E-ISSN 2747 -1128. Volume 6 Nomor 2. Agustus 20 25 . Halaman 172-184 JURNAL AKAL: ABDIMAS DAN KEARIFAN LOKAL https://w. e-journal . id/index. php/kearifan PENGEMBANGAN KETERAMPILAN TATA GRAHA PADA PONDOK WISATA DI DESA WISATA TINALAH Development of Housekeeping Related Skills Wisata Tinalah Kevin Gustian Yulius Chelsye Parera 1 *. Rosianna Sianipar at Homestays in Desa . Wulanmeiaya Wowor , dan Sisilia Pengelolan Perhotelan. Fakultas Hospitality & Pariwisata. Universitas Pelita Harapan *Penulis Korespondensi: yulius@uph. Abstrak Sejarah Artikel A Diterima Februari 2025 A Revisi April 2025 A Disetujui Juli 2025 A Terbit Online Ag ustus 2025 Kata Kunci: A Desa Wisata A Pariwisata Berkelanjutan A Pondok Wisata A Tata Graha Perubahan preferensi wisatawan menuju pengalaman yang lebih personal dan autentik telah mendorong pengembangan desa wisata berbasis komunitas di Indonesia. Desa Wisata Tinalah di Kulon Progo. Yogyakarta, menjadi contoh destinasi yang memadukan keindahan alam dan budaya lokal. Namun, pengelola pondok wisata di desa ini menghadapi tantangan dalam keterampilan tata graha, khususnya merapikan tempat tidur dan seni melipat handuk, yang penting untuk meningkatkan kualitas layanan dan kepuasan tamu. Program pengab dian kepada masyarakat ini dirancang untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pengelola pondok wisata melalui pelatihan berbasis ceramah, demonstrasi, dan praktik langsung. Hasil pretest dan posttest menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman peserta, dengan rata -rata kenaikan di atas 20% pada berbagai aspek teknis. Peningkatan terbesar terlihat pada penggunaan handuk dalam seni melipat, mencerminkan efektivitas pende katan berbasis pengalaman. Program ini tidak hanya meningkatkan keterampilan pengelola pondok wisata, tetapi juga mendukung keberlanjutan pariwisata berbasis komunitas. Akademisi disarankan untuk mereplikasi program ini di desa lain, sementara pemerintah d iharapkan memberikan dukungan melalui pelatihan serupa guna memperkuat daya saing destinasi wisata lokal. Keberhasilan ini membuktikan pentingnya pemberdayaan masyarakat dalam mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan. Sitasi artikel ini: Yulis. , et. al , 2025 . Pengembangan Keterampilan Tata Graha Pada Pondok Wisata di Desa Wisata Tinalah Abdimas dan Kearifan Lokal. : 172 -184 . Doi: https://dx. org/10. 25105/ akal. Jurnal Akal: Abstracts Keywords: A Homestay A Housekeeping A Sustainable Tourism A Tourism Village The shift in tourist preferences toward more personal and authentic experiences has driven the development of community -based tourism villages in Indonesia. Desa Wisata Tinalah, located in Kulon Progo. Yogyakarta, exemplifies a destination that harmonizes beauty and local culture. However, the management of homestays in this village faces challenges in housekeeping skills, particularly bed -making and towel art, which are essential for enhancing service quality and guest satisfaction. This community service program was designed to enhance the knowledge and skills of homestay managers through training that combines lectures, demonstrations, and hands -on practice. The results of pre test and post test revealed a significant improvement in participants' understanding, with an average increase exceeding 20% across various technical aspects. The most notable improvement was observed in towel art techniques, reflecting the effectiveness of experience -based learning approaches. The program not only improved t he skills of homestay managers but also contributed