KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 6. Nomor 2. Hal: 99-108 Pengaruh Self-efficacy terhadap Minat Wirausaha Perempuan: Peran Mediasi Pengetahuan Kewirausahaan Simson Naten1, dan Godprit Haris Touwely2 Universitas Kristen Indonesia Maluku. Ambon. Maluku. Indonesia * Correspondence: haristouwely@gmail. Article Info Article history: Submitted : 26-02-2026 Accepted : 12-04-2026 Published : 24-04-2026 Keywords: Entrepreneurial Interest. Entrepreneurial Knowledge. Self-Efficacy. Women Entrepreneurs Copyright & License: How to cite this article: Simson Naten & Godprit Haris Touwely, . Pengaruh Self Efficacy terhadap Minat Wirausaha Perempuan. Peran Mediasi Pengetahuan Kewirausahaan Kamboti: Jurnal Sosial dan Humaniora. https://doi. org/10. 51135/kambotivol6issue2pag Abstract This study examines the effect of self-efficacy on women's entrepreneurial interest with the mediating role of entrepreneurial knowledge in Kairatu Village. West Seram Regency. Using SEM-PLS with 45 female entrepreneur respondents, the results show that selfefficacy significantly influences both entrepreneurial interest and entrepreneurial knowledge. Entrepreneurial knowledge also significantly affects entrepreneurial interest and serves as a full mediator between self-efficacy and entrepreneurial interest. These findings suggest that enhancing women's entrepreneurial interest in rural areas requires a holistic approach integrating self-confidence strengthening, entrepreneurial knowledge development, and local context-based empowerment. PENDAHULUAN Minat wirausaha perempuan merupakan salah satu determinan kritis pembangunan ekonomi inklusif, khususnya di wilayah perdesaan yang memiliki karakteristik sosial-ekonomi unik. Dua faktor utama yang secara konsisten dikaitkan dengan terbentuknya minat wirausaha adalah self-efficacy . eyakinan dir. dan pengetahuan kewirausahaan. Namun demikian, pertanyaan mendasar yang belum terjawab secara memadai dalam literatur yang ada adalah: bagaimana mekanisme pengaruh self-efficacy terhadap minat wirausaha perempuan di konteks perdesaan, apakah bersifat langsung ataukah harus dimediasi terlebih dahulu oleh pengetahuan kewirausahaan? Penelitian ini hadir untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan mengambil konteks empiris Desa Kairatu. Kabupaten Seram Bagian Barat. Maluku. Kewirausahaan berfungsi sebagai motor penggerak perekonomian yang menuntut setiap aktor ekonomi dalam ekosistemnya memainkan peran strategis dalam menstimulasi pertumbuhan dan pembangunan (Munyo & Veiga, 2. Dengan demikian, pengembangan kapasitas wirausaha secara komprehensif menjadi suatu keniscayaan agar potensi ekonomi masyarakat dapat dimaksimalkan secara berkesinambungan (Kadiyono & Susanto, 2025. Ncanywa et al. , 2. Melalui telaah mendalam terhadap dinamika kewirausahaan, dapat diidentifikasi berbagai elemen pendukung maupun penghambat pertumbuhan ekonomi, baik pada tataran individu maupun komunitas. Pandangan ini selaras dengan konsepsi bahwa kewirausahaan merupakan tolok ukur kemajuan perekonomian suatu negara (Zarkua et , 2. Lebih dari itu, kewirausahaan berperan sebagai salah satu katalis utama pertumbuhan dan pembangunan ekonomi yang mampu membuka lapangan kerja sekaligus memperkuat daya saing bangsa KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 6. Nomor 2. Hal: 99-108 di panggung global. Dalam kerangka ini, ketersediaan sumber daya manusia berjiwa wirausaha menjadi unsur kunci dalam menyelaraskan potensi individu dengan agenda pembangunan ekonomi nasional (Rojas et al. , 2. Sebagai penggerak pembangunan, kewirausahaan juga telah diteliti secara ekstensif dalam kaitannya dengan pertumbuhan Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) (Adam et al. , 2024. Rizq & Parveen. Tisa dan Anggadwita dalam