KALATANDA: Jurnal Desain Grafis dan Media Kreatif Vol. Issue 1, pp. 1Ae6 . doi: http://doi. org/10. 25124/kalatanda. RESEARCH ARTICLE Animal Testing Pada Produk Kosmetik Dalam Karya Seni Lukis Pop Surrealisme Tsaqifa Nur Rahmi Hakim. Cucu Retno YuningsihO and Ranti Rachmawanti Fakultas Industri Kreatif. Universitas Telkom. Bandung, 40257. Jawa Barat. Indonesia Corresponding author: curetno@telkomuniversity. Abstrak Keberadaan kosmetik yang semakin hari semakin bervariatif tentu melewati prosedur uji coba terlebih dahulu sebelum disebarluaskan ke masyarakat, hal ini berguna sebagai salah satu cara pencegahan terhadap efek yang buruk atau tidak diinginkan terhadap manusia setelah menggunakan produk kosmetik tersebut. Namun dalam prosesnya ini beberapa brand kosmetik ternama masih saja menggunakan hewan sebagai salah satu alat uji cobanya. Hal ini tentu seharusnya menjadi perhatian besar kita, karena kegiatan ini termasuk kedalam eksploitasi serta penyiksaan kejam terhadap hewan itu sendiri. Namun sayangnya masih banyak masyarakat yang belum tau atau bahkan tidak peduli dengan hal ini, dalam tugas akhir ini penulis mencoba untuk menanggapi permasalahan ini yang penulis angkat kedalam karya lukis pop surealisme. Tujuan penulis membuat karya seni lukis pop surealisme ini sebagai bentuk kritik terhadap beberapa produk kosmetik yang masih menggunakan hewan sebagai salah satu prosedur pengujian keamanannya atau alat uji coba utamanya dan sebagai pengingat serta meningkatkan pengetahuan serta kesadaran masyarakat mengenai isu animal testing kosmetik ini. Untuk mencapai tujuan penulis dalam membuat karya ini, penulis menggambarkan isu ini ke dalam dua karya lukis pop Key words: kosmetik, pop surealisme, animal test, animal test kosmetik, lukis. Pendahuluan Pada dasarnya manusia sering kali menggunakan atau mengambil beberapa manfaat dari hewan demi keberlangsungan hidupnya, namun terkadang sebagian manusia juga sering kali berperilaku serakah dalam memanfaatkan atau mengambil hal-hal yang dibutuhkannya dalam hewan tersebut. Tidak jarang juga beberapa manusia berperilaku kejam terhadap hewan karna menganggap hewan adalah makhluk yang lemah dan tidak berdaya. Padahal untuk menciptakan dunia yang baik dan sejahtera manusia sepatutnya tidak hanya fokus terhadap hubungan antar manusia saja tapi begitu juga dengan hewan dan Atas permasalahan yang disebutkan sebelumnya munculah suatu pemahaman atau teori yang banyak menekankan perjuangan hak-hak binatang yang bernama zoosentrisme. Pelanggaran berat dari teori ini adalah eksploitasi yang terjadi kepada hewan, karena eksploitasi sendiri dapat menimbulkan rasa sakit serta perenggutan hak-hak yang semestinya hewan itu dapatkan. Dasarnya pemahaman teori ini erat kaitannya dengan ketetapan hukum yang dibuat khusus untuk melindungi hak-hak hewan, yang disebut sebagai animal rights. Prinsip atau hukum animal rights ini sebenarnya ditujukan untuk melindungi kesejahteraan kehidupan hewan itu sendiri agar terbebas dari kekerasan serta perilaku buruk manusia. Seperti halnya yang dijelaskan dalam buku Voices for Animal Liberation Inspirational Accounts by Animal Rights Activists tujuan dari animal rights ini sendiri adalah untuk mendenormalisasi kekerasan terhadap hewan dan menghormati hewan sebagai makhluk yang juga memiliki perasaan, menegakan hak yang seharusnya mereka dapatkan atas nama mereka dan membebaskan mereka dari penderitaan . Hal ini masih sangat sulit diterapkan kepada masyarakat saat