Agro Estate, 7 . Desember 2023 ISSN : 2580-0957 (Ceta. ISSN : 2656-4815 (Onlin. AGRO ESTATE Jurnal Budidaya Perkebunan Kelapa Sawit dan Karet Available online https: //ejurnal. id/index. php/JAE ANALISIS PENGARUH LETAK DAN TOPOGRAFI PLOT MAIN NURSEY TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq. DENGAN SISTEM FERTIGASI TETES (DRIP FERTIGATION SYSTEM) ANALYSIS OF THE INFLUENCE OF THE LOCATION AND TOPOGRAPHY OF THE MAIN NURSEY PLOT ON THE GROWTH OF PALM OIL SEEDLINGS (Elaeis guineensis Jacq. ) USING A DRIP FERTIGATION SYSTEM Achmad Fauzi Garin Setiyawan . Neny Andayani . Githa Noviana . Prodi atau Jurusan Agroteknologi. Fakultas Pertanian. INSTIPER Yogyakarta. Indonesia *Coresponding Email: garinsetiyaone@gmail. Abstrak Produktivitas kelapa sawit tidak terlepas dari mana bibit berasal. Kesuksesan pembibitan dilihat dari kualitas bibit yang dihasilkan. Salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bibit adalah sistem Salah satu sistem fertigasi terbarukan ialah sistem fertigasi tetes. Penelit ian ini bertujuan untuk menganalisa perbandingan pertumbuhan vegetatif pada berbagai macam kondisi plot dalam sistem fertigasi tetes dengan cara membandingkan secara aktual hasil pengukuran pertumbuhan vegetatif bibit dengan sistem fertigasi tetes. Penelitian dilaksanakan di PT. Bumi Permai Lestari Perkebunan Bukit Intan Estate (BINE) yang terletak di Ds. Terentang. Kec. Kelapa. Kab. Bangka Barat. Provinsi Bangka Belitung. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2023 sampai dengan Oktober Penelitian dilaksanakan menggunakan metode analisis kuantitatif sebagai data primer untuk data hasil penelitian di analisis mengunakan metode uji sidik ragam satu arah pada jenjang 5% dilanjutkan dengan uji DMRT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa plot dengan elevasi datar dan jarak normal memiliki pertumbuhan vegetative paling unggul dibandingkan dengan bibit pada plot yang letaknya jauh dari waduk maupun plot dengan elevasi miring. Disimpulkan bahwa letak dan topografi plot main nursey memberikan pengaruh yang nyata . terhadap pertumbuhan vegetatif . inggi bibit, jumlah daun, dan lingkar batan. bibit kelapa sawit dengan sistem fertigasi tetes, dimana topografi miring memberikan pengaruh yang tidak baik terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit. Kata kunci : Fertigasi. Bibit. Pertumbuhan. Vegetatif. Topografi Abstract Oil palm productivity cannot be separated from where the seeds come from. The success of a nursery is seen from the quality of the seeds produced. One factor that influences seed growth is t he fertigation One of the renewable fertigation systems is the drip fertigation system. This research aims to analyze the comparison of vegetative growth in various plot conditions in the drip fertigation system by actually comparing the results of measuring the vegetative growth of seedlings with the drip fertigation The research was carried out at PT. Bumi Permai Lestari Perkebunan Bukit Intan Estate (BINE) is located in Ds. Terentang. Kec. Kelapa. West Bangka Regency. Bangka Belitung Provin ce. This research was carried out from April 2023 to October 2023. The research was carried out using quantitative analysis methods as primary data for the research data which was analyzed using the one way variance test method at a 5% level followed by DMRT test. The results showed that plots with flat elevations and normal distances had superior vegetative growth compared to seedlings in plots located far from reservoirs and plots with sloping elevations. It was concluded that the location and topography of the main nursery plot