Agroscience Vol 15 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4681 e-ISSN: 2579-7891 PENGARUH WAKTU PINCHING TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BUNGA MATAHARI (Helianthus annuus L. THE EFFECT OF PINCHING TIME ON SUNFLOWER (Helianthus annuss L. GROWTH AND YIELD Nisa Salsabila 1. Edi Minaji Pribadi 2. Herik Sugeru 3 1, 2, 3 Universitas Gunadarma nisasalsabila793@gmail. com, edi_mp@staff. id, 3 herik_sugeru@staff. Masuk: 22 Agustus 2025 Penerimaan: 20 November 2025 Publikasi: 07 Desember 2025 ABSTRAK Bunga matahari (Helianthus annuus L. ) adalah tanaman introduksi bernilai ekonomis. Produktivitas bunga dapat ditingkatkan melalui pemangkasan pucuk . untuk menambah jumlah cabang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu pinching terhadap pertumbuhan dan hasil bunga matahari menggunakan RAK non-faktorial dengan empat perlakuan: tanpa pinching (P. , pinching 2 minggu setelah tanam (P. , pinching 3 minggu setelah tanam (P. , dan pinching 4 minggu setelah tanam (P. Parameter pertumbuhan meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah cabang, diameter batang, umur berbunga, dan luas daun. Parameter hasil meliputi jumlah bunga, diameter bunga, bobot bunga, bobot biji, bobot 100 biji, dan jumlah biji. Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa waktu pinching berpengaruh nyata terhadap parameter tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, jumlah cabang, dan luas daun, namun tidak berpengaruh nyata terhadap umur berbunga. Perlakuan (P. menunjukkan hasil tertinggi pada parameter tinggi tanaman . ,34 c. , jumlah daun . 48 hela. , jumlah cabang . ,02 caban. , dan luas daun . ,3 cm. Pada hasil bunga, perlakuan waktu pinching berpengaruh nyata terhadap parameter diameter bunga, bobot bunga, bobot 100 biji, dan bobot biji, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah biji. Perlakuan (P. menunjukkan hasil tertinggi pada semua parameter hasil yaitu jumlah bunga . 68 bung. , bobot bunga . , diameter bunga . , 11 m. , jumlah biji per bunga . ,46 bij. , bobot biji . ,21 . , dan bobot 100 biji . ,21 . Kata kunci: Pinching. Pertumbuhan. Hasil. Bunga Matahari. ABSTRACT Sunflower (Helianthus annuus L. ) is an introduced plant with economic value. Flower productivity can be increased by pruning shoots . to increase the number of branches. This study aims to determine the effect of pinching time on sunflower growth and yield using a non-factorial RAK with four treatments: no pinching (P. , pinching 2 weeks after planting (P. , pinching 3 weeks after planting (P. , and pinching 4 weeks after planting (P. Growth parameters include plant height, number of leaves, number of branches, stem diameter, flowering age, and leaf area. Yield parameters include number of flowers, flower diameter, flower weight, seed weight, 100-seed weight, and number of seeds. The results of this study indicate that pinching time significantly affects the parameters of plant height, number of leaves, stem diameter, number of branches, and leaf area, but does not significantly affect flowering age. Treatment (P. showed the highest results in the parameters of plant height . 34 c. , number of leaves . 48 strand. , number of branches . 02 branche. , and leaf area . 3 cm. In flower yield, pinching time treatment significantly affected the parameters of flower diameter, flower weight, weight of 100 seeds, and seed weight, but did not significantly affect the number of seeds. Treatment (P. showed the highest results in all yield parameters, namely the number of flowers . 68 flower. , flower weight . , flower diameter . 11 m. , number of seeds per flower . 