ARTIKEL PENDIDIKAN ISLAM MODERAT DALAM TRADISI PAGAR NUSA: TELAAH TEORETIS DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN PESANTREN Nailul Muhamad Ghufron1. Muizzuddin2 Universitas Kiai Abdullah Faqih. Gresik. Indonesia Email: nailulmuhammadghufron@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan merumuskan konstruksi teoretis pendidikan Islam moderat dalam tradisi Pagar Nusa dalam perspektif pendidikan pesantren. Studi ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya tantangan radikalisme dan ekstremisme keagamaan yang menuntut penguatan paradigma moderasi dalam sistem pendidikan Islam. Menggunakan pendekatan kajian pustaka, data diperoleh dari buku, jurnal ilmiah bereputasi, serta dokumen resmi yang relevan. Analisis dilakukan melalui content analysis dan deskriptif-analitis dengan sintesis konseptual sebagai kerangka pendekatan. Hasil kajian menunjukkan bahwa tradisi Pagar Nusa bukan sekadar praktik bela diri, melainkan bagian dari sistem pendidikan kultural pesantren yang mengintegrasikan disiplin fisik, spiritualitas, dan nilai kebangsaan. Struktur latihan, adab, serta pembinaan spiritual dalam tradisi ini memuat nilai tawazun . , tasamuh . , iAotidal . , dan komitmen kebangsaan sebagai pilar Islam wasathiyah. Nilainilai tersebut dibentuk melalui praktik kolektif yang terstruktur sehingga menghasilkan pembentukan karakter religius yang moderat. Penelitian ini menawarkan konstruksi bahwa tradisi kultural pesantren dapat menjadi medium efektif pendidikan Islam moderat melalui integrasi disiplin, spiritualitas, dan pembentukan karakter. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya penguatan tradisi kultural sebagai strategi pendidikan dalam merawat moderasi beragama di lingkungan pesantren dan pendidikan Islam secara lebih luas. Kata Kunci: Pendidikan Islam Moderat. Pagar Nusa. Pesantren. Tradisi Kultural. Islam Wasathiyah. Abstract This study aims to formulate a theoretical construction of moderate Islamic education within the Pagar Nusa tradition from the perspective of pesantren-based education. The research is motivated by the increasing challenges of religious radicalism and extremism, which call for strengthening the paradigm of moderation within Islamic educational systems. Employing a library research approach, data were derived from scholarly books, reputable academic journals, and official documents. The analysis was conducted through content analysis and descriptive-analytical methods using a conceptual synthesis framework. The findings indicate that the Pagar Nusa tradition is not merely a martial arts practice but constitutes a cultural educational system within pesantren that integrates physical discipline, spirituality, and national commitment. The structured training system, ethical discipline, and spiritual guidance embedded in this tradition embody the values of tawazun . , tasamuh . , iAotidal . , and religious nationalism as pillars of Islamic wasathiyah. These values are cultivated through structured collective practices that contribute to the formation of moderate religious character. This study proposes that pesantren cultural traditions function as effective mediums for moderate Islamic education through the integration of discipline, spirituality, and character formation. The findings imply the strategic importance AKSELERASI: Jurnal Ilmiah Nasional Vol. 8 No. 1 