had a real . influence on the vegetative growth . eedling height, number of leaves, and stem circumferenc. of oil palm seedlings with a drip fertigation system, where the sloping topography had an unfavorable influence on the growth of oil palm seedlings. Keywords: Fertigation. Seedlings. Growth. Vegetative. Topography How to cite : Setiyawan. Andayani. & Noviana. Analisis Pengaruh Letak dan Topografi Plot Main Nursey Terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis Jacq. ) Dengan Sistem Fertigasi Tetes (Drip Fertigation Syste. Jurnal Agro Estate Vol. : 30-39. yang digunakan harus bermutu tinggi dan PENDAHULUAN Tanaman Jacq. (Elaeis dapat dijamin . Pembibitan adalah salah satu yang perkebunan yang memiliki nilai ekonomi tinggi bagi Indonesia, karena hasil dari perkebunan kelapa sawit tersebut dapat Keberhasilan pembibitan ditentukan dari menambah devisa Negara. Perkebunan kualitas yang dihasilkan. Pembibitan kelapa sawit dapat menciptakan lapangan kelapa sawit dikenal dengan adanya pekerjaan bagi masyarakat Indonesia, pembibitan double stage, yaitu kecambah yang ditanam terlebih dahulu dalam pengangguran di Indonesia. polybag kecil lalu dilakukan pemindahan Dilihat dari kontribusi yang diberikan ke dalam polybag besar setelah berumur 3 kelapa sawit di masa kini dan masa yang Hal yang perlu diperhatikan pada akan datang seiring dengan peningkatan pembibitan utama adalah kemampuan tanah dalam penyediaan unsur hara yang usaha dalam peningkatan kualitas dan kuantitas dari kelapa sawit. Terdapat perkembangan kelapa sawit. Umumnya beberapa hal yang dapat mempengaruhi pemenuhan kebutuhan unsur hara dalam produktivitas kelapa sawit antara lain tanah dapat dilakukan dengan kegiatan pemupukan (Khasanah, 2. Air yang cukup juga dibutuhkan kelapa sawit (Pahan, 2. Tanaman untuk proses fotosintesis agar kualitas dapat mencapai produksi yang maksimal itu berasal dari bibit yang baik dan sehat Namun, pemberian air harus disesuaikan juga penerapan teknis budidaya yang sesuai standar. Oleh karena itu, pemilihan kelebihan atau kekurangan air dapat bahan tanam yang tidak tepat akan berdampak negatif pada pertumbuhan menyebabkan resiko kerugian besar pada Oleh karena itu, bahan tanam menyebabkan tanaman menjadi sekulen Kelebihan dan mudah rebah karena daya dukung dilakukan pada plot-plot tersebut dengan tanah yang rendah terhadap tegakan Sedangkan, kekurangan air Plot 11 : Plot jarak normal & elevasi datar Plot 13 : Plot jarak normal & elevasi miring tanaman menjadi terhambat dan laju Plot 21 : Plot jarak jauh & elevasi datar Dalam masing-masing plot pengamatan klorofil yang berkurang (Saragi, 2. tersebut diambil sampel bibit kelapa sawit METODE PENELITIAN sebanyak 115 sampel yang diamati dan Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan di SMART Nursery Bukit Intan Estate (BINE) PT. Parameter Pengamatan Bumi Permai Lestari yang terletak di Desa Adapun beberapa data pertumbuhan Terentang. Kecamatan Kelapa. Kabupaten Bangka Barat. Bangka Belitung. Penelitian pertumbuhannya yaitu ini dilakukan pada bulan April 2022 Tinggi bibit . sampai bulan Oktober 2022. Pengamatan penambahan tinggi bibit dilakukan setiap satu bulan sekali Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam penelitian sampai akhir penelitian dengan cara mengukurnya dari pangkal batang vegetatif, alat tulis, meteran, dan spidol sampai ujung tajuk bibit dengan Bahan Hasil penelitian ini adalah bibit kelapa sawit pengamatan tersebut kemudian dicatat varietas unggul Dami Mas usia tanam 1 BST Ae 6 BST, pupuk NPK 12. pupuk Bayfolan, fungisida Dithane M-45, insektisida Decis 25 EC, herbisida Rolifos