Vol 16 No. 2 September 2024 MEDICA MAJAPAHIT https://ejournal. id/index. php/MM KORELASI INDIKATOR PHBS DI TINGKAT RUMAH TANGGA DENGAN KEJADIAN DIARE 1,2,3 Diana Rahmawati1. Dwi Helynarti Syurandhari2. Arief Fardiansyah3 Program S1 Kesehatan Masyarakat Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Majapahit Mojokerto ABSTRACT Diarrhea is a disease characterized by defecation more than three times a day with changes in the form and consistency of loose stools which may be accompanied by vomiting or bloody stools. The purpose of this study was to determine the relationship between environmental indicators on the household PHBS concept, namely the use of clean water. CPTS behavior and the use of healthy latrines with the incidence of diarrhea in RW 02 Blandongan Village. Pasuruan City. The research method is a correlative descriptive using a contingent coefficient test to determine the correlation between variables. Retrieval of data using a questionnaire with a crosectional The number of samples is 148 respondents with random sampling. Based on the descriptive analysis, it was found that 17 families experienced diarrhea. Based on the correlation analysis, it is known that the strength of the relationship between the independent variables and the incidence of diarrhea is the dependent variable, namely the use of clean water has no significant correlation with very weak relationship strength (C = 0. CTPS behavior has a significant correlation with very moderate relationship strength (C = 0. and the use of healthy latrines did not have a significant correlation with very weak relationship strength (C = 0. The conclusion of this study is that the behavior of washing hands with soap and running water (CTPS) has a significant correlation with the incidence of diarrhea. While the use of clean water and the use of healthy latrines have no significant relationship with the incidence of diarrhea in RW 02 Blandongan Village. Pasuruan City Keywords: Diarrhea. Water. CTPS. Latrines. PENDAHULUAN Diare merupakan suatu penyakit yang terjadi ketika terdapat perubahan konsistensi feses. Seseorang dikatakan menderita diare apabila feses lebih berair dari biasanya, atau bila buang air besar tiga kali atau lebih, atau buang air besar yang berair tapi tidak berdarah dalam kurun waktu 24 jam (Depkes, 2. Diare termasuk dalam jenis Penyakit Menular (PM) dimana penyakit tersebut dapat menular dari satu orang ke orang lain dengan metode penularan tertentu. Indonesia, penyakit diare merupakan penyakit endemis potensial Kejadian Luar Biasa (KLB) yang sering disertai dengan kematian (Kemenkes2, 2. Data Global Burden Disease 2019 dari Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) menyebutkan bahwa selama periode 1990-2019, diare merupakan 3 besar penyakit yang berkontribusi menyebabkan kematian pada jenis Penyakit Menular (Kemenkes, 2. Pada kelompok usia anak-anak, penyakit diare merupakan penyebab kematian pertama pada balita (Riskesdas, 2. Vol 16 No. 2 September 2024 MEDICA MAJAPAHIT https://ejournal. id/index. php/MM Data Riskesdas tahun 2019 menyebutkan bahwa terdapat 314 kasus kematian pada balita usia 12-59 bulan yang diakibatkan oleh penyakit diare di Indonesia. Tingginya prevalensi kejadian diare juga berkaitan erat dengan tingginya angka Kejadian diare yang berulang pada bayi dan balita menyebabkan zat mikro dalam tubuh yang seharusnya digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita, habis untuk melawan infeksi yang berulang (Kemenkes, 2. Kejadian penyakit diare di Indoensia tidak hanya terjadi pada kelompok usia anak-anak. Pada kelompok semua umur, diketahui prevalensi penyakiit diare adalah sebesar 8%. Bahkan, prevalensi penyakit diare pada kelompok umur 75 tahun ke atas atau lansia juga termasuk tinggi yaitu sebesar 7% (Kemenkes, 2. Kejadian