Proceeding 1st International Conference on Pesantren and Islamic Studies Vol. 01 No. : 273-287 Available online at http://jurnal. com/index. Pengenalan Ciptaan Allah melalui Pop-up bagi Anak Usia Dini Dewi Pratiwi1. Aliva Rosdiana2. Sania Maulida3 1 PGPAUD. UNISNU Jepara 2 PBI. UNISNU Jepara 3PGPAUD. UNISNU Jepara Email: dewi@unisnu. id1, alivarosdiana@unisnu. id2, 221340000247@unisnu. Received: April 2024 DOI: Accepted: June 2024 Published: Juli 2024 Abstract : The importance of religious learning for early childhood education (PAUD) is to educate children to believe in the existence of the Creator and grow their spiritual potential in learning. Pop-Up as an educational teaching aid with the theme Protect Nature is designed to develop students' way of learning to make it interesting. Besides. APE is an alternative media for answering children's questions that cannot be found in regular books. The aim of this research is to create a meaningful learning experience for children through Pop-Up media with the theme Protect Nature to believe in the existence of Allah SWT as the Creator through His creation. The research method applied is descriptive qualitative with stages of planning, implementation and evaluation of the application of Pop-up media in learning. This research was implemented at Pertiwi Dersalam 2 Bae Kudus Kindergarten from April to May 2024 in early childhood thematic literacy learning. The results of the research illustrates that teacher and student interaction is established when students are able to explain simply by mentioning the Creator and His creation through the presentation of pop-up images that appear in motion providing a meaningful experience for students. Keywords: Pop-Up book, early childhood. GodAos Creation Abstrak: Pentingnya pengenalan agama bagi pendidikan anak usia dini adalah untuk memberikan dasar ilmu agar mereka meyakini adanya Sang Pencipta dan menumbuhkan potensi spiritualnya di dalam pembelajaran. Alat Peraga Edukatif (APE) Pop-Up bertemakan Lindungi Alam dirancang untuk mengembangkan cara belajar anak agar lebih menarik. Selain itu. APE ini merupakan media alternatif untuk menjawab pertanyaan anak yang tak bisa ditemukan dalam media buku biasa. Tujuan penelitian ini adalah untuk menciptakan pengalaman belajar yang bermakna bagi anak melalui APE Pop-Up bertemakan Lindungi Alam untuk meyakini adanya Allah SWT sebagai Sang Pencipta melalui ciptaanNya. Metode penelitian yang diterapkan adalah kualitatif deskriptif yang membahas secara menyeluruh terkait perencanaan, penerapan hingga evaluasi penerapan media Pop-up. Data diperoleh dari observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penelitian ini dilaksanakan di TK Pertiwi Dersalam Bae Kudus pada bulan April hingga Mei 2024 dengan subjek penelitian kelas B yang berjumlah 25 anak. Penelitian ini dilakukan untuk menjawab pertanyaan bagaimana kelayakan APE Pop-Up pada pembelajaran tematik anak usia Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi guru dan anak terjalin ketika anak mampu menjelaskan secara sederhana dengan menyebutkan Sang Pencipta serta ciptaanNya melalui sajian gambar pop-up yang muncul bergerak memberikan pengalaman bermakna bagi anak. Proceeding 1st International Conference on Pesantren and Islamic Studies Vol. 01 No. : 273-287 Kata Kunci: buku pop up, anak usia dini, ciptaan Tuhan PENDAHULUAN Pengenalan konsep Tuhan (MaAorifatulla. bagi anak usia dini merupakan fondasi utama dalam menstimulasi perkembangan spiritual anak (Subandi. Konsep ini diawali dengan mengenal ciptaan Tuhan secara konkrit sebelum anak mengenal Tuhan, yakni Allah SWT, secara abstrak. Secara teori, menurut John Locke, anak dipercaya memiliki fitrah berupa tabularasa dengan potensi Tauhid dan potensi dasar lainnya yang bisa dikembangkan melalui pendidikan Islam (Hasanah, 2. (Jasuri, 2. Peran orang tua, guru, serta lingkungan berpengaruh terhadap cara pembelajaran anak mengenal Allah SWT melalui contoh teladan dalam praktik kehidupan sehari-sehari. Peran guru di sekolah, salah satunya, mengajarkan kepada anak usia dini tentang mengenal Allah SWT melalui ciptaanNya. Salah satu cara mengenalkan ciptaan Tuhan adalah melalui