to the sustainability of community -based tourism. Academics are encouraged to replicate this program in other villages, while the government is urged to support similar training initiatives to strengthen the competitiveness of local tourism This success underscores the importance of community empowerment in fostering sustainable tourism development. Pengembangan Keterampilan Tata Graha Pada Pondok Wisata d i Desa Wisata Tinalah Yulius . Sianipar . Wowor . Parera E-ISSN 2747 -1128. Volume 6 Nomor 2. Agustus 20 25. Halaman 17 2-184 Doi: https://dx. org/10. 25105/ akal. V 6i2. PENDAHULUAN Perkembangan pariwisata global dan nasional menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam preferensi wisatawan (Narmadha & Anuradha, 2022. Zatsepina, 2. Saat ini, banyak wisatawan mencari pengalaman yang lebih personal dan autentik, yang memungkinkan mereka untuk berinteraksi langsung dengan budaya dan kehidupan lokal , 2023. Sthapit et al. , 2. (Asri et al. , 2022. Mustika et Indonesia, sebagai salah satu destinasi pariwisata utama di dunia, turut merespons tren ini dengan mengembangkan konsep pariwisata berbasis komunitas, salah satunya melalui desa wisata (Gunawijaya et al. , 2. Konsep ini mengedepankan kelestarian alam dan budaya, serta memberikan kesempatan bagi wisatawan untuk merasakan kehidupan pedesaan yang jauh dari hiruk -pikuk perkotaan. Dalam hal ini, pondok wisata atau homestay berperan penting sebagai komponen utama y pengalaman lokal yang lebih mendalam ang memungkinkan wisatawan merasakan (Bachok et al. , 2018. Jamaludin et al. , 2012. Supian et , 2022. Suryaningtyas & Muliawanti, 2. Desa Wisata Tinalah di Kulon Progo. Yogyakarta, merupakan salah satu contoh desa wisata yang mengusung konsep pariwisata berbasis alam dan budaya. Terletak di kawasan Pegunungan Menoreh, desa ini memiliki keindahan alam yang mempesona, termasuk Sungai Tina lah yang menjadi daya tarik utama untuk kegiatan river tubing dan trekking . Desa ini juga menawarkan berbagai kegiatan budaya yang memperkenalkan wisatawan pada tradisi lokal, sehingga menciptakan pengalaman yang lebih kaya dan berkesan. Dengan mengandalkan potensi alam dan budaya. Desa Wisata Tinalah tidak hanya menawarkan kein dahan alam tetapi juga memberikan kesempatan bagi wisatawan untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat setempat dan belajar mengenai kehidupan tradisional mereka. Masyarakat di Desa Wisata Tinalah memiliki peran penting dalam pengelolaan dan pengembangan destinasi ini. Mereka tidak hanya berperan sebagai pemandu wisata dan penyedia layanan, tetapi juga sebagai pengelola homestay atau pondok wisata yang menjadi tempa t menginap bagi para wisatawan. Pengelolaan pondok wisata yang baik, dengan layanan yang memadai, sangat mempengaruhi pengalaman tamu selama menginap (Ghimire, 2023. Supian et al. , 2. Oleh karena itu, peningkatan kualitas layanan terutama dalam konteks tata graha menjadi sangat penting untuk mendukung keberlanjutan pariwisata pada wisata perdesaan (Cahyaningsih et al. , 2023. Prastowo, 2. Namun, salah satu tantangan utama yang dihadapi oleh pengelola pondok wisata di Desa Wisata Tinalah adalah kurangnya keterampilan dan pengetahuan mengenai tata graha. DOI : http://dx. org/10. 25105/urbanenvirotech. Pengembangan Keterampilan Tata Graha Pada Pondok Wisata d i Desa Wisata Tinalah Yulius . Sianipar . Wowor . Parera E-ISSN 2747 -1128. Volume 6 Nomor 2. Agustus 20 25. Halaman 17 2-184 Doi: https://dx. org/10. 