Tamasya: Jurnal Pariwisata Indonesia Volume 2. Nomor 3. September 2025 e-ISSN: 3064-3260. p-ISSN: 3064-3287. Hal. DOI: https://doi. org/10. 62383/tamasya. Tersedia: https://ejournal. id/index. php/Tamasya Analisis Potensi Pengembangan Kawasan Wisata Pantai Lumpue Kota Parepare Hairuddin1*. Muhammad Fahreyza Latanro2. Rahmad3. Imam Fadly4. Mithahul ulum5. Adnan6* Perencanaan Wilayah dan Kota. Fakultas Teknik. Universitas Muhammadiyah Pare-pare. Indonesia Email: udhinplanologi07@gmail. com 1*, ferlywijaya774@gmail. Alamat: Jl. Jend. Ahmad Yani No. Km. Bukit Harapan. Kec. Soreang. Kota Parepare. Sulawesi Selatan 91112. Indonesia *Penulis Korespondensi Abstract: Development study of the planning strategy of the Lumpue Beach tourism area located in Parepare City. South Sulawesi. The main focus of the study is to identify existing attractions, infrastructure conditions, and apply development planning strategies with a SWOT approach. Lumpue Beach is a coastal area that has interesting ecological and aesthetic values, but has not been exploited as a tourist destination. The approach used in this study is qualitative descriptive, which is complemented by quantitative data obtained through surveys, interviews, secondary as well as primary data from the concerned institutions. The analysis shows that Lumpue Beach has great potential with its ecological, natural beauty, local culture, and easy access. Its notable weaknesses include: lack of supporting facilities, environmental cleanliness, and absence of government and private sector coordination to plan the development of the area. As for the opportunity for increased interest in marine tourism, as a strategic area of Parepare City, there is also the support of local tourism agencies, such as Pokdarwis. Then the threats that must be addressed, including: environmental pollution and exploitation of areas there is no coordination of government and private parties. of this study include the sustainable and integrated development of Pipda and the urban spatial plan of Parepare, the improvement of facilities and infrastructure, the involvement of local communities, as well as the promotion of Panatai Tourism destination through digital The findings of this study are expected to serve as a reference for the City government and stakeholders in planning sustainable Lumpue Beach tourism area development strategies integrated with Parepare municipal Keywords: Lumpue Beach. Parepare City. South Sulawesi. SWOT analysis. Tourism promotion Abstrak. Studi pengembangan Stategi perencanaan kawasan wisata Pantai Lumpue adalah untuk mengidentifikasi daya tarik yang ada, kondisi infrastruktur, dan mengaplikasikan strategi perencanan pengembangan pendekatan SWOT. Pantai Lumpue adalah area pesisir memiliki nilai ekologis dan estetika yang menarik, tetapi belum dimanfaatkan sebagai tujuan wisata. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, yang dilengkapi dengan data kuantitatif melalui survei, wawancara, data sekunder serta primer dari lembaga yang bersangkutan. Analisis menunjukkan Pantai Lumpue memiliki potensi besar dengan ekologisnya, keindahan alamnya, budaya lokal, dan akses mudah. Kelemahannya yang perlu diperhatikan, kurangnya fasilitas penunjang, kebersihan lingkungan, tidaka ada koordinasi pemerintah dan swasta untuk merencanakan pengembangan kawasan. Adapun Peluang untuk meningkatnya minat terhadap wisata bahari, sebagai kawsan strategis Kota Parepare, serta ada dukungan lembaga parwisata lokal, seperti Pokdarwis. Kemudian ancaman yang harus diperhatikan, termasuk: pencemaran lingkungan dan eksploitasi