Jurnal Farmasi SYIFA Volume 4. Nomor 1. Halaman 80-88. Februari 2026 Homepage: https://wpcpublisher. com/jurnal/index. php/JFS DOI: 10. 63004/jfs. Jurnal Review: Pengaruh Suatu Zat Terhadap Sistem Dalam Tubuh Dari Jamu. Obat Herbal Terstandar. Dan Fitofarmaka Serta Manfaatnya Sebagai Antiinflamasi Review Journal: The Influence of a Substance on the Body's Systems from Traditional Herbal Medicine. Standardized Herbal Medicines, and Phytopharmaceuticals, and Their Benefits as Anti-inflammatory Agents Alfi Sapitri1. Eva Diansari Marbun2. Monica Suryani1. Naufal Noli Fikri1. Rania Ultah Anggraini1. Ayu Cahya Ningtia1 Prodi S1-Farmasi. Universitas Sari Mutiara Indonesia. Medan. Indonesia Prodi Profesi Apoteker. Universitas Sari Mutiara Indonesia. Medan. Indonesia *Corresponding author: alfi. syahfitri@gmail. ABSTRAK Pemanfaatan jamu. Obat Herbal Terstandar (OHT), dan fitofarmaka di Indonesia terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap terapi berbasis bahan alam yang dinilai lebih aman dan mudah diakses. Ketiga kategori herbal tersebut memiliki tingkat pembuktian ilmiah yang bermanfaat sebagai antiinflamasi, sehingga digunakan telaah sistematis untuk menilai aktivitas biologis dan manfaat kesehatannya berdasarkan penelitian terkini. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis pengaruh zat aktif alkaloid,flavonoid, curcuminoid,steroid,saponin,tanin dan senyawa metabolik lainnya dalam jamu,OHT,dan fitofarmaka terhadap sistem tubuh manusia maupun hewan yang diujikan secara klinik maupun praklinik yang berpotensi aktivitas antiinflamasi berdasarkan studi literatur lima tahun terakhir. Metode yang digunakan adalah telaah sistematis yang meliputi penelusuran literatur, seleksi artikel berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, ekstraksi data, serta penyusunan hasil dalam bentuk tabel kualitatif. Penelitian yang dianalisis mencakup model uji in vitro, in vivo, hingga uji klinis sesuai golongan produknya. Hasil telaah menunjukkan bahwa beberapa bahan jamu seperti rimpang temulawak, ashitiba dan sambiloto terutama diuji menggunakan model in vitro serta dengan penghambatan enzim siklooksigenase COX-1 dan COX-2 hasilnya memperlihatkan aktivitas antiinflamasi. Pada kategori OHT seperti daun telang, kombinasi rimpang kunyit dengan kurma,meniran,sambiloto dan kombinasi rimpang kencur dengan daun srikaya memberikan aktivitas antiinflamasi dengan kandungan kandungan zat aktif flavanoid dan senyawa fenolik lainnya melalui penelitian secara in vitro dan in vivo. Dan pada kategori fitofarmaka seperti daun jambu biji dan phyllantus niruri juga memberikan aktivitas antiinflamasi dengan kandungan zat aktif flavanoid dan metabolik lainnya melalui penelitian secara in vivo maupun in vitro dan uji klinis terbatas. Sementara itu,. Secara regulatif. BPOM No. 32 Tahun 2019 berperan memastikan mutu serta keamanan produk herbal. Jamu. OHT, dan fitofarmaka memiliki suatu zat yang relevan sebagai antinflamasi. Kata kunci: : jamu,OHT, fitofarmaka, antiinflamasi This is an open access article under the CC BY-NC 4. ABSTRACT The utilization of jamu, standardized herbal medicines (Obat Herbal Terstandar/OHT), and phytopharmaceuticals . in Indonesia continues to expand in line with the increasing public demand for plant-based therapies that are considered safer and more accessible. These three categories of herbal products possess varying levels of scientific evidence