JIEP: Journal of Islamic Education Papua DOI : 10. 53491/jiep. Vol. 1 No. 2 Agustus-Januari 2024 e-ISSN 3021-7180 Kesulitan Guru Dalam Menerapkan Kurikulum Merdeka Belajar Di MTs Ja-alHaq Kota Bengkulu Silka Hidayati1. Naza Ardelia Putri2. Vevi Pebriani3. Rizki Destianingsih4. Muhammad Taufiqurrahman5 1,2,3,4,5Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu silkahidayati818@gmail. com1, nazaardeliaputri29@gmail. vevipebriani00@gmail. com3, rizkidestia680@gmail. taufiq@mail. Abstrak. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh penerapan kurikulum baru, yakni Merdeka belajar, yang menimbulkan berbagai kesulitan khususnya yang dirasakan oleh para guru sebagai agen Pendidikan. Penelitian ini berfokus kepada identifikasi terhadap kesulitan bagi guru ketika menerapkan kurikulum Merdeka belajar, serta menemukan upaya untuk mengatasinya. Pendekatan penelitian adalah kualitatif deskriptif dengan mewawancarai guru mata Pelajaran SKI kelas VII. Hasil temuan menunjukkan bahwa: Pertama. Penerapan kurikulum Merdeka Belajar di MTs JaalHaq telah dimulai selama sekitar satu tahun yang berlangsung secara bertahap, terutama terfokus pada kelas VII. Kedua, kesulitan signifikan terjadi karena kedangkalan pengetahuan guru terhadap kurikulum Merdeka. Ketiga, kesulitan yang didasari oleh lingkungan pembelajaran di sekolah. Keempat, kesulitan yang terjadi karena terbatasnya buku ajar di sekolah. Kelima, kurangnya keahlian dan keterampilan guru dalam mengaplikasikan teknologi (IT). Keenam, sebagai Upaya dalam mengatasi kesulitan tersebut diperlukan pelatihan kurikulum untuk meningkatkan pemahaman para guru terhadap pengaplikasian kurikulum Merdeka Dukungan dan Kerjasama antar guru, kepala sekolah, dan pihak terkait lainnya menjadi kunci untuk mencapai keberhasilan implementasi kurikulum Merdeka di MTs Ja-alHaq Kota Bengkulu. Kata Kunci: Kurikulum Merdeka. Kesulitan Guru. Penerapan Kurikulum Abstract. This research was motivated by the implementation of a new curriculum, namely Freedom to Learn, which gave rise to various difficulties, especially those felt by teachers as agents of education. This research focuses on identifying difficulties for teachers when implementing the Independent Learning curriculum, as well as finding efforts to overcome them. The research approach was descriptive qualitative by interviewing class VII SKI subject teachers. The findings show that: First, the implementation of the Merdeka Belajar curriculum at MTs Ja-alHaq has been started for about a year and is taking place in stages, especially focusing on class VII. Second, significant difficulties occur due to the shallow knowledge of teachers regarding the Merdeka curriculum. Third, difficulties based on the learning environment at school. Fourth, difficulties arise due to limited textbooks in schools. Fifth, the lack of teacher expertise and skills in applying technology (IT). Sixth, as an effort to overcome these difficulties, curriculum training is needed to increase teachers' understanding of the http://e-journal. id/index. php/jiep Hidayati, dkk: Kesulitan Guru Dalam Menerapkan Kurikulum Merdeka Belajar A application of the Merdeka Belajar curriculum. Support and cooperation between teachers, school principals and other related parties is the key to achieving successful implementation of the Merdeka curriculum at MTs Ja-alHaq. Bengkulu City. Keywords: Independent Curriculum. Teacher Difficulties. Curriculum Implementation A2023 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. 