Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 05 No. 01 (December 2. 01 Ae 17 Jurnal Teologi (JUTEOLOG) e-ISSN 2775-4006 https://ejurnal. id/index. php/juteolog p-ISSN 2774-9355 https://doi. org/10. 52489/juteolog. Becoming a True Worshiper: Analisis Eksegetis Teologis Yohanes 4:23 tentang Penyembahan dalam Roh dan Kebenaran Yudha Ardiyanto. Meitha Sartika. Meriyana. Sekolah Tinggi Teologi Bethel the Way Jakarta, yudhaardiyanto25@gmail. Recommended Citation Turabian 8th edition . ull not. Adiyanto et all. AiBecoming a True Worshiper: Analisis Eksegetis Teologis Yohanes 4:23 tentang Penyembahan dalam Roh dan Kebenaran. An Jurnal Teologi (JUTEOLOG) 5, no. (December 31, 2. : 1-17, accessed December 31, 2024, https://doi. org/10. 52489/juteolog. American Psychological Association 7th edition (Adiyanto et all, 2024, p. Received: 21November 2024 Accepted: 25 Juli 2025 Published: 31 December 2024 This Article is brought to you for free and open access by Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Yogyakarta. It has been accepted for inclusion in Christian Perspectives in Education by an authorized editor of Jurnal Teologi (JUTEOLOG). For more information, please contact yudhaardiyanto25@gmail. Yudha Ardiyanto. Meitha Sartika. Meriyana Abstract This journal discusses theological exegetical analysis of John 4:23, which reveals the concept of true worship according to Jesus' teachings. In this verse. Jesus emphasizes that true worship is worship "in spirit and truth," which means that worship is not limited to a particular ritual or place, but must involve all aspects of human life, both spiritual, inner, and practical, and in accordance with God's revelation contained in His Word. This journal explores the meaning of key words in the Greek text, such as "proskuneo" . , "alethinoi" . , and "en pneumati" . n spiri. , to provide a deeper understanding of the principles of true worship. In addition, this journal also identifies the theological implications of true worship, which focus on life transformation, honesty and authenticity, and how worship should be a lifestyle that reflects the depth of relationship with God. Thus, this study provides important insights into the application of the principles of true worship in the context of the contemporary church and the faith life of Christians. Keywords: Worshiper. True, spirit, truth Abstrak Jurnal ini membahas analisis eksegetis teologis terhadap Yohanes 4:23, yang mengungkapkan konsep penyembahan sejati menurut ajaran Yesus. Dalam ayat tersebut. Yesus menekankan bahwa penyembahan yang benar adalah penyembahan "dalam roh dan kebenaran," yang berarti penyembahan tidak terbatas pada ritual atau tempat tertentu, melainkan harus melibatkan seluruh aspek kehidupan manusia, baik rohani, batiniah, maupun praktis, dan sesuai dengan wahyu Allah yang terkandung dalam Firman-Nya. Jurnal ini mengeksplorasi makna kata-kata kunci dalam teks Yunani, seperti "proskuneo" . , "alethinoi" . , dan "en pneumati" . alam ro. , untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai prinsip-prinsip penyembahan sejati. Selain itu, jurnal ini juga mengidentifikasi implikasi teologis dari penyembahan sejati, yang berfokus pada transformasi hidup, kejujuran dan otentisitas, serta bagaimana penyembahan harus menjadi gaya hidup yang mencerminkan kedalaman hubungan dengan Allah. Dengan demikian, penelitian ini memberikan wawasan penting mengenai penerapan prinsip-prinsip penyembahan sejati dalam konteks gereja kontemporer dan kehidupan iman umat Kristiani. Kata kunci: Penyembah. Benar. Roh, kebenaran PENDAHULUAN Penyembahan merupakan inti dari kehidupan rohani umat Kristen. Pujian dan penyembahan adalah sarana sekaligus jalan bagi manusia dapat memiliki hubungan yang intim denganTuhan, bahkan membawa manusia ke dalam suatu tingkat keakraban yang baru dan lebih tinggi dengan-Nya (Wungow & Lidany, 2021, p. Namun, dalam kehidupan gereja masa kini, seringkali penyembahan dipahami hanya sebatas ritual atau aktivitas eksternal yang kurang menggambarkan kedalaman makna yang diajarkan oleh Yesus dalam Injil Yohanes. Yohanes 4:23 menekankan bahwa penyembahan sejati harus dilakukan dalam roh dan kebenaran. Hal ini mengajak umat Kristen untuk memahami lebih dalam tentang bagaimana penyembahan yang berkenan di hati Allah seharusnya diwujudkan. Namun, dalam Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 1 December 2024 Yudha Ardiyanto. Meitha Sartika. Meriyana praktiknya, masih banyak kebingungannya mengenai pengertian penyembahan yang sejati, terutama dalam konteks kehidupan modern yang cenderung mengutamakan formalitas ritual. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengupas makna yang terkandung dalam Yohanes 4:23, yang berbicara tentang penyembahan dalam roh dan kebenaran, serta aplikasinya bagi umat Kristen masa kini. Menurut Seamen dalam bukunya Becoming True Worshiper. Penyembahan dapat dipahami melalui empat definisi penting. Pertama, menyembah adalah bentuk pengakuan dan pernyataan nilai terhadap sesuatu atau seseorang, khususnya Tuhan. Kedua, penyembahan merupakan respons afirmatif terhadap penyataan diri Allah Tritunggal, yang mengungkapkan siapa Dia melalui wahyu-Nya. Ketiga, ibadah adalah penyerahan total dari seluruh kodrat manusia kepada Tuhan, mencakup hati nurani, pikiran, emosi, kemauan, imajinasi, dan tubuh. Terakhir. Seamen menyatakan bahwa penyembahan adalah kegiatan tertinggi yang sangat diperlukan dalam gereja Kristen, karena hanya cinta kasih kepada Tuhan yang akan bertahan, bahkan hingga