ARTES LIBERALES: Jurnal Studi Humaniora Volume 2. Nomor 1, (Agustus 2. Baptis Ulang: Sebuah Tinjauan Berdasarkan Esensi dan Makna Baptisan Serta Implikasinya Terhadap Cara Baptisan Grace Purnamasari Christian Universitas Pelita Harapan christian@uph. Abstract The question concerning the mode of baptism has become one of the main issues that has been examined and debated for a considerable amount of time in the history of the church. Some church denominations even went so far as to make this issue to become the basis for admittance into their church membership and for practicing re-baptizing for those who have previously been baptized without using the mode of baptism which is considered valid or biblical. This has prompted a legitimate question of what truly determines the validity of baptism. In order to answer this question, the writer has attempted to present a brief review of the essence and meaning of baptism from the perspective of Reformed Theology through a literary study. Based on the study, it is the writerAos conclusion that an understanding of the essence and meaning of baptism should lead us to realize that the validity of baptism is not determined by the administration of a certain mode of baptism since baptism is not merely a symbol or an external rite. Instead, it is a sign and seal of GodAos covenant of grace secured in Christ for those who believe, who experiences the regenerating and sanctifying work of the Holy Spirit to be united to Christ and His church in the visible church. Keywords: Baptism. Sacrament. Essence of Baptism. Meaning of Baptism. Mode of Baptism. Reformed Theology Received: 10/07/2025 Revised: 04/08/2025 Published: 30/08/2025 Page 1 Baptis Ulang: Sebuah Tinjauan Berdasarkan Esensi dan Makna Baptisan Serta Implikasinya Terhadap Cara Baptisan Grace Purnamasari Christian Abstrak Pertanyaan mengenai cara baptisan merupakan salah satu isu utama yang telah dikaji dan diperdebatkan selama kurun waktu yang sangat panjang dalam sejarah gereja. Beberapa denominasi gereja bahkan berani menjadikan isu ini sebagai dasar untuk menerima seseorang ke dalam keanggotaan gereja dan mempraktikkan pembaptisan ulang bagi calon anggota yang sebelumnya tidak dibaptis menurut cara yang dianggap valid atau alkitabiah. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai apa yang sesungguhnya menentukan validitas baptisan. Penulis berusaha menjawab pertanyaan tersebut dengan memaparkan sebuah tinjauan singkat mengenai esensi dan makna baptisan menurut perspektif teologi Reformed melalui metode studi literatur. Berdasarkan studi yang telah dilakukan, penulis menyimpulkan bahwa pemahaman terhadap esensi dan makna baptisan sebagai sakramen seharusnya menyadarkan kita bahwa validitas baptisan tidak ditentukan oleh penerapan satu cara atau metode baptisan tertentu dalam pelaksanaannya karena baptisan bukan sekadar simbol atau upacara yang bersifat eksternal, melainkan merupakan tanda dan meterai dari perjanjian anugerah Allah yang tersedia di dalam Kristus bagi mereka yang percaya, yaitu mereka yang mengalami karya kelahiran baru dan penyucian dari Roh Kudus untuk dipersatukan dengan Kristus dan jemaat-Nya di dalam gereja yang kelihatan. Kata Kunci: Baptisan. Sakramen. Esensi Baptisan. Makna Baptisan. Cara Baptisan. Teologi Reformed Pendahuluan Sejak Reformasi, doktrin baptisan telah menjadi sumber berbagai perdebatan di kalangan mereka yang menyatakan dirinya sebagai orang Kristen. Vesko . menyimpulkan bahwa meskipun sebagian besar dari mereka yang mengaku Kristen kemungkinan besar sudah dibaptis, di ARTES LIBERALES: Jurnal Studi Humaniora Page 2 Baptis Ulang: Sebuah Tinjauan Berdasarkan Esensi dan Makna Baptisan Serta Implikasinya Terhadap Cara Baptisan Grace Purnamasari Christian balik fenomena tersebut terdapat banyak perbedaan pandangan mengenai apa makna baptisan yang sesungguhnya, bagaimana baptisan harus dilaksanakan . ara baptisa. , dan kepada siapa baptisan seharusnya diterapkan. Terkait makna baptisan, kita menemukan dua pandangan ekstrem: pandangan pertama menyatakan bahwa baptisan hanyalah simbol eksternal (Zwingl. , sedangkan pandangan kedua . ang terutama diwakili oleh Gereja Katolik Rom. menyatakan bahwa baptisan adalah sakramen yang secara otomatis membawa kelahiran baru bagi setiap orang yang menerimanya . x opere operat. Pemahaman mengenai makna baptisan ini umumnya juga berkaitan erat dengan pertanyaan tentang siapa yang seharusnya menerima baptisan. Beeke dan Smalley . menjelaskan bahwa hal ini diperdebatkan di kalangan Reformed. Baptis, dan beberapa denominasi lainnya dalam Kekristenan injili, dan secara umum diwakili oleh dua pandangan, yaitu mereka yang menerima baptisan anak . aedobaptism/infant baptis. dan yang menolaknya karena meyakini bahwa baptisan hanya diperuntukkan bagi orang dewasa yang telah dapat mengakui imannya . Dalam hal cara baptisan. Sproul . menyatakan bahwa sepanjang sejarah Kekristenan, banyak gereja yang telah berusaha menjawab pertanyaan mengenai cara baptisan yang tepat, yang dianggap esensial bagi keabsahan baptisan, dengan menegaskan bahwa hanya ada satu metode atau cara yang dianggap valid. Selama beberapa dekade terakhir, beberapa sarjana dan teolog telah berusaha sekuat tenaga untuk membuktikan bahwa baptisan dengan cara selam merupakan praktik yang sesuai dengan Perjanjian Baru, dan sebagian dari mereka bahkan bersikeras bahwa seseorang yang tidak dibaptiskan dengan cara selam . belum benar-benar dibaptis. Keyakinan inilah yang mendorong banyak denominasi gereja untuk melaksanakan praktik pembaptisan ulang. Bahkan menurut Frame . 