ini, dengan mengingat betapa sedikitnya pemahaman serta kesadaran manusia akan kesejahteraan kehidupan hewan. Salah satu bentuk pengeksploitasian hewan yang masih dianggap sebagai hal yang normal dan lumrah bagi sebagian orang adalah Animal Testing. Seperti halnya yang kita ketahui berkembangnya teknologi tidak pernah luput dari penemuan hal-hal baru dari penelitian manusia itu sendiri, baik itu dalam industri obat-obatan, atau dalam industri makanan bahkan dalam industri fashion seperti kosmetik, yang kerap kali menggunakan hewan sebagai alat uji coba produknya sebagai penunjang kesuksesan serta keberhasilan dan keamanan produk barunya. Perkembangan Kosmetik sudah lama dikenal sejak berabad abad lalu, hal ini karena pengaruh besarnya terhadap kecantikan yang mampu menarik perhatian masyarakat secara cepat. Dikutip dari buku llmu pengetahuan kosmetik, perkembangan produk kosmetik sendiri secara besar-besaran mulai melesat pada abad ke-20 (Wall. Jellinek, 1. Berbagai jenis serta varian baru kosmetik mulai bermunculan seolah tidak dapat dihentikan, dalam kosmetik sendiri diketahui memakai beberapa zat kimia aktif sebagai bahan dasar pembuatannya. Bisa A The Author 2025. Published by Telkom University. Hakim et al. kita bayangkan sudah terhitung lebih dari ribuan penggunaan hewan sebagai alat laboratorium digunakan selama bertahun-tahun lamanya. Dikutip dari situs resmi organinsasi perlindungan hewan, menurut Dr. Christopher Austin, pengujian pada hewan secara tradisional mahal, memakan waktu, menggunakan banyak hewan, dan dari sudut pandang ilmiah, hasilnya belum tentu bisa diterapkan pada manusia . Dikutip dari situs resmi komunitas Animal Aid, menurut Dr Francis Collins, bahwasannya proses pengujian produk terhadap hewan ini lambat dan juga mahal karena bagaimanapun metabolisme antara manusia dan hewan jelas berbeda (Animal Aid, 2. Dari dua pernyataan ahli diatas bisa kita tarik kesimpulan bahwasannya hasil dari Animal Testing sendiri sebenarnya diakui tidak begitu akurat, karena bagaimanapun semirip miripnya metabolisme hewan dengan manusia, tidak akan pernah sama, ditambah setiap manusia memiliki dan mampu memberikan pengaruh serta reaksi yang berbeda beda tergantung bagaimana kondisi metabolisme tubuhnya. Selain itu dampak dari Animal Testing ini juga memberikan rasa sakit serta penderitaan bagi hewan tersebut yang tidak sebanding dengan manfaatnya. Dilain sisi jika dibiarkan terus menerus bisa saja mampu menimbulkan masalahmasalah kesehatan baru bagi manusia, ditambah lagi dengan biaya yang dikeluarkan untuk menggunakan hewan sebagai alat uji coba tidak begitu murah seperti halnya yang dipaparkan oleh Dr Francis Collins sebelumnya juga bisa saja mampu mengganggu kestabilan ekonomi. Walau begitu, beberapa perusahaan atau brand produk kosmetik menutup mata akan hal ini. Salah satu seniman yang turut menyuarakan kepeduliannya akan lingkungan adalah Toni Hamel. Beberapa karya yang dihasilkan oleh seniman asal toronto ini banyak mengangkat isu mengenai kerusakan lingkungan serta kesejahteraan hewan atau eksploitasi hewan. Dengan melihat urgensi akan isu diatas maka dari itu penulis memiliki tujuan untuk memvisualisasikan isu pelanggaran dari kebijakan Animal Rights lebih spesifik serta terperinci lagi, yaitu eksploitasi hewan khususnya sebagai alat uji lab atau bisa kita rincikan lagi kedalam Animal Testing. Maksud serta tujuan penulis menjadikan isu ini kedalam karya seni lukis pop surealisme, sebagai bentuk kritik terhadap