Tahun 2026 ARTIKEL of strengthening cultural traditions as an educational approach to sustaining religious moderation within pesantren and broader Islamic educational contexts. Keywords: Moderate Islamic Education. Pagar Nusa. Pesantren. Cultural Tradition. Islamic Wasathiyah. PENDAHULUAN Moderasi beragama menjadi salah satu isu sentral dalam diskursus keislaman kontemporer di Indonesia. Dalam konteks masyarakat yang plural dan demokratis, keberagamaan tidak cukup hanya menekankan aspek normatif-doktrinal, tetapi juga perlu diwujudkan dalam sikap yang proporsional, toleran, dan berorientasi pada kemaslahatan sosial. Tantangan radikalisme dan ekstremisme keagamaan menunjukkan bahwa pemahaman agama yang eksklusif dan tekstualis dapat berimplikasi pada sikap keberagamaan yang kaku serta rentan terhadap konflik sosial (Alfaridzih, 2. Dalam analisis Azyumardi Azra, moderasi Islam di Indonesia tumbuh dari tradisi keilmuan dan budaya lokal yang mengedepankan keseimbangan antara komitmen teologis dan realitas kebangsaan (Azra, 2. Moderasi bukanlah bentuk kompromi terhadap ajaran agama, melainkan ekspresi autentik dari ajaran Islam yang menghindari sikap berlebihan . maupun sikap meremehkan ajaran agama. Konsep keseimbangan tersebut juga ditegaskan oleh Yusuf al-Qaradawi melalui gagasan wasathiyah sebagai karakter dasar ajaran Islam. Menurutnya. Islam mengajarkan jalan tengah dalam aspek akidah, ibadah, muamalah, hingga kehidupan sosial-politik (Supriyadi, 2. Dalam perspektif ini, pendidikan Islam memiliki tanggung jawab strategis untuk membentuk cara pandang keagamaan yang tidak ekstrem, sekaligus tetap berakar pada nilai-nilai normatif. Pendidikan bukan hanya transmisi pengetahuan, melainkan proses pembentukan orientasi berpikir dan bersikap. Hasan Langgulung menegaskan bahwa pendidikan Islam bertujuan membentuk manusia yang seimbang antara dimensi ruhani, intelektual, dan sosialnya. Keseimbangan inilah yang menjadi fondasi pendidikan Islam moderat (Samsuddin et al. , 2. Dalam konteks Indonesia, pesantren merupakan institusi yang secara historis memainkan peran penting dalam membentuk corak Islam yang ramah dan adaptif terhadap budaya lokal. Sebagaimana dicatat oleh Zamakhsyari Dhofier, pesantren bukan sekadar lembaga transmisi kitab kuning, melainkan sistem pendidikan yang membangun karakter, etika sosial, serta tradisi intelektual santri (Ardiansyah & Billah, 2. Keberlanjutan pesantren selama berabad-abad menunjukkan kemampuannya dalam merawat tradisi keilmuan sekaligus beradaptasi dengan perubahan sosial. Tradisi dalam pesantren memiliki makna pedagogis yang Ia tidak hanya berupa praktik yang diwariskan, tetapi menjadi medium pembentukan nilai melalui pembiasaan, keteladanan, dan pengalaman hidup kolektif. Dalam teori pendidikan, dimensi ini dikenal sebagai hidden curriculum, yakni kurikulum tak tertulis yang membentuk karakter melalui kultur dan interaksi sehari-hari (Imawan, 2. pesantren, pola hubungan kiai dan santri, kedisiplinan ibadah berjamaah, musyawarah, serta penghormatan terhadap perbedaan pandangan fiqh merupakan praktik keseharian yang secara substantif mencerminkan pendidikan Islam yang moderat. Dalam lanskap tradisi pesantren Nahdlatul Ulama, keberadaan Pagar Nusa menempati posisi yang khas. Sebagai badan otonom di bawah Nahdlatul Ulama. Pagar Nusa bergerak di bidang seni bela diri pencak silat, namun keberadaannya