kawasan tidak ada kordinasi pemerintah dan pihak swata. dari penelitian ini termasuk pengembangan yang berkelanjutan dan terintegrasi Pipda dan rencana tata ruang kota Parepare, perbaikan srana dan prsarana, keterlibatan masyarakat lokal, serta promosi destinasi Wisata Panatai melalui platform digital. Temuan dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pemerintah Kota dan para pemangku kepentingan dalam merencanakan strategi pengembangan kawasan wisata Pantai Lumpue yang berkelanjutan dan terintegrasi dengan regulasi kota Parepare. Kata Kunci: Analisis SWOT. Kota Parepare. Pantai Lumpue. Promosi Pariwisata. Sulawesi Selatan Naskah Masuk: 13 Agustus 2025. Revisi: 27 Agustus 2025. Diterima: 11 September 2025. Terbit: 13 September Analisis Potensi Pengembangan Kawasan Wisata Pantai Lumpue Kota Parepare LATAR BELAKANG Istilah "pariwisata" sering kali muncul dalam percakapan sehari-hari. Saat mendengar kata ini, mungkin Anda langsung teringat tentang liburan dan berbagai destinasi untuk melakukan perjalanan yang dilakukan oleh individu, kelompok, atau keluarga, untuk mengunjungi suatu tempat sementara dalam rangka menciptakan ketenangan, kebahagiaan, dan keharmonisan yang kesuanya itu di sebut dengan wisatawan. Wisatawan adalah orang yang pergi ke lokasi-lokasi dalam dunia pariwisata dengan tujuan utama untuk bersenang-senang, bersantai, atau ikut dalam aktivitas olahraga. wisata dan menjadi sumber pendapatan penting untuk tempat-tempat tersebut. Selain itu, mereka juga dapat membantu dalam mengawasi perkembangan serta kesesuaian industri pariwisata dengan mematuhi standar dan pedoman yang ada serta berbelanja di toko- toko lokal, unttuk itu menjadi salah satau pandangan pemikiran kita di kota pare untuk menciptakan kawsan Pantai Lumpue sebagai kawsan Tujuan wisata. Pengembangan pariwisata tidak lepas dari pengembangan yang dilakukan pada tiap komponen komponen pariwisata. Dimana komponen tersebut terdiri dari Attraction. Amenities. Ancillary Services. Activities danAccessibility yang dikelola oleh pelaku usaha (Hermawan & Brahmanto, 2. Penelitian yang dilakukan untuk mengetahui persepsi wisatawan memperlihatkan ketersediaan kelengkapan fasilitas, sarana, serta penunjangkebutuhan wisatawan (Mustika, 2. Parepare merukan kota tujuan Wisata di Provinsi Sulawesi Selatan, sehinga perlu ada ribda untuk menjastifikasi kegiatan dan potensi wisata di kota Parepara, kemudi Kota Parepare Mempunya beberapa objek wisata Alam, budaya. Religi, buatan, kemudian wisata alam terdidari: Pantai torageng, goa tompangen. Pantai lumpue, kebun Raya jumpie, gunung Teletubies, dan gunung Gunung asokang matoang. Jenis wisata yang di teliti dalam penelitian ini adalalah wisata alam yaitu wisata pantai Lumpue, dimana pantai tersebut sangat menarik untuk di kunjungi. Dalam penelitian ini di gunakan analisis SWOT untuk mengetahui bagaimana analisis strategi pengembangan kawasan wisata Pantai Lumpue Kota Parepare. Sehingga dapat kita melakukan strategi perencanaan anatar lain: Strategi SO (StrengthsAe Opportunitie. dianranaya: a. Strategi SO (StrengthsAeOpportunities yaitu di rakan untuk Menggunakan kekuatan internal untuk memanfaatkan peluang eksternal. Yaitu dengan cara: membangun fasilitas wisata baru berbasis potensi dan bentang alam yang tersedia, dengan dukungan investor lokal dan pemerintah, membuat paket wisata tematik menarik wisatawan dari luar daerah, dan promosi wisata bebasis digital visualisasi pantai yang indah dan partisipasi TAMASYA Ae VOLUME 2. NOMOR 3. SEPTEMBER 2025 e-ISSN: 3064-3260. p-ISSN: 3064-3287. Hal. komunitas lokal. pengelolaan wisata