Jurnal Fides et Ratio Vol. Nomor 1. Juni 2025 MENJALIN PERSAUDARAAN DALAM TERANG IMAN: SEMANGAT GOTONG ROYONG DAYAK WEHEA DI TENGAH PELAYANAN UMAT PAROKI ST. MARIA RATU DAMAI NEHAS LIAH BING Gregorius Rivaldo Junior Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana bambangmantap54@gmail. Yohanes Endi Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana yohanesendi82@gmail. Abstrak Tulisan berjudul "Menjalin Persaudaraan dalam Terang Iman: Semangat Gotong Royong Dayak Wehea di Tengah Pelayanan Umat Paroki St. Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing" mengangkat keterpaduan antara nilai-nilai budaya lokal dan semangat iman Kristiani dalam kehidupan menggereja. Gotong royong, sebagai warisan budaya suku Dayak Wehea, bukan hanya menjadi pola hidup bermasyarakat, tetapi juga menjadi kekuatan kolektif yang menopang pelayanan dan keterlibatan umat dalam berbagai kegiatan pastoral di paroki. Melalui pendekatan reflektif dan kontekstual, tulisan ini menyoroti bagaimana Gereja hadir tidak hanya sebagai pewarta iman, tetapi juga sebagai pelindung nilai-nilai luhur budaya yang mendukung terwujudnya persaudaraan sejati. Integrasi antara gotong royong dan ajaran kasih Kristus memperlihatkan bahwa budaya dan iman dapat berjalan selaras, saling memperkaya, dan menjadi dasar spiritualitas hidup bersama. Dengan demikian, umat diajak untuk membangun Gereja yang hidup, berakar dalam budaya, dan berlandaskan pada kasih, pelayanan, dan solidaritas sebagai wujud nyata dari persaudaraan dalam terang iman. Kata kunci: Gotong Royong. Dayak Wehea. Persaudaraan. Iman. Abstract The article entitled "Establishing Brotherhood in the Light of Faith: The Spirit of Gotong Royong Dayak Wehea in the Service of the Parishioners of St. Mary Queen of Peace Nehas Liah BingAy highlights the integration of local cultural values and the spirit of Christian faith in church life. Gotong royong, as a cultural heritage of the Dayak Wehea tribe, is not only a pattern of community life, but also a collective force that sustains the service and involvement of the people in various pastoral activities in the parish. Through a reflective and contextual approach, this paper highlights how the Church is present not only as a messenger of faith, but also as a protector of noble cultural values that support the realization of true brotherhood. The integration of gotong royong and the teachings of Christ's love shows that culture and faith can work in harmony, enrich each other, and become the basis of the spirituality of living together. Thus, people are invited to build a living Church, rooted in culture, and based on love, service, and solidarity as a tangible manifestation of brotherhood in the light of faith. Keywords: Gotong Royong. Dayak Wehea. Brotherhood. Faith. PENDAHULUAN Dalam kehidupan masyarakat Dayak Wehea, gotong royong bukan sekadar tradisi turun-temurun, melainkan jantung dari nilai kebersamaan yang mengikat setiap individu dalam satu ikatan kekeluargaan yang Budaya ini mewujud dalam berbagai aspek kehidupan mulai dari membangun rumah, membersihkan ladang, hingga merayakan pesta adat semuanya dilakukan bersama, dalam semangat tolong-menolong tanpa Nilai luhur ini tidak hanya membentuk tatanan sosial masyarakat adat, tetapi juga mencerminkan semangat persaudaraan yang sejati: saling menopang dalam suka dan duka, dalam kekurangan dan kelimpahan. Ketika semangat ini dibawa ke dalam kehidupan umat di Paroki St. Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing, tampak jelas bagaimana warisan budaya lokal dapat menyatu indah dengan nilai-nilai iman Kristiani. Jurnal Fides et Ratio Vol. Nomor 1. Juni 2025 Pelayanan umat di paroki ini bukan hanya menjadi tugas rohani, tetapi juga perwujudan nyata dari gotong royong yang dibingkai dalam kasih Kristus. Dalam berbagai kegiatan gereja baik itu pelayanan liturgi, pembangunan gereja, kegiatan kategorial, maupun aksi sosial semangat bekerja bersama, berbagi beban, dan mengutamakan kepentingan bersama menjadi cermin dari persekutuan umat yang hidup. Maka, tulisan ini hadir untuk menggambarkan bagaimana semangat gotong royong Dayak Wehea menjadi fondasi kuat dalam membangun persaudaraan sejati di tengah pelayanan umat, serta bagaimana terang iman Kristiani menyempurnakan nilai budaya ini menjadi kesaksian hidup yang otentik dalam Gereja masa kini. METODE PENELITIAN Tulisan ini dilakukan dengan kajian teologis dan budaya untuk mengeksplorasi semangat gotong royong masyarakat Dayak Wehea dengan semangat pelayanan umat di Paroki St. Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing. Kedua hal ini menjadi dasar pada dalam tulisan yang berlandaskan pada kajian teologis dan budaya. HASIL DAN PEMBAHASAN Pembahasan dalam tulisan ini diharapkan mampu menjelaskan dan mengintepretasikan semangat gotong royong dalam kehidupan sehari-hari umat di Paroki St. Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing. Semangat gotong royong yang dimiliki umat diharapkan tidak hanya berkembang di masyarakata Dayak Wehea, tetapi juga terwujud dalam spiritualitas pelayanan yang dilakukan umat di Paroki St. Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa semangat gotong royong masyarakat Dayak Wehea bukan sekedar warisan budaya, melainkan juga menghubungkan nilai-nilai adat dengan spiritualitas kristiani. Pengertian Gotong Royong dalam Budaya Dayak Wehea Dalam budaya Dayak Wehea, gotong royong atau yang dalam bahasa lokal dikenal dengan istilah "luwe", bukan sekadar kerja bersama, tetapi merupakan sebuah cara hidup yang mencerminkan nilai kekerabatan, solidaritas, dan tanggung jawab kolektif. 1 Gotong royong menjadi roh dalam kehidupan komunitas Dayak Wehea, di mana setiap individu menyadari bahwa keberlangsungan hidup bersama tidak bisa dipikul sendiri, melainkan harus dijalani secara bersama-sama, saling menopang satu sama lain. Dalam praktiknya, gotong royong hadir dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang membangun rumah baru, seluruh warga kampung akan turut membantu mulai dari pengumpulan bahan, pengerjaan bangunan, hingga upacara adat yang menyertainyasemua dilakukan tanpa upah, karena mereka percaya bahwa apa yang dikerjakan bersama akan kembali kepada mereka suatu saat dalam bentuk lain. Demikian pula dalam kegiatan berladang, memanen hasil kebun, menyiapkan upacara adat, atau menghadapi bencana dan musibah, seluruh komunitas hadir dan bekerja bersama atas dasar panggilan budaya dan nurani Gotong royong dalam budaya Wehea bukan hanya sekadar menyelesaikan pekerjaan fisik, melainkan juga memperkuat ikatan sosial. Melalui kerja bersama, orang-orang belajar untuk saling memahami, menghormati perbedaan, dan menjaga keharmonisan hidup bersama. Kegiatan gotong royong biasanya disertai dengan makan bersama, canda tawa, dan ritual-ritual adat yang menjadikan momen itu bukan hanya produktif, tetapi juga bermakna secara spiritual dan kultural. Nilai gotong royong ini diwariskan turun-temurun, tidak melalui buku atau pelajaran formal, melainkan melalui contoh hidup, keterlibatan langsung, dan pendidikan keluarga. Anak-anak sejak kecil diajak untuk menyaksikan dan ikut serta dalam kegiatan gotong royong, sehingga nilai ini tertanam kuat dalam karakter dan cara berpikir mereka. Dalam pandangan masyarakat Wehea, gotong royong adalah bagian dari identitas, bukan hanya alat bantu Ia adalah simbol hidup bersama yang seimbang, adil, dan saling menghormati. 