ke surga, sementara semua aktivitas gereja lainnya akan berlalu. Penyembahan sejati adalah ekspresi kasih yang tidak tergantikan dalam kehidupan rohani Kristen (Seaman, 2. Yudianto menjelaskan dalam bukunya Becoming a True Worshipper bahwa kata proskuneo atau penyembahan mengandung makna pengakuan akan keberadaan Pribadi yang lebih tinggi, yaitu Allah yang Mahatinggi, yang memang layak untuk disembah. Pengakuan ini diungkapkan melalui rasa kagum, hormat, dan takut yang disertai pujian kepada-Nya. Selain itu, penyembahan juga mencakup kesetiaan untuk mengikuti Tuhan serta melayaniNya secara sungguh-sungguh (Daniel Yudianto, 2021, pp. 13Ae. Dalam bukunya Mengobarkan Api Penyembahan. Setiawan menjelaskan bahwa dalam Perjanjian Lama, kata Ibrani yang digunakan untuk "menyembah Tuhan" adalah shachah . , yang memiliki arti bersujud, tersungkur, membungkukkan badan, dan merendahkan diri sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan. Sementara itu, dalam Perjanjian Baru, kata Yunani yang digunakan adalah proskuneo, yang juga berarti bersujud, tersungkur, menghormati, dan menyanjung Tuhan (Setiawan, 2021, n. Penyembahan dalam roh dan kebenaran merupakan esensi yang sangat penting dalam kehidupan rohani Kristen. Melalui analisis eksegetis terhadap Yohanes 4:23, kita tidak hanya dapat memahami makna dari konsep tersebut secara teologis, tetapi juga mengaplikasikannya dalam kehidupan gereja dan pribadi umat Kristen saat ini. Hal ini relevan karena penyembahan sering dipandang sebagai hal yang terpisah dari kehidupan sehari-hari, padahal Yesus mengajarkan bahwa penyembahan sejati adalah bentuk kehidupan yang mencerminkan hubungan yang benar dengan Allah. Fokus dari penelitian ini adalah bahwa penyembahan yang sejati, sebagaimana yang diajarkan oleh Yesus dalam Yohanes 4:23, melibatkan dua unsur utama: penyembahan dalam roh yang berarti keterlibatan batin dan hati yang tulus kepada Tuhan, serta penyembahan dalam kebenaran yang merujuk pada penyembahan yang sesuai dengan firman Tuhan dan kehendak-Nya. Kedua unsur ini harus berjalan seiring agar dapat disebut penyembahan yang benar di hadapan Allah. Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 1 December 2024 Yudha Ardiyanto. Meitha Sartika. Meriyana Artikel ini bertujuan untuk menjawab beberapa pertanyaan mendasar terkait konsep penyembahan sejati dalam Yohanes 4:23, yaitu: apa arti "menyembah dalam roh dan kebenaran" dalam konteks pernyataan Yesus, bagaimana konteks historis dan kultural pada masa itu membantu memahami dialog-Nya dengan perempuan Samaria, serta apa implikasi teologis dari pernyataan ini terhadap penyembahan Kristen. Dengan menganalisis konsep penyembahan dalam roh dan kebenaran melalui eksposisi ayat tersebut, artikel ini juga bermaksud menjelaskan konteks historis, teologis, dan kultural dari dialog tersebut, sekaligus mengidentifikasi prinsip-prinsip penyembahan sejati yang relevan dan dapat diterapkan dalam kehidupan gereja modern. METODE Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis eksegetis teologis. Pendekatan deskriptif kualitatif bertujuan untuk menggambarkan secara rinci pemahaman tentang penyembahan dalam roh dan kebenaran berdasarkan Yohanes 4:23, dengan memfokuskan pada interpretasi teks secara mendalam dan kontekstual. Proses analisis eksegetis dilakukan dengan menggali makna asli kata-kata dalam bahasa Yunani, seperti "proskuneo" . , "alethinoi" . , dan "en pneumati" . alam ro. , serta menggali konteks historis dan kultural saat Yesus berbicara dengan perempuan Samaria. Dengan demikian, penelitian ini berusaha memberikan pemahaman yang lebih tepat mengenai prinsip-prinsip penyembahan yang sejati. Sumber yang digunakan dalam penelitian ini mencakup kajian literatur yang terdiri dari jurnal-jurnal ilmiah, buku-buku rohani, serta teks-teks teologi yang relevan. Jurnal-jurnal ilmiah dan buku-buku rohani memberikan wawasan terkini mengenai konsep penyembahan dalam konteks gereja kontemporer, serta aplikasi teologis dari prinsip-prinsip yang ditemukan dalam Yohanes 4:23. Penelitian ini juga merujuk pada literatur yang membahas praktik-praktik penyembahan di gereja masa kini dan pengaruhnya terhadap kehidupan rohani jemaat. Dengan memanfaatkan sumber-sumber tersebut, penelitian ini berupaya mengembangkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang penyembahan sejati yang diinginkan oleh Allah. HASIL DAN PEMBAHASAN Konsep Penyembahan dalam Roh dan Kebenaran: Eksposisi dan Eksegesis Bahasa Yunani Yohanes 4:23 Konteks Ayat Yohanes 4:23 berada dalam dialog yang dimulai dengan perempuan Samaria mempertanyakan tempat yang sah untuk menyembah Allah (Yohanes 4:20-. (Sinaga, 2024. Yesus menjelaskan bahwa penyembahan tidak lagi terikat pada tempat tertentu, seperti gunung Gerizim . empat ibadah orang Samari. atau Yerusalem (Bait Allah bangsa Yahud. Penyembahan yang sejati, menurut Yesus, adalah "dalam roh dan kebenaran. Analisis Eksegetis Fokus pada Kata-kata Kunci dalam Yohanes 4:23 Penyembah. AAe . Kata AAe . dalam Yohanes 4:23 berarti "penyembah," berasal dari kata kerja AAEEO . yang menggambarkan tindakan penghormatan atau penyembahan, sering kali dengan sikap tubuh Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 1 December 2024 Yudha Ardiyanto. Meitha Sartika. Meriyana bersujud sebagai simbol ketundukan (Dhandi et al. , 2023, pp. 34Ae. Dalam konteks ayat ini. AAe menunjuk kepada mereka yang memberikan penyembahan kepada Allah dengan penuh penghormatan dan pengakuan akan otoritas-Nya. Penyembahan ini melibatkan hati yang tunduk, bukan hanya