Vol. 2 No. 2 Juni 2023 Hal. http://jurnal. com/index. php/jpst/ Pola Kedisiplinan Pakaian Pada Siswa Dalam Kajian Pendidikan Karakter Di SDN 3 Piji Kabupaten Kudus Della Ayu Puspitaa. Liftiya Ayu Lestarib. Andre Adiatma Hafisc. Cynthia Carla Ika Santosod. Nur Fajriee Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan. Universitas Muria Kudus, 202133055@std. Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan. Universitas Muria Kudus, 202133068@std. Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan. Universitas Muria Kudus, 202133083@std. Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan. Universitas Muria Kudus, 202133196@std. Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan. Universitas Muria Kudus, nur. fajrie@umk. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan situasi atau kejadian mengena pola kedisiplinan pakaian pada siswa dalam kajian pendidikan karakter di SDN 3 Piji Kabupaten Kudus. Penelitian ini menggunakan metode penelitian naratif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi, dokumentasi, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa SDN 3 Piji disiplin dalam mematuhi aturan berpakaian yang diterapkan sekolah, hal tersebut menjadi pendukung dalam meningkatkan karakter siswa. Kata Kunci: Kedisiplinan. Pakaian. Pendidikan Karakterr Abstract This study aims to describe situations or incidents regarding the disciplinary pattern of clothing on students in character education studies at SDN 3 Piji. Kudus Regency. This study uses a narrative research method with a qualitative approach. Data collection techniques used in this study were interviews, observation, documentation, and literature studies. The results of the study show that students at SDN 3 Piji are disciplined in complying with the dress code applied by the school, this becomes a support in improving student Keywords: discipline, clothing, character education This work is licensed under Creative Commons Attribution License 4. 0 CC-BY International license PENDAHULUAN Pendidikan adalah suatu perjuangan yang sadar buat mewujudkan suasana belajar serta proses pembelajaran supaya siswa bisa berbagi potensi dirinya untuk mengendalikan diri, kecerdasan, serta keterampilan yang dibutuhkan untuk dirinya. Pendidikan sebagai urgensi pengembangan individu, harus proaktif untuk memfasilitasi pengembangan individualitas dan akses terbuka lebih besar bagi semua individu untuk mencapai keberhasilan dalam pendidikan. Kolaborasi antara pemangku kepentingan pendidikan dan pembelajaran perlu diperkuat dan dipersatukan untuk mempersiapkan pendidikan yang beragam. Pendidikan anak pada sekolah dasar terdapat aktivitas belajar pada rangka pembentukan sikap melalui pembiasaan yang mencakup moral pancasila, kepercayaan, emosi, dan kemampuan peserta didik untuk memiliki sikap disiplin Disiplin merupakan salah satu sikap yang sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter seorang anak. Menurut Lickona (Nuriyatun, 2016: . menyatakan bahwa kedisiplinan adalah salah satu sarana dalam upaya pembentukan kepribadian dan merupakan kunci keberhasilan, karena tingkat kedisiplinan yang tinggi akan meningkatkan konsentrasi dalam melaksanakan aktivitas akan meningkat, karena disiplin adalah titik awal pendidikan karakter di sekolah, jika dalam suatu lingkungan tertentu tidak ada rasa hormat terhadap aturan, otoritas dan hak orang lain, maka tidak ada lingkungan yang baik bagi pengajaran serta pembelajaran. Disiplin menurut kemendiknas . (Wibowo 2012:43-. adalah tindakan perilaku tertib yang mengikuti berbagai peraturan dan ketentuan. Sekolah