Wardhana & Sulaiman, . menyajikan data bahwa sektor ekonomi kreatif berkontribusi sebesar 852 triliun rupiah atau setara 7,83% dari total perekonomian nasional, dengan subsektor fesyen menyumbang 30% dari keseluruhan industri kreatif di Indonesia. Guna mewujudkan pertumbuhan yang optimal, diperlukan penguatan kapasitas wirausaha melalui peningkatan pengetahuan, keahlian, dan kepercayaan diri (Iskandar et al. , 2. Melalui pengetahuan kewirausahaan yang baik, seorang pebisnis akan cenderung memiliki semangat pantang menyerah, kreativitas tanpa batas, serta keberanian dalam mengambil risiko yang menjadi roh sejati seorang wirausahawan (Ubjaan, 2. Hal ini selaras dengan pandangan bahwa dalam praktik manajemen sumber daya manusia berkelanjutan, organisasi maupun komunitas perlu mengambil inisiatif untuk memfasilitasi pembelajaran yang berorientasi pada peningkatan kapabilitas guna mendukung keberlanjutan, termasuk mendorong inovasi dan meningkatkan kepekaan terhadap peluang pasar. Pada tataran universal, konsep kewirausahaan tidak mengenal batas gender, usia, maupun tingkat pendidikan (Zarkua et al. , 2. Apabila perempuan diposisikan sebagai agen ekonomi yang produktif, maka masyarakat yang berhasil memberdayakan potensi wirausaha perempuan akan memperoleh kemajuan dalam dimensi pertumbuhan ekonomi dan kesetaraan sosial (Mari et al. , 2. Laporan GEM Consortium, . menegaskan bahwa aktivitas kewirausahaan bukan domain eksklusif laki-laki, dan kini semakin banyak perempuan yang terjun ke dunia bisnis, baik didorong oleh semangat kemandirian maupun tuntutan pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga. Huang et al. , . menguraikan bahwa keberhasilan wirausaha perempuan tidak dapat dipisahkan dari ragam faktor psikologis dan kognitif yang membentuk intensi serta perilaku wirausaha. GEM Consortium, . mencatat lonjakan signifikan jumlah perempuan yang mendirikan usaha baru di Amerika Serikat, di mana perusahaan milik perempuan tumbuh sekitar dua kali lebih cepat dibandingkan seluruh kategori perusahaan dalam dua dekade terakhir. Fenomena ini digerakkan oleh beragam motivasi, mulai dari kebutuhan ekonomi dan keterjaminan pekerjaan hingga hasrat meraih keseimbangan hidup, otonomi lebih besar, dan kepuasan pribadi (Gallegos et al. , 2. Namun, sebagaimana ditunjukkan oleh Mickiewicz & Nguyen, . , mencatat bahwa wirausaha perempuan masih terkonsentrasi pada usaha berskala kecil dan menengah, khususnya di sektor manufaktur, tekstil, konveksi, serta makanan dan minuman dengan proses produksi yang relatif sederhana, sedangkan usaha berskala besar dan modern masih didominasi oleh pelaku usaha laki-laki. Mencermati kompleksitas dan beragam hambatan dalam pengembangan wirausaha perempuan, muncul pertanyaan yang belum terjawab secara memadai dalam literatur yang ada. Sejumlah studi terdahulu seperti Kanth dan Sinha, . serta Wardana et al. , . telah mengonfirmasi pengaruh positif langsung self-efficacy terhadap intensi wirausaha. Namun studi-studi tersebut dilakukan pada konteks mahasiswa atau pelaku usaha perkotaan dengan tingkat pendidikan memadai, sehingga hasilnya belum tentu berlaku pada perempuan wirausaha perdesaan yang sebagian besar membangun keyakinan dirinya melalui pengalaman langsung, bukan pendidikan formal. Secara khusus, belum ada kajian yang secara eksplisit menguji apakah pengetahuan kewirausahaan berfungsi sebagai mediator antara self-efficacy dan minat wirausaha dalam konteks perempuan perdesaan Maluku, di mana keterbatasan literasi digital dan akses informasi menjadi hambatan struktural yang nyata. Research gap inilah yang menjadi justifikasi utama penelitian ini: mengungkap mekanisme pengaruh yang lebih kompleks dan kontekstual, di luar asumsi linear yang selama ini mendominasi literatur kewirausahaan arus