25105/ akal. V 6i2. khususnya dalam hal mempersiapkan tempat tidur . aking be. yang rapi dan nyaman serta melakukan seni melipat handuk . owel ar. yang menarik. Keterampilan ini sangat penting dalam menciptakan kenyamanan dan meningkatkan kualitas estetika kamar tamu, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kepuasan dan peluang kunjungan ulang para wisatawan (Cahyaningsih et , 2. Kurangnya pelatihan ini menyebabkan kualitas layanan yang diberikan oleh pengelola pondok wisata sering kali tidak konsisten, sehingga berdampak pada pengalaman tamu yang kurang memuaskan (Kiswantoro et al. , 2023. Quang et al. , 2. Selain itu, sistem manajemen pondok wisata di Desa Wisata Tinalah juga belum memiliki standarisasi yang baik. Beberapa pengelola belum memiliki sertifikasi atau pelatihan yang diakui, yang dapat meningkatkan kredibilitas dan kualitas layanan mereka. Tanpa standar yang jelas dalam hal kebersihan, kerapian, dan pengelolaan kamar tamu, pengelola pondok wisata kesulitan untuk memenuhi harapan wisatawan, yang semakin tinggi seiring dengan berkembangnya tren pariwisata berbasis pengalaman Voon et al. , 2. (Adesetiani et al. , 2021. Muliawanti et al. Masalah ini menjadi lebih kompleks ketika pengelola pondok wisata tidak memiliki pemahaman yang cukup tentang bagaimana menciptakan identitas unik dan menarik untuk homestay mereka (Doan et al. , 2023. Pastini & Susianti, 2023. Voon et al. , 2. yang sangat penting dalam membangun daya tarik wisatawan. Dalam rangka mengatasi masalah tersebut, peneliti merancang program pengabdian kepada masyarakat (PKM) untuk memberikan pelatihan keterampilan tata graha yang meliputi teknik making bed dan towel art . Visi dari pelatihan ini adalah untuk peningkatan kualitas layanan yang diberikan oleh pengelola pondok wisata di Desa Wisata Tinalah. Keterampilan merapikan tempat tidur atau ranjang dan kasur yang rapi dan nyaman akan membantu menciptakan lingkungan yan g bersih dan nyaman, yang dapat meningkatkan kenyamanan tamu (Housekeeping Training Providers, 2. Sementara itu, seni melipat handuk dapat menambah daya tarik estetika kamar, menciptakan pengalaman yang lebih menyenangkan bagi tamu, serta menjadi elemen visual yang dapat digunakan dalam promosi untuk memperkuat branding pondok wisata (Suarmana et al. , 2. Pelatihan ini juga diharapkan dapat meningkatkan pemahaman pengelola pondok wisata tentang pentingnya standar layanan yang konsisten dan profesional. Melalui ceramah dan praktik langsung, para peserta akan diberikan pengetahuan dan keterampilan yang dibutu untuk meningkatkan kualitas kebersihan dan kenyamanan kamar tamu. Pelatihan ini juga bertujuan untuk memperkenalkan teknik DOI : http://dx. org/10. 25105/urbanenvirotech. -teknik sederhana namun efektif yang dapat digunakan Pengembangan Keterampilan Tata Graha Pada Pondok Wisata d i Desa Wisata Tinalah Yulius . Sianipar . Wowor . Parera E-ISSN 2747 -1128. Volume 6 Nomor 2. Agustus 20 25. Halaman 17 2-184 Doi: https://dx. org/10. 25105/ akal. V 6i2. untuk memperbaiki penampilan kamar tamu, yang pada gilirannya dapat meningkatkan citra pondok wisata sebagai tempat penginapan yang nyaman, bersih, dan berkarakter. Peningkatan keterampilan tata graha diharapkan dapat memperbaiki kualitas pengalaman menginap bagi wisatawan, yang pada akhirnya akan berdampak positif terhadap kepuasan Kepuasan tamu merupakan faktor kunci dalam keberhasilan pengelolaan pondok wisat karena tamu yang puas lebih cenderung untuk kembali berkunjung dan merekomendasikan pondok wisata kepada orang lain Voon et al. , 2. (Ghimire, 2023. Kiswantoro et al. , 2023. Sianipar et al. , 2021. Dengan meningkatnya kualitas