46 seed. , seed weight . , and weight of 100 seeds . Keywords: Pinching. Growth. Yield. Sulflower. Agroscience Vol 15 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4681 e-ISSN: 2579-7891 PENDAHULUAN Bunga matahari (Helianthus annuus L. ) merupakan salah satu tanaman introduksi bernilai ekonomis yang telah dibudidayakan di Indonesia. Bunga matahari termasuk dalam famili Asteraceae yang adaptif pada daerah panas dengan pencahayaan penuh, tetapi pertumbuhannya tidak dipengaruhi oleh fotoperiodisme (Monikasari et al. , 2. Bunga matahari memiliki banyak manfaat dalam bidang pangan, industri, kesehatan dan kosmetika (Farida, 2. Manfaat dari bunga matahari adalah sebagai minyak nabati, biodiesel, sebagai tanaman hias, sumber pakan dan pangan, obat herbal, dan juga sebagai pewarna alami (Seiler & Gulya, 2. Biji bunga matahari mengandung 18,45 g protein, 25,92 g karbohidrat dan 47,56 g lemak yang terdiri dari 9,075 g asam lemak jenuh dan 31,395 g asam lemak tak jenuh ganda serta sumber mineral seperti fosfor, zat besi dan kalium (USDA, 2. Tingginya nilai gizi dan manfaat dari biji maupun minyaknya membuat tanaman ini memiliki prospek yang menjanjikan untuk dikembangkan di Indonesia (Indriyati et al. , 2. Permintaan biji tanaman bunga matahari yang semakin tinggi menjadikan tanaman bunga matahari berpotensi untuk dikembangkan di Indonesia, namun saat ini produksinya belum dapat mencukupi permintaan industri di dalam negeri, sehingga harus melakukan impor. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada tahun 2021 Indonesia mengimpor biji bunga matahari sebanyak 8. 008 ton dan meningkat pada tahun 2022 menjadi 11. 538 ton (Badan Pusat Statistik, 2. Selain itu, biji bunga matahari mentah juga merupakan komoditas penting dengan nilai perdagangan global melebihi Rp45 triliun per tahun (Pusat Standardisasi Instrumen Perkebunan, 2. Produktifitas yang belum optimal di Indonesia disebabkan berbagai aspek antara lain sedikitnya pengetahuan mengenai nilai ekonomis bunga matahari dan minimnya deskripsi serta informasi mengenai bunga matahari (Farida, 2. Meningkatnya permintaan terhadap kebutuhan biji bunga matahari setiap tahun mendorong tingginya permintaan akan produksi bunga matahari. Oleh karena itu, diperlukan teknik budidaya yang tepat untuk meningkatkan produktivitas bunga pada bunga matahari, salah satunya dengan menerapkan metode pinching. Teknik pinching dapat menstimulasi tunas lateral yang berada di batang untuk membentuk percabangan hingga berbunga. Membuang kuncup tengah . dianggap sebagai salah satu cara untuk merangsang tanaman agar menghasilkan cabang lateral dan meningkatkan jumlah batang per tanaman (Wien, 2014. Cheema, 2. Berdasarkan deskripsinya, tanaman bunga matahari terutama varietas kanigara memiliki umur panen 9-10 Minggu Setelah Tanam (MST) dengan tinggi tanaman 171-200 cm (PPVTP. Agroscience Vol 15 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4681 e-ISSN: 2579-7891 Karakter tinggi tanaman tersebut menyebabkan tanaman bunga matahari peka terhadap patah batang dan kerebahan, terutama saat tanaman sudah berbunga, mengingat diameter batang yang kecil dan bobot bunga yang semakin berat apabila sudah masuk pada periode pengisian biji. Oleh karena itu, metode pinching yang dilakukan pada saat tanaman berada pada fase pertumbuhan vegetatif berfungsi untuk mengontrol ukuran tanaman serta menghasilkan tanaman yang lebih rimbun dan padat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu pinching terhadap pertumbuhan dan produksi bunga matahari. METODE PENELITIAN Penelitian dan percobaan dilaksanakan pada bulan Januari sampai bulan Mei 2025 di lahan Carte UG Technopark. Desa Jamali. Kecamatan Mande. Kabupaten Cianjur. Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi cangkul, sekop, gembor, tray, ajir, gunting stek, timbangan analitik, meteran, cutter, hand sprayer, jangka sorong, kamera dan alat tulis. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi benih bunga matahari varietas Kanigara, pupuk urea. KCL. SP-36. AB-Mix. Pupuk Organik Cair Komersil. Fungisida antracol 70 WP berbahan aktif propineb 70%. Fungisida dithane berbahan aktif mankozeb 80%. Insektisida decis berbahan aktif deltametrin, insektisida regent berbahan aktif fipronil, perekat agristick, yellow trap, tanah, pupuk kandang sapi, mulsa hitam perak dan label. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola non faktorial yang terdiri dari 1 faktor yaitu perbedaan waktu pinching yang terdiri dari 4 taraf perlakuan. Perlakuannya meliputi P0 Kontrol (Tanpa Pinchin. P1 Pinching 2 MST. P2 Pinching 3 MST. P3 Pinching 4 MST. Perlakuan diulang sebanyak 7 kali dengan cadangan ulangan sebanyak 2 ulangan sehingga terdapat 36 satuan percobaan. Setiap perlakuan terdapat 4 sampel, sehingga jumlah populasi terdapat 144 tanaman. Tahapan penelitian meliputi persiapan lahan, persemaian, penanaman, pemeliharaan, pemberian perlakuan pinching sesuai umur perlakuan, serta pengamatan pertumbuhan hingga tanaman panen. Parameter pertumbuhan yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah cabang, diameter batang, umur berbunga, dan luas daun. Parameter hasil meliputi jumlah bunga, diameter bunga, bobot bunga, bobot biji, bobot 100 biji, dan jumlah biji. Data yang diperoleh dilakukan analisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) pada taraf 5%, apabila terdapat pengaruh nyata dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT). Pengolahan data pada penelitian ini menggunakan aplikasi SAS Studio. Agroscience Vol 15 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4681 e-ISSN: 2579-7891 HASIL DAN PEMBAHASAN Tinggi Tanaman Perlakuan waktu pinching berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 4, 8, dan 9 MST. Namun, tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada umur tanaman 1, 2, 3, 5, 6, 7, dan 10 MST. Tabel 1. Uji DMRT Perlakuan Waktu Pinching terhadap tinggi Tanaman. Umur Tanaman (MST) Perlakuan Keterangan: Angka-angka pada kolom yang sama diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji DMRT taraf = 5%. P0 = kontrol. P1 = pinching 2 MST. P2 = pinching 3 MST. P3 = pinching 4 MST. Berdasarkan hasil pengamatan tinggi tanaman dari minggu pertama perlakuan pinching (P1. P2, dan P. menunjukkan tinggi tanaman yang lebih tinggi dari pada perlakuan tanpa pinching (P. Hal ini disebabkan karena pada fase awal tersebut seluruh tanaman belum menerima perlakuan pemotongan pucuk, sehingga pertumbuhan masih berlangsung normal dan variasi tinggi yang muncul merupakan variasi alami antar tanaman. pada umur 2 dan 3 MST, perlakuan pinching (P1. P2, dan P. menunjukkan tinggi tanaman yang lebih baik dibandingkan kontrol (P. Hal ini terjadi karena pinching merangsang pertumbuhan kompensasi . ompensatory growt. yang memicu aktivasi tunas lateral serta peningkatan produksi sitokinin, sehingga tanaman mampu mempercepat pertumbuhan awal setelah pinching. Menurut Awasthi et al. , . tanaman yang mengalami pinching cenderung memobilisasi cadangan energi ke tunas baru sehingga pemanjangan batang pada fase awal menjadi lebih cepat. Pada umur 4 hingga 5 MST, tinggi tanaman tanpa pinching (P. mulai sejajar dengan perlakuan pinching. Hal ini terjadi karena pada fase pertumbuhan tengah, tunas baru hasil pinching memasuki fase pertumbuhan stabil, sementara tanaman tanpa pinching tetap mempertahankan dominansi apikal yang aktif sehingga mampu mengejar pertumbuhan yang sempat tertinggal. Menurut Rajput et al. , . menyatakan bahwa dominansi apikal yang tidak terganggu memungkinkan tanaman terus memanjangkan pucuk secara konsisten. Pada umur 6 hingga 10 MST, tanpa pinching (P. menunjukkan tinggi tanaman tertinggi dibandingkan seluruh perlakuan Kondisi ini sejalan dengan karakteristik fisiologis tanaman bahwa tidak adanya pemangkasan membuat titik tumbuh apikal tetap aktif menghasilkan auksin, sehingga pertumbuhan vertikal berlangsung maksimal. Hal ini sesuai dengan pendapat Sahu & Biswal Agroscience Vol 15 