3,) hal ini menjadi penentu dalam penerimaan seseorang di gereja tertentu, karena sebagian gereja tidak bersedia menerima jemaat yang tidak dibaptis dengan cara selam. Sementara itu, kelompok lainnya telah menyanggah keyakinan tersebut dengan menyatakan bahwa baptisan selam bahkan bukan merupakan suatu bentuk baptisan yang sah. Di dalam konteks institusi tempat penulis mengajar, khususnya di dalam kelas doktrin gereja . , beberapa mahasiswa menceritakan bagaimana mereka secara pribadi menjumpai dan ARTES LIBERALES: Jurnal Studi Humaniora Page 3 Baptis Ulang: Sebuah Tinjauan Berdasarkan Esensi dan Makna Baptisan Serta Implikasinya Terhadap Cara Baptisan Grace Purnamasari Christian mengalami praktik pembaptisan ulang ketika mereka harus meninggalkan gereja asal mereka dan menjadi anggota dari gereja lain. Alasan yang diberikan oleh gereja yang melakukan pembaptisan ulang adalah karena gereja yang sebelumnya tidak melaksanakan pembaptisan dengan cara selam. Dengan demikian seolah-olah metode atau cara baptisan menjadi isu utama dalam menentukan validitas baptisan. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai apa yang sebenarnya menentukan validitas baptisan. Adakah cara baptisan tertentu yang diakui oleh Alkitab sehingga upacara baptisan itu perlu dan boleh diulangi jika ada perbedaan di dalam cara pelaksanaannya? Dengan kata lain, apa esensi dari pembaptisan, dan apa yang menentukan validitasnya? Tulisan ini merupakan hasil studi literatur yang berusaha membahas pandangan teologi Reformed mengenai dua dari tiga aspek yang disebutkan di atas, yaitu makna baptisan dan cara baptisan dengan menjelaskan bagaimana teologi Reformed, baik melalui pengakuan-pengakuan imannya maupun penafsirannya terhadap teks-teks utama yang berkaitan dengan baptisan dalam Alkitab, menolak kedua ekstrem tersebut, baik dalam hal makna baptisan maupun cara pelaksanaan baptisan. Esensi Baptisan: Baptisan Sebagai Sakramen Istilah sakramen berasal dari kata Latin sacramentum, yang pada awalnya berarti sejumlah uang yang disetorkan oleh kedua pihak dalam litigasi, di mana nantinya setelah keputusan pengadilan, hanya pihak yang menang yang akan mendapatkan uangnya kembali. Tampaknya istilah ini disebut sacramentum karena uang tersebut dimaksudkan sebagai semacam persembahan pendamaian kepada para dewa (Berkhof, 1. Transisi penggunaan istilah tersebut dalam Kekristenan kemungkinan besar berasal dari makna militer atau klasik yang merujuk kepada sumpah ketaatan seorang prajurit kepada komandannya (Berkhof, 1996. Fesko, 2. Selain itu, penggunaan secara teknis istilah ini juga ditemukan dalam terjemahan Vulgata, yang menerjemahkan kata Yunani AumusterionAy yang berarti misteri (LAI TB 2 menerjemahkannya menjadi AurahasiaA. dalam Efesus 5:32 menjadi AusacramentumAy (Pratt. Meskipun istilah AusakramenAy tidak dapat kita temukan di dalam Alkitab (Berkhof, 1. , dan Alkitab tidak pernah secara eksplisit ARTES LIBERALES: Jurnal Studi Humaniora Page 4 Baptis Ulang: Sebuah Tinjauan Berdasarkan Esensi dan Makna Baptisan Serta Implikasinya Terhadap Cara Baptisan Grace Purnamasari Christian berbicara tentang konsep sakramen secara umum, gereja di sepanjang sejarah, khususnya dalam tradisi Reformed meyakini bahwa baptisan adalah sakramen yang ditetapkan oleh Kristus (Matius 28:. sebelum kenaikan-Nya ke surga (Vesko, 2. Teologi Reformed percaya bahwa Alkitab hanya menetapkan dua sakramen, yaitu baptisan dan Perjamuan Kudus (Bavinck, 2. , serta menolak pandangan Katolik Roma yang mengakui adanya tujuh sakramen berdasarkan Konsili Trent tahun 1545 (Pratt, 2. Dalam memahami esensi dan makna sakramen menurut perspektif Teologi Reformed, kita harus setia kepada prinsip Reformasi, yaitu Sola Scriptura, dengan mendasarkan seluruh ajaran kepada sumber utama dan standar yang berotoritas, yaitu Firman Allah dalam Kitab Suci. Meskipun demikian. Venema . mengingatkan bahwa doktrin tentang sakramen dalam pengakuan-pengakuan iman gerja perlu menjadi titik awal perenungan karena di dalamnya tersedia reiterasi bersama dan mempersatukan dari apa yang dipercayai oleh gereja, serta pemurnian dari pemahaman historis gereja serta eksegesis terhadap Kitab Suci. Oleh karena itu, pembahasan ini akan dimulai dengan menyoroti terlebih dahulu beberapa Pengakuan Iman atau Katekismus yang menjadi dasar kepercayaan iman yang historis dalam gereja-gereja Reformed. Katekismus Heidelberg . dan Belgic Confession (Article . memandang sakramen sebagai sarana anugerah. Pengakuan Iman Westminster . mendefinisikan sakramen sebagai tanda dan meterai yang kudus dari perjanjian anugerah (Roma 4:11. Kejadian 17:7, 10-. , yang ditetapkan oleh Allah sendiri (Matius 28:19. 1 Kor. , untuk mewakili Kristus dan seluruh manfaat-Nya. serta untuk meneguhkan bagian kita di dalam Dia (Roma 6:3-4. Kol. 2:12. 1 Kor. 10:16. 1 Kor. 11:2526. Gal. untuk menunjukkan perbedaan yang kelihatan antara mereka yang adalah bagian dari gereja dengan semua orang lainnya di dunia (Kel. 12:48. Kej. 34:14. 1 Kor. dan untuk secara khidmat melibatkan mereka dalam pelayanan kepada-Nya di dalam Kristus, sesuai dengan Firman-Nya. (Rm. 6:3-4. Gal. 3:27. 1 Pet. 3:21. 1 Kor. 10:16. 