Jumlah Daun Penambahan 150 SL dihitung setiap satu bulan sekali Rancangan Penelitian sampai akhir penelitian dengan cara Penelitian ini merupakan penelitian menghitung jumlah helai daun pada eksperimental yang dilakukan di lokasi bibit yang telah membuka sempurna. pembibitan Bukit Intan Estate dengan Hasil pengamatan tersebut kemudian sistem fertigasi tetes pada plot 11, plot 13 dicatat pada form pengamatan dan dan plot 21. Pengamatan dan pengukuran pertumbuhan vegetative bibit kelapa sawit Lingkar Batang Penambahan Tabel 1. Rerata Tinggi Bibit Umur 1 BST d 6 BST pada Plot 11, 13 dan dilakukan setiap satu bulan sekali sampai akhir penelitian dengan cara mengukur melingkar menggunakan Umur Hasil pengamatan tersebut 1 BST 2 BST 3 BST 4 BST 5 BST 6 BST pengamatan dan didokumentasikan Analisis Data Untuk mengetahui perbedaan dari beberapa karakter agronomi yang diamati, maka dilakukan analisis varian dengan satu jenjang nyata 5%. Apabila antar perlakuan terdapat pengaruh nyata, maka diuji lanjut Berdasarkan hasil uji DMRT tinggi dengan DMRT. bibit dapat diketahui bahwa terdapat HASIL DAN PEMBAHASAN perbedaan antar perlakuan antara Plot 13 (Plot Elevasi Mirin. dengan Plot 11 (Plot pengaruh letak dan topografi plot main Norma. , namun tidak ada perbedaan yang nursey terhadap pertumbuhan bibit kelapa nyata antara Plot 13 (Plot Elevasi Mirin. sawit (Elaeis guineensis jacq. ) dengan dengan Plot 21 (Plot Jau. pada bulan sistem fertigasi tetes . rip fertigation Plot Jauh (Plot . Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada baris dan bulan yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT. kriteria klasifikasi (One Way Anov. pada Berikut Plot Plot Elevasi Normal Miring (Plot . (Plot . 73 a 111. Adapun Bibit dengan rerata akhir tertinggi dimiliki oleh plot normal, yang disusul pengamatan disajikan pada tabel-tabel oleh blok perlakuan elevasi miring dan kemudian plot jauh. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, plot yang datar Tinggi Bibit Berdasarkan cenderung menghasilkan bibit lebih tinggi dibandingkan plot elevasi miring. antara ketiga plot dari umur 1 BST hingga 6 BST menunjukkan adanya perbedaan Menurut Negara . yang menguji yang nyata. Berikut ini disajikan rerata irigasi tetes pipa pvc seri menunjukkan hasil bahwa, pada kondisi aliran laminar pengukuran pada bibit umur 1 BST sd 6 ternyata irigasi tetes ini belum mampu BST ditampilkan pada Tabel 1. memberikan keseragaman tetesan pada masing-masing lubang tetesnya. Dengan tekanan aliran yang rendah belum mampu dimana Plot Normal menghasilkan bibit memberikan tekanan seragam pada lubang- tertinggi, sedangkan Plot Elevasi Miring lubang aliran pipa, kehilangan energi menghasilkan bibit dengan tinggi paling akibat gesekannya belum teratur dan berpengaruh pada besarnya tetesan pada Rerata Tinggi Bibit . tiap-tiap lubang pipa. Gesekan serta hambatan tersebut berpotensi menyebabkan adanya deviasi volume fertigasi yang tersalurkan menuju lahan miring. Ketika penyaluran air dan pupuk menuju ke lahan miring, tentunya terjadi penurunan tekanan baik karena 1 BST 2 BST 3 BST 4 BST 5 BST 6 BST elevasi dan ketinggian plot distribusi Plot 11 (Plot Norma. sumbatan pada pipa lateral yang dapat Plot 21 (Plot Jau. Perbedaan tekanan terhadap plot datar atau plot miring tersebut lah yang Plot 13 (Plot Elevasi Mirin. Gambar 1. Grafik Rerata Tinggi Bibit Jumlah Daun volume air dan pupuk yang terdistribusi. Berdasarkan Ketidakseragaman tetesan air dan pupuk yang diterima oleh plot datar dan plot terhadap data hasil pengamatan jumlah miring menyebabkan terjadinya perbedaan daun antara ketiga plot dari umur 1 BST