alam. Alam merepresentasikan wujud Tuhan yang dikenalkan kepada siswa usia dini melalui pembelajaran dengan media PopUp. Tujuan penelitian ini adalah untuk menciptakan pengalaman belajar yang bermakna bagi anak melalui APE Pop-Up bertemakan Lindungi Alam untuk meyakini adanya Allah SWT sebagai Sang Pencipta melalui ciptaanNya. Pembelajaran dengan media Pop-Up pada anak usia dini disesuaikan dengan tahap perkembangan usianya dengan mengintegrasikan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik agar pembelajaran menjadi optimal (Darmawan & Abdullah. Kurangnya pemerolehan pelatihan bagi guru menjadi kendala bagi sumber daya manusia (SDM) untuk mengembangkan kegiatan ide kreatif dalam pengajaran di TK Pertiwi Dersalam BAE Kudus. Selain itu, media pembelajaran yang digunakan juga terbatas sehingga perkembangan anak untuk mengkreasikan ide terkendala. Hal ini disampaikan oleh Kepala Sekolah TK Pertiwi Dersalam BAE Kudus. Amalia Naimatul Khusna. Pd. Berdasarkan kendala tersebut, masalah utama yang ditemukan adalah kurangnya penggunaan media kreatif pembelajaran di kelas, sehingga peneliti berinisiatif membuat media pembelajaran Pop-Up bagi pendidikan anak usia dini (PAUD). Studi mengenalkan ciptaan Allah SWT telah dibahas oleh para penulis sebelumnya baik melalui Asmaul Husna (Laranti. Rusijono, & Maureen, 2. sebagai bentuk keimanan Allah yang diterapkan ke dalam media pembelajaran (Waruwu, 2. , melalui media visual (Aminah, 2. , melalui video interaktif (Putri. Muqadas, & Maranatha, 2. , media story-telling (Qurbani. Oktrima, & Tanjung, 2. , lagu (Amini & Wati, 2. , lingkungan alam (Rochanah, 2. , dan lain-lain. Media pembelajaran yang digunakan untuk mengenalkan Allah SWT melalui ciptaanNya memberikan inspirasi peneliti menggunakan media Pop-Up sebagai media pembelajaran bagi anak usia dini sebab bentuk tiga dimensi pada media ini menghasilkan gerakan dan visualisasi menarik untuk meningkatkan pemahaman anak terhadap materi. Media Pop-Up telah menjadi diskusi menarik bagi beberapa penulis sebagai media pembelajaran inovatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa (Setiyaningrum, 2. (Izzah & Setiawan, 2. (Fajriah. Sadiah, & Setiabudi. Proceeding 1st International Conference on Pesantren and Islamic Studies Vol. 01 No. : 273-287 Available online at http://jurnal. com/index. (Winda. Pangestu, & Malaikosa, 2. (Pertiwi & Fitria, 2. secara kognitif (Nengsi. Munandar, & Junita, 2. melalui metode menyimak (Putri. Pratjojo, & Wijayanti, 2. Secara tematik di tingkat sekolah dasar, media popup telah dikembangkan oleh peneliti untuk mengenalkan kearifan lokal (Nabila. Adha, & Febriandi, 2. dan pembelajaran lingkungan tempat tinggalku (Dewanti. Toenlio, & Soepriyanto, 2. sebagai bagian dari materi Selain itu, media pop-up juga diterapkan pada pembelajaran materi IPAS (Kamila & Sukartono, 2. (Resta & Kodri, 2. PKN (Erica & Sukmawarti, 2. , ekonomi (Sultan. Shasliani, & Sudirman, 2. , bahasa Indonesia (Rahmatilah. Hidayat, & Apriliya, 2. , sejarah (Purmintasari & PU, 2. , dan sebagainya. Kebaruan penelitian ini dibandingkan penelitian sebelumnya adalah penggunaan media pop-up bagi anak usia dini tidak banyak diterapkan pada studi sebelumnya terutama sebagai media untuk mengenalkan ciptaan Allah berbasis alam semesta. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif meliputi perencanaan, penerapan hingga evaluasi penerapan media Pop-Up. Pendidikan agama bagi anak usia dini merupakan aspek penting bagi pengembangan karakter yang bisa diterapkan melalui tahapan internalisasi nilai, yakni informasi moral, keyakinan moral, sikap moral, nilai moral, kepribadian moral, dan jati diri moral. Penyampaian informasi nilai ini akan mempengaruhi keyakinan . bagi penerimanya secara kognitif, mempengaruhi sikap secara afektif, dan mempengaruhi prinsip hidup islami sebagai pondasi toleransi dalam berinteraksi (Somad, 2. secara psikomotorik dalam taksonomi Bloom. Penelitian tentang kreativitas anak dalam praktik finger painting pada penelitian sebelumnya memberikan pengalaman yang sama dalam penerapan media Pop-Up berbasis literasi bagi anak usia dini yakni memberikan kreativitas dan daya kritis peserta didik (Rosdiana & Pratiwi, 2. Hasil penerapan media Pop-Up ini mampu menstimulasi kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor anak sehingga memicu kreativitas anak dengan pemikiran kritisnya memberikan pengalaman anak untuk menjelaskan secara sederhana dengan menyebutkan Sang Pencipta serta ciptaanNya melalui sajian gambar pop-up yang muncul bergerak memberikan pengalaman bermakna bagi anak. Media ini juga mampu menciptakan interaksi guru dan anak dalam proses belajar mengajar. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang diterapkan adalah kualitatif deskriptif. Metode penelitian kualitatif deskriptif adalah pendekatan yang digunakan untuk memahami dan menggambarkan fenomena secara mendalam dengan mengumpulkan data dalam bentuk kata-kata, gambar, atau bahan non-angka Tujuan utamanya adalah untuk memberikan deskripsi yang rinci dan mendalam tentang karakteristik, proses secara menyeluruh terkait perencanaan, penerapan hingga evaluasi penerapan media Pop-up. Berikut ini adalah tahapan penelitian kualitatif deskriptif (Fadli, 2. Proceeding 1st International Conference on Pesantren and Islamic Studies Vol. 01 No. : 273-287 Available online at http://jurnal. com/index. Identifikasi Masalah Literature Review Tujuan Penelitian Pengumpulan Data Interpretasi Data Pelaporan Gambar 1. Tahapan Penelitian Kualitatif Data diperoleh dari observasi, wawancara, dan dokumentasi. Selanjutnya peneliti melakukan analisa data menggunakan teknik triangulasi Teknik ini merupakan pendekatan yang menggunakan beberapa metode pengumpulan data atau sumber data untuk memperkuat keabsahan temuan dalam penelitian. Pendekatan ini bertujuan untuk mengatasi kelemahan atau bias yang muncul dalam satu metode pengumpulan data dengan membandingkan dan memverifikasi temuan melalui data-data yang berasal dari sumber yang berbeda. Subjek penelitian adalah kelompok B TK Pertiwi Dersalam Bae Kudus yang berjumlah 25 anak. Pelaksanaannya berlangsung pada bulan April hingga Mei 2024 melalui kegiatan pembelajaran secara klasikal yang diselenggarakan oleh guru kelas. HASIL DAN PEMBAHASAN Setelah peneliti melakukan identifikasi masalah di TK Pertiwi Dersalam BAE Kudus ditemukan bahwa guru belum pernah memperoleh pelatihan pendidikan, khususnya praktik pembelajaran, dan keterbatasan media pembelajaran di sekolah. Pembuatan media Pop-Up dengan tema Lindungi Alam diujicobakan kepada 29 anak di TK Pertiwi Dersalam BAE Kudus berdasarkan 3 aspek perkembangan yakni spiritual, emosional dan kognitif. Anak usia dini dipersiapkan untuk menjadi manusia dewasa yang mempunyai kesiapan mental dan spiritual yang baik dalam menghadapai tantangan zaman. Kematangan spiritual akan membentuk jati diri mereka menjadi individu yang bermartabat. Pada masa anak inilah saat yang tepat memberikan pondasi keyakinan bagi mereka. Anak-anak berkembang melalui kegiatan bermain yang dilakukannya setiap hari. Maka melalui bermain ini pula keyakinan akan ciptaan Tuhan dikenalkan dan dikuatkan. Masa anak usia dini adalah masa penting bagi mereka dalam menerima bermacam stimulasi untuk mengenal lingkungan. Mereka mampu menerima bermacam informasi dalam waktu singkat kemudian menyimpannya dalam Pola pikir pun terus berkembang setiap saat melalui gerak, interaksi dengan lingkungan bahkan berpikir tanpa mereka sadari. Proceeding 1st International Conference on Pesantren and Islamic Studies Vol. 01 No. : 273-287 Available online at http://jurnal. com/index. Perencanaan Konsep kegiatan pengenalan ciptaan Tuhan melalui pop-up unutk anak usia dini ini dirancang ke dalam 3 tahap yakni perencanaan, pelaksanaan dan Penelitian dimulai dari perencanaan. Tahap ini dilaksanakan dengan membuat rencana pembelajaran (RPPH) dan lembar evaluasi yang disiapkan oleh pendidik. Pada RPPH dicantumkan adanya kegiatan yang menggunakan media Pop-up dan tujuannya dengan tema "Lindungi Alam". Gambar 2. Media buku pop up tema Lindungi Alam Perencanaan adalah tahap penting dalam suatu kegiatan pembelajaran agar pelaksanaan lebih sistematis dan mampu mencapai tujuan. Kejelasan setiap poin pada perencanaan pun akan menentukan tingkat keberhasilan pencapaian tujuan sehingga pembelajaran lebih bermakna. Melalui tahap ini guru mampu