Prosiding Seminar Nasional PPG FKIP UPR AuTransfromasi Pendidikan di Era Society 5. 0Ay Analisis Problematika dalam Implementasi Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka: Sebuah Kajian Literatur Sistematis Rizky Roland Jurdil1*. Otib Satibi Hidayat2. Faisal Madani3 1,2,3 Universitas Negeri Jakarta. Jakarta Timur Email: Rizky_1113822012@mhs. Abstrak Kurikulum dirancang sebagai suatu alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Guna mencapai tujuan tersebut, kurikulum harus dapat dimplementasikan dengan baik oleh setiap satuan pendidikan. Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka banyak digunakan oleh satuan pendidikan di Indonesia. Kondisi di lapangan menunjukan berbagai problematika ditemukan dalam implementasi kedua kurikulum tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi berbagai problematika dalam implementasi Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka di sekolah Peneliti melakukan pencarian literatur melalui database Google Scholar dan Sinta. Hasil pencarian menemukan 50 artikel. Artikel-artikel tersebut disaring melalui judul, kata kunci, abstrak, dan keseluruahan artikel. 32 artikel dikeluarkan karena tidak relevan dengan tujuan penelitian. Temuan penelitian mengungkapkan isu problematika dalam implementasi Kurikulum 2013 adalah pemahaman terbatas guru terhadap prinsip asesmen, prinsip pembelajaran integratif, pendekatan saintifik, dan keterampilan perencanaan pembelajaran, keterlambatan distribusi buku, dan infrastruktur yang tidak memadai. Selain itu, ditemukan isu dalam implementasi Kurikulum Merdeka, seperti pemahaman terbatas guru dalam perencanaan, asesmen, pengoperasian teknologi, perancangan dan implementasi proyek penguatan profil siswa Pancasila, dan keterbatasan infrastruktur pendukung implementasi kurikulum. Kata kunci : Implementasi Kurikulum Merdeka. Implementasi Kurikulum 2013: Sekolah Dasar: Problematika Implementasi Kurikulum Abstract The curriculum is designed as a tool to achieve educational goals. In order to accomplish these goals, the curriculum must be effectively implemented by every educational unit. The 2013 Curriculum and the Merdeka Curriculum are widely used by educational units in Indonesia. However, various issues have been identified in the implementation of both curricula. This study aims to identify various issues in the implementation of the 2013 Curriculum and the Merdeka Curriculum in primary schools. The researchers conducted a literature search through Google Scholar and Sinta databases, resulting in the identification of 50 articles. These articles were filtered based on titles, keywords, abstracts, and full content. 32 articles were excluded as they were not relevant to the research objective. The research findings revealed issues in the implementation of the 2013 Curriculum, including teachers' limited understanding of assessment principles, integrative learning principles, scientific approaches, and instructional planning skills, as well as delays in book distribution and inadequate infrastructure. Additionally, issues were found in the implementation of the Merdeka Curriculum, such as teachers' limited understanding of planning, assessment, technology operation, designing and implementing the Pancasila student profile strengthening project, and limited supporting infrastructure for curriculum implementation. Keywords: Implementation of the Merdeka Curriculum. Implementation of the 2013 Curriculum. Primary Schools. Issues in Curriculum Implementation PENDAHULUAN Pendidikan sangat penting bagi kehidupan setiap individu. Dengan pendidikan, setiap individu dapat mengembangkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup di tengahtengah masyarakat (Jurdil & Purnamatati, 2. Pendidikan yang bermutu berpengaruh pada maju mundurnya suatu bangsa, sebab pendidikan yang baik akan melahirkan sumber daya manusia yang ISSN Prosiding Seminar Nasional PPG FKIP UPR AuTransfromasi Pendidikan di Era Society 5. 