tindakan lahiriah, melainkan respons yang sepenuh hati terhadap Allah sebagai Tuhan. Makna ini menekankan bahwa penyembah sejati adalah mereka yang hidup dalam hubungan yang mendalam dengan Allah, mempersembahkan penyembahan yang otentik dan berlandaskan kebenaran. Benar. A . Kata A . dalam Yohanes 4:23 berarti "sejati" atau "benar," yang merujuk pada keaslian dan otentisitas. Dalam konteks ayat ini. A AAe . enyembah sejat. menggambarkan mereka yang menyembah Allah dengan hati yang tulus dan hidup yang selaras dengan kehendak-Nya. Istilah ini menekankan penyembahan yang tidak hanya bersifat formal atau ritualistik, tetapi yang mencerminkan hubungan rohani yang mendalam dan pengenalan yang benar akan Allah. Penyembah sejati adalah mereka yang dipimpin oleh Roh Kudus dan menyembah berdasarkan kebenaran Firman Allah, menunjukkan integritas iman dan kesetiaan dalam kehidupan mereka (Barito. Menyembah. Proskuneo (AAEEO). Kata AAEEO . dalam bahasa Yunani berarti "menyembah" atau "bersujud," yang secara harfiah menggambarkan tindakan fisik tunduk atau bersujud di hadapan seseorang sebagai bentuk penghormatan. Dalam konteks Alkitab, istilah ini melampaui tindakan fisik dan mencakup penghormatan batiniah yang mendalam kepada Allah sebagai Tuhan yang berdaulat. Penyembahan yang dimaksud oleh AAEEO melibatkan pengakuan akan keagungan, kemuliaan, dan otoritas Allah, yang diekspresikan melalui sikap hati yang tunduk, penuh kasih, dan ketaatan. Dalam Yohanes 4:23, kata ini menunjukkan penyembahan yang bersifat spiritual dan sejati, bukan hanya ritualistik, melainkan lahir dari hubungan yang intim dengan Allah melalui Roh dan Proskynes berasal dari gabungan kata "pros" . e ara. dan "kynes" . Dalam pengertian harfiahnya, proskynes berarti Aimencium ke arah,An atau memberi tanda hormat seperti seseorang yang berlutut atau bersujud di hadapan seorang penguasa atau raja, sebagai simbol penghormatan yang mendalam. Dalam budaya kuno, berlutut atau mencium tangan seseorang, terutama di kalangan kerajaan atau ilahi, adalah simbol kepatuhan, penghormatan, dan penyerahan diri secara penuh (Wijaya, 2015, p. Dalam roh, a AAsE . n pneumat. Frasa a AAsE . n pneumat. dalam Yohanes 4:23 berarti "dalam roh," yang mengacu pada dimensi spiritual penyembahan. Kata AAsE . dapat merujuk pada Roh Kudus atau roh manusia yang telah dihidupkan oleh Allah melalui karya Roh Kudus. Penyembahan "dalam roh" berarti melibatkan seluruh keberadaan batiniah manusia yang dipimpin oleh Roh Kudus, bebas dari keterikatan pada lokasi fisik atau ritual eksternal (Widodo, 2022, pp. 41Ae. Penyembahan ini tidak terbatas pada formalitas atau tradisi, tetapi mencerminkan hubungan langsung dan mendalam dengan Allah. Frasa ini menegaskan bahwa penyembahan sejati bersifat rohani, personal, dan intim, di mana hati manusia terhubung secara langsung dengan Allah melalui karya Roh-Nya. Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 1 December 2024 Yudha Ardiyanto. Meitha Sartika. Meriyana Dan Kebenaran. AA . ai alethei. Frasa AA . ai alethei. dalam Yohanes 4:23 berarti "dan kebenaran," yang menunjuk pada penyembahan yang didasarkan pada realitas sejati Allah sebagaimana diungkapkan melalui Firman-Nya dan dalam pribadi Yesus Kristus (Mau, 2021, p. Kata AA . menekankan kebenaran yang otentik, bukan sekadar pengetahuan intelektual, tetapi pemahaman yang benar tentang siapa Allah itu dan bagaimana Dia ingin disembah (Miraji & Susanto, 2022, p. Penyembahan "dalam kebenaran" mengharuskan umat percaya untuk meninggalkan penyembahan yang salah atau keliru, baik yang berbasis tradisi manusia maupun kesalahan doktrin, dan menggantinya dengan penyembahan yang sesuai dengan wahyu ilahi. Hal ini menekankan integritas dan keselarasan antara hati, pikiran, dan tindakan dalam menyembah Allah yang Dalam Injil Yohanes. Yesus sering diidentifikasi sebagai kebenaran itu sendiri (Yohanes 14:. (Biri, 2024, p. Sementara Kata A berarti "benar" atau "sejati," mengacu pada sesuatu yang asli, bukan imitasi. Dalam konteks ini, "penyembah sejati" adalah mereka yang tidak hanya melakukan ritual keagamaan tetapi benar-benar menyembah dengan hati yang selaras dengan Allah. Menyembah dalam aletheia atau "kebenaran" berarti bahwa penyembahan kita harus sesuai dengan karakter dan firman Tuhan (Kurniawan et al. , 2022, p. Ini bukan sekadar mengikuti kebiasaan atau tradisi, tetapi sebuah komitmen untuk hidup dalam realitas yang sesuai dengan Tuhan. Penyembahan dalam aletheia mengandung unsur kejujuran terhadap diri sendiri dan Allah, di mana penyembah hadir di hadapan-Nya dengan hati yang jujur dan hidup yang selaras dengan ajaran-Nya. Aletheia mengingatkan bahwa penyembahan sejati adalah penyembahan yang tidak hanya mencari pengalaman emosional tetapi berakar dalam pemahaman yang benar tentang siapa Allah dan apa yang dikehendaki-Nya. a AA berarti penyembahan yang sejati hanya mungkin jika dilakukan dalam pengetahuan yang benar tentang Allah melalui Yesus Kristus. Sang Kebenaran. Makna Penyembahan dalam Roh dan Kebenaran Penyembahan dalam Roh . AAsE). Penyembahan ini melibatkan hati, pikiran, dan roh manusia yang diarahkan kepada Allah melalui bimbingan Roh Kudus. Penyembahan tidak terbatas pada ritual atau lokasi fisik, tetapi melibatkan pengalaman batin yang mendalam (Barito, n. Aplikasi teologis: Penyembahan dalam roh memungkinkan manusia untuk mengalami hubungan yang intim dengan Allah, melampaui batasan tempat atau bentuk Penyembahan dalam Kebenaran . AA). Penyembahan ini didasarkan pada pengenalan akan Allah yang sejati sebagaimana dinyatakan melalui Yesus Kristus. Kebenaran Firman Allah menjadi standar penyembahan, menghindarkan dari penyembahan palsu atau penyembahan yang keliru. Aplikasi teologis: Penyembahan dalam kebenaran memerlukan pemahaman doktrinal yang benar, sehingga penyembahan tidak hanya emosional tetapi juga intelektual. Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 1 December 2024 Yudha Ardiyanto. Meitha Sartika. Meriyana Implikasi Teologis Allah Menghendaki Penyembah Sejati: Frasa EsEEC EAn menunjukkan bahwa Allah aktif mencari penyembah yang menyembah dalam roh dan kebenaran. Hal ini menegaskan bahwa penyembahan sejati adalah prioritas Allah. Universalitas Penyembahan: Dengan menghapus batasan geografis. Yesus membuka pintu bagi semua bangsa untuk menyembah Allah . andingkan dengan Wahyu 7:. Kristosentrisitas: Penyembahan sejati hanya mungkin melalui Yesus Kristus sebagai jalan, kebenaran, dan hidup. Ciri-Ciri Penyembahan yang Sejati dalam Yohanes 4:23 Penyembah yang benar menurut Yohanes 4:23 memiliki beberapa ciri utama yang mencerminkan transformasi hidup dan hubungan yang autentik dengan Allah. Pertama, mereka hidup dalam kebenaran, yang berarti kehidupan mereka dipenuhi dengan perubahan hati dan pikiran yang selaras dengan Firman Tuhan, menunjukkan buah pertobatan sejati. Kedua, mereka memiliki gaya hidup doa, pujian, dan penyembahan yang berkesinambungan, sebagai respons terhadap kasih dan kebenaran Allah yang menyentuh hati mereka. Ketiga, mereka mencintai Firman Tuhan, menjadikannya pedoman hidup yang memberi arah dan kekuatan (Larcher et al. , 2010, p. Keempat, penyembah yang benar juga menunjukkan belas kasihan terhadap jiwa-jiwa, berusaha membawa orang lain kepada Allah melalui tindakan kasih, empati, dan penginjilan, sebagai refleksi dari kasih Allah yang mereka alami. Semua ciri ini mencerminkan penyembahan yang menyeluruh, bukan hanya secara ritual tetapi juga dalam seluruh aspek kehidupan sehari-hari. Konteks Historis. Teologis, dan Kultural dari Dialog Yesus dan Perempuan Samaria. Latar Belakang Penulisan Yohanes 4:23 Injil Yohanes, yang ditulis oleh rasul Yohanes, merupakan salah satu kitab dalam Perjanjian Baru yang menonjolkan identitas Yesus sebagai Anak Allah dan Penyelamat Yohanes tidak hanya bertujuan untuk mencatat kehidupan Yesus, tetapi lebih menekankan pengajaran teologis yang mendalam tentang siapa Yesus dan apa makna dari karya keselamatan-Nya bagi umat manusia. Salah satu tema penting yang diangkat oleh Yohanes adalah konsep penyembahan sejati (Sianipar et al. , 2023, p. Yohanes 4:23 berada dalam konteks percakapan Yesus dengan perempuan Samaria di sumur Yakub (Yohanes 4:1-. Percakapan ini dimulai dengan Yesus meminta air kepada perempuan Samaria tersebut, yang kemudian berkembang menjadi diskusi tentang air hidup yang hanya dapat diberikan oleh Yesus. Dalam percakapan ini, perempuan Samaria tersebut akhirnya bertanya kepada Yesus mengenai tempat yang benar untuk menyembah Allah, yang kemudian dijawab oleh Yesus dengan penekanan bahwa penyembahan yang sejati tidak bergantung pada tempat fisik, melainkan pada penyembahan dalam roh dan kebenaran. Konflik Sosial dan Religius Pada waktu itu, ada ketegangan antara orang Yahudi dan Samaria terkait tempat Orang Yahudi memandang Yerusalem sebagai tempat yang paling suci dan tempat yang benar untuk menyembah Allah, sementara orang Samaria menyembah di Gunung Gerizim, yang mereka anggap sebagai tempat suci yang sah. Dalam konteks ini. Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 1 December 2024 Yudha Ardiyanto. Meitha Sartika. Meriyana perempuan Samaria tersebut mengajukan pertanyaan tentang perbedaan pandangan ini. Yesus, dalam jawabannya, tidak hanya mengarahkan pada perbedaan tempat penyembahan, tetapi mengubah fokusnya pada esensi penyembahan itu sendiri. Dia menyatakan bahwa penyembahan sejati bukan lagi bergantung pada lokasi fisik, tetapi pada kualitas penyembahan yang melibatkan roh dan kebenaran (Tembang, 2023, p. Pentingnya Konteks Kultural dan Keagamaan Pada zaman Yesus, tempat penyembahan memiliki signifikansi besar dalam kehidupan agama Yahudi dan Samaria. Dalam percakapan ini. Yesus menegaskan bahwa penyembahan tidak terikat pada tempat, tetapi pada kualitas penyembahan yang sesuai dengan kehendak Allah. Dengan kata lain. Yesus menekankan bahwa penyembahan sejati adalah hasil dari hubungan batin yang benar dengan Tuhan, yang diwujudkan dalam ketulusan hati, ketaatan pada kebenaran, dan hidup yang dipenuhi oleh roh-Nya (KRISTIANTO, 2016, p. Konteks Naratif (Yohanes 4:1-. Pada awal pasal ini. Yesus sedang dalam perjalanan dari Yudea ke Galilea, dan harus melewati wilayah Samaria. Di tengah perjalanan. Yesus berhenti di sebuah sumur di dekat kota Sykar di wilayah Samaria, di mana Ia bertemu dengan seorang perempuan Samaria yang sedang mengambil air. Percakapan ini mulai dengan Yesus meminta air minum kepada perempuan tersebut. Percakapan itu kemudian berkembang, dengan Yesus berbicara tentang "air hidup" yang dapat diberikan-Nya, yang berbeda dengan air biasa dari sumur tersebut. Perempuan itu tidak sepenuhnya memahami maksud Yesus, dan mengira Yesus sedang berbicara tentang air yang dapat menghapus dahaga fisiknya selamanya. Namun. Yesus menjelaskan bahwa air hidup yang Ia tawarkan adalah sesuatu yang lebih dari sekadar kebutuhan fisik. itu adalah hidup yang kekal, yang hanya dapat diberikan oleh-Nya (Sinaga, 2024, pp. 133Ae. Perjalanan Yesus dari Yehuda ke Galilea (Yohanes 4:1-. Meskipun secara geografis perjalanan dari Yehuda . i selata. ke Galilea . i utar. dapat ditempuh dengan dua jalur utama, yaitu jalur yang melalui Samaria di tengah Israel atau jalur yang lebih panjang melalui Perea di sisi timur sungai Yordan. Yesus memilih untuk melewati Samaria, yang merupakan pilihan yang mengejutkan bagi banyak orang Yahudi pada waktu itu (Sinaga, 2024, pp. 133Ae. Pilihan Rute yang Tidak Lazim. Jalur yang lebih umum diambil oleh orang Yahudi yang bepergian dari Yehuda . ke Galilea . adalah jalur Perea, yang menghindari wilayah Samaria sama sekali. Rute ini lebih panjang, tetapi orang Yahudi biasanya memilihnya untuk menghindari kontak dengan orang Samaria yang dianggap tercemar. Untuk melewati Samaria, seseorang harus siap menghadapi rasa permusuhan dan prasangka dari sesama orang Yahudi yang memandang rendah orang Samaria (Baskara T. Wardaya, , p. Namun. Yesus memilih untuk melewati Samaria, yang jelas-jelas menantang kebiasaan sosial dan norma agama yang berlaku pada waktu itu. Hal ini mengejutkan, karena Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 1 December 2024 Yudha Ardiyanto. Meitha Sartika. Meriyana secara budaya dan agama, pilihan ini dianggap kontroversial dan melawan kebiasaan yang diterima oleh masyarakat Yahudi. Konflik Sosial dan Agama antara Yahudi dan Samaria. Orang Yahudi pada umumnya menghindari perjalanan melalui Samaria karena konflik sejarah dan agama antara mereka dengan orang Samaria. Mereka sering memilih jalur lebih panjang melalui Perea untuk menghindari interaksi dengan orang Samaria yang dianggap tercemar secara agama. Namun. Yesus memilih untuk melewati Samaria, yang menunjukkan bahwa Ia tidak terikat pada norma sosial atau prasangka agama (Halim, 2018, p. Penyampaian Pesan Universal. Dengan melewati Samaria. Yesus memberikan pesan bahwa karya keselamatan-Nya adalah untuk semua orang, bukan hanya bagi orang Yahudi. Dalam pertemuan-Nya dengan perempuan Samaria di sumur Yakub (Yohanes 4:7-. Yesus menunjukkan bahwa penyelamatan dan hubungan dengan Allah tidak terikat pada tempat atau bangsa tertentu. Yesus menekankan bahwa penyembahan sejati adalah dalam roh dan kebenaran, yang dapat dijalankan oleh siapa saja, tidak terbatas pada orang Yahudi saja. Pertemuan dengan Perempuan Samaria. Yesus memiliki pertemuan yang luar biasa dengan perempuan Samaria di sumur Yakub, yang menjadi momen pengajaran penting. Dalam percakapan ini. Yesus mengungkapkan dirinya sebagai "Mesias" kepada perempuan tersebut (Yohanes 4:25-. , yang menunjukkan bahwa penyelamatan yang Ia bawa bersifat inklusif dan melampaui batas-batas etnis dan agama. Yesus juga mengajarkan tentang "air hidup" yang diberikan-Nya, yang hanya dapat memberikan kehidupan kekal. Tindakan Profetik. Pemilihan jalur melalui Samaria bisa dilihat sebagai tindakan profetik oleh Yesus untuk menunjukkan bahwa kerajaan Allah terbuka untuk semua orang, termasuk mereka yang dianggap terpinggirkan atau tercemar oleh masyarakat Yahudi pada waktu itu. Dengan menyebarkan Injil kepada orang Samaria. Yesus menantang pandangan sempit orang Yahudi tentang siapa yang layak menerima kasih Allah. Rencana Ilahi. Selain itu, perjalanan Yesus melalui Samaria adalah bagian dari rencana ilahi-Nya untuk menyampaikan kabar baik kepada seluruh umat manusia. Dalam Yohanes 4:34. Yesus mengatakan, "Makanan-Ku adalah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. " Melalui perjalanan ini. Yesus memenuhi kehendak Allah untuk memberitakan Injil tidak hanya kepada orang Yahudi, tetapi juga kepada orang Samaria dan bangsa-bangsa lain. Yesus memilih jalur melalui Samaria bukan karena itu adalah jalur yang paling mudah atau paling diterima secara sosial oleh orang Yahudi, tetapi karena ini adalah bagian dari misi-Nya untuk membawa keselamatan bagi semua orang, termasuk mereka yang dianggap terasing atau tercemar. Tindakan Yesus ini adalah pernyataan teologis yang menunjukkan bahwa kerajaan Allah bersifat inklusif dan bahwa penyembahan sejati tidak tergantung pada tempat, suku, atau status sosial, tetapi pada hubungan pribadi yang benar dengan Allah dalam roh dan kebenaran. Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 1 December 2024 Yudha Ardiyanto. Meitha Sartika. Meriyana Prinsip-Prinsip dan Implementasi Penyembahan Sejati yang Dapat Diadopsi oleh Gereja Modern Berdasarkan Yohanes 4:23 dan prinsip penyembahan dalam roh dan kebenaran, gereja modern dapat mengadopsi beberapa prinsip berikut untuk memastikan bahwa ibadah yang dilaksanakan sesuai dengan kehendak Allah. Prinsip-prinsip ini berfungsi sebagai panduan untuk mengarahkan ibadah agar menjadi sejati, relevan, dan membawa jemaat lebih dekat kepada Allah. Berpusat pada Allah. Bukan Program atau Tradisi Penyembahan yang benar seharusnya berpusat pada Allah (Willard, 2020, pp. 211Ae . , bukan pada program atau tradisi gereja. Banyak kali, ibadah dan penyembahan menjadi terfokus pada kegiatan-kegiatan atau rutinitas tertentu yang mungkin baik secara sosial, tetapi tidak membawa kedalaman rohani yang sejati. Gereja, sebagai tempat persekutuan, memang memiliki banyak program dan tradisi yang penting untuk pertumbuhan umat, namun yang lebih utama adalah penyembahan yang memuliakan Allah sebagai pusat segala sesuatu. Ketika penyembahan berpusat pada Allah, segala kegiatan yang dilakukan dalam ibadah baik itu doa, pujian, atau pelayanan menjadi sarana untuk mengalami kehadiran-Nya dan bukan hanya untuk memenuhi kewajiban atau menjalankan rutinitas belaka. Penyembahan yang berpusat pada Allah menuntut umat percaya untuk menjaga motivasi hati mereka, yang harus senantiasa terfokus pada Allah