menyiapkan kegiatan yang terancang dengan baik agar anakanak menyelesaian kegiatan secara terstruktur. Isi RPPH harus sesuai dengan pedoman kurikulum yang telah dibuat TK Pertiwi 2 Dersalam telah menerapkan Kurikulum Merdeka pada kegiatan pembelajaran. RPPH memuat nama kegiatan, tujuan pembelajaran, media yang digunakan, tahapan kegiatan dan rencana penilaian. Guru mengenalkan ciptaan Tuhan melalui isi pop up kepada anak. Pada proses itu anak diajak diskusi tentang gambar-gambar yang ada di dalamnya. Antusiasme anak-anak disurvei dan dirangkum dalam tabel instrumen pengenalan ciptaan Tuhan melalui pop up. Instrumen ini digunakan sebagai pedoman bagi guru untuk membimbing anak untuk berlatih. Ada delapan indikator dalam instrumen ini, yaitu mengamati dan mengenal keindahan alam, interaksi positif dengan makhluk hidup, ekspresi keindahan alam, keterlibatan aktivitas berbasis alam, pemahaman dasar penciptaan, perilaku peduli lingkungan dan ekspresi rasa syukur. Kemampuan anak dinilai menjadi dua kalsifikasi yaitu muncul (M) dan belum muncul (BM). Proceeding 1st International Conference on Pesantren and Islamic Studies Vol. 01 No. : 273-287 Available online at http://jurnal. com/index. Mengamati danA Interaksi positif denganA Ekspresi keindahan alam Keterlibatan aktivitasA Mengaitkan kisah religiusA Pemahaman dasarA Perilaku peduli lingkungan Ekspresi rasa syukur 0 M 5 BM 10 Gambar 3. Preferensi anak selama kegiatan menggunakan buku Pop Up Pelaksanaan Pelaksanaan pembelajaran dirumuskan melalui tiga kegiatan yakni pembukaan, kegiatan inti dan recalling. Pembukaan adalah bagian sangat penting dalam kegiatan belajar anak sebelum masuk pada kegiatan inti. Pembukaan atau disebut dengan kegiatan apersepsi ialah kegiatan yang diisi oleh guru untuk memberikan stimulasi awal dan mengatur anak agar siap belajar sesuai materi yang akan diberikan. Guru dapat menggali pengalaman anak terkait tema dengan kalimat-kalimat pemantik yang mengajak anak untuk berfikir kritis. Hal ini juga dilakukan untuk merangsang rasa ingin tahu dan memotivasi anak untuk lebih semangat dalam belajar. Sebelum menggunakanan pop-up dalam pembelajaran guru mengenalkan buku pop-up melalui video kegiatan belajar poo up di you tube. Video adalah media yang efektif untuk menarik perhatian anak karena melibatkan 2 indera sekaligus yakni indera penglihatan dna indera Anak-anak akan menyimak dengan semangat karena adanya gerakan visual dan audio yang menarik karena dirancang khusus untuk anak. Video ini bertujuan untuk memancing rasa ingin tahu mereka terhadap buku pop-up. Anak-anak akan semakin ingin tahu bagaimana bentuknya dan bagaimana cara memainkannya. Melalui video pop-up tersebut anak-anak dilatih untuk menyimak isi video dengan cermat. Kegiatan menyimak ini membutuhkan konsentrasi yang baik agar mereka mampu memahami pesan atau isi dari video tersebut. Tujuan lain dari menampilkan video adalah merangsang kemampuan anak dalam menanggapi video sehingga mereka mampu menyampaikan idenya dengan cara yang baik dan benar. Mereka pun melontarkan pertanyaan karena rasa ingin tahu yang terstimulasi. Sehingga apersepsi dengan menyimak video kegiatan belajar pop-up ini dapat menjadi diskusi yang menarik. Pada apersepsi ini guru mengobservasi ketertarikan anak terhadap kegiatan belajar menggunakan pop-up. Bagi anak yang terlihat pasif karena tidak mau menonton video atau tidak bertanya, guru dapat memberikan pertanyaan yang bersifat menarik minat anak atau menanyakan kenapa kepada Proceeding 1st International Conference on Pesantren and Islamic Studies Vol. 01 No. : 273-287 Available online at http://jurnal. com/index. mereka penyebab hal itu. Ketertarikan anak dapat dilihat dengan mudah melalui respon mereka sejak video pembelajaran pertama kali ditampilkan. Sebagai media belajar video kegiatan menggunakan buku pop-up untuk anak ini mampu menarik perhatian mereka, meningkatkan semangat belajar dan mengembangkan minat dalam beraktivitas. Ketika video telah selesai, guru melanjutkan kegiatan dengan mengajak anak berdiskusi terkait video. Guru memulai diskusi dengan membahas isi video, memberikan pertanyaan terkait video atau memberikan kesempatan kepada anak untuk