0Ay Di samping itu, pendidikan juga menentukan taraf suatu bangsa dalam pergaulan internasional, karena tingkat pendidikan yang dimiliki oleh masyarakat merupakan salah satu dari tiga faktor penentu dalam Indeks Pembangunan Manusia (Sadulloh dkk. , 2. Atas dasar pentingnya pendidikan, sebagian besar negara meberlakukan kebijakan wajib pendidikan bagi warga negaranya. Indonesia termasuk negara yang memberlakukan kebijakan tersebut, terkhusus pendidikan dasar, hal itu tertulis pada UU Sisdiknas No 20 Tahun 2003. Sebagian besar negara, termasuk Indonesia, merancang kurikulum untuk sistem pendidikan Kurikulum merupakan serangkaian program pendidikan yang disediakan oleh lembaga pendidikan bagi peserta didik yang disusun secara sistematis untuk pembelajaran di lingkungan sekolah atau di luar sekolah guna mencapai tujuan pendidikan (Hidayat, 2023. Laksono & Izzulka, 2. Idealnya, kurikulum akan berkembang dan melakukan penyempurnaan untuk peningkatan mutu pendidikan, memenuhi kebutuhan masyarakat, manjawab tuntutan zaman, dan mencapai tujuan pendidikan (Ananda & Hudaidah, 2. Kurikulum di Indonesia terus mengalami perkembangan dan penyempurnaan untuk menjawab berbagai tantangan tersebut, sebagaiamana halnya pada 2022. Indonesia melakukan penyempurnaan Kurikulum 2013 menjadi Kurikulum Merdeka (Kemendikbudristek RI, 2020. Nursalam dkk. , 2. Seperti yang dijelaskan di atas, kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Oleh karena itu, implementasi kurikulum pada satuan pendidikan harus dilaksanakan dengan baik untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam implementasi kurikulum, ada berbagai faktor yang memengaruhi, seperti perencanaan, substansi kurikulum, pendidik, iklim dan budaya sekolah, sarana dan prasarana, kepala sekolah, dan faktor pendidik (Suherman, 2. Menurut Mars, pendidik menjadi faktor krusial dalam implementasi kurikulum (Krissandi, 2. Hal senada disampaikan oleh Syaodih, menurutnya kesiapan pelaksana, terutama guru, sangat penting dalam mengimplementasika kurikulum (Krissandi & Rusmawan, 2. Beberapa penelitian telah mengkaji implementasi kurikulum di sekolah dasar. Sebagai contoh. Yantoro dkk. mengkaji kesiapan guru SD dalam menerapkan Kurikulum Merdeka. menemukan bahwa secara keseluruhan, guru masih belum siap untuk menerapkan kurikulum merdeka. Namun penelitian Yantoro tidak menjelaskan secara komprehensif terkait pelaksanaan pembelajaran dalam implementasi kurikulum. Sementara, pada artikel ini akan dikaji terkait pelaksanaan (Yusrina dkk. , 2. mengkaji terkait implementasi pembelajaran tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru mengalami kesulitan dalam menyusun perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, proses penilaian, dan pengembangan materi untuk setiap pembelajaran. Namun, pada penelitian ini tidak dikaji sarana dan prasarana pendidikan sebagai pendukung dalam implementasi kurikulum. Sementara pada artikel ini akan dikaji terkait sarana dan prasarana. (Arif & Sulistianah, 2. mengkaji terkait problem kontemporer yang dialami guru dalam implementasi Hasil penelitian menunjukan bahwa guru terkendala dalam proses penilaian hasil pembelajaran pada Kurikulum 2013, di samping itu ditemukan juga masalah terkait distribusi buku pelajaran yang kurang maksimal di tahun 2013, dan pengisian raport siswa. Namun penelitian ini tidak mengkaji terkait infrastruktur, dan rencana pembelajaran. Sementara pada artikel ini akan dikaji terkait hal tersebut. Berdasarkan yang telah diuraikan di atas, penting untuk menyelidiki lebih lanjut berbagai problematikan dalam implementasi Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka di sekolah dasar. Studi ini akan mengidentifikasi isu problematikan dalam implementasi kedua kurikulum tersebut. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan refleksi dan evaluasi bagi para pemangku kepentingan pendidikan untuk meningkatkan implementasi dari kedua kurikulum tersebut. ISSN Prosiding Seminar Nasional PPG FKIP UPR AuTransfromasi Pendidikan di Era Society 5. 