dengan prinsip ekowisata mencegah kerusakan lingkungan, melibatkan komunitas lokal dalam patroli lingkungan sadar wisata untuk melestariakan kualitas kawasan dari pencemaran, dan meningkatkan branding lokal AuPantai LumpueAy sebagai ikon wisata ramah lingkungan Kota Parepare. Strategi WO (WeaknessesAe Opportunitie. untuk diarahkan memanfaatkan peluang eksternal untuk mengatasi kelemahan internal yaitu dengan Cara: Mengajukan rencana anggaran pembangunan infrastruktur pariwisata ke kementerian pariwisata. Menjalin kemitraan dengan perguruan tinggi dan LSM untuk pendampingan pengelolaan wisata berbasis masyarakat, dan menyelenggarakan pelatihan SDM pariwisata bagi warga sekitar untuk meningkatkan kualitas pelayanan. (WeaknessesAeThreat. diarahkan untuk Mengurangi kelemahan internal dan menghindari ancaman eksternal dengan cara menyusun rencana induk . pengembangan wisata berkelanjutan dengan regulasi zonasi dan kapasitas kawasan. Menerapkan sistem evaluasi dan pengawasan pembangunan fisik yang melibatkan masyarakat, dan Menyediakan sistem peringatan dini cuaca ekstrem dan edukasi mitigasi bencana bagi wisatawan dan pelaku usaha lokal, dari kemuanya ini yang harus bertangung jawab untuk saling kolaborasi antra ske holder, instasi perguruan tinggi. LSM, lembaga pariwisata dan masyarakat untuk menciptakan suatu kawsan wisata pantai lumpue berkelajutan di dukung dengan regulasi yang permanem Topik dalam penelitian ini adalah AuAnalisis Strategi Pengembangan Kawasan Wisata Pantai Lumpue Kota ParepareAy yang berkaitan dengan penelitan sebelumnya yaitu meneliti tentangAy Keindahan Pasir Putih Di Pantai LumpueAy sehinga mucul kebaruan peneeltian yaitu bagaiman melakukan strategi dalam pengembangan Pantai lumpue, untuk mencapai tujuan dari penelitan tersebut adalah untuk membuat konep strategi dalam pengembangan Pantai lumpueyang berkelanjutan Menurut Mariotti dalam buku Yoeti . 3: 160-. , potensi wisata dapat dimaknai sebagai ciri atau sifat dari suatu lokasi yang memiliki kemampuan untuk menarik perhatian wisatawan dan memberikan nilai tambah. Beragam elemen, seperti keindahan alam, kekayaan budaya, aspek sejarah, dan berbagai aktivitas yang dapat dinikmati oleh pengunjung, termasuk dalam potensi wisata. Dengan kata lain, potensi wisata mencakup semua hal di suatu lokasi yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik yang menawarkan pengalaman menyenangkan bagi pengunjung Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 mengenai Rencana Tata Ruang Nasional, yang menetapkan Parepare sebagai Kawasan Strategis Nasional untuk Pembangunan Ekonomi Terpadu, kota ini mengalami perkembangan yang sangat cepat. Kebijakan ini mendukung kemajuan karena lokasi Parepare yang strategis di jalur pelayaran Selat Makassar. Analisis Potensi Pengembangan Kawasan Wisata Pantai Lumpue Kota Parepare Seiring waktu. Parepare menjadi tempat persinggahan yang sangat penting. Dalam segi sumber daya alam dan lokasinya, kota ini memiliki banyak potensi. Keberagaman potensi tersebut menjadikan Parepare sebagai salah satu daerah istimewa di Provinsi Sulawesi Selatan. Selain itu, adanya pelabuhan untuk perdagangan dan penumpang membuat Parepare berfungsi sebagai kota jasa bagi wilayah-wilayah Kabupaten di sekitarnya. KAJIAN TEORITIS Inskeep . : perencanaan pariwisata adalah proses menyusun kerangka kebijakan untuk pengembangan pariwisata dengan mempertimbangkan aspek fisik, ekonomi, sosial, dan Gunn . : perencanaan wisata adalah rangkaian langkah untuk memandu pembangunan destinasi wisata agar sesuai dengan potensi dan kebutuhan masyarakat. Konsep pembangunan pariwisata yang dikatakan oleh Butler 1980 dalam dadan Mukhsin, bahwa terdapat enam tingkatan atau tahapan dalam pembangunan pariwisata terdapat enam tahapan yang penting, yaitu : . Tahap Penemuan (Exploratio. Tahap Pelibatan (Involvemen. Tahap Pengembangan (Developmen. Tahap Konsolidasi (Consolidatio. Tahap Stagnasi (Stagnatio. Tahap Penurunan atau Peremajaan (Decline/Rejuvenatio. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 mengenai Rencana Tata Ruang Nasional, yang menetapkan Parepare sebagai Kawasan Strategis Nasional untuk Pembangunan Ekonomi Terpadu, kota ini mengalami perkembangan yang sangat cepat. Kebijakan ini mendukung kemajuan karena lokasi Parepare yang strategis di jalur pelayaran Selat Makassar. Seiring waktu. Parepare menjadi tempat persinggahan yang sangat penting. Dalam segi sumber daya alam dan lokasinya, kota ini memiliki banyak potensi. Keberagaman potensi tersebut menjadikan Parepare sebagai salah satu daerah istimewa di Provinsi Sulawesi Selatan. Selain itu, adanya pelabuhan untuk perdagangan dan penumpang membuat Parepare berfungsi sebagai kota jasa bagi wilayah-wilayah Kabupaten di sekitarnya. METODE PENELITIAN Penelitian ini menerapkan metode deskriptif kualitatif yang didukung oleh data kuantitatif, dengan tujuan untuk melakukan analisis potensi pengembangan kawsan wisata Pantai Lumpue Kota Parepare. Fokus analisis ini mencakup sumber daya, akses, fasilitas, dan pandangan pengunjung. Metode ini dipilih karena relevan pada judul penelitian ini di kawasan tersebut serta untuk merumuskan strategi pengembangan berdasarkan data yang faktual dan pandangan masyarakat. TAMASYA Ae VOLUME 2. NOMOR 3. SEPTEMBER 2025 e-ISSN: 3064-3260. p-ISSN: 3064-3287. Hal. Metode deskriptif dipakai untuk menjastifikasi karakteristik dari kawasan, kondisi fisik dan sosial, serta tantangan di Pantai Lumpue. Di sisi lain, pendekatan kualitatif digunakan untuk mendalami cerita, pandangan, dan perspektif para pemangku kepentingan seperti pengunjung, pelaku usaha lokal, dan pemerintah tentang potensi wisata Lumpue, selanjutnya untuk menentukan tingkat keunikan, peluang, hambatan, dan strategi pengembangan studi kasus ini bersifat eksploratif untuk menciptakan pemahaman dinamika kawsan pengembangan wisata di area pesisir. Selanjutnya, penelitian ini juga menggunakan analisis SWOT untuk mengidentifikasi elemen internal dan eksternal yang mempengaruhi perkembangan kawasan wisata. Hasil dari analisis ini akan menjadi dasar untuk merancang strategi pengembangan yang responsif, melibatkan partisipasi, dan berkelanjutan. Dengan penggunaan pendekatan ini, diharapkan penelitian ini mampu menyajikan gambaran yang komprehensif dan bermanfaat mengenai jalur pengembangan wisata Pantai Lumpue, serta memberikan kontribusi yang signifikan pada rencana kebijakan ruang dan pariwisata di Kota Parepare. HASIL DAN PEMBAHASAN Adapun hasil pembahasan dapat di uraikan sebagai berikut: Proses pengumpulan data Adapun proses pengumpulan data di lakukan dalam penelitian ini anatar lain: Observasi Lapangan. Observasi Lapangan merupakan salah satu teknik pengumpulan data dengan cara melakukan kunjungan dan pengamatan langsung ke lapangan untuk melakukan untuk mengumpulkan data tentang kondisi fisik dengan mengunakan GPS. Wawancara/Metode Quisioner. Salah satu metode yang dipakai oleh peneliti untuk mendapatkan data adalah dengan melakukan wawancara atau dengan menggunakan kuesioner untuk mencari iformasi tentang peran pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat dalam pengembangan daerah wisata, serta pemahaman pertanyaan yang telah disiapkan dalam bentuk