SAINTI: Majalah Ilmiah Teknologi Industri AeVol. No. DOI:http://dx. org/10. 52759/sainti. ISSN: 2613-9871 (Onlin. ISSN: 1829-7404 (Prin. Attribution-ShareAlike 4. 0 International RANCANG BANGUN DAN UJI KINERJA REAKTOR HIDROLISIS BERPENGADUK DENGAN PENCACAH TERINTEGRASI UNTUK PRODUKSI GLUKOSA DARI KULIT NANAS Kristanti Oktripani Lubis1. Hafizah Khairani Jarendi1. Regna Tri Jayanti1. Khairul Akli1*. Ida Hasmita2 Program Studi Teknologi Rekayasa Bioproses Energi Terbarukan. Politeknik ATI Padang. Jl. Bungo Pasang. Tabing. Padang, 25171 Program Studi Teknik Kimia. Universitas Serambi Mekkah. Jl. Tgk Imuem Lueng Bata. Meuraxa, banda Aceh, 23245 *email correspondence: khairul. akli@poltekatipdg. Abstrak Permintaan energi terbarukan mendorong eksplorasi biomassa lignoselulosa, seperti kulit nanas, sebagai bahan baku bioetanol. Penelitian ini bertujuan merancang dan mengevaluasi kinerja reaktor hidrolisis berpengaduk dengan sistem pencacah terintegrasi untuk mengoptimalkan konversi kulit nanas menjadi glukosa. Reaktor berkapasitas 5 liter ini menggunakan impeler Pitched Blade Turbine (PBT) yang dimodifikasi dengan pisau pencacah pada ujung bilah untuk memungkinkan pengecilan ukuran partikel secara in Hidrolisis dilakukan menggunakan H2SO4 1% pada suhu 100AC selama 120 menit dengan kecepatan pengadukan 1. 400 rpm. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada kadar glukosa . ,4% menjadi 8,88%), nilai Brix . ,5ABx menjadi 9AB. , densitas . ,9998 g/mL menjadi 1,03 g/mL), dan viskositas . ,14 cP menjadi 1,85 cP). Ukuran partikel berkurang drastis dari A1,03 cm menjadi A0,02 cm. Integrasi fungsi pencacahan terbukti efektif meningkatkan luas permukaan kontak dan homogenitas reaksi, menjadikannya desain potensial untuk produksi bioetanol berkelanjutan. Kata kunci: reaktor hidrolisis, sistem pencacah, kulit nanas, glukosa, biomassa DESIGN AND PERFORMANCE TESTING OF A STIRRED HYDROLYSIS REACTOR WITH AN INTEGRATED SHREDDER SYSTEM TO PRODUCE GLUCOSE FROM PINEAPPLE PEEL Abstract The increasing demand for renewable energy has intensified research into converting lignocellulosic biomass into bioethanol. This study aims to design, construct, and evaluate the performance of a stirred hydrolysis reactor equipped with an integrated shredder system to optimize the conversion of pineapple peel into glucose. The 5-liter stainless steel reactor features a modified Pitched Blade Turbine (PBT) impeller with shredder blades attached to the blade tips to facilitate in situ particle size reduction. Hydrolysis was conducted using 1% sulfuric acid (H2SO. at 100AC for 120 minutes with a stirring speed of 1,400 rpm. The Lubis et al Sainti, 22. , 2025 results demonstrated a significant increase in glucose concentration from 3. 4% to approximately 9%. Brix value from 3. 5ABx to 9ABx, density from 0. 9998 g/mL to 1. 03 g/mL, and viscosity from 1. 14 cP to 1. 85 cP. Furthermore, the particle size of the pineapple peel was drastically reduced from A1. 03 cm to A0. 02 cm. The integration of the shredding system proved effective in expanding the contact surface area and enhancing mass transfer and reaction homogeneity. The developed reactor performs efficiently and holds significant potential for application in sustainable bioethanol production. Keywords: hydrolysis reactor, shredder system, lignocellulosic biomass, pineapple peel. PENDAHULUAN Krisis energi fosil, fluktuasi harga, serta meningkatnya tuntutan pengurangan emisi gas rumah kaca mendorong pengembangan energi terbarukan yang Dalam ini, peningkatan terbarukan telah mendorong penelitian ekstensif mengenai konversi