menceritakan apa yang sudah mereka simak. Namun, perlu diingat guru harus memberikan aturan yang jelas tentang diskusi ini agar kelas tetap kondusif dan anak belajar tertib. Mulai dari kegiatan menyimak, diskusi maupun bercerita anak-anak harus taat aturan. Guru secara aktif mengajak anak melakukan kegiatan tanya jawab secara Anak-anak belajar melalui bermain dan eksplorasi, sehingga aktivitas yang melibatkan alam, seperti berkebun atau mengamati hewan, sangat efektif untuk mengenalkan mereka pada ciptaan Tuhan. Menurut Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget, anak usia dini berada dalam tahap praoperasional . -7 tahu. , di mana mereka mulai menggunakan simbol-simbol untuk merepresentasikan objek dan pengalaman. Dalam konteks pengenalan ciptaan Tuhan, anak-anak pada tahap ini mulai memahami konsep-konsep dasar tentang alam dan penciptaan melalui pengalaman langsung dan ceritacerita yang disampaikan kepada mereka. Dalam konteks pengenalan ciptaan Tuhan guru dapat memberikan bimbingan dan dukungan saat anak-anak mengeksplorasi dan belajar tentang Diskusi dan tanya jawab tentang ciptaan Tuhan bisa membantu anakanak membangun pemahaman yang lebih mendalam. Diskusi akan menjadi lebih menarik dengan adanya bantuan media seperti buku pop-up yang memberikan dukungan visual untuk anak. Sejalan dengan teori Konstruktivisme yang dikemukakan oleh Lev Vygotsky menekankan pentingnya interaksi sosial dan budaya dalam perkembangan kognitif anak. memperkenalkan konsep "zona perkembangan proksimal," yaitu jarak antara apa yang dapat dilakukan anak secara mandiri dan apa yang dapat mereka lakukan dengan bantuan orang dewasa atau teman sebaya. Hubungannya dengan pengenalan ciptaan Tuhan adalah guru menjadi fasilitator dalam mendampingi belajar anak dengan menyediakan media pembelajaran. Ada teori belajar sosial Albert Bandura yang erat kaitannya dengan kegiatan pengenalan Tuhan kepada anak usia dini. Bandura menekankan pentingnya observasi, imitasi, dan modeling dalam pembelajaran. Anak-anak belajar banyak dari mengamati dan meniru perilaku orang dewasa dan teman Dalam pengenalan ciptaan Tuhan, orang tua dan pendidik dapat menjadi teladan dengan menunjukkan sikap hormat dan rasa syukur terhadap alam, serta mengajak anak-anak terlibat dalam aktivitas yang menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan. Anak adalah peniru ulung, sehingga apa yang mereka liat dan mereka dengarlah yang akan mereka lakukan. Maka dengan memberikan contoh yang baik anak-anak pun akan melakukan hal yang baik. Proceeding 1st International Conference on Pesantren and Islamic Studies Vol. 01 No. : 273-287 Available online at http://jurnal. com/index. Selain teori di atas pendekatan pembelajaran secara holistik juga dapat diimplimentasikan dalam kegiatan pembelajaran pengenalan ciptaan Tuhan. Pendidikan holistik berfokus pada perkembangan menyeluruh anak, termasuk aspek kognitif, emosional, sosial, fisik, dan spiritual. Pengenalan ciptaan Tuhan dapat menjadi bagian integral dari pendidikan holistik, di mana anak-anak diajak untuk merasakan keajaiban alam dan menghargai ciptaan Tuhan sebagai bagian dari perkembangan spiritual mereka. Pendekatan ini dapat diterapkan melalui kegiatan sehari-hari yang melibatkan anak-anak dalam eksplorasi alam, bercerita, seni, dan aktivitas berbasis lingkungan. Pendekatan ini membantu anak-anak mengembangkan rasa hormat, keingintahuan, dan penghargaan terhadap ciptaan Tuhan, serta membentuk dasar moral dan spiritual yang kuat Kegiatan inti pembelajaran di TK menggunakan buku pop-up tema "Lindungi Alam" diarahkan untuk mengenalkan ciptaan Tuhan kepada anakanak. Menceritakan isi buku dari awal dengan diksi yang mudah dimengerti anak dan intonasi yang berbeda di setiap kalimat akan menarik minat anak dalam menyimak. Guru bisa memulai dengan membacakan teks yang ada pada buku pop-up kemudian dikembangkan dengan bahasa sehari-hari terkait makhluk yang diciptakan oleh Tuhan. Karena teks yang ada di dalam buku pop-up tidak banyak, guru dapat melakukan improvisasi dengan menjelaskan setiap detail gambar. Gambar-gambar pada pop-up didesain penuh warna dan dipasang dengan posisi berdiri seolah-olah hidup. Guru