0Ay METODE Penelitian ini merupakan Systematic Literature Review (SLR) dengan menggunakan pendekatan kualitatif. SLR adalah metode yang memiliki tujuan untuk mengevaluasi, mengidentifikasi, dan menganalisis hasil penelitian sebelumnya yang relevan dengan topik tertentu, penelitian tertentu, atau fenomena terkini yang menjadi perhatian. Langkah-langkah yang terlibat dalam SLR adalah sebagai berikut: . Merumuskan pertanyaan penelitian, . melakukan pencarian sistematis literatur terkait, . menyaring dan memilih artikel penelitian yang relevan . menganalisis dan menggabungkan temuan kualitatif, dan menyusun laporan akhir (WOLOR dkk. , 2. Pertanyaan Penelitian dalam Tinjauan Literatur Tabel 1. Pertanyaan Penelitian Pertanyaan Penelitian Apa saja problematika dalam implementasi Kurikulum 2013 di sekolah dasar? Apa saja problematika dalam implementasi Kurikulum Merdeka? Motivasi Mengidentifikasi Kurikulum 2013 di sekolah dasar. Mengidentifikasi problematika dalam implementasi Kurikulum Merdeka di sekolah dasar. Pencarian Literatur Penelitian ini dilakukan di Jakarta pada periode Agustus-Desember 2023. Penulis melakukan penelusuran literatur berupa artikel yang relevan dengan topik ini menggunakan kata kunci Implementasi. Kurikulum Merdeka. Kurikulum 2013. Implementation, 2013 Curiculum, independent Curriculum, dan Sekolah Dasar. Penulis mencari literatur melalui database Google Scholar, dan Sinta. Kriteria Seleksi Kriteria seleksi yang digunakan dalam pemilihan literatur adalah artikel penelitian yang terkareditasi Sinta 1 Ae Sinta 5 dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang diterbitkan pada 20182023 dengan fokus pada implementasi kurikulum 2013 dan implementasi Kurikulum Merdeka di sekolah dasar. Setelah artikel dikumpulkan, artikel yang dipilih akan dianalisis untuk mengumpulkan informasi yang relevan, kemudian data disusun secara deskriptif. Gambar 1. Kriteria Seleksi Systematic Literature Review ISSN Prosiding Seminar Nasional PPG FKIP UPR AuTransfromasi Pendidikan di Era Society 5. 0Ay Ekstraksi Data. Penilaian Kualitas Studi Utama, dan Sintesis Data Studi utama yang dipilih kemudian disortir untuk mengumpulkan data yang memiliki peran dalam menjawab pertanyaan penelitian. Penilaian kualitas dapat digunakan untuk memandu pemahaman tentang hasil sintesis dan menentukan kesimpulan. Proses sintesis data bertujuan untuk mengumpulkan bukti dari penelitian terpilih untuk menjawab pertanyaan penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Peneliti melakukan pencarian literatur melalui Google Scholar dan SINTA. Hasil pencarian menemukan 50 artikel. Artikel-artikel tersebut kemudian disaring dalam dua tahap. Pada tahap pertama, 23 artikel dikeluarkan karena tidak relevan dengan topik pembahasan setelah disaring berdasarkan kata kunci, judul, dan abstrak. Pada tahap kedua, dilakukan penyaringan keseluruhan isi artikel, dan diperoleh 18 artikel yang relevan dengan tujuan dan pertanyaan penelitian. Terdapat lima problematika yang ditemukan dalam implementasi Kurikulum 2013 dan lima problematika ditemukan dalam implementasi Kurikulum Merdeka di sekolah dasar. Problematika dalam Implementasi Kurikulum 2013 di Sekolah Dasar Pertama, berdasarkan analisis melalui artikel Suwandayani . Yusrina dkk. ditemukan bahwa terbatasnya pemahaman guru dalam merancang perencanaan pembelajaran, dan tanggungan jawab lebih yang diberikan kepada guru menjadi salah satu problematikan dalam implementasi Kurikulum 2013. Guru kurang memahami tentang pengembangan pembelajaran tematik dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dalam hal ini mereka mengalami kesulitan untuk mengintegrasikan tema ke dalam jadwal pembelajaran yang telah ditentukan, hal tersebut terjadi karena guru fokus pada materi yang akan diajarkan (Suwandayani, 2. Beberapa guru lainnya ditemukan menggunakan RPP yang mereka peroleh dari internet, hal tersebut dilatarbelakangi pembuatan RPP yang memakan waktu lama, sedangkan mereka memiliki tanggung jawab lain di samping aktivitasi dalam kelas, hal tersebut mengakibatkan perencanaan tidak sinkron karena tidak sesuai dengan infrastruktur sekolah (Yusrina dkk. , 2. Kedua, berdasarkan hasil analisis melalui artikel Arif & Sulistianah . Nuraini & Abidin . Qomariah dkk. Rahmawati . Yusrina dkk. ditemukan bahwa terbatasnya pemahaman dan keterampilan guru terkait asessmen pembelajaran menjadi salah satu isu problematika dalam implementasi Kurikulum 2013. Beberapa guru berpendapat bahwa mereka kesulitan dalam menerapkan