Article Hubungan Tingkat Pendidikan. Status Pekerjaan, dan Lama Bertugas Jumantik terhadap Pemeriksaan Jentik Rutin (PJR) di Kelurahan Pudakpayung Kota Semarang Arlyn Manggar Sari1*. Retno Hestiningsih1. Martini Martini1. Nissa Kusariana1 Bagian Epidemiologi dan Penyakit Tropik. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Diponegoro * Correspondence: arlynmanggar@gmail. Abstrak: Personal Background: The Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) cases in Semarang City ranked seventh highest in Central Java in 2022 with an Incidence Rate (IR) of 42. 41 per 100,000 The district with the highest number of DHF cases was Banyumanik District, reaching 712 cases of dengue fever. Pudakpayung Sub-district experienced a more than threefold increase in DHF cases in 2022. One mandatory DHF prevention program is Routine Larval Survey (PJR) conducted by mosquito control workers (Jumanti. Due to the lack of consistent and optimal PJR Citation: Sari. Hestiningsih. Martini. implementation in Pudakpayung Sub-district, this research was conducted to investigate the Kusariana. AuHubungan Tingkat relationship between educational level, employment status, and length of service of Jumantik with Pendidikan. Status Pekerjaan, dan the implementation of PJR in Pudakpayung Sub-district. Method: The method used is analytical Lama Bertugas Jumantik terhadap Pemeriksaan Jentik Rutin (PJR) di with a cross-sectional study design. The sample size is 115, determined by simple random Kelurahan Pudakpayung Kota sampling with the condition of one Jumantik sample per neighborhood unit (RT) in all Semarang Ay Jurnal Riset Kesehatan neighborhood administrative areas (RW) of Pudakpayung Sub-district. Result The results of this Masyarakat, vol. 4, no. Apr. https://doi. org/10. 14710/jrkm. study indicate that the majority of respondents have a high level of education, with 86 respondents . 8%), are unemployed, totaling 84 respondents . %), have been on duty for a long time, totaling 67 respondents . 3%). Additionally, 84 respondents . %) comply with Received: 25 Maret 2024 Accepted: 14 April 2024 Published: 30 April 2024 implementing PJR according to regulations. Conclusion: Efforts are needed to cultivate understanding and disseminate information through various methods evenly to improve the knowledge level of Jumantik as the implementer of the dengue fever prevention program. Keywords : DHF. Jumantik. Larval Inspection Copyright: A 2024 by the authors. Universitas Diponegoro. Powered Pendahuluan by Public Knowledge Project OJS Demam Berdarah Dengue merupakan penyakit akut yang menular dan disebabkan Publishing OJS Mason theme. oleh virus dengue pada gigitan nyamuk. 1 DBD terjadi dengan cepat dalam waktu yang singkat dan sangat berbahaya. Penderita dan kasus kematian DBD di Jawa Tengah yaitu CFR 2,71% melebihi standar nasional yakni CFR < 2 %. 2 Kasus DBD di Kota Semarang meningkat lebih dari dua kali di tahun 2022 dengan IR 42,41/100. 000 penduduk. Keca- Jurnal Riset Kesehatan Masyarakat 2024, 4, 2 https://ejournal2. id/index. php/jrkm/index Jurnal Riset Kesehatan Masyarakat 2024, 4, 2 ISSN: 2807-8209 DOI: 10. 