Jurnal Budi Pekerti Agama Islam Volume 3. Nomor 4. Agustus 2025 e-ISSN : 3031-8343 p-ISSN : 3031-8351. Hal. DOI: https://doi. org/10. 61132/jbpai. Available online at: https://journal. id/index. php/jbpai Pengaruh Program Pembiaasaan 0 Jam terhadap Pembentukan Karakter Islami Siswa di SMP MaAoarif NU 2 Kemranjen Abdul Fatah Ar Royyaan Program Studi Pendidikan Agama Islam FTIK. Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto. Indonesia Alamat: Jl. Yani No. Karanganjing. Purwanegara. Kabupaten Banyumas. Indonesia Korespondensi penulis: abdulroyyaan@icloud. Abstract. The background of this research is the importance of pursuing knowledge based on good morals. The formation of Islamic character based on good morals is an important aspect that needs to be emphasized in students' lives, both in the school environment and in society. This is because good character is a reflection of the success of education, especially education based on Islamic values. However, at SMP Ma'arif NU 2 Kemranjen, several student behavioral problems were still found that indicate the suboptimal formation of Islamic character. Some students appeared unprepared when submitting memorization targets . , were still outside the classroom when learning began, and arrived late to participate in the 0-hour habituation program. These problems indicate the importance of evaluating the effectiveness of the 0-hour habituation program that has been implemented by the school as an effort to form Islamic character. Therefore, this study aims to determine whether there is an effect of the 0-hour habituation program on the formation of students' Islamic character. This study used a quantitative approach with a descriptive survey method. The population in this study were all 107 eighthgrade students of SMP Ma'arif NU 2 Kemranjen from three classes. Data collection techniques were conducted through documentation of the 0-hour habituation program scores given by teachers and the Islamic character formation questionnaire completed by students. The data analysis technique used was descriptive statistics, with the calculation of averages, percentages, and data categorization. The results of the study indicate that the 0-hour habituation program did not have a significant impact on the formation of students' Islamic character. Nevertheless, this program is still being implemented because it is believed to have various benefits that can support the long-term character education process. This research contributes to schools in evaluating and developing more effective strategies for forming students' Islamic character. Keywords: 0 Hours Familiarization Program. Akhlakul Karimah. Character Education. Islamic Character Formation. Students. Abstrak. Latar belakang penelitian ini dilakukan karena pentingnya menuntut ilmu yang berlandaskan pada akhlak yang baik. Pembentukan karakter Islami yang berdasarkan akhlakul karimah menjadi aspek penting yang perlu ditekankan dalam kehidupan siswa, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Hal ini dikarenakan karakter yang baik merupakan cerminan dari keberhasilan pendidikan, khususnya pendidikan berbasis nilai-nilai Islam. Namun, di SMP MaAoarif NU 2 Kemranjen, masih ditemukan sejumlah permasalahan perilaku siswa yang menunjukkan belum optimalnya pembentukan karakter Islami. Beberapa siswa terlihat kurang siap saat memberikan laporan target . hafalan, masih berada di luar kelas saat pembelajaran dimulai, serta datang terlambat dalam mengikuti program pembiasaan 0 jam. Permasalahan tersebut menunjukkan pentingnya evaluasi terhadap efektivitas program pembiasaan 0 jam yang selama ini dijalankan oleh pihak sekolah sebagai upaya pembentukan karakter Islami. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh program pembiasaan 0 jam terhadap pembentukan karakter Islami siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas Vi SMP MaAoarif NU 2 Kemranjen yang berjumlah 107 siswa dari tiga kelas. