Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. Volume 14. Nomor 2. Desember 2022 PENYULUHAN DENGAN MEDIA VIDEO MENINGKATKAN PENGETAHUAN TENTANG UPAYA PENCEGAHAN TUBERKULOSIS DI SD INPRES BERTINGKAT PERUMNAS 1 WAENA Ellen Rosawita Veronica Purba1. Sethiana Dewi Ruben1. Elisabeth Mebri1 Jurusan Keperawatan. Poltekkes Kemenkes Jayapura. Papua. Indonesia Email PenulisKorespondensi (K): ellen. purba5@gmail. ABSTRAK Tuberkulosis merupakan masalah global dengan angka kematian akibat tuberkulosis masih tinggi, terutama di negara berkembang. Prevalensi kejadian BTA . akteri tahan asa. positif di Provinsi Papua pada tahun 2020 sebanyak 540 kasus dan 14 diantaranya adalah anak berusia 0-14 tahun. Upaya penanganan yang dapat dilakukan berupa pemberian informasi kesehatan yang dapat meningkatkan pengetahuan serta menumbuhkan sikap dan perilaku pencegahan. Tujuan studi ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan tentang upaya pencegahan tuberklosis menggunakan media video di SD Inpres Bertingkat Perumnas 1 Waena. Studi ini merupakan pra-eksperimen dengan rancangan one group pre testAe post test design. Populasi dalam studi ini merupakan siswa kelas 4 dan 5 yang berjumlah 62 Sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 30 orang diambil dengan metode simple random sampling. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon. Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara pengetahuan tentang upaya pencegahan tuberkulosis sebelum dan sesudah intervensi . =0,. Jumlah responden yang memiliki pengetahuan baik sebelum intervensi sebanyak 8 orang . ,7%) meningkat menjadi 17 orang . ,7%) setelah intervensi, sedangkan responden yang memiliki pengetahuan cukup sebelum intervensi berjumlah 21 orang . %) mengalami penurunan menjadi 13 orang . ,3%) setelah intervensi. Setelah intervensi, tidak ada responden yang termasuk kategori pengetahuan yang kurang. Hasil tersebut menunjukkan bahwa penyuluhan dengan media video berpengaruh terhadap pengetahuan tentang upaya pencegahan tuberkulosis di SD Inpres Bertingkat Perumnas 1 Waena. Kata kunci: Media video. Pendidikan kesehatan. Tuberkulosis. Upaya pencegahan ABSTRACT Tuberculosis is a global issue due to its high mortality rate, especially in developing countries. In 2020, the prevalence of positive Mycobacterium tuberculosis in Papua Province was 540 cases, and 14 were children aged 0-14 years. Tuberculosis prevention can be achieved by providing health education to increase knowledge and develop a good preventive attitude and behaviour. The study aimed to increase knowledge about tuberculosis prevention using video at Bertingkat Perumnas 1 Waena Elementary School. The study is a pre-experimental study with one group pre-post test design. Thirty samples that met the inclusion and exclusion criteria were selected by simple random sampling from a total population of 62 students in grades 4 and 5. The data were analyzed using the Wilcoxon test. The results showed a significant difference between knowledge about tuberculosis prevention before and after intervention . =0. Respondents with good knowledge before the intervention were eight respondents . 7%) increased to 17 respondents . 7%) after the intervention, while respondents who had sufficient knowledge before the intervention amounted to 21 respondents . %), decreased to 13 respondents . 