Buletin Al-Turas Vol. 26 No. 2 July 2020, pp. VagrantsAo Communication Behavior in Interpersonal Relations in Jakarta Syaiful Rohim Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA Jakarta. Indonesia Syaiful_rohim@uhamka. Abstract The study aimed to know the communication management pattern of interpersonal communication activities among vagrants and other communities. The study made use of qualitative research intended to get complete description of interpersonal communication phenomena that occurred among vagrants and other communities. The research relied on observation and in-depth interviews with ten vagrants which were spread in some places in Jakarta. Depok. Tangerang Selatan. Tangerang. Bogor, and Bekasi. The collected data were analyzed using Johari Window theory to explain which frame underlay how vagrants conducted interpersonal and intrapersonal The result showed that vagrants did their communication activities by dividing themselves into open and close areas. The other communication behavior was done through mechanism management of impression which was made to manage and organize how to behave in interpersonal communication and relation with others as a form of adaptation and an effort to keep harmony in social interaction and communication. It can be concluded that the vagrants are part of the social system and structure of the community that has traditions and culture that need to be respected and appreciated. Keywords: vagrant. impression management. Johari Window | 367 Syaiful Rohim. Vagrants Communication Behavior in Interpersonal Relations Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola manajemen komunikasi dari kegiatan komunikasi antarpribadi di antara para gelandangan dan komunitas lainnya. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif yang dimaksudkan untuk mendapatkan deskripsi lengkap tentang fenomena komunikasi antarpribadi yang terjadi di antara para gelandangan dan komunitas lain. Penelitian ini mengandalkan observasi dan wawancara mendalam dengan sepuluh gelandangan yang tersebar di beberapa tempat di Jakarta. Depok. Tangerang Selatan. Tangerang. Bogor, dan Bekasi. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan teori Johari Window untuk menjelaskan kerangka mana yang mendasari bagaimana para gelandangan melakukan komunikasi interpersonal dan intrapersonal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gelandangan melakukan kegiatan komunikasi dengan membagi diri ke dalam daerah terbuka dan tertutup. Perilaku komunikasi lainnya dilakukan melalui mekanisme manajemen kesan yang dibuat untuk mengelola dan mengatur bagaimana berperilaku dalam komunikasi interpersonal dan hubungan dengan orang lain sebagai bentuk adaptasi dan upaya untuk menjaga harmoni dalam interaksi sosial dan komunikasi. Dapat disimpulkan bahwa gelandangan merupakan bagian dari sistem dan struktur social masyarakat yang mempunyai tradisi dan budaya yang perlu dihargai, diperhatikan, dan dipertimbangkan seluruh cara dan aktivitas social dan komunikasinya. Kata Kunci: Gelandangan. Diri. Manajemen Kesan. Johari Window AEIEAA ANA NN E uEO O II u EAE II I EAE OI EIOI OEIIA A O I NN E U IOOU ONA uEO EAOE EO OAA EIE EN EAEA. AEOA A OI N E EO EIEA. AOI EA EO O OI EIOI OEII EOA AOEICE EIIC I II EIOI EOI IO AO IEI AO E oE OIOA A O I EOE EOI I IO ONO OIO EA. AIOI OIOI o OOEOA A O EIO II N EA. AO uO EIOI AO uCI EAE uIOIE O uIOIEA ANO I EIOI OCOIOI I EAE EA II EE COI IANI uEO EIIC EIAOA A O OI IAO EOEO EAE EO II EE EO u EI EO I uIN EuEA. AOEIECA AOIOI EOAO EAA AO EAE OI EA OEEC I EOI e II EE EEOAA AOENO EIOE EEA EO EII AO EAE EIO OEAEA A Iu Eu u EIu ONO OIOA:AeI EOOA Buletin Al-Turas Vol. 26 No. 2 July 2020, pp. PENDAHULUAN Fenomena dan realitas komunikasi adalah salah satu sisi kehidupan dari dunia keseharian seseorang yang sangat menarik untuk dijadikan objek kajian. Termasuk dalam hal ini realitas pada kelompok masyarakat stigma dan/atau komunitas marginal. Kelompok masyarakat terpinggirkan seperti gelandangan adalah salah satu kelompok yang sangat menarik untuk diteliti. Banyak perlakuan yang tidak simpatik dari masyarakat terhadap segala aktivitas seorang gelandangan yang mendorongnya untuk berbuat dan berperilaku lain dari dunia sosial pada umumnya. Kekhasan budaya dan tradisi inilah yang menjadikan peneliti memandang komunitas ini menarik untuk diteliti lebih lanjut, apalagi dengan menggunakan pendekatan fenomenologis, yang merupakan salah satu pendekatan penting dalam kajian ilmu komunikasi (Littlejohn & Foss, 2010. Miller & Steinberg, 2. Kekhasan budaya dan tradisi seorang yang distigmatisasi sebagai gelandangan dalam batasan tertentu mempengaruhi kekhasan komunikasi yang mereka lakukan. Apalagi stigma sosial, julukan, label, citra negatif, dan kecurigaan masyarakat terhadap segala aktivitas yang dilakukannya, telah membuat konsep diri dan kehidupan mereka menjadi komunitas yang dianggap berbeda atau devian dengan kelompok sosial masyarakat yang lainnya. Dalam konteks komunikasi, terutama komunikasi intrapersonal dan interpersonal, pakar komunikasi terkemuka di Indonesia memberikan penegasan terhadap keberadaan konsep diri pada seseorang yang mempengaruhi dan merupakan faktor yang sangat menentukan dalam berbagai aktivitas komunikasi dan sosialnya. Setiap orang bertingkah-laku, berperilaku dan berkomunikasi sesuai dengan konsep dirinya. dan sukses komunikasi interpersonal banyak tergantung pada kualitas konsep diri seseorang. positif atau negatif (Rakhmat, 2. Telah banyak hasil riset yang dilakukan oleh para peneliti mengenai tema-tema yang berkaitan dengan pembahasan komitas marginal/stigma ini, antara lain adalah penelitian tentang komunitas pelacur yang dilakukan Koentjoro pada tahun 2004. Penelitian ini membahas tentang perkembangan pelacuran di daerah-daerah tertentu sebagai daerah penghasil komunitas pelacur Mojokulon (Jawa Bara. Mojo Tengah (Jawa Tenga. dan Mojo Timur (Jawa Timu. yang ternyata merupakan hasil beberapa faktor, seperti faktor permintaan, faktor pengantara, dan faktor penawaran. Pelacuran tidak hanya terjadi karena sejarah panjang pelacuran di desa-desa, tetapi juga karena tekanan-tekanan sosial masa kini. Berbeda dengan penelitian Koentjoro mengenai motif-motif seorang perempuan yang memang atas kesukarelaannya terjun ke lembah pelacuran dalam perspektif psikologi sosial. Penelitian yang akan penulis lakukan, selain fokusnya adalah gelandangan juga dalam perspektif komunikasi. Penelitian tentang komunitas pemulung sebagai komunitas subkultur