berbagai aspek asesmen pada Kurikulum 2013 (Arif & Sulistianah, 2. Beberapa guru berpendapat bahwa sistem asesmen pembelajaran tematik integratif cenderung rumit, terutama dalam asesmen sikap dan portofolio, dalam hal ini guru kesulitan dalam mendeskripsikan secara detail melakukan mendeskripsikan penilaian dari beragamnya kemampuan peserta didik (Nuraini & Abidin. Beberapa lagi berpendapat bahwa mereka kesulitan melakukan proses asesmen karena aktivitas pembelajaran sehari-hari dilakukan secara terintegrasi setiap mata pelajaran, namun pada asesmen akhir dilakukan per satuan mata pelajaran (Qomariah dkk. , 2. Ada juga yang berpendapat bahwa tidak adanya ketentuan khusus dalam melakukan asesmen, sehingga mereka melakukan asesmen pada subtopik dan setiap mata pelajaran yang diajarkan saja (Yusrina dkk. , 2. Ketiga, berdasarkan hasil analisis melalui artikel Nuraini & Abidin . Pohan & Dafit . Qomariah dkk . Wulandari . Yusrina dkk. ditemukan bahwa terbatasnya pemahaman dan keterampilan guru dalam mengimplementasikan pembelajaran secara integratif dan menerapkan pendekatan saintifik menjadi salah satu isu problematika dalam implementasi Kurikulum Beberapa guru berpandapat bahwa materi yang disusun terintegrasi menyulitkan guru dalam menyampaikan materi (Qomariah dkk. , 2. Mereka kesulitan dalam menghubungkan konsep-konsep ISSN Prosiding Seminar Nasional PPG FKIP UPR AuTransfromasi Pendidikan di Era Society 5. 0Ay pembelajaran agar pembatas mata pelajaran tidak terlihat jelas (Nuraini & Abidin, 2. Dengan begitu dalam pelaksanaan pembelajaran masih terlihat pembatas antara mata pelajaran (Wulandari, 2. , bahkan beberapa guru masih menyampaikan perpindahan mata pelajaran (Pohan & Dafit. Beberapa lagi kurang menguasai pembelajaran tematik dengan baik, sehingga mereka membelajarkan peserta didik dengan mata pelajaran terpisah (Yusrina dkk. , 2. Di samping itu, pada penelitian (Wulandari, 2. ditemukan beberapa guru tidak menerapkan pendekatan saintifik. Keempat, berdasarkan hasil analisis melalui artikel Arif & Sulistianah . Bebasari dkk. Rahmawati . Suwandayani . ditemukan bahwa distribusi buku pembelajaran pada Kurikulum 2013 yang tidak tepat waktu dan revisi buku yang selalu dilakukan setiap tahun menjadi salah satu isu problematika yang ditemukan dalam implementasi Kurikulum 2013. Beberapa guru berpendapat pembelajaran terganggung karena pendistribusian buku Kurikulum 2013 terlambat, sehingga pembelajaran kurang maksimal (Arif & Sulistianah, 2019. Rahmawati, 2. Hal tersebut berdampak mundurnya pembelajaran, dengan demikian guru harus berusaha keras untuk mengejar ketertinggalan (Rahmawati, 2. Sementara beberapa guru berpendapat bahwa revisi buku pembelajaran yang dilakukan setiap tahun membuat mereka sulit memahami dan melaksanakan pembelajaran (Bebasari dkk. , 2. Kelima, berdasarkan analisis melalui artikel Bebasari dkk. Magdalena dkk. Nuraini & Abidin . Rahmawati . Yusrina dkk. infrastruktur yang terbatas menjadi salah problematika dalam implementasi Kurikulum 2013. ketersediaan fasilitas penunjang seperti Liquird Crystal Display (LCD), laptop, dan buku referensi di perpustakaan, dan sumber masih terbatas (Bebasari dkk. , 2022. Magdalena dkk. , 2. Hal tersebut membuat guru menerapkan pembelajaran yang berbeda dengan perenceanaan pembelajaran yang telah dirancang (Yusrina dkk. , 2. samping itu, kurangnya sumber pembelajaran yang tersedia berdampak terhadap kedalaman materi yang dipelajari oleh peserta didik (Rahmawati, 2. Problematika dalam Implementasi Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar Pertama, berdasarkan analisis melalui artikel Ardianti & Amalia, . Chamidin & Muhdi . Solikhah & Wahyuni . ditemukan bahwa terbatasnya pemahaman guru terkait perencanaan pembelajaran menjadi isu problematikan dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Beberapa guru tidak memahami Capaian Pembelajaran (CP). Tujuan Pembelajaran (TP), dan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP). Beberapa guru belum paham dalam merancang modul ajar (Ardianti & Amalia, 2022. Yantoro dkk. , 2. Beberapa guru lainnya mengalami kesulitan dalam penyusunan ATP yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Sebagai