sebagai sumber segala kebenaran dan kehidupan. Dalam Yohanes 4:23. Yesus menekankan bahwa penyembahan sejati bukanlah soal tempat atau tradisi, tetapi soal hati yang dipimpin oleh Roh Kudus dan hidup dalam kebenaran. Penyembahan yang benar mengundang orang untuk datang kepada Allah dengan sikap hati yang tulus, tanpa terperangkap dalam kebiasaan yang hanya menekankan aspek eksternal semata. Dalam hal ini, gereja harus terus-menerus mengingatkan jemaat untuk menjaga agar penyembahan tetap berpusat pada Allah, menjadikan-Nya sebagai fokus utama dan tujuan dari setiap kegiatan rohani. Penyembahan yang Didukung oleh Roh Kudus Penyembahan yang didukung oleh Roh Kudus adalah penyembahan yang dilandasi oleh kehadiran dan kuasa Roh Kudus dalam hidup orang percaya. Yohanes 4:23 menyebutkan bahwa penyembahan sejati adalah "dalam roh," yang menunjukkan bahwa Roh Kudus memainkan peran sentral dalam memungkinkan umat percaya untuk menyembah Allah dengan cara yang berkenan kepada-Nya. Roh Kudus bukan hanya sebagai penuntun atau penghibur, tetapi juga sebagai yang mengaktifkan hati manusia untuk mengalami hubungan yang lebih dalam dengan Allah. Tanpa kuasa Roh Kudus, penyembahan akan terjebak dalam rutinitas dan formalitas, tidak mencapai kedalaman yang sejati. Penyembahan yang didorong oleh Roh Kudus menghasilkan hati yang sungguh-sungguh, terbuka untuk mendengar suara Allah, dan penuh dengan kerendahan hati serta rasa hormat terhadap kehadiran-Nya (Irawan, 2019, p. Gereja harus menciptakan ruang yang memungkinkan orang percaya mengalami karya Roh Kudus secara nyata dalam ibadah. Ini dapat dilakukan dengan memberikan kesempatan bagi jemaat untuk berdoa secara pribadi, mendengarkan suara Allah melalui Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 1 December 2024 Yudha Ardiyanto. Meitha Sartika. Meriyana Firman-Nya, dan membiarkan Roh Kudus bekerja dalam hati mereka selama waktu pujian dan penyembahan. Selain itu, gereja juga perlu mengajarkan jemaat untuk peka terhadap ledakan kuasa Roh Kudus, baik dalam momen-momen hening maupun dalam ekspresi eksternal seperti berbahasa roh, sukacita, atau kesedihan yang mendalam sebagai respons terhadap Allah. Penyembahan yang didorong oleh Roh Kudus mengarah pada pemulihan, pembaruan rohani, dan pertumbuhan yang berkelanjutan dalam iman, yang mengarah pada kehidupan yang lebih serupa dengan Kristus. Mengakar pada Firman Tuhan (Kebenaran Alkitabia. Penyembahan yang sejati harus mengakar pada Firman Tuhan, karena kebenaran Alkitab adalah dasar dari semua aspek kehidupan orang percaya, termasuk dalam Yohanes 4:23 menyatakan bahwa penyembahan harus dilakukan "dalam kebenaran," yang berarti bahwa penyembahan yang berkenan kepada Allah hanya dapat terjadi ketika didasarkan pada pemahaman dan pengajaran yang benar tentang siapa Allah, seperti yang diungkapkan dalam Firman-Nya. Tanpa landasan Firman Tuhan, penyembahan bisa menjadi kosong atau menyimpang, terjebak dalam perasaan atau tradisi yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Firman Tuhan memberikan arah yang jelas, membentuk cara kita berdoa, memuji, dan menyembah Allah, serta memastikan bahwa penyembahan kita tetap berada dalam kebenaran yang diwahyukan oleh-Nya (Rim, 2021, p. Gereja perlu menekankan pentingnya pengajaran Alkitab yang mendalam dan konsisten dalam setiap ibadah dan pelayanan. Penyembahan yang benar tidak hanya terjadi di luar melalui nyanyian dan doa, tetapi juga melalui pemahaman yang mendalam tentang Firman Tuhan. Jemaat diajak untuk merenungkan dan mengaplikasikan kebenaran Alkitab dalam hidup sehari-hari, agar penyembahan mereka tidak hanya menjadi seremonial tetapi juga menjadi refleksi dari hidup yang diubah oleh kebenaran tersebut. Dalam setiap ibadah, pembacaan Alkitab harus diutamakan, dan pengajaran Firman Tuhan harus mengarahkan jemaat untuk menyembah Allah dengan pengetahuan yang benar tentang siapa Dia dan bagaimana Dia menghendaki kita menyembah-Nya. Dengan cara ini, gereja dapat memastikan bahwa penyembahan yang dilakukan tidak hanya sesuai dengan kehendak Allah, tetapi juga berbuah dalam kehidupan yang lebih kudus dan berkenan kepada-Nya. Mengutamakan Kejujuran dan Otentisitas Penyembahan yang sejati mengutamakan kejujuran dan otentisitas, di mana penyembah datang dengan hati yang tulus, tanpa kepura-puraan. Yohanes 4:23 menekankan bahwa penyembahan yang benar adalah "dalam roh dan kebenaran," yang mengarah pada kejujuran batiniah dalam hubungan dengan Allah. Penyembahan yang otentik tidak hanya mengandalkan ritual atau tradisi semata, tetapi berasal dari hati yang sepenuhnya mengakui kehadiran dan kemuliaan Allah. Kejujuran dalam penyembahan berarti tidak ada maksud tersembunyi atau sekadar mengikuti kebiasaan, melainkan penyembah datang kepada Allah dengan kerendahan hati dan kesiapan untuk dipimpin oleh Roh Kudus. Allah mencari penyembah yang nyata, yang tidak hanya melakukan aktivitas keagamaan, tetapi yang benarbenar ingin mengenal-Nya dan menyembah-Nya dalam kebenaran (Bateman, n. , pp. 115Ae Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 1 December 2024 Yudha Ardiyanto. Meitha Sartika. Meriyana Gereja perlu mendorong jemaat untuk menyembah dengan hati yang tulus, tanpa terjebak dalam rutinitas atau kepura-puraan. Setiap individu harus didorong untuk merenungkan motivasi mereka dalam penyembahan, memastikan bahwa itu adalah respons yang tulus terhadap kasih Allah dan bukan sekadar kewajiban atau penampilan sosial. Ibadah gereja sebaiknya menyediakan ruang bagi jemaat untuk datang dengan kejujuran, baik