jember terdapat 3 bagian tempat sampah, dari tempat sampah yang organic, non-organic, dan bersifat basah. Tempat sampah ini mengajarkan masyarakat SMA Negeri 5 Jember dalam memilah pembuangan sampah yang tepat dan sesuai jenisnya. Tetapi masih banyak warga masyarakat sekolah yang belum melakukan secara teratur tertib. Pembelajaran daring selama pandemic Dengan berjalannya pembelajaran secara daring yang di ikuti oleh siswasiswi di SMA Negeri 5 Jember membuat suasana belajar tidaklah kondusif selain fasilitas yang kurang melengkapi tidak adanya sinyal juga menjadi salah satu penghambat dalam berjalannya pembelajaran secara online. Dengan adanya pembelajaran secara online atau yang biasa kita sebut pembelajaran daring juga menjadi faktor penghambat utama dalam melaksanakan kegiatan program kerja sekolah adiwiyata yang ada di ekstrakurikuler pramuka lingkungan hidup. Karena kegitan tersebut biasa dilakukan di lingkungan sekolah yang tidak memungkinkan siswa siswi yang sedang melakukan pembelajaran secara daring di rumah. Dari apa yang telah dipaparkan diatas bahwasanya, faktor pendukung bisa menjadi aspek yang diperlukan untuk kelangsungan sekolah adiwiyata lingkungan hidup. Dikarenakan faktor-faktor tersebut yang menjadi salah satu eksistensi adiwiyata di sekolah MANAJEMEN SEKOLAH ADIWIYATA DALAM MEMBANGUN BUDAYA DAN LINGKUNGAN BELAJAR KONDUSIF PESERTA DIDIK Shabrina Ratu Alam Shufiatuddin Dengan adanya faktor pendukung menjadikan siswa lebih nyaman dalam belajar di Siswa dapat ilmu mengenai tentang budaya dan lingkungan belajar secara kondusif dsn nyaman. Sehingga siswa mendapatkan ilmu tidak hanya mata pelajaran yang disampaikan dari kurikulum tetapi juga mendapatkan ilmu mengenai tentang menjaga kelestarian lingkungan. Sedangkan dalam faktor-faktor penghambat yang ada di SMA Negeri 5 Jember dalam membangun budaya lingkungan belajar kondusif bagi peserta didik menjadikan ketidakstabilan sekolah adiwiyata yang ada di sekolah ini. Sehingga solusi dari faktor penghambat ini yaitu perlu adanya perhatian lebih dari warga sekolah dalam kepedulian Perlu adanya juga dalam kedisiplinan dan arahan mengenai tentang pembuangan sampah sesuai dengan jenis tempat sampahnya. Untuk mengenai pembelajaran secara daring sudah beralih menjadi sekolah tatap muka atau offline. Sehingga kegiatan yang sebelumnya terhambat dikarenakan pandemic sudah mulai bisa secara bertahap untuk melakukan kegiatan pembelajaran ataupun ekstrakurikuler pramuka di sekolah dengan baik dan nyaman. Dampak Sekolah Adiwiyata Bagi SMA Negeri 5 Jember Dampak merupakan suatu kondisi yang dimana adanya hubungan sebab dan akibat diantara mempengaruhi dengan apa yang dipengaruhi. Dampak juga meiliki sisi positif dan juga sisi negative. Hal ini tentunya sesuai dengan program kerja Adiwiyata di SMA Negeri 5 Jember yang tentunya akan membawa dampak pengaruh yang positif terhadap berkembangnya sekolah ini. Dengan adanya program Adiwiyata di SMA Negeri 5 Jember telah merubaha keuntungan atau manfaat yang sudah diperoleh sekolah dan dirasakan oleh seluruh warga Adapun beberapa keuntungan yang telah dirasakan yaitu seperti peduli lingkungan bagi semua warga sekolah, terbentuknya kebersamaan dan kerjasama bagi seluruh warga sekolah dalam menjaga lingkungan, meningkatkan efektifitas dan efisiensi terhadap pelaksanaan kegiatan operasional sekolah, dan lain sebagainya. Dampak-dampak inilah yang dapat menjadi penungjang sekolah menjadi lebih berwawasan dan aktif dalam menjaga lingkungan maupun dari segi akademis maupun non Sebelum adanya program sekolah adiwiyata di SMA Negeri 5 Jember, sekolah ini sangatlah minim akan kesadaran terhadap peduli lingkungan, khususnya bagi peserta didik. Namun pada tahun 2006 sekolah ini memulai untuk menerapkan akan adanya lingkungan yang lebih baik, bersih, dan nyaman dengan menciptakan suatu program sekolah adiwiyata. Sehingga sudah terbiasa dengan penerapan yang dilakukan secara disiplin dan maksimal, maka sekolah ini memiliki dampak yang positif dan mampu membawa sekolah dengan prestasi yang unggul akan lingkungan sekolah adiwiyatanya. Oleh karena itu pimpinan mengeluarkan kebijakan untuk selalu menjaga dan melestarikan lingkungan yang sudah ada bahkan meningkatkan segala komponen penunjang kegiatan Adiwiyata di SMA Negeri 5 Jember. Selain itu juga dengan membentuk suatu kelompok ekstrakurikuler Pramuka Lingkungan Hidup. Kelompok ini beranggotakan siswa-siswi kelas X dan XI disertai dengan beberapa guru pendamping yang bertanggung jawab mengenai Sekolah Adiwiyata. Selain itu juga ada penyisipan pengetahuan pada saat jam pembelajaran di kelas dan juga sering dilaksanakan. SIMPULAN SIMPULAN Ulul Amri: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. No. Berdasarkan hasil penelitian mengenai Manajemen Sekolah Adiwiyata di SMA Negeri 5 Jember berfokus pada penggunaan sumber daya secara efektif dan efisien melalui program ekstrakurikuler seperti Pramuka Lingkungan Hidup dan kebijakan hemat energi serta pengelolaan sampah. Kegiatan partisipatif seperti JumAoat Bersih dan workshop dengan sekolah lain mendukung implementasi ini. Faktor pendukung utama termasuk kerjasama tim sekolah dan penggunaan media ramah lingkungan, sedangkan penghambatnya mencakup kurangnya dana, kesadaran lingkungan yang rendah di kalangan siswa, tantangan pengelolaan sampah, dan hambatan dari pembelajaran daring selama pandemi COVID-19. Dampak positif dari program ini meliputi peningkatan kepedulian lingkungan di kalangan warga sekolah, terbentuknya kebersamaan dan kerjasama, serta peningkatan efektivitas dan efisiensi kegiatan belajar mengajar, dengan sekolah juga meraih penghargaan Penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun ada tantangan, penerapan manajemen Sekolah Adiwiyata di SMA Negeri 5 Jember memberikan kontribusi signifikan terhadap kesadaran lingkungan dan efisiensi pendidikan. REFERENSI