beberapa produk kosmetik yang masih menggunakan hewan sebagai alat uji coba utamanya, serta sebagai pengingat dan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kejamnya Animal Testing ini baik terhadap hewan itu sendiri ataupun dampak yang ditimbulkan dari animal test. Table 1. Alat dan Bahan Nama Alat Pensil dan penghapus Kuas Cat Minyak Terpentin Linoil (Pengencer cat minya. Kanvas ukuran 100 y 100 cm Gambar Metodologi Penelitian Selanjutnya masuk pada proses berkarya yang penulis bagi kepada dua poin, yaitu penjelasan medium karya serta tahapan proses berkarya sebagai mana halnya yang telah penulis jabarkan dibawah Medium Karya Dalam pembuatan karyanya ini penulis menggunakan kanvas yang semua sisinya berkuran 100cm. Pemilihan ukuran kanvas ini dilakukan setelah proses rancangan layout komposisi dari visual yang nantinya akan penulis sajikan sebelumnya, selain itu pada karya ini penulis menggunkan cat minyak/oil paint dengan penggunaan teknik wet on wet. Hal lainnya dari pemilihan cat minyak ini dikarenakan cat minyak yang durasi keringnya lebih lama dari cat lainnya sehingga mempermudah penulis dalam melakukan teknik ini. Tahapan Berkarya Masuk pada tahapan proses berkarya dimana pada tahap ini penulis menjelaskan seluruh proses penulis dalam menciptakan karya tugas Sebelum masuk pada tahapan proses berkarya, penulis terlebih dahulu menyiapkan alat serta bahan yang nantinya akan digunakan penulis dalam proses pembuatan karya Tugas Akhir ini yang ditunjukan pada tabel 1 berikut: Tahapan selanjutnya penulis memasuki tahapan sketsa . Dimana pada tahapan ini pertama tama penulis merancang serta memilih beberapa karakter visual yang dapat simbol yang mewakili pesan kritik yang akan penulis sampaikan dalam karyanya nanti, karakter visual ini penulis gambarkan terlebih dahulu kedalam buku sketsa. Setelah ditentukannya beberapa karakter yang akan memvisualisasikan pesan penulis nantinya, pada tahap selanjutnya penulis membuat gambaran kasar mengenai layout serta komposisi visual yang akan ditampilkan sekaligus mempertimbangkan ukuran kanvas yang cocok. Langkah selanjutnya adalah penulis membuat sketsa secara digital, dimana pada proses ini penulis berfokus pada penentuan warna serta memberikan sedikit detail untuk mempermudah penulis dalam proses pengecatan nantinya. Dalam proses pembuatan sketsa ini penulis mengunakan aplikasi sketchbook, dan berikut ini pada gambar 2 merupakan hasil sketsa karya 1 dan 2 yang telah penulis buat. Setelah dibuatnya sketsa selanjutnya penulis melakukan pembuatan prototype yang mana pada tahapan ini penulis membuat dua prototype yang Animal Testing Pada. Gambar 3. Prototype Karya 1 dan 2 . ketsa yang telah direvis. Gambar 1. sketsa karakter visual Gambar 2. Sketsa Karya 1 dan 2 tediri dari karya 1 dan karya 2 dengan menggunakan kanvas ukuran 25 y 25 cm dengan menggunakan cat minyak sebagai mediumnya dan dengan teknik wet on wet. Tujuan penulis membuat prototype adalah sebagai bentuk gambaran untuk hasil akhir karya serta sebagai bentuk latihan penulis dalam pembuatan karya dan uji coba teknik penulis dalam membuat karya agar hasil karya akhirnya nanti dapat Namun sketsa yang penulis gunakan pada prototype dengan sketsa hasil akhirnya berbeda, dikarenakan sketsa awal yang penulis gunakan dalam prototype ini mengalami tahap perevisian setelah dilaksanakannya sidang preview 2 seperti terlihat pada gambar 3. Selanjutnya masuk pada proses pembuatan karya dimana penulis mulai memindahkan sketsa yang