Jurnal Laboratorium Prima (JLP) Vol. 1 No. November 2023 Doi: https://doi. org/10. 32524/jlp. Perbedaan Kadar Hemoglobin Pada Sampel Darah yang Dihomogenisasi Sekunder Inversi 2 Kali dan 8 Kali Setelah Ditunda Selama 30 Menit dengan Hematology Analyzer Differences in Hemoglobin Levels in Secondary Inversion Homogenized Blood Samples 2 Times and 8 Times After a 30 Minute Delay with Hematology Analyzer Miftahul Jannah1. Rosnita Sebayang2. Mustika Sari H. Hutabarat3 DIV Teknologi Laboratorium Medis. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Katolik Musi Charitas Email: mift. jn25@gmail. ABSTRAK Pemeriksaan hemoglobin merupakan salah satu pemeriksaan yang dilakukan di laboratorium klinik yang bertujuan untuk mengetahui kadar hemoglobin dalam tubuh seseorang. Sampel pemeriksaan yang digunakan dalam pemeriksaan hemoglobin merupakan darah dengan antikoagulan EDTA. Antikoagulan berperan untuk menonaktifkan faktor pembekuan darah. Makadari itu, darah yang telah dimasukkan kedalam tabung dengan antikoagulan harus segera dihomogenisasi primer. Pada pelaksanaan dilapangan, sampel darah yang sudah ditampung biasanya tidak langsung diperiksa sehingga terjadi penundaan. Darah yang telah dihomogenisasi primer jika didiamkan akan mengalami Maka dari itu, sampel darah harus dihomogenisasi kembali . omogenisasi sekunde. sebelum dilakukan pemeriksaan. Untuk melihat apakah ada perbedaan kadar hemoglobin yang dihomogenisasi sekunder sebanyak 2 dan 8 kali setelah didiamkan selama 30 menit. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional dengan rancangan penelitian cross sectional. Subjek penelitian yang diperiksa sebanyak 32 orang. Subjek penelitian dilakukan pengambilan darah sebanyak 2 tabung lalu masing-masing tabung dihomogenisasi primer 8 kali dan didiamkan selama 30 menit. Setelah 30 menit, tabung dengan kode A dihomogenisasi sekunder 2 kali lalu diperiksa pada alat Sysmex XP-100 dan tabung dengan kode B dihomogenisasi sekunder 8 kali lalu diperiksa pada alat Sysmex XP-100. Data dianalisis menggunakan uji Paired Sample T-Test dengan tingkat kepercayaan 95%. Kadar hemoglobin untuk tabung yang dihomogenisasi sekunder 2 kali diperoleh nilai mean 13,2 g/dL dan standar deviasi (SD) 1,17 g/dL sedangkan untuk tabung yang dihomogenisasi sekunder 8 kali diperoleh nilai mean 13,2 g/dL dan SD 1,13 g/dL. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat p = 0,567 (>0,. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna dari hasil tabung yang dihomogenisasi sekunder 2 kali dan 8 kali. Pada penelitian selanjutnya, jumlah sampel yang digunakan harus diperbanyak lagi. Kata Kunci: Hemoglobin. Penundaan. Homogenisasi Sekunder 31 | J L P ABSTRACT Hemoglobin test is one of the tests performed in a clinical laboratory that aims to determine the hemoglobin level in a person's body. The sample used in hemoglobin examination is blood with EDTA Anticoagulants act to inactivate blood clotting factors. Therefore, blood that has been put into a tube with anticoagulant must be immediately primary homogenized. In the field, blood samples that have been collected are usually not immediately examined, resulting in delays. Blood that has been primary homogenized if left to stand will experience precipitation. Therefore, blood samples must be re-homogenized . econdary homogenizatio. before testing. To see if there is a difference in hemoglobin levels secondary homogenized 2 and 8 times after standing for 30 minutes. This type of research is observational research with cross sectional