nyata pertumbuhan tinggi bibit antara plot datar dengan plot miring. perbedaan yang nyata. Berikut ini disajikan BST Grafik hasil pengukuran tinggi bibit rerata jumlah daun hasil pengamatan & pada berbagai perlakuan dapat dilihat pada pengukuran pada bibit kelapa sawit umur 1 Gambar BST s. d 6 BST yang ditampilkan pada Terlihat Tabel 2. perbedaan pertumbuhan tinggi bibit pada usia yang sama karena perbedaan letak dan Berdasarkan hasil uji DMRT jumlah topografi plot main nursery. Perbedaan daun dapat diketahui bahwa terdapat letak dan topografi plot main nursery perbedaan antar perlakuan antara Plot 13 memberikan pengaruh yang nyata terhadap (Plot Elevasi Mirin. dengan Plot 21 (Plot Jau. , namun tidak ada perbedaan yang peningkatan tinggi bibit dengan sistem fertigasi tetes . rip fertigation syste. nyata antara Plot 11(Plot Norma. dengan Rerata Jumlah Daun Plot 21(Plot Jau. Tabel 2. Rerata Jumlah Daun Umur 1 BST d 6 BST pada Plot 11, 13 dan 21 Umur 1 BST 2 BST 3 BST 4 BST 5 BST 6 BST Plot Plot Elevasi Normal Miring (Plot . (Plot . 57 ab 15. Plot Jauh (Plot . 79 ab 1 BST 2 BST 3 BST 4 BST 5 BST 6 BST Plot 11 (Plot Norma. Plot 13 (Plot Elevasi Mirin. Plot 21 (Plot Jau. Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada baris dan bulan yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT. Gambar 2. Grafik Rerata Jumlah Daun Perbedaan letak dan topografi plot main nursery memberikan pengaruh yang Pada seluruh bulan pengamatan, plot nyata terhadap pertambahan jumlah daun normal menghasilkan bibit yang lebih pada bibit kelapa sawit dengan sistem unggul dengan jumlah daun paling banyak, fertigasi tetes . rip fertigation syste. Plot yang tidak berbeda nyata dengan plot jauh dengan elevasi datar menghasilkan bibit sebagai sesama plot datar. Kemudian yang lebih unggul berupa jumlah daun disusul oleh plot elevasi miring yang yang lebih banyak daripada plot dengan menghasilkan bibit dengan jumlah daun elevasi miring. relatif lebih sedikit daripada plot datar. Humphries et al. dalam Gardner et Berdasarkan hasil analisis data tersebut, . mengatakan bahwa jumlah dan plot yang datar cenderung menghasilkan ukuran daun dipengaruhi oleh genotipe dan bibit dengan jumlah daun lebih banyak Posisi daun pada tanaman dibandingkan plot elevasi miring. yang terutama dikendalikan oleh genotipe. Grafik hasil pengamatan pertambahan juga mempunyai pengaruh nyata terhadap jumlah daun pada berbagai plot yang dapat laju pertumbuhan daun, dimensi akhir dan dilihat pada Gambar 2. Gambar 2 terlihat jumlah daun pada bibit kelapa sawit dalam ketersediaan air. Tanaman yang mampu usia yang sama karena perbedaan letak dan menghasilkan fotosintat yang lebih tinggi topografi plot main nursery. maka akan mempunyai banyak daun, karena hasil fotosintat akan digunakan Elevasi Mirin. maupun Plot 21 (Plot untuk membentuk organ seperti daun dan Jau. Bibit dengan rerata akhir lingkar batang paling lebar dimiliki oleh plot normal sebesar 24,32 cm, yang disusul oleh (Hasanuddin det al. dalam Firda 2. blok perlakuan elevasi jauh dan plot elevasi Lingkar Batang Berdasarkan hasil analisis data Berdasarkan menghasilkan bibit dengan lingkar batang pengukuran lingkar batang seluruh sampel yang lebih besar dibandingkan plot elevasi bibit kelapa sawit antara ketiga plot dari umur 1 BST hingga 6 BST menunjukkan Berikut ini disajikan grafik hasil adanya perbedaan yang nyata. Berikut ini pengukuran tinggi bibit pada berbagai perlakuan dapat dilihat pada Gambar 3. pengamatan & pengukuran pada bibit Rerata Lingkar Batang . kelapa sawit umur 1 BST s. d 6 BST yang ditampilkan pada Tabel 3. Tabel 3. Rerata Lingkar Batang Umur 1 BST sd 6 BST pada Plot 11, 13 Umur 1 BST 2 BST 3 BST 4 BST 5 BST 6 BST Plot Plot Elevasi Normal Miring (Plot . (Plot . Plot Jauh (Plot . 