utama. Uzkurt et al. , . mengidentifikasi bahwa minat berwirausaha dipengaruhi oleh dua sumber utama: selfefficacy yang berasal dari dalam diri individu, serta pendidikan dan pengetahuan yang diperoleh dari luar Self-efficacy menjadi penentu krusial bagi keinginan seseorang untuk memulai usaha, sebab dibutuhkan kepercayaan diri yang memadai agar wirausahawan merasa mampu menjalankan kegiatan https://jurnal. id/index. php/kamboti KAMBOTI is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 6. Nomor 2. Hal: 99-108 Self-efficacy didefinisikan sebagai keyakinan seseorang akan kapasitasnya dalam mengorganisasi dan melaksanakan serangkaian tindakan yang diperlukan untuk mencapai hasil tertentu. Konstruk ini berakar pada teori kognitif sosial Bandura, . dalam Uzkurt et al. , . yang menjelaskan bahwa perilaku manusia merupakan produk interaksi dinamis antara faktor personal, perilaku, dan lingkungan. Dalam kerangka ini, terdapat kemungkinan bahwa self-efficacy tidak serta-merta mendorong minat wirausaha secara langsung, melainkan bekerja melalui perantara berupa pengetahuan kewirausahaan yang membekali individu dengan wawasan tentang peluang, risiko, dan strategi bisnis. Suanpong et al. , . mendefinisikan pengetahuan kewirausahaan sebagai totalitas pemahaman mengenai berbagai informasi yang tersusun secara rasional dan logis dalam konteks pengelolaan usaha, yang mencakup dimensi penciptaan nilai tambah, kalkulasi risiko, aktivitas bisnis, dan kreasi lapangan Berbekal ketajaman naluri bisnis yang ditopang oleh pengetahuan yang memadai, seorang wirausahawan akan terampil dalam menangkap peluang dan berani mengambil risiko secara terukur. Dalam situasi yang diwarnai keterbatasan infrastruktur, minimnya akses informasi, dan dinamika sosialbudaya yang unik di wilayah perdesaan, terdapat kemungkinan bahwa pengetahuan kewirausahaan bertindak sebagai jembatan yang mengkonversi keyakinan diri menjadi minat wirausaha yang konkret dan Fenomena kewirausahaan perempuan di Desa Kairatu. Kabupaten Seram Bagian Barat, memperlihatkan dinamika usaha lokal yang berkembang pada sektor pangan dan perdagangan kecil. Berdasarkan data BPS . , jumlah penduduk mencapai 10. 139 orang, terdiri dari 5. 173 laki-laki dan 5. 102 perempuan. Sebagian besar pelaku usaha telah menjalankan usahanya lebih dari dua tahun. Motivasi berwirausaha umumnya muncul dari pengalaman sosial tanpa pendidikan formal, meskipun ada pula yang berbasis Namun, rendahnya literasi digital membuat pemanfaatan teknologi belum optimal sehingga berpotensi memengaruhi pengembangan dan keberlanjutan usaha mereka. Berangkat dari konteks tersebut, penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh self-efficacy terhadap minat wirausaha perempuan di Desa Kairatu. Kabupaten Seram Bagian Barat, dengan menempatkan pengetahuan kewirausahaan sebagai variabel mediasi. Pendekatan ini dipilih untuk menjelaskan mekanisme pengaruh yang tidak selalu berlangsung secara langsung, khususnya dalam konteks perempuan perdesaan yang memiliki keterbatasan akses pengetahuan. Dengan menelaah jalur tidak langsung, penelitian ini memberikan gambaran bahwa self-efficacy tidak hanya berpengaruh langsung, tetapi juga memperkuat minat wirausaha melalui peningkatan pengetahuan kewirausahaan. Berdasarkan kajian teoritis dan empiris yang telah diuraikan, penelitian ini merumuskan hipotesis sebagai berikut: (H. Self-efficacy berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat wirausaha perempuan di Desa Kairatu. Kabupaten Seram Bagian Barat. (H. Self-efficacy berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengetahuan kewirausahaan perempuan di Desa Kairatu. Kabupaten Seram Bagian Barat. (H. Pengetahuan kewirausahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat wirausaha perempuan di Desa Kairatu. Kabupaten