research design. The research subjects examined were 32 people. The study subjects had their blood drawn in 2 tubes and then each tube was primary homogenized 8 times and allowed to stand for 30 minutes. After 30 minutes, the tube with code A was secondary homogenized 2 times and then examined on the Sysmex XP-100 device and the tube with code B was secondary homogenized 8 times and then examined on the Sysmex XP-100 device. Data were analyzed using Paired Sample T- Test test with 95% confidence Hemoglobin levels for tubes that were secondary homogenized 2 times obtained a mean value of 2 g/dL and standard deviation (SD) 1. 17 g/dL while for tubes that were secondary homogenized 8 times obtained a mean value of 13. 2 g/dL and SD 1. 13 g/dL. Statistical test results showed that there was no p = 0. 567 (>0. Based on the results of the study it can be concluded that there is no significant difference in the results of secondary homogenized tubes 2 times and 8 times. In future studies, the number of samples used should be increased again. Keywords: Hemoglobin. Delay. Secondary Homogenization PENDAHULUAN Laboratorium_-klinik_-merupakan laboratorium yang melakukan pelayanan pemeriksaan spesimen manusia yang digunakan untuk mendapatkan informasi mengenai kondisi kesehatan seseorang. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan nomor 411 tahun 2010 mengenai Laboratorium Klinik menyatakan bahwa laboratorium klinik terbagi menjadi dua jenis, yaitu laboratorium klinik umum dan laboratorium klinik khusus. Laboratorium klinik khusus melakukan pelayanan pada satu bidang khusus saja, sedangkan laboratorium klinik umum melakukan hematologi, kimia klinik, mikrobiologi klinik, parasitologi klinik dan imunologi Pemeriksaan hematologi adalah salah satu pemeriksaan rutin dilakukan di Pemeriksaan hematologi digunakan dalam melakukan skrining atau untuk mendiagnosis suatu penyakit serta memonitoring perjalanan (Yayuningsih, 2018, p. Pemeriksaan kadar hemoglobin merupakan salah satu pemeriksaan hematologi yang dilakukan guna melihat kadar hemoglobin pada tubuh Pada pemeriksaan hemoglobin, apabila kadar hemoglobin dalam darah dibawah nilai normal sesuai umur, jenis kelamin dan faktor fisiologis maka dapat didiagnosis bahwa seseorang menderita anemia (WHO, 2. Penurunan kadar hemoglobin dapat disebabkan oleh adanya defisiensi zat besi. Defisiensi besi merupakan salah satu penyebab seseorang 32 | J L P Anemia defisiensi besi terjadi ketika asupan zat besi kurang, gangguan absorpsi atau kehilangan zat besi berlebih. Apabila seseorang mengalami defisiensi besi yang berlebihan maka akan menyebabkan terganggunya proses pembentukan eritrosit didalam sumsum tulang . sehingga dapat menyebabkan seseorang menderita anemia (Febriani et al. 2021, p. Pada pemeriksaan hematologi, sampel pemeriksaan yang digunakan adalah sampel darah yang dicampur dengan antikoagulan Ethylen Diamine Tetra Acetic Acid (EDTA). Antikoagulan EDTA bekerja dengan mengikat ion kalsium yang kemudian terbentuklah garam kalsium yangptidak larut sehingga ion kalsium yang memiliki peran untuk menonaktifkan faktor pembekuan darah (Nugraha, 2015, p. Terdapat tiga jenis antikoagulan EDTA, yaitu Dinatrium EDTA (Na2EDTA). Dipotassium EDTA (K2EDTA) dan Tripotassium EDTA (K3EDTA). Jenis EDTA direkomendasikan oleh InternasionalCouncil for Standardization in Hematology (ICSH) adalah dipotassium EDTA (K2EDTA) karena memiliki keunggulan yaitu mampu mempertahankan bentuk atau ukuran sel (Zahraini et al, 2021, p. Sedangkan