supporting their anti-inflammatory benefits. therefore, a systematic review was conducted to evaluate their biological activities and health benefits based on recent studies. This study aims to identify and analyze the effects of active compounds such as alkaloids, flavonoids, curcuminoids, steroids, saponins, tannins, and other secondary metabolites found in jamu. OHT, and phytopharmaceuticals on human and animal physiological systems through clinical and preclinical testing, with potential anti-inflammatory activity, based on literature from the last five the method employed was a systematic review involving literature searching, article selection based on inclusion and exclusion criteria, data extraction, and compilation of results in the form of qualitative tables. The analyzed studies included in vitro, in vivo, and clinical test models in accordance with each product category. The results showed that several jamu ingredients, such as temulawak rhizome, ashitaba, and sambiloto, were mainly evaluated using in vitro models, particularly through inhibition of cyclooxygenase enzymes COX-1 and COX-2. Jurnal Farmasi SYIFA Volume 4. Nomor 1. Februari 2026 demonstrating anti-inflammatory activity. In the OHT category, butterfly pea leaves, combinations of turmeric rhizome with dates, meniran, sambiloto, and combinations of kencur rhizome with srikaya leaves exhibited anti-inflammatory activity, attributed to the presence of flavonoids and other phenolic compounds, as demonstrated through in vitro and in vivo studies. In the phytopharmaceutical category, guava leaves and Phyllanthus niruri also showed antiinflammatory activity, containing flavonoids and other secondary metabolites, supported by in vivo, in vitro, and limited clinical trials. from a regulatory perspective. BPOM Regulation No. of 2019 plays an important role in ensuring the quality and safety of herbal products. Jamu. OHT, and phytopharmaceuticals contain active compounds relevant to anti-inflammatory effects. Keywords:Jamu. OHT, phytopharmaceuticals, antiinflamatory PENDAHULUAN Indonesia megabiodiversitas dengan potensi sumber daya hayati yang sangat besar untuk pengembangan obat bahan alam. Sumber resmi mencatat bahwa Indonesia memiliki sekitar 30. 000 spesies tumbuhan yang berpotensi dimanfaatkan, dan sejumlah di antaranya telah diidentifikasi memiliki nilai ekonomi maupun potensi obat. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat penting bagi penelitian farmakognosi dan pengembangan produk herbal. (BRIN, 2. Dalam konteks pengembangan obat herbal, pemerintah membedakan produk herbal menjadi tiga kategori utama, yaitu Jamu. Obat Herbal Terstandar (OHT), dan Fitofarmaka. Pembagian ini didasarkan pada tingkat pembuktian ilmiah, proses standardisasi bahan baku, serta kebutuhan uji praklinik dan klinik. Klasifikasi tersebut penting untuk menjamin mutu, keamanan, dan manfaat produk herbal yang beredar serta menjadi landasan dalam penyusunan regulasi dan kebijakan pengembangan obat bahan alam nasional. (Gondokesumo, 2. Berbagai penelitian dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa tanaman obat dan produk herbal Indonesia memiliki berbagai pengaruh suatu zat terhadap sistem tubuh yang bermanfaat, seperti antiinflamasi yang terbukti memiliki efek untuk memperbaiki kerusakan terhadap sistem dalam tubuh. Inflamasi atau radang merupakan reaksi lokal jaringan terhadap infeksi atau cedera dan