layanan, diharapkan Desa Wisata Tinalah dapat bersaing dengan destinasi wisata lainnya, meningkatkan jumlah wisatawan, serta memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat setempat. Dengan demikian, pelatihan keterampilan tata graha ini menjadi solusi untuk masalah yang dihadapi pengelola pondok wisata di Desa Wisata Tinalah. Melalui pelatihan yang sistematis dan aplikatif, pengelola pondok wisata dapat meningkatkan kualitas layanan m ereka, yang pada akhirnya akan meningkatkan daya tarik dan citra desa wisata ini di mata wisatawan. Program ini tidak hanya memberikan manfaat langsung bagi pengelola pondok wisata, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan pariwisata berbasis komunitas yang berkelanjutan di Desa Wisata Tinalah. METODE PELAKSANAAN Program pengabdian kepada masyarakat (PKM) yang dilakukan di Desa Wisata Tinalah bertujuan untuk meningkatkan keterampilan tata graha pengelola pondok wisata, khususnya dalam hal merapikan tempat tidur ( making bed ) dan seni melipat handuk ( towel art ). Pelatihan ini dirancang dengan pendekatan yang menggabungkan teori dan praktik, yang dapat membantu pengelola pondok wisata untuk meningkatkan kualitas layanan dan memenuhi standar kebutuhan wisatawan (Charlton, 2006. Tracey & Swart, 2. Metode yang digunakan dalam pelatihan ini mengacu pada teori pendidikan orang dewasa dan pelatihan keterampilan praktis, serta memperhatikan konteks lokal dan budaya setempat. Pelatihan ini menggunakan pendekatan partisipatif (Fernando & Marikar, 2. , di mana peserta tidak hanya menerima informasi melalui ceramah, tetapi juga dilibatkan secara langsung dalam praktik (Yanti & Juniartha, 2. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip -prinsip pembelajaran aktif yang sering digunakan dalam program pelatihan untuk pengembangan keterampilan praktis (Du et al. , 2. Pembelajaran berbasis pengalaman ini memungkinkan DOI : http://dx. org/10. 25105/urbanenvirotech. Pengembangan Keterampilan Tata Graha Pada Pondok Wisata d i Desa Wisata Tinalah Yulius . Sianipar . Wowor . Parera E-ISSN 2747 -1128. Volume 6 Nomor 2. Agustus 20 25. Halaman 17 2-184 Doi: https://dx. org/10. 25105/ akal. V 6i2. peserta untuk mengaplikasikan keterampilan yang mereka pelajari dalam situasi nyata, yang meningkatkan retensi pengetahuan dan kemampuan mereka dalam pekerjaan sehari -hari (Bradberry & De Maio, 2019. Zou et al. , 2. Pelatihan dimulai dengan sesi ceramah atau lecture yang memberikan dasar teori mengenai pentingnya tata graha dalam pengelolaan pondok wisata, dengan fokus pada bagaimana merapikan tempat tidur dan seni melipat handuk dapat meningkatkan kenyamanan dan estetika kamar tamu. Setelah sesi ceramah, peserta lan gsung mengikuti sesi praktik yang dipandu oleh Dalam sesi praktik, peserta diajarkan langkah demi langkah cara merapikan tempat tidur dengan benar dan membuat berbagai bentuk seni melipat handuk. Metode ini tidak hanya meningkatkan keterampila n teknis peserta, tetapi juga memperkenalkan mereka pada standar kualitas dan kebersihan yang diharapkan dalam pengelolaan pondok wisata. Untuk mengevaluasi efektivitas pelatihan, dilakukan observasi langsung terhadap keterampilan peserta dalam mempraktekkan teknik merapikan tempat tidur dan seni melipat Observasi ini memungkinkan fasilitator untuk memberikan umpan balik yang konstru dan memastikan bahwa teknik yang diajarkan telah diterapkan dengan benar (Jamshed, 2. Selain itu, pretest dan posttest dengan format pilihan ganda juga digunakan untuk mengukur peningkatan pemahaman dan keterampilan peserta