telah dilakukan oleh Mahmuddin pada tahun 2003, yang menemukan munculnya pemulung atau pemungut sampah yang disebakan oleh meluasnya persoalan ekonomi makro di Aceh dan ditambah menguatnya persoalan konflik yang menyebabkan sebagian masyarakat memanfaatkan sampah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ada beberapa alasan seorang menjadi pemulung antara lain desakan ekonomi keluarga, persoalan konflik di Aceh, dan sempitnya kesempatan kerja di sektor formal yang menyebabkan mereka beralih membantu suaminya menjadi pemungut sampah. Penelitian tentang wanita pemulung di Banda Aceh berbeda dengan penelitian yang akan di lakukan oleh peneliti. Selain peneitian yang berperspektif komunikasi, penelitian yang dilakukan juga dengan objek yang berbeda yakni komunitas gelandangan yang tentu memiliki keragaman subjek yang heterogen yang tidak hanya berprofesi sebagai pemulung. Penelitian lain yang berkaitan dengan pengkajian tentang self disclosure dengan konsep Johari Window, dilakukan oleh Ujang Mahadi pada tahun 2006. Penelitian itu menggunakan kacamata dan cara pandang subjek yang menjadi objek penelitiannya, yakni Pasangan Suami Istri (Pasutr. di Kota Bengkulu yang sudah bercerai. Hasil penelitian memperlihatkan | 367 Syaiful Rohim. Vagrants Communication Behavior in Interpersonal Relations bahwa terdapat dua alasan disharmonisasi Pasutri yakni problem komunikasi, gangguan pihak ketiga, dan masalah ekonomi. Penelitian ini berbeda baik dari segi masalah yang dikaji, judul, subjek penelitian serta tujuan yang akan dicapai. Penelitian ini menitikberatkan pada bagaimana aktivitas internal dari seseorang melalui konsep dirinya sebagai hal ihwal tata kelola manajemen diri gelandangan yang memberikan kontribusi dalam aktivitas untuk menata prilaku sosialnya. Jika kita ingin memahami realitas komunikasi, maka harus diawali pula dengan memahami bagaimana manajemen dirinya, termasuk di dalamnya mengetahui bagaimana mereka memandang dan mempersepsi diri dan lingkungannya (Mahadi, 2. Gelandangan yang merupakan realitas yang sarat akan dinamika konsep diri tersebut merupakan kelompok yang menarik untuk diteliti. Pentingnya mengungkap realitas sosialnya dilakukan secara konkret dan komprhensif melalui serangkaian prosedur ilmiah untuk mengungkap fenomena dan fakta-fakta lain berlandaskan disiplin ilmu komunikasi. Dalam penelitian ini, tidak hanya dijelaskan dan dibahas manajemen tentang diri gelandangan sebagai bentuk perilaku sosial dan komunikasi saja. Selain itu, secara khusus juga dijelaskan tentang fenomena pengelolaan kesan gelandangan sebagai wujud ekspresi komunikasi dan adaptasi sosial, serta sebagai bentuk pertahanan diri ketika melakukan aktivitas interaksi sosial dan komunikasi dengan sesama anggota kelompoknya, dan dengan lingkungan di luar komunitasnya. Pengembangan dan penelusuran realitas substantif atas segala perilaku komunikasi gelandangan merupakan hal penting untuk dikaji, terutama segala informasi terkait cara pengelolaan kesan pada saat berhubungan dengan orang lain sesama komunitas gelandangan atau dengan masyarakat di luar kelompoknya. Gelandangan dipandang sebagai aktor yang memerankan laku dalam panggung teaterikal yang mempresentasikan dirinya pada matras aktivitas kehidupan sosial. Menurut Gofman . ketika individu berinteraksi dengan yang lain, mereka ingin menyajikan suatu gambaran diri yang akan diterima individu lain. Inilah yang disebut dengan pengelolaan kesan, yaitu teknik yang digunakan aktor untuk memupuk kesan-kesan dalam situasi tertentu untuk mencapai tujuan tertentu (Rinawati, 2. Penjelasan tersebut makin mempertegas bagaiman penelusuran tentang manajemen diri dianggap penting dalam berkomunikasi, apalagi mereka yang mempunyai masalah dengan relasi sosial karena persoalan stigma masyarakat, seperti gelandangan. Oleh karena itu, secara umum penelitian ini berusaha menggambarkan bagaimana perilaku komunikasi geladangan dengan menelusuri manjemen diri dan manjemen kesan dalam relasi interpersonal sebagai bagaian dari suatu aras tak terpisah dalam penelitian dan riset dan kajian ilmu komunikasi. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang merupakan prosedur untuk menghasilkan data deskriptif dalam bentuk kata-kata tulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati (Moleong, 2. Hal ini serupa dengan apa yang dikatakan Garna . bahwa pendekatan kualitatif dicirikan oleh tujuan penelitian yang berupaya memahami gejala-gejala yang sedemikian rupa yang tidak memerlukan kuantifikasi atau tidak mungkin diukur secara tepat. Dalam konteks ini, penelitian ini termasuk dalam tradisi penelitian fenomenologis yang tentu saja berbasis paradigma interpretif. Jenis studi ini hanya memaparkan situasi dan kondisi, namun tidak mencari atau menjelaskan hubungan, juga bukan mengkaji hipotesis atau membuat prediksi (Rakhmat. Pendekatan kualitatif ini mampu memperoleh gambaran utuh dari fenomena komunikasi intrapersonal dan interpersonal seorang gelandangan dalam melakukan proses Sebagai sebuah pisau analisis, pendekatan ini sangat relevan digunakan untuk mengungkap realitas yang bersifat dinamis. Muhadjir . menambahkan pendekatan ini lebih mampu mengungkapkan realitas ganda, mengungkapkan hubungan yang wajar antara Buletin Al-Turas Vol. 26 No. 2 July 2020, pp. peneliti dengan informan karena metode kualitatif lebih sensitif dan adaptif terhadap peran pelbagai pengaruh timbal-balik. Dalam penelitian ini, pemilihan informan ditetapkan dengan menggunakan purposive sampling, dengan memperhatikan beberapa kondisi tertentu (Alwasilah, 2. Gelandangan yang menjadi subjek dalam penelitian ini berjumlah 10 orang, yang dipilih berdasarkan kriteria, antara lain, penyebaran lokasi, keragaman level usia, jenis kelamin, lama menjalani aktivitas sebagai gelandangan lebih dari satu tahun, serta tidak memiliki tempat tinggal yang jelas sebagai kriteria ini (Profil subjek tersajikan pada Lampiran A). Sesuai dengan pendekatan dan metode yang digunakan, penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder yang diperoleh melalui wawancara mendalam, pengamatan berperan serta dan studi pustaka. Peneliti yang merupakan instrumen pokok dalam penelitian ini bertindak sebagai partisipan penuh dalam komunitas yang diamati. Data terkumpul dianalisis melalui tiga tahap seperti yang dikemukan oleh Miles dan Huberman . reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan serta verifikasi. Adapun pendekatan teoritik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Johari