melibatkan lebih banyak mediator. Beberapa kajian terdahulu telah membahas bahwa Inflamasi memiliki angka kejadian yang cukup tinggi, dimana inflamasi dapat disebabkan oleh trauma fisik, infeksi maupun reaksi antigen dari suatu penyakit. (Juliadi dkk,2. Berdasarkan hal tersebut, tinjauan sistematis ini bertujuan untuk mengumpulkan dan merangkum hasil penelitian terbaru mengenai pengaruh suatu zat yang terkandung didalam Jamu. OHT, dan Fitofarmaka seperti senyawa flavanoid, curcuminoid dan senyawa fenolik lainnya yang bermanfaat sebagai antiinflamasi. METODE Tinjauan ini dilakukan dengan menelusuri berbagai artikel ilmiah yang berkaitan dengan Jamu. Obat Herbal Terstandar (OHT), dan Fitofarmaka. Pencarian artikel dilakukan melalui beberapa basis data, yaitu PubMed. ScienceDirect. Google Scholar, dan Portal Garuda, dengan menggunakan kata kunci jamu. OHT, fitofarmaka, aktivitas biologis, dan manfaat kesehatan. Pencarian dibatasi pada artikel yang diterbitkan antara tahun 2020 sampai 2025 agar data yang diperoleh mencerminkan perkembangan penelitian Artikel yang ditemukan kemudian disaring Penyaringan dilakukan secara bertahap, dimulai dari membaca judul, dilanjutkan dengan membaca abstrak, dan kemudian menilai isi lengkap artikel. Artikel yang dimasukkan adalah artikel yang meneliti aktivitas biologis atau manfaat kesehatan Jamu. OHT, atau Fitofarmaka, sebagai Setelah artikel terpilih, setiap artikel dianalisis untuk memperoleh informasi penting, seperti jenis penelitian, kategori herbal yang diteliti, metode yang digunakan, serta hasil utama penelitian yang mencakup kandungan zat aktifnya. Informasi tersebut kemudian dirangkum untuk membantu penyusunan bagian hasil dan Jurnal Farmasi SYIFA Volume 4. Nomor 1. Februari 2026 tanaman obat dapat memberikan efek sebagai Pengujian aktivitas pada penelitianpenelitian tersebut umumnya menggunakan metode pembagian kelompok kontrol negatif, kontrol positif, serta kelompok perlakuan, sehingga diperoleh informasi komparatif mengenai efektivitas masing-masing herbal. Data yang ditelaah kemudian dirangkum dalam tabel untuk menggambarkan hasil utama dari tiap tanaman dan produk herbal yang dikaji. HASIL Hasil telaah dari sumber data yang direview menunjukkan bahwa berbagai tanaman yang termasuk dalam golongan Jamu. Obat Herbal Terstandar, dan Fitofarmaka memiliki aktivitas biologis sebagai antiinflamasi karena zat aktif yang terkandung seperti flavonoid. Flavonoid dari Tabel 1. Aktivitas Antiinflamasi Jamu,OHT, dan Fitofarmaka Judul Artikel Hepatoprotective Effects of Curcuma xanthorrhiza Roxb. Extract Free Radical Scavenger. Inhibiting Apoptosis Inflammation Mechanisms AcetaminophenInduced Liver Injury. Penulis I Nyoman Ehrich Lister. Linda Chiuman. Maya Sari Mutia. Hartono. Ermi Girsang. Annisa Firdaus Sutendi. Hanna Sari Widya Kusuma. Dhanar Septyawan Hadiprasetyo. Wahyu Widowati . Golongan Jamu Uji Antiinflamasi Ekstrak Etanol Ashitaba (Angelica keiske. Secara In Vitro Mariama Fitriana. Wahida Hajrin. Windah Anugrah Subaidah. Sucilawaty Ridwan. Eskarani Tri Pratiwi . Jamu Anti-Inflammatory Activity Dysmenorrhea Herbal Medicine Through Inhibition of the Cyclooxygenase Enzyme Metabolomic Analysis Fajar Prasetya. Nurul Mus. Mentarry Bafadal. Nur R. Nisaa. Ani Isnawati, dan Lucie Widowati. Tahun . Jamu Metode Penelitian secara eksperimental in Sel HepG2 yang diinduksi asetaminofen diberi perlakuan ekstrak Curcuma xanthorrhiza Parameter