3 Dalam konteks ini, gotong Dedy Irawan. AuKepemimpinan Kepala Adat Dalam Mempertahankan Gotong Royong Masyarakat Adat Dayak Wehea Di Desa Nehas Liah Bing Kecamatan Muara Wahau,Ay Integratif 4, no. : 596. Yovinus Andinata. AuKonsep Manusia Menurut Adat Dayak Wehea: Tinjauan Filosofis Berdasarkan Filsafat Ernst Cassirer,Ay Sapientia Humana 4, no. : 105. Ibid, 107. Jurnal Fides et Ratio Vol. Nomor 1. Juni 2025 royong menjadi pilar yang tidak hanya menopang kesejahteraan fisik masyarakat, tetapi juga menjaga kelestarian hubungan manusia dengan sesama dan dengan alam sekitar. Nilai-nilai Kekerabatan dan Kerja Kolektif dalam Gotong Royong Dayak Wehea Dalam budaya Dayak Wehea, gotong royong tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai kekerabatan dan kerja kolektif yang telah mengakar kuat sejak zaman nenek moyang. Nilai-nilai ini menjadi fondasi utama dalam membangun masyarakat yang saling terhubung, tidak hanya secara darah, tetapi juga secara tanggung jawab sosial dan spiritual. 4 Kekerabatan dalam masyarakat Wehea melampaui batas keluarga inti. setiap anggota kampung dipandang sebagai bagian dari satu keluarga besar, di mana hubungan antar manusia dijalin dengan prinsip saling memiliki dan saling menjaga. Nilai kekerabatan ini tercermin jelas dalam setiap kegiatan gotong royong. Ketika satu keluarga mengalami kesulitan seperti kematian, bencana alam, atau sakit parah masyarakat segera berkumpul tanpa diminta, menawarkan tenaga, waktu, dan sumber daya mereka. 5 Begitu pula dalam kegembiraan, seperti pernikahan atau panen, kehadiran kolektif masyarakat menunjukkan bahwa suka duka bukan milik individu, melainkan tanggung jawab bersama. Inilah wujud nyata dari solidaritas hidup: apa yang menimpa satu orang dianggap juga menimpa seluruh komunitas. Sementara itu, kerja kolektif dalam budaya Wehea bukan hanya dilakukan demi efisiensi atau menyelesaikan tugas bersama, melainkan sebagai cermin filosofi hidup mereka yang menghargai harmoni dan Dalam kerja kolektif, setiap orang memiliki peran, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Anak-anak, orang tua, laki-laki maupun perempuan semua dilibatkan sesuai kemampuan dan pengalaman 6 Tidak ada paksaan, karena kesadaran untuk terlibat tumbuh dari rasa memiliki terhadap komunitas dan warisan budaya. Lebih dari itu, kerja kolektif juga menjadi ruang pendidikan sosial. Melalui kegiatan bersama, nilai-nilai seperti kejujuran, kerja keras, kesetiaan, serta kepedulian terhadap sesama ditanamkan dan dipraktikkan secara Gotong royong bukan sekadar kegiatan fisik, melainkan proses membentuk karakter dan memperkuat ikatan antar anggota komunitas. Nilai-nilai kekerabatan dan kerja kolektif dalam budaya Dayak Wehea bukan hanya menjaga keberlangsungan hidup masyarakat secara praktis, tetapi juga menjadi warisan budaya yang menumbuhkan rasa persatuan, keadilan sosial, dan kebersamaan yang mendalam. 