biomassa menjadikannya fokus utama dalam upaya keberlanjutan energi (Saini et al. Bioetanol merupakan salah satu kandidat bahan bakar alternatif karena dapat diproduksi dari sumber daya hayati dan berpotensi menurunkan jejak karbon dibandingkan bahan bakar konvensional. Dalam beberapa tahun terakhir, diprioritaskan sebagai bahan baku melimpah, berbiaya relatif rendah, dan tidak bersaing langsung dengan bahan pangan (Toor et al. , 2. Karakteristik lignoselulosa sebagai biomassa sangat menjanjikan sebagai sumber energi terbarukan karena ketersediaannya yang melimpah dan sifatnya yang berkelanjutan (Kurniati et al. , 2. Biomassa lignoselulosa umumnya tersusun atas selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Selulosa/hemiselulosa dapat diuraikan menjadi gula fermentable, terutama glukosa yang menjadi substrat utama dalam fermentasi bioetanol. Namun, lignin membentuk struktur pelindung dan berikatan dengan karbohidrat sehingga membatasi perpindahan massa, dan pada (Zoghlami & Pays, 2. Karena itu, peningkatan efektivitas tahap hidrolisis, baik dari sisi kinetika reaksi maupun kontak katalisAesubstrat, menjadi kunci untuk meningkatkan rendemen gula dan kelayakan proses. Salah satu sumber lignoselulosa yang potensial untuk diubah menjadi bioetanol melalui serangkaian proses biokonversi adalah limbah agroindustri kulit nanas (Chatkaew et al. , 2021. Kurniati et al. Kulit nanas dihasilkan dalam jumlah besar, kandungan karbohidratnya relatif tinggi, dan pemanfaatannya masih terbatas sehingga berpotensi menimbulkan beban lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik. Di Indonesia, produksi nanas yang mencapai 2,89 juta ton pada tahun 2021 menghasilkan limbah kulit nanas dalam jumlah besar yang belum dimanfaatkan secara optimal (Kahar et al. Pemanfaatan limbah ini penting lingkungan dan meningkatkan nilai ekonomisnya (Masmur et al. , 2. Potensi kulit nanas sebagai bahan baku bioetanol ini didukung oleh Lubis et al kandungan selulosa, hemiselulosa, dan lignin yang signifikan, yang dapat Kandungan gula non-reduksi sebesar 8,8% dan total gula sebesar 9,75% per 100 gram substrat pada kulit nanas semakin memperkuat potensinya sebagai bahan baku bioetanol (Kurniati et al. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, produksi nanas di Sumatera Barat mencapai 2. 847,58 ton pada tahun 2024 Dengan asumsi fraksi limbah kulit dari total buah, potensi limbah kulit nanas diperkirakan berkisar 854Ae1. 139 ton/tahun (Badan Pusat Statistik. Ketersediaan bahan baku lokal ini menjadikan kulit nanas menarik untuk dikaji sebagai sumber glukosa hasil hidrolisis, yang selanjutnya dapat diarahkan sebagai bahan baku produksi Proses konversi lignoselulosa menjadi gula reduksi umumnya diawali dengan pretreatment untuk struktur kompleks biomassa, diikuti hidrolisis untuk menguraikan polisakarida menjadi monosakarida terfermentasi (Muharja et al. , 2. Meskipun demikian, struktur kompleks lignoselulosa kulit nanas, yang menyerupai biomassa seperti sabut kelapa dengan kandungan lignin yang tinggi, memerlukan perlakuan awal yang efisien untuk memfasilitasi degradasi menjadi gula sederhana (Wijaya et al. , 2. Pendekatan ini krusial untuk meningkatkan aksesibilitas enzimatis atau kimiawi terhadap polisakarida intrinsik, sehingga memaksimalkan rendemen glukosa yang akan digunakan dalam proses fermentasi menjadi bioetanol (Myndez-Durazno et al. , 2. Dalam menjadi gula, hidrolisis asam, khususnya hidrolisis asam encer, masih banyak digunakan karena relatif sederhana, tidak memerlukan enzim, dan dapat dilakukan pada kondisi operasi moderat tertentu. Meskipun