14710/jrkm. 56 of 61 matan Banyumanik termasuk dalam wilayah dengan tingkat pajannan dan kerentanan Kelurahan Pudakpayung termasuk wilayah dengan kasus DBD tinggi di Kecamatan Banyumanik. Upaya pengendalian vektor secara regional Kota Semarang diatur dalam Perda Kota Semarang Nomor 5 Tahun 2010 tentang Penyakit Demam Berdarah Dengue menyebutkan bahwa salah satu program pencegahan DBD melalui pelaksanaan Pemeriksaan Jentik Rutin (PJR) yang harus dilakukan minimal seminggu sekali. Kegiatan PJR dilakukan dengan memeriksa jentik di lingkungan masyarakat kemudian mencatat hasil temuan pada formulir pemantauan dan melaporkan hasil pemantauan kepada RT. RW. Lurah dan aplikasi Tunggal Dara. 4 Kementerian Kesehatanmengatur kegiatan pemeriksaan jentik diikuti dengan memberikan penyuluhan kepada masyarakat mengenai DBD dan PSN 3M Plus. 1 Target pelaksanaan PJR dapat dilihat dari Angka Bebas Jentik (ABJ). Suatu wilayah dikatakan berhasil pencegahan DBD-nya jika ABJ Ou95%. Sebagai pelaksana program PJR. Jumantik atau Juru Pemantau Jentik merupakan anggota masyarakat yang secara sukarela melakukan pemantauan jentik di lingkungan Kriteria Jumantik yang telah ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan beberapa diantaranya seperti Jumantik minimal harus memiliki pengetahuan mengenai DBD dan pencegahannya. Selain itu Jumantik harus bertanggung jawab dan mampu memotivasi masyarakat untuk melaksanakan upaya pencegahan. Program PJR melibatkan unsur masyarkat sebagai Jumantik melalui pendidikan, pengetahuan, sikap, dan praktik yang dapat dilihat pada pelaksanaan program. Jumantik yang terlibat dalam PJR berasal dari berbagai macam latar belakang seperti usia, pendidikan, pengetahuan, dan sikap yang dapat mempengaruhi pelaksanaan program. Faktor tingkat pendidikan dapat membuat orang berperilaku sesuai dengan Pendidikan dapat membuat seseorang memiliki pengetahuan yang luas sehingga mempengaruhi pola pikirnya. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin luas ilmu yang dimiliki. 8 Cara berpikir dan bertindaknya seseorang berbeda menurut tingkat pendidikan orang tersebut. Aplikasi Tunggal Dara adalah sistem terintegrasi yang bertujuan untuk menjembatani hambatan yang muncul dalam upaya pengendalian kejadian DBD serta pelaporan kasus dan kematian DBD secara realtime milik pemerintah Kota Semarang. Hasil PJR wajib dilaporkan ke aplikasi Tunggal Dara agar DKK Semarang dapat memantau pelaksanaan PJR. Berdasarkan evaluasi Dinas Kesehatan Kota Semarang melalui aplikasi Tunggal Dara, pelaksanaan PJR belum maksimal dan merata disemua wilayah Kota Semarang dan masih ditemukan adanya beberapa wilayah yang tidak melaksanakan program PJR secara rutin. Pada tahun 2022 Kelurahan Pudakpayung masuk dalam tiga kelurahan Jurnal Riset Kesehatan Masyarakat 2024, 4, 2 ISSN: 2807-8209 DOI: 10. 14710/jrkm. 57 of 61 terendah dengan partisipasi RW yang melaporkan hasil PJR ke DKK di tahun 2022 yakni 3 Padahal hasil temuan studi pendahuluan menunjukkan bahwa masih ditemukan wilayah di Kelurahan Pudakpayung yang belum melaksanakan PJR secara rutin, adanya wilayah yang tidak melaporkan hasil pemeriksaannya ke aplikasi Tunggal Dara, adanya Jumantik yang belum mengetahui apa itu aplikasi Tunggal Dara, dan pelaksanaan PJR yang belum maksimal karena Jumantik memiliki kesibukan lain seperti bekerja. Sehingga penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis hubungan tingkat pendidikan, status pekerjaan, dan lama bertugas Jumantik terhadap pelaksanaan PJR di Kelurahan Pudakpayung. Metode Metode penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan desain studi cross sectional untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikan, pengetahuan, dan sikap secara serentak di satu saat. 11 Populasi penelitian adalah seluruh Jumantik RT yang bertugas di Kelurahan Pudakpayung yaitu sebanyak 302. Sampel yaitu sebanyak 115 Jumantik RT yang didaparkan melalui simple random sampling dan diperoleh dari perhitungan sampel minimal mengunakan rumus Slovin. Teknik pengumpulan melalui wawancara menggunakan kuesioner. Kategori tingkat pendidikan, pengetahuan, dan sikap responden ditentukan berdasarkan uji normalitas dan data tidak berdistribusi normal maka kategori berdasarka median. Hasil Tabel 1. Distribusi Frekuensi Tingkat Pendidikan Responden Tingkat Pendidikan Pendidikan Rendah Pendidikan Tinggi (Tamat SMA/Sederaja. Jumlah Tabel 2. Distribusi Frekuensi Tingkat Pekerjaan Responden Tingkat Pekerjaan Bekerja Tidak Bekerja Jumlah Tabel 3. Distribusi Frekuensi Lama Bertugas Responden Lama Bertugas Singkat Lama Jumlah Jurnal Riset Kesehatan Masyarakat 2024, 4, 2 ISSN: 2807-8209 DOI: 10. 