7 Nilai-nilai ini menjadikan masyarakat Wehea bukan hanya kuat dalam menghadapi tantangan hidup, tetapi juga kaya secara moral dan spiritual dalam menjalin hidup bersama. Dasar Iman Katolik tentang Persaudaraan Dasar iman Katolik tentang persaudaraan berakar kuat dalam ajaran Yesus Kristus dan seluruh pewartaan Kitab Suci, yang menekankan bahwa setiap manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, dan karena itu memiliki martabat yang sama sebagai saudara dan saudari dalam Kristus. Persaudaraan dalam iman Katolik bukan sekadar ikatan sosial atau hubungan darah, melainkan sebuah panggilan untuk hidup dalam kasih, pengampunan, dan solidaritas yang melampaui batas-batas suku, budaya, atau status sosial. Yesus sendiri, dalam pengajaran-Nya, menyebut bahwa siapa pun yang melakukan kehendak Bapa di surga adalah saudara, saudari, dan ibu-Nya . Mat 12:. Ini menunjukkan bahwa persaudaraan sejati dibangun dalam ketaatan kepada kehendak Allah, yaitu kasih yang aktif dan tanpa syarat. Dalam perumpamaan tentang Orang Samaria yang Baik Hati (Luk 10:25-. Yesus mengajarkan bahwa setiap orang adalah sesama, dan bahwa kasih kepada sesama adalah bagian yang tak terpisahkan dari kasih kepada Allah. Nur Robaniyah & Maulidatun Nur Azizah. AuImplementasi Penanggalan Dayak Wehea Dalam Kegiatan Adat Di Kampung Dayak Muara Wahau,Ay Elfalaky 7, no. : 334. Yanti. Rosalina Ginting, and Rahmat Sudrajat. AuImplementasi Nilai-Nilai Pancasila Dalam Tradisi Lom Plai Pada Masyarakat Desa Nehas Liah Bing Kutai Timur,Ay Jurnal Kewarganegaraan 7, no. : 2148. Ibid, 2149. Paul Wiilfridus Gobang. AuMakna Simbolis Dan Fungsi Tari Hudoq Suku Dayak Wehea Di Pedalaman Kalimantan Timur,Ay Jurnal Komunikasi Dan Budaya 3, no. : 145. Jurnal Fides et Ratio Vol. Nomor 1. Juni 2025 Gereja perdana juga hidup dalam semangat persaudaraan ini. Dalam Kisah Para Rasul, umat beriman digambarkan hidup dalam persekutuan yang erat, berbagi harta milik, berkumpul dalam doa, dan saling menopang dalam segala hal (Kis 2:42-. Persaudaraan mereka bukan hanya spiritual, tetapi juga nyata dalam tindakan Ajaran Gereja Katolik juga menegaskan bahwa karena kita semua adalah anak-anak Allah melalui pembaptisan, maka kita dipanggil untuk menjadi saudara dan saudari satu sama lain. Inilah yang menjadi dasar hidup bermasyarakat secara adil dan damai. Ensiklik Fratelli Tutti dari Paus Fransiskus menegaskan kembali panggilan universal untuk membangun dunia yang berdasarkan pada persaudaraan universal dan persahabatan sosial, di mana tidak ada yang diabaikan atau ditinggalkan. Dasar iman Katolik tentang persaudaraan tidak hanya mengajarkan tentang relasi kasih antara manusia, tetapi juga menuntut perwujudannya dalam hidup sehari-hari: dalam pelayanan, pengampunan, kerendahan hati, dan kerja sama membangun kebaikan bersama sebagai satu keluarga besar Allah. Ajaran Yesus tentang Kasih dan Pelayanan Ajaran Yesus tentang kasih dan pelayanan merupakan inti dari seluruh pewartaan Injil dan menjadi dasar utama bagi kehidupan murid-murid-Nya. Yesus tidak hanya mengajarkan kasih dan pelayanan lewat kata-kata, tetapi juga dengan teladan hidup yang konkret, membalikkan pola pikir dunia tentang kekuasaan, status, dan hubungan antar manusia. Bagi Yesus, kasih sejati tidak sebatas perasaan atau teori, melainkan tindakan nyata yang berakar dari hati yang rela memberi dan merendahkan diri demi kebaikan orang lain. Kasih yang diajarkan Yesus adalah kasih yang radikal agape, kasih tanpa syarat dan tanpa pamrih. Dalam Injil Matius 