bisa menunjukkan kepada anak-anak berbagai aspek alam seperti hutan, laut, atau gunung. Dalam kegiatan tersebut guru dapat menjelaskan bagaimana ciptaan Tuhan ini perlu dijaga dan dilestarikan. Untuk memberikan gambaran nyata tentang pentingnya menjaga dan melestarikan alam guru dapat menyontohkan banyaknya bencana alam akibat lingkungan yang rusak. Untuk mencegah bencana yang semakin besar atau mengurangi frekuensi bencana anak usia dini dapat diberikan pemahaman untuk menjaga lingkungan dimapuan dan kapanpun ia berada. Pemahaman anak dalam mengenal ciptaan Tuhan perlu untuk diukur dengan instrumen yang memuat indikator kompetensi pengenalan ciptaan Tuhan. Setiap item indikator menjadi parameter atau tanda-tanda yang menunjukkan sejauh mana anak-anak mengenali, memahami, dan menghargai berbagai ciptaan Tuhan dalam lingkungan mereka. Indikator-indikator ini untuk mengembangkan aspek spiritual, emosional, dan kognitif anak-anak (Ghina, 2. (Patiung. Ismawati. Herawati, & Ramadani, 2. Tabel 1. Indikator Pengenalan Ciptaan Tuhan No. Aspek Perkembangan Spiritual Indikator Ekspresi rasa syukur Perilaku peduli Pemahaman dasar tentang penciptaan Mengaitkan kisahkisah religius dengan Deskripsi Penilaian Belum Muncul Muncul Tidak Mengucapkan Menjaga kebersihan Abai terhadap Mengerti pencipta suatu benda Tidak mengerti Mengerti kaitan siapa pencipta suatu kisal religius dengan alam Proceeding 1st International Conference on Pesantren and Islamic Studies Vol. 01 No. : 273-287 Available online at http://jurnal. com/index. Emosional Keterlibatan anak dalam aktivitas berbasis alam Kreativitas anak keindahan alam Interaksi positif dengan makhluk Kognitif Mengamati dan mengenali keindahan Belum mengerti kaitan kisal religius dengan alam Pasif mengikuti aktivitas berbasis Tidak mampu keindahan alam melalui karya Tidak interaksi positif dengan makhluk Mengabaikan keindahan alam Anak aktif dalam aktivitas berbasis Mampu keindahan alam melalui karya Menunjukkan interaksi positif dengan makhluk Menunjukkan sikap mengamati dan mengenali keindahan Indikator pertama yang dapat menjadi tanda kemampuan anak dalam mengenal ciptaan Tuhan adalah mengamati dan mengenali keindahan alam. Anak-anak mampu mengamati berbagai elemen alam seperti tanaman, hewan, dan fenomena alam . atahari, bulan, bintan. Mereka bisa menyebutkan nama-nama hewan, jenis-jenis tumbuhan, dan mengenali fenomena cuaca. Memberikan kesempatan kepada anak untuk menceritakan pengalaman pribadi dapat mengembangkan kemampuan berfikir, daya ingat dan mengungkapkan ide. Begitupun anak-anak lain yang mendengar cerita, mereka dapat menambah pengetahuan melalui pengalaman oran lain. Ekspresi rasa syukur pun menjadi indikator pemahaman anak dalam mengenal ciptaan Tuhan. Mereka menunjukkan rasa syukur atas ciptaan Tuhan melalui ucapan, doa, atau nyanyian. Ungkapan rasa kagum dan terima kasih atas keindahan dan keberagaman alam dengan kalimat sederhana dapat menajdi tanda mereka mengerti bahwa Tuhan adalah yang menciptakan alam. Hal ini sangat penting agar anak terbiasa mengagungkan Tuhan sebagai Sang Pencipta. Melalui media buku pop-up guru dapat mengajarkan perilaku peduli Kepedulian terhadap lingkungan harus dikenalkan dan dibiasakan sedini mungkin. Karakter ini dapat ditunjukkan melalui perilaku peduli terhadap lingkungan, seperti tidak merusak tanaman, menjaga kebersihan, dan memberikan makan hewan. Kebiasaan sederhana ini akan memberikan dampak besar sampai kelak anak dewasa. Hal ini mencerminkan pemahaman bahwa alam adalah ciptaan Tuhan yang harus dijaga dan dilestarikan. Indikator kemampuan mengenal ciptaan Tuhan berikutnya dapat dilihat dari pemahaman dasar tentang penciptaan. Jika anak belum memiliki pemahaman dasar bahwa dunia dan semua isinya adalah ciptaan Tuhan maka guru harus menyampaikan dengan jelas agar mereka mudah mengearti. Melaui media belajar buku pop penjelasan guru akan lebih mudah dipahami anak karena memberikan contoh langsung berupa gambar dengan warna dna bentuk Proceeding 1st International Conference on Pesantren and Islamic Studies Vol. 01 No. : 273-287 Available online at http://jurnal. com/index. yang menarik. Selanjutnya diharapkan mereka bisa merespon