Window. Sebagai suatu pendekatan komunikasi, teori ini dapat digunakan untuk menjelaskan bagaimana dan pada bingkai mana para gelandangan berkomunikasi. Teori ini dapat digunakan untuk meningkatkan komunikasi, hubungan antarpersonal, dan dinamika suatu kelompok dengan memberikan berbagai informasi dan gambaran mengenai perasaan, pengalaman, pengetahuan, sikap, kemampuan, intensi, motivasi dan lain-lain. Dalam teori Johari Window yang lengkap terdapat empat bagian yang disebut sebagai kamar/jendela yang dapat menjelaskan diri kita seperti yang tersajikan pada Gambar 1. Open/free Area Blind Area Hidden Area Unknown Area Gambar 1. Teori Johari Windows Kamar pertama merupakan daerah terbuka . pen are. yang meliputi semua perilaku dan motivasi yang kita ketahui dan diketahui oleh orang lain. Sedangkan daerah yang kedua adalah daerah tersembunyi . idden are. yang kita ketahui dan tidak diketahui oleh orang Kamar ketiga mencakup semua yang tidak kita ketahui, tetapi diketahuai oleh orang Daerah tidak dikenal . nknown are. merupakan area terakhir yang kita sendiri dan orang lain tidak mengetahuinya. (Luft & Ingham, 1. Mengenai hal ini. Barker dan Gaut . mengatakan bahwa makin banyak informasi dalam daerah terbuka daripada daerah tersembunyi, buta, dan tidak diketahui, maka makin baik kemampuan komunikasi interpersonal yang akan dimiliki. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan konsep ilmu sosial dan komunikasi, yakni managemen kesan. Perbedaan sejarah hidup, riwayat pekerjaan, dan sebagainya memungkinkan gelandangn memiliki tradisi komunikasi yang berbeda, terutama cara mengelola kesan ketika berhadapan dengan orang lain di luar komunitasnya atau bahkan dengan sesama gelandangan (Ritzer & Stepnisky, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Setelah melakukan observasi dan wawancara mendalam dengan semua subjek penelitian, peneliti memperoleh hasil analisis yang dibuat dalam kategori berdasarkan kecenderungan sikap, pandangan, persepsi dan orientasi dari subjek penelitian. Pendapat, sikap, pandangan, motif dan ungkapan-ungkapan sadar saat wawancara mendalam tersebut merupakan landasan peneliti dalam memberikan kategorisasi atas konsep diri yang mereka | 367 Syaiful Rohim. Vagrants Communication Behavior in Interpersonal Relations Dalam pembahasan mengenai konsep tentang persepsi diri ini peneliti mendeskripsikan serta membahas hasil penelitian dengan menganalisis gambaran diri dari subjek penelitian, terutama aspek fisik, psikologis, dan sosial. Pendeskripsian yang berkenaan dengan elemen fisik meliputi segi jasmani dan penampilan diri, sedangkan elemen yang bersifat psikis meliputi hal-hal yang berkaitan dengan perilaku personal, misalnya tanggungjawab, harapan/ekspektasi, kemauan menerima, percaya diri, orientasi dan lain-lain. Adapun elemen sosial yang erat kaitannya dengan persepsi diri yang berkenaan dengan perilaku sosial mencakup, misalnya persahabatan, hubungan keluarga. Membangun hubungan dan akses komunikasi dengan subjek penelitian merupakan sesuatu yang penting dan memiliki dampak yang signifikan terhadap keberhasilan penelitian. Dalam komunikasi antar pribadi yang membangun akses dan hubungan baik dilakukan dengan perkenalan untuk memperoleh kesan yang baik sehingga terbangun suasana kondusif ketika dilakukan proses penggalian informasi dari subjek penelitian. Berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesuatu yang dirasakan baru tentu memberikan berbagai kesan pertemuan yang beragam. Terkadang masing-masing mendapati rasa tertekan, baik atas dasar kecemasan, ketakutan maupun perasaan lain sebagai konsekuensi pada saat interaksi dengan dunia sosial yang relatif baru. Hal ini tampak pada pertemuan peneliti dengan subjek (ZR) ketika sedang duduk di pinggir jalan dengan cucunya sekitar pukul 24. 00 WIB. Ketika didekati oleh peneliti, subjek merasa khawatir jika yang datang itu adalah pihak petugas keamaan atau mata-mata yang menyamar dan menelusuri tempat di mana ia tinggal. Dalam beberapa kasus lain, pertemuan dengan subjek penelitian lain relatif berjalan lancar tergantung pada situasi pada saat pertemuan. Adakalanya peneliti bertemu subjek ketika sedang mencari barang-barang bekas atau pada saat subjek sedang mengobrol dengan keluarganya sambil menunggu belas kasihan dari pengguna kendaraan yang lewat. Selain itu, dalam penelitian kualitatif yang bertradisi fenomenologis, pembahasan tentang uraian atau profil subyek penelitian dapat dilakukan sebagai upaya awal membangun hubungan interakstif dan membangun kedekatan (Creswell & Creswell, 2. Persepsi Diri Gelandangan dalam Komunikasi Antarpribadi Manusia adalah makhluk yang berbudaya dan selalu melakukan aktivitas komunikasi antarpersonal atau kelompok masyarakat yang satu dengan kelompok masyarakat lain sebagai wadah aktualisasi dan kebutuhan sosial yang pada gilirannya sebagai bagian dari upaya memelihara relasi dan eksistensi. Rohim . mengatakan bahwa komunikasi merupakan media untuk membangun hubungan antara seseorang dengan orang lain. adanya hubungan social dikarenakan adanya komunikasi. Komukiasi merupakan media untuk melakukan hubungan antara seseorang dengan yang lain di mana di dalamnya ada hubungan sosial yang terbangun. Manusia sebagai makhluk sosial, memiliki sesuatu yang unik atau khusus, bahkan juga ditandai dengan produk ritual sebagai budaya yang menjadi ciri pembeda dengan kelompok lainnya. Komunikasi ritual itu bersifat unik dan seringkali sulit dipahami oleh individu di luar komunitas. Keunikan inilah yang mengukuhkan sisi spesifik dari produk sosial dan budaya manusia yang selalu dinamis. Dalam banyak hal, segala sesuatu yang dianggap berbeda akan melahirkan persepsi atas makna-makna sosial yang juga mungkin memiliki referensi yang berbeda. Situasi tersebut akan melahirkan perspektif atas makna-makna sosial yang dipandang tidak sama. Jika persepsinya berbeda, apalagi tradisi komunikasi yang berbeda, maka satu kelompok masyarakat atau komunitas sosial akan melaksanakan tradisi yang berbeda. Hal ini terjadi pada gelandangan yang terkadang melakukan tradisi komunikasi dan perilaku komunikasi yang dianggap berbeda. Manusia merupakan makhluk sosial, karena itu kehidupan manusia selalu ditandai dengan jalinan relasi antar manusia sebagai bagian dari ekspresi pergaulan. Ada pun hakikat pergaulan itu ditunjukkan antara lain oleh derajat keintiman, frekuensi pertemuan, jenis relasi dan mutu interaksi antara mereka, terutama faktor sejauhmana Buletin Al-Turas Vol. 26 No. 2 July 2020, pp. keterlibatan