1 Kor. 5:7-. Berdasarkan gagasan-gagasan yang telah diuraikan dalam definisi sakramen tersebut. Frame . menjabarkan tiga kategori atau aspek ARTES LIBERALES: Jurnal Studi Humaniora Page 5 Baptis Ulang: Sebuah Tinjauan Berdasarkan Esensi dan Makna Baptisan Serta Implikasinya Terhadap Cara Baptisan Grace Purnamasari Christian utama dari sakramen secara berurutan, yaitu: . secara normatif, sakramen adalah tanda. secara situasional, sakramen adalah tindakan-tindakan ilahi. secara eksistensial, sakramen adalah sarana kehadiran ilahi. Dengan menggunakan tiga kategori utama ini, mari kita berusaha memahami bagaimana teologi Reformed menjelaskan esensi baptisan sebagai sakramen. Secara normatif, sakramen adalah tanda, yaitu komunikasi atau penyataan ilahi yang berotoritas bagi kita, yang melambangkan Injil dan mengajarkan makna Injil secara berotoritas. Sakramen merupakan perkataan yang kelihatan, yang melengkapi Firman Allah dengan gambaran-gambaran yang dramatis, yang disahkan oleh Allah. Dengan demikian, sakramen bukanlah keselamatan itu sendiri, melainkan tanda yang mengarahkan kita kepada keselamatan yang disediakan Allah di dalam Kristus, yang hanya dapat menjadi milik kita melalui iman, yang juga dianugerahkan Allah kepada kita oleh pekerjaan Roh Kudus. Jika diterapkan kepada baptisan, maka baptisan adalah tanda perjanjian anugerah . ign of the covenant of grac. Di dalam Perjanjian Lama, setelah menegakkan perjanjianNya dengan Abraham. Allah memberikan tanda keanggotaan bagi Abraham dan keturunannya dalam perjanjian itu, yaitu sunat. dalam Kejadian 17:11. Allah menyebut sunat sebagai tanda (Ibrani: o. Menurut Hamilton . , sunat bukanlah tanda yang membedakan orang Israel dengan bangsa-bangsa lain, karena kenyataannya banyak bangsa kafir yang juga melakukannya, termasuk Ismail, yang tidak termasuk dalam perjanjian Allah, karena melalui Ishak-lah Allah memelihara perjanjian-Nya. Oleh sebab itu, sunat dipahami sebagai tanda identitas umat perjanjian Allah yang mengesahkan Ketuhanan Allah atas mereka. Dengan demikian, sunat bukanlah tanda pengenalan untuk kepentingan Allah, melainkan tanda peneguhan, yang menjadi saksi atas iman Abraham bahwa Allah akan menepati janji-Nya mengenai keturunan. Oleh karena itu, sunat Abraham dapat dipahami sebagai pernyataan kepercayaan kepada YAHWEH, dan afirmasi Allah atas hal itu seperti yang tercatat dalam Kejadian 15:6 (Hamilton. ARTES LIBERALES: Jurnal Studi Humaniora Page 6 Baptis Ulang: Sebuah Tinjauan Berdasarkan Esensi dan Makna Baptisan Serta Implikasinya Terhadap Cara Baptisan Grace Purnamasari Christian Sproul . menjelaskan bahwa ritual sunat diberikan kepada seluruh keturunan Israel sebagai tanda dari perjanjian yang lama. Sama seperti sunat adalah tanda perjanjian yang lama, baptisan adalah tanda dari perjanjian yang baru. Keterkaitan yang erat antara keduanya dijelaskan Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Kolose dalam Kolose 2:9-15. Di sana. Paulus menjelaskan kepada orang percaya bukan Yahudi, yang telah menerima baptisan Perjanjian Baru, bahwa mereka yang percaya telah menerima sunat batin. Mereka memiliki sunat hati, sehingga layak dan pantas untuk menerima tanda perjanjian yang baru, yaitu semua berkat yang tersedia di dalam Kristus. Secara situasional, sakramen adalah tindakan-tindakan Allah untuk kepentingan kita, yakni sebagai materai. Sakramen bukan hanya sesuatu yang kita kerjakan di hadapan Allah, melainkan juga sesuatu yang Dia lakukan untuk kita. Dengan demikian, sakramen bukan hanya tanda, melainkan juga meterai. Baptisan dan Perjamuan Kudus adalah meterai dari perjanjian anugerah Allah dengan kita di dalam Kristus, sebagaimana sunat Abraham adalah meterai dari kebenaran yang berasal dari iman (Roma 4:. Sebagai meterai, sakramen meneguhkan dan menjamin janji-janji Allah dalam perjanjian, oleh karena itu, seperti yang tercantum dalam definisi sebelumnya, sakramen memisahkan kita dari dunia ini dan menempatkan kita dalam komunitas umat Allah. Secara eksistensial, sakramen adalah lokasi dari kehadiran Allah. Hal ini secara implisit dapat disimpulkan dari fakta bahwa Allah sedang melakukan sesuatu bagi kita, di dalam dan melalui Oleh karena itu. Ia hadir dan kehadiran-Nya itu sendiri merupakan berkat yang sangat indah. Di dalam kehadiran-Nya yang intim. Allah menolong kita bertumbuh dalam iman, bukan secara otomatis . x opere operat. , seperti yang dipercayai oleh Gereja Katolik Roma, yaitu bahwa partisipasi dalam sakramen menghasilkan efek keselamatan secara otomatis. Sebaliknya, melalui kehadiran Kristus oleh Roh-Nya . x opere operanti. yang berinteraksi pribadi dengan orang percaya, sehingga efektivitas dari sakramen itu hanya terjadi oleh iman semata. ARTES LIBERALES: Jurnal Studi Humaniora Page 7 Baptis Ulang: Sebuah Tinjauan Berdasarkan Esensi dan Makna Baptisan Serta Implikasinya Terhadap Cara Baptisan Grace Purnamasari Christian Di dalam memahami baptisan sebagai sakramen, kita perlu membedakan tiga bagian: tanda lahiriah atau tanda yang kelihatan, anugerah rohani internal yang ditandakan dan dimeteraikan, serta kesatuan sakramental antara tanda dengan apa yang ditandakan (Berkhof, 1. Tanda lahiriah atau tanda yang kelihatan . isible sig. Teologi Reformed memandang baptisan sebagai perjumpaan yang penuh misteri dengan Allah, yang terjadi melalui suatu ritual yang melibatkan unsur fisik dan upacara Melalui perjumpaan ini. Allah dengan penuh