1 BST 2 BST 3 BST 4 BST 5 BST 6 BST 64 ab Plot 11 (Plot Norma. Plot 13 (Plot Elevasi Mirin. Plot 21 (Plot Jau. Gambar 3. Grafik Rerata Lingkar Batang Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada baris dan bulan yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT. Dari Gambar 3 terlihat bahwa terjadi perbedaan pertambahan lingkar batang pada bibit kelapa sawit dalam usia yang Berdasarkan hasil uji DMRT Lingkar sama karena perbedaan letak dan topografi Batang dapat diketahui bahwa terdapat plot main nursery. perbedaan antar perlakuan antara Plot 11 Perbedaan letak dan topografi plot (Plot Elevasi Norma. dengan Plot 13 (Plot main nursery memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan lingkar batang sebagai penyusun jaringan tanaman. rip fertigation syste. , dimana plot datar garam-garaman. Kalibrasi Volume cenderung menghasilkan bibit lebih unggul Kalibrasi volume dilakukan pada dengan lingkar batang yang lebih lebar dibandingkan dengan plot elevasi miring. mengukur banyaknya air yang menetes Hal ini dapat terjadi dimungkinkan karena dalam setiap polybag sampel dengan tidak terlepas dari pengaruh kelancaran Pengujian distribusi volume air maupun pupuk dari waduk dan tempat mixing pupuk menuju sebanyak 2 kali pengulangan untuk diambil masing-masing plot. Dimana untuk plot rata-ratanya tiap-tiap pengujian. Kalibrasi dengan topograsi miring tentu terdapat sedikit hambatan saat penyaluran air dan jumlah air yang dapat diberikan titik tetes pupuk tersebut sehingga air dan pupuk pada masing-masing polybag tiap plot. yang terdistribusi kurang maksimal apabila Berikut ini disajikan hasil uji DMRT antar dibandingkan dengan plot datar. Hal Tabel 4. Rerata Kalibrasi Volume Umur 6 BST pada plot 11, 13 dan 21 akan mempengaruhi pertumbuhan bibit pada masing-masing plot, dimana plot yang memiliki topografi daripada plot dengan elevasi miring. Pangkal Batang merupakan daerah Plot Normal (Plot . Plot Elevasi Plot Jauh Miring (Plot . (Plot . 6 BST 499. 87 b 496. Umur dengan lingkar batang yang lebih besar Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada baris dan bulan yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT. khususnya tanaman yang masih muda. Salisbury & Ross . menyatakan Berdasarkan DMRT kalibrasi volume dapat diketahui bahwa tanaman secara keseluruhan merupakan terdapat perbedaan volume output antar akibat dari bertambahnya jaringan dan perlakuan, antara Plot 13 (Plot Elevasi ukuran sel. Jurnal Agroteknologi. Vol. Mirin. dengan Plot 11 (Plot Norma. No. Agustus 2010: 8-13 10 Menurut namun tidak ada perbedaan yang nyata Jumin . air sangat berfungsi dalam antara Plot 11 (Plot Norma. dengan Plot pengangkutan atau transportasi unsur hara 21 (Plot Jau. sebagai sesama plot datar. dari akar ke jaringan tanaman, sebagai Bibit dengan rerata output volume air Topografi tertinggi dimiliki oleh plot normal, disusul pengaruh yang tidak baik terhadap oleh plot jauh, yang keduanya merupakan pertumbuhan bibit kelapa sawit. plot dengan topografi datar dan bibit Pertumbuhan pada plot topografi datar dengan rerata output volume air terendah yang letaknya lebih dekat dengan dimiliki oleh plot miring. Berdasarkan hasil waduk dan tempat mixing pupuk analisis data tersebut, plot yang datar menunjukkan pertumbuhan yang lebih cenderung mengalirkan air lebih tinggi baik dibandingkan plot topografi datar dibandingkan plot elevasi miring. yang letaknya jauh dari waduk. Lebih kecilnya volume air yang DAFTAR PUSTAKA