dan saling memengaruhi (Rahman, 2. Pada dimensi interaksi dan hubungan pergaulan inilah manusia melakukan komunikasi antar pribadi. Komunikasi seharusnya melibatkan persamaan persepsi yang terjadi antara mereka yang berinteraksi, sehingga dapat terjalin kesamaan makna walaupun diawali dari pengiriman pesan secara personal yang direspon oleh berbagai pihak secara interpersonal. Komunikasi interpersonal adalah komunikasi langsung antara dua atau tiga orang dalam kedekatan fisik, dalam hal ini seluruh panca indra dapat dimanfaatkan yang umpan baliknya segera terlihat (Ngalimun, 2. Komunikasi interpersonal juga merupakan kegiatan aktif bukan pasif. Komunikasi interpersonal bukan hanya komunkasi dari pengirim pada penerima pesan begitu pun sebaliknya, melainkan kegiatan timbal balik antara pengirim dan penerima pesan. Kemampuan setiap individu dalam melakukan komunikasi antar pribadi tentunya sangat berbeda tergantung pada bagaimana formulasi kesiapan atas setiap jalinan hubungan yang dilakukan dengan orang lain berdasarkan prediksi-prediksi dalam memberi respon atas perilaku satu sama lain. Dalam batas tertentu, setiap bangunan interaksi tersebut menggunakan aspek data psikologis yang bersifat perseorangan ketika menggunakan pertimbangan interaksinya yang terkadang didasarkan pada norma-norma hubungan secara spesifik dengan menciptakan kesepakatan secara bersama. Perasaan kebersamaan atas aspek psikologis itulah yang melahirkan perasaan yang tidak diatur/didikte oleh salah satu pihak. Pada kasus yang dibahas dalam hasil riset ini tentu juga dirasakan kelompok gelandangan dalam membangun relasi dan komunikasi antarpribadi, baik komunikasi antarsesama komunitas gelandangan maupun dengan orang di luar komunitasnya. Bentuk komunikasi tersebut dipastikan tentu memiliki karakteristik dan cara yang berbeda. Dalam konteks relasi komunikasi antarpribadi gelandangan digambarkan bagaimana seorang gelandangan membagi wilayah persepsi dirinya ke dalam tampilan yang ditunjukkan untuk umum, serta persepsi diri yang bersifat khusus atau pribadi yang memaparkan penilaian diri subjek yang diketahui orang lain dalam interaksinya. Sebagai contoh ialah subjek gelandangan dalam hasil penelitian ini (MS. IS dan HMR dan YAN) yang kelak mereka mengelola dan membuat definisi atas persepsi mereka dalam mendesain tempat mereka tingal . umah geroba. yang ia persepsikan sebagai sebuah makna atas tampilan diri bagi internal dan bahkan juga sekaligus untuk orang lain. Subjek MS. IS dan HMR dan YAN telah mendisain rumah gerobaknya untuk tempat tidur anaknya dan menyisakan ruang untuk menaruh atau menyimpan barang-barang bekas manakala mereka menemukannya di jalan. Hal itu mereka lakukan agar tidur sang anak tidak terganggu. Kondisi seperti ini setidaknya dilakukan oleh subjek pasangan suami istri YAN dan DN yang memiliki satu anak. Biasanya istri dan anaklah yang tidur di dalam gerobak, sementara sang suami tidur di samping gerobak dengan beralaskan plastik atau terpal. Kondisi berbeda yang dilakukan pasangan TN/USM, gerobak mereka biasanya digunakan untuk tidur bersama. Namun, ada kalanya tidur sendiri-sendiri. TN tidur di gerobak, sementara USM tidur di luar. Adler and II . mengemukan sedikitnya ada tiga dimensi diri dalam setiap formulasi diri manusia sebagai kerangka persepsional seseorang ketika terlibat dalam interaksi komunikasi. Diri yang dipersepsikan sebagai segala hal yang bersifat pribadi, dan diri yang bersifat ideal, serta diri yang bersifat umum. Semua kategori tentang diri tersebut pada saat berkomunikasi dan sebagai perilaku komunikasi sangat dipengaruhi oleh persepsi dalam diri tersebut. Demikian halnya dengan gelandangan yang juga dianggap memliki karakteristik dengan tipe struktur sosial dan budaya yang dianggap oleh persepsi masyarakat, sebagai kelompok manyimpang, maka juga melahirkan adaptasi persepsi yang dibangun sebagai respon atas stigma sosial tersebut. Persepsi Fisik Penjelasan tentang pandangan subjek terhadap segala sesuatu yang bersifat fisik, dimaknai sebagai persepsi subyektif atas perilaku komunikasi yang muncul berdasarkan | 367 Syaiful Rohim. Vagrants Communication Behavior in Interpersonal Relations pandangannya mengenai penampilan fisik, atribut yang digunakan dalam melakukan interaksi dan menjalankan profesinya. Perilaku komunikasi yang dimunculkan oleh subjek ini dapat dilihat pada saat mereka mengenakan atribut dan perilaku kesehariannya. Dalam beberapa kasus, atribut-atribut kemiskinan tersebut sangat subjektif tergantung dari pemaknaan pemulung sebagai pilihan profesi gelandangan itu sendiri. Sebagian besar dari subjek penelitian mengaku bahwa kehidupan mereka memang merupakan kehidupan golongan miskin. Beberapa indikasi yang termasuk dalam kategori ini adalah subjek penelitian yang memakai pakaian kumal, lusuh kotor dan bau, serta memiliki persepsi tentang penampilan yang dipakai di tempat umum atau yang bersifat pribadi terutama ketika subjek memakai pakaiannya sebagaimana dikemukakan oleh subjek YT, dan TN . awancara dengan YT 19 Januari 2. AuA. , bisa beli makan aja syukur kita mah, klo pakean ya kalo ada uang lebih baru beli itu pun setaun sekali kali ya pak di pasar kaget lumayan lah murah-murah yang 10 rebuan atau lima rebuan. klo tiap hari mah dicuci aja ga pernah, he. Ay Auwah ngapain pake baju bagus mas, kan kita cari makan ditempat kotor mending pake yang jelek-jelek aja ga perlu dicuci sayang kan daripada beli sabun gitu mending buat buat makan di wartegAy (TN, 11/1/2. Beberapa pernyataan subjek gelandangan tersebut menunjukkan bahwa keberadaan mereka yang setiap hari di jalanan dan beriteraksi dengan tempat-tempat kotor menjadikan mereka memposisikan diri sebagai komunitas masyarakat yang tidak mempedulikan dan menata penampilan fisik. Temuan tersebut tidak berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Qonita dan Dahlia . yang menyebutkan bahwa gelendangan tidak mempedulikan kondisi dan penampilan fisik mereka. Persepsi Psikologis Berkaitan dengan perilaku komunikasi intrapersonal secara psikologis atau persepsi psikologis, para gelandangan menujukkan beberapa perilaku yang ditampilkan seperti menutup diri/ekslusif. Hal ini ditemukan peneliti berdasarkan wawancara yang menunjukkan sebagian besar subjek dalam penelitian ini mengakui bahwa kegiatan seharihari sebagai gelandangan tidak diketahui orang lain, terutama mereka yang masih mempunyai kerabat atau orang tua dan keluarga di rumah. Hal ini dikarenakan tidak menentunya jenis pekerjaan yang mereka