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4681 e-ISSN: 2579-7891 . yang menjelaskan bahwa auksin berperan penting dalam pemanjangan sel di daerah pucuk, sehingga tanaman tanpa pemangkasan cenderung tumbuh lebih tinggi. Sebaliknya, pelaksanaan pinching pada (P1. P2, dan P. mengakibatkan pemutusan dominansi apikal sehingga energi pertumbuhan lebih banyak dialihkan pada pembentukan cabang lateral dibandingkan pemanjangan batang utama. Menurut Awasthi et al. , . menegaskan bahwa pemangkasan pucuk mengurangi pertumbuhan vertikal karena redistribusi hormon dan sumber daya ke tunas samping yang menghambat peningkatan tinggi tanaman. Jumlah Daun Perlakuan waktu pinching berpengaruh nyata terhadap jumlah daun pada umur 3, 4, dan 5 MST. Namun, tidak berpengaruh nyata terhadap pada umur tanaman 1, 2, 6, 7, 8, 9, dan 10 MST. Tabel 2. Uji DMRT Perlakuan Waktu Pinching terhadap Jumlah Daun. Umur Tanaman (MST) Perlakuan 90 bc 74 ab 22. Keterangan: Angka-angka pada kolom yang sama diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji DMRT taraf = 5%. P0 = kontrol. P1 = pinching 2 MST. P2 = pinching 3 MST. P3 = pinching 4 MST Berdasarkan hasil pengamatan jumlah daun pada umur 1 sampai 7 MST, perlakuan pinching menghasilkan jumlah daun yang lebih banyak dibandingkan dengan perlakuan tanpa pinching (P. Hal ini dikarekanakan perlakuan pinching dapat merangsang pertumbuhan tunas baru yang kemudian berkembang menjadi daun. Menurut Kimball . , pembentukan daun terjadi melalui proses pembelahan, pemanjangan, dan diferensiasi sel pada jaringan meristem kuncup lateral, yang secara berkala menghasilkan sel-sel baru hingga terbentuknya daun. Tunas-tunas lateral yang tumbuh setelah pinching memiliki potensi menghasilkan jumlah daun yang lebih banyak karena tidak lagi terhambat dominansi apikal. Namun, berdasarkan data tanaman tanpa pinching (P. justru mengalami peningkatan jumlah daun yang signifikan pada fase akhir Tanaman tanpa pinching (P. memiliki jumlah daun lebih tinggi karena tidak mengalami luka mekanis yang memicu absisi dan mempertahankan stabilitas fisiologis (Taiz et al. , 2. Sebaliknya, pinching memicu pertumbuhan menyebar akibat aktivasi tunas lateral. Jika jarak tanam tidak ideal, kelembaban mikro meningkat sehingga rentan serangan hama seperti ulat daun dan belalang. Kondisi ini mempercepat klorosis, kerusakan, dan gugurnya daun. Menurut Agroscience Vol 15 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4681 e-ISSN: 2579-7891 Hamarash . menyatakan jarak tanam optimal mendukung pertumbuhan daun dan hasil panen, sedangkan jarak tanam terlalu rapat dapat menurunkan produktivitas tanaman. Jumlah Cabang Perlakuan waktu pinching berpengaruh nyata terhadap jumlah cabang dari umur tanaman 3, 4, 5, 6, 7, dan 8 MST. Namun, tidak berpengaruh nyata pada umur tanaman 9 dan 10 MST. Tabel 2. Uji DMRT Perlakuan Waktu Pinching terhadap Jumlah Cabang. Umur Tanaman (MST) Perlakuan Keterangan: Angka-angka pada kolom yang sama diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji. DMRT taraf = 5%. P0 = kontrol. P1 = pinching 2 MST. P2 = pinching 3 MST. P3 = pinching 4 MST. Pengamatan jumlah cabang dimulai pada umur 3 MST karena pada fase ini tanaman telah memasuki tahap pertumbuhan vegetatif awal dimana tunas lateral mulai aktif terbentuk. Pada umur 3 MST, perlakuan pinching (P1,P2, dan P. menunjukkan jumlah cabang yang lebih tinggi dibandingkan tanaman tanpa pinching (P. Hasil ini menunjukkan bahwa pemangkasan pucuk utama pada awal fase vegetatif mampu merangsang pertumbuhan tunas-tunas lateral yang akan berkembang menjadi cabang. Menurut Lalit et al. menyebutkan bahwa tanaman yang kehilangan bagian apikalnya akan menyebabkan peningkatan jumlah cabang samping. Berdasarkan data, pengaruh waktu pinching terhadap jumlah cabang menunjukkan hasil yang menurun pada fase akhir pertumbuhan vegetatif. Hal ini