Tamasya: Jurnal Pariwisata Indonesia Volume 2. Nomor 2. Juni 2025 E-ISSN: 3064-3260. P-ISSN: 3064-3287. Hal. DOI: https://doi. org/10. 62383/tamasya. Available online at: https://ejournal. id/index. php/Tamasya Identifikasi AuShamanAy dalam Wisata Kebugaran Berbasis Kearifan Lokal di Desa Wisata Belumbang. Kecamatan Kerambitan. Kabupaten Tabanan Tivani Salsa Bilillah Nurhara1*. Made Sukana2. I Made Bayu Ariwangsa3 1,2,3 Universitas Udayana,Indonesia Alamat: Program Studi Pariwisata Program Sarjana. Fakultas Pariwisata. Universitas Udayana. Jl. Sri ratu Mahendradatta Bukit Jimbaran. Bali 80361 Indonesia Korespondensi penulis: tivaninurhara@gmail. Abstract. This study identifies the role of shamans in local wisdom-based wellness tourism in Belumbang Tourism Village. Kerambitan Sub-district. Tabanan Regency. Shamans as traditional spiritual figures play an important role in wellness practices that combine physical healing, spiritual rituals and local ecological understanding. Using observation and interview methods, this research was analyzed based on the six dimensions of wellness in the Extended Wellness Model (Mueller & Kaufmann, 2. , and supported by data from the Global Wellness Institute (Yeung & Johnston, 2. and the authors' perceptions of shamans. The results show that shaman practices support all dimensions of wellness, especially the spiritual, physical and environmental aspects. Travelers gain benefits such as traditional massages, herbal concoctions, and inner peace through rituals that touch on emotional and mental aspects. Shamans also play a role in educating tourists about the harmony of humans and nature through the responsible use of resources. Thus, shamans not only function as healers, but also as guardians of local culture and tourist attractions that strengthen village identity and support sustainable health and culture-based tourism. Keywords: Belumbang Tourist Village. Local Wisdom. Shaman. Wellness Tourism Abstrak. Penelitian ini mengidentifikasi peran shaman dalam wisata kebugaran berbasis kearifan lokal di Desa Wisata Belumbang. Kecamatan Kerambitan. Kabupaten Tabanan. Shaman sebagai figur spiritual tradisional berperan penting dalam praktik kebugaran yang menggabungkan penyembuhan fisik, ritual spiritual, dan pemahaman ekologis lokal. Dengan metode observasi dan wawancara, penelitian ini dianalisis berdasarkan enam dimensi wellness dalam Extended Wellness Model (Mueller & Kaufmann, 2. , serta didukung oleh data dari Global Wellness Institute (Yeung & Johnston, 2. dan persepsi penulis terhadap shaman. Hasilnya menunjukkan bahwa praktik shaman mendukung semua dimensi wellness, terutama aspek spiritual, fisik, dan Wisatawan memperoleh manfaat seperti pijat tradisional, ramuan herbal, serta ketenangan batin melalui ritual yang menyentuh aspek emosional dan mental. Shaman juga berperan dalam mengedukasi wisatawan mengenai keharmonisan manusia dan alam melalui pemanfaatan sumber daya secara bertanggung jawab. Dengan demikian, shaman tidak hanya berfungsi sebagai penyembuh, tetapi juga sebagai penjaga budaya lokal dan daya tarik wisata yang memperkuat identitas desa serta mendukung pariwisata berbasis budaya dan kesehatan secara Kata kunci: Desa Wisata Belumbang. Kearifan Lokal. Shaman. Wisata Kebugaran LATAR BELAKANG Wisata kebugaranAiyang meliputi spa, pijat, dan terapi pemulihan jangka pendekAi telah berkembang sejak pemandian air panas Eropa 863 SM hingga berdirinya International Spa Association