setelah mengikuti pelatihan. Pertanyaan dalam pretest dan posttest difokuskan pada aspek -aspek penting dalam tata gr aha, seperti teknik merapikan tempat tidur yang baik dan pengenalan terhadap seni melipat handuk. Tabel 1. Daftar Pertanyaan Pretest & Posttest No. Pertanyaan Apa tujuan utama dari keterampilan making bed di pondok wisata? Komponen apa yang termasuk dalam persiapan ranjang? Mengapa towel art penting dalam layanan pondok wisata? Kasur tipe apa yang memiliki ukuran 180 x 200 cm? Jenis handuk apa yang biasanya digunakan untuk membuat towel art berbentuk angsa? Apa yang harus dilakukan setelah menggulung kedua sisi handuk ke tengah dalam membuat towel art? Mengapa making bed yang rapi penting bagi tamu? Berapa ukuran umum handuk besar . ath towe. yang digunakan dalam towel art? Apa manfaat utama dari penggunaan towel art dalam pondok wisata? Teknik apa yang digunakan untuk memastikan sprei tetap kencang dan rapi di atas kasur? DOI : http://dx. org/10. 25105/urbanenvirotech. Pengembangan Keterampilan Tata Graha Pada Pondok Wisata d i Desa Wisata Tinalah Yulius . Sianipar . Wowor . Parera E-ISSN 2747 -1128. Volume 6 Nomor 2. Agustus 20 25. Halaman 17 2-184 Doi: https://dx. org/10. 25105/ akal. V 6i2. HASIL KEGIATAN Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa pelatihan keterampilan tata graha dilaksanakan pada Rabu, 20 November 2024, di Desa Wisata Tinalah. Kulon Progo. Yogyakarta. Pelatihan diikuti oleh 25 peserta yang terdiri atas pengelola pondok wisat a dan anggota kelompok sadar wisata . Kegiatan berlangsung selama satu jam, dimulai 00 hingga 15. 00 WIB, dengan lancar dan tanpa hambatan. Penyampaian materi dilakukan menggunakan metode ceramah . , demonstrasi, dan praktik langs ung oleh peserta, dengan dukungan fasilitas seperti proyektor, mikrofon, dan pengeras suara. Gambar 1. Dokumentasi Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Instruktur menggunakan diksi yang sederhana dan mudah dimengerti untuk memastikan seluruh materi pelatihan dapat diterima dengan baik oleh peserta. Demonstrasi dilakukan secara bertahap, dimulai dengan teknik merapikan tempat tidur ( seni melipat handuk ( making bed ) dan dilanjutkan dengan towel art ). Peserta juga diberikan kesempatan untuk mempraktikkan keterampilan tersebut secara langsung, di bawah bimbingan instruktur dan demonstrator. DOI : http://dx. org/10. 25105/urbanenvirotech. Pengembangan Keterampilan Tata Graha Pada Pondok Wisata d i Desa Wisata Tinalah Yulius . Sianipar . Wowor . Parera E-ISSN 2747 -1128. Volume 6 Nomor 2. Agustus 20 25. Halaman 17 2-184 Doi: https://dx. org/10. 25105/ akal. V 6i2. Gambar 2. Tampilan Presentasi dalam Kegiatan Pelatihan Pada tabel di bawah ini ditampilkan perbandingan jumlah jawaban betul pada pretest dan posttest untuk mengukur keberhasilan kegiatan ini. Tabel 2. Perbandingan Hasil Pretest & Post test No. Pretest Post test % Kenaikan Jumlah Jumlah Peserta dengan Peserta dengan Jawaban Benar Jawaban Benar DOI : http://dx. org/10. 25105/urbanenvirotech. Pengembangan Keterampilan Tata Graha Pada Pondok Wisata d i Desa Wisata Tinalah Yulius . Sianipar . Wowor . Parera E-ISSN 2747 -1128. Volume 6 Nomor 2. Agustus 20 25. Halaman 17 2-184 Doi: https://dx. org/10. 