14710/jrkm. 58 of 61 Berdasarkan Tabel 1. Diketahui sebagian besar responden berpendidikan tinggi atau tamatan SMA/Sederajat yaitu 86 responden . ,8%). Sedangkan responden dengan pendidikan rendah lebih sedikit yaitu 29 responden . ,2%). Berdasarkan Tabel 2 diketahui sebagian besar responden tidak bekerja yaitu 84 responden . %). Sedangkan responden yang bekerja yaitu 31 responden . %). Berdasarkan Tabel 3 diketahui sebagian besar responden sudah lama bertugas untuk PJR yaitu 67 responden . ,3%). Sedangkan responden kategori singkat lebih seidkit yaitu 48 responden . ,7%). Tabel 4. Analisis Bivariat Kepatuhan PJR Variabel Penelitian Kurang Patuh Patuh Tingkat Pendidikan p-value >0,999 Pendidikan Rendah ,6%) ,4%) Pendidikan Tinggi (Tamat SMA) 23 . ,7%) 63 . ,3%) Status Pekerjaan 0,050* Bekerja 13 . ,9%) 18 . ,1%) Tidak Bekerja 18 . ,4%) 66 . ,6%) Lama Bertugas >0,999 Singkat ,1%) ,9%) Lama 18 . ,9%) 49 . ,1%) Berdasarkan Tabel 4 diketahui bahwa terdapat hubungan antara status pekerjaan . -value = 0,. terhadap kepatuhan pelaksanaan PJR oleh Jumantik di Kelurahan Pudakpayung. Serta tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan . -value >0,. dan lama jumantik bertugas . -value >0,. terhadap kepatuhan pelaksanaan PJR oleh Jumantik di Kelurahan Pudakpayung. Diketahui pula bahwa Jumantik dengan tingkat pendidikan rendah cenderung kurang patuh melaksankaan PJR . ,6%) dibandingkan yang berpendidikan tinggi . ,7%). Jumantik yang tidak memiliki pekerjaan cenderung patuh melaksanakan PJR . ,6%). Jumantik yang sudah lama dalam bertugas cenderung patuh melaksanakan PJR . ,1%). Serta Kepatuhan PJR lebih banyak terjadi pada Jumantik dengan pendidikan tinggi, yang tidak bekerja, dan yang sudah lama bertugas. Pembahasan Jumantik yang berpendidikan rendah cenderung kurang patuh melaksanakan PJR, sedangkan Jumantik berpendidikan tinggi lebih patuh melaksanakan PJR. Namun kepatuhan PJR tetap ditemukan pada Jumantik yang berpendidikan tinggi maupun Walaupun terdapat Jumantik dalam kategori pendidikan rendah, tetapi masih mampu berperilaku baik dalam melaksanakan PJR dilingkungannya. Hal ini dapat terjadi ketika Jumantik didukung dan didorong oleh faktor-faktor seperti memiliki pemahaman tentang PJR dan DBD, sikap yang mendukung atau riwayat sakit DBD. Sementara Jumantik dengan pendidikan tinggi apabila dihambat oleh faktor tertentu seperti kesibukan, pekerjaan, dan kurangnya dukungan tenaga kesehatan dapat menghambat pelaksanaan PJR pada Jumantik berpendidikan tinggi. Selain itu meskipun tingkat pendidikan seseorang dapat berpengaruh pada penerimaan informasi dan nilai Jurnal Riset Kesehatan Masyarakat 2024, 4, 2 ISSN: 2807-8209 DOI: 10. 14710/jrkm. 59 of 61 dalam hidupnya, tidak menutup kemungkinan seseorang terpapar informasi mengenai perilaku kesehatan di luar lingkup lembaga pendidikan. 9 Sehingga lamanya seseorang menempuh pendidikan tidak menjamin orang tersebut akan melaksanakan pencegahan DBD secara rutin melalui PJR. 11 Temuan ini sejalan Dewi menyebutkan bahwa lamanya seseorang menempuh pendidikan tidak selalu menghasilkan perilaku Jumantik sesuai dengan yang diharapkan karena praktik yang baik dapat terjadi pada Jumantik yag berpendidikan tinggi maupun rendah. 