anugerah membagikan berkat kepada mereka yang berpartisipasi dengan iman, dan juga penghukuman kepada mereka yang berpartisipasi tanpa iman. Dengan demikian, teologi Reformed berusaha setia kepada Alkitab yang tidak pernah menjelaskan baptisan hanya sebagai simbol atau sesuatu yang bersifat alamiah. Sebaliknya. Alkitab menunjukkan kaitan erat antara ritual baptisan dengan realitas rohani seperti kelahiran baru dan pembaruan (Titus 3:. , pengampunan (Kisah Para Rasul 2:. , keselamatan . Petrus 3:. , dan kesatuan dengan Kristus (Roma 6:3-. Anugerah rohani internal yang ditandakan dan dimeteraikan . he inward spiritual grace signified and seale. Tanda dan meterai mempresuposisikan adanya sesuatu yang ditandakan dan dimeteraikan, yang sering disebut materia interna dari sakramen tersebut (Berkhof, 2. Alkitab mengaitkan materia interna ini dengan berbagai hal seperti perjanjian anugerah (Kejadian 9:12Ae13. kebenaran karena iman (Roma 4:. pengampunan dosa (Markus 1:4. Matius 26:. iman dan pertobatan (Markus 1:4. dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya (Roma 6:3 persekutuan dengan tubuh dan darah-Nya . Korintus 10:. dan sebagainya. Dengan kata lain. Kristus dan seluruh kekayaan rohani-Nya adalah 'substansi batiniah', 'substansi surgawi' yang dilambangkan dalam sakramen (Bavinck, 2011. Berkhof, 1. Hal ini sejalan dengan definisi sakramen dalam Pengakuan Iman Westminster, yang dijelaskan sebelumnya sebagai sesuatu yang ditetapkan Allah untuk mewakili Kristus dan ARTES LIBERALES: Jurnal Studi Humaniora Page 8 Baptis Ulang: Sebuah Tinjauan Berdasarkan Esensi dan Makna Baptisan Serta Implikasinya Terhadap Cara Baptisan Grace Purnamasari Christian manfaat-manfaat-Nya, serta untuk meneguhkan bagian kita di dalam Dia (Roma 6:3-4. Kol. 2:12. 1 Kor. 10:16. 1 Kor. 11:25-26. Gal. Jadi, sebagai tanda, sakramen baptisan secara kelihatan melukiskan kebenaran injil, termasuk berkat-berkat yang dicurahkan kepada mereka yang mempraktikkan iman yang menyelamatkan terhadap pemberitaan Fimran. Sebagai meterai, sakramen baptisan meneguhkan bahwa anugerah yang menyelamatkan hanya ditemukan di dalam Kristus (Pratt, 2. Dengan demikian, pelaksanaan sakramen baptisan tidak dapat dilepaskan dari pemberitaan Firman. Kesatuan sakramental antara baptisan sebagai tanda dengan apa yang ditandakan atau realitasnya . he sacramental union between the sign and that which is signifie. Para teolog Reformed telah senantiasa mengakui adanya relasi yang erat antara baptisan sebagai tanda dan apa yang ditandakan olehnya, tetapi tanpa mencampurkan ataupun memisahkannya (Fesko, 2. Pengakuan Iman Westminster 2 menyatakan bahwa dalam setiap sakramen terdapat suatu relasi rohani atau kesatuan sakramental antara tanda dengan apa yang ditandakan. Ada suatu kesatuan misterius atau relasi rohani antara baptisan dan anugerah, sehingga Aunama-nama dan akibatakibatAy yang digunakan oleh Kitab Suci untuk berbicara tentang anugerah ilahi dapat juga dikenakan kepada upacara baptisan. Akan tetapi, menurut Pratt . Kitab Suci tidak menjelaskan secara terperinci bagaimana kaitan antara baptisan dengan anugerah ilahi. Itu sebabnya, teologi Reformed membahas keterkaitan tersebut sebagai kesatuan sakramental, yang berarti kesatuan misterius. Berkhof . menjelaskan bahwa kesatuan ini biasanya disebut forma sacramenti atau esensi dari sakramen. Menurut pandangan Reformed, esensi sakramen ini . bukan bersifat fisik, seperti yang diklaim oleh Katolik Roma, seolah-olah apa yang ditandakan itu terkandung di dalam tanda tersebut, dan penerimaan dari materi eksternal . anda yang kelihata. itu tanpa terhindarkan pada dirinya mencakup partisipasi di dalam materia interna. Jika dikaitkan dengan baptisan, maka berarti baptisan tidak membawa kelahiran baru secara ARTES LIBERALES: Jurnal Studi Humaniora Page 9 Baptis Ulang: Sebuah Tinjauan Berdasarkan Esensi dan Makna Baptisan Serta Implikasinya Terhadap Cara Baptisan Grace Purnamasari Christian otomatis dan tidak mengomunikasikan atau menyuntikkan anugerah atau kebiasaan yang diciptakan kepada penerimanya. bukan bersifat lokal, seperti yang dijelaskan oleh kaum Lutheran, seolah-olah tanda dan apa yang ditandakan itu hadir dalam ruang yang sama, sehingga baik orang-orang percaya maupun tidak percaya menerima sakramen penuh ketika mereka menerima tanda tersebut. melainkan bersifat spiritual, atau seperti yang diungkapkan oleh Turretin, bersifat relatif dan moral, sehingga ketika sakramen itu diterima dengan iman, anugerah Allah Menurut pandangan ini, tanda eksternal itu menjadi sarana yang digunakan oleh Roh Kudus dalam mengomunikasikan anugerah ilahi. Setelah memahami esensi baptisan sebagai sakramen, mari kita berusaha memahami apa makna dari baptisan itu sendiri. Makna Baptisan Pengakuan Iman Westminster 28. 