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi nilai pembiasaan 0 jam yang diberikan oleh guru serta angket pembentukan karakter Islami yang diisi oleh siswa. Teknik analisis data yang digunakan adalah statistik deskriptif, dengan penghitungan ratarata, persentase, dan pengkategorian data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program pembiasaan 0 jam tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap pembentukan karakter Islami siswa. Meskipun demikian, program ini tetap dijalankan karena diyakini memiliki berbagai manfaat yang dapat mendukung proses pendidikan karakter dalam jangka panjang. Penelitian ini memberikan kontribusi bagi pihak sekolah dalam mengevaluasi serta mengembangkan strategi yang lebih efektif dalam pembentukan karakter Islami siswa. Kata Kunci: Program Pembiasaan 0 Jam. Akhlakul Karimah. Pendidikan Karakter. Pembentukan Karakter Islami. Siswa. Received: Juni 12, 2025. Revised: Juli 16, 2025. Accepted: Agustus 01, 2025. Published: Agustus 02, 2025 Pengaruh Program Pembiaasaan 0 Jam terhadap Pembentukan Karakter Islami Siswa di SMP MaAoarif NU 2 Kemranjen LATAR BELAKANG Masyarakat pada era sekarang merasa resah dengan anak-anak yang minim dengan karakter yang baik, kewajiban seorang anak adalah berbakti kepada orang tua dan tidak lupa untuk mencari ilmu tapi pada kenyataannya zaman sekarang banyak anak-anak yang belum menanamkan itu semua. Seperti hal nya bermalas-malasan, sekolah dari rumah berangkat tapi tidak sampai ke sekolah dengan hal itu pentingnya arahan dan bimbingan dalam pembelajaran di lembaga supaya anak-anak yang begitu bisa berubah dengan adanya pembelajaran karakter Islami. (Sugiharto, 2. Karakter Islami yang berkaitan dengan hakikat akhlak itu sendiri dapat dipahami secara sederhana sebagai suatu kualitas yang bersumber dari ajaran Islam. Karakter Islami adalah suatu tindakan yang dilakukan secara sederhana dan rutin sesuai dengan ajaran Islam. Sebagaimana yang telah dicontohkan dalam perintah Allah kepada Nabi Muhammad SAW untuk menyempurnakan akhlak bagi umatnya, gagasan tentang pendidikan akhlak juga sudah ada sejak beliau masih hidup. Banyak sekali anugerah yang tidak dimiliki oleh makhluk lain, yang hanya dimiliki oleh manusia, yang diciptakan oleh Allah. Kemampuan akal untuk menahan emosi dan hawa nafsu agar dapat mengembangkan akhlak yang kuat dalam menghadapi berbagai kesulitan merupakan karakteristik unik manusia yang membuatnya unik dalam mengejar kemuliaan dan kebahagiaan. Dengan adanya program pembiasaan 0 jam yang mana diterapkan disalah satu tempat bisa menjunjung martabat manusia dengan penekanan pada karakter Islami peserta didik. (Anriani, 2. Kata pembiasaan berasal dari kata dasar Auselalu,Ay dengan akhiran AupeanAy yang menunjukan suatu proses. Pembiasaan adalah metode dapat digunakan untuk mengajar muridmurid agar berpikir, bertindak, dan berperilaku sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Sebelum dimulainya Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang dirancang untuk meningkatkan pemahaman dan pengalaman pendidikan siswa terhadap materi pelajaran, khususnya mata pelajaran agama Islam yang diajarkan di sekolah. dalam rangka lebih memperkaya dan memperluas wawasan ilmu pengetahuan, pelaksanaan 0 jam pelajaran tersebut disamakan dengan jam tambahan, secara khusus, kegiatan peningkatan pembelajaran yang dilakukan di luar jam sekolah reguler, dan keterampilan yang diperoleh melalui keterlibatan dengan lingkungan sekitar. Jurnal Budi Pekerti Agama Islam Ae Volume 3. Nomor 4. Agustus 2025 e-ISSN : 3031-8343 p-ISSN : 3031-8351. Hal. KAJIAN TEORITIS Menurut (Sari & Ismail, t. Melalui kegiatan belajar yang berulang-ulang, baik secara individu maupun kelompok, pembiasaan juga dapat menciptakan suatu kompetensi. Sebelum dimulainya Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang dirancang untuk meningkatkan pemahaman dan pengalaman pendidikan siswa terhadap materi pelajaran, khususnya mata pelajaran agama Islam yang diajarkan di sekolah. dalam rangka lebih memperkaya dan memperluas wawasan ilmu pengetahuan, pelaksanaan 0 jam pelajaran tersebut disamakan dengan jam tambahan, secara khusus, kegiatan peningkatan pembelajaran yang dilakukan di luar jam