Hubungan Intake CO dengan Kejadian Hipertensi pada Pedagang Kaki Lima di Kota Jambi Relationship Between CO Intake and Hypertension Incidence in Street Vendors in Jambi City Fadhel Alim Azzuhdi1. Oka Lesmana S. Ashar Dhermawan Sitanggang1. Andree Aulia Rahmat1 Nuzulul Putra1. Hendra Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. Universitas Jambi Korespondensi Penulis : fadhelalim@gmail. ABSTRACT Hypertension is a non-communicable disease that has become a global health issue, including in Indonesia. Exposure to carbon monoxide (CO) in areas with heavy vehicle traffic is suspected to increase the risk of hypertension. This study analyzes the risk factors for hypertension among street vendors in high CO concentration areas. Simpang Tugu Juang Sipin. Jambi, in 2024. This research is an analytical quantitative study with a crosectional approach. Out of 53 samples, 48 respondents were analyzed using the total sampling technique. Data were collected through blood pressure measurements, smoking surveys, physical activity, and CO intake calculations using the ARKL method. Analysis was conducted univariately and bivariately using the chi-square test. The research findings indicate a significant relationship between CO intake . =0. and smoking habits . =0. with the incidence of hypertension among street vendors. Meanwhile, physical activity is included as a risk factor, but it does not show a statistically significant relationship . >0. The conclusion of this study is that exposure to carbon monoxide (CO) and smoking habits are significantly associated with the incidence of hypertension, whereas physical activity, although classified as a risk factor, does not show a statistically significant relationship. Therefore, promotional and preventive interventions from health institutions are needed, as well as increased education and public awareness efforts to reduce the risk of hypertension. Keywords : Hypertension. CO Intake. Smoking. Physical Activity. Street Vendors ABSTRAK Hipertensi adalah penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan global, termasuk di Indonesia. Paparan karbon monoksida (CO) di area padat kendaraan diduga meningkatkan risiko hipertensi. Penelitian ini menganalisis faktor risiko hipertensi pada pedagang kaki lima di kawasan konsentrasi CO tinggi. Simpang Tugu Juang Sipin. Jambi. Penelitian ini merupakan studi kuantitatif analitik dengan pendekatan crosectional. Dari 53 sampel, sebanyak 48 responden dianalisis menggunakan teknik total Data dikumpulkan melalui pengukuran tekanan darah, survei merokok, aktivitas fisik, dan perhitungan intake CO dengan metode ARKL. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara intake (CO) . =0,. dan kebiasaan merokok . =0,. dengan kejadian hipertensi pada pedagang kaki lima. Sementara itu aktifitas fisik termasuk dalam faktor risiko, namun tidak menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik . >0,. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa paparan karbon monoksida (CO) dan kebiasaan merokok berhubungan signifikan dengan kejadian hipertensi, sedangkan aktivitas fisik, meskipun tergolong berisiko, tidak menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik. Oleh karena itu, diperlukan intervensi promotif dan preventif dari instansi kesehatan serta peningkatan edukasi dan kesadaran masyarakat dalam upaya menurunkan risiko hipertensi. Kata Kunci : Hipertensi. Intake CO. Merokok. Aktivitas Fisik. Pedagang Kaki Lima Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. October 2025, hal 450-457 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Hubungan Intake CO dengan Kejadian HipertensiA. (Fadhel Alim Azzuhdi. Oka Lesmana S. , dk. PENDAHULUAN Hipertensi gangguan kesehatan yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah di atas nilai normal, yaitu tekanan sistolik > 140 mmHg dan diastolik > 90 mmHg(Maulidina. Hipertensi yang tidak terkelola dengan baik berpotensi menimbulkan kerusakan pada organ-organ vital, termasuk jantung, otak, ginjal, dan mata, sehingga dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, serta kebutaan(Rd. Halim et al. , 2. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. , prevalensi hipertensi pada penduduk Indonesia usia Ou 18 tahun mencapai 25,8% pada tahun Angka menjadi 34,1% pada tahun 2018, menjadi 30,8% pada tahun 2023 menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023(Indonesia, 2023. Linder. Republik Indonesia, 2. Berdasarkan data SKI tahun 2023, prevalensi hipertensi pada kelompok usia Ou 18 tahun di Provinsi Jambi tercatat sebesar 23,6%. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan hasil Riskesdas prevalensi sebesar 28,9%. Sementara itu, prevalensi pada tahun 2013 sebesar 24,6%(Indonesia, 2023. RI, 2018. Sc. Berdasarkan data Riskesdas tahun 2013 di Kota Jambi prevalensi hipertensi 24,8%, peningkatan pada tahun 2018 sebesar 1,4% menjadi 26,2%(RI, 2. ,(Sc. Berdasarkan Profil Kesehatan Provinsi Jambi Tahun 2022 menurut data 10 penyakit terbanyak di Provinsi Jambi tahun 2022 diketahui bahwa penyakit hipertensi menempati peringkat kedua 25,48%(Darwis et al. , 2. Tingginya kadar karbon monoksida (CO) dapat memicu perubahan tekanan darah, peningkatan frekuensi denyut jantung, gangguan irama jantung, risiko gagal jantung, serta kerusakan pada pembuluh darah perifer(Pemerintah. Penelitian yang dilakukan oleh Yolamba Ervina Sujarwo menemukan bahwa paparan karbon monoksida (CO) berhubungan dengan kejadian hipertensi pada pekerja juru parkir(SUjarwo et al. , 2. Peningkatan jumlah kendaraan bermotor telah menjadi faktor dominan terutama disebabkan oleh emisi gas buang yang dihasilkan dari proses pembakaran bahan bakar fosil pada mesin kendaraan. Menurut data yang dikumpulkan oleh Badan Pusat Statistik Indonesia. Indonesia terus meningkat dari tahun 2022(Statistik. Meurut data ISPU Kota Jambi yang dipantau oleh Dinas Lingkungan Hidup melalui Sistem Pemantauan Kualitas Udara (AQMS) yang dilakukan setiap 24 jam, rata-rata ISPU Kota Jambi pada tahun 2023 adalah 40,79%(Data Ispu Kota Jambi Tahun 2023. Pdf, n. Tingginya masyarakat Kota Jambi yang melewati Simpang Tiga Tugu Juang Sipin Kota Jambi sebagai jalur utama menyebabkan kepadatan lalu lintas yang signifikan di Berdasarkan Thoriq kepadatan kendaraan terjadi pada waktu pagi dan sore hari, polutan/emisi udara terkonsentrasi disimpang tiga tugu juang sipin Kota Jambi (Bundaran air mancu. dan sekitarnya(THORIK DOFENDRA. Pada penelitian yang dilakukan Risa Ruviana dilaksanakan pada 80 responden pekerja bengkel sepeda motor yang berada di Kecamatan Pancoran Mas Kota Depok menunjukkan hasil bahwa adanya paparan karbon monoksida dengan kejadian hipertensi(Ruviana et al. Tingginya kepadatan kendaraan di kawasan Simpang Tiga Tugu Juang Sipin. Kota Jambi, monoksida (CO) akibat lingkungan kerja Pedagang kaki lima sebagai langsung terpapar Karbon Monoksida Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. October 2025, hal 450-457 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Hubungan Intake CO dengan Kejadian HipertensiA. (Fadhel Alim Azzuhdi. Oka Lesmana S. , dk. (CO) akibat lokasi aktivitas mereka yang berada di sepanjang bahu jalan hampir Kadar Karbon Monoksida (CO) yang tinggi ditambah dengan faktor risiko pedagang kaki lima seperti lama kerja, aktifitas fisik, dan mempengaruhi kesehatan pedagang kaki Oleh karena itu peneliti tertarik untuk