yang dianalisis meliputi kadar sitokin (IL-1. IL-6. IL-. menggunakan metode ELISA, kadar nitric oxide (NO) dan lactate dehydrogenase (LDH) dengan uji kolorimetri, serta ekspresi gen Caspase-3. Caspase-9, dan JNK menggunakan real-time PCR . RTPCR). Penelitian secara eksperimental in metode penghambatan dengan kontrol positif natrium diklofenak. Sampel Sampel penelitian rimpang Curcuma xanthorrhiza Roxb. serta sel HepG2 . uman carcinom. yang (APAP) model cedera hati in vitro. Hasil Penelitian Hasil menunjukkan bahwa Curcuma meninngkatkan kadar IL-10 sebagai sitokin Konsentrasi AAg/mL memberikan efek hepatoprotektif sehingga disimpulkan Curcuma agen hepatoprotektor melalui mekanisme Sampel Ashitaba (Angelica keiske. dan albumin putih kampung sebagai model protein. Metode penelitian yang digunakan meliputi uji penghambatan enzim siklooksigenase COX-1 COX-2 menggunakan metode TMPD pengukuran absorbansi gelombang 590 nm. LCHRMS mengidentifikasi dan senyawa aktif yang masing-masing sampel. Sampel digunakan dalam terdiri dari ekstrak sambiloto, infusa jahe merah, infusa daun kelor, serta coklat hitam 72 natrium diklofenak digunakan sebagai pembanding obat Hasil menunjukkan bahwa Ashitaba aktivitas antiinflamasi dengan persen inhibisi 23,14% A 0,05 pada 1,5%, sehingga berpotensi antiinflamasi in vitro. Hasil menunjukkan bahwa dismenore memiliki terhadap enzim COX2 lebih dari 50 persen pada konsentrasi 1000 ppm, dengan aktivitas tertinggi ditunjukkan sambiloto, diikuti oleh kelor, coklat hitam. Analisis LCHRMS andrographolide dan Jurnal Farmasi SYIFA Volume 4. Nomor 1. Februari 2026 Uji Aktivitas Antiinflamasi Akut Ekstrak Etanol dan Ekstrak Air Daun Telang (Clitoria ternatea L. ) dengan Induksi Karagenan Ferawati Salempang Putri. Maryam Jamila Arief. Rolan Rusli. Tahun . OHT Penelitian eksperimental in vivo menggunakan metode paw edema pada tikus Aktivitas ditentukan berdasarkan inflamasi, dan persen dengan uji One Way ANOVA dan LSD Daun (Clitoria ternatea pelarut etanol 96% . dan air . Hewan uji adalah tikus putih Uji Aktivitas Ekstrak Kombinasi Rimpang Kunyit (Curcuma domestica Val. ) dan Kurma (Phoenix dactylifera L. ) sebagai Antiinflamasi Secara In Vitro. Sukmawati. Aulia Wati. Muflihunna . OHT Penelitian secara eksperimental laboratorium dengan eritrosit (Human Red Blood Cell Membrane Stabilization Metho. Pengukuran dilakukan spektrofotometer UVVis gelombang 413 nm, kontrol positif. Sampel penelitian kombinasi rimpang kunyit (Curcuma Val. dan buah kurma (Phoenix serta sel darah . sukarelawan sehat. Aktivitas Antiinflamasi Senyawa Flavonoid Ekstrak Herba Meniran (Phyllanthus niruri L. ) dengan Metode Stabilitas Satwika Budi Sawitri. Ahyana Fitrian. Amal Fadholah. Kurniawan,Nidya Rahma Kumala Tahun . OHT Metode membran sel darah (HRBC Ae Human Red Blood Cell. secara in vitro dengan penentuan nilai ICCICA Ekstrak (Phyllanthus niruri ) dengan variasi 100, 200, 400, dan 800 ppm theobromine, betaine, serta asam pipekolat dengan kadar di atas 7 berpotensi digunakan herbal antiinflamasi untuk dismenore. Hasil Penelitian . ermasuk pengaruh zat akti. Ekstrak etanol dan ekstrak air daun telang aktivitas antiinflamasi Persen inhibisi radang tertinggi terjadi pada ke-7, 57,44% pada ekstrak etanol dosis 600 mg/KgBB 44,63% pada ekstrak air konsentrasi 0,8%. Aktivitas kandungan flavonoid menghambat enzim COX LOX sehingga menurunkan mediator inflamasi, serta didukung oleh saponin, dan