pada 1991 (Roby Ardiwidjaja, 2018. Utama & MA SE, 2. Tren global ini kian menggiurkan secara ekonomi, tercermin dari lonjakan wisatawan medis di AS, dari 750 ribu orang pada 2007 menjadi hampir enam juta pada 2010 (Kristanto et al. , 2. Indonesia, kekayaan alam dan spiritual membuka peluang serupa. praktik shamanisme BaliAi dengan balian sebagai penyembuh, penasihat, dan penjaga harmoni alamAimenawarkan Received: Mei 17, 2025. Revised: Mei 31, 2025. Accepted: Juni 15, 2025. Published: Juni 17, 2025. Identifikasi AuShamanAy dalam Wisata Kebugaran Berbasis Kearifan Lokal di Desa Wisata Belumbang. Kecamatan Kerambitan. Kabupaten Tabanan pengalaman penyembuhan fisik-spiritual yang berakar pada kearifan lokal (Hidayat, 2. Contohnya. Desa Wisata Belumbang (SK No. 180/607/03/HK/2. memadukan shaman dengan yoga, melukat, dan bersepeda, menarik wisatawan mancanegara yang mendambakan wellness holistik sekaligus memperkuat identitas budaya setempat. KAJIAN TEORITIS Telaah terhadap empat penelitian terdahulu membantu menentukan posisi riset ini agar terhindar dari duplikasi dan memperkuat landasan teoritis. Devi . meneliti Psikoterapi Kawruh Jiwa di Yogyakarta dan menemukan praktik tersebut mencakup enam dari tujuh dimensi wisata kebugaran, meski berbasis budaya Jawa. Maulida dkk. menyoroti tradisi Teddung E Beddhih di Sumenep sebagai potensi wisata kebugaran berbasis kearifan lokal. Sementara itu. Muryani et al. melalui pendekatan fenomenologi interpretatif mengungkap keyakinan masyarakat Bali bahwa gangguan jiwa dapat berasal dari kutukan leluhur, sedangkan Putra et al. menggunakan model etnografi untuk mengkaji praktik Balian Usada sebagai strategi adaptasi budaya dalam pengobatan tradisional. Keempat penelitian ini menegaskan pentingnya nilai spiritual dan tradisi lokal dalam konteks kesehatan, namun penelitian ini menawarkan kontribusi baru dengan fokus pada praktik Shaman atau Balian di Desa Wisata Belumbang. Bali, yang berbasis pada spiritualitas dan budaya lokal Bali sebagai bentuk wisata kebugaran. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di Desa Wisata Belumbang. Tabanan. Bali, dengan tujuan mengidentifikasi peran Shaman sebagai atraksi wisata kebugaran berbasis kearifan lokal, menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui observasi, wawancara, studi pustaka, dan dokumentasi (Moleong, 2010. Sugiyono, 2. Analisis peran Shaman mengacu pada enam dimensi Extended Wellness Model (Mueller & Kaufmann, 2. Global Wellness Tourism Economy (Yeung & Johnston, 2. , serta nilai-nilai lokal seperti solidaritas dan mekanisme pengambilan keputusan (Jim, 2. Data dikumpulkan dari informan seperti Kepala Desa. Ketua Pokdarwis. Shaman. Jero Dasaran, dan akademisi dengan teknik purposive sampling (Sugiyono, 2. Analisis dilakukan secara deskriptif kualitatif berdasarkan pendekatan Bogdan & Taylor dalam Moleong . , dengan penekanan pada makna dan konteks untuk menjawab tujuan penelitian. TAMASYA - VOLUME 2. NOMOR 2 JUNI 2025 E-ISSN: 3064-3260. P-ISSN: 3064-3287. Hal. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Profil Desa Wisata Belumbang Pada tahun 1486 M, kekacauan di Kerajaan Gelgel mendorong dua belas orang mengungsi untuk mencari tempat aman dan lahan subur. Setelah beristirahat di Pantai Seseh, mereka mendapat petunjuk dalam mimpi untuk mengikuti aliran sungai besar ke utara, yang membawa mereka ke pertemuan tiga sungaiAiHo. Lamuk, dan NyampuanAi di wilayah subur dan datar. Mereka menetap di sana dan menamai tempat itu AuBelumbang,Ay dari kata AuMelumbangAy yang berarti makmur. Para perintis membuka hutan menjadi permukiman, sawah, dan merintis sistem Subak, yang menjadi dasar Desa Belumbang. Hingga kini, keturunan mereka dipercaya mengelola Pura Bedugul, simbol spiritual Subak. Desa ini kemudian berkembang menjadi delapan banjar: Langan. Belumbang Kaja. Belumbang Tengah. Belumbang Kelod. Yehmalet Kaja. Yehmalet Kelod. Belong, dan Tibupoh. Geografis Desa Belumbang seluas 290 hektare terletak di ketinggian 200 mdpl dan terdiri dari delapan banjar, dengan jumlah penduduk 2. 141 jiwa dan mayoritas bekerja sebagai Berjarak sekitar 4 km dari Kecamatan Kerambitan dan 20 km dari Kota Tabanan, desa ini belum memiliki angkutan umum ke pusat kota. Fasilitas yang tersedia meliputi jalan beraspal, sekolah, puskesmas, balai desa, bidan, poskamling, dan lahan fasilitas umum seperti lapangan dan makam. Shaman dalam Wisata Kebugaran berbasis Kearifan Lokal di Desa Wisata Belumbang Wellness tourism di Bali terus berkembang dengan menekankan gaya hidup sehat, pengelolaan stres, dan peningkatan kualitas hidup. Menurut Global Wellness Institute, wellness mencakup enam dimensi: fisik, mental, emosional, spiritual, sosial, dan lingkungan. Di Desa Belumbang, wisatawan tergolong wisatawan kesehatan primer yang mencari penyembuhan melalui pengalaman kebugaran dan spiritual lokal. Dimensi spiritual menjadi inti praktik shaman seperti Jero Rika, yang melakukan penyembuhan melalui ritual dan energi spiritual berbasis Tri Hita Karana. Aspek spiritual paling menonjol, sementara dimensi lainnya bersifat Fisik Dimensi fisik dalam praktik shaman menekankan keselarasan tubuh, pikiran, dan roh melalui ramuan herbal, pijat, dan ritual pembersihan dengan air suci, seperti dalam tradisi Identifikasi AuShamanAy dalam Wisata Kebugaran Berbasis Kearifan Lokal di Desa Wisata Belumbang. Kecamatan Kerambitan. Kabupaten Tabanan Curandero di Amazon dan Ayurveda di Bali. Di Desa Wisata Belumbang. Pak Salin memanfaatkan Minyak Suci dari kuburan desa untuk mengobati patah tulang, dipadukan dengan pijat ringan serta ramuan tradisional seperti jamu dan lulur. menurut Dyana . Aiseorang narasumberAiminyak ini berperan utama dalam memperlancar aliran energi dan memulihkan kondisi fisik tanpa melibatkan unsur nyanyian atau tarian. Shaman lain seperti I Wayan Sujaya menggunakan teknik pembacaan aliran energi tubuh tanpa sentuhan langsung untuk mendeteksi gangguan fisik dan mental (Sujaya, 2. , dan metode ini terbukti efektifAiwisatawan melaporkan tubuh terasa lebih ringan, migrain mereda, dan pencernaan membaik (Dewi, 2. Mental Dimensi mental dalam praktik shamanisme di Desa Wisata Belumbang mencakup teknik meditasi, visualisasi, dan afirmasi positif yang membantu wisatawan mengelola stres, kecemasan, dan kejernihan berpikir (Sujaya, 2023. Darmi, 2. Shaman seperti Jero Rika menggunakan komunikasi spiritual dan pembacaan simbolis untuk menstabilkan kondisi emosional dan mental, memungkinkan wisatawan mencapai ketenangan batin, menerima kenyataan hidup, dan memahami diri secara lebih dalam. Praktik ini sejalan dengan healing mental dalam wellness tourism yang menekankan kesadaran diri dan penerimaan sebagai bagian dari penyembuhan holistik tubuh, pikiran, dan roh. Emosional Dimensi emosional dalam praktik shamanisme di Desa Wisata Belumbang mencakup penyembuhan trauma, pengelolaan emosi, dan pencarian makna hidup melalui empati dan intuisi shaman. Praktik ini membantu