adalah institusi dengan aturan yang harus di patuhi oleh guru maupun Disiplin dapat dipelajari melalui tata tertib yang berlaku di lingkungan sekolah. Disiplin disekolah mengacu pada kegiatan atau perilaku yang tertib dan patuh sesuai dengan peraturan di lingkungan sekolah. Jurnal Pendidikan. Sains Dan Teknologi (JPST) Vol. 02 No. 02 Juni 2023 Vol. 2 No. 2 Juni 2023 Hal. http://jurnal. com/index. php/jpst/ Menurut Mustari (Evayanti, 2018: . disiplin adalah tingkah laku yang menunjukkan kepada seseorang bahwa dia harus menaati suatu tata tertib tertentu melalui peraturan peraturan yang berlaku. Nilai disiplin penting bagi kehidupan seseorang. Disiplin berkontribusi besar dalam mengarahkan kehidupan manusia untuk mencapai cita- cita. Tanpa disiplin, seseorang tidak memiliki standar tentang apa yang baik dan apa yang buruk dalam Selain itu, disiplin yang kuat akan menghasilkan pengendalian diri yang kuat. Disiplin di sekolah berarti siswa diajarkan untuk memperoleh kebajikan dengan memberikan contoh latihan langsung, dan secara lisan menjelaskan semua aturan, baik aturan umum maupun aturan khusus. Dimana peraturan peraturan tersebut harus diikuti dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya untuk menghindari pelanggaran yang mendorong perilaku negatif atau tidak disiplin. Disiplin memegang peran penting dalam menentukan keberhasilan belajar peserta didik dan banyak manfaat yang dapat diambil apabila peserta didik menerapkan kedisiplinan. Guru bertanggung jawab untuk mengarahkan pada yang baik, guru harus bisa menjadi teladan, sabar, dan penuh Guru harus mampu menumbuhkan disiplin dalam diri peserta didik, terutama disiplin diri . elf disciplin. melalui tiga hal, yaitu membantu peserta didik mengembangkan pola perilaku untuk dirinya, membantu peserta didik meningkatkan standar perilakunya dan menegakkan aturan sebagai alat untuk menegakkan disiplin. Penanaman sikap disiplin pada peserta didik harus ditanamkan sejak dini, salah satu tempat pembentukan nilai nilai karakter tersebut adalah sekolah. Sekolah merupakan salah satu tempat terbaik peserta didik dalam pembentukan sikap maupun perilaku disiplin. Sekolah merupakan tempat belajar peserta didik mengenai nilai-nilai kedisiplinan, dengan kedisiplinan siswa juga dapat menanaman nilai-nilai dalam pendidikan Pendidikan karakter menurut Ratna Megawangi . 4: . adalah upaya mendidik anak untuk membuat keputusan yang bijak dan menerapkannya dalam kehidupan sehari hari, sehingga mereka dapat mempengaruhi di lingkungan sekitarnya secara positif. Menurut Ahmad Sudrajat. Pendidikan karakter adalah suatu sistem dimana anak sekolah ditanamkan nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil. Pendidikan karakter erat kaitannya dengan "kebiasaan"atau adat budaya yang dilaksanakan terus menerus atau dalam arti pembentukan karakter diharapkan bisa mencakup 3 aspek . ognitif, emosional, psikomotori. siswa, agar siswa tidak semata-mata hanya tahu saja, namun sanggup serta berupaya melakukan apa yang mereka pahami Penguatan pendidikan karakter menjadi isu yang penting untuk saat ini karena banyaknya peristiwa yang menunjukkan terjadinya krisis moral baik di kalangan anak-anak, remaja, maupun orang tua. Pendidikan karakter mengajarkan kebiasaan cara berpikir dan perilaku yang membantu individu untuk hidup dan bekerja sama sebagai keluarga, masyarakat, dan bernegara dan membantu mereka untuk membuat keputusan yang dapat Pendidikan memiliki peranan yang sangat penting dalam pembentukan karakter. Oleh karena itu, penguatan pendidikan karakter harus dilaksanakan sedini mungkin