sekolah reguler, dan keterampilan yang diperoleh melalui keterlibatan dengan lingkungan sekitar. (Dalimoenthe dkk. , 2. Keunggulan program pembiasaan menggunakan adanya program ini, peserta didik tak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi pula di pengembangan spiritual yg mendalam. primer artinya adanya rutinitas membaca Al-QurAoan yang dilakukan biasa dilaksanakan setiap pagi kegiatan Tadarus ini tidak hanya bertujuan buat mempertinggi kemampuan membaca AlQurAoan, tetapi jua buat membiasakan siswa pada menjalankan ibadah serta mendekatkan diri pada Allah SWT sejak dini. Selain itu, shalat dhuha yang dilakukan pada jam ke-0 setiap hari pula menjadi kegiatan rutin yg membantu siswa buat memulai hari dengan ibadah serta berdoa, yang mana ini bisa menaikkan pencerahan spiritual mereka. di sekolah, baik shalat dzuhur juga shalat ashar, juga adalah keliru satu keunggulan dari program ini. Melalui kegiatan ini, siswa dibiasakan buat melaksanakan shalat sempurna waktu dan secara berjamaah, yang mana hal ni menanamkan nilai-nilai kebersamaan serta disiplin dalam diri mereka. Shalat berjamaah pula menjadi momen bagi peserta didik buat merenungkan dan menghayati makna berasal ibadah tersebut, yang akhirnya bisa memperkuat ikatan spiritual mereka dengan Allah SWT. (Damayanti, 2. Karakter manusia pada dasarnya diciptakan oleh Allah berbeda-beda, perbedaan inilah yang menjadi daya tarik bagi pendidik supaya dari perbadaan inilah melekat karakter peserta didik yang sama yaitu akhlak yang baik. Mengingat pentingnya pembinaan nilai-nilai Islam pada siswa di dunia modern, setiap sekolah harus menemukan solusi unik untuk masalah pengembangan karakter. Siswa di fasilitas pendidikan karakter Islam dapat dibentuk oleh studi atau program pendidikan mereka. Pengembangan karakter Islami seperti akhlakul karimah di lingkup masyarakat ataupun sekolah peserta didik dikenal baik. (Yuniarti dkk. , 2. (Yuniarti , 2. Menjelaskan dalam pandangan Islam, karakter yang luhur dan mulia terdapat pada akhlak Nabi Muhammad SAW, manusia yang paling terhormat, yang tercermin dalam setiap kata, tindakan, dan persetujuannya. Ciri-ciri yang menjadi teladan adalah akhlak-akhlak mulia Pengaruh Program Pembiaasaan 0 Jam terhadap Pembentukan Karakter Islami Siswa di SMP MaAoarif NU 2 Kemranjen yang dimiliki oleh Beliau. Islam sebagai agama yang kaya akan nilai-nilai spiritual memiliki jejak karakter yang jelas dan sistematis. Karakter Islami adalah karakter individu yang berakhlak karimah. Oleh karena itu, pembentukan karakter Islami yang baik merupakan upaya sadar yang dilakukan untuk membentuk peserta didik agar menjadi individu yang berakhlak Sementara Ibnu Miskawaih, seorang ulama terkemuka, menekankan karakteristik yang terbenam dalam roh manusia, memotivasi dia untuk berbuat tanpa pemikiran. Dengan demikian menegaskan bahwa akhlak lebih menekankan pada aspek-aspek internal dari perilaku manusia yang terbentuk alami. (Wahyuni & Putra, 2. Pengembangan karakter Islam melibatkan penjelasan yang mendalam tentang asal usul ajaran Islam dan ditunjukkan oleh perilaku manusia yang dinamis berdasarkan aturan-aturan Islam. Sementara pendidikan karakter merupakan bagian dari penanaman akhlak yang baik, khususnya ilmu yang memberikan petunjuk, bimbingan, arahan, dan pelatihan kepada murid-muridnya agar mereka memiliki akhlak yang baik. Islam merupakan bagian dari perluasan ilmu dalam membangun keberagaman mental dan perilaku dalam diri seseorang. Watak, sifat, dan karakter merupakan definisi karakter. Karakter berasal dari sifat yang dimiliki, akhlak dan karakter saling terkait erat dalam pandangan Islam. Karakter yang bersumber dari ajaran Islam atau berdasarkan prinsip-prinsip Islam yang mudah diungkapkan dan menjadi aturan yang berasal dari ajaran Islam merupakan definisi karakter Islam yang paling mendasar. (Lubis dkk. , 2. Guru pertama dan terpenting bagi seorang anak adalah keluarganya karena keluarga memberikan pendidikan pertama bagi anak dan meletakkan dasar bagi pertumbuhan dan perkembangan di masa mendatang. Perilaku, kebiasaan, dan etika anak terbentuk