Seram Bagian Barat. dan (H. Pengetahuan kewirausahaan memediasi pengaruh self-efficacy terhadap minat wirausaha perempuan di Desa Kairatu. Kabupaten Seram Bagian Barat. II. METODE Penelitian ini menggunakan desain explanatory research yang bertujuan menjelaskan hubungan sebabakibat antarvariabel dan memverifikasi hipotesis yang telah dirumuskan. Pendekatan yang diterapkan adalah kuantitatif. Satuan analisis dalam penelitian ini adalah individu perempuan wirausaha di Desa Kairatu. Kabupaten Seram Bagian Barat. Mengingat keseluruhan populasi perempuan wirausaha di desa tersebut berjumlah 45 orang dan dapat dijangkau sepenuhnya, maka digunakan metode sensus atau sampel total. Pengumpulan data primer dilakukan melalui kuesioner terstruktur menggunakan skala Likert lima poin, dengan rentang skor dari 1 . angat tidak setuj. hingga 5 . angat setuj. , untuk mengukur persepsi responden terhadap seluruh indikator variabel penelitian. Prosedur pengujian validitas mencakup convergent validity melalui parameter outer loading dan Average Variance Extracted (AVE), serta discriminant validity dengan menggunakan pendekatan Fornell-Larcker https://jurnal. id/index. php/kamboti KAMBOTI is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 6. Nomor 2. Hal: 99-108 Criterion dan cross loading. Uji reliabilitas dilakukan melalui perhitungan Composite Reliability dan CronbachAos Alpha. Analisis data menerapkan pendekatan Structural Equation Modeling berbasis Partial Least Square (SEM-PLS) dengan bantuan perangkat lunak SmartPLS. Pemilihan PLS didasarkan pada kelebihannya dalam menangani data berskala kecil dan tidak mempersyaratkan terpenuhinya asumsi distribusi normal multivariat. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Model Pengukuran (Outer Mode. Sebelum pengujian model struktural dalam SEM-PLS dilaksanakan, tahap pertama yang dilakukan adalah evaluasi model pengukuran . uter mode. guna memastikan validitas dan reliabilitas masing-masing Evaluasi ini meliputi pengujian convergent validity, discriminant validity, composite reliability, dan CronbachAos Alpha. Estimasi awal menghasilkan temuan bahwa dari 18 item pengukuran, sebanyak 17 item memiliki nilai loading factor di atas 0,6, sementara satu item pada variabel self-efficacy (SE. memperoleh loading factor sebesar 0,553 yang berada di bawah nilai ambang batas, sehingga item tersebut dikeluarkan dari model dan estimasi diulang Setelah estimasi ulang dilakukan, seluruh item pengukuran menunjukkan nilai loading factor di atas 0,6, yang mengindikasikan bahwa setiap item telah valid dalam merepresentasikan variabel yang diukurnya. Pada variabel self-efficacy, loading factor berkisar antara 0,678 (SE. hingga 0,855 (SE. pada variabel pengetahuan kewirausahaan antara 0,674 (PK. hingga 0,854 (PK. dan pada variabel minat kewirausahaan antara 0,777 (MK. hingga 0,876 (MK. Variasi nilai loading factor ini mencerminkan perbedaan tingkat kontribusi tiap item, namun semuanya memberikan sumbangan yang signifikan terhadap konstruk latennya masing-masing. Tabel 1. Construct Reliability and Validity CronbachAos Alpha Composite Reliability AVE Minat Wirausaha (Y) 0,865 0,871 0,900 0,601 Pengetahuan Kewirausahaan (Z) 0,892 0,899 0,918 0,652 Self-efficacy (X) Sumber: Data primer diolah, . 