meneliti terkait AuFaktor Risiko Kejadian Hipertensi Pada Pedagang Kaki Lima Di Lokasi Dengan Konsentrasi Karbon Monoksida (CO) Tinggi Di Simpang Tugu Juang Sipin Tahun 2024Ay. METODE Penelitian ini merupakan studi kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Subjek penelitian adalah pedagang kaki lima berjumlah 48 orang. Kriteria inklusi penelitian ini meliputi pedagang kaki lima dengan lokasi berjualan tetap, bersedia mengikuti wawancara, pemeriksaan antropometri, dan pengukuran tekanan darah, serta mampu berkomunikasi dengan baik. Data . elembaban, suhu, dan kecepatan angi. diperoleh dengan melakukan pengukuran, dan bahan pencemar karbon monoksida . diperoleh dengan melakukan pengambilan sampel udara dipinggir jalan raya yang dilakukan di 3 . titik berbeda dengan waktu pengambilan sampel dimulai jam 15. Ae 18. Data tentang Karakteristik . , kebiasaan merokok, dan Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. HASIL Hasil pengukuran karbon monoksida Tabel 1. konsentrasi karbon konoksida (CO) di simpang tugu juang Suhu Kecepatan Konsentrasi CO Konsentrasi CO Lokasi Waktu (C) angin . g/m. 00 Ae Titik 1 2 m/s 13,9166 15,9429 00 Ae Titik 2 2,3 m/s 15,1666 17,3749 00 Ae Titik 3 0,8 m/s 17,7568 Rata - rata 30,7666 14,8610 17,0248 Berdasarkan Tabel 1. CO tertinggi di Simpang Tugu Juang terjadi pada pukul 17. 00Ae18. 00 sebesar 17,7568 mg/mA, terendah pukul 15. 00Ae Karakteristik responden Karakteristik responden ditinjau dari aspek antropometri dan pola aktivitas mencakup usia, berat badan, 00 sebesar 15,9429 mg/mA, dengan rata-rata 17,0248 mg/mA, melebihi batas aman 10 mg/mA. pajanan, serta durasi pajanan. Tabel 2. Distribusi karakteristik responden Variabel Frekuensi Persentase (%) Jenis Kelamin Laki Ae laki Perempuan Pendidikan Terakhir Tidak sekolah SMP SMA Perguruan tinggi Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. October 2025, hal 450-457 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Hubungan Intake CO dengan Kejadian HipertensiA. (Fadhel Alim Azzuhdi. Oka Lesmana S. , dk. Berdasarkan tabel, sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki . ,6%) dan berpendidikan terakhir SMA . ,5%). Tabel 3. Karakteristik antropometri responden Min-Max Mean 95% CI Usia 42,54 39,03 Ae 46,05 12,09 Berat Badan 45-99,70 63,64 60,0854-67,2000 12,25089 Lama Pajanan 9,83 9,19-10,48 2,215 Frekuensi Pajanan 250-365 350,98 343,32-358,63 26,365 Durasi Pajanan 16,06 13,10-19,03 10,220 Variabel Median 43,50 Berdasarkan tabel 3, responden memiliki rata-rata usia 42,45 tahun, berat badan 63,64 kg, lama pajanan 9,83 jam per hari, frekuensi pajanan 350,98 hari per tahun, dan durasi pajanan ratarata 16,06 tahun. Intake real time Diketahui Karbon Monoksida (CO) adalah C = 17,0248 mg/m3. Laju asupan atau konsumsi (R) = 0,83 m3/hari, pajanan harian . E) = 9,83 jam / hari, frekuensi pajanan dalam setahun . E) = 350,98 hari, durasi pajanan atau lama responden berada di lokasi penelitian (D. = 16,06 tahun, berat badan (W. = 63,6427 dan , nilai . Av. untuk zat nonkarsinogenik adalah 10950 hari, maka nilai Intake (In. adalah sebagai berikut 17,0248 6 0,83 6 9,83 6 350,98 6 16,06 63,6427 6 10950 963,541 !"#(%&'( * ,&) = 887,565 Ink . eal tim. = 1,12351 mg/kg/hari !"