menunjukkan bahwa tanaman mulai mencapai kestabilan dalam perkembangan Tanaman tanpa pinching (P. justru mengalami peningkatan jumlah cabang yang signifikan pada fase akhir pertumbuhan, meskipun percabangan muncul lebih lambat dibandingkan tanaman yang dipangkas lebih awal. Kondisi ini terjadi saat tanaman memasuki fase pembentukan bunga, sehingga pada fase tersebut, tanaman kontrol (P. menunjukkan jumlah cabang tertinggi, diikuti oleh P3 . inching 4 MST) dan P2 . inching 3 MST). Sementara itu, perlakuan P1 . inching 2 MST) secara konsisten menghasilkan jumlah cabang paling rendah. Hal ini terjadi karena dominansi apikal tetap dipertahankan, sehingga pertumbuhan ke atas berlangsung secara aktif, dan ruas batang yang terbentuk memberikan ruang bagi perkembangan tunas lateral baru. Sebaliknya, pada tanaman yang mengalami pinching, pertumbuhan vertikal terhenti lebih awal, sehingga pembentukan cabang hanya terbatas pada bagian bawah tanaman, dan tidak terjadi penambahan cabang secara signifikan pada fase pertumbuhan berikutnya. Hal ini menguatkan temuan menurut Prayudi et al. , . yang Agroscience Vol 15 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4681 e-ISSN: 2579-7891 menyatakan bahwa pinching pada awal fase vegetatif mendorong pembentukan cabang secara cepat, tetapi karena keterbatasan energi dan luas permukaan fotosintetik yang terbentuk saat itu masih terbatas, maka pertumbuhan lanjutan menjadi kurang optimal. Diameter Batang Perlakuan waktu pinching berpengaruh nyata terhadap diameter batang pada umur tanaman 1 dan 2 MST. Namun, tidak berpengaruh nyata terhadap diameter batang dari umur tanaman 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, dan 10 MST. Tabel 3. Uji DMRT Perlakuan Waktu Pinching terhadap Diameter Batang. Umur Tanaman (MST) Perlakuan Keterangan: Angka-angka pada kolom yang sama diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji DMRT taraf = 5%. P0 = kontrol. P1 = pinching 2 MST. P2 = pinching 3 MST. P3 = pinching 4 MST Berdasarkan hasil pengamatan diameter batang dari umur 1 hingga 10 MST, seluruh perlakuan pinching (P1. P2, dan P. cenderung menunjukkan diameter batang yang lebih besar dibandingkan perlakuan tanpa pinching (P. Tanaman pada perlakuan (P. dan (P. yang telah mengalami pemotongan pucuk menunjukkan peningkatan diameter batang dibandingkan tanpa pinching (P. Hal ini terjadi karena pinching menghambat dominansi apikal dan mengurangi alokasi nutrisi ke pertumbuhan vertikal. Akibatnya, distribusi fotosintat dialihkan ke pertumbuhan lateral termasuk penebalan batang. Pada umur 1 MST, perlakuan (P. pinching 3 MST menghasilkan diameter batang terbesar yaitu 4. 33 mm, yang secara statistik berbeda nyata dengan kontrol P0 . 78 m. , namun tidak berbeda nyata dengan (P. pinching 2 MST . dan (P. pinching 4 MST . 18 m. Hal ini menunjukkan bahwa tanaman yang belum dilakukan pinching atau yang dipangkas terlalu awal . MST) belum menunjukkan perbedaan signifikan karena masih berada pada tahap awal perkembangan batang. Perlakuan (P. pinching 3 MST kembali menunjukkan diameter batang tertinggi . 54 m. pada umur tanaman 2 MST, diikuti oleh (P. 30 m. , (P. , dan (P. 75 m. Secara statistik, (P. pinching 3 MST (P. pinching 2 MST berbeda nyata terhadap (P. tanpa pinching. Hal ini menunjukkan bahwa pinching yang dilakukan pada saat tanaman berumur 2-3 MST mampu merangsang pertumbuhan batang yang lebih besar dibandingkan tanpa pinching (P. Berdasarkan data pada fase akhir pertumbuhan (P. pinching 2 MST menunjukkan hasil yang lebih tinggi . 