0,850 0,865 0,893 0,627 Variabel Berdasarkan hasil analisis pada Tabel 1, seluruh konstruk dalam model penelitian ini telah memenuhi kriteria validitas dan reliabilitas dalam SEM-PLS. Hal ini terlihat dari nilai Composite Reliability yang sangat baik, yakni Pengetahuan Kewirausahaan sebesar 0,918. Minat Wirausaha 0,900, dan Self-efficacy 0,893, seluruhnya melampaui batas minimum 0,70. Selain itu, validitas konvergen yang diukur melalui AVE juga menunjukkan hasil memadai, dengan nilai masing-masing 0,652, 0,627, dan 0,601, yang semuanya berada di atas ambang 0,50. Pengujian discriminant validity melalui pendekatan Fornell-Larcker memperlihatkan bahwa akar kuadrat AVE setiap konstruk lebih tinggi dibandingkan korelasinya dengan konstruk lain. Hasil ini diperkuat oleh analisis cross loading, sehingga menegaskan bahwa model memiliki kualitas pengukuran yang baik dan layak untuk analisis lanjutan. https://jurnal. id/index. php/kamboti KAMBOTI is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 6. Nomor 2. Hal: 99-108 Evaluasi Model Struktural (Inner Mode. Gambar 2. Model Struktural Penelitian (Output SmartPLS) Evaluasi model struktural dilakukan untuk menguji hubungan antarvariabel dalam penelitian. Hasil awal menunjukkan nilai Inner VIF seluruh jalur berada di bawah batas 5, yaitu 2,564 untuk hubungan Pengetahuan Kewirausahaan dan self-efficacy terhadap Minat Wirausaha, serta 1,000 untuk hubungan Selfefficacy terhadap Pengetahuan Kewirausahaan. Temuan ini mengindikasikan tidak adanya masalah multikolinieritas, sehingga estimasi model dinilai valid. Selanjutnya, nilai RA menunjukkan kemampuan prediksi yang kuat, yakni 80,7% untuk Minat Wirausaha dan 61,0% untuk Pengetahuan Kewirausahaan. Hal ini berarti sebagian besar variasi variabel endogen dapat dijelaskan oleh model. Nilai QA yang positif menegaskan relevansi prediktif yang baik, sementara nilai GoF sebesar 0,545 menunjukkan tingkat kesesuaian model yang tinggi antara data empiris dan model penelitian. Pembahasan Tabel 2. Ringkasan Hasil Pengujian Hipotesis Hipotesis Koefisien T-Statistik P-Values Keterangan Self-efficacy (X) Ie Minat Wirausaha (Y) 0,455 3,908 0,000 Signifikan Self-efficacy (X) Ie Pengetahuan Kewirausahaan (Z) 0,781 17,231 0,000 Signifikan Pengetahuan Kewirausahaan (Z) Ie Minat Wirausaha (Y) 0,497 4,025 0,000 Signifikan 0,388 3,765 0,000 Full Mediasi Self-efficacy (X) Ie Pengetahuan Kewirausahaan (Z) Ie Minat Wirausaha (Y) Sumber: Data primer diolah, . Pengaruh Self-Efficacy terhadap Minat Wirausaha Perempuan Temuan pengujian menunjukkan bahwa self-efficacy memberikan pengaruh langsung yang positif dan signifikan terhadap minat wirausaha perempuan di Desa Kairatu. Kabupaten Seram Bagian Barat (=0,455. t=3,908. p<0,. Untuk menelaah fenomena ini secara lebih komprehensif. Teori Kognitif Sosial yang digagas oleh Bandura . menyediakan kerangka analisis yang sangat relevan. Teori ini menegaskan bahwa perilaku manusia terbentuk melalui determinisme resiprokal triadik, yakni interaksi yang saling mempengaruhi secara dinamis antara faktor personal . eliputi keyakinan dir. , faktor perilaku, dan faktor https://jurnal. id/index. php/kamboti KAMBOTI is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 6. Nomor 2. Hal: 99-108 Penerapan konsep ini pada konteks perempuan wirausaha di Desa Kairatu menunjukkan bahwa keyakinan diri yang terbentuk dari pengalaman menjalankan usaha berperan sebagai mekanisme psikologis yang mendorong keberlanjutan aktivitas kewirausahaan. Sebagaimana terlihat dari data deskriptif, item SE4 yang berbunyi AuPengalaman menjalani usaha membentuk karakter yang kuat sehingga mampu bertahan dalam menjalankan usaha walaupun tantangan yang dihadapi lebih kompleksAy memperoleh skor tertinggi . Hal ini menunjukkan bahwa bagi perempuan wirausaha di Desa Kairatu, pengalaman mastery yang diperoleh selama menjalankan usaha . ata-rata lebih dari dua tahu. telah membentuk keyakinan diri yang Dalam tataran praktis, hal ini tampak nyata pada perempuan pedagang keripik pisang yang mendominasi 51,1% dari total responden. Mereka yang telah lama menggeluti usaha ini membangun rasa percaya diri yang tangguh dalam menghadapi fluktuasi pasar, persaingan sesama pedagang di kawasan Pelabuhan Waipirit, dan tantangan logistik khas daerah kepulauan. Temuan ini bersesuaian