#(%&'( * ,&) = Variabel Lokasi Titik 1 Titik 2 Titik 3 Tabel 4. nilai intake realtime pertitik lokasi Intake Realtime Intake < Intake > Min Max 0,826899 0,826899 Mean Median 1,14319 1,16834 1,16306 1,06721 1,18195 1,19172 9,1% 8,3% 7,7% 90,9% 91,7% 92,3% Berdasarkan tabel 4, sebagian besar responden memiliki nilai intake > 0,826899 yang tergolong berisiko. titik 1, 90,9% berisiko. titik 2, 91,7%. dan titik 3, 92,3%. Intake tertinggi 0,75267 0,71719 0,80341 1,58897 1,52135 1,58897 tercatat di titik 2 . ,16834 mg/kg/har. , terendah di titik 1 . ,14319 mg/kg/har. Perbedaan memengaruhi tingkat risiko paparan CO pada pedagang kaki lima. Proporsi hipertensi, intake (CO), kebiasaan merokok pada pedagang kaki lima Tabel 5. Distribusi Frekuensi hipertensi, intake (CO), kebiasaan merokok pada pedagang kaki lima Variabel Frekuensi Persentase (%) Hipertensi Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. October 2025, hal 450-457 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Hubungan Intake CO dengan Kejadian HipertensiA. (Fadhel Alim Azzuhdi. Oka Lesmana S. , dk. Tidak Intake (CO) Beresiko Tidak Beresiko Merokok Tidak Aktifitas Fisik Ringan Sedang Berat Berdasarkan tabel 5, sebagian besar responden mengalami hipertensi . ,1%),memiliki nilai intake CO yang berisiko . ,3%), memiliki kebiasaan merokok . ,3%). dan Aktifitas ringan ,3%) Analisis Bivariat Tabel 6. Analisis Bivariate Hubungan Intake (CO). Kebiasaan Merokok, dan Aktifitas Fisik Dengan Kejadian Hipertensi Pada Pedagang Kaki Lima Hipertensi PVariabel Total PR . % CI) Value Tidak Berisiko 21 47,7% 52,3% Intake 0,477 . ,350 Ae 0,045 Tidak (CO) 0,. Berisiko 19 67,9% 32,1% 2,262 . ,105 Ae Merokok 0,022 4,. Tidak 1,467 . ,574Ae Ringan 0,366 Aktifitas Sedang 1,600 . ,316Ae 0,502 8,. Berat 33,3% 66,7% PEMBAHASAN Hubungan Intake (CO) dengan Kejadian Hipertensi pada Pedagang Kaki Lima Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa responden dengan intake karbon monoksida (CO) yang tergolong berisiko mengalami hipertensi sebanyak 47,7% dari total responden yang memiliki intake Meskipun secara deskriptif terlihat adanya perbedaan proporsi kejadian hipertensi antar kelompok, hasil hubungan antara intake CO dan hipertensi signifikan secara statistik. Hal ini mengindikasikan bahwa paparan CO yang lebih rendah tidak serta-merta hipertensi, dan sebaliknya, paparan yang lebih tinggi belum tentu meningkatkan risiko secara langsung. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Risa Ruviana . yang menunjukkan adanya hubungan monoksida dengan tekanan darah pada pekerja bengkel sepeda motor di Kecamatan Pancoran Mas. Kota Depok. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa paparan CO yang terjadi secara terusmenerus tanpa upaya pencegahan, seperti penggunaan alat pelindung diri Selain paparan CO, faktor lain seperti usia, tingkat pendidikan, masa APD berhubungan dengan tekanan darah, sehingga menunjukkan bahwa tekanan berinteraksi(Ruviana et al. , 2. Paparan karbon monoksida (CO) CO merupakan gas toksik Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. October 2025, hal 450-457 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Hubungan Intake CO dengan Kejadian HipertensiA. (Fadhel Alim Azzuhdi. Oka Lesmana S. , dk. yang memiliki afinitas tinggi terhadap karboksihemoglobin (COH. yang secara substansial menurunkan kemampuan darah untuk mengalirkan oksigen ke jaringan tubuh. Paparan CO juga diketahui memicu stres oksidatif dan disfungsi endotel, yang ditandai dengan penurunan produksi vasodilator endogen seperti nitric oxide (NO). Gangguan vasokonstriksi dan vasodilatasi, yang peningkatan tekanan darah(Raub et al. Dengan demikian, meskipun paparan CO tidak secara langsung menyebabkan hipertensi pada semua panjang yang ditimbulkan berpotensi menjadi salah satu determinan penting dalam patogenesis hipertensi, khususnya pada kelompok populasi yang terpapar secara kronis tanpa perlindungan yang Hubungan Merokok dengan Kejadian Hipertensi pada Pedagang Kaki Lima Berdasarkan diketahui bahwa pedagang kaki lima (PKL) yang merokok memiliki risiko mengalami hipertensi sebesar 2,262 kali lebih tinggi dibandingkan dengan PKL yang tidak