demikian, performanya sangat dipengaruhi oleh konsentrasi asam. Sainti, 22. , 2025 temperatur, waktu reaksi, dan karakteristik fisik bahan. (Adeoye et al. , 2. melaporkan rendemen 72,3% dihasilkan dengan menggunakan HCCSOCE 1,5% pada suhu 80AC, sedangkan (Susanti, 2. melaporkan hasil 4,26% dihasilkan dengan menggunakan HCl 0,1 N pada 100AC selama 180 menit. Perbedaan yang kontras ini mengindikasikan bahwa selain kondisi kimia, faktor rekayasa proses, terutama pencampuran dan ukuran partikel, memegang peran penting dalam menentukan tingkat konversi dan hasil Secara teknis, hidrolisis biomassa berbentuk slurry menghadapi dua kendala utama: . ukuran partikel yang relatif besar dan tidak seragam sehingga luas permukaan kontak terbatas, dan . pencampuran yang tidak homogen akibat peningkatan viskositas, kecenderungan pengendapan, serta terbentuknya zona mati . ead zon. Pengecilan ukuran partikel terbukti meningkatkan luas permukaan dan memperbaiki aksesibilitas selulosa terhadap katalis, sehingga dapat meningkatkan laju dan rendemen hidrolisis (Hoppert & Einfalt, 2. sisi lain, pemilihan impeler menentukan pola aliran dan efisiensi suspensi. Impeler Pitched Blade Turbine (PBT) menghasilkan komponen aliran aksialAe radial yang efektif untuk menjaga partikel tersuspensi pada sistem slurry/viskos sehingga relevan untuk proses hidrolisis biomassa (Taghavi & Moghaddas, 2. Namun, pada banyak penelitian dan praktik skala laboratorium, pengecilan ukuran partikel dan pengadukan masih dilakukan sebagai tahapan terpisah: biomassa dicacah/digiling terlebih dahulu . re-processin. , dihidrolisis di dalam reaktor berpengaduk. Pendekatan ini menambah waktu penanganan, membutuhkan peralatan tambahan, serta berpotensi menimbulkan transfer/penyimpanan. Selain itu, selama reaksi berlangsung partikel dapat Lubis et al mengalami aglomerasi atau perubahan akibat swelling dan degradasi, yang tidak tertangani bila pengecilan ukuran hanya dilakukan di Dengan demikian, terdapat kebutuhan akan rancangan reaktor yang homogenitas slurry sekaligus melakukan pengecilan ukuran partikel secara in situ agar kontak katalisAesubstrat tetap optimal sepanjang proses. Berdasarkan penelitian ini mengusulkan kebaruan berupa integrasi sistem pencacah mekanis impeler Pitched Blade Turbine (PBT) pada reaktor hidrolisis. Kebaruan . penelitian ditegaskan pada dua aspek: . penggabungan fungsi pengadukan dan pencacahan dalam satu unit impeler untuk menghasilkan pencampuran lebih homogen sekaligus pengecilan ukuran partikel secara simultan selama hidrolisis berlangsung, dan . evaluasi performa reaktor tidak hanya pada parameter kimia . adar glukos. , tetapi juga pada parameter fisik-proses (ABrix, distribusi/ukuran pencampuran dan pencacahan. Integrasi ini diharapkan dapat meningkatkan transfer massa, mengurangi pengendapan, memperkecil variasi ukuran partikel selama operasi, dan pada akhirnya meningkatkan kinerja hidrolisis kulit nanas sebagai bahan baku gula fermentabel untuk produksi bioetanol. Tujuan penelitian ini adalah untuk: . merancang dan membangun reaktor hidrolisis berpengaduk dengan sistem pencacah terintegrasi, dan . menguji performa reaktor terhadap kadar glukosa, nilai ABrix, densitas, viskositas, serta perubahan ukuran partikel kulit nanas setelah proses hidrolisis. Sainti, 22. , 2025 Bagian ini dibagi menjadi tahap persiapan bahan, spesifikasi rancang bangun reaktor, dan prosedur operasional. Persiapan Bahan Substrat utama adalah kulit nanas segar yang dikeringkan. Larutan asam sulfat (H2SO. 1% v/v digunakan sebagai katalis hidrolisis, sementara natrium hidroksida (NaOH) 