dimulai dari lingkungan sekolah, salah satu nilai karakter yang perlu dikembangkan adalah disiplin. Nilai karakter disiplin sangat penting dimiliki oleh peserta didik untuk mengembangkan karakter peserta didik. Pentingnya penguatan nilai karakter disiplin didasarkan pada alasan bahwa sekarang banyak terjadi perilaku menyimpang yang bertentangan dengan norma Perilaku tidak disiplin juga sering ditemui di lingkungan sekolah, termasuk sekolah dasar. Contoh perilaku tidak disiplin tersebut antara lain datang ke sekolah tidak tepat waktu, tidak memakai seragam yang lengkap sesuai peraturan sekolah, duduk atau berjalan diatas tanaman yang jelas-jelas sudah dipasang tulisan Audilarang menginjak tanamanAy, membuang sampah sembarangan, mencorat coret dinding sekolah, membolos sekolah, menyerahkan tugas tidak tepat waktu. Terjadinya perilaku tidak disiplin di sekolah tersebut menunjukkan bahwa telah terjadi masalah serius dalam hal pendidikan karakter disiplin. Munculnya perilaku tidak disiplin menunjukkan bahwa pengetahuan yang terkait dengan pendidikan karakter yang didapatkan siswa di sekolah tidak membawa dampak positif terhadap perubahan perilaku siswa sehari-hari. Pada dasarnya siswa mengetahui bahwa perilakunya tidak benar tetapi mereka tidak memiliki kemampuan untuk membiasakan diri menghindari perilaku yang salah, ini terjadi dalam proses pembentukan karakter. Bisa jadi pendidikan karakter yang dilakukan selama ini baru pada tahap pengetahuan, belum sampai pada perasaan dan perilaku yang berkarakter sehingga pembentukan karakter seorang siswa membutuhkan waktu , tekad dan komitmen dari orangtua dan sekolah atau guru untuk mendidik anak menjadi pribadi yang berkarakter melalui kehidupan yang disiplin, lingkungan tempat peserta didik tumbuh menjadi salah satu usaha. Jika proses ini dilakukan dengan benar maka akan berdampak positif seperti adanya karakter sabar, toleransi, mampu memahami masalah dari sudut pandang yang berbeda, disiplin serta memiliki integritas akan senantiasa terpancar dari dalam diri sebagai orangtua maupun guru. Sebagai bahan pertimbangan terhadap permasalahan yang akan dibahas pada penelitian ini, maka peneliti mencantumkan beberapa penelitian terdahulu antara lain Nurul faizah . Dengan judul AuPembentukan Jurnal Pendidikan. Sains Dan Teknologi (JPST) Vol. 02 No. 02 Juni 2023 Vol. 2 No. 2 Juni 2023 Hal. http://jurnal. com/index. php/jpst/ Karakter Siswa Melalui Disiplin Tata Tertib Sekolah Di Sma Negeri 2 KlatenAy. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Pembentukan Karakter Siswa Melalui Disiplin Tata Tertib Sekolah Di Sma Negeri 2 Klaten. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan . ibrary researc. yang dilakukan melalui pendekatan psikologis analitik dan sosiologis. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa pembentukan karakter siswa melalui disiplin yang dilaksanakan melalui berbagai program di SMA Negeri 2 Klaten mampu meningkatkatkan disiplin siswa baik dalam kehadiran di sekolah, berpakaian yang rapi dan sopan, berperilaku sesuai norma dan etika, adanya rasa tanggung jawab terhadap kewajibannya, lebih rajin belajar untuk meningkatkan prestasi. Selain itu, ada penelitian dari Wuri Wuryandani. Bunyamin Maftuh. Sapriya, dan Dasim Budimansyah. Dengan judul AuPendidikan Karakter Disiplin Di Sekolah DasarAy. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Pendidikan Karakter Disiplin Di Sekolah Dasar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa untuk mendukung tercapainya keberhasilan internalisasi nilai karakter disiplin di sekolah ini, dibuat sembilan kebijakan sekolah, yaitu program pendidikan karakter, menetapkan aturan sekolah dan aturan kelas, melakukan sholat Dhuha dan Sholat Dhuhur berjamaah, membuat pos afektif di setiap kelas, memantau perilaku kedisiplinan siswa di rumah melalui buku catatan kegiatan harian, memberikan pesan-pesan afektif di berbagai sudut sekolah, melibatkan orang tua, melibatkan komite sekolah, dan menciptakan iklim kelas yang kondusif. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian naratif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini bermaksud untuk membuat gambaran mengenai situasi atau kejadian mengenai pola kedisiplinan pakaian pada siswa dalam kajian pendidikan karakter di Sd 3 Piji Kabupaten Kudus. Menurut pendapat dari James Schreiber dan Kimberly Asner-Self . Penelitian Naratif merupakan studi tentang bagaimana kehidupan dari individu seperti yang diceritakan atau dinarasikan melalui kisah dan cerita pengalaman mereka, termasuk diskusi tentang makna pengalaman-pengalaman bagi individu. Sedangkan menurut pendapat Webster dan Metrova, narasi . merupakan suatu metode penelitian di dalam ilmu sosial. Maksud dari metode ini merupakan kemampuan dalam memahami identitas dan pandangan dunia individu dengan mengacu pada cerita dan kisah . yang ia dengarkan ataupun tuturkan di dalam aktivitasnya sehari-hari. Jadi berdasarkan teori diatas dapat disimpulkan bahwa penelitian naratif merupakan penelitian yang metodenya berasal dari ceirta individua tau kelompok yang berbentuk lisan atau tulisan. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi, dokumentasi, dan studi literatur. Wawancara merupakan percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Wawancara digunakan untuk menjaring data atau informasi yang berkaitan dengan berbagai kebijakan yang dilakukan sekolah dalam pelaksanaan pendidikan karakter disiplin. Observasi dilakukan untuk melihat implementasi pendidikan karakter disiplin melalui pembelajaran di kelas. Dokumentasi digunakan untuk memperoleh data tentang tata tertib sekolah dan rencana pembelajaran yang dibuat oleh guru. Studi literatur adalah serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat, serta mengolah bahan penelitian (Zed, 2008:. Pada jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian kepustakaan atau studi literatur dimana peneliti mengandalkan berbagai literatur untuk memperoleh data penelitian dan menggunakan pendekatan kualitatif karena data yang dihasilkan berupa kata atau Metode studi literatur berupa tinjauan sistematis . ystematic literature revie. Bertujuan mengidentifikasi, mengkaji, serta mengevaluasi penelitian tertentu yang sesuai sehingga akan menghasilkan jawaban dari penelitian yang dilakukan (Purworaharjo & Firmansyah, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengertian pola kedisiplinan berseragam dalam kajian pendidikan karakter Berdasarkan hasil observasi yang telah penulis lakukan, rata-rata siswa di kelas V sudah mentaati peraturan berseragam dengan baik, hanya ditemukan beberapa siswa yang melanggar aturan tersebut, seperti tidak memakai dasi, dan sepatu yang tidak berwarna hitam polos. Terdapat juga kasus siswa yang tidak rapi dalam berseragam dikarenakan faktor dari lingkungan keluarga sendiri, siswa tersebut ditinggal oleh orang tua nya merantau, sehingga tidak ada yang memperhatikan lebih dalam hal berpakaian. Kasus lain terjadi juga karena adanya pengaruh dari teman, mereka meniru gaya berseragam teman yang tidak disiplin. Namun peran guru di SDN 3 Piji ini sudah sangat baik, mereka memberikan pendampingan terhadap siswa-siswa nya yang memang