http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 7 No 1. Juni 2024. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 Artikel Penelitian Relationship between Selection Factors. Food Acceptability, and Intake with Nutritional Statusnin Orphanage Children in South Jakarta Nanda Putri Agiratama1. Rarih Kurniasari1. Linda Riski Sefrina1 Abstrak Latar Belakang: Pemilihan makanan dan daya terima makanan dapat mempengaruhi kebiasaan dan asupan zat gizi. Kebiasaan makan negatif dan tingkat asupan yang tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh dapat menimbulkan masalah pada status gizi. Termasuk anak panti asuhan yang memiliki keterbatasan penyelenggaraan makanan sehingga kurang mampu menyediakan makanan sesuai standar kebutuhan. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara faktor pemilihan makanan, daya terima makanan, dan asupan dengan status gizi pada anak panti asuhan di Jakarta Selatan. Metode: Penelitian ini menggunakan cross sectional dengan metode observasional analitik. Pengambilan sampel menggunakan metode Purposive Sampling. Uji Statistik menggunakan uji Gamma. Hasil : Hasil didapatkan bahwa terdapat hubungan antara faktor masalah etika . dan asupan energi . dengan status gizi akan tetapi tidak terdapat hubungan antara faktor suasana hati . , faktor kenyamanan . , faktor sensorik . , faktor kandungan alami dalam pangan . , faktor harga . , faktor pengendalian berat badan . , faktor familiaritas . , daya terima makanan . , asupan protein . , asupan lemak . , dan asupan karbohidrat . dengan status gizi pada anak panti asuhan. Kesimpulan : terdapat hubungan antara faktor etika dan asupan energi dengan status gizi. Kata kunci: Pemilihan Makanan. Daya Terima Makanan. Asupan Abstract Background: Food selection and food acceptability can influence eating habits and nutrient intake. Negative eating habits and intake levels that do not meet the body's needs can cause problems with nutritional status. This includes children in orphanages, which have limited food provision and are therefore less able to provide food according to standard needs. Objective: To analyze the relationship between food selection factors, food acceptability, and intake with nutritional status in orphanage children in South Jakarta. Methods: This study used cross sectional with analytic observational method. Sampling using purposive sampling method. Statistical tests using the Gamma test. Results: The results showed that there was a relationship between ethical problem factors . and energy intake . with nutritional status but there was no relationship between mood factors . , comfort factors . , sensory factors . , factor of natural content in food . , price factor . , weight control factor . , familiarity factor . , food acceptability . , protein intake . , fat intake . , and carbohydrate intake . with nutritional status in orphanage children. Conclusion : There is a relationship between ethical factors and energy intake with nutritional status. Keywords: Food Acceptability. Food Selection Factors. Intake Submitted : 30 April 2024 Revised : 28 June 2024 Accepted: 29 June 2024 Affiliasi penulis : 1. Universitas Singaperbangsa Karawang Korespondensi : AuNanda Putri AgiratamaAy 1910631220025@student. id Telp: 6285779187088 PENDAHULUAN Panti asuhan merupakan salah satu institusi yang melakukan penyelenggaraan makanan untuk membentuk anak-anak asuh yang memiliki kesehatan yang baik . Penyediaan makanan dengan kualitas baik dan gizi seimbang di panti asuhan masih banyak yang kurang sesuai. Selain itu, perbedaan jumlah anak asuh yang lebih banyak dibandingkan dengan jumlah pengasuh mengakibatkan perhatian status gizi pada anak asuh menjadi kurang sehingga dapat menimbulkan kejadian status gizi kurang, salah satunya yaitu anak dengan kategori kurus . Hasil Riset Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Dasar Nasional tahun 2018 menunjukkan