01 m. dibandingkan perlakuan lainnya. Agroscience Vol 15 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4681 e-ISSN: 2579-7891 Berdasarkan penelitian menurut Febriani . teknik pinching juga dapat menambah pertumbuhan diameter batang. Umur Berbunga Perlakuan waktu pinching tidak menunjukkan pengaruh nyata terhadap parameter umur Tabel 4. Uji DMRT Perlakuan Waktu Pinching terhadap Umur Berbunga. Perlakuan Rata-rata Kontrol (P. Pinching 2 MST (P. Pinching 3 MST (P. Pinching 4 MST (P. Keterangan : Angka-angka pada kolom yang tidak diikuti oleh huruf menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf = 5% Berdasarkan hasil rata-rata, waktu berbunga paling cepat tercatat pada perlakuan P2 . inching pada umur 3 MST) yaitu 58,80 HST, dan hasil ini tidak berbeda jauh dengan kontrol (P. yang berbunga pada rata-rata 59,94 HST. Secara teori pinching dapat menyebabkan tanaman mengalami keterlambatan dalam pembungaan, namun pelaksanaan pinching pada 3 MST justru menghasilkan waktu pembungaan yang lebih cepat dibandingkan dengan tanaman tanpa pinching. Hal ini dikarenakan tanaman yang di pinching pada 3 MST bertepatan dengan titik kritis transisi fase vegetatif ke generatif. Hal ini memungkinkan tanaman untuk segera mengompensasi hilangnya dominansi apikal dengan pembentukan tunas lateral baru. Respons hormonal tanaman yang cepat, yang ditandai dengan penurunan auksin dan peningkatan sitokinin, mempercepat pematangan tunas lateral. Akibatnya, periode pemulihan vegetatif yang diperlukan pasca pinching tidak terlalu panjang, dan tunas lateral mampu menginisiasi bunga hampir bersamaan dengan inisiasi bunga alami pada tanaman tanpa pinching. Sebaliknya, perlakuan P1 . inching 2 MST) dan P3 . inching 4 MST) menunjukkan waktu berbunga yang lebih lambat dibandingkan perlakuan lainnya. Menurut Rajput et al. , . pinching pada tanaman dapat menyebabkan keterlambatan dalam pembungaan, namun memberikan dampak positif berupa peningkatan jumlah bunga yang terbentuk. Hal ini didukung oleh penelitian menurut Somalinggi et al. pada tanaman marigold, di mana keterlambatan berbunga diduga disebabkan oleh penghilangan titik tumbuh apikal, yang memicu tanaman untuk kembali memasuki fase vegetatif dan membentuk tunas baru. Proses pembentukan dan pematangan tunas ini memerlukan waktu tambahan, sehingga umur berbunga menjadi lebih panjang. Penundaan pembungaan akibat perlakuan pinching juga ditemukan pada tanaman bunga matahari. Menurut Burnett . , perlakuan pinching pada bunga matahari Agroscience Vol 15 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4681 e-ISSN: 2579-7891 menyebabkan keterlambatan fase berbunga, berkurangnya diameter bunga, serta pemendekan batang tanaman. Luas Daun Perlakuan waktu pinching menunjukkan pengaruh nyata terhadap parameter luas daun. Berdasarkan data rata-rata luas daun tertinggi terdapat pada perlakuan P0 (Kontro. dengan nilai. Semua perlakuan pinching (P1. P2, dan P. memberikan hasil yang berbeda nyata lebih rendah dibanding kontrol (P. , namun tidak berbeda nyata satu sama lain. Tabel 5. Uji DMRT Perlakuan Waktu Pinching terhadap Luas Daun. Perlakuan Rata-rata Kontrol (P. Pinching 2 MST (P. Pinching 3 MST (P. Pinching 4 MST (P. Keterangan : Angka-angka pada kolom yang sama diikuti oleh huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada uji DMRT taraf = 5%. Pada parameter luas daun perlakuan pinching justru menurunkan rata-rata luas daun pada tanaman bunga matahari. Perlakuan tanpa pinching menunjukkan luasan daun yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan pinching. Hal tersebut diduga karena tanaman bunga matahari yang tumbuh setelah dilakukan pinching memiliki ukuran daun yang lebih kecil meskipun jumlah daunnya meningkat, sehingga berpengaruh terhadap ukuran luas daun tanaman. Hal ini dibuktikan pada penelitian yang dilakukan oleh Eldien et al. , . menunjukkan bahwa bunga zinia yang dipinching memiliki luas daun yang lebih kecil dibandingkan dengan yang tidak Berdasarkan penelitian menurut Febriani . pada tanaman marigold ukuran luas daun lebih tinggi pada perlakuan tanpa pinching sehingga menyebabkan meningkatnya jumlah stomata daun. Menurut Widianti et al. , . juga menjelaskan bahwa ukuran