diare dipengaruhi banyak faktor diantaranya terkait kesehatan lingkungan atau sanitasi Hasil Riskesdas 2018 tentang proporsi rumah tangga berdasarkan penggunaan fasilitas buang air besar dengan target 100%. Rata Ae rata nasional perilaku buang air besar di jamban sebanyak 88,2%. Jawa Timur sebagai salah satu provinsi di Indonesia menduduki urutan ke 22 dengan penduduk berperilaku buang air besar di jamban yakni 72,3% dari beberapa provinsi yang ada di Indonesia (Kemenkes RI, 2. Kabupaten Pasuruan yang merupakan salah satu kabupaten yang berada di Jawa Timur dengan 24 kecamatan menduduki urutan ke 34 dari 38 kabupaten/kota yang ada di Jawa Timur. Dari data Dinas Kesehatan Kabupaten Pasuruan per Maret tahun 2023, jumlah rumah tangga yang buang air besar di area terbuka sebanyak 21. 628 KK dari 33 Puskesmas dengan jumlah KK seluruhnya 259 KK atau sekitar 4,64% KK yang berada di wilayah Kabupaten Pasuruan masih melakukan praktik buang air besar sembarangan. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Rumah Tangga (PHBS Rumah Tangg. adalah upaya memberdayakan anggota rumah tangga agar tau, mau dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat. PHBS Rumah Tangga merupakan sebuah konsep untuk menilai suatu keluarga tergolong keluarga sehat atau tidak sehat. Terdapat sepuluh indikator PHBS Rumah Tangga yang diterapkan oleh Kementerian Kesehatan untuk menilai rumah tangga sehat yaitu, . Persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan, . Pemberian ASI eksklusif, . Menimbang bayi dan balita secara berkala, . Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, . Menggunakan air bersih, . Menggunakan jamban sehat, . Memberantas jentik nyamuk, . Konsumsi buah dan sayur, . Melakukan aktifitas fisik setiap hari dan . Tidak merokok di dalam rumah. Dari sepuluh indikator tersebut, sebagian adalah indikator dari aspek lingkungan yaitu penggunaan air bersih, cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir dan penggunaan jamban sehat. Kota Pasuruan merupakan bagian dari wilayah Provinsi Jawa Timur dengan jarak kurang lebih 130 Km dari ibu kota yang memiliki luas 2. 307,06 Km2 dengan jumlah penduduk 2022 mencapai 1. 880 jiwa. Kecamatan Bugul Kidul memiliki 6 Kelurahan, 40 RW dan 98 RT. Berdasarkan data sekunder dari UPT Puskesmas Bugul Kidul Kota Pasuruan, diketahui bahwa di tahun 2022 masih terdapat kasus diare diwilayah kerja Puskesmas dengan kasus tertinggi berada di wilayah Kelurahan Blandongan yaitu 75 kasus pada kelompok semua umur dan diantaranya 31 kasus pada kelompok umur balita. Kasus terbanyak berada di RW 02 sebanyak 16 kasus pada kelompok semua umur dan diantaranya 6 kasus pada Vol 16 No. 2 September 2024 MEDICA MAJAPAHIT https://ejournal. id/index. php/MM kelompok balita. Sedangkan terkait dengan capaian PHBS Rumah Tangga. Kelurahan Blandongan mempunyai capaian PHBS Rumah Tangga terendah ke dua dari enam kelurahan, yaitu sebesar 38,6% KK sehat dari total jumlah 1594 KK yang ada di Kelurahan Blandongan. Capaian tersebut juga sangat jauh dari target PHBS Rumah Tangga di Kota Pasuruan yaitu sebesar 60%. Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti ingin mengetahui hubungan antara aspek lingkungan pada PHBS Rumah Tangga yaitu penggunaan air bersih, perilaku cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir (CTPS) dan penggunaan jamban sehat dengan kejadian diare di RW 02 Kelurahan Blandongan Kota Pasuruan tahun 2023. Judul dari penelitian ini adalah AuKorelasi Indikator PHBS di tingkat Rumah Tangga Dengan Kejadian DiareAy. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif korelatif dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara aspek kesehatan lingkungan pada PHBS Rumah Tangga yaitu penggunaan air bersih, perilaku CTPS dan penggunaan jamban sehat sebagai variabel bebas terhadap kejadian diare sebagai variabel terikat di RW 02 Kelurahan Blandongan Kota Pasuruan. Penelitian dilakukan dalam kurun waktu 12 Juni sampai 14 Juli 2023 dengan sampel dipilih menggunakan metode simple random sampling sebanyak 148 KK. Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan dua sumber yaitu, data sekunder dan data primer. Data sekunder didapat melalui observasi awal, penelitian pendahuluan dan data dari UPT Puskesmas Bugul Kidul. Data primer didapat dari kuesioner yang dibagikan kepada responden berkaitan dengan karakteristik responden, penggunaan air bersih, perilaku CTPS, penggunaan jamban sehat dan kejadian diare pada responden Metode analisis statistik yang digunakan adalah secara univariat dan bivariat. Analisis univariat dilakukan untuk mendeskripsikan atau menjelaskan karakteristik setiap variabel dalam penelitian (Notoatmodjo, 2. Analsis bivariat menggunakan metode Coeficien Contingency Test dengan alpha 0,05 serta confident interval (CI) sebesar 95% (Dahlan, 2. HASIL PENELITIAN Korelasi Penggunaan Air Bersih Responden Tabel 1. Distribusi Frekuensi Penggunaan Air Bersih di RW 02 Kelurahan Blandongan Tahun 2023 Variabel Penggunaan Air Bersih Ya, menggunakan Tidak, menggunakan Total Perilaku CTPS Frekuensi . Prosentase (%) MEDICA MAJAPAHIT Vol 16 No. 2 September 2024 https://ejournal. id/index. php/MM Variabel Ya, melakukan Tidak, melakukan Total Penggunaan Jamban Sehat Ya, melakukan Tidak, melakukan Total Kejadian Diare Tidak ada Ada Total Frekuensi . Prosentase (%) Dari Tabel 1, dapat diketahui distribusi frekuensi kejadian diare sebanyak 17 responden . %) pernah mengalami diare dalam satu bulan terakhir dan 131 responden . %) tidak pernah mengalami diare dalam satu bulan terakhir. Berdasarkan penggunaan air bersih diketahui sebanyak 143 responden . %) menggunakan air bersih dan 5 responden . %) tidak menggunakan air bersih. Distribusi freuensi berdasarkan perilaku CTPS, diketahui sebanyak 115 responden . %) berperilaku CTPS dan 33 responden . %) tidak berperilaku CTPS. Selanjutnya distribusi frekuensi penggunaan jamban sehat, diketahui sebanyak 141 responden . %) menggunakan jamban sehat dan 7 responden . %) tidak menggunakan jamban sehat. Korelasi Penggunaan Air Bersih dengan Kejadian Diare Responden Tabel 2. Distribusi Frekuensi Penggunaan Air Bersih Dengan Kejadian Diare di RW 02 Kelurahan Blandongan Tahun 2023 Penggunaan Air Bersih Ya. Tidak. Total Kejadian Diare Total Tidak Ada Ada 127 85,81 16 10,81 143 96,62 2,70 0,85 3,38 88,51 11,45 148 Nilai Nilai XA Hitung 0,049 (CC) 0,37 (Ch. Berdasarkan Tabel 2, diketahui nilai XA Hitung adalah 0,37 dimana nilai tersebut lebih kecil dari XA Tabel yaitu 3,641 dengan df=1 dan =0,05. Dengan demikian menunjukkan bahwa hipotesis nol diterima (H0 diterim. yang artinya tidak ada korelasi yang bermakna secara statistik antara variabel penggunaan air bersih dengan kejadian diare. Nilai koefisien kontingensi (C) diketahui 0,049 yang menunjukkan korelasi positif dengan kekuatan sangat lemah atau dapat dikatakan kekuatan hubungan antara variabel penggunaan jamban sehat dengan kejadian diare sebesar 0,4% MEDICA MAJAPAHIT Vol 16 No. 2 September 2024 https://ejournal. id/index. php/MM Korelasi Perilaku CTPS dengan Kejadian Diare Responden Tabel 3. Distribusi Frekuensi Perilaku CTPS Dengan Kejadian Diare di RW 02 Kelurahan Blandongan Tahun 2023 Perilaku CTPS Tidak Total Kejadian Diare Tidak Ada Ada 111 75,00 13,51 13,51 13 8,78 131 88,51 17 11,49 Total 77,70 22,30 Nilai C Nilai XA Hitung 0,424 (CC) 32,53 (Ch. Berdasarkan Tabel 3, diketahui nilai XA Hitung adalah 32,53 dimana nilai tersebut lebih besar dari XA Tabel yaitu 3,641 dengan df=1 dan =0,05. Dengan demikian menunjukkan bahwa hipotesis nol ditolak (H0 ditola. yang artinya terdapat korelasi yang bermakna secara statistik antara variabel perilaku CTPS dengan