9 Tidak sejalan dengan pendapat Notoatmodjo bahwa pendidikan termasuk faktor sosial yang akan berpengaruh pada perilaku. Macam-macam bentuk perilaku seseorang adalah karena pengaruh lingkungan terutama Jumantik yang tidak bekerja cenderung lebih patuh melaksanakan PJR, sedangkan responden yang memiliki pekerjaan cenderung kurang patuh melaksanakan PJR. Faktor memiliki pekerjaan membuat Jumantik tidak memiliki banyak waktu untuk melaksanakan PJR yang harus dilaksanakan secara rutin. Responden yang memiliki pekerjaan terikat dengan tugas-tugas dalam pekerjaanya sehingga memakan waktu untuk mengerjakannya dan hal ini dapat menghambat pelaksanaan PJR. Sedangkan responden yang tidak bekerja lebih banyak waktu luang dan mampu mengatur waktu secara fleksibel untuk melaksanakan PJR secara rutin. 12 Sehingga dengan lebih banyaknya waktu untuk memikirkan, merencanakan, dan melaksanakan tindakan PJR dapat membuat responden yang tidak bekerja lebih konsisten dan patuh melaksanakan PJR. Sejalan dengan penelitian Wong, dkk. yang menyebutkan bahwa orang yang tidak memiliki pekerjaan cenderung kurang sibuk dan lebih memiliki kesempatan melakukan pencegahan DBD seara rutin. 13 Temuan penelitian ini mendukung teori Lawrence Green dan Kreuter menyebutkan bahwa status pekerjaan bisa menjadi predisposing factor yang mendorong atau menghambat seseorang untuk berperilaku. Sejalan dengan pendapat ahli dari Snehendu Kar yang dikutip Notoatmodjo bahwa situasi yang memungkinkan dapat menghasilkan seseorang bertindak atau tidak bertindak. Jumantik yang berada di kategori singkat dalam bertugas cenderung kurang patuh melaksanakan PJR dan tidak terdapat perbedaan yang spesifik dengan Jumantik yang sudah lama bertugas pada kategori kurang patuh. Hasil analisis lama bertugas diketahui bahwa antara Jumantik yang sudah lama atau singkat dalam bertugas tidak menunjukkan perbedaan secara signifikan tingkat kepatuhannya dalam melaksanakan PJR. Karena kepatuhan atau kurang patuhnya Jumantik dapat terjadi pada Jumantik yang sudah lama bertugas ataupun singkat dalam bertugas. Lama jumantik bertugas melaksanakan PJR. Walaupun telah lama bertugas, namun tidak menutup kemungkinan adanya faktor atau karakteristik tertentu yang tidak mendukung pelaksanaan PJR seperti pelaksanaan program dititik beratkan pada Jumantik yang baru bertugas, dapat menghambat pelaksanaan program. Sedangkan Jumantik yang masih singkat sangat memungkinkan lebih patuh pada PJR karena didukung dan didorong pengetahuan dan sikap yang mendukung. 11 Temuan ini tidak mendukung teori yang menyebutkan bahwa kurang patuhnya terhadap tugas dan tanggung jawab dalam menjalankan PJR dapat disebabkan oleh kurangnya pengalaman Jumantik terhadap tugas dan tanggung jawab. Serta temuan penelitian ini tidak mendukung pendapat Notoatmodjo bahwa perilaku Jurnal Riset Kesehatan Masyarakat 2024, 4, 2 ISSN: 2807-8209 DOI: 10. 14710/jrkm. 60 of 61 seseorang diawali dengan adanya pengalaman serta faktor di luar orang tersebut sehingga dapat terwujudlah perilaku. Kesimpulan Sehingga dapat disimpulkan dari temuan ini bahwa Jumantik di Kelurahan Pudakpayung sebagian besar telah memiliki pengetahuan yang baik mengenai pelaksanaan program Pemeriksaan Jentik Rutin (PJR). Walaupun masih ditemukan beberapa Jumantik yang belum mengetahui pelaksanaan PJR dengan baik. Diperlukan upaya penyebarluasan informasi terkait DBD dan pelaksanaan PJR baik melalui penyebaran poster, penyuluhan, atau pelatihan yang mudah diakses dan merata di wilayah Kelurahan Pudakpayung agar dapat meningkatkan pemahaman Jumantik dalam pelaksanakan PJR di setiap lingkungan bertugas. Karena semakin luasnya informasi yang dapat diakses oleh Jumantik dan masyarakat akan berimplikasi pada peningkatan pengetahuan masyarakat. Referensi