22:37-39. Yesus merangkum seluruh hukum Taurat dalam dua perintah utama: "Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, segenap jiwamu, dan segenap akal budimu," serta "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. "9 Perintah ini bukan hanya aturan moral, melainkan panggilan untuk membangun relasi yang benar: relasi dengan Allah, dan relasi dengan sesama, yang keduanya tidak dapat dipisahkan. Kasih kepada Allah diwujudkan dalam tindakan nyata kepada sesama, terutama mereka yang lemah, miskin, dan tersisih. Lebih jauh lagi, dalam Injil Yohanes 13:34-35. Yesus memberikan perintah baru: "Kasihilah satu sama lain sebagaimana Aku telah mengasihi kamu. " Ini menjadi standar kasih yang baru dan jauh lebih tinggi kasih yang siap berkorban, bahkan sampai mati di kayu salib. Yesus tidak hanya mengajarkan kasih dalam bentuk belas kasihan, tetapi juga dalam bentuk pelayanan yang konkret. Dalam Yohanes 13. Yesus membasuh kaki para muridNyaAitindakan yang dalam budaya waktu itu adalah tugas seorang hamba. Dengan ini. Ia menunjukkan bahwa menjadi pemimpin dalam Kerajaan Allah berarti menjadi pelayan bagi yang lain. "Aku telah memberikan teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat seperti yang telah Kuperbuat kepadamu" (Yoh 13:. Pelayanan dalam ajaran Yesus tidak pernah dipisahkan dari kasih. Pelayanan bukan sekadar aktivitas atau rutinitas, tetapi sikap hati yang melihat sesama sebagai saudara. Dalam perumpamaan tentang Orang Samaria yang Baik Hati (Luk 10:25-. Yesus menegaskan bahwa kasih harus melintasi batas etnis, agama, dan status Ia memuji mereka yang berani bertindak demi kebaikan sesama, meskipun tidak mendapat pengakuan atau Ajaran Yesus tentang kasih dan pelayanan berpuncak pada Salib simbol kasih tertinggi dan pelayanan Dengan menyerahkan diri-Nya bagi keselamatan dunia. Yesus mengungkapkan bahwa kasih sejati adalah kasih yang memberi diri sepenuhnya. Murid-murid Yesus, termasuk Gereja sampai saat ini, dipanggil untuk Dominikus Dearnus Ndururu and Alfredo Siboro. AuMembangun Persaudaraan Universal Sebagai Konsekuensi Beriman Kepada Allah (Suatu Refleksi-Teologis Atas Dokumen Abu Dhab. ,Ay Rajawali 20, no. : 37. Angelo Luciani Moa Dosi Woda. AuMakna Kasih Persaudaraan Kristiani: Refleksi Teologis-SpiritualPraktis,Ay Jurnal Riset Rumpun Agama Dan Filsafat 3, no. : 178. Yohanes Chandra Kurnia Saputra. AuPelayanan Pastoral Sebagai Wujud Kasih Kristiani Di Tengah Tantangan Zaman Modern: Menjawab Kebutuhan Spiritual Dan Sosial Umat,Ay Jurnal Pelayanan Pastoral 5, no. : 152. Jurnal Fides et Ratio Vol. Nomor 1. Juni 2025 meneladani kasih itu: menjadi pelayan yang setia, menjadi saudara bagi siapa saja, dan menjadi saksi kasih Allah yang hidup dalam dunia yang haus akan perhatian, keadilan, dan damai. Integrasi Nilai Gotong Royong dalam Pelayanan Umat Paroki St. Maria Ratu Damai Integrasi nilai gotong royong dalam pelayanan umat Paroki St. Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing merupakan sebuah perwujudan harmonis antara warisan budaya lokal Dayak Wehea dan semangat hidup menggereja yang berakar dalam kasih dan persaudaraan Kristiani. Gotong royong, yang secara turun-temurun telah menjadi denyut kehidupan masyarakat Wehea, tidak hanya bertahan sebagai tradisi sosial, tetapi juga tumbuh menjadi bagian integral dalam dinamika pelayanan umat di paroki ini. Semangat saling membantu, kerja bersama, dan kepedulian tanpa pamrih menjadi fondasi dalam setiap bentuk kegiatan