ISSN ISSN : 2807-9280 : 2807-9280 https://ejournal. poltekkes-smg. id/ojs/index. php/LIK https://ejournal. poltekkes-smg. id/ojs/index. php/LIK TINGKAT KECEMASAN PADA ANAK PRASEKOLAH DENGAN INTERVENSI PEMASANGAN INFUS DI RSUD BENDAN KOTA PEKALONGAN Tri Anonim1. Yuniske Penyami2. Maslahatul Inayah3. Lis Triasari4. Hartati5 Poltekkes Kemenkes Semarang *e-mail korespondensi: trinonim@gmail. ABSTRAK Latar Belakang : Kecemasan merupakan kondisi emosional yang tidak menyenangkan yang ditandai oleh perasaan-perasaan subjektif atau perasaan yang tidak diketahui jelas sebabnya atau sumbernya seperti ketegangan, ketakutan, dan kekhawatiran. Tindakan yang memicu kecemasan anak salah satunya intervensi pemasangan infus. Usia prasekolah merupakan usia dimana anak sering mengalami kecemasan dikarenakan Tindakan perawatan di rumah sakit, salah satunya tindakan pemasangan infus. Metode: Penelitian ini menggunakan metode survei dengan instrumen kuesioner. Pendekatan secara cross sectional. Sampel yang diambil yaitu 100 responden. Setelah itu dilakukan evaluasi. Hasil: Hasil dari penelitian ini yaitu sebanyak 79% anak mengalami kecemasan berat saat dilakukan tindakan intervensi pemasangan infus. Simpulan: tingkat kecemasan berat dengan presentase 79% yang berarti menunjukkan anak usia prasekolah mengalami tingkat kecemasan yang signifikan saat dilakukan intervensi pemasangan infus. sehingga perlu dilakukan tindakan untuk mengurangi tingkat kecemasan tersebut. Kata Kunci : Pemasangan infus, prasekolah, kecemasan ABSTRACT ANXIETY LEVEL IN PRESCHOOL CHILDREN WITH INFUSION INSTALLATION INTERVENTION AT BENDAN HOSPITAL. PEKALONGAN CITY Tri Anonim1. Yuniske Penyami2. Maslahatul Inayah3. Lis Triasari4. Hartati5 Poltekkes Kemenkes Semarang Background: Anxiety is an unpleasant emotional condition characterized by subjective feelings or feelings that are not clearly known for what they cause or source, such as tension, fear, and worry. One of the actions that trigger children's anxiety is infusion intervention. Preschool age is the age where children often experience anxiety due to hospital care, one of which is infusion. Method: This study used a survey method with a questionnaire instrument. The approach was cross-sectional. The sample taken was 100 respondents. After that, an evaluation was carried out. Results: The results of this study were that 79% of children experienced severe anxiety when the infusion intervention was carried out. Conclusion: the level of severe anxiety with a percentage of 79% means that preschool children experience a significant level of anxiety when the infusion intervention was carried out. that action needs to be taken to reduce the level of anxiety. Keywords: Infusion installation, preschool, anxiety Tri Anonim1. Yuniske Penyami2. Maslahatul Inayah3. Lis Triasari4. Hartati5 Page 1 Of 6 ISSN : 2807-9280 https://ejournal. poltekkes-smg. id/ojs/index. php/LIK LATAR BELAKANG Anak merupakan individu yang berusia 0 Ae 18 tahun secara bertahap anak akan mengalami tumbuh kembang yang dimulai dari bayi sampai Tahapan-tahapan anak mencakup, yang pertama bayi yaitu usia 0-1 tahun, kedua toddler yaitu 1Ae2,5 tahun, yang ketiga prasekolah yaitu usia 2,5Ae5 tahun, keempat usia sekolah yaitu usia 5 Ae 11 tahun, dan yang terakhir usia remaja yaitu usia 11- 18 tahun (Hidayat 2011 dalam Kusuma. N 2. Anak prasekolah adalah anak berusia 3-6 tahun dimana anak mengalami masa yang sangat penting sebagai pondasi atau dasar untuk perkembangan masa depannya (Wong, 2. Anak usia prasekolah ditandai dengan berbagai macam aktivitas yang dilakukan, dimana anak mengalami pertumbuhan fisik dan aktivitas motorik yang tinggi, anak belajar untuk mandiri, anak menunjukkan adanya rasa inisiatif serta anak mampu mengidentifikasi identitas dirinya (Hidayat, 2011 dalam Kusuma. Usia pra sekolah . -5 tahu. , karakteristik