EDUSCOPE. Januari, 2023. Vol. 08 No. 02 p-ISSN : 2460 Ae 4844 e-ISSN : 2502 Ae 3985 Implementasi Pembelajaran Core Ditinjau dari Kemampuan Memecahkan Masalah Matematika Muhammad Farid Nasrulloh1. Risky Solikah Nur Faidah2. Fitri Umardiyah3. Muhammad Qoyum Zuhriawan4 1,2,3,4 Pendidikan Matematika Ae Universitas KH. Wahab Hasbullah e-mail penulis korenpondensi: faridnasrulloh@unwaha. ABSTRACT This study aims to determine whether there is an increase in students' problem-solving abilities after applying CORE . onnecting, organizing, reflecting, extendin. learning in mathematics learning and also whether the CORE model learning . onnecting, organizing, reflecting, extendin. is effective in terms of solving abilities. problems after the implementation of the CORE learning model. This research was conducted by the author on May 31, 2022 and June 8, 2022 at MTs bahrul 'UlumTambakberas Jombang. The research subjects were 25 students of class VII C on Statistics (Data Presentatio. With the number of students 25 students. This research method uses a scoring system after the pretest and posttest. For data analysis, the author requires several stages of testing, namely validity test, reliability test, normality test, homogeneity test, and Paired Sample t Test. This study uses learning tools including Learning Implementation Plans (RPP) with the CORE learning model. Student Worksheets (LKPD), and Learning Outcomes Tests according to Students' Problem-Solving Ability which have been validated by two The total average score of the two validators is 3. 21 with a match percentage of 80. This means that the test of learning outcomes according to students' ability to solve problems is very valid and feasible to use. KEYWORDS:CORE. Mathematics, problem_solving. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah adanya peningkatan kemampuan pemecahan masalah bagi siswa setelah diterapkan pembelajaran CORE . onnecting, organizing, reflecting, extendin. di dalam pembelajaran matematika dan juga apakah pembelajaran model CORE . onnecting, organizing, reflecting, extendin. efektif ditinjau dari kemampuan pemecahan masalah setelah diterapkannya model pembelajaran CORE tersebut. Subjek penelitian sebanyak 25 orang siswa kelas VII C pada materi Statistika (Penyajian Dat. Dengan jumlah siswa 25 Siswa. Metode penelitian ini menggunakan system hasil penilaian setelah dilakukannya pretest dan Analisis data penulis memerlukan beberapa tahapan uji yaitu uji kevalidan, uji reliabilitas, uji normalitas, uji homogenitas, serta Uji t Dua Sampel Berpasangan (Paired Sample t Tes. Penelitian ini menggunakan perangkat pembelajaran meliputi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan model pembelajaran CORE. Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), serta Tes Hasil Belajar menurut Kemampuan Siswa Memecahkan Masalah yang telah divalidasi 124 Muhammad. Risky. Fitri. Muhammad: Implementasi Pembelajaran Core A Matematika oleh dua validator. Skor rata-rata total dari dua validator ialah 3,21 dengan presentase kecocokan 80,21%. Artinya tes hasil belajar menurut kemampuan siswa memecahkan masalah sangat valid dan layak untuk dipergunakan. KATA KUNCI: CORE. Matematika. Pemecahan_Masalah. Article History Received: 21 September 2022 Revised: 09 Januari 2023 Accepted: 30 Januari 2023 PENDAHULUAN Pendahuluan Kemampuan pemecahan masalah siswa dapat dinilai dengan cara melihat ketepatan tahapan pemecahan masalah. Aspek-aspek yang dinilai adalah ketepatan siswa dalam memahami masalah, ketepatan dalam menyusun rencana penyelesaian masalah, ketepatan menyelesaikan masalah sesuai rencana, dan ketepatan membuat kesimpulan solusi permasalahan. Siswa yang memenuhi keempat aspek tersebut dapat dikatakan bahwa siswa tersebut sudah memiliki kemampuan pemecahan masalah. Pembelajaran yang berkualitas dapat diciptakan melalui adanya proses pembelajaran yang memperhatikan tujuan, materi, model