tidak dapat direduksi pada aspek fisik semata. Ia lahir dari rahim pesantren dan berkembang dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah yang menekankan keseimbangan antara spiritualitas, moralitas, dan komitmen kebangsaan (Riyaddussolihin, 2. Bela diri dalam tradisi Nahdlatul Ulama memiliki dimensi historis dan ideologis yang kuat. Spirit hubbul wathan minal iman menjadi prinsip yang menautkan antara kesalehan individual dan tanggung jawab sosial kebangsaan. Dalam perspektif Azyumardi Azra, relasi harmonis antara Islam dan AKSELERASI: Jurnal Ilmiah Nasional Vol. 8 No. 1 Tahun 2026 ARTIKEL negara di Indonesia merupakan hasil dari proses historis panjang yang melibatkan ulama pesantren dalam merawat konsensus kebangsaan (Anam, 2. Oleh karena itu, pendidikan dalam lingkungan tradisi NU selalu memadukan kesadaran keagamaan dengan komitmen Dalam praktiknya, tradisi Pagar Nusa memadukan latihan fisik dengan pembinaan spiritual dan etika. Latihan pencak silat disertai dengan doa, adab kepada pelatih dan guru, serta penanaman disiplin kolektif. Dimensi ini menunjukkan bahwa pendidikan dalam tradisi Pagar Nusa tidak hanya bertujuan membentuk ketangkasan jasmani, tetapi juga membangun karakter religius, solidaritas sosial, serta tanggung jawab moral (Siti, 2. Meskipun demikian, kajian akademik mengenai Pagar Nusa masih lebih banyak menyoroti aspek seni bela diri atau pendidikan karakter secara umum. Penelitian yang menempatkan tradisi Pagar Nusa sebagai bagian dari kerangka pendidikan Islam moderat dalam perspektif pesantren relatif masih terbatas. Padahal, tradisi ini menyimpan dimensi konseptual yang penting untuk menjelaskan bagaimana nilai keseimbangan, toleransi, kedisiplinan, dan cinta tanah air dibentuk melalui praktik budaya keagamaan yang hidup (Djunaidi, 2. Telaah teoretis terhadap Pendidikan Islam Moderat dalam Tradisi Pagar Nusa menjadi relevan untuk memperkaya khazanah studi pendidikan pesantren. Pendekatan ini memungkinkan pembacaan yang lebih komprehensif terhadap pesantren sebagai sistem pendidikan nilai yang tidak hanya berbasis kurikulum formal, tetapi juga berakar pada tradisi dan kultur organisasi. Dalam konteks tantangan radikalisme kontemporer, model pendidikan yang lahir dari tradisi lokal pesantren seperti Pagar Nusa menawarkan alternatif konstruktif dalam merawat keberagamaan yang seimbang, inklusif, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama. Dengan demikian. Pagar Nusa dapat dipahami sebagai ruang pedagogis yang merepresentasikan sintesis antara pendidikan jasmani, spiritualitas pesantren, dan nilai kebangsaan. TINJAUAN PUSTAKA Pendidikan Islam Moderat Pendidikan Islam Moderat dalam konteks Indonesia tidak dapat dilepaskan dari paradigma Islam wasathiyah yang berkembang dalam sejarah intelektual dan sosial keislaman Nusantara. Perspektif ini banyak dielaborasi oleh Azyumardi Azra yang menegaskan bahwa corak Islam Indonesia terbentuk melalui proses dialogis antara teks keagamaan dan realitas sosial-budaya yang majemuk (Azra, 2. Moderasi bukanlah bentuk kompromi terhadap ajaran Islam, melainkan ekspresi autentik dari prinsip keseimbangan yang menjadi karakter inheren ajaran tersebut. Dalam kerangka wasathiyah (News, 2. , prinsip tawazun . menjadi fondasi utama. Tawazun mengandung makna harmonisasi antara dimensi spiritual dan sosial, antara komitmen teologis dan keterbukaan