SIMBIOSIS. Vol. 2 No. Halaman: 133-137 September 2025 SIMBIOSIS : Jurnal Sains Pertanian DOI: https://doi. org/10. 30599/simbiosis. Pengendalian Busuk Batang pada Daun Sawi Dengan Pestisida Nabati Ekstrak Daun Kelor Controlling Stem Rot in Mustard Greens with Moringa Leaf Extract Botanical Pesticide Ima Arniati1*. Wening Tyas2. Lisa Pratama3 Program Studi Sains Pertanian Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Nurul Huda. Sukaraja. OKU Timur Indonesia *E-mail: imarniyati@gmail. Korespondensi : e-mail: imarniyati@gmail. ABSTRAK Penyakit busuk batang merupakan salah satu masalah utama dalam budidaya tanaman sawi yang dapat menyebabkan kerugian ekonomi signifikan. Penggunaan pestisida kimia sintetis yang berlebihan menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas ekstrak daun kelor sebagai pestisida nabati ramah lingkungan untuk mengendalikan penyakit busuk batang pada tanaman sawi. Penelitian dilaksanakan di Desa Bumi Harjo. Lampung pada tanggal 16 April 2025 menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Ekstrak daun kelor diperoleh melalui metode perendaman dengan perbandingan berat daun kering dan volume air 1:5 . selama 24 jam. Perlakuan terdiri dari lima konsentrasi ekstrak daun kelor yaitu 0% . , 5%, 10%, 15%, dan 20% yang diaplikasikan setiap tiga hari sekali selama 21 hari. Parameter yang diamati meliputi intensitas serangan penyakit, luas daun terserang, dan pertumbuhan tanaman. Data dianalisis menggunakan ANOVA satu arah dan uji lanjut DMRT pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun kelor berpengaruh signifikan terhadap pengendalian penyakit busuk batang pada tanaman sawi. Konsentrasi 15% memberikan efektivitas pengendalian sebesar 55,2% dengan penurunan luas daun terserang sebesar 68,2% A 3,4%. Konsentrasi 20% menunjukkan efektivitas tertinggi mencapai 67,1% dengan kategori sangat efektif. Selain itu, perlakuan ekstrak daun kelor juga meningkatkanpertumbuhan tanaman sawi dengan tinggi rata-rata 35,6 cm A 2,2 cm pada konsentrasi 15% dibandingkan kontrol yang hanya 27,3 cm A 1,8 cm. Senyawa bioaktif dalam daun kelor seperti flavonoid, tanin, dan saponin berperan sebagai agen antimikroba yang menghambat pertumbuhan patogen penyebab busuk batang. Kata kunci : Pestisida nabati, daun kelor. Moringa oleifera, busuk batang. Brassica juncea, pengendalian ABSTRACT Stem rot disease is a major problem in mustard cultivation that can cause significant economic losses. The excessive use of synthetic chemical pesticides has negative impacts on the environment and human health. This study aimed to evaluate the effectiveness of Moringa leaf extract as an environmentally friendly botanical pesticide to control stem rot disease in mustard plants. The research was conducted in Bumi Harjo Village. Lampung on April 16, 2025, using an experimental method with a Completely Randomized Design (CRD). Moringa leaf extract was obtained through a soaking method with a ratio of dry leaf weight to water volume of 1:5 . for 24 hours. The treatments consisted of five concentrations of Moringa leaf extract: 0% . , 5%, 10%, 15%, and 20%, applied every three days for 21 days. The parameters observed included disease intensity, area of infected leaves, and plant growth. Data were analyzed using one-way ANOVA and DMRT at the 5% level. The results showed that Moringa leaf extract had a significant effect on the control of stem rot disease in mustard plants. The 15% concentration provided 55. 2% control effectiveness with a 68. 