SARGA : JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM VOLUME 17 NO 2 JULY 2023 P-ISSN: 0853-4748 E-ISSN: 2961-7030 Journal Home Page: https://jurnal2. id/index. php/sarga KONSEP EXTENDING TRADITION PADA FASILITAS KESENIAN WAYANG THENGUL DI BOJONEGORO Extending Tradition Concept of Wayang Thengul Art Facilities in Bojonegoro | Received April 29th 2023 | Accepted June 9th 2023 | Available online July 31st 2023 | | DOI 10. 56444/sarga. 804 | Page 86 - 93 | Rikza Anjani Lutfiyah1*. Darmansjah Tjahja Prakasa2. Ibrahim Tohar3 rikzaanjanil@surel. untag-sby. Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Indonesia1* darmansjahtp@untag-sby. Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Indonesia2 ibrahimtohar@untag-sby. Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Indonesia3 ABSTRAK Wayang Thengul merupakan salah satu kesenian tradisional dari Kabupaten Bojonegoro yang sudah diakui oleh Hak Kekayaan Intelektual dan diperkenalkan oleh pemerintah sebagai seni pertunjukan khas Bojonegoro. Akibat pengaruh modernisasi, kesenian ini sudah mulai luntur dan dilupakan karena berkurangnya minat dan motivasi generasi muda untuk melestarikannya. Apalagi di Bojonegoro sendiri sangat minim akan fasilitas yang mampu mewadahi seluruh aktivitas yang berkaitan dengan kesenian Wayang Thengul baik sebagai pelatihan hingga pertunjukan. Kebanyakan fasilitasnya hanya sebatas rumah sang dalang yang digunakan juga sebagai sanggar pelatihan. Untuk mempertahankan nilai-nilai dari kearifan lokal tersebut diperlukan upaya sebuah fasilitas yang berperan sebagai wadah wisata edukasi budaya kepada masyarakat dengan menerapkan tema Extending Tradition sebagai pendekatan Tema ini diterapkan agar masyarakat dapat mempelajari ilmu budaya yang ada sehingga tertanam suatu kebanggaan terhadap budaya di daerahnya. Metode pendekatan desain ini menggunakan tradisi lokal sebagai ide dasar desain dan memodifikasinya agar sesuai dengan masyarakat modern. Konsep desainnya meliputi pada bagian pertapakan, perangkaan, peratapan, persungkupan dan persolekan. Kata kunci: Extending Tradition. Fasilitas Kesenian. Wayang Thengul ABSTRACT Wayang Thengul is one of the traditional arts from Bojonegoro Regency which has been recognized by Intellectual Property Rights and introduced by the government as a typical Bojonegoro performing art. As a result of the influence of modernization, this art has begun to fade and be forgotten because of the reduced interest and motivation of the younger generation to preserve it. Moreover, in Bojonegoro itself there are very few facilities capable of accommodating all activities related to Wayang Thengul arts, both as training and performances. Most of the facilities are limited to the dalang's house which is also used as a training center. To maintain the values of local wisdom, it is necessary to work on a facility that acts as a forum for cultural education tours to the community by applying the theme of Extending Tradition as an architectural approach. This theme is applied so that people can study existing cultural knowledge so that a pride in the culture in their area is instilled. This design approach method uses local traditions as the basic idea of the design and modifies it to suit modern society. The design concept includes the site, structure, roof, building coverage, and ornamentation. Keywords: Extending Tradition. Art Facilities. Wayang Thengul SARGA - VOLUME 17 NO. 2 JULY 2023 Konsep Extending Tradition pada Fasilitas Kesenian Wayang Thengul di Bojonegoro PENDAHULUAN Indonesia dikenal sebagai suatu negara dengan berbagai macam warisan budaya di setiap penjuru daerahnya. Kabupaten Bojonegoro adalah salah satunya kabupaten di Jawa Timur yang masih kaya akan budaya dan kesenian tradisional yang memiliki nilai-nilai pendidikan, salah satunya adalah Wayang Thengul. Wayang Thengul diperkenalkan sebagai ikon daerah oleh