antikoagulan K3EDTA yang memiliki konsistensi cair dapat mengencerkan sampel darah, sehingga mempengaruhi bentuk sel (Cahya, 2021, p. Terdapat tiga tahapan penting dalam melakukan pemeriksaan laboratorium, yaitu tahap pra analitik, tahap analitik dan tahap pasca Tahap pra analitik meliputi persiapan pasien, pemberiaan identitas pasien pada spesimen, pengambilan spesimen sampai pengiriman spesimen. Tahap analitik meliputi didapatkan hasil pemeriksaan dan tahap pasca analitik merupakan tahap pelaporan hasil dan dikeluarkannya hasil pemeriksaan (Khotimah & Sun, 2022, p. Salah satu kegiatan yang dilakukan pada tahap pra analitik adalah pengolahan sampel termasuk juga Sampel dimasukkan kedalam tabung EDTA harus segera dihomogenkan untuk mencegah terjadinya penggumpalan darah, proses ini Homogenisasi dapat dilakukan dengan cara manual yaitu dengan membolakAebalik tabung atau secara otomatis salah satunya menggunakan alat roller mixer. Menurut lembaga resmi Clinical and Laboratory-Standard-Institute (CLSI) dan Permenkes No. 43 tahun 2013 telah Menyatakan ketetapan mengenai berapa kali proses bolakAebalik pada homogenisasi Menurut CLSI, homogenisasi primer dilakukan sebanyak 8Ae10 kali bolakAebalik, sedangkan menurut Permenkes No. menyatakan_bahwa proses homogenisasi primer dilakukan sebanyak 10Ae12 kali bolakAebalik. Pada sampel darah yang sudah ditampung biasanya tidak langsung diperiksa, hal ini dapat terjadi karena pengiriman sampel dari bangsal pasien yang membutuhkan waktu untuk dikirim ke laboratorium atau banyaknya jumlah pasien yang akan penundaan pemeriksaan. Darah dengan antikoagulan yang didiamkan dalam waktu tertentu akan mengalami pengendapan atau terjadinya pemisahan darah menjadi dua lapisan, dimana pada lapisan atas berupa plasma dan pada lapisan bawah merupakan sel darah merah (Kiswari, 2014, p. Terdapat pengendapan darah. Tahap pertama yaitu tahap agregasi, merupakan keadaan dimana ketika sel darah merah berbentuk rouleaux . el darah berdekatan sehingga tampak Kemudian dilanjutkan ke tahap sedimentasi. Tahap sedimentasi merupakan tahap dimana sel Semakin 33 | J L P maka akan semakin cepat juga darah Lalu pada tahap terakhir yaitu tahap pengendapan, sel-sel eritrosit akan mengisi celah kosong pada tumpukan eritrosit kemudian eritrosit akan benar- benar memadat (Kiswari, 2014, p. Darah yang telah mengalami pengendapan harus dihomogenkan lagi sebelum dilakukan homogenisasi sekunder. Namun saat ini belum ada literatur resmi yang menyatakan aturan mengenai berapa kali proses bolakAebalik tabung pada homogenisasi sekunder. Maka, penulis tertarik melakukan penelitian untuk mengetahui perbedaan hasil kadar hemoglobin yang dihomogenisasikan sekunder sebanyak 2 kali dan 8 kali setelah ditunda selama 30 menit. METODE PENELITIAN Rancangan penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah Cross sectional. Penelitian dilakukan pada bulan Mei-Juni 2023 di Laboratorium Kimia Klinik Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Musi Charitas. Subjek penelitian yang digunakan adalah mahasiswa/i DIV Teknologi Laboratorium Medis tingkat 1 dan tingkat 4 sebanyak 32 Metode pengambilan sampel adalah total Penelitian ini dilakukan untuk melihat ada tidaknya perbedaan hasil kadar hemoglobin yang dihomogenisasi sekunder 2 kali dan 8 kali. Darah diambil sebanyak 2 tabung dengan volume masing- masing 2 cc. Tabung kemudian dihomogenisasi primer lalu didiamkan selama 30 menit. Setelah 30 menit, tabung dihomogenisasi sekunder 2 kali dan 8 kali sesuai dengan kode