daun yang besar pada umumnya memiliki jumlah stomata yang lebih banyak, begitupun sebaliknya apabila ukuran daun kecil maka jumlah stomata menjadi lebih sedikit. Jumlah Bunga Perlakuan waktu pinching tidak menunjukkan pengaruh nyata terhadap parameter jumlah Berdasarkan data rata-rata pertumbuhan jumlah bunga tertinggi terdapat pada perlakuan P0 . dengan nilai 15. Tabel 6. Uji DMRT Perlakuan Waktu Pinching terhadap Jumlah Bunga. Perlakuan Rata-rata Kontrol (P. Pinching 2 MST (P. Pinching 3 MST (P. Pinching 4 MST (P. Keterangan : Angka-angka pada kolom yang tidak diikuti oleh huruf menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf = 5%. Agroscience Vol 15 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4681 e-ISSN: 2579-7891 Pinching atau pemangkasan pucuk dikenal dapat merangsang pembentukan cabang lateral, yang pada dasarnya berpotensi mendukung peningkatan jumlah titik tumbuh bunga. Hal ini dibuktikan pada penelitian tanaman marigold yang dipinching, menunjukkan jumlah bunga yang lebih tinggi dibandingkan tanpa pinching (Lalit et al. , 2. Namun, hal ini berbanding terbalik dengan hasil yang menunjukkan bahwa perlakuan tanpa pinching justru menghasilkan jumlah bunga lebih banyak. Jumlah bunga pada tanaman sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan fisiologis, termasuk serangan penyakit layu fusarium yang disebabkan oleh jamur Fusarium kondisi lingkungan pada lahan penelitian memiliki sistem drainase yang kurang baik, sehingga lahan menjadi tergenang. Gejala kerusakan tanaman oleh penggenangan ditandai dengan munculnya khlorosis daun, epinasti daun, absisi pada daun, menurunnya laju pertumbuhan, layu tanaman, pembentukan akar adventif dan penurunan hasil tanaman (Sari et al. , 2. Fusarium sp. menginfeksi tanaman dari muda hingga dewasa, dengan gejala seperti layu, kerusakan pembuluh angkut, kerdil, epinasti, dan penguningan daun tua (Agustrina et al. , 2. Tanaman bunga matahari yang mengalami stres akibat pinching berisiko lebih rentan terkena penyakit, terutama jika pemangkasan dilakukan terlalu dini atau pada tanaman yang belum cukup kuat. Menurut Burnett . menyatakan bahwa pinching pada tanaman yang lemah atau dalam kondisi lingkungan yang tidak mendukung dapat meningkatkan risiko infeksi, karena luka bekas pemangkasan menjadi celah masuknya patogen tanah. Bobot Bunga Perlakuan waktu pinching menunjukkan pengaruh nyata terhadap parameter bobot bunga. Berdasarkan data rata-rata bobot bunga tertinggi terdapat pada perlakuan P0 (Kontro. dengan 92 g. Tabel 7. Uji DMRT Perlakuan Waktu Pinching terhadap Bobot Bunga. Perlakuan Rata-rata Kontrol (P. Pinching 2 MST (P. Pinching 3 MST (P. Pinching 4 MST (P. Keterangan : Angka-angka pada kolom yang sama diikuti oleh huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada uji DMRT taraf = 5%. Prayudi et al. , menyatakan bahwa tanaman yang mengalami pinching pada tahap awal cenderung mengalokasikan energinya untuk mempercepat pembentukan cabang. Perubahan alokasi sumber daya ini dapat menyebabkan penurunan aliran energi menuju organ bunga, khususnya pada fase awal pembentukan bunga, sehingga memengaruhi ukuran dan bobot bunga Agroscience Vol 15 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4681 e-ISSN: 2579-7891 yang dihasilkan. Pada perlakuan P0 . anpa pinchin. , tanaman mempertahankan dominansi apikal, sehingga pertumbuhan berlangsung lebih terpusat dan efisien, terutama dalam mendukung perkembangan organ generatif seperti bunga. pada perlakuan pinching . erutama P3 yang dilakukan di 4 MST), tanaman harus mengalokasikan energi terlebih dahulu untuk pemulihan jaringan dan pembentukan tunas baru, sehingga sumber daya yang tersedia untuk pembentukan bunga utama menjadi berkurang dan berdampak pada ukuran dan bobot bunga yang lebih kecil. Diameter Bunga Perlakuan waktu pinching menunjukkan pengaruh nyata terhadap parameter diameter Berdasarkan data rata-rata diameter bunga tertinggi terdapat pada perlakuan P0 (Kontro. dengan nilai 74. 