kejadian diare. Nilai koefisien kontingensi (C) diketahui 0,4245 yang menunjukkan korelasi positif dengan kekuatan sedang atau dapat dikatakan kekuatan hubungan antara variabel perilaku CTPS dengan kejadian diare sebesar 42,4%. Korelasi Penggunaan Jamban Sehat dengan Kejadian Diare Responden Tabel 4. Distribusi Frekuensi Penggunaan Jamban Sehat Dengan Kejadian Diare di RW 02 Kelurahan Blandongan Tahun 2023 Penggunakan Jamban Sehat Ya. Tidak. Total Kejadian Diare Total Tidak Ada Ada 126 85,14 15 10,14 141 95,27 3,38 1,35 4,73 88,51 11,49 148 Nilai Nilai XA Hitung 0,11 (CC) 2,109 (Ch. Berdasarkan Tabel 4, diketahui nilai XA Hitung adalah 2,109 dimana nilai tersebut lebih kecil dari XA Tabel yaitu 3,641 dengan df=1 dan =0,05. Dengan demikian menunjukkan bahwa hipotesis nol diterima (H0 diterim. yang artinya tidak terdapat korelasi yang bermakna secara statistik antara variabel penggunakan jamban sehat dengan kejadian diare. Nilai koefisien kontingensi (C) diketahui 0,118 yang menunjukkan korelasi positif dengan kekuatan sangat lemah atau dapat dikatakan kekuatan hubungan antara variabel penggunaan jamban sehat dengan kejadian diare sebesar 11,8%. PEMBAHASAN Korelasi Penggunaan Air Bersih dengan Kejadian Diare Responden Berdasarkan uji statistik dapat diketahui bahwa responden yang mengalami diare dengan menggunakan air bersih sebanyak 16 keluarga Vol 16 No. 2 September 2024 MEDICA MAJAPAHIT https://ejournal. id/index. php/MM . ,12%) serta responden yang mengalami diare dengan tidak menggunakan air bersih sebanyak 1 keluarga . ,68%). Nilai XA Hitung adalah 0,37 dimana nilai tersebut lebih kecil dari XA Tabel yaitu 3,641 dengan df=1 dan =0,05. Dengan dimikian menunjukkan bahwa hipotesis nol diterima (H0 diterim. yang artinya tidak ada korelasi yang bermakna secara statistik antara variabel penggunaan air bersih dengan kejadian diare. Nilai koefisien kontingensi (C) diketahui 0,049 yang menunjukkan korelasi positif dengan kekuatan hubungan sangat lemah. Terdapat kesenjangan antara teori dengan hasil pada penelitian ini, terbukti asumsi adanya hubungan penggunaan air bersih dengan kejadian diare di RW 05 Kelurahan Blandongan tidak terbukti. Data hasil penelitian memperlihatkan ada 1 responden yang tidak menggunakan air bersih dari 17 responden keluarga yang mengalami diare. Sehingga sebagian kecil responden yang mengalami diare adalah responden yang tidak menggunakan air bersih. Hal tersebut dapat disebabkan karena adanya kandungan bakteri patogen penyebab diare di dalam air bersih. Hasil dari penelitian ini sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan (Irawan, 2. di Kabupaten Purbalingga, dengan kesimpulan tidak terdapat korelasi yang bermakna secara statistik dengan kekuatan hubungan sangat Hal ini dapat di sebabkan karena keluarga di RW 02 Kelurahan Blandongan telah banyak memiliki akses terhadap air bersih. Berdasarkan data karakteristik responden diketahui bahwa hanya 5 responden dari total 148 sampel yang tidak memiliki akses terhadap air bersih. Hasil penelitian serupa juga dapat dilihat pada penelitian milik (Fatmawati, 2. pada 56 responden di Kelurahan Kenali Kota Jambi untuk mengetahui hubungan penggunaan air bersih dengan kejadian diare pada balita. Diketahui nilai p = 0,907 yang menunjukkan tidak ada hubungan yang signifika antara penggunaan air bersih dengan kejadian diare pada balita. Menurut Sarudji . alam Fatmawati, 2. , air bersih untuk keperluan rumah tangga harus memenuhi beberapa persyaratan, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Secara kuantitatif air untuk keperluan sehari-hari harus tercukupi . liter/orang/har. Sedangkan secara kualitatif air minum harus memenuhi syarat fisik, kimiawi, bakteriologis dan radioaktiftas. Demikian eratnya peranan air dalam kehidupan manusia maka air juga memungkinkan sebagai