alternatif, sebagian guru menggunakan contoh modul sebagai panduan pembelajaran (Ardianti & Amalia, 2. Sementara sebagian lagi mengadopasi modul yang disedikan di sediakan pemerintah melalui Platform Merdeka Mengajar (Chamidin & Muhdi, 2. Kedua, berdasarkan analisis melalui artikel Ardianti & Amalia . Chamidin & Muhdi, . Jamjemah dkk. Yantoro dkk. ditemukan bahwa terbatasnya pemahaman guru terkait asesmen, terkhusus prinsip asesmen pada Kurikulum Merdeka menjadi salah satu isu problematika dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Beberapa guru tidak memiliki gambaran terkait prinsip asesmen pada kurikulum ini (Yantoro dkk. , 2. Beberapa guru masih bingung dalam merancang dan meingimplementasikan asesmen awal dan asesmen sumatif (Ardianti & Amalia, 2. Beberapa lagi tidak menerapkan asesmen formatif, melainkan hanya menerapkan asesmen sumatif (Chamidin & Muhdi, 2. Beberapa guru bingung karena banyaknya bentuk asesmen seperti seperti presentasi, proyek, lisan, tulisan, dan sebagainya. Sementara beberapa guru lainnya ditemukan belum menggunakan asesmen pembelajaran (Jamjemah dkk. , 2. ISSN Prosiding Seminar Nasional PPG FKIP UPR AuTransfromasi Pendidikan di Era Society 5. 0Ay Ketiga, berdasarkan analisis melalui artikel Arwiyanti dkk. Chamidin & Muhdi, . Solikhah & Wahyuni . terbatasnya inftrastruktur menjadi penghambat dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Salah satu wakil kepala sekolah kesiswaan berpendapat bahwa terbatasnya inftrastrukur sekolah menjadi penghambat sekolah mereka tidak melaksanakan implementasi Kurikulum Merdeka (Arwiyanti dkk. Beberapa guru bependapat bahwa jaringan internet yang tidak stabil menghambat mereka dalam mengakses sumber belajar (Chamidin & Muhdi, 2. Beberapa lagi berpendapat bahwa tidak tersedianya perpustakaan di sekolah menghambat kemampuan siswa dalam meningkatkan literasi dan pengetahuan mereka (Solikhah & Wahyuni, 2. Keempat, berdasarkan analisis melalui artikel Arwiyanti dkk. Ikayanti & Sobri . Iskandar dkk. Solikhah & Wahyuni . terbatasnya kemampuan guru dalam penggunaan teknologi menjadi isu problematika dalam implementasi kurikulum merdeka. Beberapa guru mengalami kesulitan dalam mengoprasikan teknologi sebagai media pembelajaran (Arwiyanti dkk. , 2022. Iskandar , 2. , dengan begitu beberapa guru melakukan aktivitas pembelajaran hanya menggunakan metode ceramah dengan bantuan internet (Solikhah & Wahyuni, 2. Kelima, berdasarkan analisis melalui artikel Ardianti & Amalia, . Ikayanti & Sobri . Solikhah & Wahyuni . Terbatasnya keterampilan guru dalam manajemen waktu dan menentukan jenis projek pada Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. menjadi salah satu isu problematika dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Beberapa guru mengalami kesulitan dalam menentukan proyek di kelas rendah, khusunya kelas 1 (Ikayanti & Sobri, 2. Beberapa lagi mengalami kesulitan dalam pengembangan model pembelajaran terkait P5 (Solikhah & Wahyuni, 2. Beberapa guru lainnya tidak membuat modul P5 dengan karena dengan alasan waktu yang kurang, dengan begitu sekolah melaksanakan proyek tersebut sebagai pengguran dalam kegiatan satu semester (Ardianti & Amalia, 2. KESIMPULAN Kurikulum memainkan peran penting dalam pencapaian tujuan pendidikan. Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan yang diinginkan, implementasi kurikulum di setiap satuan pendidikan harus dilakukan dengan efektif. Studi ini menunjukkan bahwa masih banyak isu dalam implementasi Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka yang perlu dievaluasi oleh para pemangku pendidikan. Ditemukan bahwa pemahaman guru terhadap konsep implementasi kurikulum masih terbatas. Beberapa guru tidak memahami prinsip pembelajaran dan asesmen, sementara yang lain tidak merencanakan pelaksanaan pengajaran dan asesmen. Selain itu, ditemukan juga bahwa infrastruktur satuan pendidikan untuk mengoptimalkan implementasi kurikulum juga masih terbatas. Studi ini diharapkan dapat menjadi salah satu referensi bagi para pemangku pendidikan untuk melakukan refleksi guna mencapai implementasi kurikulum yang lebih baik pada tahun berikutnya. DAFTAR PUSTAKA