anak pada masa ini terutama pada anak dibawah 3 tahun adalah sangat egosentris. Selain itu anak ketidaktahuan sehingga anak perlu diberi tahu tentang apa yang akan akan terjadi padanya. Misalnya, pada saat akan diukur suhu, anak akan merasa melihat alat yang akan ditempelkan ke Oleh karena itu jelaskan bagaimana akan merasakannya. Beri kesempatan padanya untuk memegang thermometer sampai ia yakin bahwa alat tersebut tidak berbahaya untuknya. Dari hal bahasa, anak belum mampu berbicara Hal ini disebabkan karena anak belum mampu berkata-kata 900-1200 kata. Oleh karena itu saat menjelaskan, gunakan kata-kata yang sederhana, singkat dan gunakan istilah yang Berkomunikasi dengan anak melalui objek transisional seperti boneka. Berbicara dengan orangtua bila anak malu-malu. Beri kesempatan pada yang lebih besar untuk berbicara tanpa keberadaan orangtua. Satu hal yang akan mendorong anak untuk meningkatkan kemampuan dalam berkomunikasi adalah dengan memberikan pujian atas apa yang telah (Damayanti. Seiring pertumbuhan anak akan aktif dalam lingkungan menyebabkan kelelahan dan berakibat dalam terserang penyakit. Jika penyakit yang diderita tidak memungkinkan penanganan secara mandiri maka anak berpotensi untuk dibawa ke Rumah Sakit. Di Amerika Serikat diperkirakan lebih dari 5 juta anak menjalani hospitalisasi karena prosedur pembedahan dan lebih dari 50% anak mengalami kecemasan dan stress, dan 1,6 juta anak pada usia antara 2-6 tahun menjalani hospitaslisasi disebabkan oleh injury dan berbagai penyebab lainya (Disease Control. National Hospital Discharge Survey (NHDS, 2. (Apriliawati 2011 dalam Kaluas. Ismanto. Kundre. M, 2. Respon anak selama dirawat di rumah sakit yang paling menonjol adalah Perasaan yang timbul tersebut jika tanpa intervensi yang tepat dan menyesuaikan tahap perkembangan, memungkinkan terjadinya gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada Salah satu tanda anak tidak cemas akibat hospitalisasi adalah anak kooperatif ketika dilakukan tindakan keperawatan. Pada saat dirawat dirumah sakit anak akan mengalami berbagai perasaan tidak menyenangkan, seperti marah, takut, cemas, sedih dan nyeri (Stuart, 2013 dalam Listianingsih. Kurniawati. Prahmawati. P, 2. Tindakan keperawatan yang dilakukan salah satunya adalah pemasangan Anak akan mengalami kecemasan yang sangat berat saat dilakukan tindakan pemasangan infus (Wong, 2. Pemasangan implementasi keperawatan yang dilakukan perawat untuk memasukan cairan atau obat langsung ke dalam pembuluh darah vena dalam jumlah banyak dan dalam waktu lama dengan menggunakan set infus secara bertetes. Pemasangan infus merupakan prosedur yang paling banyak dilakukan di rumah sakit. Pemasangan infus yang didapat anak pada saat masuk rumah sakit menimbulkan trauma Salah satu prosedur pemasangan infus yang dilakukan pada anak adalah terapi melalui pemasangan infus. Pemasangan infus merupakan prosedur yang menimbulkan rasa tidak nyaman, ketakutan dan kecemasan (Muttaqin A, 2. METODOLOGI Penelitian ini menggunakan metode survei dengan pembagian kuesioner. Pendekatan secara cross sectional. Sampel yang diambil yaitu 100 Setelah itu dilakukan evaluasi. Tri Anonim1. Yuniske Penyami2. Maslahatul Inayah3. Lis Triasari4. Hartati5 Page 2 Of 6 ISSN : 2807-9280 https://ejournal. poltekkes-smg. id/ojs/index. php/LIK HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Lokasi Penelitian Gambaran lokasi penelitian tingkat kecemasan pada anak yang dilakukan intervensi infus di RSUD Bendan Kota Pekalongan yang beralamat di Jl. Sriwijaya No. Bendan. Kec. Pekalongan Barat. Kota Pekalongan. Jawa Tengah 51119. Rumah sakit ini berakreditasi paripurna dan penelitian dilakukan di instalansi Gawat Darurat. Penjabaran kuesioner (Tabel 5. Soal Kuesioner Frekuen Presen Usia responden (Tabel 5. Usia Frekuensi Presentase 3 Tahun 4 Tahun 5 Tahun 6 Tahun