sarana penularan penyakit maupun sumber dari berbagai macam penyakit baik infeksi maupun non infeksi apabila air telah terkontaminasi. Sebagian besar kuman infeksius penyebab diare ditularkan melalui fecaloral. Kuman tersebut dapat ditularkan masuk ke dalam mulut melalui makanan, minuman, atau benda yang tercemar dengan tinja, misalnya jari-jari tangan, makanan yang wadah atau tempat makan minum yang dicuci dengan air yang Masyarakat dapat mengurangi resiko terhadap serangan penyakit diare yaitu dengan menggunakan air yang bersih dan melindungi air tersebut dari kontaminasi mulai dari sumbernya sampai cara penyimpanan dirumah. Korelasi Perilaku CTPS dengan Kejadian Diare Responden Berdasarkan statistik dapat diketahui responden yang mengalami diare dengan berperilaku CTPS sebanyak 4 keluarga . ,53 %) serta responden yang Vol 16 No. 2 September 2024 MEDICA MAJAPAHIT https://ejournal. id/index. php/MM mengalami diare dengan tidak berperilaku CTPS yaitu sebanyak 13 keluarga . ,47%). Nilai XA Hitung adalah 32,53 dimana nilai tersebut lebih besar dari XA Tabel yaitu 3,641 dengan df=1 dan =0,05. Dengan dimikian menunjukkan bahwa hipotesis nol ditolak (H0 ditola. yang artinya terdapat korelasi yang bermakna secara statistik antara variabel perilaku CTPS dengan kejadian diare. Nilai koefisien kontingensi (C) diketahui 0,4245 yang menunjukkan korelasi positif dengan kekuatan hubungan sedang. Terdapat persamaan antara teori dengan hasil pada penelitian ini, terbukti asumsi adanya hubungan perilaku CTPS dengan kejadian diare di RW 05 Kelurahan Blandongan terbukti Data hasil penelitian memperlihatkan ada 13 responden yang tidak berperilaku CTPS dari 17 responden keluarga yang mengalami diare. Sehingga sebagian besar responden yang mengalami diare adalah responden yang tidak berperilaku CTPS. Tangan merupakan bagian tubuh yang banyak digunakan dan banyak bersentuhan dengan benda di luar tubuh manusia. Terlebih saat seseorang melakukan aktifitas makan dengan tangan. Potensi bakteri masuk ke dalam tubuh sangat besar apalagi ketiga seseorang tidak terlebih dahulu membersihkan tangannya dengan air mengalir dan sabun. Studi terdahulu telah menemukan bahwa kebiasan menjaga kesehatan dan selalu menjagan kebersihan seperti kebiasaan mencuci tangan sebelum dan sesudah makan/ buang air besar/kecil dapat mengurangi tingkat infeksi karena mikroorganisme dari tangan hingga 25%. Hasil dari penelitian ini sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan Prawati dan Haqi . di Kota Surabaya, dengan kesimpulan terdapat korelasi yang bermakna secara statistik dengan kekuatan hubungan Hal ini dapat di sebabkan karena berdasarkan hasil penelitian masih banyak keluarga di RW 02 Kelurahan Blandongan tidak melakukan perilaku CTPS. Berdasarkan data karakteristik responden diketahui bahwa terdapat 33 responden dari total 148 sampel yang tidak menerapkan perilaku CTPS. Pada penelitian lain dengan sasaran yang berbeda juga di temukan kesamaan bahwa terdapat hubungan antara peilaku cuci tangan pakai sabun dan air mengalir dengan kejadian diare. Penelitian (Djarkoni 2. pada siswa SD Advent Sario Kota Manado menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara periilaku cuci tangan pakai sabun dan air mengalir dengan kejadian diare pada siswa, dengan nilai p = 0,03. Dari penelitian tersebut diketahui terdapat 29% anak menderita diare dalam 6 bulan terakhir dengan perilaku CTPS yang kurang sebanyak 9% dari total sampel. Kegiatan cuci tangan penting dilakukan karena tangan adalah anggota tubuh yang paling sering berhubungan langsung dengan mulut sehingga harus senantiasa dijaga kebersihannya, khususnya di waktu-waktu penting, seperti sebelum dan setelah melakukan aktivitas, sebelum dan sesudah makan, setelah buang air besar dan kecil dan saat sebelum dan sesudah mengolah