terhadap perubahan. Dalam pendidikan, prinsip ini mendorong pembentukan peserta didik yang tidak terjebak pada formalisme ritual semata, tetapi juga memiliki sensitivitas sosial dan tanggung jawab kemanusiaan (Tian, 2. Prinsip kedua adalah tasamuh . , yakni sikap terbuka terhadap perbedaan, baik dalam ranah mazhab, budaya, maupun pandangan keagamaan. Tasamuh dalam konteks pendidikan diwujudkan melalui pengakuan atas pluralitas dan pengembangan sikap dialogis. Pendidikan tidak membentuk eksklusivisme, melainkan mengembangkan kesadaran bahwa perbedaan merupakan keniscayaan sosial (Tian, 2. Dalam analisis Azra, tradisi Islam Indonesia sejak awal berkembang secara inklusif dan akomodatif terhadap budaya lokal, sehingga toleransi menjadi bagian integral dari praktik keberagamaan (Anam, 2. Prinsip ketiga adalah iAotidal . eadilan dan proporsionalita. IAotidal meniscayakan sikap lurus, tidak berlebihan, serta menempatkan sesuatu secara tepat dan adil. Dalam pendidikan, nilai ini mendorong peserta didik untuk bersikap objektif, rasional, dan tidak ekstrem dalam memahami teks keagamaan (Tian, 2. Keempat, komitmen kebangsaan menjadi dimensi penting dalam moderasi Islam AKSELERASI: Jurnal Ilmiah Nasional Vol. 8 No. 1 Tahun 2026 ARTIKEL di Indonesia. Azra menegaskan bahwa hubungan harmonis antara Islam dan negara merupakan hasil konstruksi historis para ulama yang menerima konsensus kebangsaan sebagai bagian dari tanggung jawab keagamaan (Suhail et al. , 2. Pendidikan Islam Moderat mengintegrasikan nilai keislaman dengan kesadaran kewarganegaraan, termasuk penghormatan terhadap Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam perspektif ini, moderasi bukan hanya sikap teologis, tetapi paradigma pendidikan yang membentuk warga negara religius sekaligus nasionalis. Dengan demikian. Pendidikan Islam Moderat dapat dipahami sebagai paradigma pendidikan yang menekankan keseimbangan, toleransi, keadilan, dan komitmen kebangsaan sebagai satu kesatuan nilai yang membentuk orientasi berpikir dan bertindak peserta didik. Pendidikan Pesantren sebagai Sistem Nilai Pesantren merupakan institusi pendidikan Islam yang memiliki sistem nilai khas dan relatif otonom. Menurut Zamakhsyari Dhofier, pesantren dibangun atas elemen-elemen struktural seperti kiai, santri, masjid, asrama, dan pengajaran kitab klasik yang membentuk ekosistem pendidikan tersendiri (Dhofier, 2. Dalam ekosistem ini, nilai tidak hanya diajarkan, tetapi dihidupi dalam keseharian. Kyai menempati posisi sentral sebagai figur otoritatif sekaligus teladan moral. Ia bukan sekadar pengajar, tetapi pembimbing spiritual dan penjaga tradisi (Dhofier, 2. Relasi kiai santri bersifat personal dan transformatif, karena dibangun atas dasar penghormatan, kepercayaan, dan kedekatan emosional. Melalui relasi tersebut, nilai-nilai seperti tawadhuAo, disiplin, tanggung jawab, dan kesederhanaan ditanamkan secara efektif. Selain itu, pesantren bekerja melalui mekanisme hidden curriculum. Konsep ini menjelaskan bahwa pendidikan nilai seringkali berlangsung melalui kultur, interaksi sosial, dan pembiasaan yang tidak tertulis dalam kurikulum formal (IMAWAN, 2. Dalam kehidupan pesantren, kedisiplinan waktu, kebersamaan dalam ibadah, musyawarah, serta kepatuhan terhadap tata tertib menjadi sarana pembentukan karakter. Nilai-nilai moderasi, seperti penghormatan terhadap perbedaan pandangan fikih atau sikap