Pemerintah Kabupaten Bojonegoro sebagai seni pertunjukan khas Bojonegoro yang sudah diakui oleh HKI (Hak Kekayaan Intelektua. Wayang Thengul merupakan salah satu jenis wayang dalam bentuk boneka kayu tiga dimensi sejenis wayang golek yang mana pada saat memainkannya dalam pertunjukan biasanya diiringi oleh gamelan. Dinamakan Wayang Thengul karena mengandung arti kata thengul yang berasal dari kata methentheng dan methungul yang artinya karena terbuat dari kayu berbentuk tiga dimensi maka sang dalang harus methentheng . enaga ekstr. mengangkat dengan serius agar methungul . uncul dan terlihat penonto. Cerita Wayang Thengul mengisahkan tentang kisah di Kerajaan Majapahit dan Wayang Menak dari Kerajaan Kediri, juga kisah cerita para wali masa Kerajaan Demak. Terdapat suatu wadah yang bernama kothak untuk menyimpan boneka Wayang Thengul dimana satu kotak tersebut berisi tujuh puluhan tokoh dan karakter wayang. Pengaruh modernisasi pada masyarakat telah banyak mengubah cara pandang dan cara hidup masyarakat terhadap kebudayaan. Beberapa kesenian khas Bojonegoro termasuk Wayang Thengul mulai memudar dan dilupakan, hal ini dikarenakan semakin berkurangnya minat dan motivasi generasi muda untuk melestarikan. Kesenian Wayang Thengul perlu dilestarikan karena seiring berkembangnya zaman. Wayang Thengul tentu akan ditinggal jika tak dijaga Perajin dan dalang Wayang Thengul di Bojonegoro mulai berkurang. Apalagi generasi muda sudah jarang menekuni, bahkan tidak bisa menguasai teknik membuat wayang khas Bojonegoro ini (Wintari, 2. Berdasarkan data dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Bojonegoro tahun 2022, saat ini dalang Wayang Thengul di Bojonegoro tersisa 30 seniman dan dari sekitar 30 dalang tersebut hanya 2 orang yang hanya menguasai teknik membuat Wayang Thengul. Keberadaan Wayang Thengul bagi masyarakat belum diapresiasi dengan baik karena di Bojonegoro sendiri memang sangat minim fasilitas khusus untuk mewadahi kegiatan terkait kesenian Wayang Thengul ini. Kebanyakan fasilitasnya hanya sebatas rumah sang dalang yang digunakan juga sebagai sanggar pelatihan. Untuk mempertahankan nilai-nilai dari kearifan lokal tersebut diperlukan upaya sebuah fasilitas yang berperan sebagai wadah wisata edukasi budaya untuk memberikan pengenalan, pendidikan, dan pelatihan kepada masyarakat baik berupa pelatihan pedalangan disertai pertunjukannya dan pelatihan pembuatan kerajinan kepada masyarakat. Fasilitas Kesenian Wayang Thengul ini menerapkan tema Extending Tradition, sebuah tema yang berfokus pada pelestarian budaya dan tradisi yang sudah hampir terlupakan dimana lebih banyak menggunakan ragam bentuk dan nilai bangunan dari segi tradisi lokalnya yang kemudian diubah mengikuti bentuk bangunan yang modern. Untuk itu konsep tradisi lokal yang akan diperluas tidak lain adalah tradisi Bojonegoro. Kehidupan masyarakat Bojonegoro sendiri sangat erat dengan identitas budaya Jawa. Kebanyakan rumah-rumah yang berada di daerah Bojonegoro biasanya merupakan rumah dengan gaya arsitektur rumah limasan yang paling banyak digunakan oleh rakyat Jawa hingga joglo dengan material yang mendominasi adalah material lokal yang mudah didapat, yaitu kayu jati. Secara keseluruhan, penelitian ini SARGA - VOLUME 17 NO. 2 JULY 2023 Rikza Anjani Lutfiyah. Darmasjah Tjahja Prakasa. Ibrahim Tohar bertujuan untuk menemukan konsep penerapan tradisi lokal dengan inovasi secara berkelanjutan mengikuti bentuk bangunan yang modern tanpa menghilangkan unsur-unsur yang ada di masa lampau. REVIEW LITERATUR Extending Tradition merupakan suatu tema yang berfokus pada pelestarian budaya dan tradisi yang sudah hampir terlupakan oleh masyarakat perkotaan, yaitu dengan cara menggunakan pendekatan Arsitektur Tradisional, dan mengaplikasikan pendekatan tersebut kepada perancangan arsitektur masa sekarang ini dan masa yang akan datang. Extending yaitu sesuatu yang dapat diperpanjang