lakukan, yang terkadang mengemis, menjadi pemulung ataupun mengamen sebagaimana petikan wawancara MAR 2/1/2020 berikut ini: Au. Engga tahu lah, kalau tahu bisa pingsan anak saya, dia tahunya saya ya pembantu, wong anak saya pernah minta tempat alamat kerja saya, saya bilang aja saya lupaAy. Cara subjek melihat, merasakan atau menilai dirinya secara langsung mempengaruhi cara orang tersebut bertindak terhadap orang lain. Dalam konteks komunikasi antar pribadi, hal tersebut juga mempengaruhi dan menghambat komunikasi antar pribadi. Artinya, ketika berkomunikasi orang yang mempunyai konsep diri negatif cenderung menghindari interaksi dan menutup diri, baik dengan orang lain maupun dengan kerabatnya sendiri. Dalam wawancara berikut terungkap bagaimana seorang subjek penelitian MAR mengaku bahwa anaknya sendiri tidak diberitahukan agar jati dirinya tidak diketahui oleh oring lain. Selain itu, sebagai respon dan proses internalisasi diri, persepsi psikologis gelandangan ditandai dengan perasaan tidak percaya diri atau merasa rendah diri. Aktivitas yang tampak secara jelas adalah manakala gelandangan sedang melakukan pekerjaan memulung, mengamen atau mengemis. Mereka menutup diri dengan tidak membuka atas segala aktivitas sosial, terutama bagi mereka yang dianggap dari luar komunitasnya karena mereka menganggap kehadiran mereka dianggap meresahkan masyarakat lainnya (Kuntari & Hikmawati, 2. Persepsi dan perasaan inilah yang secara psiklogis membuat para gelandangan merasa Buletin Al-Turas Vol. 26 No. 2 July 2020, pp. minder dan malu serta rendah diri. Persepsi lainnya adalah mereka menganggap diri mereka tidak berharga dalam masyarakat apalagi ketika lingkungannya mulai sedikit-sedikit membicarakan perihal pekerjaan dan penampilan mereka yang kotor dan kumal, serta kecurigaan masyarakat terhadap mereka ketika terjadi kehilangan barang pada saat mereka melewati suatu kampung atau komplek perumahan. Persepsi Sosial Persepsi sosial berhubungan dengan terjadinya interaksi antara individu dengan Namun, sebagian besar subjek penelitian menghindari kontak sosial. Subjek yang masuk dalam kategori ini, menghindari interaksi dan hubungan sosial dengan Mereka menganggap dirinya hina dan minder karena penampilannya yang kumal memberi kesan negatif. Selain itu, anggapan dan stigma sosial masyarakat yang buruk yang identik sosok pemaling, jahat, curang dan suka mengambil milik orang lain. persepsi dalam diri mereka tentang perasaan malu membuat mereka menutup diri dari sosial terutama pihak-pihak yang sebelumnya telah mereka kenal, seperti tetangga atau temantemannya. Perilaku lain sebagai bentuk dari persepsi sosialnya yang dianggap sebagai anti sosial adalah pelanggaran terhadap norma agama dan etika sosial masyarakat. Mereka seringkali melanggar ketertiban dengan memakai fasilitas umum untuk hajat hidup seharihari, seperti taman kota, kolong jembata, dan emper toko. Selain itu, mereka juga kerap melakukan aktivitas kriminal lainnya: pencurian, mengemis, dan memarkirkan gerobak di tempat umum seperti lampu merah dan jalan-jalan utama yang menimbulkan kemacetan. Temuan ini tidak berbeda dengan temuan penelitian yang dilakukan oleh Sakman bahwa mereka seringkali melakukan tindak kejahatan . Manajemen Kesan Gelandangan Selain menarik dikaji dari sisi konsep tentang diri sebagai salah satu bentuk perilaku dari kajian komunikasi secara psikis, kehidupan gelandangan juga menarik untuk diteliti kekhasan komunikasi mereka, terutama segi ekspresi interaksinya. Bermain peran dalam hal ini, tidak lepas dari bagian dan cara seseorang menjalankan aktivitas sosial dalam kegiatan interaksi dengan lingkungan sosialnya. Dalam rangkaian kegiatan dan aktivitas interaksi itulah masing-masing pihak berbagi makna dan simbol dalam kerangka membangun persepsi yang sama dalam makna-makna yang dibagikannya. Apabila kita menrujuk pada inti teori dari pemikiran interaksi simbolik dikatakan bahwa manusia belajar memainkan peran dengan mengasumsikan identitas yang relevan dengan peran-peran dalam kegiatan yang menunjukkan aktivitas satu sama lain tentang siapa dan apa mereka. Dalam konteks ini, mereka senantiasa menandai satu sama lain dengan situasisituasi yang mereka masuki, dan perilaku berlangsung dalam konteks identitas sosial yang bagi para aktor mempengaruhi ragam interaksi yang akan dilakukannya. Apakah layak dan apakah tidak layak bagi para aktor dalam situasi yang ada dan dengan kondisi yang terjadi. Untuk itu, setiap orang melakukan pertunjukkan bagi orang lain (Mulyana, 2. , sehingga arena kehidupan ini layaknya sebuah panggung sandiwara. Dengan mengikuti analogi teatrikal ini. Ritzer dan Stepsnisky . berbicara mengenai panggung depan . ront stag. dan panggung belakang . ack stag. Panggung depan merujuk kepada peristiwa sosial yang memungkinkan individu bergaya atau menampilkan peran formalnya. Mereka seperti sedang memainkan suatu peran di atas panggung sandiwara di depan penonton. Sedangkan panggung belakang, diibaratkan sebagai kamar rias tempat aktor bersantai dan menyiapkan diri sebelum berperan di panggung depan, yang biasanya lebih alami (Mulyana, 2. Memang segala sesuatu yang terbuka mengenai diri kita sendiri dapat digunakan untuk memberitahu orang lain siapa kita. Kita melakukan hal itu dari situasi ke situasi, misalnya cara kita berdandan dan berperilaku ketika diwawancarai dalam rangka melamar pekerjaan, berbeda dengan cara kita berdandan dan berperilaku ketika kita menghadiri pengajian. | 367 Syaiful Rohim. Vagrants Communication Behavior in Interpersonal Relations Pendeknya, kita mengelola informasi yang kita berikan kepada orang lain. Kita mengendalikan pengaruh yang akan ditimbulkan busana kita, penampilan kita dan kebiasaan kita terhadap orang lain, supaya orang lain memandang kita sebagai orang yang ingin kita Kita sadar bahwa orang lain pun berbuat hal yang sama terhadap kita, dan kita memperlakukannya sesuai citra dirinya yang kita bayangkan dalam benak kita. Jadi kita bukan hanya sebagai pelaku tetapi juga sebagai khalayak sekaligus. Aktivitas untuk mempengaruhi orang lain yang direpresentasikan sebagai pertunjukkan . tidak terlepas dari persoalan tentang diri aktor. Diri sebagai produk interaksi antarpribadi yang merupakan produk interaksi dramatik, maka Audiri" bersifat rentan terhadap gangguan selama pertunjukkan. Dari performa pertunjukkan itu, mungkin kita bisa memperhitungkan untuk memperoleh respon tertentu, namun sebagian lainnya kurang/belum tentu dapat kita perhitungkan. Oleh karena itu, menjadi