tabung. Selanjutnya dilakukan pembacaan kadar hemoglobin menggunakan alat Sysmex XP-100. Data penelitian yang terkumpul kemudian dilakukan analisis data menggunakan SPSS Analisis data diawali dengan uji normalitas menggunakan uji Shapiro-wilk lalu dilakukan analisis hipotesis menggunakan uji Paired Sample T-Test dengan taraf signifikansi = 0,05. HASIL Hasil Penelitian Tabel 1. Data Hasil Penelitian Mean 1,17 Homogenisasi sekunder 2 kali Homogenisasi 1,13 sekunder 8 kali Analisis Data Hasil menggunakan uji Paired Sample TTest. Dari hasil ini diperoleh p-value sebesar 0,567 dengan taraf signifikan (A) 0,05. Maka dapat diketahui bahwa p>A yang artinya tidak terdapat perbedaan hasil terhadap sampel yang dihomogenisasi sekunder 2 kali dan 8 PEMBAHASAN Pada penelitian melakukan kegiatan verifikasi metode, pemantapan mutu internal yang terdiri dari periode pendahuluan dan periode kontrol pemeriksaan terhadap sampel. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa kondisi alat dan reagen dalam kondisi baik sehingga data hasil penelitian dapat terjamin ketelitian dan ketepatannya. Verifikasi metode dan PMI periode kontrol dilakukan dengan menguji bahan kontrol level low, normal dan high. Verifikasi metode pemeriksaan hemoglobin pada alat sysmex XP-100 dilakukan untuk memastikan bahwa metode pemeriksaan tersebut dapat digunakan dan hasil yang dikeluarkan valid. Verifikasi metode pemeriksaan hemoglobin dapat diterima apabila presisi <1,5%, akurasi A10% dan TEa A7%. Hasil uji presisi untuk bahan kontrol low didapat nilai CV 1,11%, kontrol level normal 0,56% dan kontrol level high 0,40%. Hasil uji akurasi untuk bahan 34 | J L P kontrol level low didapat hasil bias 2,47%, level normal 1,46% dan level high 0,42%. Hasil uji TEa untuk bahan kontrol level low 4,68%, level normal 2,56% dan level high 1,22%. Berdasarkan data ini, dapat dinyatakan bahwa hasil uji presisi, akurasi dan TEa masih dalam batas keberterimaan yang artinya uji verifikasi dapat diterima. Kemudian sebelum dilakukan penelitian, peneliti melakukan PMI periode kontrol pada tanggal 24, 25 dan 26 Meidengan menguji bahan kontrol level low, normal dan high. Pada penelitian ini didapat SDi untuk bahan kontrol low,normal dan high pada tanggal 24, 25 dan 26 Mei secara berurut sebesar 0,6, 1,6 dan 1,6. SDi bahan kontrol normal -1,25, 1,25 dan - 1,25 sedangkan untuk SDi bahan kontrol high sebesar 0,25, 0,25 dan -1. Hasil yang telah diplotkan ke dalam grafik levey-jenning tidak melewati aturan Westgard sehingga hasil kontrol diterima sehingga pemeriksaan hemoglobin terhadap sampel pemeriksaan dapat dilakukan. Penelitian ini dilakukan untuk melihat ada tidaknya perbedaan kadar hemoglobin pada tabung yang dihomogenisasi sekunder 2 kali dan 8 kali setelah didiamkan selama 30 menit pasca homogenisasi primer. Pada penelitian ini, subjek penelitian dilakukan pengambilan darah sebanyak 2 tabung. Kedua tabung diberi perlakuan homogenisasi sekunder 2 kali dan 8 Pada penelitian ini, tabung darah yang telah dihomogenisasi primer, kemudian didiamkan dalam posisi tegak dan timer dinyalakan selama 30 menit. Setelah 30 menit, darah pada tabung akan mengalami pengendapan. Maka dari itu tabung dilakukan homogenisasi sekunder terlebih dahulu sebelum dilakukan pemeriksaan sehingga darah yang ada pada tabung dapat terdistribusi merata. Homogenisasi sekunder perlu dilakukan agar darah yang telah mengalami pemisahan dapat terdistribusi merata. Pada penelitian ini, dilakukan pemeriksaan kadar hemoglobin terhadap sampel darah yang dihomogenisasi