3%) after the intervention. After the intervention, no respondents were included in the low knowledge category. These concluded that health education using video affects the knowledge about tuberculosis prevention at SD Inpress Bertingkat Perumnas 1 Waena. Keywords: Health education. Prevention efforts. Tuberculosis. Video media Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. Volume 14. Nomor 2. Desember 2022 PENDAHULUAN Anak sekolah . -11 tahu. merupakan anak yang rentan terhadap masalah kesehatan. Karakteristik anak sekolah kelas 4 dan kelas 5 termasuk dalam ciri kelas tinggi . sia 9 - 13 tahu. yang mempunyai rasa ingin tahu dan belajar, serta mulai menonjolkan bakat-bakat khusus dalam mata Siswa dapat menguasai bagaimana memperlakukan orang lain dengan apa yang mau diterimanya, dan dapat menilai apakah suatu perilaku itu benar atau salah (Sudrajat, 2. Anak terbiasa dengan pergaulan di lingkungan rumah, sekolah dan lingkungan bermain, sehingga menuntut mereka dapat berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta terhindar dari penyakit bahkan kematian (Potter & Perry, 2. Tuberkulosis masih menjadi atensi global karena angka kematian yang diakibatkannya masih tinggi, terutama di negeri berkembang. Global Tuberculosis Report tahun 2022 menunjukkan bahwa secara global orang yang terinfeksi tuberkulosis diperkirakan sekitar 10,6 juta orang pada tahun 2021. Sebagian besar pengidap tuberkulosis berusia diatas 15 tahun dengan persentase untuk laki-laki sekitar 56,5% dan perempuan sekitar 32,5% serta anak usia di bawah 15 tahun sekitar 11%. Jumlah kematian akibat tuberkulosis baik yang disertai HIV maupun tidak sekitar 1,6 juta jiwa pada tahun 2021 (WHO. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. tahun 2018, prevalensi tuberkulosis berdasarkan riwayat diagnosis oleh dokter di Indonesia sebesar 0,42% dan di Papua sebesar 0,77% (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2. Indonesia bersama India dan Filipina menjadi tiga negara tertinggi yang meningkatkan angka kejadian tuberkulosis di dunia dengan total peningkatan sekitar 0,4 juta pada tahun 2021. Tahun 2021 diperkirakan terdapat 969. 000 kasus tuberkulosis dengan laju sebesar 354 per 100. 000 populasi serta 150. 500 kematian akibat tuberkulosis. Sekitar 222. 000 kasus diantaranya disertai positif HIV dengan laju 8,1 per 100. 000 populasi (WHO, 2. Data di Provinsi Papua tahun 2019 tercatat sebanyak 11. 532 kasus terduga tuberkulosis dan sebesar 2. 893 diantaranya merupakan kasus pada anak usia 0-14 tahun. Angka kematian selama pengobatan tuberkulosis di Papua sebesar 3,1% (Dinas Provinsi Papua, 2. Pelaksanaan penanggulangan tuberkulosis di Indonesia secara administratif membawahi 2 direktorat Kementerian Kesehatan, yakni Dinas Bina Marga serta P2PL . abang dari direktorat P2PL Puskesmas menjadi pelayanan awal tuberkulosis saat ini yang berada di bawah pimpinan Cabang Tuberkulosis Dinas Kesehatan. Peran perawat sebagai edukator dalam pengendalian tuberkulosis adalah memberikan pendidikan dan konsultasi kesehatan sehingga dapat menjaga serta meningkatkan kesehatan penduduk. Pembelajaran kesehatan tentang pencegahan tuberkulosis ialah salah satu tugas tenaga kesehatan dalam melaksanakan kedudukannya selaku pendidik ataupun edukator (Novita, 2. Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. Volume 14. Nomor 2. Desember 2022 Pemberian informasi dan pengetahuan dapat diberikan dengan sosialisasi kesehatan. Sosialisasi dan pendidikan kesehatan pada hakekatnya merupakan sesuatu aktivitas guna membagikan informasi kesehatan kepada publik, kelompok ataupun orang. Pendidikan kesehatan merupakan upaya pembelajaran kesehatan melalui berbagai macam media serta teknologi sehingga dapat meningkatkan pengetahuan seseorang (Notoatmodjo, 2. Anak sekolah dan remaja di negara berkembang merupakan kelompok usia yang sangat memerlukan pembelajaran kesehatan, sehingga pemberian pendidikan dan sosialisasi kesehatan pada usia tersebut sangat di anjurkan (Charles Shapu et al. , 2020. Cheng et al. , 2020. Fernyndez-Jimynez et al. , 2. Upaya yang dikembangkan saat ini untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap siswa dengan memberikan intervensi pada siswa berupa edukasi. Edukasi kesehatan adalah bentuk usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pemahaman individu dan masyarakat yang baik secara fisik, sosial maupun lingkungan tentang peyebaran penyakit tuberkulosis (Chakaya et al. , 2. Edukasi diberikan kepada anak untuk mengetahui tahap perkembangan anak secara spesifik sesuai dengan kebutuhan anak dalam meningkatkan kemampuan kognitif dan komunikasi dalam menerima informasi. Semakin banyak informasi yang mereka ketahui, semakin tinggi kemampuan siswa untuk menjalani hidup sehat (Hockenberry & Wilson, 2. Promosi kesehatan tentang pencegahan tuberkulosis kepada publik maupun individu dapat menjadi pencegahan awal tuberkulosis (Trifitriana et al. , 2. Prosedur pembelajatran yang dapat dilakukan adalah menggunakan media visual seperti vidio (Notoatmodjo, 2. Perkembangan atensi terhadap pembelajaran visual pastinya lebih besar dibandingkan dengan media proyeksi lainnya, sebab audio visual bisa menunjukkan foto bergerak, serta meningkatkan atensi responden untuk mengikuti pembelajaran kesehatan. Dari hasil survey awal dengan metode wawancara yang dilakukan pada SD Inpres Bertingkat Perumnas 1 Waena didapatkan bahwa belum adanya penyuluhan tentang pencegahan tuberkulosis di sekolah. Hasil penelitian sebelumnya yang memanfaatkan video sebagai media penyuluhan kesehatan tentang tuberkulosis menunjukkan bahwa metode audio visual dengan video lebih efektif dalam meningkatkan pengetahuan siswa SD tentang penyakit tuberkulosis (Fadilah et al. , 2. Hasil penelitian lainya juga menjelaskan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan pengetahuan siswa SD tentang tuberkulosis (Maemunah et al. , 2. Hasil penelitian tersebut juga menjelaskan bahwa media vidio memberikan tampilan yang lebih menarik di bandingkan dengan media lainya, serta lebih aplikatif karena melibatkan semua indra pada manusia dalam penyerapan Hal tersebut yang mendasari peneliti untuk melakukan penelitian dengan tujuan meningkatkan pengetahuan tentang tuberklosis menggunakan media visual vidio di SD Inpres Bertingkat Perumnas 1 Waena. Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. Volume 14. Nomor 2. Desember 2022 METODE Jenis studi yang digunakan adalah pra-eksperimen dengan pendekatan one group pre test Ae post test design (Sulistyaningsih, 2. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 25 Agustus 2020 sampai 09 September 2020 dan telah mendapatkan ethical approval dari Komite Etik Penelitian Kesehatan Poltekes Kemenkes Jayapura dengan nomor 091/KEPK-J/XI/2020. Populasi dalam studi ini merupakan siswa kelas 4 dan 5 yang berjumlah 62 orang. Sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 30 orang diambil menggunakan metode simple random sampling dengan proporsi kelas 4 dan kelas 5 masing-masing sebanyak 15 responden. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang berisi 20 pertanyaan tertutup dengan skala likert yaitu 5 alternatif jawaban yang sudah dilakukan uji validitas dan reliabilitas sebelumnya. Hasil reliabilitas r hitung > r tabel . dan nilai reliabilitas Cronbach alpha sebesar 0,721. Skala nilai pengukuran yang diberikan untuk pertanyaan adalah jika jawaban selalu (SL) skor= 5, sering (SR) skor= 4, kadang-kadang=3, jarang (JR) skor= 2, tidak pernah (TP) skor= 1 sedangkan jawaban unfavourable selalu (SL) skor= 1, sering (SR) skor= 2, kadang-kadang skor=3, jarang (JR) skor= 4, tidak pernah (TP) skor= 5. Pada saat pelaksanaan penelitian peneliti dibantu oleh asisten peneliti dan wali kelas. Wali kelas memasukkan peneliti kedalam Whatsapp grup kelas pembelajaran daring siswa. Siswa yang terpilih menjadi sampel diberikan penjelasan penelitian terlebih dahulu dan diminta mengisi informed consent jika bersedia menjadi responden penelitian. Peneliti memberikan kuesioner dalam bentuk google form. Langkah pertama yaitu pengukuran pengetahuan tentang upaya pencegahan penyakit tuberkolosis sebelum diberikan intervensi . Langkah selanjutnya yaitu pemberian penyuluhan tentang penyakit tuberkulosis dan upaya pencegahannya kepada responden penelitian dalam bentuk video. Peneliti memastikan kepada semua responden sudah menerima dan menonton video tersebut dengan cara menuliskan daftar nama yang sudah meneria dan menonton video tersebut. Setelah penyuluhan selesai diberikan, dilanjutkan dengan pengukuran pengetahuan tentang upaya pencegahan penyakit tuberkolosis kembali . setelah 10 hari dari penyuluhan. Setelah data terkumpul, peneliti melakukan pengolahan data meliputi editing dan coding serta uji statistik. Uji bivariat yang digunakan adalah uji Wilcoxon karena skala data variabel pengetahuan tentang upaya pencegahaan tuberculosis adalah ordinal (Sugiyono, 2. HASIL Data karakteristik responden di SD Inpres Bertingkat Perumnas 1 Waena disajikan pada Tabel 1. Tabel 1 menjelaskan jenis kelamin laki-laki yaitu berjumlah 16 responden . ,3%) dan mayoritas memiliki usia terendah yaitu 10 tahun yaitu berjumlah 19 responden . ,3%), dan tertinggi usia 15 tahun yaitu berjumlah 1 responden . ,3%). Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. Volume 14. Nomor 2. Desember 2022 Tabel 1. Karakteristik Responden di SD Inpres Bertingkat Perumnas 1 Waena Karakteristik Responden Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Usia Total Tabel 2 menggambarkan mayoritas orang tua responden memiliki pendidikan tinggi yaitu berjumlah 11 responden . ,7%) dan mayoritas bekerja sebagai non PNS yaitu berjumlah 25 responden . ,3%). Karakteristik suku responden juga menunjukan berasal dari suku non papua yaitu berjumlah 27 responden . %). Tabel 2. Karakteristik Orang Tua Responden Di SD Inpres Bertingkat Perumnas 1 Waena Karakteristik Responden Pendidikan Ayah Sekolah Dasar Sekolah Menengah Pertama Sekolah Menengah Atas Perguruan Tinggi Pendidikan Ibu Sekolah Dasar Sekolah Menengah Pertama Sekolah Menengah Atas Perguruan Tinggi Pekerjaan Ayah Non Pegawai Negeri Sipil Pegawai Negeri Sipil Pekerjaan Ibu Ibu Rumah Tangga Non PNS PNS Suku Non Papua Papua Total Tabel 3. Keterpaparan Informasi tentang Tuberculosis pada Responden Di SD Inpres Bertingkat Perumnas 1 Waena Keterpaparan Informasi Belum Pernah Pernah . enaga kesehatan dan gur. Total Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. Volume 14. Nomor 2. Desember 2022 Tabel 3 menggambarkan mengenai keterpaparan informasi bahwa mayoritas responden di SD Inpres Bertingkat Perumnas 1 Waena yang pernah mendengar informasi tentang Tuberculosis sebanyak 14 responden . ,7%) dan diperoleh dari guru serta tenaga