1 mendefinisikan baptisan sebagai Ausakramen Perjanjian Baru, yang ditetapkan oleh Yesus Kristus (Matius 28:. , bukan hanya untuk penerimaan yang khidmat dari orang yang dibaptis ke dalam Gereja yang kelihatan . Korintus 12:. , tetapi juga bagi orang tersebut untuk menjadi tanda dan meterai dari perjanjian anugerah (Roma 4:11. Kolose 2:11-. tanda bahwa dia dicangkokkan ke dalam Kristus (Galatia 3:27. Roma 6:. tanda kelahiran baru (Titus 3:. tanda pengampunan dosa (Markus 1:. , serta tanda penyerahan dirinya kepada Allah melalui Yesus Kristus, untuk hidup dalam hidup yang baru (Roma 6:3-. , yang mana sakramen ini, menurut penetapan Kristus sendiri, harus terus dilaksanakan di dalam Gereja-Nya sampai akhir zaman (Matius 28:19-. Ay. Jika dirangkum, maka Pengakuan ini mengindikasikan bahwa makna baptisan merupakan konsep yang kompleks dan jamak. Frame . menekankan dua makna baptisan berdasarkan definisi di atas: Baptisan sebagai upacara masuk ke dalam gereja yang kelihatan Kita dibaptiskan untuk menjadi anggota dari komunitas perjanjian Allah, yaitu gereja yang kelihatan. Bukan berarti bahwa setiap orang yang dibaptis secara otomatis mengalami kelahiran baru dan menerima pengampunan dari Allah yang tersedia di dalam ARTES LIBERALES: Jurnal Studi Humaniora Page 10 Baptis Ulang: Sebuah Tinjauan Berdasarkan Esensi dan Makna Baptisan Serta Implikasinya Terhadap Cara Baptisan Grace Purnamasari Christian Kristus, melainkan hanya mereka yang sungguh-sungguh beriman kepada Kristuslah yang menjadi bagian dari gereja yang tidak kelihatan, umat Allah yang sejati, yang dicangkokkan ke dalam Kristus melalui baptisan. Orang-orang yang dibaptis tanpa beriman kepada Kristus justru akan menerima penghakiman dan penghukuman dari Allah. Oleh sebab itu, sebelum Kristus datang kembali, tetap akan terdapat campuran antara orang-orang yang lahir baru dan yang tidak lahir baru, yang dibaptis di dalam gereja yang kelihatan. Pratt . menyatakan bahwa para teolog Reformed memandang baptisan sebagai upacara penerimaan atau inisiasi ke dalam perjanjian dengan Allah, sebagai kelanjutan dari pola Perjanjian Lama untuk sunat, yang merupakan upacara penerimaan atau inisiasi ke dalam anugerah perjanjian yang ditegakkan Allah pada zaman Abraham sebagai upacara turuntemurun (Kejadian 17:. Sebagaimana sunat menjadi tanda lahiriah dari perjanjian itu, yang menandakan relasi penebusan dengan semua orang yang oleh iman terhubung dengan Allah, maka kita dapat mengatakan hal yang sama tentang baptisan sebagai tanda perjanjian di dalam Perjanjian Baru. Baptisan sebagai inisiasi juga memiliki pengertian perpindahan dari ranah yang satu ke ranah yang lain, dari ketidakpercayaan kepada iman, dari kerajaan kegelapan ke dalam kerajaan terang karena setiap orang yang percaya kepada Kristus Audicangkokkan ke dalam KristusAy dan mengalami kesatuan rohani dengan Dia serta dengan semua orang percaya lain yang adalah anggota tubuh Kristus. Bukan berarti setiap orang yang menerima baptisan secara otomatis ada di dalam Kristus, tetapi baptisan menandakan kehidupan di dalam Kristus, yakni janji Allah kepada umat-Nya akan relasi dengan Dia melalui Anak-Nya oleh iman. Sebagaimana sunat adalah tanda dalam Perjanjian Lama, baptisan adalah tanda bahwa seseorang ada dalam relasi yang istimewa dengan Allah. Tuhan perjanjian dari kawanan domba-Nya yang telah ditebus (Sproul, 2. Baptisan sebagai tanda dan meterai. Sebagai tanda, baptisan melambangkan penyucian, pertobatan, dan persatuan dengan Kristus. ARTES LIBERALES: Jurnal Studi Humaniora Page 11 Baptis Ulang: Sebuah Tinjauan Berdasarkan Esensi dan Makna Baptisan Serta Implikasinya Terhadap Cara Baptisan Grace Purnamasari Christian Meskipun Kitab Suci tidak mengatakan bahwa pengampunan datang melalui baptisan, tetapi baptisan melambangkan injil, dan injil berbicara tentang pembasuhan dosa, sehingga orang yang dibaptiskan dan yang menyaksikan upacara tersebut akan mengetahui apa yang dikatakan oleh injil, yaitu bahwa Allah menawarkan pembasuhan dari dosa dan pengampunan di dalam Kristus. Sproul . menyatakan bahwa baptisan adalah tanda dari janji Allah untuk melahirbarukan umat-Nya, untuk memerdekakan mereka dari perbudakan moral karena dosa asal atau warisan, untuk memurnikan dan membersihkan jiwa mereka dari kesalahan, sehingga mereka dapat memasuki relasi yang menyelamatkan dengan Dia. Jadi semua yang terjadi di dalam karya Roh Kudus untuk mengubahkan kita dari dalam ke luar ditandakan melalui sakramen baptisan. Itu sebabnya penggunaan air menjadi inti dari baptisan, karena menandakan pembasuhan dari dosa, yaitu kelahiran baru kepada hidup yang baru di dalam Kristus. Selain itu, baptisan juga menandakan bahwa Kristuslah yang menanggung dosa kita di dalam diri-Nya dan memuaskan tuntutan keadilan Allah sehingga kita bisa dibenarkan. Baptisan juga merepresentasikan pertobatan. Ketika seorang dewasa dibaptis, ia mengakui dosanya, berpaling darinya dan memohon pengampunan Allah. Baptisan adalah tanda penyerahan diri kepada Allah dan perubahan yang dihasilkannya. Seseorang yang telah disalibkan dengan Kristus dan dibangkitkan kepada hidup yang baru dalam persatuan rohani dengan Kristus, kini secara sukarela menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya (Galatia 2:. , untuk hidup dipimpin oleh Roh dan menundukkan dirinya kepada otoritas Kristus sebagai Tuhan. Terakhir, baptisan juga melambangkan kesatuan dengan Kristus di dalam kematian dan kebangkitan-Nya (Roma 6:3-. Definisi dari Pengakuan Iman Westminster mengaitkan hal ini dengan Aupenyerahan dirinya kepada Allah melalui Yesus Kristus, untuk hidup dalam hidup yang ARTES LIBERALES: Jurnal Studi Humaniora Page 12 Baptis Ulang: Sebuah Tinjauan Berdasarkan Esensi dan Makna Baptisan Serta Implikasinya Terhadap Cara Baptisan Grace Purnamasari Christian baruAy. Fesko . menjelaskan bahwa baptisan menunjuk kepada baptisan Roh Kudus yang mempersatukan seseorang dengan Kristus melalui iman yang dikaruniakan-Nya secara berdaulat (Efesus 2:8-. Oleh