santun dalam berdebat, tumbuh melalui praktik keseharian tersebut. Integrasi spiritual, moral, dan sosial menjadi ciri utama pendidikan pesantren. Spiritualitas diwujudkan dalam kedalaman ibadah dan dzikir. moralitas tercermin dalam akhlak dan adab. sementara dimensi sosial tampak dalam solidaritas kolektif serta kepedulian terhadap masyarakat (Dhofier, 2. Kesatuan ketiga dimensi ini menjadikan pesantren sebagai sistem nilai yang komprehensif, bukan sekadar lembaga transmisi ilmu agama. Tradisi sebagai Praktik Pendidikan Kultural Dalam perspektif pendidikan, tradisi tidak dapat direduksi sebagai praktik budaya yang bersifat simbolik semata. Tradisi adalah sistem makna yang diwariskan dan dipraktikkan secara kolektif, yang mengandung nilai-nilai normatif dan pedagogis. Ia menjadi ruang di mana nilai ditransmisikan, diinterpretasikan, dan diperkuat melalui pengalaman sosial bersama (Bahdar, 2. Tradisi berfungsi sebagai medium pembentukan karakter karena bekerja melalui pembiasaan dan partisipasi aktif. Individu yang terlibat dalam suatu tradisi tidak hanya mempelajari aturan formal, tetapi juga menyerap etos, simbol, dan orientasi nilai yang terkandung di dalamnya. Dalam konteks pendidikan pesantren, berbagai aktivitas kolektif baik ritual keagamaan, musyawarah, maupun kegiatan organisasi memiliki dimensi pembelajaran yang membentuk sikap disiplin, solidaritas, dan tanggung jawab (Umam, 2. Dimensi pedagogis dalam aktivitas kolektif tampak pada proses interaksi, peneladanan, dan pengalaman bersama yang membentuk kesadaran sosial (Widagdo, 2. Pendidikan berlangsung melalui praktik, bukan sekadar ceramah normatif. Oleh karena itu, tradisi dapat dipahami sebagai praktik pendidikan kultural yang menyatukan nilai agama, budaya lokal, dan AKSELERASI: Jurnal Ilmiah Nasional Vol. 8 No. 1 Tahun 2026 ARTIKEL pengalaman sosial dalam satu kerangka pembentukan karakter. Dalam kerangka teoretis ini. Pendidikan Islam Moderat memperoleh landasan konseptualnya pada paradigma wasathiyah, sistem nilai pesantren, serta peran tradisi sebagai medium pendidikan kultural. Ketiganya membentuk sintesis yang menjelaskan bagaimana nilai keseimbangan, toleransi, keadilan, dan komitmen kebangsaan dapat tumbuh dalam konteks pendidikan berbasis tradisi. METODE Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kepustakaan, yaitu penelitian yang bertumpu pada penelusuran dan pengkajian sumber-sumber tertulis sebagai basis analisis. Model ini relevan untuk mengkaji konsep Pendidikan Islam Moderat dalam Tradisi Pagar Nusa secara teoretis, dengan menempatkan literatur sebagai objek utama kajian. Penelitian kepustakaan memungkinkan peneliti melakukan eksplorasi mendalam terhadap konstruksi pemikiran, paradigma, serta argumentasi akademik yang telah berkembang sebelumnya. Sumber data penelitian meliputi buku buku ilmiah, artikel jurnal bereputasi nasional dan internasional, hasil penelitian terdahulu, serta dokumen resmi yang relevan dengan pendidikan pesantren, moderasi beragama, dan tradisi Pagar Nusa dalam lingkungan Nahdlatul Ulama. Sumber-sumber tersebut dipilih secara selektif berdasarkan kredibilitas akademik, relevansi tematik, dan kontribusinya terhadap penguatan kerangka konseptual penelitian. Teknik analisis data dilakukan melalui content analysis untuk mengidentifikasi tema, konsep, dan pola argumentasi dalam literatur yang dikaji, serta analisis