telah penulis rancang dan buat sebelumnya kedalam kanvas berukuran 100 y 100 cm . Dalam proses ini penulis menggunakan teknik grid agar gambar akhirnya nanti sesuai dengan sketsa yang telah penulis buat sebelumnya. Selain itu penulis juga menggunakan pensil berwarna biru sebagaimana ditunjukkan dalam gambar 5. Setelah selesai pada tahan pemindahan sketsa, langkah selanjutnya adalah proses underpainting menggunakan cat acrylic berwaran pink. Penggunaan cat acrylic sebagai underpainting oleh penulis, dikarenakan cat acrylic lebih cepat kering sehingga mempercepat penulis untuk masuk pada tahapan selanjutnya, pemilihan warna pink dikarenakan agar sketsa yang telah penulis buat sebelumnya dengan biru masih bisa dengan mudah penulis lihat walau tertutup cat, dikarenakan warna biru merupakan kebalikan dari warna pink yang merupakan hasil dari campuran warna merah. Selain itu pemilihan warna pink juga agar memudahkan penulis dalam melakukan pengecatan pada bagian bagian yang berwarna putih hasilnya dapat diamati pada gambar 6. Gambar 4. Sketsa kanvas Gambar 5. Gambar 6. Coloring Hakim et al. Gambar 7. Detailing Gambar 9. Perusahaan Kosmetik Gambar 10. Ular Gambar 8. Hasil Akhir Masuk kedalam proses pewarnaan, disini penulis mulai melakukan pewarnaan menggunakan cat minyak secara bertahap dengan menggunakan teknik wet on wet untuk menciptakan volume serta bayangan dalam gambar. Dapat dilihat pada gambar 7 dan gambar 8. Hasil dan Pembahasan Konsep Penciptaan Jika kita lihat kembali, adanya prosedur animal test pada kosmetik ini sangat merugikan banyak pihak termasuk kita dan utamanya adalah hewan itu sendiri. Selain rasa sakit yang tidak seharusnya hewan itu terima atau bahkan tidak sebanding dengan hasil yang diberikan oleh prosedur ini, dan juga kurangnya kepentingan dari animal test pada produk kosmetik ini. Hal lainnya yang menjadikan animal test harus dihentikan tentu karena fisiologi serta genetika hewan dengan manusia sangat jauh berbeda. Hal ini menyebabkan banyaknya produk kosmetik yang akhirnya tidak efektif aman diberikan pada manusia, dan mengakibatkan manusia berada diposisi yang dirugikan oleh hasil percobaan terhadap hewan ini. Hasil yang tidak akurat dari percobaan pada hewan menyebabkan uji klinis menggunakan bahan yang tidak akurat secara biologis atau bahkan berbahaya, sehingga manusia bisa saja terkena resiko yang tidak seharusnya mereka dapatkan . Maka dari itu penulis menjadikan karya tugas akhir ini sebagai sarana dalam mengekspresikan pesan kritik penulis mengenai isu animal test pada produk kosmetik yang penulis tuang menjadi dua karya seni lukis masing masing berukuran 100 y 100 cm. Dalam karyanya ini penulis memvisualisasikan pesan kritknya dengan menggunakan penggayaan pop surealisme selain itu dalam menyampaikan kritiknya penulis menggunakan bentuk ilustrasi satir sebagai bentuk penyampaian pesan kritiknya, yang berupa simbol karakter antropomorfik. Secara garis besar pada karya pertama dan kedua penulis menggambarkan dua jenis proses animal test yang sering kali digunakan untuk menguji produk kosmetik, yaitu tes toksisitas akut dan The Draize Rabbit Eye Test. Selain itu dalam karyanya ini memvisualisasikan ketidak akuratan hasil animal test ini pada manusia dan juga perilaku yang mereka terima. Konsep Visual Berdasarkan konsep diatas, untuk menyampaikan pesan kritiknya ini menjadi sebuah karya seni lukis, maka penulis memvisualisasikan pesan kritiknya ini kedalam simbol-simbol antropomorfik yang penulis