perlu adanya perhatian lebih. Guru juga telah memberikan contoh dan teladan kepada siswa nya dengan berpakaian rapi dan lengkap sesuai aturan. Jurnal Pendidikan. Sains Dan Teknologi (JPST) Vol. 02 No. 02 Juni 2023 Vol. 2 No. 2 Juni 2023 Hal. http://jurnal. com/index. php/jpst/ Hal tersebut sesuai dengan pendapat (Munawaroh, 2016:. Disiplin adalah sikap yang mencerminkan ketaatan dan kepatuhan individu secara sadar dalam menyatakan tugas dan tanggung jawabnya dalam menyelesaikan tugas tertentu. Disiplin adalah sikap diri untuk menumbuhkan perilaku tertib dengan mentaati segala peraturan dan ketentuan yang sudah ditetapkan (Naim, 2015: . Menurut Gie dalam Noor . , disiplin adalah perilaku tertib terhadap peraturan dimana suatu individu atau kelompok menjadi anggota dalam organisasi diharuskan untuk mematuhi peraturan yang berlaku. Disiplin menurut Noor . menggambarkan suatu keadaan dimana siswa menjaga ketertiban dan ketaatan dalam suatu sekolah, tanpa ada pelanggaran yang secara langsung maupun tidak langsung merugikan sekolah atau diri sendiri. Peraturan adalah inti dari disiplin. Sedangkan menurut Sari . , peraturan merupakan pola aturan-aturan tertentu yang telah ditetapkan dan diterapkan guna mengatur tingkah laku manusia. Aturan yang berhasil untuk anak adalah aturan yang mudah diingat, mudah dipahami, dan mudah diterima. Perilaku kedisiplinan seorang siswa dapat dikenali dari cara berpakaiannya. Seragam adalah identitas seseorang untuk dapat dikatakan sebagai siswa, maka dari itu penting sekali penggunaan seragam di lingkungan Kewajiban dalam mengenakan seragam membantu mendidik siswa untuk menjaga disiplin dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan dengan berseragam pun diajarkan bahwa semua siswa berseragam itu sama dan memiliki hak dan kewajiban yang sama pula, sehingga tidak ada perbedaan status sosial dalam hal memakai Hal ini digunakan untuk melambangkan bahwa pembelajaran yang berlangsung adalah proses pendidikan yang cukup teratur agar proses belajar mengajar lebih formal dan tertib bagi siswa. Sekolah telah menetapkan aturan seragam yang wajib ditaati siswa seperti pada rambut, baik siswa lakilaki dan perempuan diwajibkan untuk memangkas rambutnya agar terlihat rapi, terutama bagi laki-laki dilarang untuk memanjangkan rambutnya seperti perempuan. Selanjutnya pada baju, aturan memakai baju harus sesuai dengan peraturan yang telah dibuat sekolah, karena tiap sekolah memiliki aturan yang berbeda, ada yang bajunya wajib dimasukkan da nada pula yang memperbolehkan bajunya untuk dikeluarkan. Terakhir adalah sepatu, umumnya tiap sekolah mewajibkan siswanya memakai sepatu berwarna hitam, namun semua kembali pada aturan sekolah masing-masing. Aturan seragam di sekolah tidak mempengaruhi proses belajar mengajar, tetapi disiplin seragam dimaksudkan untuk memfasilitasi pendidikan agar sesuai dengan norma yang berlaku. Karena dalam hal ini bukan hanya tentang kedisiplinan, tetapi juga tentang norma. Tanpa norma, kekacauan dan gangguan akan terjadi karena individu cenderung bertindak sesuai dengan keyakinannya (Tilaar, 2001: 44-. Dengan terciptanya siswa yang disiplin, maka siswa dapat tumbuh dengan baik di masa depan, siswa dapat menjadi generasi penerus yang bermoral, dan menjadi generasi yang akan membangun Indonesia lebih disiplin di masa Ada hubungan antara disiplin dan norma yang membentuk karakter seseorang. Pendidikan karakter disiplin menjadi hal yang paling penting dan utama dalam mengembangkan karakter suatu individu. Dilengkapi dengan nilai-nilai kepribadian disiplin, mendorong pengembangan nilai-nilai