melepaskan emosi terpendam dan menyeimbangkan energi emosional, seperti dialami wisatawan yang merasa lebih tenang dan berdamai dengan diri sendiri. Jero Rika, seorang Balian Katakson, memberi wawasan emosional lewat pembacaan kehidupan dan menangani kerauhan serta melukat. Seperti halnya I Pekak LiyerAishaman Bali yang dikenal lewat film Eat. Pray. LoveAipraktik mereka menekankan pada keseimbangan emosional sebagai bagian penting dari kebugaran holistik. Spiritual Dimensi spiritual dalam praktik shaman atau balian di Bali mencerminkan keterhubungan antara manusia, alam, dan dunia gaib. Shaman berperan sebagai penyembuh sekaligus perantara dengan roh leluhur dan dewa melalui doa, ritual, dan komunikasi spiritual (Narottama, 2. Seperti yang dilakukan Pak Sujaya, penyembuhan tidak hanya menyasar fisik tetapi juga menetralkan energi negatif TAMASYA - VOLUME 2. NOMOR 2 JUNI 2025 E-ISSN: 3064-3260. P-ISSN: 3064-3287. Hal. penyebab kecemasan dan gangguan mental. Peran ini menunjukkan bahwa penyembuhan di Bali bergantung pada tradisi, energi alam, dan kepercayaan lokal yang kuat. Sosial Di Desa Wisata Belumbang, dimensi sosial dalam praktik shaman memainkan peran penting dalam memperkuat jaringan, keharmonisan, dan kesejahteraan komunitas. Shaman tidak hanya bertindak sebagai penyembuh fisik dan spiritual, tetapi juga sebagai pengikat sosial yang memediasi masalah keluarga, batin, hingga ekonomi serta menghidupkan nilai budaya lokal (Dyana, 2. Peran ini sejalan dengan praktik serupa di budaya lain, seperti tohunga di masyarakat Maori yang memimpin upacara pswhiri dan Curandero di Amerika Latin yang menyelesaikan konflik melalui penyembuhan kolektif (Hobart, 2. , menunjukkan bahwa peran shaman melampaui aspek medis menuju pemeliharaan identitas dan harmoni sosial. Lingkungan Dimensi lingkungan dalam praktik shaman di Desa Wisata Belumbang mencerminkan hubungan erat antara manusia dan alam, di mana kesehatan dipahami sebagai hasil dari keseimbangan ekologis. Shaman menggunakan pengetahuan leluhur untuk menuntun masyarakat menjaga kelestarian alam, karena gangguan terhadap alamAiseperti pembangunan yang melanggar batas sakralAidianggap sebagai pemicu penyakit. Melalui ritual dan penyembuhan, mereka menekankan pentingnya menghormati alam sebagai bagian dari tubuh semesta yang lebih besar (Sujaya, 2024. Narottama, 2. , menjadikan lingkungan sebagai inti dari filosofi penyembuhan, bukan sekadar latar praktik Peran AuShamanAy dalam Memperkuat Kearifan Lokal dalam Wisata Kebugaran di Desa Wisata Belumbang Nilai Lokal Nilai lokal menjadi fondasi praktik shaman di Desa Wisata Belumbang, tercermin dalam ajaran keharmonisan, keikhlasan, dan penghormatan terhadap alam yang sejalan dengan konsep Tri Hita Karana. Alam dipandang sebagai sumber energi penyembuhan, sehingga praktik shaman bertujuan mengembalikan keseimbangan antara manusia dan lingkungan. Nilai keikhlasan juga tampak dalam pelayanan tanpa memandang status sosial atau kemampuan ekonomi, di mana shaman tidak menetapkan tarif tetap dan melayani siapa saja yang membutuhkan. Identifikasi AuShamanAy dalam Wisata Kebugaran Berbasis Kearifan Lokal di Desa Wisata Belumbang. Kecamatan Kerambitan. Kabupaten Tabanan Kearifan Lokal Shaman di Desa Wisata Belumbang berperan penting dalam memperkuat kearifan lokal melalui praktik penyembuhan tradisional seperti pijat atau totok, yang meskipun tidak selalu menyembuhkan sepenuhnya, membantu proses pemulihan fisik dan spiritual. Kehadiran