deskriptif-analitis guna memaparkan dan menafsirkan gagasan secara sistematis. Melalui kombinasi kedua teknik ini, data tidak hanya dideskripsikan, tetapi juga dianalisis secara kritis untuk menemukan keterkaitan konseptual antargagasan. Pendekatan yang digunakan adalah sintesis konseptual, yakni upaya mengintegrasikan berbagai perspektif teoretis tentang pendidikan Islam moderat, tradisi pesantren, dan praktik budaya keagamaan ke dalam satu kerangka pemikiran yang utuh. Pendekatan ini bertujuan menghasilkan formulasi teoretis yang koheren serta memberikan kontribusi konseptual bagi pengembangan studi pendidikan pesantren kontemporer. HASIL DAN PEMBAHASAN Tradisi Pagar Nusa dalam Kerangka Pendidikan Pesantren Dalam perspektif pendidikan pesantren, tradisi bukan sekadar aktivitas tambahan, melainkan bagian inheren dari sistem pembentukan nilai. Dalam konteks ini. Pagar Nusa dapat dipahami sebagai ekspresi pendidikan kultural yang tumbuh dari rahim pesantren dan berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (Sahrasad & Dinata, n. Keberadaannya tidak berdiri di luar sistem pendidikan pesantren, tetapi menyatu dalam ekosistem nilai yang sama: adab, disiplin, spiritualitas, dan komitmen kebangsaan. Struktur latihan Pagar Nusa pada umumnya tidak hanya menekankan aspek teknis bela diri, tetapi juga tertib organisasi, penghormatan terhadap pelatih, serta tata cara interaksi yang sarat etika. Sebelum dan sesudah latihan, biasanya dilakukan doa bersama, penghormatan kepada guru, serta penguatan komitmen moral (Seftiana, 2. Pola ini menunjukkan bahwa latihan bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan ruang pedagogis yang mengintegrasikan jasmani dan ruhani. Disiplin menjadi elemen sentral dalam tradisi ini. Ketepatan waktu, kepatuhan terhadap instruksi, serta konsistensi latihan membentuk karakter tangguh dan bertanggung jawab . Namun disiplin dalam tradisi pesantren tidak bersifat militeristik, melainkan berlandaskan adab. Sebagaimana dijelaskan oleh Zamakhsyari Dhofier bahwasannya pesantren menempatkan relasi hormat kepada guru sebagai fondasi pendidikan. Dalam Pagar Nusa, relasi pelatih dan anggota merepresentasikan pola serupa otoritas dibangun atas dasar keteladanan dan moralitas, bukan sekadar struktur komando (Dhofier, 2. Integrasi nilai religius tampak dari penyertaan doa, penguatan akhlak, dan narasi kebangsaan AKSELERASI: Jurnal Ilmiah Nasional Vol. 8 No. 1 Tahun 2026 ARTIKEL dalam setiap aktivitas. Dengan demikian, tradisi Pagar Nusa dapat dipahami sebagai bagian dari sistem pendidikan kultural pesantren yang membentuk karakter melalui praktik kolektif, bukan hanya melalui transfer pengetahuan normatif. Struktur Nilai Pendidikan Islam Moderat dalam Tradisi Pagar Nusa Jika dianalisis dalam kerangka Pendidikan Islam Moderat sebagaimana dielaborasi oleh Azyumardi Azra bahwa tradisi Pagar Nusa memuat struktur nilai yang sejalan dengan paradigma Islam wasathiyah (Sohif Maftahal Luthfi1, 2. Nilai tawazun . tercermin dalam integrasi antara kekuatan fisik dan kedalaman spiritual. Tasamuh . tampak dalam kultur organisasi yang menghargai perbedaan latar belakang anggota. IAotidal . eadilan dan proporsionalita. terefleksi dalam orientasi bela diri yang defensif, bukan ofensif. Nasionalisme religius menjadi dimensi penting. Spirit hubbul wathan minal iman yang hidup dalam tradisi NU memperkuat kesadaran bahwa