bahwa prevalensi anak dengan kategori kurus di Indonesia mencapai 6,8%, sedangkan Riset Kesehatan Dasar Provinsi DKI Jakarta tahun 2018 menunjukkan bahwa prevalensi anak dengan kategori kurus di DKI Jakarta mencapai 6,15% dan Jakarta Selatan mencapai 4,79% . Hasil penelitian Devi . pada panti asuhan Tebet Yayasan Remaja Masa Depan menunjukan bahwa status gizi dengan kategori kurus mencapai 70% . orang dari 23 oran. Status gizi baik pada anak di panti asuhan dapat didukung dari tingkat konsumsi makanan termasuk asupan zat gizinya yang tercukupi sesuai kebutuhannya. Berdasarkan Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 7 No 1. Juni 2024. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 penelitian Fajar . bahwa faktor yang mempengaruhi status gizi pada anak panti asuhan yaitu pola makan dan pola asuh. Pemilihan makanan mampu mempengaruhi keputusan makanan dalam sehari-hari keragaman makanan yang dikonsumsi. Rendahnya keragaman makanan akan mempengaruhi penilaian asupan zat gizi pada seseorang . Seseorang dengan daya terima makanan yang rendah dan terjadi dalam waktu yang lama akan mengakibatkan asupan zat gizi yang rendah dan kebutuhan zat gizinya tidak terpenuhi . Pemilihan makanan dan daya terima makanan yang terjadi pada anak di panti asuhan yang mendapatkan perhatian dapat mencapai terpenuhinya asupan zat gizi dan membentuk status gizi yang baik. Pemilihan makanan dan daya terima makanan dapat mempengaruhi kebiasaan dan asupan zat gizi. Apabila kebiasaan makan yang terjadi mengarah ke arah yang negatif dan tingkat asupan yang tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh maka akan timbul masalah pada status gizi. Berdasarkan penelitian Puspadewi & Briawan . makanan pada responden dengan status gizi normal yaitu kandungan alami dalam pangan, kesehatan, dan harga, sedangkan faktor pemilihan makanan pada responden dengan status gizi kurang dan lebih yaitu kandungan alami dalam pangan, kesehatan, dan daya sensorik. Tingkat daya terima makanan yang baik dapat mempengaruhi status gizi, jika mengonsumsi makanan dengan zat gizi yang cukup dan digunakan secara efektif oleh tubuh maka status gizi akan tercapai secara optimal . Panti asuhan cenderung memiliki keterbatasan tenaga, sarana, dan biaya dalam penyelenggaraan makanan sehingga kurang mampu menyediakan makanan yang sesuai dengan standar kebutuhan . Berdasarkan penelitian Sari et al. Darunajah Semarang menyediakan makanan sebanyak tiga kali sehari dan telah memberikan makanan sumber karbohidrat, sumber protein hewani dan nabati, serta sayur namun belum seimbang karena menggunakan makanan Berdasarkan wawancara dengan pengasuh di Yayasan Amal Mulia Indonesia bahwa panti asuhan menyediakan makan sebanyak tiga kali sehari tetapi makanan yang disajikan Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman terdiri dari dua lauk saja seperti kangkung dan tempe. Berdasarkan wawancara dengan pengasuh di Panti Asuhan Annajah bahwa panti asuhan menyediakan makan sebanyak tiga kali sehari namun untuk menyediakan buah-buahan dilakukan seminggu sekali. Peneliti memilih panti asuhan di Jakarta Selatan karena Jakarta Selatan termasuk dalam daerah pusat kota dan wilayah dengan kemudahan dalam mengakses makanan di Berdasarkan permasalahan tersebut, maka peneliti tertarik melakukan penelitian mengenai hubungan faktor pemilihan makanan, daya terima makanan, dan asupan dengan status gizi pada anak panti asuhan di Jakarta Selatan. METODE Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional analitik dengan desain penelitian cross sectional. Penelitian ini dilakukan di dua tempat panti asuhan di Jakarta Selatan yaitu Yayasan Amal Mulia Indonesia dan Panti Asuhan Annajah. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari hingga Februari 2023. Populasi pada penelitian sebanyak 75 orang dari keseluruhan jumlah anak di kedua panti asuhan. Pengambilan sampel pada penelitian ini yaitu menggunakan metode Purposive Sampling dengan pertimbangan drop out 15%. Perhitungan jumlah responden pada penelitian menggunakan rumus Lemeshow sehingga didapatkan jumlah responden sebanyak 67 orang. Responden dalam penelitian ini ditentukan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi penelitian. Adapun kriteria inklusi yaitu bersedia mengikuti penelitian, berusia 9 hingga 19 tahun, mendapatkan makanan sebanyak tiga kali dari penyelenggaraan yang dilakukan panti asuhan selama penelitian dilakukan. Adapun kriteria eksklusi yaitu anak dengan kebutuhan khusus serta mempunyai riwayat penyakit tidak menular dan menular. Instrumen menggunakan Food Choice Questionnaire (FCQ) . Kuesioner Daya Terima Makanan . , dan Food Recall 1x24 jam serta penilaian status gizi dilakukan secara perhitungan IMT dan IMT/U. Data penelitian dianalisis menggunakan software Microsoft Excel dan SPSS versi 25. Analisis yang digunakan yaitu uji Spearman dengan nilai signifikan ditetapkan pada p<0. Penelitian ini telah mendapatkan persetujuan etik yang Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 7 No 1. Juni 2024. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 dikeluarkan oleh Komisi Etik Penelitian Universitas Esa Unggul dengan nomor 092302. 020/DPKE-KEP/FINAL-EA/UEU/II/2023. HASIL Karakteristik Responden Berdasarkan tabel 1 menunjukan bahwa karakteristik responden terbanyak pada jenis kelamin yaitu perempuan sebanyak 34 orang . ,7%), pada usia yaitu 16 tahun sebanyak 11 orang . ,4%), dan pada status gizi yaitu normal sebanyak 53 orang . ,1%). Tabel 1 Karakteristik Jenis Kelamin. Usia, dan Status Gizi Responden Variabel Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Usia 9 tahun 10 tahun 11 tahun 12 tahun 13 tahun 14 tahun 15 tahun 16 tahun 17 tahun 18 tahun 19 tahun Status Gizi Tidak Normal Normal Faktor Pemilihan Makanan Berdasarkan tabel 2 menunjukan bahwa seluruh anak panti asuhan lebih mementingkan faktor kesehatan dalam memilih makanan. Anak panti asuhan cenderung lebih mementingkan beberapa faktor pemilihan makanan yaitu faktor suasana hati, faktor kenyamanan, faktor sensorik, faktor kandungan alami dalam pangan, faktor harga, faktor pengendalian berat badan, dan faktor masalah etika. Pada faktor masalah etika, anak panti asuhan cenderung tidak mementingkan faktor tersebut dalam pemilihan makanan. Tidak Penting Penting Faktor Pengendalian Berat Badan Tidak Penting Penting Faktor Familiaritas Tidak Penting Penting Faktor Masalah Etika Tidak Penting Penting Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Daya Terima Makanan Berdasarkan tabel 3 menunjukan bahwa daya terima makanan pada responden sebagian besar kurang yaitu sebanyak 41 orang . ,2%). Tabel 3 Daya Terima Makanan Daya Terima Makanan Kurang Baik Asupan Berdasarkan tabel 4 menunjukan bahwa asupan energi pada responden sebagian besar normal yaitu 35 orang . ,2%), asupan protein sebagian besar normal yaitu 19 orang . ,4%), asupan lemak sebagian besar lebih yaitu 26 orang . ,8%), dan asupan karbohidrat sebagian besar lebih yaitu 26 orang . ,8%). Tabel 4. Asupan Asupan Asupan Energi Asupan Protein Asupan Lemak Asupan Karbohidrat Tabel 2 Faktor Pemilihan Makanan Faktor Pemilihan Makanan Faktor Kesehatan Tidak Penting Penting Faktor Suasana Hati Tidak Penting Penting Faktor Kenyamanan Tidak Penting Penting Faktor Sensorik Tidak Penting Penting Faktor Kandungan Alami dalam Pangan Tidak Penting Penting Faktor Harga Total Kategori Defisit Berat Defisit Sedang Defisit Ringan Normal Lebih Defisit Berat Defisit Sedang Defisit Ringan Normal Lebih Defisit Berat Defisit Sedang Defisit Ringan Normal Lebih Defisit Berat Defisit Sedang Defisit Ringan Normal Lebih Hubungan Faktor Pemilihan Makanan dengan Status Gizi Berdasarkan tabel 5 menunjukan hasil analisis bivariat antara faktor pemilihan dengan status gizi. Adapun terdapat faktor pemilihan yang menunjukan terdapat hubungan yang signifikan dengan status gizi yaitu masalah etika . Beberapa faktor pemilihan menunjukan tidak terdapat hubungan yang signifikan dengan status gizi Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 7 No 1. Juni 2024. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 yaitu faktor suasana hati . , faktor kenyamanan . , faktor sensorik . , faktor kandungan alami dalam pangan . , faktor harga . , faktor pengendalian berat badan . , dan faktor familiaritas . Pada faktor kesehatan tidak diperoleh nilai p value dari hasil penelitian sehingga tidak dapat diuji statistik dikarenakan hasil data yang homogen. Tabel 5. Hubungan antara Faktor Pemilihan Makanan dengan Status Gizi Faktor Pemilihan Makanan Status gizi . (%)) Tidak Normal Faktor Kesehatan Tidak Penting 0 . Penting 14 . Faktor Suasana Hati Tidak Penting 2 . Penting 12 . Faktor Kenyamanan Tidak Penting 7 . Penting 7 . Faktor Sensorik Tidak Penting 1 . Penting 13 . Faktor Kandungan Alami dalam Pangan Tidak Penting 1 . Penting 13 . Faktor Harga Tidak Penting 1 . Penting 13 . Faktor Pengendalian Berat Badan Tidak Penting 1 . Penting 13 . Faktor Familiaritas Tidak Penting 10 . Penting 4 . Faktor Masalah Etika Tidak Penting 0 . Penting 14 . Hubungan Daya Terima Makanan dengan Status Gizi Hasil analisis bivaritat hubungan daya terima makanan dengan status gizi menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan dengan status gizi . p-value Normal Total Data konstan 0,672 0,349 0,465 0,774 0,138 0,609 0,293 0,004 Tabel 6 Hubungan Daya Terima Makanan dengan Status Gizi Daya Terima Makanan Kurang Baik Status Gizi . (%)) Tidak Normal Total Normal 0,129 Hubungan Asupan dengan Status Gizi Tabel 7 Hubungan Asupan dengan Status Gizi Asupan Asupan Energi Defisit Berat Defisit Sedang Defisit Ringan Normal Lebih Asupan Protein Defisit Berat Defisit Sedang Defisit Ringan Normal Lebih Asupan Lemak Defisit Berat Defisit Sedang Defisit Ringan Normal Tidak Normal Status Gizi . (%)) Normal Total p-value 0 . 0,032 0,097 0,116 Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 7 No 1. Juni 2024. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 Lebih Asupan Karbohidrat Defisit Berat Defisit Sedang Defisit Ringan Normal Lebih 7 . Berdasarkan tabel 7 menunjukan hasil analisis bivariat antara asupan dengan status gizi. Pada asupan energi menunjukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan dengan status gizi . Pada asupan lainnya menunjukan tidak terdapat hubungan yang signifikan dengan status gizi yaitu asupan protein . , asupan lemak . , dan asupan karbohidrat . PEMBAHASAN Analisis Univariat Hasil analisis univariat menunjukan bahwa jenis kelamin terbanyak yaitu perempuan sebanyak 34 orang . ,7%), usia terbanyak yaitu 16 tahun . ,4%), status gizi terbanyak dalam kategori normal sebanyak 53 orang . ,1%). Hal ini dapat dipengaruhi oleh asupan zat gizi dan kemampuan tubuh dalam menggunakan zat gizi. Selain itu, kualitas dan kuantitas makanan yang telah sesuai menyebabkan terbentuk status gizi normal . Pada faktor pemilihan makanan, seluruh responden mementingkan faktor Selain itu, responden cenderung lebih mementingkan beberapa faktor yaitu faktor suasana hati . ,1%), faktor kenyamanan . ,2%), faktor sensorik . %), faktor kandungan alami dalam pangan . %), faktor harga . ,1%), faktor pengendalian berat badan . ,6%), dan faktor masalah etika . ,6%), sedangkan responden cenderung tidak mementingkan faktor . ,7%). Hal menunjukan bahwa delapan faktor tersebut menentukan sikap pemilihan makanan pada Berdasarkan recall 1x24 jam, konsumsi makanan pada anak panti asuhan cenderung lebih memilih makanan kekinian Pada tingkat daya terima makanan responden cenderung dalam kategori kurang sebanyak 41 orang . ,2%). Hal ini menunjukan bahwa tingkat keberhasilan pada penyelenggaraan makanan di panti asuhan yang belum maksimal atau sesuai dengan kebutuhan dan keinginan anak panti Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman 0,233 Adapun hal tersebut ditinjau dari segi sensorik yang terdiri dari rasa, tampilan, dan tekstur makanan. Pada asupan energi dan protein mayoritas dalam kategori normal . ,2% dan 28,4%) sedangkan pada asupan lemak dan asupan karbohidrat mayoritas dalam kategori lebih . ,8 %). Ketidakseimbangan antara asupan energi dan protein dengan asupan karbohidrat dan lemak dapat dikarenakan keterbatasan pemberian makanan yang mengandung protein di panti asuhan sehingga mempengaruhi asupan energi dari makanan yang dikonsumsi. Asupan lemak dan karbohidrat yang berlebih dapat dikarenakan pengolahan makanan yang cenderung menggunakan lemak seperti karbohidrat seperti tepung-tepungan. Analisis Bivariat Faktor Pemilihan Makanan dengan Status Gizi Hasil analisis bivariat menunjukan bahwa terdapat hubungan antara faktor pemilihan makanan yaitu faktor masalah etika dengan status gizi akan tetapi tidak terdapat hubungan antara faktor-faktor pemilihan makanan . aktor suasana hati, faktor kenyamanan, faktor sensorik, faktor kandungan alami dalam pangan, faktor harga, faktor pengendalian berat badan, dan faktor familiarita. dengan status gizi. Pada faktor kesehatan tidak didapatkan p value sehingga tidak dapat diuji secara statistik karena hasil data yang didapatkan konstan. Hasil penelitian ini sejalan dengan beberapa penelitian yang dilakukan Schliemann et al. Maulida et al . , dan Depa et al . Pada penelitian Schliemann et al. menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan antara faktor kenyamanan . , daya sensorik . , suasana hati . , familiaritas . , dan masalah etika . dengan status gizi pada pekerja di Irlandia . Pada penelitian Maulida et al . menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan faktor kesehatan dengan status gizi . pada siswa SMP Negeri di Jakarta . Pada Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 7 No 1. Juni 2024. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 penelitian Depa et al . menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan antara faktor pengendalian berat badan . , kandungan alami dalam pangan (-0,. , dan harga . dengan status gizi pada mahasiswa Universitas Spanyol . Berdasarkan penelitian ini, pada faktor suasana hati dapat mempengaruhi tingkat konsumsi dan jenis makanan yang ditinjau dari perbedaan waktu makan dari dalam panti asuhan pada responden dan jenis makanan yang dibeli responden dari luar panti asuhan. Pada faktor kenyamanan dapat mempengaruhi keinginan responden dalam membantu penyiapan makanan di panti asuhan dari segi waktu, tenaga, dan biaya. Selain itu, kemudahan akses makanan di luar panti asuhan mempengaruhi pemilihan jenis dan tingkat konsumsi makanan responden. Pada faktor sensorik dapat mempengaruhi penerimaan dan banyaknya konsumsi makanan baik dari dalam maupun luar panti asuhan. Pada faktor kandungan alami dalam pangan dapat dilihat menggunakan bahan makanan alami dalam menyediakan makanan di dalam panti Pada mempengaruhi pertimbangan konsumsi makanan di luar panti asuhan yang relatif dalam harga yang terjangkau atau sesuai dengan uang saku yang dimiliki. Pada faktor responden cenderung lebih mementingkan makanan dengan tinggi energi dan rendah kandungan zat gizi lain akibat terdapat faktor lain seperti ketersediaan makanan yang terbatas dan kondisi kelaparan pada Pada responden cenderung tidak mementingkan karena kemajuan perkembangan makanan yang beragam dan baru menimbulkan daya tarik untuk mencobanya dan dapat mempengaruhi konsumsi makanan yang biasa dikonsumsi oleh responden. Pada faktor masalah etika, dapat mempengaruhi kejelasan identitas jenis makanan kemasan yang dibeli seperti logo halal dan asal negara produk tersebut diproduksi. Pada faktor mementingkan faktor ini yang dapat dilihat dari jenis konsumsi makanan sehat dari panti asuhan yang terdiri dari makanan pokok, protein nabati dan hewani, sayuran, dan Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Daya