mereka dalam wisata kebugaran memberikan pengalaman budaya otentik bagi wisatawan sekaligus melestarikan warisan lokal. Sejalan dengan kepercayaan Hindu Bali (Utama et al. , 2. , shaman dianggap sebagai perantara antara manusia dan dunia spiritual, menjalankan praktik penyembuhan yang mencakup dimensi fisik, emosional, dan spiritual untuk menjaga harmoni dengan alam. Pengetahuan Lokal Pengetahuan lokal dalam praktik shaman di Desa Wisata Belumbang didasarkan pada warisan budaya dan pengalaman turun-temurun, bukan pada klaim supranatural. Shaman seperti Pak Salin menekankan penggunaan ramuan tradisional, seperti lulur dari daun nyamplung, jahe, lengkuas, dan beras merah, yang diwariskan secara logis tanpa unsur ritual keagamaan, demi melestarikan kearifan lokal dan menghadirkan pengalaman budaya otentik. Putra dan Suwena . juga mencatat bahwa balian usada menggunakan minyak herbal untuk penyembuhan fisik dan energi tubuh, sementara Cecep Eka Pemana . menyoroti bahwa praktik ini mencerminkan integrasi pengetahuan leluhur dan keberlanjutan melalui pemanfaatan bahan lokal secara bijak demi menjaga harmoni dengan alam. Sumber Daya Lokal Sumber daya lokal berperan penting dalam praktik shamanisme di Desa Wisata Belumbang sebagai bagian dari kearifan lokal yang mendukung keberlanjutan budaya dan ekologi. Shaman menggunakan bahan alami seperti daun sirih, jahe, bunga kamboja, dan air kelapa dengan cara yang menjaga energi positif. Praktik ini mencerminkan kesederhanaan, kemandirian, dan penghormatan spiritual terhadap alam. Lokasi seperti pekarangan, bale adat, atau mata air suci memperkuat suasana penyembuhan, menjadikannya bagian dari ekowisata budaya yang otentik serta mendorong pelestarian tanaman obat dan keterlibatan masyarakat. Mekanisme Pengambilan Keputusan Lokal Mekanisme pengambilan keputusan dalam praktik shaman di Desa Wisata Belumbang didasarkan pada nilai kolektif, adat, dan spiritualitas. Shaman tidak menetapkan tarif tetap, melainkan menerima imbalan secara sukarela sebagai wujud nilai AungayahAy atau melayani tanpa pamrih. Keputusan ritual diambil melalui intuisi dan pertimbangan TAMASYA - VOLUME 2. NOMOR 2 JUNI 2025 E-ISSN: 3064-3260. P-ISSN: 3064-3287. Hal. spiritual, bukan prosedur baku, dan shaman juga dipercaya sebagai mediator sosial karena mata batinnya. Dalam konteks wisata kebugaran, mekanisme ini menciptakan pengalaman otentik dan personal bagi wisatawan serta menjadi simbol perlawanan terhadap komersialisasi yang transaksional. Solidaritas Lokal Solidaritas kelompok lokal dalam praktik shaman di Desa Wisata Belumbang tercermin dari hubungan erat antara warga, shaman, dan pasien, termasuk wisatawan. Shaman berperan sebagai simpul sosial, menjadikan penyembuhan tradisional ruang interaksi penuh gotong royong dan keterbukaan. Warga terlibat aktif, mulai dari menyiapkan ramuan hingga mendampingi wisatawan, menciptakan suasana kekeluargaan yang menyambut siapa pun. Selain sebagai penyembuh, shaman juga berperan sebagai mediator sosial, memperkuat identitas kolektif dan menunjukkan bahwa solidaritas ini masih relevan. Bagi wisatawan, pengalaman ini terasa otentik karena melibatkan ikatan emosional dan nilai kebersamaan khas masyarakat adat. KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian deskriptif kualitatif ini mengkaji peran Shaman di Desa Wisata Belumbang dalam wisata kebugaran berbasis kearifan lokal, dengan temuan bahwa praktik mereka mencakup seluruh dimensi wellness, khususnya aspek