dalam kerangka keluarga. Ibu dan ayah bertanggung jawab untuk memberikan perawatan, bimbingan, pengasuhan, dan pendidikan kepada anak-anaknya. Namun, pada masa ini, sekolah dan lembaga sosial lainnya lebih banyak mengambil alih pendidikan yang sebelumnya menjadi tanggung jawab keluarga. Pada awal tahun 2022, pendidikan prasekolah sebagian besar telah menggantikan peran ibu. Perkembangan karakter juga sangat dipengaruhi oleh masyarakat. Dari pandangan para ulama ini, kita dapat melihat bagaimana akhlak dan adab memiliki makna dan dimensi yang berbeda, tetapi masih dalam satu konteks dalam pembentukan karakter Islami dan perilaku manusia. Akhlak sebagaimana menyoroti aspek-aspek internal dari moralitas dan karakter, sementara adab menekankan aplikasi dan implementasi nilai-nilai tersebut dalam interaksi sosial dan hubungan manusiawi. (Siti Solehah, 2. Terwujudnya nilai-nilai kebajikan dapat menandai dimulainya proses pembentukan karakter. Kesadaran ini kemudian berkembang menjadi keyakinan, yang sehari-hari. Seseorang Jurnal Budi Pekerti Agama Islam Ae Volume 3. Nomor 4. Agustus 2025 e-ISSN : 3031-8343 p-ISSN : 3031-8351. Hal. menggambarkan perkembangan kesadaran ini sebagai proses pencerahan. Berbagai peristiwa atau media, termasuk mendengar cerita, membaca buku, mengenal seseorang, menonton acara, atau menjalani suatu pengalaman, dapat menyebabkan atau memicu kesadaran ini. Ini adalah proses pembelajaran dari dalam ke luar. Di sisi lain (Yasin, t. ) karakter dikembangkan melalui dorongan untuk melakukan perbuatan baik, yang menjadikan perbuatan baik tersebut menjadi norma yang baik dan menyebarkan pengetahuan dan pendapat tentang betapa pentingnya tindakan tersebut dalam membangun kehidupan yang layak. Proses pengembangan karakter ini dikenal sebagai pendekatan "dari dalam ke luar". (Candra Susanto dkk. , 2. Pada era saat ini pembentukan karakter Islami mulai berkembang dengan adanya karakter moderat dimana para pencari ilmu yang menempuh pembelajaran dipesantren diharuskan bisa menjadi seseorang yang moderat apalagi selama masa seperti ini. Tantangan seperti ini supaya menjadi jadi bagi orang islam supaya bisa mengikuti era globalisasi yang sekarang ini sudah sangat berkembang didunia, maka perlunya mempunya jiawa terutama karakter Islami yang bagus supaya bisa menyikapi apa aja yang datang pada diri seseorang. Karakter Islami sangatlah mudah dikembangkan bagi orang yang belajar dipesantren karena diajarkan ilmu-ilmu keagamaan yang relatif positif da nada guru yang benar-benar menguasai ilmu tersebut dengan perantara belajar sunggu-sungguh pada guru yang lebih alim. Karakter Islami tidak hanya penting individu saja tapi bagi negara sangat dibutuhkan untuk pelajar yang mempunyai karakter Islami baik karena tidak hanya masyarakat setempat saja yang mempercayai tapi sampai orang satu negara. (Pertiwi dkk. , t. ) Kualitas pribadi siswa, yang terhubung dengan kualitas yang membedakan reaksi individu tanpa memeriksa faktor-faktor yang menciptakannya, merupakan salah satu komponen pengembangan karakter. Hal ini juga berlaku untuk motivasi di balik upaya membantu siswa mengembangkan karakter mereka melalui tugas membaca. Karakter seseorang terbentuk dari komponen kualitas pribadi mereka. dengan kata lain, siswa dengan berbagai sifat karakter dapat memengaruhi kecerdasan emosional mereka. Ketika siswa benar-benar disiplin dan tidak menerima isyarat eksternal untuk bertindak, mereka akan bertindak atas inisiatif mereka sendiri tanpa kendali eksternal. Faktor-faktor pembentukan karakter Islami (Muhammad Rijal Aufa dkk. , 2. Pendidikan dan Pengajaran Ae Program pembiasaan 0 jam termasuk dalam ranah pendidikan, karena bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai Islami melalui pembelajaran seperti Tahfidz. Nahwu Sorof, dan kajian kitab kuning. Menurut hasil penelitian, pendidikan berbasis nilainilai Islami ada pengaruh begitu signifikan untuk membentuk karakter siswa di sekolah. Pengaruh Program Pembiaasaan 0 Jam terhadap Pembentukan Karakter Islami Siswa di SMP MaAoarif NU 2 Kemranjen Lingkungan Sekolah Ae Program