Terima Makanan dengan Status Gizi Hasil analisis bivariat menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan antara daya terima makanan dengan status gizi. Hal tersebut dikarenakan responden masih mengonsumsi makanan dari luar seperti jajanan dan makanan cepat saji serta makanan instan. Hasil penilaian skor kuesioner juga menunjukan bahwa mayoritas daya terima makanan yang disediakan di panti asuhan kurang yaitu sebanyak 41 orang . ,2%). Apabila daya terima makanan yang mempengaruhi asupan zat gizi anak panti asuhan semakin menurun sehingga dalam mencapai status gizi anak panti asuhan menjadi kurang optimal. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Budiman et al. yang menunjukan tidak terdapat hubungan daya terima makanan dengan status gizi makanan di luar pesantren akibat daya tarik makanan luar yang lebih besar dibandingkan makanan yang telah disediakan sehingga daya terima makanan di pesantren menjadi rendah . Asupan dengan Status Gizi Hasil analisis bivariat menunjukan bahwa terdapat hubungan asupan energi dengan status gizi akan tetapi tidak terdapat hubungan asupan protein, asupan lemak, dan asupan karbohidrat dengan status gizi. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Permatasari . hubungan asupan energi dengan status gizi pada anak panti asuhan keluarga yatim Muhammadiyah Surakarta dan penelitian Nurwulan et al . bahwa tidak terdapat hubungan antara zat gizi makro dengan status gizi pada santri di Pondok Pesantren Yatim At-Thayyibah Sukabumi. Asupan energi yang mengalami kekurangan akan menggunakan cadangan energi yang tersimpan dalam otot sedangkan asupan energi yang berlebih akan disimpan di dalam Jika kondisi ini terjadi dalam waktu yang lama maka akan mengakibatkan kenaikan berat badan sehingga berisiko status gizi lebih dan mengalami penyakit degenerative . Tubuh yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas, menunjukan terjadinya penumpukan jaringan lemak tubuh yang melebihi batas normal. Hal ini dapat mempengaruhi peningkatan kadar insulin dalam darah, peningkatan frekuensi Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 7 No 1. Juni 2024. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 denyut jantung, serta mengurangi kapasitas dan menghambat jalur pembuluh darah untuk mengangkut darah. Seiring bertambahnya usia, kecepatan metabolik tubuh menurun, apabila tubuh mengalami kelebihan berat badan dapat berisiko muncul gejala yang mengarah penyakit generatif, seperti tekanan darah tinggi, kadar gula darah yang tinggi dan kadar lemak darah yang tidak normal. Keseimbangan makanan yang dikonsumsi dengan energi yang dikeluarkan tubuh mempengaruhi proses pertumbuhan dan perkembangan. Asupan zat gizi tersebut diperlukan oleh tubuh dalam beraktivitas sehari-hari. Apabila asupan lebih tinggi dibandingkan energi yang dikeluarkan maka tubuh akan menyimpan kelebihan asupan tersebut dalam bentuk jaringan lemak. Jaringan lemak yang terbentuk dan jika semakin menumpuk dapat menyebabkan kenaikan berat badan dan berisiko menyebabkan status gizi lebih. Begitu pula sebaliknya, jika asupan lebih dikeluarkan, maka tubuh akan merespon memecah cadangan energi dalam bentuk jaringan lemak yang telah ada. Lambat laun, maka tubuh akan mengalami penurunan berat badan dan berisiko mengalami status gizi kurang. Akan tetapi, banyaknya responden mengonsumsi makanan tidak menggambarkan keseluruhan gambaran status gizi secara langsung pada saat itu karena status gizi sebagai keadaan tubuh akibat dari konsumsi makanan sebelumnya dan penyakit yang diderita . makanan dengan status gizi pada anak panti asuhan di Jakarta Selatan Terdapat hubungan yang signifikan antara asupan energi dengan status gizi akan tetapi tidak terdapat hubungan yang signifikan antara asupan protein, asupan lemak, dan asupan karbohidrat dengan status gizi pada anak panti asuhan di Jakarta Selatan. DAFTAR PUSTAKA