tanin yang bekerja menekan pelepasan histamin, menurunkan sitokin Efek ekstrak etanol dosis mg/KgBB natrium diklofenak. Hasil menunjukkan bahwa kunyit dan kurma Konsentrasi 100 ppm memberikan persen sebesar 65,64%, yang membran sel darah Semakin Ekstrak etanol herba meniran menunjukkan aktivitas antiinflamasi yang sangat kuat. Persentase stabilitas Jurnal Farmasi SYIFA Volume 4. Nomor 1. Februari 2026 Membran Sel Secara In Vitro Vis UV- Uji Aktivitas Antiinflamasi Sediaan Krim Ekstrak Etanol Daun Sambiloto (Andrographis Nee. terhadap Mencit (Mus Nur Azizah Syahrana. Faridha Yenny Nonci. Satrianti, dan Indah. OHT Penelitian merupakan eksperimen laboratorium dengan uji mencit yang diinduksi Daun sambiloto diekstraksi dengan maserasi etanol diformulasikan menjadi krim konsentrasi 1,6%. 3,2%. dan 6,4%. Efek dari perubahan volume udem kaki mencit yang diukur menggunakan hingga 120 menit. Sampel digunakan adalah (Andrographis paniculata Nee. yang diekstraksi etanol 70% dan dengan hewan uji (Mus sebanyak 15 ekor. Uji Efektivitas Antiinflamasi Sediaan Krim Kombinasi Ekstrak Rimpang Kencur (Kaempferia galanga L. ) dan Daun Srikaya (Annona squamosa L. ) pada Tikus yang Diinduksi Karagenin. Akmal Aziz. Galih Samodra. Sunarti OHT Sampel kombinasi ekstrak dan daun srikaya dosis: Formula 1 . g : 10 . Formula 2 . ,5 g : Formula 3 . Hewan uji adalah tikus putih karagenin sebagai model inflamasi Anti-Inflammatory Activity of the Extract of Guava Leaves (Psidium guajava L. in the Rat (Rattus norvegicus L. Linda Harliansyah. Widayanti. Penelitian eksperimental dengan menggunakan metode induksi karagenin 1% . ,1 m. Hewan uji negatif, kontrol positif, perlakuan (Formula 1, 2, dan . Parameter radang, nilai AUC, dan Analisis menggunakan One Way ANOVA dan uji lanjut Tukey. Penelitian menggunakan metode edema telapak kaki tikus yang diinduksi Ekstrak air subkutan dengan dosis 125, 250, dan 500 mg/kg BB. Indometasin dosis 10 mg/kg BB kontrol positif. Volume edema diukur setiap jam selama 5 jam persentase edema dan Analisis data dilakukan Weni. Fitofarmaka Sampel penelitian berupa daun jambu (Psidium Sawangan. Depok. Hewan uji yang digunakan adalah tikus putih jantan SpragueDawley berat badan 180Ae 200 gram. konsentrasi 800 ppm 99,26%, dengan nilai ICCICA sebesar 44,236 ppm kategori sangat aktif (< 50 pp. mengandung senyawa aktif Hasil penelitian menunjukkan bahwa sediaan krim ekstrak etanol daun sambiloto ditunjukkan dengan penurunan persentase radang dibandingkan Konsentrasi ekstrak 1,6% antiinflamasi paling optimal, dengan hasil yang signifikan secara statistik dibandingkan konsentrasi 3,2% dan 6,4%. Hasil menunjukkan bahwa seluruh formula krim rimpang kencur dan daun srikaya memiliki aktivitas antiinflamasi diinduksi karagenin. Formula kencur dan 10 g ekstrak daun srikaya antiinflamasi terbaik 21,6216%. Hasil menunjukkan tidak yang signifikan antar formula . >0,. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak daun jambu biji memiliki aktivitas anti-inflamasi yang dibandingkan kontrol Dosis 125, 250, dan 500 mg/kg BB masing-masing mampu menghambat 40,81%, 55,45%, dan 43,61%. Dosis 250 mg/kg memberikan efek antiinflamasi bahkan pada jam ke-4 Hal ini Jurnal Farmasi SYIFA Volume 4. Nomor 1. Februari 2026 ANOVA. Mechanism bioactive compounds of Phyllanthus niruri (Menira. Uzulul Hikmah & Asih Triastuti, 2022 Fitofarmaka PEMBAHASAN Pembahasan ini menginterpretasikan temuan aktivitas