1 N digunakan untuk proses netralisasi filtrat pasca-reaksi dan akuades sebagai pelarut. Desain Reaktor Hidrolisis Reaktor dirancang dengan kapasitas material stainless menjamin ketahanan terhadap korosi asam dan suhu tinggi. Komponen utama reaktor Dimensi tangki: memiliki diameter 15 cm dan tinggi 30 cm. Sistem pengaduk: menggunakan tipe Pitched Blade Turbine (PBT) dengan diameter (D. 7,36 cm. Integrasi pencacah: modifikasi dilakukan dengan menambahkan pisau pencacah pada ujung bilah degradasi fisik secara simultan. Sistem pemanas: menggunakan tungku dengan bahan bakar oli bekas yang dilengkapi dengan blower untuk distribusi panas. Untuk memastikan pola aliran yang optimal, rancangan reaktor mengikuti rasio standar sebagai berikut: Rasio diameter tangki terhadap diameter impeler (Di/D. = 2. Rasio lebar bilah terhadap diameter impeler (W/D. = 1/5. Rasio panjang bilah terhadap diameter impeler (L/D. = 1/4. Rasio jarak impeler dari dasar tangki terhadap diameter tangki (C/D. = 1/3. METODE PENELITIAN Lubis et al Sainti, 22. , 2025 Metode Analisis Kinerja reaktor dievaluasi berdasarkan parameter kimia dan fisik sebagai berikut: Kadar glukosa dan nilai Brix: diukur menggunakan refraktometer. Densitas: ditentukan menggunakan metode piknometer. Viskositas: dianalisis viskometer Ostwald berdasarkan metode aliran waktu. Ukuran partikel: diukur menggunakan jangka sorong pada efektivitas sistem pencacah. Gambar 1. Desain Reaktor Hidrolisis Berpengaduk dengan Sistem Pencacah Keterangan gambar: Penyangga reaktor Dinamo/motor pengaduk Inlet umpan Batang pengaduk Impeller Pitched Blade Turbine Pemanas (Kompor oli beka. Pressure gauge Temperature gauge Reaktor Wadah oli bekas Outlet produk Blower Prosedur Hidrolisis Proses hidrolisis dilakukan dengan 250 gram kulit nanas kering ke dalam 2. 500 gram akuades yang mengandung 2 gram H2SO4 . %). Tahapan operasionalnya sebagai berikut: Campuran mencapai suhu konstan 100AC. Pengadukan dilakukan secara kontinu menggunakan motor penggerak pada 400 rpm. Pengambilan sampel dilakukan pada interval waktu 0, 30, 60, 90, dan 120 menit untuk memantau progres reaksi. Filtrat hasil hidrolisis dinetralisasi menggunakan NaOH . N) hingga mencapai rentang pH 6Ae7 sebelum dilakukan analisis lanjutan. HASIL DAN PEMBAHASAN Evaluasi Kinerja Mekanis Reaktor Hidrolisis Reaktor yang dirancang berhasil mengintegrasikan dua fungsi utama, yaitu pencampuran dan penghancuran biomassa secara simultan dalam satu unit Penggunaan material stainless steel 304 terbukti tepat karena memiliki lingkungan asam serta kekuatan mekanik yang memadai. Dengan kapasitas 5 liter, percobaan tanpa adanya kegagalan Gambar 2. Hasil Rancang Bangun Reaktor Hidrolisis Inovasi impeler Pitched Blade Turbine (PBT) berdiameter 7,36 cm yang dimodifikasi dengan pisau pencacah pada Beroperasi 400 rpm, sistem ini menghasilkan pola aliran campuran aksial dan radial yang sangat efektif untuk pengaturan slurry dengan viskositas sedang hingga tinggi. Dibandingkan dengan sistem konvensional, integrasi ini meningkatkan efisiensi hidrolisis karena partikel biomassa dihancurkan secara kontinu, sehingga memperluas area kontak antara asam dan substrat. Gambar 3. Bilah Pengaduk dengan Sistem Pencacah Efektivitas Pengecilan Ukuran Partikel secara In Situ Hasil pengurangan ukuran partikel yang signifikan seiring bertambahnya waktu reaksi seperti yang ditampilkan pada Gambar 4. Ukuran partikel kulit nanas menurun drastis dari A1,05 cm menjadi A0,07 cm setelah 120 menit. Penurunan ukuran paling cepat terjadi pada interval 0Ae60 menit pertama karena struktur serat awal masih kasar