2% A 3. reduction in the area of infected leaves. The 20% concentration showed the highest effectiveness, reaching 1%, categorized as very effective. In addition, the Moringa leaf extract treatment also improved the growth of mustard plants with an average height of 35. 6 cm A 2. 2 cm at a 15% concentration compared to the control, which was only 27. 3 cm A 1. 8 cm. Bioactive compounds in Moringa leaves such as flavonoids, tannins, and saponins act as antimicrobial agents that inhibit the growth of stem rot pathogens. Keywords: botanical pesticide. Moringa leaf. Moringa oleifera, stem rot. Brassica juncea, disease control negatif terhadap lingkungan, tetapi juga lebih aman PENDAHULUAN bagi kesehatan manusia dan hewan ternak. Tanaman sawi (Brassica juncea L. ) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai bahan ekonomi tinggi dan banyak dibudidayakan di pestisida nabati adalah kelor (Moringa oleifera Lam. Indonesia. Sebagai sayuran daun yang dikonsumsi Kelor merupakan tanaman tropis yang mudah tumbuh secara luas oleh masyarakat, sawi menjadi sumber dan tersebar luas di Indonesia. Daun kelor nutrisi penting yang kaya akan vitamin A, vitamin C, mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti kalsium, dan zat besi. Namun, dalam budidaya sawi, flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, dan minyak atsiri petani seringkali menghadapi berbagai tantangan, yang memiliki aktivitas antimikroba, antijamur, dan salah satunya adalah serangan penyakit busuk batang Penelitian-penelitian terdahulu telah dan daun yang dapat menyebabkan kerugian ekonomi menunjukkan bahwa ekstrak daun kelor efektif dalam yang signifikan. mengendalikan berbagai patogen tanaman, termasuk jamur dan bakteri penyebab penyakit pada tanaman Penyakit busuk batang pada daun sawi merupakan salah satu penyakit utama yang menyerang tanaman sawi dan dapat menyebabkan kerugian hasil yang Keunggulan ekstrak daun kelor sebagai pestisida Penyakit ini umumnya disebabkan oleh nabati antara lain mudah terurai secara alami kompleks patogen jamur seperti Sclerotinia . , sclerotiorum. Rhizoctonia solani. Pythium spp. , dan berbahaya, biaya produksi yang relatif murah, dan bakteri Erwinia spp. yang menyerang bagian batang dapat diproduksi sendiri oleh petani. Selain itu, kelor dan merambat ke daun tanaman. Gejala khas penyakit juga memiliki efek ganda yaitu sebagai pestisida ini adalah munculnya bercak-bercak coklat hingga nabati dan sebagai pupuk organik karena kandungan hitam pada bagian batang yang kemudian menyebar nutrisi yang tinggi pada daunnya. ke daun, pembusukan jaringan tanaman, dan dalam kondisi yang parah dapat menyebabkan layu dan Berdasarkan potensi tersebut, penelitian dan kematian tanaman. Faktor lingkungan seperti pengembangan pestisida nabati dari ekstrak daun kelembaban tinggi, suhu yang fluktuatif, sirkulasi kelor untuk pengendalian busuk batang pada daun udara yang buruk, dan sistem drainase yang tidak sawi menjadi sangat penting dilakukan. Artikel ini optimal dapat memperparah perkembangan dan akan membahas secara komprehensif mengenai penyebaran penyakit ini. karakteristik penyakit busuk batang pada daun sawi, potensi daun kelor sebagai pestisida nabati, metode Selama ini, pengendalian penyakit busuk batang pada ekstraksi dan formulasi, serta aplikasi di lapangan. daun sawi masih mengandalkan penggunaan pestisida Diharapkan informasi ini dapat menjadi referensi bagi kimia sintetis. Meskipun efektif dalam mengendalikan petani, peneliti, dan praktisi pertanian dalam patogen, penggunaan pestisida kimia secara mengembangkan sistem pengendalian penyakit yang berlebihan dan kontinyu menimbulkan berbagai ramah lingkungan dan berkelanjutan. dampak