pembiasaan ini berlangsung di lingkungan sekolah, yang berarti siswa terpapar secara langsung dengan nilai-nilai positif yang terinternalisasi melalui aktivitas rutin. Lingkungan sekolah yang baik memiliki korelasi positif dengan pembentukan karakter Islami siswa. Keteladanan (Uswah Hasana. Ae Guru dan pembimbing dalam program pembiasaan 0 jam berperan sebagai teladan yang memberikan contoh bagaimana menjalankan nilai Islami dalam kehidupan sehari-hari. Keteladanan guru merupakan faktor dominan untuk membentuk siswa yang mempunyai karakter pada sekolah yang berbasis ajaran Islam. Pembiasaan dan Ibadah Ae Melalui kegiatan rutin seperti membaca Al-QurAoan, menghafal, dan kajian ilmu agama, siswa akan terbiasa menjalankan perilaku positif sesuai ajaran Islam. Kebiasaan berulang dalam konteks pembelajaran Islami dapat memperkuat nilainilai karakter dalam kehidupan siswa sehari-hari Pengembangan karakter Islami seperti akhlakul karimah di lingkup masyarakat ataupun sekolah peserta didik dikenal baik. Namun, di SMP MaAoarif NU 2 Kemranjen masih ada sebagian siswa yang sulit untuk menerapkan akhlakul karimah yang baik di depan masyarakat yang ada. Seperti hal nya waktu setoran ada yang belum siap, pembelajaran sudah dimulai tapi masih diluar ruangan, berangkat mengikuti program pembiasaan 0 jam telat. Dengan hal inilah perlunya pembentukan karakter pada siswa yang lebih merata lagi. Meskipun demikian, sekolah ini terus menjalankan program pembiasaan 0 jam karena mungkin banyak kemanfaatannya untuk peserta didik. Berdasarkan pemaparan latar belakang di atas, maka peneliti akan melakukan penelitian bagaimana Pengaruh Program Pembiasaan 0 Jam terhadap Pembentukan Karakter Islami siswa dengan tujuan untuk mengetahui lebih dalam pengaruh program pembiasaan 0 jam terhadap pembentukan karakter Islami siswa. Pada dasarnya pembiasaan 0 jam sangat berpengaruh positif dalam pembentukan karakter Islami siswa, namun ada beberapa area seperti partisipasi siswa laki-laki maupun perempuan masih perlu ditingkatkan dalam bentuk karakternya dan tanggung jawabnya. Dengan penelitian ini bertujuaan untuk menekankan pembentukan karakter Islami siswa di sekolah terutama untuk pendidikan agama islam. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi pembaca untuk mengetahui bagaimana program pembiasaan 0 jam di sekolah memberikan pengaruh. Diharapkan pula bahwa penelitian ini dapat menjadi panduan bagi peneliti di masa mendatang yang ingin melakukan penelitian Jurnal Budi Pekerti Agama Islam Ae Volume 3. Nomor 4. Agustus 2025 e-ISSN : 3031-8343 p-ISSN : 3031-8351. Hal. METODE PENELITIAN Penelitian ini menerapkan jenis penelitian survei dengan metode deskriptif kuantitatif. Kuantitatif dapat dianggap sebagai jenis penelitian yang datanya berbasis angka-angka, namun jika kita ingin menyelami lebih dalam, maka pendekatan kuantitatif adalah metodologi penelitian yang mengadopsi pendekatan positivisme . endekatan klasik-objekti. Survei deskriptif dijelaskan oleh (Amrulloh, 2. adalah survei yang digunakan untuk menggambarkan populasi yang sedang diteliti. Fokus dari penelitian ini adalah perilaku yang sedang berlangsung dan terdiri dari variabel-variabel tertentu. Penelitian ini melibatkan pengumpulan data dari sampel yang representative melalui survei yang kemudin dianalisis secara statistic. Sasaran penelitian ini tidak sembarang tempat akan tetapi merujuk pada sekolah yang benar-benar melaksanakan program tersebut. SMP MaAoarif NU 2 Kemranjen, sebuah sekolah yang menerapkan program pembiasaan 0 jam sebagai bagian dari kurikulum merdeka. Sekolah ini terdapat di desa yang merupakan sekolah dikawasan pesantren dan mayoritas siswanya bertempat tinggal dipesantren tepatnya di Pondok Pesantren Roudlotul QurAoan Sirau. Populasi adalah totalitas objek/subjek penelitian, sedangkan populasi dari penelitian ini adalah siswa kelas Vi SMP MaAoarif NU 2 Kemranjen yang terdiri dari 3 kelas dengan total siswa 107 orang. Menurut (Candra Susanto dkk. , 2. Sampel adalah sebagian atau perwakilan yang memiliki ciri-ciri representasi dari populasi. Seluruh populasi yang terdapat