kepribadian berkarakter lainnya seperti tanggung jawab, integritas, dan kerja sama. Curvin & Mindler 1999 (Prijodarminto, 2009:. menjelaskan bahwa disiplin memiliki tiga dimensi. Pertama, disiplin dalam mencegah terjadinya masalah, kedua, disiplin dalam memecahkan masalah agar tidak semakin buruk, ketiga, disiplin dalam mengontrol siswa yang berperilaku di luar kendali. Pendidikan karakter dirancang secara sistematis sebagai upaya membantu siswa dalam mengenali nilai-nilai tingkah laku manusia yang berhubungan dengan Tuhan YME, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan bangsa. Nilai-nilai tersebut dinyatakan dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan dan perbuatan berdasarkan norma agama, hukum, tata krama, budaya serta adat istiadat (Asmani, 2011: Upaya pembentukan karakter disiplin harus terus menerus dilakukan pada siswa guna menanamkan serta meningkatkan kepribadian luar biasa lainnya dan mencapai kesuksesan hidup yang lebih baik. Oleh karena itu, sudah sepantasnya sekolah mengembangkan peserta didik yang berkarakter baik yang berpegang teguh pada budaya dan etika sebagai prasyarat untuk hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di masa mendatang. lingkungan sekolah, guru sebagai contoh yang baik bagi siswa karena dalam filsafat Jawa guru itu digugu dan ditiru, yaitu guru itu digugu perkataannya dan ditiru perbuatannya (Fathurohman. Suryana, & Fatriyany, 2013:. Pendidik profesional adalah yang dapat memberikan contoh yang baik pada siswanya, utamanya dalam hal disiplin berseragam. Pendapat ini sejalan dengan penelitian sebelumnya oleh Karmelia . bahwa pendidik juga perlu mengikuti tata tertib sekolah dan menerapkan kedisiplinan sebagai panutan bagi peserta didik. Hal ini sejalan dengan Mulyasa . yang menyatakan bahwa disiplin berarti pendidik mengetahui, memahami dan mengikuti peraturan secara konsisten dan profesional. Artinya, pendidik tidak hanya bertanggung jawab mendidik, tetapi juga menjaga kedisiplinan peserta didik. Faktor Penyebab Pola Kedisiplinan Siswa Kurang dalam Pakaian Gangguan disiplin ketika selama proses belajar atau bahkan diluar belajar dapat saja disebabkan oleh Contohnya siswa di sekolah dasar dalam berpakaian kadang atau bahkan sering kurang disiplin. Hal itu Jurnal Pendidikan. Sains Dan Teknologi (JPST) Vol. 02 No. 02 Juni 2023 Vol. 2 No. 2 Juni 2023 Hal. http://jurnal. com/index. php/jpst/ disebabkan karena adanya banyak hal faktor yang mempengaruhi atau menyebabkan pola kedisiplinan siswa sekolah dasar kurang dalam berseragam, baik dari faktor internal maupun eksternal. Faktor internal Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri kita sendiri. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi di SDN 3 Piji faktor internal berasal dari lingkungan keluarga. Lingkungan keluarga adalah salah satu pengaruh utama atau utama bagi kehidupan untuk pertumbuhan dan perkembangan anak. Siswa yang kurang perhatian orang tua karena sibuk bekerja atau keluarga yang tidak harmonis. Sehingga siswa kurang perhatian dan kasih sayang dari orang tua. Lingkungan keluarga merupakan lingkungan yang memiliki peran terpenting dalam pola kedisiplinan siswa tentunya dalam berpakaian. Karena dengan adanya kasih sayang dan perhatian dari keluarga maka menjadi dukungan belajar bagi siswa untuk disiplin. Misalnya seperti memperhatikan cara berpakaian anak dengan baik dan benar, cara memakai segaram, dasi, ikat pinggang, dan lain-lain. Orang tua harus memberikan contoh perilaku yang baik terhadap anak. Karena anak akan meniru perilaku orang tuanya. Dari hasil wawancara