lebih mudah bagi kita untuk melakukan pertunjukkan tersebut secara alami, walaupun pada dasarnya kita tetap meyakini agar orang lain menganggap kita sebagai orang yang ingin kita tunjukkan. Dalam usaha untuk mempresentasikan diri, terkadang sang aktor menghadapi antara citra-diri yang ingin dilihat orang lain, dengan identitas yang sebenarnya, karena dalam kasus terntentu ia menyandang status atau memiliki stigma, baik fisik maupun sosial. Dalam kasus stigma fisik, aktor mengasumsikan bahwa khalayak mengetahui bahwa aktor memang secara fisik berbeda dengan mereka, sedangkan dalam kasus stigma sosial khalayak tidak mengetahui dan melihatnya. Dalam hasil riset ini secara spesifik digambarkan temuan ini terutama pada aspek pengelolaan kesannya. Pertunjukkan diri gelandangan sebagai bentuk perilaku komunikasi yang menjadi bagian penting dan integral dari hasil penelitian ini, ditampilkan dalam beberapa bagian permainan peran yang dilakukan yakni melalui ragam setting Pengelolaan Kesan Gelandangan berdasarkan Setting Komunikasi Kelompok gelandangan adalah suatu kounitas sosial dalam struktur sistem sosial masyarakat yang menyandang atribut dan asesoris kemiskinan, kumuh, kotor dan predikat negatif lainnya yang selalu melekat dengan dirinya. Pada masyarakat yang mempunyai keteraturan sosial sering memandang hal-hal yang di luar kewajaran sebagai sesuatu yang menyimpang dan melanggar norma. Penyimpangan adalah setiap perilaku yang dinyatakan sebagai suatu pelanggaran terhadap norma-norma kelompok atau masyarakat (Horton & Hunt, 1. Padahal sebagai manusia biasa mereka juga ingi dianggap sebagai sesuatu yang normal dan dapat beinteraksi dan bergaul dengan kelompok masyrakat lainnya. Pergaulan manusia merupakan salahsatu bentuk peristiwa komunikasi dalam masyarakat dan bahwa dalam pergaulan manusia selalu terjadi proses penyesuaian pikiran, penciptaan simbol yang mengandung suatu pengertian bersama. Deskripsi dan penjelasan dari beberapa subjek gelandangan menunjukkan bahwa perilaku gelandangan hadir tidak hanya akibat budaya kemiskinan yang dicirikan dengan pekerjaan dan tempat tinggalnya yang tidak menentu, melainkan juga akibat struktur yang memandang berbagai jenis pekerjaan yang dilakukan oleh gelandangan sebagai sebuah aib dan perilaku menyimpang yang dialamatkan dan disematkan kepada mereka. Pada gilirannya menggelandang adalah suatu bentuk modifikasi atas keterpaksaan karena tidak hanya pilihan-pilihan lain yang akan dilakukan. Subjek Kasno misalnya mengatakan jika ia berangkat ke Jakarta karena memang ingin mempertahankan hidupnya dan bahkan diperkuat oleh dorongan tetangganya yang juga menyarankan subjek untuk mengadu nasib dan pergi ke Jakarta. Subjek KAS mengatakan: AuTetangga yang waktu di kampung, ke Jakarta aja, daripada gak makan. Mulungmulung kardus. Namanya sudah tua sambil minta-minta juga gak papa. Ay (KAS/2019/. Buletin Al-Turas Vol. 26 No. 2 July 2020, pp. Berbeda dengan KAS subjek DN bahwa ada perjalan kehidupan yang dianggap sebagai sesuatu yang sulit yang harus ia segera selesaikan maslah tersebut dengan melakukan tindakan sehingga ia menjadi seorang gelandangan. AuIya, waktu itu annisa umurnya baru setahun, tapi lama-lama saya enggak betah, ibu tiri saya galak banget, mana pelit lagi. Bapak saya kan ngewarung boro-boro anak saya dikasih apa gitu, pengen permen aja ampe nangis dulu. Akhirnya diem-diem saya kabur aja, saya kabur ke stasiun bukit duri. Saya tidur disono, ya tidur di emperan stasiun pake kardusAy (DN/2019/. Kehadiran gelandangan merupakan wujud dari subjek gelandangan sebagai subjek yang aktif, kreatif dan dinamis. Dengan kapasitasnya mereka senantiasa bergeliat, merespons terhadap situasi, perubahan maupun memilih satu peran yang paling menguntungkan di antara pilihan-pilihan yang tersedia. Pada tahapan selanjutnya, label serta julukan gelandangan yang dialamatkan kepada mereka, apalagi direpresentasikan sebagai salah satu golongan masyarakat miskin, turut membuat atribut-atribut tersebut sebagai medium perantara yang menginspirasi untuk memproduksi strategi pertahanan hidupnya. Mengenai hal ini. Mulyana . mengatakan bahwa manusia adalah makhluk kreatif, dinamis dan memiliki keinginan bebas, demikian pula dengan gelandangan. Selain itu, dalam penelitian ini juga dipaparkan beberapa strategi perencanaan dan pembagian cara memilih waktu, area dan pembagian kerja sebagai setting sosial dan setting komunikasi, yang meliputi pengelolaan waktu, lokasi dan pembagian kerja. Dalam aspek waktu, subjek penelitian/gelandangan menentukan kapan mereka harus mengembara dan memungut barang-barang bekas dan kapan mereka harus istirahat. Pengetahuan tentang waktu bukan saja memberikan banyak manfaat untuk bisa mendapatkan hasil yang cukup, tetapi juga menjadi cara dan strategi dalam menghindari prasangka-prasangka yang dialamatkan oleh warga kota kepada mereka. NR . /12/2. AuKan Ciganjur banyak kampong-kampung, soalnye ape kalo ada kehilangan takutnya kita yang engga salah malah disalahin, entar orang yang berbuat kita kena juga. Ay AuBiasanya sie abis subuh gitu, dari subuh sampai jam 12. 00 WIB kembali pulang, saya tidak kuat lama-lama karena ya tenaganya juga sudah tidak mendukung. Ay Gelandangan melakukan pekerjaanya sebagai AupemulungAy dilakukan pada siang hari, sedangkan di malam hari mereka umumnya berprofesi sebagai AupengemisAy. Pengaturan waktu dan pergantian peran dilakukan untuk dapat memeroleh penghasilan yang lebih. Seperti subjek YAN, bekerja sebagai pengumpul barang-barang bekas untuk mengelabui jika ada penertiban. Mereka cukup mengatakan bahwa mereka seorang pemulung, karena mereka memiliki anggapan bahwa yang selalu ditertibkan dan terkena razia satpol PP adalah para pengemis sebagaimana yang diutarakan salah satu subjek YT . /1/2. Ausaya waktu itu pernah mau di tangkep. Cuma saya punya kartu KTP, jadi saya ga Terus yang suka di tangkep itu teman-teman saya yang tidak mempunyai KTP. Palagi yang terang-terang ketauan ngemis gitu. Ay Menjelang maghrib, biasanya mereka telah berkumpul kembali dengan anggota rumah tangganya di lokasi tinggal mereka. Pada sekitar pukul 19. 