atau disebarkan (Cambridge Dictionar. dan Tradition yaitu kepercayaan atau perilaku yang diwariskan dalam suatu masyarakat dengan makna khusus yang berasal dari masa lalu dan dilakukan secara turun temurun. Extending Tradition adalah using the vernacular in a modified manner. Keberlanjutan tradisi lokal ditimbulkan dengan mengutip secara langsung dari bentuk dan fitur sumber-sumber masa lalu. Arsitek yang melakukan hal itu tidak diliputi oleh masa lalu. Malah, mereka menambahkannya secara inovatif. Maka dapat disimpulkan bahwa Extending Tradition adalah konsep arsitektur yang mengacu pada masa lampau dan dipadukan dengan konsep arsitektur masa kini serta berkelanjutan dengan masa yang akan datang (Beng, 1. Poin-poin penting dari tema Extending Tradition antara lain: . Mencari keberlanjutan dengan tradisi lokal. Mengutip secara langsung dari bentuk masa lalu. Tidak dilingkupi oleh masa lalu, melainkan menambahkannya dengan cara inovatif. Interpretasi kita tentang masa lalu dirubah berdasar kepada perspektif dan kebutuhan masa kini dan masa depan. Mencoba melebur masa lalu dengan penemuan baru. Menggunakan struktur vernakular dan tradisi craftsmanship. Mencari inspirasi dalam bentuk dan teknik yang unik dari bangunan tradisional. Dari poin-poin tersebut, didapatkan suatu kesimpulan dari apa itu tema Extending Traditon, yaitu tema tersebut menggunakan unsur elemen tradisional serta konsep vernakular yang diterapkan pada keperluan atau kebutuhan di masa kini. METODE Metode pendekatan desain ini menggunakan tradisi lokal sebagai ide dasar desain dan memodifikasinya agar sesuai dengan masyarakat modern. Langkah-langkah metode desain yang digunakan adalah: . Metode Pengumpulan Data: Tahapan penelitian yang dilakukan dimulai dengan melakukan pengumpulan data sekunder dari studi pustaka yang berasal dari buku, jurnal, dan artikel ilmiah sebagai referensi terkait dengan konsep Extending Tradition dan data tradisi lokal di Bojonegoro, . Metode Analisis Data: Dari data yang didapatkan, dilakukan penyusunan konsep yang telah dianalisis untuk dapat lebih mudah dipahami. Budaya dari Bojonegoro digunakan sebagai ide dasar, kemudian diformulasikan dengan kebutuhan pengguna dan kondisi di masa kini. Extending Tradition yang diterapkan adalah dengan mencoba menyatukan bentuk dan nilai dari rumah Jawa dan beberapa kearifan lokal Bojonegoro dengan menambahkan unsur-unsur modern masa kini. DATA. DISKUSI. DAN HASIL/TEMUAN Konsep yang menggunakan tema Extending Tradition berbeda dengan pendekatan desain Konsep Extending Tradition dalam arsitektur harus memperhatikan pedoman SARGA - VOLUME 17 NO. 2 JULY 2023 Konsep Extending Tradition pada Fasilitas Kesenian Wayang Thengul di Bojonegoro perancangan, yaitu: . Pertapakan: bentuk bangunan disesuaikan dengan bentuk lahan dan harus memperhatikan lingkungan di sekitarnya, . Perangkaan: struktur dan material tradisional digunakan, tetapi dapat menggunakan struktur dan material modern dalam beberapa desain bangunan yang membutuhkan kekuatan lebih, . Peratapan: atap menggunakan struktur atap tradisional yang disesuaikan dengan kebutuhan saat ini, . Persungkupan: cakupan bangunan menggunakan elemen tradisional yang disesuaikan dengan kebutuhan saat ini, . Persolekan: penyederhanaan ornamen vernakular (Beng, 1. Pertapakan Gambar 1. Zonasi Tapak Sumber: Penulis, 2023 Jalan raya berada di Barat tapak, sehingga pembagian zonasi dilakukan dengan mencoba mencari keberlanjutan dari tradisi lokal. Zonasi pada tapak akan disesuaikan pada tata letak ruang pada rumah Jawa berdasarkan kuadran, yang terdiri dari zona publik . epan-kana. , zona semi publik . epan-kir. , zona semi privat . elakang-kana. , dan zona privat . elakang-kana. Desain tapak tidak mengubah kondisi tapak eksisting. Tidak ada cut and fill untuk semua kontur tanah, tetap mempertahankan nilai-nilai konsep kontur yang mengangkat pentingnya pelestarian