dengan hasil kajian (Kanth & Sinha, 2025. Wardana et al. , 2. yang menunjukkan bahwa self-efficacy berkontribusi nyata dalam membentuk niat kewirausahaan, sekaligus memperkuat argumentasi (Arifin et al. , 2. bahwa individu dengan tingkat self-efficacy tinggi memiliki kemampuan lebih baik dalam menuntaskan pekerjaan dibandingkan mereka dengan self-efficacy rendah. Yang membedakan temuan ini dari studi-studi sebelumnya adalah konteksnya: perempuan wirausaha Desa Kairatu membangun self-efficacy bukan melalui bangku pendidikan formal, melainkan melalui akumulasi pengalaman bertahan di pasar yang penuh ketidakpastian. Proses ini sejalan dengan konsep mastery experience Bandura . , namun dengan kekhasan lokal yang kuat. Pengalaman menghadapi fluktuasi permintaan di kawasan Pelabuhan Waipirit, bersaing dengan sesama pedagang, dan mengelola keterbatasan modal secara mandiri justru menjadi sumber keyakinan diri yang lebih kuat dan tahan uji. Dengan demikian, temuan ini memperkaya Teori Kognitif Sosial Bandura dengan menunjukkan bahwa dalam konteks perdesaan, keterbatasan pendidikan formal tidak menjadi penghalang terbentuknya selfefficacy yang kuat, selama individu memiliki intensitas pengalaman praktis yang memadai. Pengaruh Self-Efficacy terhadap Pengetahuan Kewirausahaan Hasil pengujian mengungkapkan bahwa self-efficacy memberikan pengaruh positif dan signifikan yang sangat dominan terhadap pengetahuan kewirausahaan (=0,781. t=17,231. p<0,. , dengan nilai fsquare sebesar 1,564 yang masuk dalam kategori efek tinggi. Koefisien jalur ini merupakan yang terkuat dalam keseluruhan model penelitian, menandakan bahwa self-efficacy merupakan prediktor dominan dalam pembentukan pengetahuan kewirausahaan perempuan wirausaha di Desa Kairatu Untuk memahami mengapa pengaruh ini begitu kuat, konsep mastery experience dalam Teori Self-efficacy (Bandura, 1. memberikan landasan penjelasan yang tepat. Bandura menyatakan bahwa keberhasilan dalam menguasai suatu tugas merupakan sumber efikasi diri paling berpengaruh: ketika individu berhasil menyelesaikan suatu tantangan, keberhasilan itu tidak hanya menguatkan kepercayaan diri, tetapi juga menyalakan motivasi untuk terus mencari pengetahuan baru demi menopang keberhasilan berikutnya. Mekanisme ini menciptakan siklus umpan balik positif antara keyakinan diri dan akuisisi pengetahuan. Dalam konteks spesifik Desa Kairatu, fenomena ini tercermin dari data deskriptif di mana item PK2 . ang menyatakan bahwa pengetahuan sebelum merintis usaha sangat bermanfaat bagi keberlangsungan jenis usaha yang digelut. meraih skor tertinggi . pada variabel pengetahuan kewirausahaan. Perempuan wirausaha yang memiliki keyakinan kuat atas kemampuannya cenderung lebih proaktif dalam menggali informasi mengenai jenis usaha yang hendak dirintis, baik melalui diskusi dengan kerabat, pengamatan langsung terhadap praktik wirausahawan lain, maupun melalui akumulasi pengalaman praktis. Menariknya, meski mayoritas responden hanya berpendidikan SMU/SMK . ,6%), self-efficacy yang tinggi mendorong mereka untuk terus mengembangkan pengetahuan kewirausahaan melalui jalur non-formal dan pembelajaran empiris, yang membenarkan pandangan(Anton & Mansingh, 2. bahwa self-efficacy merupakan produk interaksi antara faktor lingkungan eksternal, mekanisme adaptasi diri, serta kapabilitas dan pengalaman personal. https://jurnal. id/index. php/kamboti KAMBOTI is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 6. Nomor 2. Hal: 99-108 Pengaruh Pengetahuan Kewirausahaan terhadap Minat Wirausaha Pengujian hipotesis menegaskan bahwa pengetahuan kewirausahaan memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap minat wirausaha perempuan (=0,497. t=4,025. p<0,. , dengan nilai f-square sebesar 0,498 yang terklasifikasi dalam kategori efek