buat dengan mempertimbangakan setiap detail makna yang ada dalam simbol tersebut, ditampilkan pada gambar 9 sebagai berikut: Lipstick merupakan salah satu jenis kosmetik yang dalam proses pembuatannya menggunakan animal test dalam prosedur pengujiannya sebelum disebarluaskan di masyarakat, hal ini bertujuan untuk menguji keamanan serta efek samping dari produk tersebut Dalam karya ini penulis menjadikan lipstick untuk memvisualisasikan perusahaan produk kosmetik. Penulis menambahkan visualisasi balutan jas yang rapih pakaian dan berwibawa yang selalu identik dengan image pengusaha itu sendiri, dapat diamati pada Gambar 10. Dalam karya ini ular dipilih untuh memvisualisasikan sifat licik seperti halnya produk kosmetik yang secara kejam masih menggunakan hewan sebagai alat ujinya. Dalam proses penggambaran ular ini penulis terinspirasi dari salah satu makhluk mitologi yunani yaitu medusa, yang seperti kita tau bahwasannya medusa walau ia cantik namun disatu sisi ia juga licik dan manipulatif. Pada gambar 11 terlihat penggambaran beberapa simbol yang memakai jas lab menunjukan bahwasannya hal ini terjadi di laboratorium yang mana jas lab merupakan salah satu perlengkapan yang harus dipakai pada saat proses pengujian, serta menggambarkan proses uji coba atau pengujian yang erat kaitannya dengan laboratorium. Sedangkan pemilihan warna yang kebiruan ini karena erat kaitannya dengan warna baju yang selalu dipakai tenaga medis atau Kelinci dipilih sebagai penggambaran dari korban animal test selain karna kelinci yang identik dengan prosedur animal test itu sendiri, dibandingkan hewan lainnya kelinci merupakan salah satu hewan yang ketentuan pelindungannya sangat lemah karna dianggap sebagai hewan yang tidak dilindungi dan hewan yang mudah diternakan sehingga jauh dari kepunahan namun pengunaannya dalam prosedur pengujian dalam bidang kosmetik khususnya paling banyak, seperti tes Animal Testing Pada. Gambar 11. Jas Lab Gambar 14. Pain On The Dinner Table Oil On Canvas 100 x 100 cm Gambar 12. Kelinci Gambar 13. Red Lily Spider draized, tes pengujian iritasi kulit, tes karsinogenisitas, dan uji toksisitas akut. Hasil penelitian dari UK Home Office menunjukan, hewan yang paling umum digunakan adalah tikus serta kelinci dengan presentase kelinci sebesar . ,8%), . Maka dari itu pada gamabar 12 dapat dilihat bahwa penulis memilih kelinci sebagai karakter yang bisa merepresentasikan dan mewakili korban animal test lainnya dalam bidang kosmetik. Setiap seniman tentu memiliki ciri khas nya dalam berkarya baik dilihat dari komposisi atau teknik dalam melukis atau bahkan kehadiran visual tertentu yang selalu ada dalam setiap karyanya. Kehadiran bunga red lily spider ini . merupakan salah satu ciri khas seniman dalam berkarya. Selain karena keindahannya, bunga ini memiliki banyak filosofi atau makna yang cukup dalam. Dalam karya ini penulis menggambarkan bunga ini sebagai perasaan rasa sakit dari hewan korban pengujian produk kosmetik sama halnya yang dipercayai oleh orang orang jepang yang mengartikan bunga ini sebagai rasa sakit selain itu dalam budaya jepang bunga ini juga dimkanai sebagai kehidupan baru atau awal baru . Hasil Karya sebagaimana ditampilkan pada gambar 14 karya ini menceritakan salah satu prosedur animal test yaitu tes toksisitas akut melalui oral dimana bahan kimia yang akan diujikan diberikan melalui mulut atau dengan mencampurkannya kedalam makanan hewan. Prosedur ini bertujuan untuk mengetahui efek samping atau reaksi