pembelajaran, media pembelajaran, dan karakter siswa (Nasrulloh, 2. Peningkatan kualitas pendidikan nasional khususnya pada bidang matematika merupakan suatu hal yang strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, hal itu dikarenakan matematika sangat diperlukan baik untuk kehidupan sehari-hari maupun dalam menghadapi kemajuan IPTEK (Qomariyah dkk. , 2. Menurut Putri & Arigiyati . dalam pembelajaran matematika di sekolah, guru hendaknya menggunakan strategi, pendekatan, metode, dan teknik yang banyak melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik, maupun sosial. Model pembelajaran CORE . onnecting, organizing, reflecting, extendin. banyak manfaat yang dapat dirasakan oleh Salah satunya, keunggulan model pembelajaran ini adalah siswa akan terlatih untuk membuat dan mengembangkan konsep pemecahan masalah. Hingga sampai pada proses siswa mencoba untuk memecahkan masalah matematika yang diberikan guru. Dimana peserta didik dipaksa untuk menghafal informasi, mengingat dan menimbun berbagai informasi dengan kurangnya pemahaman terhadap konteks dari apa yang di ingatnya atau dipelajari dan dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari (Meishanti & Lutfiyah, 2. Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam belajar adalah aktivitas (Meishanti, 2. proses pembelajaran jangka panjang, siswa terlibat secara langsung dengan berbagai isu dan persoalan kehidupan sehari-hari, belajar bagaimana EDUSCOPE Vol. 08 No. 02 Januari 2023 125 Muhammad. Risky. Fitri. Muhammad: Implementasi Pembelajaran Core A Matematika memahami dan menyelesaikan persoalan nyata, bersifat interdisipliner, dan melibatkan siswa sebagai pelaku mulai dari merancang, melaksanakan dan melaporkan hasil kegiatan . tudent centere. Dalam proses pembelajaran siswa dituntut untuk aktif melalui aktivitas-aktivitas yang membangun kerja kelompok dan dalam waktu singkat membuat mereka berfikir tentang materi pelajaran (Hidayat dkk. , 2. Diharapkan terdapat peningkatan kemampuan pemecahan masalah bagi siswa setelah diterapkan pembelajaran CORE . onnecting, organizing, reflecting, extendin. pada pembelajaran Dari Hasil penelitian Ramadhan dkk. menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran CORE berbantuan Macromedia Flash 8 terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa. METODE Berdasarkan tujuan penelitian, peneliti akan menguji hasil kemampuan siswa dalam memecahkan masalah matematika setelah diterapkannya model pembelajaran CORE pada peserta didik kelas VII MTs Plus Bahrul AoUlum Tambakberas, maka jenis penelitian eksperimen dianggap paling relevan. Pada penelitian eksperimen hal yang paling menonjol atau ciri khususnya adalah adanya suatu perubahan atau perlakuan terhadap suatu subjek yang diteliti. Metode Pengambilan Sampel Populasi Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII Putri Mts Bahrul Ulum Tambakberas Jombang. Yang mana teknik ini dilakukan karena kurangnya sampel yang akan di teliti kurang dari 10 orang, maka semua populasi dijadikan untuk sampel (Sugiyono, 2. bukan hanya beberapa bagian saja. Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei hingga Juni 2022. Penelitian dimulai dengan observasi lapangan, pengumpulan data, hingga pengolahan materi. Tempat Penelitian Tempat untuk penelitian ini di lakukan di MTs Bahrul Ulum Tambakberas Jombang. Metode Teknik Pengumpulan Data Dan Instrumen Penelitian Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data merupakan teknik yang langkah yang paling utama digunakan dalam penelitian. Penelitian kali ini peneliti akan menggunakan tes untuk mendapatkan hasil dari data tersebut. EDUSCOPE Vol. 08 No. 02 Januari 2023 126 Muhammad. Risky. Fitri. Muhammad: Implementasi Pembelajaran Core A Matematika Instrumen Penelitian Instrument penelitian adalah alat yang nantinya digunakan untuk pengumpulan data dari variabel yang telah ditentukan oleh peniliti. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar soal tes. Lembar soal tes yang nantinya akan digunakan adalah pretest dan postest diambil dari sampel yang sebelumnya telah ditentukan oleh Metode Teknik Analisis Data Proses analisis data perlunya adanya perumusan tingkat valid yang akan dilkaukan oleh tim validator. Tim validator terdiri dari 2 validator yakni satu dari dosen dan tim Selanjutnya menyimpulkan hasil perhitungan berdasarkan pengkategorian sebagai berikut: Uji Kevalidan Pengujian validitas isi bisa dilakukan membandingkan antara isi instrument dan materi pelajaran yang terkait. Pengujian validitas isi akan dilakukan oleh dua ahli materi. Yang mana keduanya sudah lebih ahli tentang kecocokan anta instrument penilaian dengan materi yang akan disampaikan. Uji Reliabilitas Uji reliabilitas ini dilakukan dengan cara membandingkan nilai CronbachAos alpha dengan taraf signifikan yang digunakan (Sugiono, 2. Dengan kentuan mendapatkan validitas terlebih dahulu untuk instrument tersebut barulah melakukan uji reliabilitas Uji Kefektifan Uji keefektifan ini digunakan nantinya untuk menghitung hasil dari skor pretest dan posttest yang telah dilakukan dengan melalui beberapa tahapan tahapan berikut. Uji Normalitas Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data tersebut beistribusi normal. SPSS 21 merupakan alat aplikasi yang dapat digunakan untuk menghitung uji normalitas Uji Homogenitas Hipotesis yang digunakan dalam uji homogen dua kelompok adalah: Ho = varians homogen yua12 = yua22 Ha = varians tidak homogen yua12 O yua22 Dengan kriteria pengujian H0 diterima apabila F hitung < F table untuk taraf nyata yu = 5% dan dk = k-1 EDUSCOPE Vol. 08 No. 02 Januari 2023 127 Muhammad. Risky. Fitri. Muhammad: Implementasi Pembelajaran Core A Matematika Uji t Dua Sampel Berpasangan (Paired Sample t Tes. Uji t dalam penelitian ini menggunakan uji t sampel berpasangan (Paired Sample t Hasil dari uji t tes ini dapat menggunakan aplikasi SPSS 21. HASIL dan PEMBAHASAN Hasil Penelitian Data hasil penelitian ini disususn berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh penulis pada tanggal 31 Mei 2022 dan 8 Juni 2022 di MTs bahrul AoUlum Tambakberas Jombang. Subjek penelitian sebanyak 25 orang siswa kelas VII C pada materi Statistika (Penyajian Dat. Analisis Kevalidan Perangkat yang digunakan telah divalidasi dan direvisi sesuai saran dari tim validator. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) disusun yang dengan tujuansebagai pedoman ketika pelaksanaan pembelajaran di kelas berlangsung. Hasil analisis skor validasi RPP oleh dua validator diperoleh presentase kecocokan pada aspek isi diperoleh 80% dengan kriteria sangat valid serta presentase kecocokan pada aspek Bahasa diperole 79,25% dengan kriteria sangat valid. Skor rata-rata total dari dua validator ialah 3,19 dengan presentase kecocokan Berdasarkan hasil analisis diatas, maka Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dinyatakan sangat valid. Sebelum digunakan di kelas, tentunya LKPD ini harus diuji terlebih dahulu, yang mana disini peneliti menguji pada dua validator. Setelah dilakukan keujian dan tak lupa juga untuk direvisi barulah LKPD digunakan sebagai sumber bahan ajar di kelas. Hasil analisis skor validasi LKPD oleh dua validator diperoleh presentase kecocokan pada aspek materi diperoleh 82,5% dengan kriteria sangat valid serta presentase kecocokan pada aspek Bahasa dan desain diperoleh 80% dengan kriteria sangat valid. Skor rata-rata total dari dua validator ialah 3,25 dengan presentase kecocokan 81,25%. Berdasarkan hasil analisis diatas, maka Lembar kerja Peserta Didik (LKPD) dinyatakan sangat valid. Tes hasil belajar menurut kemampuan siswa memecahkan masalah ini berupa pretest dan posttest. Pretest digunakan untuk mengetahui seberapa kemampuan siswa dalam memecahkan masalah matematika sebelum diterapkannya model pembelajaran CORE. Sedangkan untuk posttest