merokok, dengan hasil yang signifikan secara statistik. Temuan ini menunjukkan adanya hubungan yang erat antara kebiasaan merokok dan kejadian hipertensi di kalangan PKL. Hasil penelitian ini konsisten dengan studi yang dilakukan oleh Setyanda dkk . di Kota Padang, yang menemukan adanya hubungan signifikan antara kebiasaan merokok dan kejadian hipertensi pada laki-laki usia Penelitian melaporkan bahwa faktor seperti durasi dikonsumsi berperan dalam peningkatan risiko hipertensi(Setyanda et al. , 2. Selain itu, penelitian oleh Dilla dkk . juga mendukung temuan ini, dengan menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara perilaku merokok dan kejadian hipertensi pada individu usia produktif. Studi ini meningkatkan risiko hipertensi secara intervensi kesehatan untuk mengurangi kebiasaan merokok dan menurunkan prevalensi hipertensi(Indah et al. , 2. Secara merokok dapat memicu peningkatan Kandungan nikotin dalam katekolamin, yang berperan dalam menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah, peningkatan frekuensi denyut berkontribusi terhadap naiknya tekanan Selain itu, karbon monoksida menurunkan kemampuan darah dalam memaksa jantung untuk bekerja lebih intensif, yang pada gilirannya dapat darah(Mamile et al. , 2. Hubungan Aktifitas Fisik Kejadian Hipertensi pada Pedagang Kaki Lima Berdasarkan hasil analisis bivariat, ditemukan bahwa pedagang kaki lima (PKL) yang melakukan aktivitas fisik hipertensi dibandingkan dengan mereka yang melakukan aktivitas fisik sedang dan berat. Hasil penelitian ini sejalan dengan studi yang dilakukan oleh Lestari, dkk . di Puskesmas Kedu. Kabupaten Temanggung, yang mengungkapkan bahwa individu dengan tingkat aktivitas fisik ringan memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang melakukan aktivitas fisik berat. Hal ini mendukung temuan bahwa peningkatan memberikan efek protektif terhadap kejadian hipertensi(Lestari et al. , 2. Selain itu, studi yang dilakukan oleh Hardati dan Ahmad . berdasarkan analisis data Riskesdas 2013 menunjukkan bahwa aktivitas fisik hipertensi pada kelompok pekerja, dengan nilai Odds Ratio (OR) sebesar 1,25 dan interval kepercayaan 95% (CI) antara 1,21-1,28. Studi ini menegaskan Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. October 2025, hal 450-457 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Hubungan Intake CO dengan Kejadian HipertensiA. (Fadhel Alim Azzuhdi. Oka Lesmana S. , dk. meningkatkan risiko hipertensi pada pekerja(ANNA TRI HARDATI, n. Secara fisiologis, aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin dapat berperan dalam mengatur tekanan darah melalui sejumlah mekanisme, termasuk peningkatan fungsi endotel, penurunan pengendalian berat badan. Kurangnya dalam melakukan aktivitas fisik dapat berkontribusi pada kenaikan tekanan SIMPULAN Berdasarkan mayoritas responden pedagang kaki lima di kawasan Simpang Tugu Juang Sipin laki-laki, pendidikan terakhir terbanyak SMA dan usia rata-rata 43,54 tahun. Prevalensi hipertensi pada kelompok ini mencapai 52,1%. Rata-rata (CO) 1,12351 mg/kg/hari, responden memiliki kebiasaan merokok . ,3%) dan melakukan aktivitas fisik ringan . ,3%). Terdapat hubungan signifikan antara paparan CO dan kebiasaan merokok dengan kejadian Sementara itu, aktivitas fisik menunjukkan hubungan yang bermakna SARAN Pedagang kaki lima disarankan menggunakan masker dan menghindari jam sibuk untuk mengurangi paparan CO. Mengurangi atau berhenti merokok penting karena terbukti berhubungan dengan hipertensi. Meski aktivitas fisik tidak berhubungan signifikan dengan hipertensi dalam penelitian ini, tetap dianjurkan melakukan aktivitas fisik sedang secara rutin demi menjaga kesehatan jantung. DAFTAR PUSTAKA