pertanyaan sederhana melalui diskusi atau permainan tentang siapa yang menciptakan alam semesta. Pop-up adalah media yang lebih banyak digunakan di dalam ruangan, tetapi kemampuan mengenal ciptaan Tuhan dapat diukur dari keterlibatan anak dalam aktivitas berbasis alam. Isi dari buku pop-up mengajak anak-anak terlibat dalam kegiatan yang mengenalkan mereka pada ciptaan Tuhan, seperti berkebun, berkemah, atau mengunjungi kebun binatang. Meskipun mereka tidak bisa mempraktikannya secara langsung mereka mempunyai pengetahuan tentang hal tersebut yang mungkin suatu saat akan mereka lakukan. Melalui aktivitas seperti itu, mereka belajar tentang interaksi antara makhluk hidup dan Guru dapat menguatkan pemahaman konsep ciptaan Tuhan dengan cara mengaitkan kisah-kisah religius dengan alam melalui buku pop-up. Misalnya, mereka bisa menyelipkan kisah Nabi Nuh dan bahtera dengan menyebutkan hewan-hewan yang ada dalam cerita tersebut. Kreativitas anak dalam mengekspresikan keindahan alam dapat menjadi indikator pemahaman mengenal ciptaan Tuhan. Anak-anak mampu mengekspresikan keindahan ciptaan Tuhan melalui seni, seperti menggambar pemandangan atau bernyanyi tentang alam. Pembelajaran menggunakan buku pop-up dapat disleingi dengan kegiatan bernyanyi sebagai bentuk ekspresi dan metode mengenalkan ciptaan Tuhan sehingga pembelajaran lebih bermakna dan semakin menyenangkan. Indikator pemahaman pengenalan ciptaan Tuhan yang terakhir adalah interaksi positif dengan makhluk hidup. Pembelajaran dengan media buku pop-up memberikan pemahaman secara teoritis kepada anak. Namun, mereka dapat mengimplementasikan pengetahuannya tersebut ketika berada situasi yang tepat. Sebagai contoh anak-anak dapat menunjukkan sikap positif saat berinteraksi dengan makhluk hidup, baik manusia maupun hewan, sebagai bentuk penghargaan terhadap ciptaan Tuhan. Ketika proses pembelajaran mungkin mereka belum menunjukkan sikap tersebut, tetapi ketika setelah kegiatan atau ketika kegiatan yang lain yang berhubungan dengan makhluk hidup mereka dapat berperilaku baik. Kegiatan terkahir dalam pembelajaran adalah recalling. Guru dapat mengembangkan indikator-indikator pengenalan ciptaan Tuhan pada anak usia dini untuk membentuk fondasi spiritual dan etis yang kuat, mendorong rasa ingin tahu, serta mengembangkan kecintaan dan tanggung jawab terhadap alam sejak dini. Kegiatan recalling diisi dengan mengulas kembali apa saja yang sudah dilakukan anak dengan menjelaskan tujuan dari masing-masing kegiatan agar anak mampu memahami tujuan pembelajaran. Proceeding 1st International Conference on Pesantren and Islamic Studies Vol. 01 No. : 273-287 Available online at http://jurnal. com/index. Mengamati danA Interaksi positif denganA Ekspresi keindahan alam Keterlibatan aktivitasA Mengaitkan kisah religiusA Pemahaman dasarA Perilaku peduli lingkungan Ekspresi rasa syukur 0 M 5 BM Gambar 2. Peningkatan kemampuan mengenal cintaan Tuhan melalui buku Pop Up Evaluasi Evaluasi kegiatan pembelajaran menggunakan buku pop-up dengan tema "Lindungi Alam" di Taman Kanak-Kanak (TK) bertujuan untuk menilai efektivitas pembelajaran, pemahaman anak-anak, serta respons mereka terhadap metode pembelajaran yang interaktif dan visual ini. Berikut ini adalah penjelasan rinci tentang langkah-langkah evaluasi yang dilakukan. Capaian pembelajaran yang telah ditentukan menunjukkan adanya perencanaan pembelajaran yang sistematis. Pada indikator mengekspresikan rasa syukur anak dapat mengucap hamdalah tanpa diberi contoh dicapai oleh 27 anak yang sebelumnya hanya dicapai oleh 15 anak. Hal ini membuktikan bahwa mereka menyadari bahwa Tuhan lah yang meberikan segala fasilitas berupa alam dan isinya untuk manusia sehingga sepatutnya kita bersyukur. Rasa peduli lingkungan dibuktikan dengan kebiasaan baik membuang sampah pada tempat sampah. Anak-anak telah memahami pentingnya peduli lingkungan agar alam lestari dan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia dalam jangka waktu yang panjang. Mereka pun mengetahui agar tidak memetik bunga di taman atau pot sembarangan karena bunga-bunga itu dirawat dapat mempercantik lingkungan. Kepedulian terhadap lingkungan yang awalnya dicapai 10 anak menjadi 25 