tinggi. Temuan ini memberikan konfirmasi empiris yang kuat mengenai peran vital pengetahuan kewirausahaan dalam mengukuhkan komitmen perempuan untuk terus berwirausaha, khususnya dalam konteks Desa Kairatu beserta seluruh karakteristik sosialekonominya. Mekanisme teoretis temuan ini dapat ditelaah melalui lensa Teori Perilaku Terencana (Theory of Planned Behavio. yang dikembangkan oleh (Ajzen, 1. Dalam kerangka teori ini, pengetahuan berfungsi sebagai fondasi pembentuk perceived behavioral control, yakni persepsi individu tentang kemudahan atau kesulitan dalam melakukan suatu perilaku. Ketika seorang perempuan wirausaha memiliki bekal pengetahuan yang cukup tentang pengelolaan usaha, ia memandang aktivitas kewirausahaan sebagai sesuatu yang terjangkau dan dapat dikuasai, bukan sebagai tantangan yang melampaui kapasitasnya. Dalam konteks Desa Kairatu, pengetahuan kewirausahaan mencakup pemahaman tentang aspek-aspek operasional yang sangat spesifik dan kontekstual. Sebagaimana tercermin dari data deskriptif, item MK6 yang berkaitan dengan pengetahuan perencanaan usaha memperoleh skor tertinggi . pada variabel minat wirausaha, yang menunjukkan bahwa penguasaan pengetahuan tentang penggunaan bahan baku, tenaga kerja, dan proses produksi secara langsung memperkuat minat mereka untuk terus dan bahkan mengembangkan usaha. Misalnya, perempuan pedagang keripik pisang yang memahami cara memilih bahan baku berkualitas, teknik pengolahan yang efisien, dan strategi pemasaran di area Pelabuhan Waipirit memiliki minat yang lebih kuat untuk mempertahankan dan mengembangkan usahanya dibandingkan mereka yang sekadar meniru tanpa pemahaman mendalam. Temuan ini memperkuat argumen (Caputo et , 2024. Soomro et al. , 2. bahwa wirausahawan yang berbekal pengetahuan akan terampil memanfaatkan peluang dan merasa percaya diri untuk mengambil risiko secara berani. Pengetahuan Kewirausahaan Memediasi Pengaruh Self-Efficacy terhadap Minat Wirausaha Hasil pengujian menunjukkan bahwa pengetahuan kewirausahaan secara signifikan memediasi pengaruh self-efficacy terhadap minat wirausaha ( tidak langsung = 0,388. t = 3,765. p < 0,. Berdasarkan prosedur Baron dan Kenny, pengetahuan kewirausahaan berperan sebagai full mediator, yang berarti pengaruh self-efficacy terhadap minat wirausaha terjadi secara tidak langsung melalui peningkatan pengetahuan kewirausahaan. Temuan ini menegaskan bahwa keyakinan diri saja belum cukup untuk mendorong minat wirausaha tanpa didukung pemahaman yang memadai. Secara teoretis, temuan ini dapat dijelaskan melalui integrasi Teori Kognitif Sosial Bandura dan Teori Human Capital. Self-efficacy mendorong individu untuk aktif mencari dan mengembangkan pengetahuan, sementara pengetahuan tersebut menjadi modal penting dalam pengambilan keputusan ekonomi, termasuk keputusan berwirausaha. Dengan demikian, hubungan antara keyakinan diri dan minat wirausaha menjadi lebih kuat ketika dimediasi oleh pengetahuan kewirausahaan. Dalam konteks Desa Kairatu, mekanisme ini tampak jelas. Perempuan wirausaha dengan self-efficacy tinggi, yang tercermin dari keyakinan bahwa pengalaman usaha membentuk karakter yang kuat (SE4 = 4,. , cenderung lebih proaktif dalam mengembangkan pengetahuan. Proses ini umumnya berlangsung melalui pembelajaran berbasis pengalaman, seperti berdiskusi dengan sesama pedagang, mengamati strategi penjualan, serta memahami preferensi konsumen, terutama karena mayoritas responden berpendidikan SMU/SMK . ,6%). Pengetahuan yang diperoleh kemudian berperan sebagai katalis yang mengubah keyakinan diri menjadi minat wirausaha yang lebih terarah dan berkelanjutan. Sebaliknya, tanpa dukungan pengetahuan kewirausahaan, minat yang muncul cenderung bersifat imitatif dan reaktif, misalnya hanya mengikuti keberhasilan orang lain. Temuan ini menegaskan pentingnya pengetahuan kewirausahaan sebagai jembatan utama antara self-efficacy dan minat wirausaha. Hasil ini sejalan dengan temuan (Caputo et al. , 2024. Soomro et al. , 2. serta memperkuat argumen (Ye & Kang, 2. bahwa minat berwirausaha tidak muncul secara instan, melainkan didahului oleh pengetahuan yang https://jurnal. id/index. php/kamboti KAMBOTI is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4. 