negatif, seperti pencemaran lingkungan, resistensi patogen, residu pestisida pada produk Melalui pendekatan pengendalian penyakit yang pertanian, dan gangguan terhadap mikroorganisme mengintegrasikan kearifan lokal dengan teknologi menguntungkan di dalam tanah. Selain itu, biaya modern, diharapkan dapat tercipta sistem pertanian pestisida kimia yang terus meningkat menjadi beban yang tidak hanya produktif secara ekonomi, tetapi ekonomi bagi petani, terutama petani kecil. juga berkelanjutan secara ekologi dan sosial. Hal ini sejalan dengan konsep pertanian organik dan ramah Dalam konteks pertanian berkelanjutan dan ramah lingkungan yang semakin mendapat perhatian dari lingkungan, pengembangan pestisida nabati menjadi berbagai pihak, baik pemerintah, petani, maupun alternatif yang sangat menjanjikan. Pestisida nabati konsumen yang semakin sadar akan pentingnya merupakan pestisida yang bahan aktifnya berasal dari produk pertanian yang aman dan sehat. tumbuhan yang memiliki sifat toksik terhadap organisme pengganggu tanaman. Penggunaan METODE PENELITIAN pestisida nabati tidak hanya mengurangi dampak Jenis Metode SIMBIOSIS. Vol. 2 No. Halaman: 133-137 September 2025 SIMBIOSIS : Jurnal Sains Pertanian DOI: https://doi. org/10. 30599/simbiosis. Penelitian ini dilaksanakan di belakang rumah, di desa Bumi Harjo Lampung pada tanggal 16 April Lokasi ini dipilih karena merupakan salah satu sentra budidaya sawi yang rentan terhadap penyakit busuk batang dan daun. Sampel tanaman sawi yang menunjukkan gejala penyakit diambil secara purposive sebanyak 30 tanaman yang tersebar di tiga petak lahan percobaan. Bahan dan Peralatan Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun kelor (Moringa oleifer. segar yang diperoleh dari kebun tanaman obat di wilayah penelitian. Daun kelor dipilih karena berpotensi sebagai agen antimikroba, seperti flavonoid, tanin, dan saponin (Akinyemi, at el. Spesifikasi daun kelor meliputi daun yang berwarna hijau segar tanpa cacat atau penyakit dan dipanen pada usia 45-60 hari setelah pertumbuhan daun optimal. Pestisida nabati dibuat dari ekstrak air daun kelor menggunakan peralatan laboratorium standar, yaitu blender untuk penghancuran daun, alat penyaring kain halus, dan wadah penampung ekstrak steril. Selain itu, digunakan alat semprot manual dengan kapasitas 1 liter untuk aplikasi ekstrak pada tanaman. Prosedur Percobaan Daun kelor yang telah dipanen dicuci dengan air bersih dan dikeringkan di tempat teduh selama 3 hari hingga kadar air berkurang. Daun kering kemudian digiling halus menggunakan blender, kemudian diekstraksi dengan pelarut air melalui metode perendaman selama 24 jam dengan perbandingan berat daun kering dan volume air 1:5 . Ekstrak yang diperoleh disaring menggunakan kain halus dan disimpan dalam kondisi dingin sebelum Tanaman sawi yang terinfeksi penyakit busuk batang dan daun kemudian disemprot dengan ekstrak daun kelor pada konsentrasi ber Jobeda, yaitu 5%, 10%, dan 15%, dengan volume semprot 50 ml per tanaman. Perlakuan disemprot dilakukan setiap tiga hari sekali selama 21 hari berturut-turut. Kelompok kontrol disemprot Hari ke Kegiatan Waktu Persiapan Pengamatan Aplikasi ll Pengamatan Aplikasi l Pengamatan Analisis Data Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis varian (ANOVA) satu arah untuk menguji pengaruh perlakuan konsentrasi ekstrak daun kelor terhadap tingkat keparahan penyakit dan pertumbuhan tanaman sawi. Jika terdapat perbedaan signifikan . < 0,. , maka dilakukan uji lanjut Duncan Multiple Range Test (DMRT) untuk mengetahui perlakuan mana yang berbeda nyata. Seluruh analisis statistik dilakukan dengan bantuan perangkat lunak SPSS Metode ini mengikuti prosedur yang telah digunakan dalam penelitian pestisida nabati sebelumnya yang terbukti dapat direproduksi dan menghasilkan data yang valid (Azis, 2020. Fauziyah & Santoso. Perlakuan Rata-rata Efektifitas(%) Kategori serangan(%) ( 78. 