Usia responden yang digunakan dalam penelitian ini didominasi oleh usia 4 tahun . %), selanjutnya yaitu 3 tahun . %), 5 tahun . %), dan 6 tahun . %). Jenis kelamin responden (Tabel Jenis Frekuensi Presentase Kelamin Perempuan Laki-Laki Jenis kelamin yang digunakan dalam penelitian ini didominasi oleh laki-laki yaitu 59% kemudian perempuan 41%. Kuesioner (Tabel 5. Tingkat Frekuensi Presentase Kecemasan Kecemasan Ringan Kecemasan Sedang Kecemasan Berat Tingkat kecemasasan yang terdapat pada penelitian ini didominasi oleh kecemasan berat yaitu dengan frekuensi 79 . %), selanjutnya kecemasan sedang 17 . %), dan kecemasan ringan 4 . %). Anak tidak dapat bermain/makan/m Anak mendekati orang tuanya Anak memegangi orang tuanya atau keluarga yang ada Anak menghisap ibu jarinya atau meremas-remas Anak memegangi tangan orang tua serta merapatkan Anak gelisah Ekspresi anak menangis Tri Anonim1. Yuniske Penyami2. Maslahatul Inayah3. Lis Triasari4. Hartati5 Page 3 Of 6 ISSN : 2807-9280 https://ejournal. poltekkes-smg. id/ojs/index. php/LIK Anak perawat/menyeli muti tubuh atau berpura-pura tidur Anak tidak mau ditinggal sendiri didampingi oleh orang tua Anak memasang infus Anak mengajak ruang perawatan PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan dengan cara pengumpulan data melalui kuesioner untuk mengetahui tingkat kecemasan melalui lembar Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kecemasan anak saat intervensi pemasangan infus di RSUD Wilayah Kota Pekalongan. Setelah dilakukan pengolahan data, analisis serta deskripsi. Kecemasan emosional yang tidak menyenangkan yang ditandai oleh perasaan-perasaan subjektif atau perasaan yang tidak diketahui jelas sebabnya atau sumbernya seperti ketegangan, ketakutan, dan kekhawatiran (SAK Jiwa dalam Dayani. Kecemasan merupakan suatu hal susah dideskripsikan, adanya perasaan gelisah dan tidak tenang dengan sumber yang tidak spesifik dan tidak diketahui oleh seseorang. Intervensi pemasangan infus merupakan prosedur yang menimbulkan kecemasan dan ketakutan serta rasa tidak nyaman bagi anak akibat nyeri yang dirasakan saat prosedur tersebut dilaksanakan (Agnesha, 2011 dalam Nurmi, 2. Kecemasan yang terjadi pada anak hospitalisasi dapat disebabkan karena adanya perpisahan yang ditunjukkan dengan menolak makan, menangis dan tidak kooperatif terhadap Kehilangan menyebabkan anak menjadi cepat marah dan agresif, hilangnya konsep diri dan body image menyebabkan anak berespon terhadap nyeri dengan wajah menyeringai, menangis, menggigit bibir, menendang bahkan memukul dan berlari keluar (Riyadi, 2009 dalam Nurmi, 2. Hasil penelitian secara deskriptif yang dilakukan oleh Melinda Agnesha . dengan judul tingkat Kecemasan Orang Tua terhadap Pemasangan Infus pada Anak di Ruang i RSUD Dr. Pirngadi Medan mengemukakan bahwa Orang tua cemas dan takut jika prosedur invasif pemasangan infus yang dilakukan akan memberikan efek yang membuat anak merasa semakin sakit atau nyeri. Penelitian tersebut juga mengungkapkan bahwa mayoritas responden mengalami cemas berat dan sebagian kecil . ,4%) responden mengalami panik (Agnesha, 2011 dalam nurmi 2. Perasaan cemas merupakan dampak dari hospitalisasi yang dialami oleh anak karena . al menimbulkan stres. yang ada dilingkungan rumah sakit (Sujatmiko, 2. Dampak dari kecemasan pada anak yang menjalani perawatan, apabila tidak segera ditangani akan membuat anak melakukan penolakan terhadap tindakan perawatan dan pengobatan yang diberikan sehingga akan berpengaruh terhadap lamanya hari rawat anak dan dapat memperberat kondisi penyakit yang diderita anak (Widianti CR, 2. Kecemasan juga bisa didasari dari usia dan jenis kelamin anak. Berdasarkan usia responden paling banyak yang mengalami kecemasan adalah anak dengan usia prasekolah . -6 tahu. yaitu sebanyak 5 anak . %). Pada anak usia prasekolah kemampuan anak dalam