sebab itu, baptisan tidak dapat dilepaskan dari teologi salib, yaitu penyaliban terhadap manusia lama kita (Roma 6:. Baptisan juga tidak dapat dilepaskan dari eskatologi, karena di dalamnya kita juga dipersatukan dengan kebangkitan Kristus, yang berarti kita dilahirbarukan oleh Roh Kudus. Sama seperti manusia lama kita disalibkan, manusia baru kita dibangkitkan untuk hidup dalam hidup yang baru melalui pencurahan Roh yang bersifat eskatologis dari Sang Adam yang terakhir (Roma 7:6 bnd. 1 Korintus 15:. Mereka yang percaya kepada Yesus memiliki pesan Injil dari perjanjian yang baru, yang ditandai dan dimeteraikan di dalam baptisan sebagai orang-orang yang dilahirkan dari air dan Roh (Yohanes 3:. Ini berarti bahwa, dalam mengakui kaitan antara baptisan dan persatuan dengan Kristus, khususnya dalam kaitannya dengan kebangkitan dan kebaruan hidup, baptisan adalah potret dari karya Kristus sekaligus karya Roh Kudus, yaitu kuasa dari zaman yang akan datang (Ibrani 6:4-. Sebagai meterai, baptisan menjadi konfirmasi Allah bahwa kita adalah bagian dari umat perjanjian-Nya. Frame . menjelaskan bahwa baptisan adalah upacara pemberian nama (Matius 28:. , yaitu memberikan nama Allah kepada kita, sebagaimana imam besar memberikan nama Allah kepada Israel dalam Bilangan 6:24-27. Berdasarkan meterai tersebut, kita diterima ke dalam gereja yang kelihatan. Sekali lagi, baptisan tidak memberikan keselamatan kekal kepada Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, ada saja orang-orang yang telah dibaptis namun kemudian mengkhianati Tuhan, sehingga mereka menerima kutuk perjanjian dan bukan berkat-berkatnya. Akan tetapi, baptisan memang menjadikan orang yang dibaptis layak ARTES LIBERALES: Jurnal Studi Humaniora Page 13 Baptis Ulang: Sebuah Tinjauan Berdasarkan Esensi dan Makna Baptisan Serta Implikasinya Terhadap Cara Baptisan Grace Purnamasari Christian menerima berkat-berkat dari persekutuan dengan Allah di dalam gereja dan dengan umat Allah. Oleh sebab itu, teologi Reformed menolak posisi dari Zwingli yang menyatakan bahwa baptisan hanyalah simbol atau tanda, sekaligus menolak posisi Katolik Roma yang menganggap bahwa baptisan adalah kelahiran baru, atau bahwa baptisan secara otomatis melahirbarukan orang yang Pemahaman kita tentang esensi dan makna baptisan seharusnya menjadi dasar bagi pemahaman kita mengenai cara baptisan. Oleh karena itu, pembahasan dalam bagian selanjutnya akan berusaha menarik implikasi dari pemahaman yang telah dipaparkan di atas terhadap isu mengenai cara pelaksanaan baptisan, yang juga berkaitan dengan praktik baptis ulang di sebagian Secara spesifik, pertanyaan yang berusaha dijawab adalah adakah cara baptisan tertentu yang ditetapkan di dalam Alkitab, sehingga baptisan yang tidak dilaksanakan dengan cara tersebut dapat dianggap tidak valid? Cara Baptisan Pertanyaan mengenai cara baptisan telah dan terus menjadi salah satu isu yang paling gigih dan memecah belah (Sproul, 2. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Frame . menyatakan bahwa perdebatan mengenai hal ini merupakan salah satu dari dua kontroversi utama terkait baptisan yang sering kali bahkan memengaruhi penerimaan seseorang dalam suatu gereja. Faktanya, ada gereja-gereja yang tidak bersedia menerima mereka yang tidak dibaptis dengan cara selam, karena mereka menganggap bahwa cara selam merupakan satusatunya cara baptisan yang valid dan alkitabiah. Hal ini juga dialami secara langsung oleh beberapa mahasiswa di institusi tempat penulis mengajar. Apa yang mendasari sikap dari gereja-gereja semacam ini? Argumen-argumen apa yang biasanya diajukan untuk memantapkan posisi mereka dan mengesahkan praktik pembaptisan ulang terhadap calon jemaat mereka? Meskipun penulis tidak dapat secara spesifik dan pasti menjelaskan semua argumen yang mendasarinya, di bawah ini ARTES LIBERALES: Jurnal Studi Humaniora Page 14 Baptis Ulang: Sebuah Tinjauan Berdasarkan Esensi dan Makna Baptisan Serta Implikasinya Terhadap Cara Baptisan Grace Purnamasari Christian penulis merangkum hasil penelusuran secara literatur darai beberapa sumber yang dianggap mewakili perspektif teologi Reformed secara Fesko . menyatakan bahwa secara historis, perkara mengenai cara baptisan biasanya dianggap sebagai adiaphora . erkara-perkara yang dianggap netral secara moral maupun rohani, sehingga tidak dapat dianggap benar atau sala. Berdasarkan riset historis yang dilakukannya. Fesko menyimpulkan bahwa Didache. Thomas Aquinas. Luther. Calvin. Francis Turretin. Wollebius. Witsius, and Pengakuan Iman Westminster . berpandangan bahwa terdapat derajat fleksibilitas yang besar dalam hal cara baptisan. Namun, seiring berjalannya waktu, pandangan bahwa cara selam sebagai satu-satunya cara baptisan berkembang di kalangan teolog Anabaptis yang muncul belakangan. Namun rupanya, kaum Particular Baptistsi itulah yang kemudian memasukkan cara selam secara eksplisit ke dalam dokumen konfesional . engakuan ima. First London Confession . , dan selanjutnya menyatakannya sebagai satusatunya cara yang sah di dalam Second London Confession . Fesko menyebut hal ini sebagai suatu gerakan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah doktrin baptisan . Dalam usaha memahami landasan keyakinan mereka. Sproul . memberikan respons yang cukup positif dengan menyatakan bahwa perdebatan mengenai cara baptisan bukanlah perdebatan yang sepele atau sekadar muncul dari