0/). http://e-journal. id/index. php/jiep JIEP: Journal of Islamic Education Papua. Vol. 1 No. 2 Agustus-Januari 2024 Pendahuluan Pemerintah menjalankan kebijakan yang dirancang untuk mencapai signifikasi kualitas pendidikan dengan implementasi kurikulum merdeka belajar, yang bertujuan untuk menghasilkan lulusan unggul dan siap menjalani perubahan kompleks dalam tantangan masa depan. Konsep inti Merdeka belajar adalah mendorong pembentukan karakter yang mandiri, dimana siswa dan pendidik memiliki kebebasan untuk mempelajari pengetahuan, sikap, dan keterampilan di lingkungan Pendidikan (Mulyadi et al. , 2. Pendekatan ini sesuai seperti pandangan Ki Hajar Dewantara mengenai Pendidikan yang menekankan pentingnya mencapai keseimbangan antara penciptaan, rasa, dan karsa dalam proses Kurikulum Merdeka memberikan guru dan siswa kebebasan untuk mengembangkan kemampuan mereka. Tidak hanya di bidang pengetahuan, tetapi juga bakat dan keterampilan. Oleh karena itu, diharapkan melalui Merdeka Belajar, kemampuan siswa dalam penerapan nilai-nilai karakter dapat dilaksanakan dalam kehidupan mereka sehari-hari. (Ainia, 2. Dalam konteks Merdeka belajar guru memiliki peran sentral dalam menentukan kebebasan berfikir (Susilowati, 2. Dengan kata lain kunci utama dari sistem Pendidikan ini terletak pada peran guru. Guru memiliki kedudukan sebagai fasilitator pembelajaran yang memuat segala aspek baik kognitif, afektif maupun psikomotorik. Tidak hanya itu guru juga menjadi sumber belajar yang memberikan konsep belajar aktif, inovatif, dan memberikan kenyamanan yang diharapkan dapat membentuk peserta didik sesuai dengan tuntutan zaman, terutama dalam konteks masa kini (S, 2. Dalam konteks Merdeka belajar guru dianggap sebagai agen Pendidikan yang memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar baik dari segi metode, media, maupun strategi belajar yang pemanfaatan metode dan media pembelajaran yang tepat tidak hanya membuat kegiatan pembelajaran lebih efektif, tetapi juga menciptakan suasana yang menyenangkan dan dinamis (Yusuf & Arfiansyah, 2. Oleh sebab itu, guru begitu dituntut dalam mengembangkan pembelajaran melalui metode dan media yang bersifat kreatif dan inovatif sehingga hal ini merupakan bentuk kesulitan yang dihadapi guru dalam menerapkan kurikulum Merdeka belajar. MTs Ja-alHaq Kota Bengkulu adalah sekolah berbasis keislaman dengan penerapan kurikulum merdeka belajar, kurikulum diterapkan secara bertahap http://e-journal. id/index. php/jiep Hidayati, dkk: Kesulitan Guru Dalam Menerapkan Kurikulum Merdeka Belajar A khususnya pada kelas VII, yang disebut dengan fase D. Hasil wawancara terhadap guru SKI kelas VII MTs Ja-alHaq mengatakan bahwa terdapat berbagai permasalahan yang terjadi ketika menerapan kurikulum Merdeka belajar diantaranya. Pertama, para guru menghadapi tantangan dalam pemahaman yang minim terhadap kurikulum Merdeka belajar. Kedangkalan pengetahuan terhadap kurikulum ini menjadi hambatan utama. Kedua, referensi yang terbatas terkait dengan kurikulum Merdeka belajar juga menjadi salah satu kendala dalam pengajaran. Guru kesulitan menemukan sumber daya yang memadai untuk mendukung penerapan kurikulum Ketiga, lingkungan pembelajaran di sekolah, khususnya partisipasi siswa, tidak sepenuhnya mendukung proses belajar mengajar dengan kurikulum Merdeka Para peserta didik tidak sepenuhnya terlibat atau belum siap dengan pendekatan baru ini. Selain itu, guru juga menghadapi kesulitan terhadap (IT). Keterbatasan keterampilan dalam menggunakan teknologi menyulitkan guru dalam menghasilan serta menyesuaikan media pembelajaran dengan kurikulum merdeka. Hal ini tentunya sangat bertentangan dengan harapan kurikulum yang menekankan pada kreatifitas guru dalam menyajikan materi pembelajaran. Selain itu, kesulitan lain yang diungkapkan oleh penelitian terdahulu bahwa guru mengalami kesulitan dalam merancang TP. ATP dan Menyusun modul ajar (Windayanti et al. , 2. , kurangnya kesesuaian media dengan situasi kelas atau kondisi pembelajaran (Nurulaeni & Rahma, 2. , kurangnya inovasi dari para guru dalam proses pengajarran juga menjadi tantangan dalam menerapkan kurikulum Merdeka belajar (Rusmiati et al. , 2. Seiring dengan itu, kesulitan guru juga muncul dikarenakan kurangnya pelatihan terkait kurikulum dan kurangnya informasi tentang kurikulum merdeka dan pendidikan guru penggerak (Rahayu et al. Berdasarkan uraian permasalahan yang telah disampaikan, maka rincian masalah dari penelitian ini adalah: Pertama, apa saja kesulitan-kesulitan yang dihadapi pendidik dalam melaksanakan rencana pelaksanaan pembelajaran Merdeka belajar pada mapel SKI bagi peserta didik pada kelas VII MTs Ja-alHaq Kota Bengkulu. Kedua, mengetahui upaya-upaya yang dilakukan pendidik dalam mengentaskan permasalahan ketika menerapkan Merdeka belajar pada mapel SKI untuk peserta didik kelas VII di MTs Ja-alHaq Kota Bengkulu. Sementara itu, tujuan penelitian yang http://e-journal. id/index. php/jiep JIEP: Journal of Islamic Education Papua. Vol. 1 No. 2 Agustus-Januari 2024 dapat dirumuskan adalah: . Untuk mengidentifikasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi guru saat menerapkan rencana pelaksanaan pembelajaran Merdeka belajar pada mapel SKI bagi peserta didik kelas VII di MTs Ja-alHaq Kota Bengkulu. Untuk memahami Upaya guru dalam mengentaskan kesulitan yang muncul dalam menerapkan kurikulum Merdeka belajar pada maple SKI untuk peserta didik kelas VII di MTs Ja-alHaq Kota Bengkulu. Dengan rumusan permasalahan dan tujuan tersebut, diharapkan penelitian ini akan berkontribusi memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh pendidik dalam penerapan modul ajar pada kurikulum Merdeka belajar serta solusi atau upaya yang dapat dilakukan untuk mengentaskannya. Metode Penelitian Jenis Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif (Amelia et al. , 2. Jenis penelitian ini adalah suatu prosedur penelitian yang berfokus pada pemahaman dan deskripsi mendalam terhadap fenomena, melibatkan pengumpulan data deskriptif dari ucapan, tulisan dan perilaku individu, serta bertujuan untuk memberikan makna yang lebih mandalam terhadap kondisi atau kejadian yang diamati (Faridahtul Jannah. Thooriq IrtifaqAo Fathuddin. Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif (Belia et al. , 2. Data diartikan secara deskriptif dan dipaparkan secara naratif. Pendekatan deskriptif kualitatif digunakan untuk menyusun data yang terhimpun, yang bertujuan untuk memberikan gambaran menyeluruh terhadap data yang terkumpul selama proses pengumpulan data (Faridahtul Jannah. Thooriq IrtifaqAo Fathuddin, 2. Dalam konteks analisis data teori Miles an Huberman dijadikan acuan dalam penelitian ini . 2, 16-. , yang terdiri dari beberapa langkah yakni reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Selanjutnya penelitian ini dilakukan di MTs Ja-alHaq Kota Bengkulu, dengan fokus pada guru mata Pelajaran SKI Kelas VII sebagai subjek penelitian. Data dikumpulkan melalui dua sumber utama, yaitu data primer yang diperoleh langsung dari guru SKI tersebut, dan data sekunder yang mencakup Sejarah atau profil, foto, dokumen pendukung lainnya dari MTs Ja-alHaq, serta informasi lain yang diperlukan. Metode pengumpulan data melibatkan wawancara dan observasi, yang didukung oleh perlengkapan seperti foto dan dokumen untuk mendukung analisis penelitian http://e-journal. id/index. php/jiep Hidayati, dkk: Kesulitan Guru Dalam Menerapkan Kurikulum Merdeka Belajar A (Yamin & Syahrir, 2. Hasil dan Pembahasan Kementerian Pendidikan dan Kebuyaan (Kemendikbu. memahami bahwa program Pendidikan pembelajaran Merdeka menekankan pada materi dasar dan