dalam penelitian ini digunakan sebagai responden penelitian, yang berarti ini adalah penelitian Peneliti dalam mencari informasi mengenai beberapa permasalahan yang dihadapi sekolah menggunakan wawancara yang terstruktur. Pedoman wawancara yang digunakan adalah pertanyaan yang hanya berfokus pada garis besar saja. Sedangkan narasumber terdiri dari kepala sekolah, dewan guru, siswa, dan pengurus PONPES. Observasi dalam penelitian ini untuk menemukan permasalahan pada program pembiasaan 0 jam dan pembentukan karakter Islami siswa di sekolah tetapi melalui pengamatan langsung. Peneliti disini akan melakukan observasi terkait dengan pengaruh program pembiasaan 0 jam terhadap pembentukan karekter Islami siswa kelas Vi SMP MaAoarif NU 2 Kemranjen. (Furidha, 2. Metode dokumentasi yang peneliti maksud disini ialah dokumen untuk mengambil data program pembiasaan 0 jam meliputi Tahfidz. Nahwu Sorof dan Akhlakul Banin yang berupa data nilai dari guru pengampu program pembiasaan 0 jam. (Hasmirati dkk. , 2. Angket digunakan sebagai metode utama pengumpulan data untuk penelitian ini. Angket adalah metode yang mengharuskan partisipan untuk melengkapi serangkaian pernyataan dari peneliti. Pengaruh Program Pembiaasaan 0 Jam terhadap Pembentukan Karakter Islami Siswa di SMP MaAoarif NU 2 Kemranjen Angket tertutup digunakan dalam penelitian ini. Secara khusus, kuesioner yang berisi jawaban pilihan ganda lebih mudah diisi oleh responden dan lebih mudah diverifikasi oleh peneliti. Metode ini digunakan untuk mengumpulkan informasi tentang evolusi karakter Islam. Analisis data penelitian ini menggunakan statistik deskriptif (Putu Gede Subhaktiyasa , 2. merupakan statistik yang pengorganisasian, pengumpulan, penyajian dan peringkasan data yang disajikan dalam bentuk table dengan tujuan untuk memberikan gambaran atau ringkasan dari data-data yang telah terkumpul dan mudah dipahami. Penelitian ini menggunakan statistik nilai rata-rata dari Tahfidz. Nahwu Sorof. Kitab Akhlakul Banin. Sementara nilai angket diperoleh dari jumlah skor yang didapatkan dari semua jawaban pernyataan kemudian dikonversi sesuai dengan skor pembiasaan . Pengambilan kesimpulan ada atau tidaknya pengaruh berdasarkan kategori nilai rata-rata pembiasaan 0 jam (X) dan angket pembentukan karakter Islami (Y) menggunakan skor nilai standar sebagaimana dalam tabel. Tabel 1. Rumus Kategori Variabel Z Z adalah nilai rata-rata dari skor rata-rata gabungan X dan Y sedangkan M merupakan nilai mean dan SD merupakan standar deviasi. Kategori untuk nilai rata-rata masing-masing skor pembiasaan 0 jam (X) dan pembentukan karakter Islami siswa (Y) menggunakan perhitungan yang sama pada tabel 1. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini di SMP Ma'arif NU 2 Kemranjen yang terletak di Kecamatan Kemranjen Kabupaten Banyumas tepatnya di Jalan Sirau RT 02 RW 02. Awalnya berawal dari keprihatinan para masyayih Pondok Pesantren Roudhotul Quran Sirau karena lingkungan sekitar Desa Sirau tempat berdirinya sekolah tersebut kurang disiplin, selain itu juga karena keinginan untuk menjadi sekolah yang unggul. Hasil Perhitungan Statistik Deskriptif Untuk melihat gambaran data secara keseluruhan, pengukuran statistik deskriptif harus dilakukan untuk variabel ini. Pengukuran ini meliputi nilai rata-rata (Mea. , nilai maksimum (Ma. , nilai minimum (Mi. , dan deviasi masing-masing, khususnya Nilai Kuesioner Jurnal Budi Pekerti Agama Islam Ae Volume 3. Nomor 4. Agustus 2025 e-ISSN : 3031-8343 p-ISSN : 3031-8351. Hal. Pembentukan Karakter Islam (Y) dan Nilai Kebiasaan 0 Jam (X). Tabel berikut menampilkan temuan perhitungan statistik deskriptif penelitian: Tabel 2. Perhitungan Statistik Deskriptif Descriptive Statistics Nilai Pembiasaan 0 Jam Skor Angket Pembentukan 107 Karakter Valid N . Min Max Mean Std. Deviation 7,571 Berdasarkan Hasil Uji Statistik Deskriptif di atas, distribusi data yang diperoleh oleh peneliti dapat digambarkan sebagai berikut: Variabel Nilai Pembiasaan 0 Jam (X), dari data ini dapat dijelaskan bahwa nilai minimum adalah 53 sedangkan nilai maksimum mencapai 97 dan rata-rata