biologis jamu. OHT, dan fitofarmaka sebagai antiinfamasi berdasarkan bukti ilmiah dari uji klinis dan pra klinis. Penjelasan dimulai dari gambaran umum hasil, kemudian diikuti uraian per herbal sesuai tabel hasil. Penekanan diberikan pada model uji yang digunakan dalam setiap penelitian, mengingat jenis model uji berpengaruh langsung terhadap kekuatan bukti ilmiahnya. Hasil penelitian Rimpang temulawak (Curcuma xanthorrhiz. dengan senyawa aktif yang berperan xanthorrhizol dan kurkuminoid, meningkatkan IL-10 serta menekan mediator inflamasi untuk efek hepatoprotektif pada uji in vitro HepG2 sehingga memberikan efek pengaruhnya juga terhadap (Ehrich Lister et al. , 2. Hasil penelitian pada Ashitiba (Angelica keiske. dengan zat aktif yang berperan, yaitu flavonoid chalcone yang menghambat denaturasi protein hingga inhibisi 23,14%, dikarenakan ekstrak etanol dari tanaman Ashitaba yang berpotensi sebagai agen antiinflamasi yang teruji secara in vitro. (Mariama fitriana et al. , 2. Sambiloto antiinflamasi paling dominan dalam ramuan jamu Review literatur ilmiah. n silico, in vitro, in viv. dan beberapa uji klinis Phyllanthus niruri serta senyawa bioaktifnya Penelitian berbagai model uji: studi in silico, sel . n vitr. , hewan uji . n viv. , dan uji klinis pada subjek manusia. membuktikan bahwa ekstrak daun jambu peradangan dengan pembentukan edema. Zat aktif utama dalam daun jambu biji adalah berperan sebagai antiinflamasi dengan cara menghambat mediator pembentukan radikal Phyllanthus Studi menunjukkan bahwa: inflamasi dalam uji in vitro dan in vivo, yang teruji klinis baik pada subjek sehat maupun dismenore karena mampu menghambat enzim COX-2 dengan persentase tinggi, yang didukung oleh kandungan senyawa aktifnya yaitu andrographolide yang berperan menekan mediator Selain sambiloto, komponen lain seperti kunyit, jahe merah, kelor, dan coklat hitam juga berkontribusi dalam aktivitas antiinflamasi dengan menghambat COX-2 di atas 50% pada konsentrasi 1000 ppm, yang berkaitan dengan keberadaan senyawa aktif seperti betaine, asam pipekolat, dan Hasil analisis metabolomik LC-HRMS memperkuat bahwa kombinasi senyawa bioaktif dari seluruh bahan tersebut bekerja secara sinergis dalam menurunkan proses inflamasi penyebab nyeri menstruasi, sehingga ramuan jamu ini alami untuk dismenore. (Prasetya et al. , 2. Hasil penelitian menunjukkan efek antiinflamasi daun telang (Clitoria ternatea L. berkaitan erat dengan kandungan zat aktifnya, terutama dipengaruhi oleh kandungan metabolit sekundernya, yaitu flavonoid, alkaloid, steroid, tanin, dan saponin, yang bekerja secara sinergis menekan respons inflamasi akut. Flavonoid berperan utama dengan menghambat enzim COX dan LOX sehingga menurunkan pembentukan mediator inflamasi seperti prostaglandin dan leukotrien, sementara alkaloid menekan pelepasan histamin dan sitokin proinflamasi. Steroid alami Jurnal Farmasi SYIFA menghambat jalur asam arakidonat, tanin menurunkan aktivitas oksidatif sel imun, dan saponin mengurangi permeabilitas vaskular. Kombinasi mekanisme tersebut menyebabkan penurunan edema yang signifikan, di mana ekstrak etanol daun telang dosis 600 mg/kgBB menunjukkan efek antiinflamasi paling optimal dan sebanding dengan kontrol positif, sehingga menegaskan potensi daun telang sebagai sumber agen antiinflamasi alami. (Putri et al. , 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kombinasi rimpang kunyit (Curcuma domestica