dan mudah terurai oleh gaya potong. Laju pengecilan melambat setelah struktur serat menjadi lebih halus. Sainti, 22. , 2025 Ukuran Partikel . Lubis et al y = -0. RA = 0. Waktu . Gambar 4. Pengaruh waktu hidrolisis terhadap ukuran partikel kulit nanas Pisau pencacah pada daun impeler menghasilkan gaya geser dan tumbukan yang efektif untuk mendisintegrasi Ukuran partikel yang lebih halus membuat larutan asam lebih mudah mempercepat proses pemutusan ikatan kimia, dan meningkatkan jumlah glukosa yang terbentuk. Hal ini sejalan dengan prinsip yang dijelaskan oleh (Li et al. , bahwa pengecilan ukuran partikel permukaan reaksi dan memperbesar yield Keunggulan sistem ini adalah tidak memerlukan tahap pretreatment terpisah karena pencacahan langsung dilakukan di dalam reaktor. Integrasi sistem pencacah ke dalam reaktor hidrolisis bertujuan mengatasi kendala hambatan perpindahan massa pada biomassa berbentuk slurry. Untuk memvalidasi keunggulan sistem pencacah terintegrasi, dilakukan perbandingan dengan hasil penelitian hidrolisis kulit nanas tanpa sistem penghancur internal yang disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Perbandingan Kinerja Reaktor Hidrolisis Terintegrasi Pencacah vs Konvensional Parameter Reaktor Reaktor Terintegrasi Konvensional Pencacah (Susanti. Sistem Pitch Blade Pengadukan Pengadukan Turbine standar . anpa Pisau Pencacah Katalis H2SO4 1% HCl 0,1 N Waktu Reaksi Kadar Glukosa Maksimum Pengecilan Ukuran Partikel Sainti, 22. , 2025 120 menit 180 menit A9,0% 4,26% Signifikan . ,05 cm ke 0,07 c. nilai brix Lubis et al Terbatas . anya di awal prose. y = 1. RA = 0. waktu ( meni. y = 1. RA = 0. nilai Brix waktu ( meni. Gambar 5. Pengaruh waktu hidrolisis terhadap nilai Brix . sebelum ditambahkan NaOH. setelah ditambahkan NaOH kadar glukosa (%) y = 1. RA = 0. kadar glukosa (%) Analisis Kadar Glukosa dan Nilai Brix Pada Gambar 5 dan 6 menunjukkan peningkatan kadar glukosa dan nilai Brix yang linear selama proses hidrolisis (R2 > 0,. Pada menit ke-0, kadar glukosa tercatat 3,47% dengan nilai Brix 3,5ABx. Setelah 120 menit, kadar glukosa meningkat menjadi 8,88% dan nilai Brix mencapai 9,0ABx. Peningkatan ini bersifat linier dengan nilai koefisien determinasi (RA) di atas 0,97, yang menandakan adanya korelasi kuat antara waktu reaksi dan jumlah glukosa yang terbentuk. Hasil tersebut membuktikan bahwa reaktor dengan sistem pencacah pada impeler mampu meningkatkan efisiensi konversi biomassa menjadi glukosa dibandingkan sistem tanpa pencacah. Mekanisme utama peningkatan ini terjadi karena proses pengecilan ukuran partikel secara simultan selama reaksi hidrolisis, yang memperluas area kontak antara substrat dan larutan asam, sehingga transfer massa menjadi lebih cepat dan y = 1. RA = 0. waktu ( meni. Gambar 6. Pengaruh waktu hidrolisis terhadap kadar glukosa . sebelum ditambahkan NaOH. setelah ditambahkan NaOH Sementara itu, penelitian (Susanti, 2. menggunakan larutan HCl dengan variasi konsentrasi . ,1 N. 0,2 N. 0,3 N) pada suhu 100 AC untuk proses hidrolisis kulit nanas tanpa sistem pencacah. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pada kondisi optimum (HCl 0,1 N. 100 AC. 180 meni. , kadar glukosa maksimum yang diperoleh hanya mencapai 4,26%. Perbandingan ini memperlihatkan bahwa sistem reaktor dengan pencacah yang dikembangkan pada penelitian ini mampu menggandakan kadar glukosa hingga Lubis et al Sainti, 22. , 2025 y = 0. RA = 0. y = 0. RA = 0. waktu ( meni. waktu ( meni. y = 0. RA = 0. ram/m. P) densitas . ram/m. Karakteristik Fisik Proses (Densitas dan Viskosita. Perubahan parameter fisik larutan terlarut hasil