5A4. Tidak P1. %) 3A 3. Kurang P2. %) 7A4. Cukup P3. %) 2A2. P4. 8A3. Sangat HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Penelitian penggunaan ekstrak daun kelor pada berbagai konsentrasi memberikan pengaruh signifikan terhadap pengendalian busuk batang dan daun pada tanaman Data rata-rata luas area daun terserang sebelum dan sesudah perlakuan disajikan pada Tabel 1. Terlihat bahwa konsentrasi ekstrak 15% memberikan penurunan luas daun terserang paling besar, yaitu sebesar 68,2% A 3,4% dibandingkan kontrol yang hanya 12,5% A 2,1%. Konsentrasi Luas Luas Penurunan Ekstrak (%) (%) terserang terserang awal. mA) akhir 0. 2 A 3. 8 A 2. 3 A 2. 3 A 2. 7 A 3. mA) A 12. 5 A 2. A 26. 0 A 3. A 41. 7 A 2. A 68. 2 A 3. A 73. 1 A 2. Selain itu, pertumbuhan tanaman sawi juga menunjukkan peningkatan yang nyata pada perlakuan ekstrak daun kelor dengan konsentrasi 10% dan 15%, dilihat dari tinggi tanaman dan jumlah daun. Tinggi rata-rata tanaman pada konsentrasi 15% mencapai 35,6 cm A 2,2 cm dibandingkan kontrol yang hanya 27,3 cm A 1,8 cm (Gambar . tanaman sawi. Efektivitas pengendalian meningkat seiring dengan peningkatan konsentrasi ekstrak, dengan konsentrasi 15% dan 20% menunjukkan hasil yang paling optimal. Senyawa bioaktif yang terkandung dalam daun kelor seperti flavonoid, tanin, dan saponin berperan sebagai agen antimikroba yang dapat menghambat pertumbuhan patogen penyebab busuk batang. Flavonoid berfungsi sebagai antioksidan yang dapat merusak membran sel patogen, sementara tanin memiliki kemampuan untuk mikroorganisme patogenPeningkatan pertumbuhan tanaman pada perlakuan ekstrak daun kelor juga menunjukkan bahwa selain berfungsi sebagai pestisida nabati, ekstrak ini juga memberikan nutrisi tambahan bagi tanaman. Kandungan nitrogen, fosfor, dan kalium dalam daun kelor dapat meningkatkan vigor tanaman dan ketahanan terhadap serangan Penelitian ini sejalan dengan penelitian Sharma et al. yang melaporkan bahwa ekstrak daun kelor efektif dalam mengendalikan berbagai penyakit tanaman dengan mekanisme kerja yang immunomodulator, dan nutrisi tanaman. KESIMPULAN Ekstrak daun kelor (Moringa oleifera Lam. ) terbukti efektif sebagai pestisida nabati untuk mengendalikan penyakit busuk batang pada tanaman sawi (Brassica juncea L. Konsentrasi 15% memberikan hasil optimal dengan tingkat efektivitas 55,2% dan penurunan luas daun terserang sebesar 68,2%. Selain itu, ekstrak daun kelor juga memberikan efek positif terhadap pertumbuhan tanaman sawi. Penggunaan ekstrak daun kelor sebagai pestisida nabati merupakan alternatif yang ramah lingkungan, ekonomis, dan berkelanjutan untuk menggantikan pestisida kimia sintetis dalam budidaya sawi. Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengoptimalkan formulasi dan metode aplikasi ekstrak daun kelor dalam skala yang lebih luas. UCAPAN TERIMAKASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, baik dalam pengumpulan data maupun dalam proses analisis, sehingga penelitian ini dapat terselesaikan dengan Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun kelor memiliki potensi besar sebagai pestisida nabati untuk mengendalikan penyakit busuk batang pada SIMBIOSIS. Vol. 2 No. Halaman: 133-137 September 2025 SIMBIOSIS : Jurnal Sains Pertanian DOI: https://doi. org/10. 30599/simbiosis. DAFTAR PUSTAKA