Val. ) dan kurma (Phoenix dactylifera L. memiliki aktivitas antiinflamasi yang ditunjukkan oleh meningkatnya stabilitas membran eritrosit, dengan persen inhibisi tertinggi pada konsentrasi 100 ppm sebesar 65,64%. Efek ini berasal dari kandungan flavonoid, kurkuminoid, saponin, dan tanin yang berperan dalam menstabilkan membran sel, sehingga mencegah pelepasan enzim lisosomal yang dapat memperparah proses inflamasi. Selain itu, flavonoid dan kurkuminoid menghambat jalur siklooksigenase serta menurunkan pembentukan antioksidan dari kurma membantu menekan stres Dengan demikian, aktivitas antiinflamasi ekstrak kombinasi ini merupakan hasil kerja sinergis zat aktifnya dalam menghambat dan mengendalikan respon inflamasi. (Sukmawati et ,2. Hasil menunjukkan bahwa aktivitas antiinflamasi senyawa flavonoid ekstrak herba Meniran (Phyllanthus niruri L. ) Secara in menunjukkan bahwa ekstrak etanol herba meniran mengandung senyawa flavonoid dan memiliki aktivitas antiinflamasi yang signifikan melalui metode stabilitas membran sel eritrosit (HRBC). Peningkatan konsentrasi ekstrak sebanding dengan peningkatan persentase stabilitas membran sel darah merah, dengan aktivitas tertinggi pada konsentrasi 800 ppm sebesar 99,26%. Aktivitas antiinflamasi ini berkaitan dengan kemampuan flavonoid dalam menstabilkan membran sel, menghambat pembentukan kanal ion, serta mencegah pelepasan mediator inflamasi akibat lisis Nilai ICCICA sebesar 44,236 ppm menunjukkan bahwa ekstrak herba meniran termasuk dalam kategori sangat aktif sebagai antiinflamasi meskipun masih berada di bawah potensi ibuprofen Volume 4. Nomor 1. Februari 2026 sebagai kontrol positif, sehingga herba meniran berpotensi dikembangkan sebagai alternatif antiinflamasi berbasis bahan alam. (Satwika Budi Sawitri et al. ,2. Krim ekstrak etanol daun sambiloto (Andrographis paniculata Nee. terbukti memiliki aktivitas antiinflamasi pada mencit yang diinduksi albumin, yang ditandai dengan penurunan udem Induksi albumin memicu pelepasan mediator inflamasi seperti prostaglandin dan sitokin proinflamasi sehingga menimbulkan peradangan Konsentrasi ekstrak 1,6% menunjukkan efek antiinflamasi paling optimal dibandingkan 3,2% dan 6,4%, menandakan bahwa efektivitas tidak selalu meningkat seiring kenaikan konsentrasi, kemungkinan akibat perbedaan penetrasi dan stabilitas sediaan. Efek antiinflamasi diduga andrographolide yang menghambat enzim COX-1 dan COX-2, sehingga menurunkan pembentukan Penggunaan memungkinkan kerja lokal yang efektif dengan efek maksimal pada menit ke-90 hingga 120. (Syahrana et al. , 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa krim kombinasi ekstrak rimpang kencur (Kaempferia galanga L. ) dan daun srikaya (Annona squamosa ) memiliki aktivitas antiinflamasi yang ditunjukkan oleh penurunan edema kaki tikus yang diinduksi karagenin. Efek antiinflamasi ini berkaitan dengan kandungan flavonoid pada kedua ekstrak yang bekerja dengan menghambat enzim siklooksigenase dan lipooksigenase sehingga menurunkan pembentukan mediator inflamasi seperti prostaglandin. Senyawa pendukung lain seperti alkaloid, tanin, dan saponin turut berkontribusi melalui penekanan respon inflamasi dan pengurangan permeabilitas kapiler. Formula dengan komposisi ekstrak rimpang kencur 15 gram dan ekstrak daun srikaya 10 gram menunjukkan daya antiinflamasi tertinggi, yang mengindikasikan peran dominan senyawa aktif kencur dalam menekan inflamasi