dalam sukacita maupun kesedihan, dengan kesadaran bahwa Allah menginginkan hubungan yang nyata dan bukan sekadar formalitas. Selain itu, pengajaran tentang penyembahan yang otentik perlu ditekankan, yang mengajarkan jemaat untuk menghindari penyembahan yang kosong atau terpaksa, melainkan untuk mencari Allah dengan sepenuh hati, terbuka terhadap perubahan yang Dia kehendaki dalam hidup mereka. Penyembahan sebagai Gaya Hidup Penyembahan sejati seharusnya menjadi gaya hidup, bukan sekadar tindakan atau kegiatan yang terbatas pada saat-saat tertentu dalam ibadah. Dalam Yohanes 4:23. Yesus menegaskan bahwa penyembahan yang benar adalah penyembahan yang berasal dari roh dan kebenaran, yang menunjukkan bahwa hubungan dengan Allah seharusnya melibatkan seluruh aspek kehidupan, bukan hanya saat beribadah di gereja. Penyembahan sebagai gaya hidup berarti bahwa segala sesuatu yang dilakukan dalam hidup sehari-hari, baik dalam pekerjaan, hubungan, maupun aktivitas lainnya, dilakukan untuk memuliakan Allah. Ini mencakup cara kita berbicara, bertindak, dan bahkan berpikir, yang semuanya mencerminkan penghormatan kepada Allah dan pengabdian kepada-Nya (Handojo, 2021, pp. 68Ae. Untuk mengimplementasikan penyembahan sebagai gaya hidup, gereja perlu mengajarkan jemaat bahwa penyembahan tidak hanya terbatas pada waktu kebaktian, tetapi harus mencakup setiap aspek kehidupan mereka. Hal ini dapat dilakukan dengan membekali jemaat dengan prinsip-prinsip Alkitab yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti bekerja dengan integritas, menunjukkan kasih kepada sesama, dan hidup dalam damai Penyembahan sebagai gaya hidup juga berarti hidup dengan rasa syukur dan pengakuan akan Allah dalam setiap situasi. Gereja dapat mendorong jemaat untuk melihat setiap aktivitas sebagai kesempatan untuk menyembah Allah, dengan memperlakukan pekerjaan, keluarga, dan komunitas sebagai tempat untuk menunjukkan kasih dan kebenaran Allah. Dengan cara ini, penyembahan tidak lagi terbatas pada momen ibadah, tetapi menjadi bagian integral dari hidup yang memuliakan Allah setiap saat. Menyentuh Seluruh Aspek Keberadaan Manusia Penyembahan yang sejati harus menyentuh seluruh aspek keberadaan manusia, yaitu tubuh, jiwa, dan roh (Wijaya, 2015, p. Dalam Yohanes 4:23, penyembahan yang benar bukan hanya sekadar tindakan eksternal atau ritual, tetapi melibatkan setiap dimensi diri manusia secara menyeluruh. Penyembahan yang menyentuh seluruh aspek keberadaan manusia berarti bahwa penyembahan harus mencakup pikiran, perasaan, niat, dan tindakan. Penyembahan yang otentik dimulai dari hati yang sungguh-sungguh mengasihi Allah (Laidlow, 2020, p. , yang kemudian tercermin dalam cara kita hidup, berinteraksi dengan sesama, serta bagaimana kita menggunakan tubuh dan waktu kita untuk tujuan memuliakan Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 1 December 2024 Yudha Ardiyanto. Meitha Sartika. Meriyana Allah. Penyembahan ini mengarah pada transformasi total dalam hidup seseorang, yang memengaruhi cara berpikir, bertindak, dan merasakan dalam kehidupan sehari-hari. Gereja perlu mendorong jemaat untuk memahami bahwa penyembahan bukan hanya tentang apa yang dilakukan di gereja, tetapi bagaimana setiap aspek kehidupan mereka mencerminkan kasih dan ketaatan kepada Allah. Ini bisa dilakukan dengan mengajarkan pentingnya hidup kudus dalam setiap aspek kehidupan, mulai dari pekerjaan, hubungan, hingga penggunaan waktu dan sumber daya. Gereja dapat mengajak jemaat untuk mempersembahkan tubuh mereka sebagai "sajian hidup," yang berarti menjalani hidup yang sehat, penuh kasih, dan berintegritas sebagai bentuk penyembahan kepada Allah. Selain itu, penting bagi gereja untuk memberikan pengajaran dan kesempatan bagi jemaat untuk menyembah melalui musik, doa, pelayanan, dan perbuatan baik yang memperlihatkan kasih Kristus kepada dunia, sehingga penyembahan mencakup setiap bagian dari hidup mereka, baik secara rohani maupun praktis. Inklusif dan Universal Penyembahan yang sejati bersifat inklusif dan universal, yang berarti bahwa penyembahan tidak terbatas pada kelompok atau individu tertentu, melainkan terbuka untuk semua orang, tanpa memandang latar belakang, status sosial, atau budaya. Dalam Yohanes 4:23. Yesus mengungkapkan bahwa penyembahan yang benar adalah penyembahan yang dilakukan "dalam roh dan kebenaran," yang menunjukkan bahwa penyembahan sejati melampaui batas-batas fisik seperti tempat atau tradisi tertentu. Hal ini menciptakan ruang bagi semua orang untuk datang kepada Allah, terlepas dari perbedaan, dengan syarat mereka datang dalam kebenaran dan dengan hati yang dipenuhi Roh Kudus. Penyembahan yang inklusif dan universal mengundang semua orang untuk menjadi bagian dari komunitas umat percaya yang menyembah Allah dalam kebenaran. Untuk mengimplementasikan prinsip inklusif dan universal dalam penyembahan, gereja perlu menciptakan atmosfer yang menyambut semua orang, tanpa diskriminasi. Ini dapat dilakukan dengan menghindari pembatasan atau tradisi yang menempatkan hambatan bagi orang-orang dari latar belakang yang berbeda. Gereja dapat mengadakan ibadah yang terbuka bagi semua kalangan, dengan pengajaran yang mudah dipahami dan relevan untuk orang-orang dari berbagai latar belakang budaya dan sosial. Selain itu, gereja dapat berfokus pada pelayanan kepada sesama, mengundang orang-orang dari luar gereja untuk mengalami kasih dan kebenaran Allah. Dengan menyatakan bahwa penyembahan kepada Allah adalah hak dan panggilan bagi setiap orang, gereja akan menciptakan ruang yang inklusif, di mana