adalah suatu tost yang disunakan untuk mengukur seberapa kemampuan siswa dalam memecahkan masalah matematika sesudah diterapkannya model pembelajaran CORE. Sebelum digunakan di kelas, tentunya Tes Hasil Belajar menurut Kemampuan Siswa Memecahkan Masalah ini harus diuji terlebih dahulu, yang mana disini peneliti menguji pada dua Setelah dilakukan uji dan tak lupa juga untuk direvisi barulah tes hasil EDUSCOPE Vol. 08 No. 02 Januari 2023 128 Muhammad. Risky. Fitri. Muhammad: Implementasi Pembelajaran Core A Matematika belajar menurut kemampuan siswa memecahkan masalah digunakan sebagai sumber bahan ajar di kelas. Hasil dari validasi dari tim validator dapat dilihat pada Hasil analisis skor validasi Tes Hasil Belajar menurut Kemampuan Siswa Memecahkan Masalah oleh dua validator diperoleh presentase kecocokan pada aspek materi diperoleh 81,25% dengan kriteria sangat valid serta presentase kecocokan pada aspek kontruksi diperoleh 84,38% dengan kriteria sangat valid serta presentase kecocokan pada aspek bahasa diperoleh 75% dengan kriteria sangat valid. Skor ratarata total dari dua validator ialah 3,21 dengan presentase kecocokan 80,21%. Berdasarkan hasil analisis diatas, maka Tes Hasil Belajar menurut Kemampuan Siswa Memecahkan Masalah dinyatakan sangat valid. Setelah dinyatakan valid oleh validator maka Tes Hasil Belajar menurut Kemampuan Siswa Memecahkan Masalah ini diujuikan pada 25 siswa, kemudian di uji validitas dan reliabilitas. Uji kevalidan ini digunakan untuk menguji validitas dari butir-butir instrument lebih lanjut. Setiap soal di dalam pretest dan postes diuji kelayakannya sebelum digunakan untuk penelitian. Selain diberikan uji validitas, soal pretest dan posttest juga diuji reliabilitas. Hal ini digunakan dilakukan dengan tujuan mengetahui tentang konsistensi sebuah instrument. Berikut ini adalah tabel yang menunjukkan hasil uji reliabilitas menggunakan aplikasi SPSS 21. Berdasarkan hasil uji reliabilitas iatas dapat disimpulkan bahwa r-hitung untuk soal pretest ialah 0, 720 dan r-hitung untuk soal posttest ialah 0,837 kemudian dibandingkan dengan r-tabel = 0,632 untuk n = 10 dan tarafsignifikan () = 5%. Maka r-hitung > r-tabel, sehingga soal pretest dan posttest dapat dinyatakan reliabel. Statistika parameteris dapat digunakan apabila data berdistrubusi normal. Jika data tidak berdistribusi normal, maka hal ini tidak bisa menggunakan statistic Bahwa data berdistribusi normal. Hal itu dikarenakan nilai signifikan > 0,05. Setelah data dinyatakan berdistribusi normal, maka perlu dilakukan uji homogenitas yang bertujuan gara mengetahui apakah data tersebut Berdasarkan tabel diperoleh, dapat diambil kesimpulan bahwa data tersebut homogen. Hal itu dikarenakan nilai signifikan = 0,082 > 0,005. Apabila data sudah berdistribusi normal dan homogen. Maka langkah selanjutnya akan diberikan uji t dua sampel berpasangan. Dalam hal ini, data yang dimaksud ialah data pretest dan posttest . diperoleh nilai signifikan = 0,001. Maka dapat dinyatakan bahwa nilaisigfinikan . < taraf signifikan . sehingga ha diterima. Ha diterima berarti adanya yang perbedaan hasil belajar siswa dari kemampuan memecahkan masalah antara sebelum dan sesudah diterapkannya model pembelajaran CORE EDUSCOPE Vol. 08 No. 02 Januari 2023 129 Muhammad. Risky. Fitri. Muhammad: Implementasi Pembelajaran Core A Matematika Pembahasan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam memecahkan masalah matematika setelah diterapkannya model pembelajaran CORE (Connecting. Organizing. Reflecting. Extendin. Kemampuan memecahkan masalah matematika oleh siswa dapat diketahui setelah adanya hasil dari test yang diberikan oleh peniliti. Tes ini yang dilakukan berupa pretest yaitu agar mengetahui kemampuan siswa memecahkan masalah matematika sebelum dilakukannya pembelajaran model CORE. Sedangkan test satunya dalah posttest yang digunakan untuk mengetahui kemampuan siswa memecahkan masalah matematika setelah dilakukannya pembelajaran model CORE. Instrument yang digunakan ialah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Dengan model pembelajaran CORE. Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) serta Tes Hasil Kemampuan Siswa Memecahkan Masalah. Berdasarkan hasil validasi RPP oleh dua validator diperoleh Hal ini dapat dikatakan bahwa RPP yang digunakan oleh peneliti sangat lah valid dan layak digunakan untuk penelitian. RPP yang digunakan tentulah juga sudah terevisi oleh peneliti setelah mendapat saran dari validator. Selain RPP, peneliti juga menyusun Lmbar Kerja Peserta Didik (LKPD) sebagai sumber bahan ajar yang dilakukan dikelas. Berdasarkan hasil validasi LKPD oleh dua validator diperoleh presentase kecocokan Hal ini dapat dikatakan bahwa LKPD yang digunakan oleh peneliti sangat lah valid dan layak digunakan untuk penelitian. LKPD yang digunakan tentulah juga sudah terevisi oleh peneliti setelah mendapat saran dari Hasil validasi Tes Hasil Belajar menurut Kemampuan Siswa Memecahkan Masalah oleh dua validator diperoleh presentase kecocokan Artinya tes hasil belajar menurut kemampuan siswa memecahkan masalah sangat valid dan layak untuk Setelah uji validitas ahli, tes hasil belajar menurut kemampuan siswa memecahkan masalah diuji cobakan pada 25 orang siswa dan kemudian diberi uji kevalidan item. Hasil uji kevalidan item menyatakan bahwa seluruh butir soal rhitung > r-tabel, sehingga seluruh butir soal dapat dinyatakan valid. Hasil uji reliabilitas menyatakan bahwa r-hitung > r-tabel, sehingga tes hasil belajar menurut kemampuan siswa memecahkan masalah dinyatkan reliabel. Pada statistik parameteris,suatu data harus berdistribusi normal dan homogen. Berdasarkan perhitungan SPSS 21 untuk uji normalitas diperoleh nilai signifikan>0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal. Kemudian diuji coba EDUSCOPE Vol. 08 No. 02 Januari 2023 130 Muhammad. Risky. Fitri. Muhammad: Implementasi Pembelajaran Core A Matematika homogenitas diperoleh hasil bahwa nilai signifikan = 0,082>0,05, sehingga data tersebut juga homogen. Berdasarkan hasil uji t test, diperoleh nilai signifikan = 0,001<0,05, maka Ho ditolak dan Ha diterima. Artinya danya perbedaan kemampuan memecahkan masalah oleh siswa antara sebelum dan sesudah diterapkannya model pembelajaran CORE. Pada proses pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran CORE pada materi penyajian data dilakukan menjadi 2 kali pertemuan. Namun, sebelum masuk pada inti pembelajaran peneliti terlebih dahulu melakukan pretest kepada peserta didik terlebih dahulu agar nantinya dapat mengukur bagaimana kemampuan siswa untuk melakukan pemecahan masalah. Pada pembelajaran ini siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok bagian. Dan pada Model Pembelajaran pada model Pembelajaran CORE ada 4 tahapan inti yang ada yaitu: Connecting. Organizing. Reflecting, dan Extending. Pada tahap ini adalah awal mulai pembelajaran inti dari model pembelajran CORE. Pada tahap ini siswa akan diajukan pertanyaan-pertanyaan bagaimana tentang materi penyajian data secara lisan untuk menggali pengetahuan awal tentang materi itu dan nantinya akan dihubungkan kembali dengan pengetahuan baru terkait materi penyajian data. Pada tahap ini adalah tahap kedua dari model pembelajaran CORE yang mana disini peserta didik kan dari awal sudah berkelompok lalu ia akan mengorganisasikan informasi yang telah di dapat pada LKPD yang telah diberikan dan juga sumber buku paket yang dimiliki siswa dan pendampingan guru pada setiap kelompok. Tahapan ini sudah dimulai peserta didik untuk semakin mandiri menggali informasi lebih dalam lalu berdiskusi bersama teman sekelompoknya agar setelah itu guru menunjuk salah satu kelompok untuk mempersentasikan nantinya mampu untuk mempresentasikan dengan baik. Ini adalah tahapan paling akhir dari model pembelajaran CORE. Disini peserta didik akan memperdalam