pemecahan selulosa. Pada Gambar 7, perubahan nilai densitas dapat dilihat terjadi peningkatan dari 0,9983 g/mL menjadi 1,0225 g/mL (R2 = 0,9. Hal penambahan zat terlarut . erutama glukos. yang stabil seiring waktu. terus-menerus, mempercepat penghancuran biomassa sehingga glukosa lebih mudah terbentuk dan terlarut dalam larutan. Selain itu, perubahan densitas yang stabil selama proses menunjukkan bahwa campuran dalam reaktor tetap homogen. Artinya, sistem pencacah tidak hanya berperan dalam mempercepat reaksi, tetapi juga membantu menjaga agar partikel biomassa tidak mengendap di dasar reaktor. P) sekitar 9%, sehingga menunjukkan peningkatan efisiensi konversi lebih dari dua kali lipat dibandingkan proses tanpa sistem penghancur internal. waktu ( meni. y = 0. RA = 0. waktu ( meni. Gambar 7. Pengaruh waktu hidrolisis terhadap densitas produk . sebelum ditambahkan NaOH. setelah ditambahkan NaOH Hasil ini sejalan dengan penelitian (Hoppert & Einfalt, 2. yang menjelaskan bahwa pengecilan ukuran partikel dapat meningkatkan jumlah padatan terlarut karena proses tersebut mempercepat pembentukan gula hasil Dalam peningkatan densitas terlihat lebih cepat karena adanya sistem pencacah yang . Gambar 8. Pengaruh waktu hidrolisis terhadap viskositas produk . sebelum ditambahkan NaOH. setelah ditambahkan NaOH Nilai viskositas larutan kulit nanas meningkat dari 1,14 cP menjadi 1,78 cP selama proses hidrolisis berlangsung (Gambar . Kenaikan ini menunjukkan bahwa jumlah zat terlarut dalam larutan semakin banyak seiring waktu reaksi, yang sebagian besar berasal dari hasil pemecahan molekul selulosa menjadi gula Nilai koefisien determinasi yang tinggi (RA = 0,9. menunjukkan berhubungan dengan lamanya waktu Hal ini terjadi karena sistem pencacah pada impeller membantu memperkecil ukuran partikel biomassa secara terus53 Lubis et al menerus, sehingga permukaan partikel yang bereaksi dengan larutan asam menjadi lebih luas. Akibatnya, proses hidrolisis berlangsung lebih merata dan jumlah padatan terlarut dalam cairan meningkat, yang memengaruhi nilai Hasil ini menunjukkan bahwa sistem pencacah tidak hanya berperan dalam mempercepat reaksi kimia, tetapi juga menjaga agar campuran tetap homogen tanpa ada endapan padatan di dasar Kondisi ini membuat pergerakan fluida tetap stabil dan efisien selama proses berlangsung. Dengan demikian, rancangan reaktor berpengaduk dengan pencacah terintegrasi mampu menciptakan kondisi hidrolisis yang lebih optimal. KESIMPULAN Adapun kesimpulan dari penelitian ini Reaktor hidrolisis berpengaduk tipe pitched blade turbine yang terintegrasi dengan sistem pencacah berhasil dirancang dan diuji sesuai perhitungan. Reaktor ini efektif mengonversi biomassa lignoselulosa dari kulit nanas menjadi glukosa, dengan hasil yang konsisten dan koefisien determinasi (RA) di atas 0,97 antara waktu hidrolisis dengan kadar glukosa serta nilai Brix. Variasi waktu hidrolisis . Ae120 meni. kinerja reaktor. Peningkatan waktu proses menyebabkan kadar glukosa naik dari 3,4% menjadi sekitar 9,0%, nilai Brix dari 3,5 menjadi A9,0, densitas dari 0,9998 g/mL menjadi 1,03 g/mL, dan viskositas dari 1,14 cP menjadi 1,85 cP. Hal ini menunjukkan biomassa terhadap glukosa. Sistem pencacah yang terintegrasi dengan pengaduk terbukti efektif memperkecil ukuran partikel kulit nanas dari A1,05 cm menjadi A0,07 cm dalam waktu 120 menit. Mekanisme gaya potong dan geser pada sistem pencacah mempercepat keterbukaan Sainti, 22. , 2025 struktur lignoselulosa, memperluas area kontak dengan larutan asam, serta menjaga homogenitas slurry selama reaksi berlangsung. DAFTAR PUSTAKA