pastoral, liturgi, maupun pembangunan fisik dan spiritual komunitas. Dalam kehidupan menggereja, gotong royong tampak nyata dalam cara umat bergandengan tangan saat menyiapkan perayaan hari raya, membangun dan merawat gedung gereja, mengadakan kegiatan kategorial, serta mendampingi umat yang mengalami kesulitan. Tidak ada yang bekerja sendiri atau merasa ditinggalkan. Umat dengan sukarela memberikan tenaga, waktu, bahkan materi, karena mereka menyadari bahwa Gereja adalah rumah bersama tempat di mana sukacita dan penderitaan dibagi, dan pelayanan adalah tanggung jawab kolektif. Lebih jauh, nilai gotong royong membentuk karakter pelayanan yang inklusif dan partisipatif. Setiap orang entah tua, muda, pria, wanita, bahkan anak-anakdilibatkan sesuai dengan kapasitas dan perannya. Dalam rapat-rapat lingkungan, persiapan liturgi, dan kegiatan sosial, semangat keterlibatan aktif ini menumbuhkan rasa memiliki terhadap Gereja dan memperkuat persaudaraan umat. Pelayanan tidak dijalankan oleh segelintir orang, tetapi menjadi gerakan bersama yang mengalir dari kesadaran iman dan budaya yang menyatu. Integrasi ini juga memperlihatkan bahwa nilai-nilai budaya lokal tidak bertentangan dengan ajaran iman, melainkan dapat menjadi jembatan inkulturatif yang memperkaya kehidupan Gereja. Gotong royong menjadi wujud nyata dari kasih dalam tindakan, mencerminkan hidup Kristiani yang terbuka, peduli, dan solider. Dalam konteks Paroki St. Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing, pelayanan umat tidak hanya menjadi rutinitas rohani, tetapi menjadi pengalaman hidup bersama yang dijiwai oleh semangat komunitas dan kasih Allah yang nyata di tengah budaya lokal yang kaya dan penuh makna. Peran Gereja dalam Merawat Budaya dan Iman Peran Gereja dalam merawat nilai budaya dan iman sangatlah penting dan strategis, terutama dalam konteks komunitas lokal seperti Paroki St. Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing, yang hidup dalam kekayaan budaya Dayak Wehea. Gereja Katolik tidak hanya hadir sebagai tempat ibadah atau institusi keagamaan, tetapi juga sebagai ruang pembinaan nilai-nilai kemanusiaan, kebudayaan, dan spiritualitas yang saling terjalin secara Dalam terang ajaran Gereja, budaya dan iman bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan dua unsur yang dapat saling memperkaya bila dijalani dalam semangat Injil. Gereja berperan sebagai penjaga, pelindung, sekaligus pembaru nilai budaya. Melalui pendekatan inkulturatif. Gereja mengakui dan menghargai nilai-nilai luhur budaya lokal seperti gotong royong, musyawarah, penghormatan kepada alam, serta semangat kebersamaansebagai jalan untuk menghayati iman Kristiani secara lebih mendalam dan kontekstual. Misalnya, dalam liturgi atau perayaan-perayaan Gereja, unsur budaya lokal dapat dimasukkan, seperti bahasa daerah, tarian tradisional, musik etnik, dan simbol-simbol adat yang tidak bertentangan dengan iman Katolik. Hal ini bukan hanya memperindah perayaan, tetapi juga memberikan ruang kepada umat untuk merasa bahwa iman mereka benar-benar menyatu dengan identitas budaya mereka. Selain itu. Gereja melalui para imam, frater, suster, dan katekis memiliki tugas untuk mendampingi umat agar mampu memahami dan memilah nilai-nilai budaya mana yang selaras dengan semangat Injil dan mana yang perlu dimurnikan. Ini dilakukan melalui katekese kontekstual, pembinaan kategorial, dialog budaya, serta Thomy Sastra Atmaja. AuInternalisasi Nilai-Nilai Kearifan