00, biasanya langsung beristirahat atau tidur. Subjek Gelandangan, terutama mereka yang mempunyai kesamaan profesi, saling membagi wilayah kerja agar tidak terjadi konflik di antara mereka. Wilayah kerja ini dikembangkan berdasarkan pada pengalaman mereka atas lokasi-lokasi potensial yang dapat menopang kelangsungan hidup mereka. Walaupun mereka terkadang saling bertemu di lokasi tertentu, namun biasanya tetap ada suatu pengertian untuk tidak saling mengganggu antara yang satu dengan yang lain. Kondisi seperti ini bukan berarti tidak pernah terjadi konflik diantara mereka, terutama dalam pembagian wilayah dan are kerja kegiatan utama mereka. Apabila wilayah kerja | 367 Syaiful Rohim. Vagrants Communication Behavior in Interpersonal Relations mereka dimasuki kaum gelandangan lain yang mempunyai profesi sama, maka kondisi seperti ini terkadang menjadi sumber konflik. Sebagian dari subjek penelitian menganggap bahwa suatu wilayah operasi kerja mereka sehari-hari merupakan daerah kekuasaan yang dipandang sebagai area kepemilikan mereka, terutama anggapan sebagai orang yang lebih dulu masuk di daerah tersebut. Namun, ada pula yang menganggap bahwa jalanan merupakan ruang publik dan area umum yang tak bertuan, di mana setiap orang bisa masuk dan mengais rejeki di sana sebagaimana diutarakan subjek (RS 24/12/2. AuA Kita sih pinginnya ga usah ribut-ribut lah palagi sama-sama gelandangan kaya saya ini. Tapi kadang kaya tadi tuh saya ga boleh ngambil sama bapak-ba pak tadi namanya pak samidu kita bilang sama dia, yang mas liat kan saya ga boleh ngambil sama dia. Makanya dia banyak musuhnya tuhAy Pekerjaan sehari-hari gelandangan umumnya adalah menjadi seorang pemulung atau menjalankan aktivitas memulung, yakni mengumpulkan barang bekas untuk dijual atau dimanfaatkan sendiri. Walaupun deminikian memululng tidak dijadikan sebagai satusatunya tempat menggantungkan pemerolehan rezeki dan menggantungkan hidupnya, karena dalam beberapa waktu dan tempat yang memungkinkan mereka dapat mngemis, mengamen, dan membantu menjajaki barang dagangan dari teman pedagang asongan yang secara umum dilakukan di lokasi dekat lampu merah. Dalam menjalankan profesinya sebagai pemulung, misalnya, bagi mereka tidak ada target lokasi utama dalam mencari barang rongsokan atau memulung barang-barang plastik yang bisa didaur ulang, sebab barang-barang bekas tersebut bisa mereka dapatkan di mana saja selama melakukan perjalanan menggelandang. Memang ada gelandangan yang hanya memilih satu lokasi tertentu, tetapi kebanyakan dari mereka tidak menggantungkan diri pada satu lokasi saja. Lokasi-lokasi yang dituju terkadang dekat, namun tak jarang lokasi target terletak relatif jauh dari tempat tinggal mereka. Terdapat lokasi-lokasi utama yang mereka dijadikan referensi sebagai tujuan utama perburuan barang-barang bekas, antara lain area pasar, pemukiman warga, rumah sakit dan sekolah, serta tempat penampungan sampah pemerintah daerah setempat (Balenguru & Triwahyuni, 2. Manajemen Kesan Gelandangan dengan Mitra Komunikasi Berikut ini adalah paparan hasil penelitian mengenai perilaku komunikasi yang dilihat dari perekayasaan aktivitas komunikasi dalam melakukan aktivitas sosial terutama ketika terjadi interkasi sosial gelandangan dengan berbagai mitra komunikasinya. Penjelasan teoritik mengenai pengelolaan dan rekayasa sosial untuk mendapatkan suatu kesan dipandang oleh. kaum dramaturgi di mana manusia sebagai pribadi-pribadi atau aktor-aktor di atas panggung metaforis yang sedang memainkan peran-peran (Littlejohn & Foss, 2. Dalam paradigma sosial orang berperilaku sesuai dengan definisi yang dibuat berdasarkan realitas sosial yang dihadapi yang menurut Goffman . dimaknai sebagai tafsir atas situasi yang berlangsung terus menerus dalam kehidupan manusia, sehingga peran-peran yang ditampilkan pun terus berubah seiring dengan dinamika produksi interaksi manusia. Keberadaan manusia sebagai aktor adalah bagaimana setiap individu dalam setiap aktivitas komunikasi dan sosialnya berusaha untuk menggabungkan karakteristik personal, orientasi dan tujuan kepada orang lain melalui Aupertunjukan dramanya sendiri. Ay Dalam mencapai tujuannya tersebut menurut konsep dramaturgis, manusia akan mengembangkan perilaku-perilaku yang mendukung perannya tersebut. Selayaknya sebuah pertunjukan drama, seorang aktor drama kehidupan juga harus mempersiapkan kelengkapan pertunjukan dan asesoris pendukungnya. Kelengkapan dan piranti asesoris ini antara lain adalah membuat peta atau prediksi dengan memperhitungkan setting, kostum, penggunakan kata . dan tindakan non verbal lainnya. Hal ini bertujuan untuk meninggalkan kesan yang Buletin Al-Turas Vol. 26 No. 2 July 2020, pp. baik pada lawan interaksi dan memuluskan jalan mencapai tujuan akhir, yakni memperoleh respon harmonis dalam skema ketertiban interaksi dari seluruh pasrtisipas komunikasi. Setiap pertunjukkan drama dalam struktur dan sistem sosial tadi tidak terlepas dari aspek individu terutama aspek diri. Diri adalah produk dialektis sebagai hasil interaksi dramatis antara aktor dan audiens (Ritzer & Stepnisky, 2. Individu tak sekedar mengambil peran orang lain untuk melengkapkan citra diri tersebut Ketika orang-orang berinteraksi, mereka ingin menyajikan suatu gambaran diri yang akan diterima orang lain. Ia menyebut upaya itu sebagai Aupengelolaan pesan,Ay yakni teknik-teknik yang digunakan aktor untuk memupuk kesan-kesan tertentu dalam situasi tertentu untuk mencapai tujuan tertentu. Kebanyakan atribut, milik, atau aktivitas manusia digunakan untuk presentasi diri ini, termasuk busana yang kita pakai, rumah yang kita huni dan perabotannya, cara kita berjalan dan berbicara, pekerjaan yang kita lakukan dan cara kita menghabiskan waktu luang (Mulyana, 2. Komunitas gelandangan sebagai invidu, sekaligus aktor sosial dan dalam kerangka memenuhi aspirasi psikologisnya, senantiasa menjalankan segala kegiatannya berdasarkan pada persepsi yang ditampilkan yang juga didalamnya terdapat berbagai perilaku untuk merekayasa kesan-kesan sosialnya atau sekaligus melakukan presentasi diri. Pertunjukkan sosial . resentasi dir. yang dilakukan oleh gelandangan setidaknya dilakukan dengan beberapa partisipan komunikasi, yang masing-masing memberikan informasi tentang perlakuan serta cara komunikasi yang juga berbeda-beda (Suneki & Haryono, 2. Menjalankan aktivitas sebagai seorang gelandangan memang tidak mudah dengan tekanan sosial yang begitu berat. Stigmatisasi dan label perilaku kumuh di perkotaan membuat cara dan bentuk pengelolaan kesan dijalankan melalui mekanisme manajemen kesan yang juga unik serta menarik sebagai sebuah ciri dari suatu identias. Secara spesifik dalam hasil penelitian ini dideskripsikan bagaimana interaksi dan komunikasi gelandangan dengan mitra komunikasinya seperti dengan sesama komunitas gelandangan, dengan petugas keamanan terutama satpol PP ataupun dengan masyarakat umum