peningkatan keterampilan pengganti dalam tahap-tahap tertentu. Hal ini bertujuan untuk meberdayakan para siswa agar kemampuan belajarnya menjadi lebih kritis, mendasar, dalam, serius, dan menggembirakan (Rahmadayanti & Hartoyo, 2. Dikarenakan kurikulum ini merupakan kurikulum terbaru tentu dalam proses penerapannya sering kali menimbulkan tantangan dalam pelaksanaan dan Oleh karena itu, dukungan dan pemahaman yang kuat dari pihakpihak terkait seperti orang tua, siswa, terutama guru sangat penting untuk kesuksesan penerapan kurikulum Merdeka. Pendidik adalah orang-orang yang beraktifitas dalam menjalankan berbagai fungsi Pendidikan, mencakup berbagai aspek pembelajaran dan perkembangan siswa, guru diharapkan menjadi fasilitator pembelajaran yang efektif dan pembimbing untuk menghasilkan individu yang terampil, berpengetahuan dan memiliki karakter yang baik (Hasanah, 2. Dalam Merdeka belajar seorang guru diberikan ruang kebebasan untuk mengembangkan dan menerapkan pembelajaran dengan mutu yang baik agar nantinya menciptakan generasi yang terdidik dan memiliki kemampuan untuk bersaing secara global, yang pada akhirnya akan meningkatkan mutu Pendidikan (SyafiAoi, 2. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti di MTs Ja-alHaq Kota Bengkulu. Penerapan kurikulum Merdeka Belajar di MTs Ja-alHaq telah dimulai selama sekitar satu tahun. Namun, pelaksanaannya masih berlangsung secara bertahap, terutama terfokus pada kelas VII. Menurut guru mata pelajaran SKI di MTs Ja-alHaq, pembaharuan dalam suatu hal tentu akan mendapat berbagai kendala. Dalam pelaksanaannya. MTs Ja-alHaq telah menerapkan pembelajaran dengan menggunakan media berbasis teknologi yakni video pembelajaran animasi. Mengingat sebelumnya media yang dipakai hanya berupa buku-buku atau LKS saja. Adapun berdasarkan temuan wawancara, kesulitan yang dirasakan guru dalam menerapkan kurikulum Merdeka belajar di MTs ja-alHaq antaran lain. Pertama kedangkalan pengetahuan guru terhadap kurikulum Merdeka. Dalam kurikulum http://e-journal. id/index. php/jiep JIEP: Journal of Islamic Education Papua. Vol. 1 No. 2 Agustus-Januari 2024 Merdeka banyak sekali penggunaan metode dan strategi belajar yang terintegrasi seperti pembelajaran yang berbasis proyek . roject based learnin. , pembelajaran yang aktif . ctive learin. , pembelajaran berbasis pengalaman . xperiential learnin. , pembelajaran berdiferensiasi . ifferentiated instructio. , dan pembelajaran berbasis Guru belum sepenuhnya memahami penerapan metode dan strategi pembelajaran tersebut sehingga mempengaruhi efektivitas penerapan kurikulum Merdeka di kelas. Kesulitan kedua didasari oleh lingkungan pembelajaran di sekolah, khususnya partisipasi siswa, tidak sepenuhnya mendukung proses belajar mengajar dengan kurikulum Merdeka belajar. Para peserta didik tidak sepenuhnya terlibat atau belum siap dengan pendekatan baru ini. Mengingat kondisi peserta didik dan kelas. Bu Eni mengatakan bahwa kebanyakan siswa di sana berasal dari desa, sehingga sedikit sulit untuk mendorong mereka agar aktif, kreatif, dan mandiri dalam belajar. Tentu saja hal ini sangat bertentangan dengan harapan kurikulum Merdeka yang membutuhkan perubahan sikap dan pola pikir peserta didik, yang mana perubahan ini tidak terjadi secara instan tetapi membutuhkan waktu dalam penerapannya. Selanjutnya pemasalahan lain yang dihadapi guru terjadi karena masih terbatasnya buku ajar. Penelitian yang dilakukan peneliti di MTs Ja-alHaq, hasil wawancara membuktikan bahwa kurangnya kesediaan buku ajar menjadi salah satu faktor penyebab guru tidak dapat menerapkan pembelajaran secara maksimal. Kemudian, kesulitan yang berhubungan dengan penguasaan ilmu teknologi. Berdasarkan temuan wawancara