Lokal Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan,Ay Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan 8, no. : 175. Jurnal Fides et Ratio Vol. Nomor 1. Juni 2025 kehadiran nyata di tengah masyarakat. Gereja tidak hanya mengajar, tetapi juga mendengar dan belajar dari kearifan lokal yang telah diwariskan turun-temurun. Dalam hal merawat iman. Gereja menjadi garda depan dalam membina spiritualitas umat agar tetap teguh di tengah arus modernisasi yang sering kali membawa nilai-nilai individualisme, konsumerisme, dan sekularisme. Dengan memanfaatkan kekuatan budaya lokalAiyang masih menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan penghormatan terhadap alamAiGereja dapat menanamkan ajaran iman dengan cara yang lebih mengakar dan Iman tidak dipahami sebagai sesuatu yang asing atau jauh, melainkan sebagai kekuatan batin yang menyatu dengan kehidupan sehari-hari umat. Gereja juga mendorong generasi muda untuk mencintai budaya lokal mereka, bukan hanya sebagai warisan leluhur, tetapi sebagai bagian dari identitas mereka sebagai umat Katolik yang hidup di tengah kekayaan Program-program pembinaan OMK, misdinar, serta kegiatan sosial dan liturgis sering dijadikan sarana untuk menyampaikan nilai-nilai ini, agar iman dan budaya berjalan beriringan dan saling meneguhkan. Peran Gereja dalam merawat nilai budaya dan iman bukan sekadar menjaga agar keduanya tetap hidup, tetapi juga membangun jembatan yang kuat antara kearifan lokal dan terang Injil. Di tengah tantangan zaman. Gereja dipanggil untuk menjadi ruang dialog, pembinaan, dan penyatuan antara iman dan budaya, agar umat tidak kehilangan jati diriAibaik sebagai orang Katolik, maupun sebagai bagian dari komunitas budaya yang luhur. PENUTUP Sebagai penutup dari tulisan berjudul "Menjalin Persaudaraan dalam Terang Iman: Semangat Gotong Royong Dayak Wehea di Tengah Pelayanan Umat Paroki St. Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing", dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai luhur budaya Dayak Wehea, khususnya semangat gotong royong, memiliki tempat yang sangat penting dan relevan dalam kehidupan menggereja. Gotong royong bukan sekadar warisan tradisi, tetapi telah menjadi kekuatan spiritual dan sosial yang menopang dinamika pelayanan umat di paroki ini. Dalam terang iman Katolik, semangat saling membantu, kerja bersama, dan kepedulian terhadap sesama menemukan makna yang lebih dalam sebagai wujud nyata kasih Allah di tengah komunitas. Gereja, dalam hal ini Paroki St. Maria Ratu Damai, berperan penting dalam merawat dan mengintegrasikan nilai budaya lokal dengan ajaran iman Kristiani. Melalui berbagai bentuk pelayanan dan perayaan iman, nilai gotong royong bukan hanya dipelihara, tetapi juga diberi ruang untuk bertumbuh dan menjadi sumber kesaksian akan persaudaraan sejati. Umat diajak untuk melihat bahwa hidup menggereja bukanlah tugas segelintir orang, melainkan tanggung jawab kolektif yang dijiwai oleh semangat kasih dan kerja sama. Dengan demikian, pengalaman iman umat di Nehas Liah Bing menjadi bukti bahwa budaya dan iman bukanlah dua hal yang bertentangan, tetapi dapat berjalan seiring untuk membangun Gereja yang hidup, kontekstual, dan berakar dalam realitas umat. Semangat gotong royong Dayak Wehea yang dihidupi dalam terang Injil bukan hanya memperkuat pelayanan umat, tetapi juga mempererat persaudaraan, membentuk karakter, dan menjadi tanda kehadiran Kerajaan Allah di tengah dunia. REFERENSI