25105/ akal. V 6i2. Hasil pretest dan posttest menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam pemahaman dan keterampilan peserta setelah pelatihan. Pada pretest, beberapa pertanyaan mencatat tingkat keberhasilan yang tinggi, seperti Pertanyaan 2: "Komponen apa yang termasuk da persiapan ranjang?", yang dijawab benar oleh 23 peserta . %). Hal ini mengindikasikan bahwa peserta telah memiliki pemahaman awal yang baik mengenai komponen dasar dalam merapikan tempat tidur. Sebaliknya, pertanyaan yang memerlukan keterampilan teknis lebih mendalam menunjukkan tingkat keberhasilan yang lebih rendah pada pretest. Misalnya. Pertanyaan 5: "Jenis handuk apa yang biasanya digunakan untuk membuat towel art berbentuk angsa?" hanya dijawab benar oleh 14 peserta . %). Namun, setelah pelatihan, jumlah peserta yang menjawab benar meningkat menjadi 100%, mencatat kenaikan sebesar 44%. Hal serupa terjadi pada Pertanyaan 7: "Mengapa making bed yang rapi penting bagi tamu?", dengan peningkata n dari 48% pada pretest menjadi 88% pada posttest . enaikan 40%). -rata Secara keseluruhan, rata kenaikan pemahaman peserta pada posttest mencapai lebih dari 20% untuk hampir semua pertanyaan, yang mencerminkan keberhasilan pelatihan dalam meningkatkan kemampuan peserta dalam tata graha. Hasil pelatihan menunjukkan bahwa kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini berhasil meningkatkan keterampilan tata graha para pengelola pondok wisata di Desa Wisata Tinalah. Peningkatan signifikan dalam hasil posttest dibandingkan dengan pretest mengindik keberhasilan pelatihan dalam menyampaikan materi dan memperkuat pemahaman peserta terhadap pentingnya tata graha. Keterampilan yang diajarkan, yaitu merapikan tempat tidur . aking bed ) dan seni melipat handuk ( towel art ), merupakan elemen penting dalam menciptakan pengalaman menginap yang berkualitas bagi tamu pondok wisata. Metode pelatihan yang digunakan, yaitu kombinasi ceramah, demonstrasi, dan praktik langsung, terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan peserta. Pendekatan ini sejalan dengan teori pembelajaran berbasis pengalaman, di mana peserta belaj ar melalui pengalaman langsung yang memungkinkan mereka mengaplikasikan keterampilan baru dalam konteks riil. (Dornan et al. , 2. Demonstrasi oleh instruktur yang diikuti dengan praktik langsung oleh peserta memungkinkan transfer pengetahuan yang optimal (MarisiN et al. , 2. , sebagaimana ditunjukkan oleh peningkatan drastis dalam jawaban benar untuk pertanyaan yang bersifat teknis. DOI : http://dx. org/10. 25105/urbanenvirotech. Pengembangan Keterampilan Tata Graha Pada Pondok Wisata d i Desa Wisata Tinalah Yulius . Sianipar . Wowor . Parera E-ISSN 2747 -1128. Volume 6 Nomor 2. Agustus 20 25. Halaman 17 2-184 Doi: https://dx. org/10. 25105/ akal. V 6i2. Sebagai contoh. Pertanyaan 5, yang menanyakan jenis handuk yang digunakan untuk seni melipat handuk berbentuk angsa, mencatat kenaikan sebesar 44% dalam jumlah jawaban benar. Hal ini menunjukkan bahwa demonstrasi langsung yang dilakukan instruktur sangat m peserta memahami detail teknis yang sebelumnya kurang dikuasai. Begitu pula dengan Pertanyaan 7, yang berkaitan dengan pentingnya kerapian tempat tidur, menunjukkan kenaikan 40%, yang mengindikasikan bahwa pelatihan berhasil menanamkan pemahaman te ntang nilai profesionalisme dalam tata graha. Namun, hasil menunjukkan bahwa tidak semua aspek mencatat kenaikan yang signifikan. Pada Pertanyaan 2 tentang komponen persiapan ranjang, hanya terjadi peningkatan 8%, meskipun tingkat keberhasilan pretest sudah mencapai 92%. Hal ini mengindikasikan bahwa peserta sudah memiliki pengetahuan awal yang memadai sebelum pelatihan, sehingga dampak pelatihan pada materi ini tidak terlalu besar. Hasil ini mencerminkan pentingnya penyesuaian materi pelatihan untuk lebih fokus pada aspek yang membutuhkan peningkatan seperti keterampilan teknis