total nilai setiap semesternya yaitu 78,81. Standar deviasi untuk data Nilai Pembiasaan 0 Jam adalah 7,571. Variabel Skor Angket Pembentukan Karakter Islami (Y), dari data ini dapat dijelaskan bahwa nilai minimum adalah 59 sedangkan nilai maksimum mencapai 98 dan rata-rata total skor angket yaitu 79,77. Standar deviasi untuk Skor Angket Pembentukan Karakter Islami adalah 8,003. Tabel 3. Kategori Skor Variabel Z Nilai Z > 83,694 73,428 O Z O 83,694 Z < 73,428 Kategori Tinggi Sedang Rendah Dari klasifikasi kategori skor yang telah disebutkan di atas, berdasarkan perhitungan data skor yang tercantum, maka hasil pembentukan 0 jam diperoleh sebagai berikut: Tabel 4. Tingkat Hasil Skor Variabel X Pada Kategori Z Valid Rendah Sedang Tinggi Total Frequency Kategori Percent Valid Percent Cumulative Percent Berdasarkan tabel di atas, diperoleh hasil dari variabel (X) kategori rendah 15 . ,0%), kategori sedang 65 . ,7%), dan kategori tinggi 27 . ,2%). Dengan hal ini, maka dapat dilihat bahwa pembiasaan 0 jam dalam kategori sedang. Pengaruh Program Pembiaasaan 0 Jam terhadap Pembentukan Karakter Islami Siswa di SMP MaAoarif NU 2 Kemranjen Tabel 5. Tingkat Hasil Skor Variabel Y Pada Kategori Z Kategori Valid Rendah Sedang Tinggi Total Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Hasil penelitian variabel (Y) kategori rendah 17 . ,9%) ditunjukkan pada tabel di atas, kategori sedang 60 . ,1%) dan kategori sedang 30 . ,0%). Hal ini menempatkan pengembangan karakter Islam pada kategori sedang. Pembahasan Dalam perspektif pendidikan Islam, pembiasaan mempunyai peran penting dalam membentuk karakter Islami karena kebiasaan yang dilakukan secara terus-menerus akan menanamkan nilai moral dan akhlak dalam diri siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program pembiasaan 0 jam memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan karakter Islami siswa di SMP MaAoarif NU 2 Kemranjen. Berdasarkan hasil analisis statistik menggunakan SPSS 30, diperoleh bahwa nilai rata-rata pembiasaan 0 jam sebesar 78,81 dengan standar deviasi 7,571. Sedangkan skor angket pembentukan karakter Islami memiliki rata-rata sebesar 79,77 dengan standar deviasi 8,003. Hasil perolehan dari program pembiasaan 0 jam kategori rendah 15 . ,0%), kategori sedang 65 . ,7%), dan kategori tinggi 27 . ,2%). Dengan hal ini, maka dapat dilihat bahwa pembiasaan 0 jam dalam kategori sedang. Sedangkan hasil dari pembentukan karakter Islami kategori rendah 17 . ,9%). Kategori sedang 60 . ,1%), dan kategori tinggi 30 . ,0%). Hasil menyatakan setiap presentasi hasil kategori pembiasaan 0 jam dan pembentukan karakter Islami siswa keduanya mendapati presentasi tinggi dikategori sedang seperti yang tertera diatas. Dengan hal ini pembentukan karakter Islami termasuk dalam kategori sedang. Berdasarkan nilai rata-rata dari program pembiasaan 0 jam dan pembentukan karakter Islami siswa diperoleh nilai rata-rata berbeda yang berarti ada pengaruh. Sedangkan berdasarkan kategori program pembiasaan 0 jam tidak ada pengaruh terhadap pembentukan karakter Islami, sebab hasil dari setiap kategori diperoleh sama yaitu kategori sedang. Maka dalam penelitian program pembiasaan 0 jam terhadap pembentukan karakter Islami siswa di SMP MaAoarif NU 2 Kemranjen tidak ada pengaruhnya. (Sari & Ismail, t. Walaupun faktorfaktor pembentukan karakter Islami salah satunya dari pembentukan karakter Islami siswa, namun hal ini tidak berarti program tersebut bukan faktor pembentuk karakter, tetapi bisa jadi efektivitasnya belum optimal atau ada faktor lain, seperti dukungan keluarga, pengaruh teman sebaya, atau lingkungan sosial yang lebih dominan dalam membentuk karakter siswa. Jurnal Budi Pekerti Agama Islam Ae Volume 3. Nomor 4. Agustus 2025 e-ISSN : 3031-8343 p-ISSN : 3031-8351. Hal. KESIMPULAN DAN SARAN Hasil perolehan dari kategori program pembiasaan 0 jam kategori rendah 15 . ,0%), kategori sedang 65 . ,7%), dan kategori tinggi 27 . ,2%). Hal ini, menunjukan bahwa pembiasaan 0 jam dalam kategori sedang. Sedangkan hasil kategori dari pembentukan karakter Islami kategori rendah 17 . ,9%). Kategori