akut. Penurunan nilai AUC pada kelompok perlakuan yang sebanding dengan kontrol positif menegaskan efektivitas kombinasi ekstrak sebagai antiinflamasi topikal. (Akmal Aziz et al. , 2. Hasil penelitian membuktikan bahwa ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L. Jurnal Farmasi SYIFA efektif menurunkan respon peradangan pada hewan uji, yang ditunjukkan oleh penurunan pembentukan edema dibandingkan dengan kontrol positif. Pemberian ekstrak pada dosis 125, 250, dan 500 mg/kg BB menghasilkan daya hambat edema masing-masing sebesar 40,81%, 55,45%, dan 43,61%, menunjukkan adanya hubungan dosis dengan efek anti-inflamasi, meskipun efek optimal dicapai pada dosis 250 mg/kg BB. Pada dosis ini, ekstrak tidak hanya memberikan penghambatan edema tertinggi, tetapi juga menunjukkan efek antiinflamasi yang lebih baik dibandingkan dengan indometasin pada pengamatan jam ke-4. Aktivitas tersebut berkaitan dengan kandungan flavonoid sebagai zat aktif utama, yang bekerja sebagai antiinflamasi melalui penghambatan mediator peradangan seperti prostaglandin serta penekanan pembentukan radikal bebas, sehingga akumulasi cairan dan pembengkakan jaringan dapat dikurangi dan memberikan efek yang baik secara biologis. (Weni et al. , 2. Meniran (Phyllanthus nirur. mengandung flavonoid yang berperan penting dalam aktivitas Berdasarkan hasil studi, tanaman ini terbukti mampu menurunkan respons inflamasi baik pada uji in vitro maupun in vivo. Efek kemampuan flavonoid dalam menghambat mediator peradangan, menekan aktivitas sel-sel radang, serta mengurangi pembentukan radikal bebas yang dapat memperparah inflamasi. Temuan ini kemudian diperkuat melalui uji klinis yang Phyllanthus memberikan efek antiinflamasi yang konsisten, baik pada subjek sehat maupun pada pasien, sehingga mendukung potensinya sebagai agen antiinflamasi berbasis bahan alam. (Hikmah & Triastuti, 2. SIMPULAN Tujuan tinjauan sistematis dalam jurnal tersebut adalah mengidentifikasi dan menganalisis pengaruh zat aktif seperti alkaloid, flavonoid, kurkuminoid, steroid, saponin, tanin, serta metabolit sekunder lainnya dari jamu. OHT, dan manusia/hewan melalui uji in vitro, in vivo, dan klinis . iteratur 2020-2. , untuk membuktikan potensi antiinflamasi berbasis tanaman Indonesia. Volume 4. Nomor 1. Februari 2026 Secara keseluruhan, tanaman jamu seperti temulawak (Curcuma xanthorrhiza: xanthorrhizol, kurkuminoi. , ashitaba (Angelica keiskei: flavonoid chalcon. , dan ramuan dismenore . ambiloto/Andrographis kunyit: kurkumin. jahe merah, kelor, cokelat hitam: theobromine, betaine, asam pipekola. menunjukkan aktivitas antiinflamasi via inhibisi COX-1/2 dan peningkatan IL-10. OHT seperti daun telang (Clitoria ternatea: flavonoid, alkaloid, steroid, saponin, tani. , kombinasi kunyit-kurma . urkuminoid, fenoli. , meniran (Phyllanthus niruri: flavonoi. , krim sambiloto . , kencur-srikaya (Kaempferia galanga-Annona squamosa: fenolik, monoterpe. efektif stabilisasi membran dan reduksi edema karagenan. sementara fitofarmaka daun jambu biji (Psidium guajava: flavonoid quercetin-like, tanin, triterpe. dan meniran memberikan inhibisi prostaglandin/radikal bebas terkuat hingga melebihi indometasin, didukung regulasi BPOM No. 32/2019 untuk mutu dan Kesimpulannya, zat aktif ini bekerja COX/LOX, proinflamasi, histamin, serta oksidasi, menjadikan produk herbal Indonesia terapi komplementer antiinflamasi yang aman dan terstandar. UCAPAN TERIMA KASIH