anak. Hal ini menunjukkan peningkatan yang sangat baik. Pemahaman dasar anak tentang penciptaan pun meningkat dari 10 anak menjadi 23 anak setelah mengikuti pembelajaran menggunakan buku pop-up tema "Lingungi Alam". Mereka dapat menyebutkan benda-benda ciptaan Tuhan dengan benar. Begitupun ketika diberi pilihan benda-benda selain ciptaan Tuhan mereka dapat menjelaskan dengan baik. Hal tersebut membuktikan mereka telah memenuhi capaian pembelajaran dengan tepat. Aspek nilai agama dan moral pada kagiatan pengenalan ciptaan Tuhan juga mengandung indikator kemampuan mengaitkan kisah-kisah religius dengan alam. Sebelum menggunakan buku pop up terdapat 7 anak yang mampu mencapai indikator tersebut. Namun, dengan penerapan media ini menjadi 17 anak. Anak dapat menceritakan pengalaman pribadi melalui Proceeding 1st International Conference on Pesantren and Islamic Studies Vol. 01 No. : 273-287 Available online at http://jurnal. com/index. kalimat sederhana tentang peristiwa keagamaan yang pernah mereka ikuti. Salah satu anak menceritakan bahwa dia pernah ikut ayahnya ziarah ke makam sunan Muria. Makam tersebut berada di gunung Muria di Kudus. Dia masih ingat betapa indahnya pemandangan yang dia lihat dari atas. Pembelajaran menggunakan pop-up ini pun meningkatkan kemampuan emosional anak. Hal ini diketahui melalui keterlibatan anak dalam aktivitas berbasis alam yang sebelum menggunakan buku pop up dicapai oleh 12 anak menjadi 20 anak. Penilaian anak usia dini dilakukan tidak hanya saat pembelajaran berlangsung. Suatu indikator dapat muncul pada dua atau lebih kegiatan yang berbeda. Indikator keterlibatan anak dalam aktivitas berbasis alam tidak muncul saat pembelajaran menggunakan media buku pop-up karena berlangsung di dalam kelas. Namun, anak terbukti aktif ketika mengikuti permainan menangkap ikan pada kegiatan outing class. Indikator selanjutnya adalah kreativitas anak dalam mengekspresikan keindahan alam dicapai oleh 22 anak yang sebelumnya hanya 11 anak. Anak mampu menggambarkan keindahan alam melalui kegiatan menggambar. Mereka mampu menciptakan hasil karya berupa gambar pemandangan sesuai kreativitas dan kemampuan mereka. Guru sengaja tidak menentukan apa yang harus dibuat sehingga anak dapat menggabr dengan bebas apa yang mereka inginkan atau imajinasi mereka. Hasil karya anak beraneka ragam, ada yang menggambar pantai, gunung, sungai, danau bahkan taman. Interaksi positif dengan makhluk hidup telah dicapai 22 anak yang dapat dilihat saat anak-anak bermain dengan kucing di lingkungan TK. Mereka memperlakukan kucing tersebut dengan sangat baik sebagai ungkapan kasing Mereka mengetahui bahwa kucing adalah makhluk hidup ciptaan Tuhan sama seperti manusia. Mereka tidak segan mengusap kepala kucing dan mengajaknya bermain. Penilaian mendeskripsikan keindahan alam melalui pengamatan dicapai oleh 20 anak. Hal yang dilakukan guru adalah mengajak ada keluar kelas. Anak-anak diminta mengamati langit saat itu. Selanjutnya beberapa anak menceritakan apa yang dilihat menggunakan kalimat sederhana. Mereka menjelaskan bentuk-bentuk awan dan keadaan langit dengan jelas dan mudah dipahami. Evaluasi kegiatan pembelajaran menggunakan buku pop-up dengan tema "Lindungi Alam" di TK mencakup perencanaan yang matang, pelaksanaan yang terstruktur, serta analisis dan pelaporan hasil yang Dengan metode evaluasi yang tepat, guru dapat menilai efektivitas buku pop-up sebagai alat pembelajaran dan meningkatkan kualitas pendidikan yang diberikan kepada anak-anak. KESIMPULAN Interaksi guru dan anak terjalin ketika anak mampu menjelaskan secara sederhana dengan menyebutkan Sang Pencipta serta ciptaanNya melalui sajian gambar pop-up yang muncul. Peningkatan pengenalan ciptaan Tuhan melalui buku pop up pada anal adalah mengekspresikan rasa syukur, perilaku peduli lingkungan, pemahaman dasar penciptaan, mengaitkan kisah religius dengan Proceeding 1st International Conference on Pesantren and Islamic Studies Vol. 01 No. : 273-287 Available online at http://jurnal. com/index. alamekspresi keindahan alam, interaksi positif dengan makhluk hidup dan mengamati dan mengenali keindahan alam. Hal ini memberikan pengalaman bermakna bagi anak. DAFTAR PUSTAKA