yang lebih spesifik. Peningkatan keterampilan tata graha, khususnya dalam merapikan tempat tidur dan seni melipat handuk, tidak hanya berdampak pada peningkatan estetika kamar tamu tetapi juga pada penciptaan pengalaman yang lebih berkesan bagi wisatawan. Dalam konteks Desa Wi Tinalah, yang mengandalkan pondok wisata sebagai salah satu komponen utama akomodasi, peningkatan kualitas layanan sangat penting untuk memastikan kepuasan tamu dan meningkatkan peluang kunjungan ulang. Selain itu, pelatihan ini juga memberikan dampak pada peningkatan rasa percaya diri peserta dalam mengelola pondok wisata mereka. Peserta yang sebelumnya merasa kurang terampil dalam tata graha kini mampu menerapkan keterampilan baru dengan standar yang lebih tinggi. Hal ini selaras dengan konsep pemberdayaan masyarakat, di mana pengembangan kapasitas individu diharapkan dapat mendukung pengembangan ekonomi lokal secara Keberhasilan pelatihan ini juga menunjukkan potensi untuk memperluas program serupa ke desa wisata lainnya yang menghadapi tantangan serupa. Dengan memanfaatkan metode yang sama, pelatihan dapat membantu meningkatkan standar layanan akomodasi di berbagai destinasi wisata perdesaan di Indonesia. Selain itu, keterampilan yang diajarkan dalam pelatihan ini, seperti seni melipat handuk, juga dapat berfungsi sebagai elemen branding yang unik, sehingga memberikan keunggulan kompetitif bagi pondok wisata di Desa W DOI : http://dx. org/10. 25105/urbanenvirotech. isata Tinalah. Pengembangan Keterampilan Tata Graha Pada Pondok Wisata d i Desa Wisata Tinalah Yulius . Sianipar . Wowor . Parera E-ISSN 2747 -1128. Volume 6 Nomor 2. Agustus 20 25. Halaman 17 2-184 Doi: https://dx. org/10. 25105/ akal. V 6i2. Secara keseluruhan, pelatihan ini tidak hanya memberikan manfaat langsung bagi pengelola pondok wisata di Desa Wisata Tinalah, tetapi juga menjadi langkah penting dalam mendukung keberlanjutan pariwisata berbasis komunitas di desa tersebut. Dengan peningka keterampilan tata graha. Desa Wisata Tinalah dapat lebih siap bersaing sebagai destinasi wisata perdesaan unggulan yang menawarkan pengalaman autentik dengan layanan berkualitas KESIMPULAN Pelatihan keterampilan tata graha di Desa Wisata Tinalah telah berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan warga lokal, khususnya pengelola pondok wisata, dalam aspek merapikan tempat tidur dan seni melipat handuk. Berdasarkan hasil pretest dan post peserta menunjukkan peningkatan signifikan, yang mencerminkan efektivitas metode pelatihan berbasis ceramah, demonstrasi, dan praktik langsung. Keberhasilan ini menegaskan pentingnya keterampilan tata graha dalam mendukung layanan akomodasi yang lebi h profesional, meningkatkan daya tarik pondok wisata, dan menciptakan pengalaman menginap yang lebih baik bagi wisatawan. Program ini memberikan peluang bagi akademisi untuk mengadakan pelatihan serupa di desa wisata lain, dengan fokus pada kebutuhan spesifik komunitas guna meningkatkan kapasitas masyarakat secara berkelanjutan. Pengelola pondok wisata diharapkan dapat konsis menerapkan keterampilan yang telah diperoleh untuk meningkatkan kualitas layanan mereka. Selain itu, pemerintah disarankan untuk mendukung pelatihan tata graha di desa wisata melalui alokasi dana dan kolaborasi lintas sektor guna mendorong pengembangan pariwisata berbasis komunitas yang berkelanjutan. Keberhasilan program ini membuktikan bahwa pemberdayaan masyarakat melalui peningkatan keterampilan dapat memberikan dampak positif terhadap ekonomi lokal dan daya saing destinasi wisata. DAFTAR PUSTAKA