makanan. Hasil penelitian ini juga menemukan ada responden yang berperilaku kurang artinya masih ada masyarakat yang belum terbiasa mencuci tangan dengan air bersih dan sabun dalam kehidupan sehari-har Kebiasaan mencuci tangan bermanfaat untuk menghilangkan atau mengurangi mikroorganisme yang menempel di tangan. Manfaat cuci tangan ini bisa di dapatkan secara maksimal apabila dilakukan dengan menggunakan Vol 16 No. 2 September 2024 MEDICA MAJAPAHIT https://ejournal. id/index. php/MM air bersih mengalir dan sabun. Mencuci tangan dengan air yang kurang bersih tidak optimal untuk menghilangkan kuman ditangan, sehingga saat seseorang makan, kuman dari tangan akan dengan cepat masuk ke dalam tubuh, yang pada akhirnya menimbulkan gejala penyakit. Penggunaan sabun secara ilmiah terbukti dapat membersihkan kotoran dan kuman yang masih tertinggal di tangan (Asda, 2. Hubungan Penggunaan Jamban Sehat dengan Kejadian Diare Responden Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat korelasi yang bermakna secara statistik antara variabel penggunaan jamban sehat dengan kejadian diare dengan nilai XA Hitung adalah 2,109 dimana nilai tersebut lebih kecil dari XA Tabel yaitu 3,641 dengan df=1 dan =0,05. Dengan dimikian menunjukkan bahwa hipotesis nol diterima (H0 diterima. Nilai koefisien kontingensi (C) diketahui 0,118 yang menunjukkan korelasi positif dengan kekuatan hubungan sangat lemah. Data hasil penelitian memperlihatkan ada 2 responden yang tidak menggunakan jamban sehat dari 17 responden keluarga yang mengalami diare. Sehingga sebagian kecil responden yang mengalami diare adalah responden yang tidak menggunakan jamban sehat. Hal tersebut dapat disebabkan karena jamban yang tidak sehat dan tidak bersih yang digunakan saat buang air besar (BAB) dapat menjadi sumber penyebaran bakteri yang ada dalam tinja manusia, baik melalui perantara hewan seperti serangga atau melalui konsumsi air di sekitar jamban yang sudah tercemar oleh bakteri. Hasil dari penelitian ini sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan Irawan . di Kabupaten Purbalingga, dengan kesimpulan tidak terdapat korelasi yang bermakna secara statistik dengan kekuatan hubungan lemah. Hal ini dapat di sebabkan karena keluarga di RW 02 Kelurahan Blandongan telah banyak memiliki akses terhadap jamban sehat. Berdasarkan data karakteristik responden diketahui bahwa terdapat 7 responden dari total 148 sampel yang tidak memiliki akses terhadap air bersih. Penelitian serupa juga dilakukan Kasman dan Ishak . namun dengan hasil yang berbeda. Penelitihan yang dilakukan di Kota Banjarmasin tersebut ingin mengetahui hubungan kepemilikan jamban sehat dengan kejadian diare pada balita. Total responden adalah 148 dimana terdapat 3 responden yang mengalami diare dengan tidak memiliki jamban sehat. Hasil dari p = 0,000 yang berarti terdapat hubungan yang bermakna antara kondisi jamban dengan kejadian diare PENUTUP Kejadian diare di wilayah Kelurahan Blandongan masih di dapat temui. Berdasarkan hasil penelitian terhadap 148 responden di RW 02 Kelurahan Blandongan Kota Pasuruan tahun 2023 ditemukan kejadian diare dalam keluarga pada kurun waktu satu bulan terakhir sebesar 11%. Temuan tersebut lebih kecil dibandingkan keluarga yang tidak mengalami kejadian diare pada kurun waktu satu bulan terakhir yaitu sebesar 89%. Berdasarkan hasil analisis gambar yang hubungan indikator perilaku hidup bersih dan sehat tatanan rumah tangga (PHBS Rumah Tangg. , diketahui bahwa variabel perilaku CTPS memiliki korelasi yang bermakna dengan kejadian diare dengan nilai C=0,424. Sedangkan variabel penggunaan air bersih dan penggunaan jamban sehat memiliki korelasi yang tidak Vol 16 No. 2 September 2024 MEDICA MAJAPAHIT https://ejournal. id/index. php/MM bermakna dengan kejadian diare dengan nilai C=0,002 dan C=0,118. DAFTAR PUSTAKA