suatu bahan kimia yang terkandung dalam produk kosmetik terhadap organ tubuh. Pada karya ini penulis menggunakan pendekatan pop surealis yang mana hal ini bisa dilihat dari visualnya yang menghadirkan karakter populer. Gambar 15. Now U Know Oil On Canvas 100 x 100 cm setiap simbolnya berisikan kritik dan juga sindiran, adanya makhluk antropormofik, serta bentuk visualnya terinspirasi dari kartun yang secara keseluruhan penulis gambarkan dengan komposisi yang sederhana. Pemilihan warna yang cerah merupakan salah satu cara penulis untuk menjadikan karya ini terlihat menarik. Setiap gagasan kritiknya penulis gambarkan kedalam bentuk visual antropormofik serta kedalam simbol dan bentuk visual. Sama hal nya dengan karya pertama, dalam karya ini . penulis menggunakan pendekatan pop surealis dalam menyampaikan pesan kritiknya, yang ditandai dengan adanya karakter popular, adanya makhluk antropormofik, simbol-simbol yang memiliki pesan kritik seniman mengenai isu ini, serta adanya narasi yang dekat dengan masyarakat dan penggambarannya yang terinspirasi dari kartun. Hal yang membedakan karya ini dengan karya sebelumnya, dalam karya ini penulis menceritakan bagaimana proses dari prosedur animal test yang paling sering digunakan untuk menguji produk kosmetik yaitu The Draize Rabbit Eye Test, yang mana tes ini hewan khususnya mata kelinci akan diteteskan bahan kimia yang menjadi kandungan produk kosmetik, tak hanya itu dalam karya ini penulis juga menyajikan efek samping yang timbul pada kelinci setelah dilakukannya uji coba skin irritation test. Sama seperti karya sebelumnya dan juga telah dijelaskan Hakim et al. sebelumnya beberapa karakter atau simbol yang ada dalam karya ini berisikan sindiran serta pesan kritik penulis. Kesimpulan Isu animal test pada produk kosmetik ini penulis angkat menjadi tema atau gagasan dalam konsep penciptaan karya untuk menciptakan karya seni lukis pop surealisme. Maksud diangkatnya isu ini menjadi karya seni lukis pop surealisme ini adalah sebagai bentuk kritik terhadap beberapa produk kosmetik yang masih menggunakan praktik animal test ini sebagai prosedur untuk menguji kemanan serta efek samping dari produk kosmetiknya. Dengan mengingat rasa sakit yang ditimbulkan praktik ini tidak sebanding dengan hasil yang diberikan dan juga mau bagaimanapun laboratorium bukanlah tempat hewan hewan itu seharusnya berada. Selain diangkatnya isu ini sebagai karya seni ini sebagai pengingat bagi masyarakat agar lebih berhati hati kembali dalam memilih produk kosmetik dengan mengingat kerugian serta efek samping yang bisa saja ditimbulkan oleh produk-produk hasil pengujian animal test ini. Penyampaian kritik penulis mengenai isu ini dengan menggunakan penggayaan pop surealisme ini menjadi salah satu cara penulis agar pesan kritiknya dapat mudah diterima dan dapat tersampaikan kepada Selain itu dalam karya tugas akhirnya ini penulis memvisualisaikan dua proses pengujian yaitu the draize rabbit eye test dan tes uji toksisitas akut secara oral yang mana kedua proses ini penulis tuang menjadi dua karya seni lukis. Selain memvisualisasikan dua proses pengujian ini dalam menyampaikan pesan kritiknya akan isu ini, penulis visualisasikan kedalam simbol-simbol makhluk antropormofik yang telah penulis buat sebelumnya. Pewarnaanya yang cerah menjadikan karya ini semakin menarik untuk dilihat walau pesan yang serta isu didalamnya sangat mengerikan adalah salah satu cara penulis agar karyanya terlihat lebih menarik. Daftar Pustaka