lainnya. Hubungan komunikasi yang paling kerap dan intens dilakukan oleh para gelandangan adalah dengan sesama gelandangan. Adapun upaya membangun komunikasi dengan sesama gelandangan terutama mereka yang mempunyai persepsi di antara mereka dalam kesamaan profesi, seperti profesi memulung, mengamen ataupun mengemis. Hubungan kesepahaman akan hal tersebut mereka lakukan dengan saling membagi wilayah kerja agar tidak terjadi konflik di antara mereka. Wilayah kerja ini, misalnya, dikembangkan berdasarkan pada pengalaman mereka atas lokasi-lokasi potensial yang dapat menopang kelangsungan hidup Walaupun mereka terkadang saling bertemu di lokasi tertentu, namun biasanya tetap ada suatu pengertian untuk tidak saling mengganggu antara yang satu dengan yang lain. Seperti diungkapkan salahsatu subjek penelitian yang kebetulan melakukan profesi memulung sebagai identitas pekerjaan yang utama adalak KSM yang mengatakan: AuKita juga ada persaingan jujurnya, apalagi kita kan yang mulung rongsokan makanya saya dan istri harus bangun pagi biar dapet hasil mulung banyak. Kalo nggak ntar keduluan yang lain, dan kita gak dapat bagian,(KSM,23/2/2. Au Namun demikian biasanya untuk kelompok gelandangan yang telah memiliki wilayah kerja tertentu akan merasa dirugikan atas kehadiran gelandangan lain yang mempunyai profesi sama, melakukan aktifitas di wilayah kerja yang sama, dan terlebih-lebih dalam waktu yang bersamaan pula. Peristiwa semacam ini akan ditanggapi dengan berbagai macam cara dari sekerdar menunjukan sikap tidak suka sampai tindakan perselisihan atau pertengkaran diantara mereka. Keberadaan wilayah kerja ini biasanya relatif berdekatan dengan lokasi tempat mereka mangkal . dan tidur. Mitra komunikasi lainnya yang juga adalah salah satu yang paling kerap ditakuti dan dianggap musuh utama bagi gelandangan adalah kehadiran aparat Satpol PP. Hal ini sekaligus sebagai bentuk aktivitas dan perilaku komunikasi gelandangan dengan mitra komunikasi di luar entitas kelompok | 367 Syaiful Rohim. Vagrants Communication Behavior in Interpersonal Relations gelandangan tersebut. Penggarukan sebagai istilah yang difahami dan dimaknai oleh para gelandang merujuk kepada aktivitas razia oleh aparat pemerintah sebagai upaya menjalankan tugas dalam rangka menertibkan tempat-tempat strategis dalam rangka merawat dan memonitor ketertiban dan keindahan kota. Sering juga penggarukan oleh aparat trantib ini dianggap sebagai bentuk upaya paksa yang dilakukan aparat untuk membersihkan kota dari kehadiran para gelandangan yang dianggap merusak ketertiban dan keindahan kota. Sebagai upaya mempertahankan diri dari penertiban sering kali mereka juga melakukan penyuapan atau setidaknya bisa bernegosiasi untuk memeroleh simpati atau empati dari petugas trantib dengan harapan terbebas dari penggarukan tersebut. Dalam petikan hasil wawancara berikut disampaikan TN bahwa: Aupernah pas 3 hari sebelum lebaran dulu, saya lagi buka puasa, saya di tarik- tarik langsung di bawa truk SATPOL PP ke daerah Kedoya, untung aja suami saya sama gerobak saya bisa kabur. Saya ditebus sama suami saya 300 ribuAy . ubjek TN, 3/2/2. Selain berkomunikasi dan berinterkasi dengan sesama gelandangan dan aparat Satpol PP sebagi mitra komunikasi tersebut, gelandangan juga tetap membangun relasi dan menjalankan aktivitas sosialnya dengan mitra komunikasi dengan masyarakat secara umum. Misalnya. Subjek YT dan subjek DN mempunyai strategi lain untuk melakukan pengelolaan kesan ketika berkomunikasi dengan masyarakat umum. Mereka menggunakan strategi persuasi dengan membuat asesoris dalam gerobaknya, seperti menaruh dan menyimpan sebuah celengan dekat gerobaknya yang sasarannya adalah para pengendara mobil mewah yang melintas di jalan. Di daerah Tanah Kusir Jakarta Selatan, umpamanya, setiap hari JumAoat banyak warga sengaja berkunjung untuk berziarah ke kuburan. Kesan yang ingin disampaikan bahwa anak yang dibawa memerlukan sesuatu, seperti susu dan perlengkapan kebutuhan anak lainnya. Ini strategi mengemis tanpa harus mengetuk-ngetuk kaca mobil di lampu merah. Hal ini merupakan rekayasa kesan untuk memeroleh persepsi yang lebih positif daripada disebut pengemis. Keuntungan lainnya adalah banyak mobil yang melintas karena jalan itu merupakan arah masuk pintu tol yang dekat dengan pekuburan tanah kusir sebagai tempat pemakaman orang-orang yang memiliki uang. Perhatikan kutipan berikut: AuA. itu saya siapkan buat nyang liwat yang mau ngasih uang buat si Nisa, kita sih bukan pengemis tapi kalo ada yang mau ngasih sama si Nisa ya ga masalah. Lumayan celengan si Nisa suka dapet banyak tuh. ga perlu capek-capek, dah gitu kan daerah sini jarang ada raziaAy (DN, 24/12/2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perilaku komunikasi para gelandangan diawali dengan proses internalisasi tentang diri serta persepsi untuk membagi wilayah diri mereka dalam wilayah diri yang terbuka dan diketahui orang lain, seperti jenis pekerjaan sebagai upaya mempertahankan diri untuk mecari nafkah. Namun, mereka juga memilih menutup wilayah tentang eksistensinya terutama saat berinterkasi dengan keluarga dekatnya di kampung untuk menutupi jenis pekerjaan yang mereka lakukan. Hal ini sekaligus sebagai bagian dari salah satu bentuk pengelolaan kesaan berdasarkan kebutuhan yang mereka rasakan saat berinterkasi dengan mitra komunikasinya. Seperti manusia lainnya yang membutuhkan pengakuan atas keberadaannya, gelandangan melakukan aktivitas sosial dengan latar komunikasi dengan melakukan adaptasi sosial berupa merekayasa persepsi yang ditunjukkan dengan jenis pekerjaan yang mereka lakukan yang terkadang sering berubah-ubah seperti memulung, mengemis, mengamen dan yang lainnya. Pengungkapan konsepsi, realitas ataupun segala fenomena interaksi serta pemahaman komprehensif mengenai keberadaan gelandangan ini menjadi substanti penting bagi semua Masyarakat secara umum diharapkan dapat memperkaya pemahaman dan informasi Buletin Al-Turas Vol. 26 No. 2 July 2020, pp. tentang keberadaan mereka, sehingga masyarakat lebih bijak dalam memandang dan memperlakukan kelompok gelandangan sebagai sesama makhluk yang memiliki hak yang sama dalam mengisi kehidupan. Selain itu, perlu juga dipahami bahwa gelandangan adalah bagian dari struktur dan sistem sosial yang mempunyai nafas budaya yang perlu dihargai, diperhatikan dan dipertimbangkan atas segenap cara dan aktivitas sosial dan komunikasinya. RERERENSI Adler. , & II. Looking Out. Looking In. Cengage Learning. Alwasilah. Pokoknya Kualitatif. Pustaka Raya.