0 International License. KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora . ISSN: 2746-475X) Volume 6. Nomor 2. Hal: 99-108 kemudian mendorong munculnya keinginan untuk berwirausaha secara lebih terarah dan berkelanjutan. IV. KESIMPULAN Penelitian ini menghasilkan tiga temuan empiris yang saling terkait dan memiliki implikasi teoritis Pertama, self-efficacy terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat wirausaha perempuan di Desa Kairatu. Temuan ini menegaskan bahwa keyakinan diri yang dibangun melalui pengalaman langsung di lapangan merupakan modal psikologis yang efektif dalam mendorong keberlanjutan aktivitas kewirausahaan, bahkan tanpa dukungan pendidikan formal yang memadai. Kedua, self-efficacy berpengaruh sangat kuat terhadap pengetahuan kewirausahaan (=0,. , mengkonfirmasi bahwa perempuan dengan keyakinan diri tinggi secara proaktif mengembangkan pengetahuan kewirausahaan melalui jalur pembelajaran experiential yang khas perdesaan. Ketiga, dan yang paling signifikan secara teoritis, pengetahuan kewirausahaan terbukti menjadi mediator penuh . ull mediato. dalam hubungan antara self-efficacy dan minat wirausaha perempuan. Temuan ini merupakan kontribusi utama penelitian: dalam konteks perdesaan dengan dominasi pendidikan SMU/SMK dan keterbatasan literasi digital, self-efficacy saja tidak cukup untuk menghasilkan minat wirausaha yang kuat dan berkelanjutan. Pengetahuan kewirausahaan adalah faktor kunci yang mengkonversi keyakinan diri menjadi minat wirausaha yang terstruktur dan berorientasi keberlanjutan. Penelitian ini mengusulkan model Pembelajaran Kewirausahaan Berbasis Pengalaman Perdesaan (REEL) sebagai kerangka kontekstual yang memperkaya Teori Kognitif Sosial Bandura serta Teori Perilaku Terencana Ajzen dengan dimensi kontekstual perdesaan. Oleh karena itu, peningkatan minat wirausaha perempuan di wilayah perdesaan Maluku memerlukan pendekatan menyeluruh yang mengintegrasikan penguatan self-efficacy melalui program mentoring berbasis pengalaman keberhasilan, pengembangan pengetahuan kewirausahaan melalui pelatihan kontekstual yang disesuaikan dengan jenis usaha dominan seperti pengolahan keripik pisang dan perdagangan hasil laut, serta penguatan literasi digital untuk memperluas akses pasar, sebagai strategi terpadu untuk mendorong partisipasi ekonomi perempuan yang berkelanjutan dan bermakna. Penghargaan Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Universitas Kristen Indonesia Maluku atas dukungan institusional dalam pelaksanaan penelitian ini. Penghargaan juga disampaikan kepada Dewan Redaksi KAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora atas kesempatan publikasi serta masukan konstruktif dari para reviewer. Terima kasih pula kepada seluruh perempuan wirausaha di Desa Kairatu. Kabupaten Seram Bagian Barat, yang bersedia menjadi responden dan memberikan informasi berharga. Penulis turut mengapresiasi dukungan Pemerintah Desa Kairatu yang memfasilitasi proses pengumpulan Konflik Kepentingan Penulis menyatakan tidak terdapat hubungan komersial maupun finansial yang dapat menimbulkan potensi konflik kepentingan dalam penelitian ini. Penelitian ini merupakan karya ilmiah independen yang bebas dari pengaruh pihak manapun, dan seluruh temuan serta simpulan yang disajikan sepenuhnya bertumpu pada data empiris yang dikumpulkan secara objektif. DAFTAR PUSTAKA