semua orang dapat merasakan kasih Allah yang tidak terbatas dan menemukan tempat di dalam komunitas penyembahan yang universal. Berorientasi pada Transformasi Hidup Penyembahan yang sejati berorientasi pada transformasi hidup (MacArthur, 2. , yang berarti bahwa penyembahan tidak hanya melibatkan tindakan eksternal, tetapi harus mengubah cara hidup dan pola pikir seseorang. Yohanes 4:23 menekankan bahwa penyembahan yang benar adalah "dalam roh dan kebenaran," yang tidak hanya menyangkut formalitas atau ritus, tetapi juga menghasilkan perubahan mendalam dalam kehidupan pribadi Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 1 December 2024 Yudha Ardiyanto. Meitha Sartika. Meriyana Penyembahan yang berorientasi pada transformasi hidup berarti bahwa setiap kali seseorang menyembah Allah, mereka mengalami pembaruan rohani yang mempengaruhi karakter, tindakan, dan hubungan mereka dengan Allah dan sesama. Ini adalah proses yang berlangsung terus-menerus, di mana penyembahan membawa seseorang lebih dekat kepada Allah dan membentuk mereka lebih serupa dengan Kristus. Untuk mengimplementasikan prinsip ini, gereja perlu mengajarkan bahwa penyembahan yang sejati akan selalu mengarah pada perubahan hidup yang nyata. Ini bisa dimulai dengan mengedukasi jemaat bahwa penyembahan tidak hanya berhenti pada momen ibadah, tetapi harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Gereja dapat menekankan pentingnya integritas, kasih, dan pengampunan dalam hidup pribadi dan interaksi sosial sebagai bentuk penyembahan yang berbuah. Program pembinaan rohani yang mencakup pengajaran Firman Tuhan, doa, dan pelayanan kepada sesama dapat membantu jemaat mengalami transformasi hidup yang berkelanjutan. Selain itu, gereja dapat memberikan ruang bagi jemaat untuk saling mendukung dalam perjalanan iman mereka, sehingga penyembahan yang mereka lakukan membuahkan perubahan yang mendalam, baik dalam karakter pribadi maupun dalam cara mereka memperlakukan orang lain. REKOMENDASI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN Rekomendasi penelitian dan pengembangan lebih lanjut dalam topik penyembahan sejati menurut Yohanes 4:23 dapat difokuskan pada kajian tentang bagaimana prinsip-prinsip penyembahan dalam roh dan kebenaran diterapkan dalam konteks gereja kontemporer di berbagai budaya dan latar belakang. Penelitian lebih mendalam mengenai pengaruh penyembahan yang otentik terhadap pertumbuhan rohani jemaat juga perlu dilakukan, termasuk bagaimana penyembahan yang berpusat pada Allah dan dipimpin oleh Roh Kudus dapat meningkatkan kualitas kehidupan iman pribadi dan komunitas gereja. Selain itu, penelitian tentang bagaimana teknologi dan media sosial memengaruhi pengalaman penyembahan modern bisa menjadi area penting untuk dieksplorasi, untuk melihat apakah cara-cara baru dalam menyembah tetap mempertahankan prinsip penyembahan sejati. Pengembangan pelatihan dan program gereja yang menekankan penerapan penyembahan sebagai gaya hidup dan transformasi pribadi juga dapat menjadi fokus utama untuk mendalami bagaimana gereja dapat membimbing jemaat menuju hidup yang lebih autentik dalam penyembahan yang berkenan kepada Allah. KESIMPULAN Artikel ini mengungkapkan bahwa penyembahan sejati menurut Yohanes 4:23 merupakan penyembahan yang melibatkan seluruh aspek keberadaan manusia baik roh, jiwa, maupun tubuh dan berakar pada kebenaran yang diwahyukan oleh Allah melalui Firman-Nya. Dalam teks ini. Yesus menyatakan bahwa penyembahan sejati tidak terbatas pada tempat tertentu atau bentuk ritual tertentu, melainkan harus terjadi dalam roh . eberadaan batinia. dan kebenaran . esuai dengan kehendak dan wahyu Alla. Penyembahan yang benar adalah respons dari hati yang dipimpin oleh Roh Kudus dan didasarkan pada pemahaman yang benar tentang Allah. Penyembahan dalam roh menunjukkan bahwa penyembahan sejati bukan Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 1 December 2024 Yudha Ardiyanto. Meitha Sartika. Meriyana hanya seremonial atau ritualistik, tetapi bersifat rohani dan melibatkan seluruh aspek kehidupan manusia yang dipimpin oleh Roh Kudus. Penyembahan yang dalam kebenaran, di sisi lain, berarti bahwa penyembahan tersebut harus sesuai dengan Firman Tuhan dan pengajaran yang benar tentang siapa Allah dan bagaimana Dia ingin disembah. Hal ini menegaskan bahwa penyembahan bukanlah tentang mengikuti tradisi atau kebiasaan semata, melainkan tentang mengenal Allah dengan benar dan hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Prinsip-prinsip penyembahan sejati yang diungkapkan dalam Yohanes 4:23 mencakup beberapa hal penting. Pertama, penyembahan sejati adalah inklusif dan universal, mengundang semua orang untuk datang kepada Allah tanpa memandang latar belakang atau status sosial. Kedua, penyembahan ini harus berorientasi pada transformasi hidup, di mana setiap individu yang menyembah Allah mengalami perubahan mendalam dalam karakter dan hidup mereka. Ketiga, penyembahan yang sejati harus mengutamakan kejujuran dan otentisitas, menghindari kepura-puraan dan sekadar mengikuti rutinitas tanpa kedalaman Terakhir, penyembahan yang benar adalah gaya hidup, yang berarti bahwa setiap aspek kehidupanAibaik dalam pekerjaan, hubungan, maupun aktivitas sehari-hari dilakukan dengan tujuan untuk memuliakan Allah. Secara keseluruhan, penyembahan yang sejati adalah sebuah panggilan untuk hidup dalam kebenaran Allah yang menyentuh seluruh dimensi kehidupan manusia, membentuk mereka untuk hidup lebih serupa dengan Kristus, dan menjadi saksi akan kemuliaan-Nya di dunia. REFERENCES