kesehatan, sedangkan sejumlah 16 responden . ,3%) lainnya belum pernah mendengar informasi tentang Tuberculosis. Tabel 4. Pengetahuan tentang Upaya Pencegahan Tuberkulosis Responden Sebelum dan Sesudah Diberikan Penyuluhan Kesehatan di SD Inpres Bertingkat Perumnas 1 Waena Upaya Pencegahan Sebelum Penyuluhan Baik Cukup Kurang Sesudah Penyuluhan Baik Cukup Kurang Total Tabel 4 menggambarkan bahwa mayoritas pencegahan yang dilakukan responden sebelum diberikannya penyuluhan kesehatan tentang Tuberculosis dalam kategori cukup yaitu berjumlah 21 responden . %), kategori baik berjumlah 8 responden . ,7%) dan kategori kurang berjumlah 1 responden . ,3%). Setelah diberikannya penyuluhan kesehatan tentang Tuberculosis dalam kategori baik yaitu berjumlah 17 responden . ,7%), sedangkan kategori cukup berjumlah 13 responden . ,3%). Tabel 5 Perbedaan Pengetahuan tentang Upaya Pencegahan Tuberkulosis Sebelum dan Sesudah Diberikan Penyuluhan Kesehatan Pada Responden Di SD Inpres Bertingkat Perumnas 1 Waena Upaya pencegahan TBC Penyuluhan Sebelum Penyuluhan Baik Total Cukup Kurang P Value 0,002 Sesudah Penyuluhan Tabel 5 menunjukan bahwa upaya pencegahan Tuberculosis sesudah dilaksanakannya pendidikan kesehatan tentang Tuberculosis mengalami peningkatan. Kategori upaya pencegahan baik pada saat sebelum penyuluhan berjumlah 8 responden . ,7%) dan meningkat menjadi 17 responden . ,7%) saat sesudah penyuluhan. Kategori upaya pencegahan cukup pada saat sebelum penyuluhan berjumlah 21 responden . %) dan berkurang menjadi 13 responden . ,3%) saat sesudah penyuluhan, serta upaya pencegahan kurang saat sebelum penyuluhan berjumlah 1 responden . ,3%) dan berkurang menjadi 0 responden . %) saat sesudah penyuluhan. Data tersebut juga menunjukan bahwa nilai p value uji wilcoxon sebesar 0,002 . <0,. menunjukan bahwa ada pengaruh pendidikan kesehatan dengan Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. Volume 14. Nomor 2. Desember 2022 media video terhadap pengetahuan tentang upaya pencegahan tuberkolosis di SD Inpres Bertingkat Perumnas 1 Waena. BAHASAN Karakteristik Responden dan Orang Tua Respoden di SD Inpres Bertingkat Perumnas 1 Waena Hasil penelitian yang dilakukan di SD Inpres Bertingkat Perumnas 1 Waena pada 30 responden yang diteliti, menunjukan bahwa mayoritas responden memiliki jenis kelamin laki-laki . ,3%) dan mayoritas memiliki usia terendah yaitu 10 tahun . ,3%), dan tertinggi usia 15 tahun . ,3%). Penelitian tersebut menunjukan antara laki-laki dan perempuan mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi responden penelitian dan mendapatkan pendidikan yang sama di masa sekarang. Akan tetapi pada karakteristik usia menujukan kematangan dalam berperilaku. Perilaku hidup bersih yang dikaitkan dengan upaya pencegahan penyakit Tuberculosis pada anak usia sekolah harus dibentuk pada saat anak masuk ke dalam periode perkembangan. (Wong, 2. menjelaskan bahwa pada usia sekolah adalah usia yang tepat untuk menanamkan keyakinan-keyakinan baik dalam hidup bersih dan sehat dalam pencegahan Tuberculosis sehingga memunculkan sifat atau perilaku yang baik pada masa mendatang. Hal tersebut sesuai dengan penelitian (Rizki, 2. bahwa dengan bertambahnya usia maka perilaku seseorangpun ikut berubah ke arah yang lebih dewasa. Pada karakteristik orang tua responden menunjukan bahwa sebagian besar orang tua responden memiliki pendidikan tinggi . ,7%) dan sebagian besar bekerja sebagai non PNS . ,3%). Pendidikan dan pekerjaan memiliki hubungan dengan pengetahuan yang dimiliki yang di