92 g. Tabel 8. Uji DMRT Perlakuan Waktu Pinching Terhadap Diameter Bunga. Perlakuan Rata-rata Kontrol (P. Pinching 2 MST (P. Pinching 3 MST (P. Pinching 4 MST (P. Keterangan: Angka-angka pada kolom yang sama diikuti oleh huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada uji DMRT taraf = 5%. Peningkatan frekuensi pinching justru terlihat menurunkan rerata diameter bunga dan umur saat berbunga. Penurunan rerata diameter bunga akibat pinching disebabkan oleh pendistribusian nutrisi dan mineral lain yang mendorong pertumbuhan vegetatif tanaman (Cicevan et al. , 2. Menurut Burnett . hasil yang sama juga dihasilkan pada tanaman bunga matahari yang diberi perlakuan pinching sehingga menyebabkan diameter bunga yang kecil. Jumlah Biji. Bobot biji, dan bobot 100 biji Perlakuan waktu pinching terhadap komponen hasil bunga menunjukkan adanya pengaruh yang nyata terhadap parameter bobot 100 biji dan bobot biji per bunga, sedangkan pada parameter jumlah biji tidak menunjukkan adanya pengaruh nyata. Tabel 9. Uji DMRT Perlakuan Waktu Pinching terhadap Jumlah Biji. Bobot biji dan bobot biji. Perlakuan Jumlah Biji Bobot Biji Bobot 100 biji Kontrol (P. Pinching 2 MST (P. Pinching 3 MST (P. Pinching 4 MST (P. Keterangan : Angka-angka pada kolom yang sama diikuti oleh huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada uji DMRT taraf = 5%. Berdasarkan data rata-rata komponen hasil bunga pada parameter jumlah biji per bunga, bobot biji per bunga, dan bobot 100 biji memberikan hasil terbaik pada perlakuan kontrol (P. Agroscience Vol 15 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4681 e-ISSN: 2579-7891 Jumlah biji per bunga tertinggi diperoleh pada perlakuan kontrol (P. yaitu sebesar 252,46 biji. Bobot biji per bunga juga menunjukkan kecenderungan serupa. Perlakuan kontrol memberikan bobot biji tertinggi yaitu 19,21 g. Bobot 100 biji tertinggi juga ditemukan pada perlakuan kontrol yaitu 4,21 g. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan pinching cenderung menurunkan parameter bobot 100 biji, bobot biji per bunga, dan jumlah biji per bunga. Penurunan ini kemungkinan disebabkan oleh adanya kompetisi nutrisi yang lebih besar akibat terbentuknya lebih banyak cabang vegetatif pasca pinching, sehingga energi yang seharusnya digunakan untuk perkembangan biji menjadi terbagi (Nagdeve et al. , 2. Hal ini sesuai dengan konsep pinching pada tanaman bunga matahari yang dibiarkan tumbuh tanpa perlakuan pinching menghasilkan bunga yang lebih besar, sedangkan tanaman yang dipangkas menghasilkan bunga yang lebih kecil tetapi jumlahnya lebih banyak (Cheema, 2. KESIMPULAN Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: Perlakuan waktu pinching memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman bunga matahari yaitu pada parameter tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, jumlah cabang, dan luas daun. Namun, perlakuan ini tidak memberikan pengaruh nyata terhadap parameter umur berbunga. Perlakuan (P. menunjukkan hasil tertinggi pada parameter tinggi tanaman . ,34 c. , jumlah daun . 48 hela. , jumlah cabang . ,02 caban. , dan luas daun . ,3 cm. sedangkan perlakuan (P. menunjukkan hasil tertinggi pada diameter batang . ,01 Perlakuan waktu pinching memberikan pengaruh nyata terhadap hasil bunga matahari pada parameter diameter bunga, bobot bunga, bobot 100 biji, dan bobot biji, tetapi tidak berbeda nyata pada parameter jumlah biji. Perlakuan (P. menunjukkan hasil tertinggi pada semua parameter hasil yaitu jumlah bunga . 68 bung. , bobot bunga . , diameter bunga . , 11 m. , jumlah biji per bunga . ,46 bij. , bobot biji . ,21 . , dan bobot 100 biji . ,21 . Agroscience Vol 15 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4681 e-ISSN: 2579-7891 DAFTAR PUSTAKA