terdapat salah satu anak yang sudah tidak memiliki ibu dan hanya dengan ayah. Siswa ini jarang diperhatikan oleh ayahnya sehingga anak ini kurang perhatian dan kedisiplinan dalam berpakaian kurang rapi. Maka dari itu, kondisi keluarga merupakan faktor internal yang utama dalam penyebab pola kedisiplinan siswa dalam Selain dari faktor keluarga dan orang tua, penyebab lain dari kurang disiplinnya siswa dalam berpakaian adalah kemalasan siswa. kemalasan siswa dalam menggunakan pakaian berseragam dengan rapih adalah salah satu faktor penyebab pola kedisiplinannya kurang. Siswa yang cenderung malas apalagi tidak memiliki minat atau motivasi sekolah akan menjadi faktor penyebab siswa tidak rapi dalam berpakaian. Misalnya siswa yang malas ke sekolah dengan bangun kesiangan dan orang tua yang sibuk pasti akan membuat siswa tidak rapi dalam Faktor eksternal Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri sendiri atau dari lingkungan Faktor eksternal siswa sekolah dasar tidak rapi dalam berpakaian biasanya penyebabnya adalah dari lingkungan. Misalnya lingkungan luar seperti teman yang memberikan pengaruh bagi kita. Biasanya ketika siswa sekolah dasar berada dalam lingkungan yang kurang baik atau pergaulan yang kurang baik akan meniru setiap perilaku temannya. Apalagi jika siswa sekolah dasar berteman dengan anak yang usianya diatasnya. Berdasarkan hasil observasi terdapat 2 siswa yang berpakaian kurang rapi dalam satu meja. Menurut hasil wawancara kepada siswa ternyata siswa tersebut meniru temannya berpakaian dengan baju dikeluarkan agar terlihat keren seperti anak besar. Selain itu, faktor eksternal siswa sekolah dasar tidak disiplin dalam berpakaian adalah ketidakpekaan guru dalam memperhatikan siswa. Menurut pendapat Tulus TuAou . dalam (Utari et al. , 2. menjelaskan bahwa pelanggaran disiplin terjadi dikarenakan sikap dan perbuatan guru yang kurang bijak dan kurang baikdalam persiapan mengajar. Ketika ada siswa yang bajunya keluar guru membiarkan saja tidak membenarkannya. Padahal untuk usia siswa sekolah dasar yang suka bermain lari-lari dan banyak tingkah atau aktif pasti akan membuat pakaian siswa menjadi tidak rapi. Ketika hal tersebut terjadi guru tidak peka dengan tidak membenarkannya seharunya guru membenarkannya karena seusia mereka mungkin masih belum paham akan pola kedisipilan berpakaian. Penanaman Pola Kedisiplinan Berpakaian dalam Kajian Pendidikan Karakter Guru merupakan salah satu peran penting untuk menanamkan pola kedisiplinan berpakaian dalam kajian berpendidikan karakter di sekolah dasar. Karena dengan menanakan pola kedisiplinan berpakaian dalam kajian berkarakter dapat membentuk siswa sekolah dasar menjadi karakter yang baik. Penanaman pendidikan karakter dapat dimulai sejak dini. Cara guru menanamkan pola kedisiplinan berpakaian dalam kajian berpendidikan karakter adalah dengan memberikan contoh secara nyata kepada siswa dengan menggunakan pakaian yang rapi. Siswa cenderung meniru setiap perilaku atau sikap yang ditunjukkan guru kepada siswa. Jika guru menunjukkan sikap dengan berangkat kesiangan dengan pakaian lusuh maka siswa akan meniru. Guru dapat memberikan contoh seperti berpakaian rapi dan juga menjelaskan cara berpakaian dengan benar. Berikut ini contoh cara guru menanamkan pola kedisiplinan berpakaian dalam kajian berpendidikan karakter : Seragam harus di setrika supaya tidak kusut Jurnal Pendidikan. Sains Dan Teknologi (JPST) Vol. 02 No. 02 Juni 2023 Vol. 2 No. 2 Juni 2023 Hal. http://jurnal. com/index. php/jpst/ Siswa harus berpakaian lengkap seperti menggunakan dasi, kaos kaki sekolah, dan