membela bangsa merupakan bagian dari tanggung jawab keagamaan. Latihan bela diri tidak dimaksudkan untuk menumbuhkan agresivitas, tetapi membangun kontrol diri dan ketahanan moral. Keseimbangan antara jasmani dan ruhani menjadi ciri utama pendidikan moderat tidak menafikan tubuh, tetapi juga tidak mengabaikan dimensi spiritual (Abidin et al. , 2. Dalam lingkungan pesantren yang majemuk, interaksi antar santri dari berbagai daerah dan tradisi membentuk sikap terbuka dan Pagar Nusa sebagai bagian dari tradisi NU membawa semangat inklusif yang sejak awal menjadi karakter Islam Nusantara (Muhtarom et al. , 2. Kekuatan dilatih untuk menjaga diri dan melindungi, bukan untuk mendominasi. Prinsip ini menegaskan sikap proporsional dalam penggunaan kekuatan sejalan dengan nilai keadilan dalam moderasi Islam. Dalam latihan dan kegiatan organisasi, narasi kebangsaan seringkali disampaikan sebagai penguat identitas kolektif. Hal ini menunjukkan adanya kesesuaian antara konsep moderasi dan praktik tradisi. Dengan demikian, struktur nilai dalam Pagar Nusa tidak bertentangan dengan paradigma moderasi, tetapi justru merepresentasikan konkretisasi nilai-nilai tersebut dalam bentuk praksis budaya. Integrasi Spiritualitas dan Disiplin Fisik sebagai Pendidikan Moderat Salah satu keunikan tradisi Pagar Nusa adalah integrasi antara spiritualitas dan disiplin fisik (Yayuk Widianingsih, 2. Dalam banyak pendekatan pendidikan modern, dimensi jasmani dan spiritual sering dipisahkan. Namun dalam tradisi pesantren, keduanya dipahami sebagai satu kesatuan. Latihan fisik dalam Pagar Nusa berorientasi moral. Ketahanan tubuh dibarengi dengan pengendalian diri, kesabaran, dan tanggung jawab. Kekuatan tidak dimaknai sebagai superioritas, tetapi sebagai amanah (Siti, 2. Orientasi ini membedakan pendidikan bela diri berbasis pesantren dari model yang semata kompetitif atau agresif. Spiritualitas dalam praktik bela diri tampak pada penyertaan doa, niat, serta adab kepada guru. Aktivitas fisik menjadi sarana penguatan kesadaran religius (Putra, 2. Di sini, tubuh tidak diposisikan sebagai instrumen kekerasan, melainkan sebagai medium pengabdian. Pendekatan ini sejalan dengan gagasan keseimbangan . dalam moderasi Islam. Orientasi non-agresif dan anti-ekstremisme menjadi implikasi penting. Pendidikan moderat tidak hanya diajarkan secara kognitif melalui ceramah atau teks, tetapi dibentuk melalui praktik kultural yang menanamkan kontrol diri dan etika penggunaan kekuatan (Prabandari et al. , 2. Dengan demikian moderasi menjadi habitus cara bersikap yang terbentuk melalui pengalaman kolektif. AKSELERASI: Jurnal Ilmiah Nasional Vol. 8 No. 1 Tahun 2026 ARTIKEL Konstruksi Teoretis Pendidikan Islam Moderat dalam Tradisi Pagar Nusa Berdasarkan analisis tematik di atas, dapat dirumuskan konstruksi teoretis Pendidikan Islam Moderat dalam Tradisi Pagar Nusa sebagai berikut: Tradisi kultural menjadi fondasi awal. Ia menyediakan ruang praksis tempat nilai dipraktikkan secara kolektif. Melalui struktur latihan, adab, dan narasi kebangsaan, tradisi menghadirkan pengalaman pendidikan yang konkret. Dari tradisi tersebut lahir disiplin dan spiritualitas sebagai dua pilar utama. Disiplin membentuk keteguhan karakter, sementara spiritualitas memberikan orientasi moral. Keduanya tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling menguatkan. Integrasi disiplin dan spiritualitas