alam. RTH ditetapkan 30%, sehingga eksplorasi alam lebih optimal dalam konsep tapak dan komposisi bangunan. Gambar 2. Tapak dan Komposisi Bangunan Sumber: Penulis, 2023 SARGA - VOLUME 17 NO. 2 JULY 2023 Rikza Anjani Lutfiyah. Darmasjah Tjahja Prakasa. Ibrahim Tohar Aksesibilitas dan sirkulasi akan disesuaikan dengan penggunanya. Akses parkir pengunjung dan kendaraan umum ada di depan untuk memudahkan pengunjung agar nyaman dalam mengaksesnya, dan akses parkir pengelola ada di area belakang di zona privat. Gambar 3. Pengorganisasian Tapak Sumber: Penulis, 2023 Orientasi bangunan searah dengan sumbu, yaitu menghadap ke arah selatan disesuaikan dengan orientasi rumah masyarakat Jawa pada umumnya dengan massa bangunan terdiri dari 1 massa yang terbagi atas 3 zona . ona pelatihan, zona pertunjukan, zona produks. Pembagian 3 zona tersebut didasarkan dengan mengutip secara langsung bentuk dari bagian boneka Wayang Thengul pada bagian kepala, badan, dan sogol. Gambar 4. Pembagian Zonasi Bangunan Sumber: Penulis, 2023 Perangkaan Konsep perangkaan dalam bahasa arsitektural meliputi struktur dan material. Struktur dan material rangka memodifikasi dan menggabungkan sistem struktur tradisional lalu disesuaikan dengan kebutuhan masa sekarang dengan menggunakan struktur dan material modern di beberapa bagian setiap bangunan. SARGA - VOLUME 17 NO. 2 JULY 2023 Konsep Extending Tradition pada Fasilitas Kesenian Wayang Thengul di Bojonegoro Struktur rangka atap baja ringan akan digunakan pada bangunan. Tanpa harus meninggalkan nilai seni, budaya dan sejarah dari rumah tradisional Jawa, rangka atap baja ringan dapat digunakan karena baja ringan relatif lebih terjangkau, kokoh, ringan, dan terjamin Peratapan Penggunaan bentukan atap juga telah disesuaikan dengan kondisi sekitar tapak menyesuaikan dengan kondisi iklim yang dapat memberikan kenyamanan bagi pengguna. Bentukan atap tidak akan meninggalkan bagaimana bentuk atap rumah tradisional Jawa di Bojonegoro yaitu atap joglo pada bangunan, namun dengan inovasi dan penyesuaian pada bahan Karakteristik dari atap joglo bisa dilihat dari bentuknya yang menyerupai sebuah gunung, gabungan dari dua atap segitiga dengan dua atap trapesium. Gambar 5. Bentuk Atap Sumber: Penulis, 2023 Untuk penyesuaian dengan kebutuhan modern, atap di bangunan ini menggunakan atap baja ringan dengan plafon di bagian bawahnya. Plafon berguna untuk memutar panas dari atap bangunan dari suhu tinggi yang dihasilkan pada siang hari, sehingga kebutuhan udara segar dapat dimaksimalkan dengan menggunakan plafon. Bahan penutup atap menggunakan atap genteng tanah liat karena terbuat dari material alami sehingga akan lebih ramah untuk Persungkupan Bangunan ini terdiri dari 3 lantai dengan menerapkan kesenian tradisional Bojonegoro, yaitu boneka Wayang Thengul sebagai tradisi yang diperluas. Boneka Wayang Thengul mempunyai bagian-bagian antara lain. kepala, badan, lengan, dan sogol. Pada setiap bagian tersebut diimplementasikan ke setiap lantai dan bagian bangunan. Susunan ruang menerapkan sistem tata letak ruang rumah Jawa yang diolah dan dimodifikasi menyesuaikan kebutuhan Pembagiannya adalah sebagai berikut: . Pendopo: sebagai tempat berkumpul/pertemuan, . Pringgitan: sebagai penghubung antara pendopo dengan bangunan, . Omah: bagian administrasi penghubung antara pengunjung dengan tenaga pengelola, . Dalem: sebagai ruang-ruang kegiatan fasilitas terlaksana termasuk yang ada pada lantai 2 dan 3, . Senthong: sebagai ruang penyimpanan/gudang perletakan fasilitas utilitas. Perletakan utilitas dipertimbangkan dengan bagaimana sirkulasi servis, dimana fasilitas utilitas seperti TPA dll diletakkan pada daerah sirkulasi servis untuk mempermudah operasional dan perawatan utilitas tersebut. SARGA - VOLUME 17 NO. 2 JULY 2023 Rikza Anjani Lutfiyah. Darmasjah Tjahja Prakasa. Ibrahim Tohar Gambar 6. Pengorganisasian Bangunan Sumber: Penulis, 2023 