dapat dari pendidikan yang di tempuh dan pengalaman selama bekerja. Hal tersebut sesuai dengan penelitian (Wahyuni et al. yang menunjukan bahwa orang tua dengan latar pendidikan tinggi telah mempunyai pola pikir dan pengetahuan yang baik sebagai hasil dari dari pendidikan formal yang telah dijalaninya sehingga berpengaruh terhadap perilaku dan harapan orang tua kepada anaknya tentang pencegahan terhadap penyakit Tuberculosis. Pada karakteristik suku responden menunjukan bahwa mayoritas responden penelitian berasal dari suku non papua . %). Keberagaman suku pada suatu daerah menunjukkan tingginya toleransi antar daerah untuk dapat hidup bersama. Berbagai aturan dalam interaksi sosial lingkungan masyarakat yang salah satunya dalam pencegahan penyakit atau menghindari suatu hal yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan diatur dalam kepercayaan suku budaya tersebut dan memiliki kesamaan yang di wariskan secara terus menerus kepada keturunannya. Keterpaparan Informasi tentang Tuberculosis pada Responden di SD Inpres Bertingkat Perumnas 1 Waena. Sumber informasi adalah tempat seseorang memperoleh informasi terutama informasi yang disampaikan oleh tenaga kesehatan, guru, tokoh masyarakat dan lain-lain dalam bentuk video, gambar dan informasi melalui berbagai media (Notoatmodjo, 2. Hasil penelitian yang dilakukan di SD Inpres Bertingkat Perumnas 1 Waena terhadap 30 responden yang diteliti menunjukan bahwa responden di SD Inpres Bertingkat Perumnas 1 Waena yang pernah mendengar informasi tentang Tuberculosis Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. Volume 14. Nomor 2. Desember 2022 . ,7%) yang didapat dari guru dan tenaga kesehatan, sedangkan responden lainnya . ,3%) belum pernah mendengar informasi tentang Tuberculosis. Keterpaparan informasi dalam penelitian ini merupakan informasi tentang pencegahan Tuberculosis yang diperoleh melalui penyuluhan kesehatan, informasi dari guru maupun keluarga yang didapat dari poster-poster, media masa seperti, surat kabar, radio, televisi dan majalah. Hasil penelitian (Wahyuni et al. , 2. juga menunjukan bahwa paparan informasi berdampak besar pada pembentukan pendapat dan keyakinan masyarakat. Adanya informasi mengenai penyakit tuberkulosis menjadi dasar seseorang dalam dalam melakukan tindakan pencegahan penyakit Tuberculosis (Notoatmodjo, 2. Pengetahuan tentang Upaya Pencegahan Tuberkulosis Sebelum diberikannya Penyuluhan Kesehatan Hasil penelitian yang dilakukan di SD Inpres Bertingkat Perumnas 1 Waena terhadap 30 responden yang diteliti, menggambarkan mayoritas responden melaksanakan upaya pencegahan dalam kategori cukup baik yaitu berjumlah 21 responden . %), kategori baik berjumlah 8 responden . ,7%) dan kategori kurang berjumlah 1 responden . ,3%) sebelum diberikannya pendidikan kesehatan tentang Tindakan yang dilakukan oleh responden dalam penelitian ini adalah mencegah tuberkulosis, dengan tujuan untuk menurunkan angka kematian akibat tuberkulosis. Hasil penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa responden pernah terpapar tentang penyakit Tuberculosis yaitu sebanyak 14 responden . ,7%) sehingga sudah memiliki gambaran terkait upaya pencegahan Tuberculosis dan memiliki pengetahuan yang cukup baik. Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan (Wahyuni et al. , 2. yang menggambarkan bahwa tingkat pengetahuan responden sebelum mendapatkan penyuluhan berada pada kategori baik yaitu sebesar 20% dari total 100%. Sejalan juga dengan penelitian yang dilakukan (Mahardika et al. , 2. yang menunjukan bahwa sebagian besar responden anak umur 6-12 tahun di Kabupaten Jember memiliki motivasi yang tinggi untuk mencegah tuberkulosis yaitu 71 dari 129 responden yang melakukan penelitian. Motivasi serta tindakan ialah proses akhir dari sikap, sehingga tindakan yang dilakukan responden dipengaruhi oleh pengetahuan serta perilaku responden. Hasil studi ini pula menampilkan responden jarang membuka jendela sebagai item kesehatan lingkungan, sehingga terjadi kelembapan pada ruangan responden. Perihal ini disebabkan oleh responden kurang mempunyai informasi serta pengetahuan tentang tuberkulosis. Minimnya pengetahuan tentang pencegahan tuberkulosis, kebersihan rumah, kebutuhan nutrisi, pengecekan serta pengobatan kesehatan bisa pengaruhi oelh perilaku serta sikap seorang, serta pada kesimpulannya menimbulkan orang- orang di sekitarnya menjadi agen penyakit (Muniroh & Aisah, 2. Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. Volume 14. Nomor 2. Desember 2022 Pengetahuan tentang Upaya Pencegahan Tuberkulosis Setelah diberikannya Penyuluhan Kesehatan Perawatan kesehatan preventif melibatkan kegiatan penyuluhan dalam membantu segala usia untuk mengurangi risiko penyakit, mempertahankan fungsi yang optimal dan mempromosikan kebiasaan hidup sehat, sehingga upaya-upaya pemberian pengetahuan sejak dini menjadi hal yang penting untuk dilakukan. Hasil penelitian yang dilakukan di SD Inpres Bertingkat Perumnas 1 Waena menunjukkan bahwa mayoritas upaya pencegahan dalam kategori baik yaitu berjumlah 17 responden . ,7%), sedangkan kategori cukup berjumlah 13 responden . ,3%) setelah diberikanya penyuluhan Hasil tersebut menunjukkan mayoritas responden memperhatikan proses penyuluhan dengan media video, sehingga meningkatkan pencegahan tuberkulosis. Riset ini membagikan intervensi berbentuk pembelajaran kesehatan, memakai media ceramah serta video untuk pencegahan tuberkulosis selama 30 menit. Penyuluhan kesehatan ini dilakukan dengan cara ceramah serta media video berisi informasi tentang pencegahan tuberkulosis. Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang telah laksanakan sebelumnya oleh (Wahyuni et al. , 2. dengan hasil bahwa setelah dilakukannya penyuluhan kesehatan lewat ceramah serta tanya jawab, tingkatan pengetahuan responden bertambah sejumlah 90%. Penelitian tersebut juga menampilkan bahwa pengetahuan adalah domain yang sangat berarti untuk terjadinya perilaku serta aksi seseorang sehingga dengan pengetahuan yang sangat baik akan membentuk perilaku serta aksi seseorang, sebab pengetahuan yang baik bisa membentuk sikap serta perilaku yang baik pula (Notoatmodjo, 2. WHO menjelaskan, bahwa yang sangat berarti untuk membentuk perilaku serta aksi seseorang, sebab pengetahuan yang baik bisa membentuk sikap serta perilaku yang baik dalam menghindari penyakit tuberkulosis seperti membuka jendela di pagi hari, menjauhi perlengkapan makan serta baju bekas penderita tuberculosis, mengkomsumsi makanan bergizi dan meningkatkan kebersihan. Pengaruh Penyuluhan Kesehatan terkait Tuberculosis dengan Media Video terhadap Pengetahuan tentang Upaya pencegahan Tuberculosis Pendidikan kesehatan tuberkulosis adalah proses menyampaikan informasi dan menumbuhkan rasa percaya diri, sehingga masyarakat dan responden penelitian tidak hanya mengetahui dan memahami, juga dapat dan mampu melakukan hal-hal yang dianjurkan terkait pemutusan penularan penyakit tuberkulosis (Azwar, 2. Hasil studi yang dilakukan di SD Inpres Bertingkat Perumnas 1 Waena menunjukan nilai p value 0,002 . <0,. dengan uji statistik wilcoxon yang dimana terdapat perbedaan upaya responden dalam pencegahan tuberkulosis sebelum dan sesudah mendapat pendidikan Hal tersebut menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan tuberkulosis berdampak pada upaya responden untuk mencegah penyakit tuberkulosis. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa upaya pencegahan postest yang dilakukan lebih tinggi dibandingkan hasil upaya pencegahan pretest, hal ini karena adanya penggunaan metode ceramah dan media video untuk intervensi pendidikan kesehatan tentang tuberkulosis. Media video adalah jenis Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. Volume 14. Nomor 2. Desember 2022 bentuk penyajian visual bergerak sehingga menarik minat dan pemahaman audience dalam pengetahaun (Rizki, 2. Hasil penelitian ini sesuai dengan (Sajjad et al. , 2. yang mengambarkan bahwa terjadi perubahan pengetahuan yang dimiliki responden tentang pencegahan dan pengobatan tuberculosis di Pakistan setelah penyuluhan . =0,. Sejalan juga dengan studi yang telah dilakukan (Astuti, 2. yang menjelaskan hubungan antara sikap dan pengetahuan dengan pencegahan tuberkulosis . <0,. Penunjang dari sikap dan perilaku adalah pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang sehingga mendukung tindakan seseorang dalam pencegahan tuberkulosis (Darisheva et al. , 2. Pengetahuan tentang cara menghindari penyakit tuberkulosis dapat ditemukan dari berbagai bentuk kegiatan baik dimedia elektronik, dan pendidikan serta sosialisasi kesehatan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan serta guru disekolah dengan media video visual. Visual video bisa mengantarkan informasi kepada publik ataupun individu (Notoatmodjo, 2. Perkembangan atensi yang lebih besar terjadi pada audio visual karena sifatnya yang bisa mengantarkan informasi dalam gerakan, foto dan animasi yang dapat menumbuhkan perilaku pencegahan penyakit tuberkulosis (Azwar, 2. Keterbatasan penelitian ini yaitu ada kemungkinan pengisian kuesioner dibantu oleh orang tua responden yang tidak dapat di follow up secara langsung melalui grup Whatsapp. Selain itu, pelaksanaan penelitian yang melibatkan wali kelas sebagai asisten peneliti dapat menimbulkan conflict of interest dalam pemilihan responden penelitian. SIMPULAN DAN SARAN Terdapat pengaruh penyuluhan kesehatan tentang tuberculosis dengan media video terhadap upaya pencegahan tuberculosis di SD Inpres Bertingkat Perumnas 1 Waena. Perkembangan atensi yang lebih besar terjadi pada audio visual karena sifatnya yang bisa mengantarkan informasi dalam gerakan, foto dan animasi yang dapat menumbuhkan perilaku pencegahan penyakit tuberkulosis. Peneliti selanjutnya diharapkan melakukan penelitian lanjutan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi upaya pencegahan penyakit TBC serta dapat menggunakan metode yang berbeda sehingga tidak terjadi counfouding/ bias variabel serta tidak menggunakan wali kelas sebagai asisten peneliti karena akan mengakibatkan conflict of interest sebagai keterbatasan penelitian. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih sampaikan kepada SD Inpres Bertingkat Perumnas 1 Waena memberikan kesempatan kepada peneliti untuk melakukan pengambilan data penelitian dan telah membantu kelancaran proses penelitian. Poltekkes Kemenkes Jayapura yang telah membantu peneliti dalam hal finansial sehingga bisa terlaksana penelitian ini. Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. Volume 14. Nomor 2. Desember 2022 RUJUKAN