menghasilkan pembentukan karakter yang religius dan pribadi yang taat, berakhlak, dan bertanggung jawab secara sosial. Karakter religius ini tidak eksklusif, tetapi terbuka dan proporsional. Tahap akhir adalah kesadaran moderat, yakni cara pandang yang seimbang, toleran, adil, dan berkomitmen pada kebangsaan. Kesadaran ini bukan hasil indoktrinasi sesaat, melainkan buah dari proses pendidikan kultural yang berkelanjutan. Dengan demikian. Pendidikan Islam Moderat dalam Tradisi Pagar Nusa dapat dipahami sebagai model pendidikan berbasis tradisi yang memadukan kekuatan fisik, kedalaman spiritual, dan komitmen kebangsaan dalam satu kerangka pembentukan karakter. Model ini menunjukkan bahwa moderasi tidak cukup diajarkan sebagai wacana normatif, tetapi perlu dihidupkan melalui praktik sosial dan budaya yang membentuk habitus keberagamaan yang seimbang. KESIMPULAN Artikel ini menegaskan bahwa Pendidikan Islam Moderat dalam Tradisi Pagar Nusa tidak dapat dipahami sebagai konsep normatif yang berdiri sendiri, melainkan sebagai praksis pendidikan kultural yang hidup dalam ekosistem pesantren. Tradisi Pagar Nusa sebagai bagian dari tradisi Nahdlatul Ulama menunjukkan bahwa pembentukan sikap keberagamaan yang seimbang tidak hanya berlangsung melalui pengajaran formal, tetapi melalui struktur latihan, disiplin, adab, serta integrasi nilai religius dan kebangsaan dalam aktivitas kolektif. Secara konseptual, sintesis konstruksi pendidikan moderat dalam tradisi ini bergerak dari tradisi kultural menuju pembentukan kesadaran. Tradisi menyediakan ruang praksis. disiplin dan spiritualitas menjadi mekanisme pembentukan karakter. karakter religius yang terbentuk kemudian melahirkan kesadaran moderat yang berlandaskan keseimbangan . , toleransi . , keadilan . Aotida. , dan komitmen kebangsaan sebagaimana dielaborasi oleh Azyumardi Azra. Moderasi dalam konteks ini bukan hasil indoktrinasi ideologis, melainkan buah dari pembiasaan, keteladanan, dan pengalaman kolektif yang terstruktur dalam sistem nilai Kontribusi teoretis artikel ini terletak pada perumusan konstruksi konseptual yang memadukan paradigma islam wasathiyah, sistem nilai pesantren, dan tradisi sebagai praktik pendidikan kultural. Kajian ini memperluas diskursus Pendidikan Islam Moderat dengan menunjukkan bahwa nilai keseimbangan dan toleransi dapat dibentuk melalui medium tradisi bela diri yang berorientasi moral dan spiritual. Implikasinya bagi pesantren dan pendidikan Islam cukup signifikan. Pesantren perlu terus mengembangkan tradisi-tradisi kultural sebagai ruang pedagogis yang strategis dalam membentuk karakter religius yang inklusif dan nasionalis. Pendidikan Islam pada umumnya juga dapat mengambil pelajaran bahwa moderasi tidak cukup diajarkan dalam bentuk materi kurikulum, tetapi perlu dihidupkan melalui praktik kolektif yang menyatukan spiritualitas, disiplin, dan tanggung jawab sosial. Dengan pendekatan demikian, moderasi beragama hadir sebagai pengalaman yang dihayati, bukan sekadar wacana yang diajarkan dan memperkaya literatur pendidikan Islam dengan perspektif yang menempatkan tradisi lokal sebagai sumber AKSELERASI: Jurnal Ilmiah Nasional Vol. 8 No. 1 Tahun 2026 ARTIKEL epistemologis pembentukan karakter moderat. Pendidikan Islam berpotensi menjadi kekuatan transformatif dalam merawat keberagamaan yang damai dan berkeadaban di tengah masyarakat plural. DAFTAR PUSTAKA