ikat pinggang serta atribut yang lengkap. Siswa perempuan yang tidak memakai hijab harus menggunakan rok di bawah lutut dan rambut tertata dengan rapi. Misalnya di kepang atau diikat. Siswa laki-laki harus memakai celana dibawah lutut atau bahkan bisa celana panjang. Siswa perempuan yang berhijab harus rapi hijabnya tidak terlihat rambut. Hambatan menanamkan pola kedisiplinan seragam dalam kajian pendidikan karakter Berdasarkan hasil penelitian yang telah penulis lakukan, terdapat beberapa hambatan dalam menanamkan pola kedisiplinan pada siswa SDN 3 Piji, hambatan tersebut berasal dari 2 faktor yaitu internal dan Hal ini sesuai dengan Suyanto . yang berpendapat, hambatan yang dihadapi sekolah dalam membentuk sikap kedisiplinan siswanya melalui penerapan tata tertib adalah karena faktor internal dan eksternal. Menurut Suyanto . , faktor internal berasal dari dalam diri siswa. Pada umumnya kesadaran seorang siswa berbeda-beda antara siswa yang satu dengan siswa yang lain, dan pada dasarnya kesadaran lahir dari dalam hati siswa yang sungguh-sungguh. Dikatakan bahwa siswa dapat menyadari nilai-nilai mereka dengan menyadari perilaku seperti apa yang baik atau buruk dalam diri mereka. Kurangnya kesadaran siswa terhadap ketaatan tata tertib sekolah menjadi penghambat dalam pembentukan kedisiplinan siswa. Kemudian faktor eksternal. Faktor ini berasal dari luar diri siswa, dan penelitian menunjukkan bahwa faktor eksternal yang menghambat penanaman pola disiplin pada diri siswa adalah faktor lingkungan dan keluarga. Lingkungan adalah sesuatu yang ada disekitar siswa dalam kehidupan, baik lingkungan fisik seperti, orang tua, rumah, teman bermain, dan masyarakat sekitar, maupun psikologis, seperti emosi yang dialami, cita-cita, dan masalah yang dihadapi. Tentunya hal ini juga mempengaruhi kedisiplinan siswa itu sendiri (Apriyadi, 2. Disiplin adalah sikap taat terhadap aturan yang bersumber dari lingkunga keluarga dan lingkungan sekitar, jika disiplin tidak biasa diterapkan dilingkungan keluarga maka, di sekolah siswa akan terbiasa tidak disiplin terhadap aturan. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa ``perkembangan kepribadian seseorang dipengaruhi oleh faktor lingkungan rumah, sosial, masyarakat dan sekolah'' (Sofiati, 2. Sikap disiplin yang diterapkan masing-masing lingkungan tempat tinggal akan berdampak pada tumbuh kembang kepribadian seseorang. SIMPULAN Pendidikan sebagai urgensi pengembangan individu, harus proaktif untuk memfasilitasi pengembangan individualitas dan akses terbuka lebih besar bagi semua individu untuk mencapai keberhasilan dalam pendidikan. Kolaborasi antara pemangku kepentingan pendidikan dan pembelajaran perlu diperkuat dan dipersatukan untuk mempersiapkan pendidikan yang beragam. Kedisiplinan adalah salah satu sarana dalam upaya pembentukan kepribadian dan merupakan kunci keberhasilan, karena tingkat kedisiplinan yang tinggi akan meningkatkan konsentrasi dalam melaksanakan aktivitas akan meningkat, karena disiplin adalah titik awal pendidikan karakter di sekolah. Untuk itu upaya pembentukan karakter disiplin harus terus menerus dilakukan pada siswa guna menanamkan serta meningkatkan kepribadian luar biasa lainnya dan mencapai kesuksesan hidup yang lebih baik. Namun hal tersebut tidak terlepas dari adanya hambatan dalam proses pendisiplinan, seperti pada siswa di SDN 3 Piji yang mengalami hambatan baik itu berasal dari faktor internal maupun faktor eksternal. Meskipun demikian, sekolah harus mengupayakan terbentuknya karakter siswa dimulai dari disiplin dalam berpakaian/berseragam. DAFTAR PUSTAKA