serta memperluas pengetahuannya dengan cara mengerjakan soal-soal yang telah disediakan di dalam LKPD secara masing-masing. KESIMPULAN dan SARAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Berdasrkan hasil validasi RPP oleh dua validator diperoleh presentase kecocokan pada aspek isi diperoleh 80% dengan kriteria sangat valid serta presentase kecocokan pada aspek Bahasa diperoleh 79,25% dengan kriteria sangat valid. Skor rata-rata total EDUSCOPE Vol. 08 No. 02 Januari 2023 131 Muhammad. Risky. Fitri. Muhammad: Implementasi Pembelajaran Core A Matematika dari dua validator ialah 3,19 dengan presentase kecocokan 80%. Hal ini dapat dikatakan bahwa RPP yang digunakan oleh peneliti sangat lah valid dan layak digunakan untuk Berdasarkan hasil validasi LKPD oleh dua validator diperoleh presentase kecocokan pada aspek materi diperoleh 82,5% dengan kriteria sangat valid serta presentase kecocokan pada aspek Bahasa dan desain diperoleh 80% dengan kriteria sangat valid. Skor rata-rata total dari dua validator ialah 3,25 dengan presentase kecocokan 81,25%. Hal ini dapat dikatakan bahwa LKPD yang digunakan oleh peneliti sangat lah valid dan layak digunakan untuk penelitian. Hasil validasi Tes Hasil Belajar menurut Kemampuan Siswa Memecahkan Masalah oleh dua validator diperoleh presentase kecocokan pada aspek materi diperoleh 81,25% dengan kriteria sangat valid serta presentase kecocokan pada aspek kontruksi diperoleh 84,38% dengan kriteria sangat valid serta presentase kecocokan pada aspek bahsa diperoleh 75% dengan kriteria sangat valid. Skor rata-rata total dari dua validator ialah 3,21 dengan presentase kecocokan 80,21%. Artinya tes hasil belajar menurut kemampuan siswa memecahkan masalah sangat valid dan layak untuk Berdasarkan proses dan hasil penelitian Jadi dapat disimpulkan dari semua uji bahwa pembelajaran CORE terdapat peningkatan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah matematika. DAFTAR RUJUKAN Hidayat. Lesmanawati. , & Maknun. Penerapan Model Pembelajaran Core (Connecting. Organizing. Reflecting. Dan Extendin. Terhadap Peningkatan Hasil Belajar Siswa Pada Konsep Ekosistem Di Kelas X SMAN 1 Ciwaringin. Scientiae Educatia: Jurnal Pendidikan Sains, 3. , 111Ae124. https://doi. org/10. 24235/sc. Meishanti. , dan Baroroh. Strategi Belajar Mengajar Berorientasi K-13. Jombang: Fakultas Pertanian Universitas KH. Wahab Hasbullah Meishanti. , & Luthfiyah. E-LKS Berbasis STEM (Science Technology Engineering Matemathi. Pada Materi Sistem Pernapasan Kelas XI Sekolah Menengah Atas. Jurnal Khazanah Pendidikan. Volume 15. No. September 2021, hal. http://w. id/index. php/khazanah/article/view/10689/4254 Nasrulloh. Penerapan Problem Based Learning ditinjau dari Prestasi Belajar Mahasiswa Pendidikan Matematika Mata Kuliah Statistika Probabilitas. EDUSCOPE: Jurnal Pendidikan. Pembelajaran. Dan Teknologi, 5. , 10Ae17. https://doi. org/10. 32764/eduscope. EDUSCOPE Vol. 08 No. 02 Januari 2023 132 Muhammad. Risky. Fitri. Muhammad: Implementasi Pembelajaran Core A Matematika Putri. , & Arigiyati. Efektivitas TGT Terhadap Hasil Belajar Matematika Ditinjau Dari Kemampuan Pemecahan Masalah. https://jurnal. id/index. php/etnomatnesia/article/view/2380 Qomariyah. Nasrulloh. , & Lilawati -. Penerapan Model Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Pada Materi Sistem Persamaan Linier Tiga Variabel Bagi Siswa Kelas X MIA MA-Nizhamiyah Ploso. EDUSCOPE: Jurnal Pendidikan. Pembelajaran. Dan Teknologi, 6. , 7Ae12. Ramadhan. Destiniar. , & Fitriasari. Efektivitas TGT Terhadap Hasil Belajar Matematika Ditinjau Dari Kemampuan Pemecahan Masalah SMP Negeri 15 Palembang. PROSIDING SEMINAR NASIONAL PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG, 12. Article 01. https://jurnal. id/index. php/Prosidingpps/article/view/2518 Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif. Kualitatif, dan R&D. Alfabeta. EDUSCOPE Vol. 08 No. 02 Januari 2023