Dokumentasi. Dokumentasi adalah cara untuk mengumpulkan data dan informasi. Metode ini dilakukan dengan meneliti pustaka atau sumber literatur yang dilengkapi dengan data statistik. Selain itu, informasi bisa juga terdiri dari peta yang diperoleh dari berbagai lembaga yang relevan, serta foto dan gambar yang mendukung tujuan penelitian Cambaran umum lokasi Penelitian. Kota Parepare merupakan salah satu kota yang berada di Provinsi Sulawesi Selatan. Indonesia. Kota Parepare terletak diantara 30A57Ao39Ay- Analisis Potensi Pengembangan Kawasan Wisata Pantai Lumpue Kota Parepare 40A04Ao59Ay lintang selatan dan antara 119A36Ao24Ay- 119A43Ao40Ay bujur timur dengan luas wilayah sebesar 99,33 kmA meliputi 4 kecamatan antara lain Kecamatan Bacukiki. Kecamatan Bacukiki Barat. Kecamatan Ujung, dan Kecamatan Soreang serta terdiri dari 22 kelurahan. Administrasi Wilayah Adapun kelurahan di Kota Parepare berdasarkan kecamatannya yaitu sebgai berikut: Kecamatan Bacukiki. Watang Bacukiki. Lemoe. Lompoe dan Galung Maloang. Kecamatan Bacukiki Barat. Lumpue. Bumi Harapan. Sumpang Minangae. Cappagalung. Tiro Sompe dan Kampung Baru. Kecamatan Ujung. Labukkang. Mallusetasi. Ujung Sabbang. Ujung Bulu dan Lapadde. Kecamatan Soreang. Kampung Pisang. Lakessi. Ujung Baru. Ujung Lare. Bukit Indah. Watang Soreang dan Bukit Harapan. Adapun batas administrasi Kota Parepare antara lain sebagai berikut: Utara: Kabupaten Pinrang. Selatan: Kabupaten Barru. Timur: Kabupaten Sidenreng Rappang. Barat: Selat Makassar. Adapun luas wilayah apabila dilihat dari masing masing kecamatan adalah sebagai berikut: Tabel 1. Luas Wilayah dan Presentase Terhadap Luas Wilayah Menurut Kelurahan di kota Parepare 2024. Kecamatan 1 Bacukiki 2 Bacukiki Barat 3 Ujung 4 Soreang Jumlah Luas Total Area(Km. Presentase Terhadap Luas Kota (%) Sumber: Kota Parepare Dalam Angka 2024 Gambar 1. Diagram Persentase Luas Wilayah menurut Kecamatan di Kota Parepare Berdasarkan tabel 1, dan gambar 1, dapat diperhatikan bahwa luas wilayah terbesar berada di Kecamatan Bacukiki yakni dengan luas 66. 7 km2 dengan persentase luas wilayah Sedangkan wilayah terkecil yaitu Kecamatan Soreang yang memiliki luas 8. 33 km2 dengan persentase luas wilayah 8. TAMASYA Ae VOLUME 2. NOMOR 3. SEPTEMBER 2025 e-ISSN: 3064-3260. p-ISSN: 3064-3287. Hal. Topografi Kota Parepare memiliki variasi topografi yang mencakup gunung-gunung dan pantai, dengan ketinggian yang beragam antara 0 hingga 500 meter di atas permukaan laut. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, iklim di tempat ini umumnya sama seperti wilayah lain di Indonesia, dengan dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Pada tahun 2023, hujan tertinggi yang tercatat mencapai 1. 094,7 mmA, yang terjadi di bulan Februari. Di bulan Januari dan Februari, dilaporkan ada 25 hari hujan. Suhu rata-rata di Kota Parepare adalah 29,20AC, dengan suhu maksimum mencapai 37,90AC dan minimum 20,80AC. Kota Parepare terdiri dari 4 kecamatan dan 22 kelurahan, mencakup area seluas 99,33 kmA. Hidrologi Ketersediaan air sangat dipengaruhi oleh bagaimana lahan digunakan di suatu wilayah. Saat ini, pembangunan telah berkembang pesat dan ini mengubah fungsi lahan, terutama dalam penggunaannya yang berdampak besar pada kualitas dan kemampuan lahan untuk mendukung, khususnya dalam pengelolaan air. Menurut data dari Dinas PUPR Kota Parepare mengenai Tata Ruang, tercatat bahwa pada tahun 2017 terdapat 756 rumah permanen yang dibangun. Angka ini meningkat menjadi 1664 unit pada tahun 2018, menurun menjadi 1545 unit pada tahun 2019, dan kemudian menjadi 1155 unit di tahun 2020. Pertumbuhan