sedang 60 . ,1%), dan kategori tinggi 30 . ,0%). Ini memperlihatkan pembentukan karakter Islami termasuk dalam kategori sedang. Artinya program pembiasaan 0 jam tidak ada pengaruh terhadap pembentukan karakter Islami siswa kelas Vi SMP MaAoarif NU 2 Kemranjen. Walaupun faktor-faktor pembentukan karakter Islami salah satunya dari program pembiasaan 0 jam, namun hal ini tidak berarti program tersebut bukan faktor pembentuk karakter, tetapi bisa jadi efektivitasnya belum optimal atau ada faktor lain, seperti dukungan keluarga, pengaruh teman sebaya, atau lingkungan sosial yang lebih dominan dalam membentuk karakter siswa. Keterbatasan peneliti dalam menuntaskan merupakan kekurangan yang dimiliki peneliti rasakan dengan adanya keresahan yang membuat peneliti melakukan penelitian dengan judul ini. Kepada siswa tentunya diharapkan amat sangat mampu meningkatkan semangat belajar untuk mendapatkan ilmu supaya menjadi pribadi yang baik dan berakhlakul karimah. DAFTAR REFERENSI Amrulloh. Survei kepuasan masyarakat terhadap kualitas pelayanan PDAM Intan Banjar. Al-Kalam: Jurnal Komunikasi. Bisnis dan Manajemen, 9. , 128. https://doi. org/10. 31602/al-kalam. Anriani. Pembiasaan menerapkan empat kata ajaib untuk meningkatkan karakter sopan dan santun di Madrasah Ibtidaiyah, 5. Aufa. Kironoratri. , & Fardani. Peranan pembiasaan ibadah dalam pengembangan karakter religius siswa di SD Muhammadiyah 1 Kudus. Didaktik: Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang, 9. , 1339Ae1348. https://doi. org/10. 36989/didaktik. Candra Susanto. Ulfah Arini. Yuntina. Panatap Soehaditama. , & Nuraeni. Konsep penelitian kuantitatif: Populasi, sampel, dan analisis data . ebuah Jurnal Ilmu Multidisplin, 3. , 1Ae12. https://doi. org/10. 38035/jim. Dalimoenthe. Annur. , & Kanada. Pelaksanaan program full day school dalam mengembangkan kecerdasan spiritual siswa. Damayanti. Hakikat manusia . erspektif filsafat pendidikan Isla. , 13. Furidha. Comprehension of the descriptive qualitative research method: A critical assessment of the literature. Journal of Multidisciplinary Research, 1Ae8. https://doi. org/10. 56943/jmr. Pengaruh Program Pembiaasaan 0 Jam terhadap Pembentukan Karakter Islami Siswa di SMP MaAoarif NU 2 Kemranjen Hasmirati. Sy. Mustapa. Dermawan. , & Hita. Motivation and interest: Does it have an influence on PJOK learning outcomes in elementary school children? Journal on Research and Review of Educational Innovation, 1. , 70Ae78. https://doi. org/10. 47668/jrrei. Lubis. Ariani. Segala. , & Wulan. Pendidikan keluarga sebagai basis pendidikan anak. PEMA (Jurnal Pendidikan dan Pengabdian Kepada Masyaraka. , 1. , 92Ae106. https://doi. org/10. 56832/pema. Pertiwi. Pada. , & Achmad. Hubungan lingkungan sekolah dengan pembentukan karakter siswa sekolah dasar di Makassar. Sari. , & Ismail. Pembiasaan nilai-nilai keagamaan sebagai kunci pembentukan karakter religius. Solehah. UnsurAeunsur pendidikan karakter dalam PAI dan implikasinya terhadap sikap dan perilaku agama siswa. Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sosial, 1. , 11Ae15. https://doi. org/10. 58540/jipsi. Subhaktiyasa. Candrawati. Sumaryani. Sunita. , & Syakur. Penerapan statistik deskriptif: Perspektif kuantitatif dan kualitatif. Emasains: Jurnal Edukasi Matematika Sains, 14. , 96Ae104. https://doi. org/10. 59672/emasains. Sugiharto. Pembentukan nilai-nilai karakter Islami siswa melalui metode Educan: Jurnal Pendidikan Islam, 1. https://doi. org/10. 21111/educan. Wahyuni. , & Putra. Kontribusi peran orangtua dan guru dalam pembentukan karakter Islami anak usia dini. Jurnal Pendidikan Agama Islam AlThariqah, 5. , 30Ae37. https://doi. org/10. 25299/al-thariqah. Yasin. Penumbuhan kedisiplinan sebagai pembentukan karakter peserta didik di Yuniarti. Siskandar. Shunhaji. , & Suwandana. Memahami konsep pembentukan dan pendidikan karakter anak usia dini menurut agama Islam, pakar pendidikan, dan negara. Al-Athfaal: Jurnal Ilmiah Pendidikan Anak Usia Dini, 4. , 263Ae280. https://doi. org/10. 24042/ajipaud. Jurnal Budi Pekerti Agama Islam Ae Volume 3. Nomor 4. Agustus 2025