sekunder 2 kali dan 8 kali setelah tabung dihomogenisasi primer dan didiamkan selama 30 menit. Data pemeriksaan yang didapat, kemudian dikumpulkan dan dilakukan uji normalitas dan uji hipotesis menggunakan SPSS 21. Uji normalitas dilakukan untuk menguji apakah data hasil penelitian dari subjek penelitian berdistribusi normal atau tidak (Abdullah, 2015, p. Pada penelitian ini, uji normalitas yang digunakan adalah uji Shapiro-Wilk karena jumlah sampel yang digunakan kurang dari 50 orang. Pada uji Shapiro-Wilk, untuk data penelitian yang dihomogenisasi sekunder 2 kali diperoleh nilai sign 0,272 dan untuk data penelitian yang dihomogenisasi sekunder 8 kali diperoleh nilai sign 0,266. Berdasarkan data ini, dapat dinyatakan bahwa data penelitian untuk tabung yang dihomogenisasi sekunder 2 kali dan 8 kali terdistribusi normal . ign > 0,. Berdasarkan uji normalitas, data yang diperoleh terdistribusi normal. Maka uji dilanjutkan ke uji parametrik dengan ukuran pemusatan data yaitu mean dan penyebaran data berupa SD. Hasil pemeriksaan kadar hemoglobin terhadap darah yang dihomogenisasi sekunder 2 kali didapat nilai mean 13,2 g/dL dengan ukuran penyebaran data yaitu nilai SD 1,17 g/dL sedangkan pada darah yang dihomogenisasi sekunder 8 kali diperoleh nilai mean 13,2 g/dL dengan SD 1,13 g/dL. Kemudian dilakukan uji analisis hipotesis menggunakan uji Paired Sample T-Test dengan taraf signifikansi (A) 0,05. Pada penelitian ini didapatkan nilai p 0,567. Dari hasil ini, karena nilai p>A maka hipotesis diterima yang artinya tidak terdapat perbedaan hasil kadar hemoglobin terhadap darah yang dihomogenisasi sekunder 2 kali dan 8 kali. Hasil penelitian ini secara statistik tidak ada beda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Haiti et al . Sebayang et al . dan Melly Fitri . Pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Haiti et al . menyatakan bahwa tidak terdapat 35 | J L P perbedaan hasil jumlah eritrosit terhadap darah yang dihomogenisasi sekunder 5 dan 8 kali. Kemudian pada penelitian yang dilakukan Sebayang et al . perbedaan hasil pemeriksaan kadar dihomogenisasi sekunder 3, 5, 7 dan 8 kali. Akan tetapi, kedua penelitian ini melakukan penundaan pemeriksaan selama 1 jam setelah dihomogenisasi primer. Pada penelitian yang dilakukan oleh Melly Fitri . yaitu melihat ada tidaknya perbedaan hasil kadar hemoglobin terhadap darah yang segera diperiksa dan ditunda selama 2 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan hasil kadar hemoglobin terhadap darah yang segera diperiksa dan ditunda selama 2 jam, walaupun pada penelitian ini tidak disebutkan berapa kali proses bolakbalik tabung yang dilakukan pada homogenisasi sekunder. Pada penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa dengan melakukan homogenisasi sekunder 2 kali setelah darah didiamkan selama 30 menit pasca homogenisasi primer, darah telah terdistribusi merata. Namun pada penelitian ini terdapat kelemahan, yaitu hasil penelitian ini tidak berlaku secara umum. Hal ini dikarenakan penelitian ini hanya menggambarkan sebagian kelompok kecil saja dan hasil tidak menggambarkanseluruh populasi. Tidak terdapat perbedaan bermakna kadar hemoglobin pada darah yang dihomogenisasi sekunder 2 kali dan 8 kali dengan nilai p 0,567 (A>0,. Saran Berdasarkan penelitian ini, peneliti menyarankan untuk penelitian yang akan dilakukan selanjutnya, jumlah sampel yang akan digunakan dapat diperbanyak lagi. Hal ini diharapkan, hasil pada penelitian selanjutnya dapat menggambarkan seluruh DAFTAR PUSTAKA