Persolekan Tidak seperti rumah tradisional Jawa di kawasan Jawa Tengah, rumah Jawa khususnya rumah joglo khas Bojonegoro tidak terlalu menonjolkan ukir-ukiran ataupun ornamen, melainkan pada ukuran kayu jati yang besar dengan kualitas yang unggul. Sehingga bagian material dinding baik untuk eksterior maupun interior juga akan didominasi dengan material lokal yaitu kayu jati. Karena Bojonegoro sendiri juga dikenal sebagai salah satu Kota Jati, karena daratan Bojonegoro yang luas akan hutan dengan tumbuhan khas yang disebut tectona grandis atau pohon jati. Material kayu jati ini sangat terkenal akan keindahan, kekuatan dan kestabilannya. Selain itu juga akan menggunakan motif lokal Bojonegoro yaitu batik rancak thengul sebagai ornamen yang diimplementasikan pada secondary skin yang berfungsi untuk memberikan perlindungan dari pencahayaan alami yang masuk ke ruangan. Gambar 7. Batik Motif Rancak Thengul Sumber: senibudayaasia. com, 2023 KESIMPULAN Fasilitas kesenian wayang thengul merupakan fasilitas yang dirancang dengan memperhatikan nilai-nilai dari tradisi lokal Bojonegoro dengan menerapkan tema Extending Tradition, yaitu tema yang mempertahankan manfaat dari tradisi lokal yang ada kemudian dikembangkan dan disesuaikan dengan kebutuhan masa kini. Extending Tradition yang diterapkan adalah dengan SARGA - VOLUME 17 NO. 2 JULY 2023 Konsep Extending Tradition pada Fasilitas Kesenian Wayang Thengul di Bojonegoro mencoba menyatukan bentuk dan nilai dari rumah Jawa dan beberapa kearifan lokal Bojonegoro dengan menambahkan unsur-unsur modern masa kini. Konsep desainnya meliputi pada bagian pertapakan, perangkaan, peratapan, persungkupan dan persolekan. Semua poin-poin dari Extending Tradition yang diangkat secara umum mencakup kelima unsur-unsur pembentuk arsitektur tersebut pada setiap bagian, karena hal tersebutlah pedoman perancangan yang harus diperhatikan dalam penerapan konsep ini, penggunaan elemen tradisional pada bangunan masa kini dengan perubahan-perubahan yang disesuaikan dengan perspektif dan kebutuhan masa kini. Dihasilkan bahwa konsep desain tersebut cocok untuk pelestarian budaya dan tradisi yang sudah hampir terlupakan, sehingga masyarakat dapat mempelajari ilmu budaya yang ada sehingga tertanam suatu kebanggaan terhadap budaya di DAFTAR PUSTAKA Arnofia. Mengenal Sosok Wintari Penggerak Wayang Thengul. https://blok. diakses pada 14/10/2022. Beng. Tan Hock dan Lim. Willam. Contemporary Vernacular: Evoking Traditions in Asian Architecture. Singapore. Select Book. Brian. Arsitektur Tradisional Jawa: Kosmologi. Estetika, dan Simbolisme Budaya Jawa. https://hurahura. diakses pada 6/11/2022. Erning. Setyowati. Arsitektur Berkelanjutan: Extending Tradition. https://dokumen. pada 09/12/2022. Febrianto. Robohnya Rumah Kami dan Sisa-sisa Rumah Joglo di Desa Wadang. https://radarbojonegoro. diakses pada 02/06/2023. Magfirah. Penerapan Tema Extending Tradition pada Perancangan Museum Kebudayaan Aceh di Banda Aceh. JURNAL ILMIAH MAHASISWA ARSITEKTUR DAN PERENCANAAN VOLUME 6, No. Februari 2022, hal 16-20. Mubarok. Extending Tradition Concept of Tahfidz Islamic Boarding School Design in Nganjuk Indonesia. Journal of Islamic Architecture, 5. Prianto. Seni Wayang Thengul Bojonegoro Tahun 1930 - 2010. e-Journal Pendidikan Sejarah Volume 4. No. Putra. Kajian Penerapan Arsitektur Kontekstual pada Perancangan Desa Wisata Samin di Bojonegoro. Vitruvian Jurnal Arsitektur. Bangunan, & Lingkungan Vol. 10 No. Februari 2021. Sardjono. Agung Budi. Puspa Ragam Bentuk-Bentuk Arsitektur Setempat. Tigamedia 2022. Theodorus A. Kusuma dan Andry Hikari Damai. Rumah Tradisional Jawa dalam Tinjauan Kosmologi. Estetika, dan Simbolisme Budaya. Kindai Etam Vol. 6 No. 1 Mei 2020 - Balai Arkeologi Kalimantan Selatan. Wicaksono. PERANCANGAN MUSEUM BUDAYA KABUPATEN BOJONEGORO MENGGUNAKAN PENDEKATAN EXTENDING TRADITION. Dearsip. Vol. 02 No. UCAPAN TERIMA KASIH