orang-orang yang suka berdebat. Ia meyakini bahwa perbedaan-perbedaan tersebut muncul karena ada orang-orang Kristen yang dengan tulus rindu untuk melakukan apa yang menyenangkan Allah, sehingga mereka ingin melaksanakan sakramen secara alkitabiah. Meskipun para pendukung cara selam bukanlah satusatunya kelompok yang sering kali bersikap ekstrem dalam mempraktikkan keyakinan mereka, pembahasan berikut akan difokuskan pada penelusuran terhadap gagasan-gagasan yang mendasari pemahaman dan keyakinan mereka. Pembahasan ini juga akan mencoba mengkajinya dari perspektif teologi Reformed, berdasarkan eksegesis terhadap beberapa bagian Alkitab yang relevan. Secara umum, sebagian dari pendukung cara selam, terutama yang berlatar belakang Baptis, berusaha keras untuk mendukung keyakinan mereka dengan mengajukan dua argumen, yaitu . makna dari kata ARTES LIBERALES: Jurnal Studi Humaniora Page 15 Baptis Ulang: Sebuah Tinjauan Berdasarkan Esensi dan Makna Baptisan Serta Implikasinya Terhadap Cara Baptisan Grace Purnamasari Christian Yunani AubaptizoAy (AEO), yang menurut mereka hanya memiliki arti . penggunaan preposisi AuekAy di dalam Kisah Para Rasul 8:39 yang berbunyi Aumereka keluar dari airAy (EEA AOEO a E eEC). AumerekaAy yang dimaksud adalah Filipus yang membaptis sida-sida dari Etiopia (Fesko, 2010. Sproul, 2. Mari kita mengkaji masing-masing argumen ini satu per satu. Makna dari kata Yunani AuAEOAy Untuk menyanggah pandangan dari Erickson bahwa makna dominan dari kata AubaptizoAy adalah menyelamkan atau mencelupkan ke dalam air. Fesko . memaparkan bahwa secara metodologis, makna sebuah istilah tidak dapat hanya ditentukan berdasarkan materi leksikal terlepas dari konteks biblikal di dalam Perjanjian Baru, sambil membandingkan penggunaannya dalam Perjanjian Lama. Salah satu contohnya terdapat dalam perkataan Yohanes Pembaptis kepada orang banyak bahwa dia membaptis dengan air, tetapi Yesus akan membaptis dengan Roh Kudus dan dengan api (Matius 3:11. Lukas 3:. Hal ini digenapi melalui pencurahan Roh Kudus ke atas gereja pada peristiwa Pentakosta oleh Yesus yang telah naik ke Pencurhan ini dijelaskan oleh Petrus dalam khotbahnya (Kisah Para Rasul 2:33 yang mengacu kepada Yoel 2:. Dengan demikian, dalam hal ini, kata AubaptizoAy tidak berkaitan dengan diselamkan, tetapi dengan pencurahan. Contoh lain terdapat dalam Markus 7:4 dan Lukas 11:38 di mana kata AubaptizoAy digunakan bukan dalam konteks diselamkan sepenuhnya ke dalam air, melainkan dalam arti memandikan atau mencuci (Sproul, 2. Marshall . juga menegaskan bahwa penggunaan istilah AubaptizoAy dalam 1 Korintus 10. 1-2 dan 1 Petrus 20-21 yang mengacu pada dua peristiwa dalam Perjanjian Lama sebagai paralel untuk baptisan, sama sekali tidak mengindikasikan bahwa orang Israel maupun Nuh dan keluarganya diselamkan ke dalam air atau mengalami pencurahan air dari atas. Selain itu, bahkan dalam Roma 6:4 dan Kolose 2:12 yang sering dijadikan dasar bagi praktik baptisan selam, bahasa yang digunakan Paulus tampaknya lebih berkaitan dengan fakta-fakta historis dari kematian dan kebangkitan Kristus, bukan dengan bentuk atau metode pelaksanaan baptisan itu sendiri. Dengan demikian. ARTES LIBERALES: Jurnal Studi Humaniora Page 16 Baptis Ulang: Sebuah Tinjauan Berdasarkan Esensi dan Makna Baptisan Serta Implikasinya Terhadap Cara Baptisan Grace Purnamasari Christian makna teologis yang ingin disampaikan Paulus disimpulkan dari fakta historis tentang apa yang terjadi pada Kristus, sehingga tidak berkaitan dengan cara baptisan tertentu. Konteks biblikal lain yang kerap dianggap memperkuat argumen bahwa cara selam merupakan bentuk baptisan yang tepat adalah penggunaan kata AubaptizoAy untuk baptisan yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis di Sungai Yordan (Matius 3:. Menurut Sproul . , secara umum diasumsikan bahwa Yohanes meminta orang-orang untuk masuk ke dalam sungai supaya mereka dapat diselamkan. Namun. Kitab Suci tidak pernah menyatakan bahwa mereka diselamkan, melainkan hanya menyatakan bahwa mereka dibaptiskan di situ. Sproul juga menyimpulkan dari karya seni kuno Kristen yang menggambarkan orang-orang dibaptis di sungai, di mana mereka berdiri di dalam air setinggi pinggang, sementara orang yang membaptis menciduk air dari sungai dan menuangkannya ke atas kepala Dengan demikian, para penerima baptisan itu masuk ke dalam air bukan untuk diselamkan, melainkan untuk memudahkan pencurahan air ke atas kepala mereka. Penggunaan preposisi AuekAy . ang berarti keluar dar. dalam Kisah Para Rasul 8:39 yang menceritakan peristiwa pembaptisan sidasida dari Etiopia oleh Filipus. Meskipun John Calvin . ) dalam tafsirannya terhadap ayat sebelumnya . tampaknya langsung menyimpulkan bahwa Filipus membaptis sida-sida dari Etiopia dengan cara selam. Sproul . dan Fesko . memberikan argumen yang mengarahkan kita untuk memperdalam pemahaman kita tentang hal itu. Sproul menyatakan bahwa ketika dalam ayat 39 dikatakan bahwa mereka kemudian keluar dari air, teks Alkitab tidak secara spesifik mengatakan bahwa sida-sida itu diselamkan. Terlebih lagi. Fesko memperluas argumen ini melalui hasil eksegesisnya yang menunjukkan bahwa kita tidak dapat hanya berfokus pada kata depannya dan mengabaikan kata kerjanya, seperti yang dilakukan oleh kaum Baptis. Penggunaan kata kerja AE . ang berarti kelua. , yang merupakan bentuk orang ketiga jamak dari kata kerja AO . , menunjukkan bahwa baik Filipus maupun sida-sida Etiopia bersama-sama keluar dari air. ARTES LIBERALES: Jurnal Studi Humaniora Page 17 Baptis Ulang: Sebuah Tinjauan Berdasarkan Esensi dan Makna Baptisan Serta Implikasinya Terhadap Cara Baptisan Grace Purnamasari Christian Maka, jika kita menafsirkannya sebagai indikasi bahwa sida-sida Etiopia itu diselamkan, maka berarti baik Filipus sebagai yang membaptis maupun sida-sida Etiopia itu sebagai yang dibaptis sama-sama diselamkan. Tentu saja bukan itu pengertian maupun keyakinan dari para penganut baptisan dengan cara selam. Dengan demikian, bagi Fesko, ayat ini tidak dapat dijadikan sebagai dasar untuk menetapkan cara baptisan, meskipun tetap ada kemungkinan bahwa sida-sida dari Etiopia itu memang dibaptis dengan cara selam. Dengan mempertimbangkan seluruh argumen yang telah dipaparkan di atas, dapat disimpulkan bahwa fokus utama dalam pembahasan mengenai cara baptisan bukanlah untuk menentukan cara baptisan yang mana di antara ketiga cara baptisan yang secara umum diterima di dalam teologi Reformed, yang menjadi satu-satunya cara yang disahkan oleh Alkitab, karena ketiga cara tersebut muncul di dalam Alkitab di dalam konteks yang berbeda-beda. Calvin . ) menegaskan bahwa perbedaan dalam cara baptisan tidak seharusnya menimbulkan perpecahan di antara gereja-gereja. Selama gereja mempertahankan substansi baptisan sebagai pembasuhan oleh darah Kristus yang dilambangkan dengan air, penerimaan hidup baru, serta penciptaan ulang oleh Roh Allah sehingga kita yang telah mati terhadap dosa dapat hidup bagi kebenaran, maka sejak semula gereja memiliki kebebasan untuk memberi ruang bagi adanya variasi dalam cara pelaksanaannya, dengan mempertahankan substansinya. Kesimpulan serupa juga digemakan oleh Frame. Sproul. Fesko, dan Marshall, bahwa kita tidak dapat menetapkan satu cara saja untuk baptisan berdasarkan Kitab Suci. Fesko . secara khusus menyatakan bahwa ketiga cara baptisan, yaitu selam, percik maupun tuang/curah memiliki preseden dalam permadani sejarah Apakah baptisan boleh atau harus diulangi? Pengakuan Iman Westmnister 28. 7 menyatakan bahwa sakramen baptisan harus dilaksanakan satu kali saja, dan mengaitkannya dengan Titus 3:5 yang merujuk pada pemandian kelahiran kembali yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Selain itu Belgic Confession Article xIV juga menyatakan bahwa baptisan hanya dilakukan satu kali ARTES LIBERALES: Jurnal Studi Humaniora Page 18 Baptis Ulang: Sebuah Tinjauan Berdasarkan Esensi dan Makna Baptisan Serta Implikasinya Terhadap Cara Baptisan Grace Purnamasari Christian saja dan tidak boleh diulangi, karena kita tidak mungkin dilahirkan dua kali. Baptisan ini bukan hanya berlaku bagi kita pada saat pelaksanaannya, tetapi berlaku sepanjang hidup kita. Kesimpulan Teologi Reformed percaya bahwa baptisan adalah salah satu dari dua sakramen yang ditetapkan oleh Kristus sendiri dalam Firman-Nya. Sebagai sakramen, baptisan bukan sekadar simbol semata . ebagaimana dipahami dalam pandangan Zwingl. namun, baptisan juga tidak secara otomatis menyalurkan anugerah keselamatan dari Allah kepada setiap orang yang dibaptis . ebagaimana diyakini dalam pandangan Katolik Rom. Sebaliknya, baptisan adalah sarana anugerah, yakni alat penerapan anugerah Allah yang menyalurkan berkat-berkat keselamatan dari Allah, yang tersedia di dalam Kristus, kepada setiap orang yang menerimanya dengan iman yang dikaruniakan oleh Allah berdasarkan kedaulatan-Nya, dan mendatangkan hukuman atau kutuk bagi mereka yang tidak beriman. Sesuai dengan definisi dari Pengakuan Iman Westminster . , baptisan memiliki makna sebagai upacara penerimaan ke dalam gereja yang kelihatan dan sebagai tanda dan meterai dari perjanjian anugerah Allah. Dengan demikian, baptisan bukan hanya merupakan pernyataan respons manusia kepada Allah, melainkan juga merupakan konfirmasi dari Allah bahwa kita adalah bagian dari umat perjanjian-Nya. Pemahaman yang tepat terhadap esensi dan makna baptisan seharusnya menyadarkan kita bahwa validitas baptisan tidak dapat ditentukan semata-mata berdasarkan metode atau cara pelaksanaannya. Terlebih lagi. Alkitab tidak secara eksplisit mennetapkan satu cara tertentu yang disahkan di antara ketiga cara baptisan yang muncul dalam konteksnya masing-masing di sepanjang sejarah penebusan. Dengan demikian, gereja tidak sepatutnya menetapkan syarat pembaptisan ulang bagi penerimaan anggota jemaat baru berdasarkan kriteria cara baptisan Masing-masing cara baptisan memiliki dasar alkitabiah dalam konteksnya, sehingga tidak ada satu pun yang dapat dimutlakkan sebagai satu-satunya cara yang sah. Hal yang lebih utama adalah apakah Firman Allah diberitakan dalam pelaksanaan sakramen tersebut. Sebab, esensi dan makna baptisan dinyatakan melalui pemberitaan Firman, dan hal ARTES LIBERALES: Jurnal Studi Humaniora Page 19 Baptis Ulang: Sebuah Tinjauan Berdasarkan Esensi dan Makna Baptisan Serta Implikasinya Terhadap Cara Baptisan Grace Purnamasari Christian inilah yang menjadi tolak ukur kesesuaian pelaksanaan baptisan dengan ketetapan Allah di dalam Firman-Nya, yaitu untuk menjadi sarana penyaluran anugerah Allah melalui iman kepada Kristus, yang dikerjakan oleh Roh Kudus untuk mempersatukan setiap umat Allah dengan Kristus dan dengan tubuh Kristus, untuk menjadi tanda dan meterai dari keselamatan yang hanya dikaruniakan di dalam Kristus. DAFTAR PUSTAKA