di MTs Ja-alHaq, disampaikan bahwa guru sudah menerapkan pembelajaran dengan berbasis media IT, berupa Video pembelajaran. Kekurangan media video tersebut bukan dibuat langsung oleh guru yang mengajar tetapi diambil dari sumber lain seperti Youtube. Sehingga terbatasnya penggunaan media video yang ada karena menyesuaikan ada tidaknya video pembelajaran di Youtube. Jika video yang berkaitan dengan materi pembelajaran tidak ditemukan maka guru hanya menggunakan media berupa buku cetak saja. Hal ini tentu bertentangan dengan prinsip kurikulum Merdeka, dimana untuk mendorong peserta didik belajar secara aktif dan mandiri diperlukan guru menunjukkan kreatifitas dan imajinatif dalam memanfaatkan beragam media dan metode pembelajaran (Suryani et al. , 2. Mengingat banyaknya kesulitan yang dialami guru tersebut, berikut beberapa Upaya dalam mengatasi kesulitan penerapkan kurikulum Merdeka belajar pada http://e-journal. id/index. php/jiep Hidayati, dkk: Kesulitan Guru Dalam Menerapkan Kurikulum Merdeka Belajar A Siswa Kelas VII MTs Ja-alHaq Kota Bengkulu. Sebagai Upaya kepala madrasah dan guru menjalankan langkah-langkah untuk mengatasi masalah tersebut dengan mengikuti pelatihan implementasi kurikulum Merdeka belajar, dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas para guru. Selaras dengan teori yang diungkapkan Firdaus syafiAoi, berkaitan dengan pengarahan rencana Pendidikan Merdeka belajar. Dalam upaya penguatan, untuk mengetahui kendala yang mungkin dihadapi dalam pelaksanaan kurikulum Merdeka belajar, mereka mengisi survei secara rutin. Sebagai bagian dari pembimbingan, pengawas melakukan kegiataan pendampingan dan membantu pelaksanaan implementasi kurikulum Merdeka yang sedang berjalan (SyafiAoi, 2. Dengan adanya Upaya-upaya ini diharapkan guru dapat secara bertahap mengatasi kesulitan dan tantangan dalam penerapan kurikulum Merdeka belajar. Dukungan dan Kerjasama antar guru, kepala sekolah dan pihak terkait lainnya menjadi kunci untuk mencapai keberhasilan implementasi kurikulum Merdeka di MTs Ja-alHaq Kota Bengkulu. Kesimpulan Penerapan program Pendidikan Merdeka belajar di MTs Ja-alHaq telah dimulai sekitar selama satu tahun. Meskipun demikian, pelaksanaannya masih dilakukan secara bertahap, terutama berfokus pada kelas VII. Adapun berdasarkan temuan wawancara, kesulitan para pendidik dalam melaksanakan kurikulum Merdeka belajar di MTs Ja-alHaq meliputi. Pertama, kedangkalan pengetahuan guru terhadap kurikulum Merdeka. Guru belum sepenuhnya memahami penerapan metode dan strategi pembelajaran sehingga mempengaruhi efektivitas penerapan kurikulum Merdeka di kelas. Kedua, didasari oleh lingkungan pembelajaran di sekolah, khususnya partisipasi siswa, tidak sepenuhnya mendukung proses belajar mengajar dengan kurikulum Merdeka belajar. Ketiga, kesulitan yang muncul karena jumlah buku Pelajaran yang sangat sedikit. Keempat, keterampilan guru yang minim dalam memanfaatkan media pembelajaran dan tidak adanya kemampuan dalam menerapkan inovasi pembelajaran berbasis ilmu teknologi. Berbagai Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi kesulitan dalam menerapkan kurikulum Merdeka belajar pada Siswa Kelas VII MTs Ja-alHaq Kota Bengkulu. Sebagai solusi kepala madrasah dan guru menjalankan langkah-langkah http://e-journal. id/index. php/jiep JIEP: Journal of Islamic Education Papua. Vol. 1 No. 2 Agustus-Januari 2024 untuk mengatasi masalah tersebut dengan pelatihan implementasi kurikulum. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas para guru. Dukungan dan Kerjasama antar guru, kepala sekolah dan pihak terkait lainnya menjadi kunci untuk mencapai keberhasilan implementasi kurikulum Merdeka di MTs Ja-alHaq Kota Bengkulu. Daftar Pustaka