spiritual, fisik, dan lingkungan. Praktik transendental, pijat tradisional, ramuan herbal, serta penggunaan bahan alami mencerminkan pendekatan holistik yang memperkuat identitas budaya Bali dan menciptakan pengalaman wisata otentik. Shaman juga berperan dalam pelestarian budaya dan membangun relasi sosial dengan wisatawan. Pengelola desa disarankan mengembangkan wisata kebugaran secara terencana dengan melibatkan Shaman dalam paket wisata digital, menjaga keberlanjutan melalui pelestarian nilai lokal dan regenerasi, serta meningkatkan fasilitas. Kajian ini diharapkan menjadi referensi awal bagi penelitian selanjutnya untuk memperluas pemahaman dan mengukur efektivitas implementasinya. DAFTAR REFERENSI Ardiwidjaja. Mengembangkan daya tarik pelestarian warisan budaya. Yogyakarta: Deepublish. Devi. Identifikasi potensi psikoterapi Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram sebagai wisata kebugaran berbasis kearifan lokal (Disertasi Doktoral. Universitas Gadjah Mad. Fahmal. Peran asas-asas umum pemerintahan yang layak dalam mewujudkan pemerintahan yang bersih. Yogyakarta: UII Press. Identifikasi AuShamanAy dalam Wisata Kebugaran Berbasis Kearifan Lokal di Desa Wisata Belumbang. Kecamatan Kerambitan. Kabupaten Tabanan Global Wellness Institute. Wellness tourism. https://globalwellnessinstitute. org/whatis-wellness/what-is-wellness-tourism/ Global Wellness Institute. Wellness https://globalwellnessinstitute. org/what-is-wellness/wellness-economy-definitions/ Heintzman. The role of nature in wellness tourism. Journal of Hospitality & Tourism Research. Hidayat. Khazanah terapi komplementer-alternatif: Telusur intervensi pengobatan pelengkap non-medis. Nuansa Cendekia. Hobart. Healing performances of Bali: Between darkness and light. New York: Berghahn Books. Ife. Community development: Creating community alternative vision, analysis and Australia: Longman. Kristanto. , & Putri. Pengembangan masyarakat berbasis aset sebagai upaya pemberdayaan masyarakat melalui sektor wisata kebugaran di Indonesia. Journal of Social Development Studies, 2. , 43Ae54. Maulida. Sholikhah. Damayanti. , & Putri. Tedung E Beddhih: The tradition of sleeping on the sand as a potential health-tourism based on Sumenep local ASEAN/Asian Academic Society International Conference Proceeding Series, 289Ae296. Moleong. Metodologi penelitian kualitatif (Edisi ke-. Bandung: Remaja Rosdakarya. Muderawan. Budiawan. Giri. , & Atmaja. Usada: The ethnomedicine of Balinese society. International Journal of Ayurvedic and Herbal Medicine, 10. , 3893Ae3905. Muryani. Winarni. , & Setyoadi. Balinese traditional treatment (Balia. in patients with mental disorders. Belitung Nursing Journal, 4. , 397Ae402. Pendit. Ilmu pariwisata: Sebuah pengantar perdana. Jakarta: PT Pradnya Paramita. Putra. , & Suwena. Eksistensi Balian Usada dalam pengobatan pada masyarakat Desa Tiga. Kecamatan Susut. Bangli. Humanis, 20. , 1Ae9. Smith. , & Puczky. Health and wellness tourism. Oxford: ButterworthHeinemann. Sugiyono. Metodologi penelitian kuantitatif, kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. Utama. , & M. Pengantar industri pariwisata. Yogyakarta: Deepublish. Winkelman. Shamanism: A biopsychosocial paradigm of consciousness and Santa Barbara. CA: ABC-CLIO. Yeung. , & Johnston. Global wellness tourism economy. Global Wellness Institute. https://globalwellnessinstitute. org/industry-research/global-wellnesstourism-economy TAMASYA - VOLUME 2. NOMOR 2 JUNI 2025