merespon nyeri akibat perlukaan jarum saat pemasangan infus masih kurang adaptif. Anak hanya mengikuti kata hati sesuai yang dirasakannya dengan respon menangis. Pada anak yang berusia lebih tua . rata-rata sudah bisa kooperatif dalam pelaksanaan pemasangan infus dan bersikap adaptif. Faktor yang mempengaruhi kecemasan antara lain jenis kelamin, pengalaman individu, dan usia. Usia Tri Anonim1. Yuniske Penyami2. Maslahatul Inayah3. Lis Triasari4. Hartati5 Page 4 Of 6 ISSN : 2807-9280 https://ejournal. poltekkes-smg. id/ojs/index. php/LIK mempengaruhi kecemasan, karena semakin muda usia seseorang, biasanya semakin meningkat kecemasannya dalam menghadapi suatu masalah (Zannah et al. , 2. Hasil analisa data menunjukkan terdapat anak yang mengalami kecemasan kategori cemas berat yaitu satu responden . %). Berdasarakan kuesioner yang diisi oleh ibu, responden yang mengalami kecemasan kategori berat, belum pernah mendapatkan terapi pemasangan infus sebelumnya sehingga hal ini merupakan menimbulkan kecemasan pada anak. Hal ini juga sejalan dengan hasil penelitian Kirono . yang menyatakan bahwa lingkungan dan orang orang asing, perawatan dan berbagai prosedur yang dijalani oleh anak saat masuk di rumah sakit merupakan sumber utama stresor, kecewa dan cemas, terutama untuk anak yang pertama kali dirawat di rumah sakit (Kirono, 2. Kecemasan anak harus dikurangi atau dikontrol saat dilakukan pemasangan infus karena kecemasan berlebihan bahkan pada tingkat panik akan menyebabkan tindakan pemasangan infus akan terganggu, sehingga diperlukan peranan orang tua. Peran orang tua akan bermanfaat bagi anak maupun perawat. Pada umumnya orang tua lebih dekat dengan anak dari pada perawat, karena hubungan ini sudah terjalin dalam waktu yang lama dan orang tua mengenal anaknya sebagai orang luar. Oleh karena itu, orang tua didorong untuk tetap tinggal dengan anak dirawat dirumah sakit selama diminimalkan (Muttaqin, 2. Peneliti berasumsi bahwa selama proses tindakan pemasaangan infus, peran orang tua yaitu berada di samping anak, membujuk dan menenangkan anak akan sangat membantu berhasilnya proses tersebut. Selain itu, dengan memberikan pujian dan mengelus tangan anak, akan dapat memberikan rasa aman dan menghilangkan perasaan cemas pada anak sehingga anak dapat memberikan respon positif yaitu tidak memberontak, mau dipasang infus dan kooperatif. Meskipun beberapa anak masih menunjukan kecemasan seperti bersikap kasar kepada perawat, merasa ketakutan yang berlebihan, dan regresi, akan tetapi pada kenyataannya proses pemasangan infus masih tetap dapat dilakukan dengan adanya peran orang tua yaitu memberikan mainan kepada anak untuk mengalihkan perhatian anak terhadap proses Berdasarkan hal tersebut, maka kehadiran dan peran orang tua sangat membantu, menentukan respon yang diberikan anak sehingga akan berdampak pada keberhasilan prosedur pemasangan infus. Seseorang akan menderita gangguan cemas, jika tidak mampu mengatasi stressor psikososial yang dihadapi. Di penelitian ini anak mayoritas mengalami kecemasan saat akan dilakukan pemasangan infus karena orang tua kurang dapat memberikan dukungan kepada anaknya serta anak cenderung mengalami suatu kondisi atraumatic care yaitu kondisi anak mengalami ketakutan terhadap suatu hal karena seringnya ditakut-takuti oleh orang tua misalnya banyaknya anak yang sering ditakuti oleh orang tua pada profesi perawat serta jarum sehingga terbawa pada alam bawah sadar anak, hal tersebutlah yang menyebabkan anak mengalami kecemasan berat sampai keadaan panik saat akan dilakukan pemasangan infus. SIMPULAN Tingkat kecemasan berat dengan presentase 79% yang berarti menunjukkan anak usia prasekolah mengalami peningkatan yang signifikan dalam kecemasan saat dilakukan intervensi pemasangan infus, sehingga perlu dilakukan tindakan untuk mengurangi tingkat kecemasan tersebut. SARAN