jumlah penduduk serta perubahan tutupan alami di daerah perkotaan, yang terus berubah menjadi area yang dibangun, telah mengurangi area resapan air di kota akibat berkurangnya vegetasi. Hal ini menyebabkan peningkatan beban pada kemampuan lingkungan kota dalam mendukung kehidupan. Waktu Penlitian. Adapun waktu diadakannya penelitian, penelitian ini di lakukan selama 7 bulan yaitu dimulai dari 25 Januari dan berakhir 25 juli tahun 2025. Lokasi penelitian. Adapun lokasi penelitian yaitu di area wisata Pantai Lumpue, yang terletak di Kecamatan Bacukiki Barat. Kota Parepare. Sulawesi Selatan. Penulis memilih area ini karena jumlah pengunjung ke Pantai Lumpue akhir-akhir ini menurun,. Banyak fasilitas di sana dalam keadaan tidak terawat, rusak, dan sedikitnya sarana yang mendukung di kawasan Pantai Lumpue. Selain itu, pilihan lokasi penelitian ini juga dipengaruhi oleh akses tempat tinggal penulis, serta pengalaman penulis yang pernah berkunjung ke Pantai Lumpue. Untuk lebih jelasnya kita lihat peta Google maps berikut. Analisis Potensi Pengembangan Kawasan Wisata Pantai Lumpue Kota Parepare Gambar 2. Kawasan Pantai Lumpue Kota Parepare (Sumber: Google map. Variabel Penelitian. Variabel adalah subjek atau tema yang sedang diteliti, dan dalam penelitian, variabel adalah fenomena yang menjadi perhatian utama untuk diukur atau diamati. Hal-hal utama yang harus diperhatikan dalam mendukung perkembangan perencanaan pariwisata pantai Lumpue kedepan. berdasarkan teori oleh Suwantoro . dan Dian Widya Setiyanti . Ada beberapa Varibel antara lain: Pengembangan Pariwisata. Daya Tarik Wisata. Sarana Penunjang Wisata. Keamanan dan Kenyamanan. Informasi dan Promosi. Aksebilitas Teknik Analisis Data. Dasar utama dari metode analisis kualitatif adalah merubah dan mengkaji data yang telah diperoleh menjadi informasi yang teratur, sistematis, terstruktur, dan Cara-cara analisis data adalah metode untuk mengevaluasi data dari penelitian, termasuk alat-alat yang tepat untuk digunakan dalam studi tersebut. Kemudian alat analisisi yang di gunakan dalam penelitian ini adalah Analisis SWOT Kawasan Wisata Pantai Lumpue. Analisis SWOT adalah teknik analisis strategi yang digunakan untuk menilai keadaan internal dan eksternal dari area wisata Pantai Lumpue. Faktor internal terdiri dari kekuatan dan kelemahan, sementara faktor eksternal berisi peluang dan ancaman. Tujuannya adalah untuk merancang strategi pengembangan yang sesuai, efektif, dan sesuai dengan potensi serta tantangan yang ada di kawasan tersebut adapun penjelasan dari Anisis SWOT: . Kekuatan (Strength. Kelemahan (Weaknesse. Peluang (Opportunitie. Ancaman (Threat. Hasil Analisis. Berdasarkan hasil analisis SWOT di atas, disusun formulasi strategi pengembangan melalui matriks SWOT. Strategi dirancang dengan mempertimbangkan keseimbangan antara penguatan potensi dan mitigasi hambatan. Empat kelompok strategi yang digunakan meliputi: . Strategi SO (StrengthsAeOpportunitie. Adapuna Strategi SO (StrengthsAeOpportunitie. dalam penelitan Pantai lumpue dapat di jelaskan sebagai berikut: . Menggunakan kekuatan internal untuk memanfaatkan peluang eksternal. TAMASYA Ae VOLUME 2. NOMOR 3. SEPTEMBER 2025 e-ISSN: 3064-3260. p-ISSN: 3064-3287. Hal. Membangun fasilitas wisata baru berbasis potensi lahan dan bentang alam yang tersedia, dengan dukungan investor lokal dan pemerintah. Menyusun paket wisata tematik . isata pantai, kulinerdan buday. untuk menarik wisatawan dari luar daerah. Mengembangkan program promosi wisata digital berbasis kekuatan visual pantai yang indah dan partisipasi komunitas lokal. Strategi WO (WeaknessesAeOpportunitie. Adapun Strategi WO (WeaknessesAeOpportunitie. dalam penelitan Pantai lumpue dapat di jelaskan sebagai berikut: . Menggunakan kekuatan internal untuk mengatasi ancaman eksternal. Mengintegrasikan pengelolaan wisata dengan prinsip ekowisata dan konservasi pantai untuk mencegah kerusakan lingkungan. Melibatkan komunitas lokal dalam patroli lingkungan dan kampanye sadar wisata untuk menjaga kualitas kawasan dari pencemaran. Meningkatkan branding lokal AuPantai LumpueAy sebagai ikon wisata ramah lingkungan Kota Parepare. Strategi WO (WeaknessesAeOpportunitie. Adapuna Strategi (WeaknessesAeOpportunitie. dalam penelitan Pantai lumpue dapat di jelaskan sebagai berikut: Memanfaatkan peluang eksternal untuk mengatasi kelemahan internal. Mengajukan proposal pembangunan infrastruktur pariwisata ke pemerintah daerah dan kementerian . Menjalin kemitraan dengan perguruan tinggi atau LSM untuk pendampingan pengelolaan wisata berbasis masyarakat. Menyelenggarakan pelatihan SDM pariwisata bagi warga sekitar untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Strategi WT (WeaknessesAe Threat. Adapun hasil anaisis Strategi SO (StrengthsAeOpportunitie. dalam penelitan Pantai lumpue dapat di jelaskan sebagai berikut: . Mengurangi kelemahan internal dan menghindari ancaman eksternal. Menyusun rencana induk . pengembangan wisata berkelanjutan dengan regulasi zonasi dan kapasitas kawasan. Menerapkan sistem evaluasi dan pengawasan pembangunan fisik yang melibatkan masyarakat. Menyediakan sistem peringatan dini cuaca ekstrem dan edukasi mitigasi bencana bagi wisatawan dan pelaku usaha Rentang waktu dan lokasi penelitian, dan hasil analisis data, . ang dapat didukung dengan ilustrasi dalam bentuk tabel atau gambar, bukan data menta. Kesesuaian atau pertentangan dengan hasil penelitian sebelumnya. Kesesuian dengan penelitian sebelumnya di sama sama membahas bagaimana membuat system promosi wisata berbasis digital, kemudian perbedaanya berada pada metode pembahasan pada penelitan sebelumnya hanya membahas bagaiman tingkat keindahannya sekarang semunya di bahas, bagaimana untuk merencanakan kawsan pantai lumpue secara berkelanjutan, dan terintegrasi dengan system regulasi Analisis Potensi Pengembangan Kawasan Wisata Pantai Lumpue Kota Parepare Kebaruan dari Penelitian sebelumnya. Adapun kebaruan darai penelitian sebelumnya, penelitian ini lebih terpokus pada setrategi pengembangan wisata pada pantai lumpue sedang penelitian sebelumnya lebih membahas pada keindahan pasir putih di pantai. KESIMPULAN DAN SARAN Adapun kesimpulan dalan penelitian dapat di uraikan sebagai berikut: . Analisis SWOT menghasilkan empat kategori strategi pengembangan: strategi SO . emanfaatkan keunggulan dan peluan. , strategi ST . enghadapi ancaman dengan memanfaatkan kekuata. , strategi WO . engatasi kelemahan melalui peluan. , dan strategi WT . enghindari ancaman serta memperbaiki kelemaha. Strategi ini melibatkan pembangunan fasilitas ramah lingkungan, promosi secara digital, pelatihan masyarakat, dan penyusunan regulasi untuk kawasan tersebut. Pengembangan kawasan wisata Pantai Lumpue harus dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan pemerintah, masyarakat, sektor swasta, serta lembaga pendidikan tinggi. Pendekatan partisipatif dan berkelanjutan sangat penting agar manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan dapat dicapai secara seimbang. untuk mencapai tujuan dari penelitan tersebut adalah untuk membuat konep strategi dalam pengembangan Pantai lumpueyang berkelanjutan dan terintegrasi dengan regulasi kota Parepare. UCAPAN TERIMA KASIH