ISSN : 2615-1537 E-ISSN : 2615-2371 Jurnal Perikanan Pantura (JPP) Volume 9 . Nomor 1. Maret 2026 ANALISA KANDUNGAN KIMIA DAN BIOAKTIF SENYAWA GOLONGAN FLAVONOID DAN FENOLIK PADA EKSTRAK ALGA COKLAT Padina australis DARI PERAIRAN PESISIR TELUK AMBON Vonda Milca N Lalopua1*. Febriyanti 1 Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Pattimura Jl. Mr Chr. Soplanit Poka Ambon. korespondensi : vondamilcanight@gmail. ABSTRACT Padina sp. is one of the brown algae commonly found in coastal waters of tropical regions. Padina sp. has economic value and has been utilized for industrial purposes. The objective of this study was to examine the moisture and ash content, as well as detect bioactive compounds of flavonoids and phenolics from methanol extracts of P. australis algae growing in the coastal waters of Eri. Laha, and Tawiri. Teluk Ambon. Algae sampling was conducted during low tide with measurements of water temperature, salinity, and pH. The algae were prepared into dry simplicia and then extracted with methanol . :3 b/. using maceration for 24 hours. Moisture content was analyzed using the oven air method, and ash content was analyzed using direct Berikut adalah terjemahan teks tersebut ke dalam Bahasa Inggris:"Phytochemical analysis of P. australis extracts was performed using FeCl3 and magnesium HCl solutions to detect phenolic and flavonoid compounds. The results revealed that the moisture content of P. australis from three locations ranged from 14. 23% to 16. 92%, meeting the Indonesian National Standard (SNI) for dried seaweed. The ash content of P. 37%-29. 33%) from the coastal waters of Eri also met the SNI. Methanol extracts of P. australis from the coastal waters of Eri. Laha, and Tawari were found to contain flavonoid and phenolic compounds, with the exception of the coastal waters of Laha, which showed negative results for phenolics. Ambon Bay detected the presence of flavonoid and phenolic compounds, except for negative phenolic results at Tawiri and Laha beaches. Keywords: ash, flavonoids, moisture. australis, phenolics. ABSTRAK Padina sp. adalah salah satu alga coklat yang banyak ditemukan di perairan pesisir wilayah Padina sp memiliki nilai ekonomi dan telah dimanfaatkan untuk kebutuhan industri. Tujuan penelitian untuk mengkaji kadar air dan abu serta deteksi senyawa bioaktif flavonoid dan fenolik dari ekstrak metanol alga P. australis yang tumbuh di perairan pantai Desa Eri. Laha dan Tawiri Teluk Ambon. Pengambilan sampel alga dilakukan pada saat surut dengan pengukuran suhu, salinitas dan pH perairan. Alga dipreparasi menjadi simplisia kering kemudian di ekstraksi dengan metanol . :3 b/. secara maserasi selama 24 jam. Kadar air dianalisis dengan metode oven udara dan kadar abu dengan pengabuan langsung. Deteksi fenolik dan flavonoid menggunakan uji fitokimia dengan larutan FeCl3 dan magnesium HCl. Hasil analisa menunjukkan kadar air P,autralis di 3 lokasi berkisar 14,23 %-16,92% dan SNI rumput laut kering sedangkan kadar abu P. ,37 %-29,33%) dari perairan pantai Eri yang memenuhi SNI. Ekstrak metanol P. australis dari perairan pantai Eri, laha dan Tawari terdeteksi senyawa golongan flavonoid dan fenolik kekecualian pada perairan pantai Tawiri dan Laha fenolik negatif. Kata kunci : P. australis, air, abu, flavonoid, fenoilk ISSN : 2615-1537 E-ISSN : 2615-2371 Jurnal Perikanan Pantura (JPP) Volume 9 . Nomor 1. Maret 2026 PENDAHULUAN Keanekaragaman sumberdaya hayati yang tinggi ditemukan di wilayah pesisir meliputi kelompok makro alga. Makro alga melekat pada beberapa substrat keras seperti karang, lumpur, pasir dan batu atau benda keras lainnya. Makro alga tumbuh dan berkembang pada substrat yang tidak mudah terkikis oleh arus dan ombak (Dawes, 1. Pulau Ambon di Provinsi Maluku adalah wilayah pesisir memiliki potensi keanekaragaman jenis rumput laut yang tersebar di perairan Teluk Ambon sebanyak 21 spesies (Litay et al. , 2. dimana salah satu spesies yang banyak ditemukan adalah Padina australis. P australis adalah kelompok alga coklat yang melimpah dan tersebar hampir di seluruh pantai berbatu. Padina mudah ditemukan pada kedalaman 2-20 meter atau pada daerah yang tergenang air. Alga ini berbentuk thalus seperti kipas, membentuk segment-segment lembaran tipis atau disebut lobus bentuk garis dengan rambut atau radial dan perkapuran yang terdapat pada permukaan daun sehingga terdapat warna kekuningan hingga warna putih. Alga memiliki holdfast dan pelekat menyerupai cakram kecil dengan serabut, bentuk lobus agak melebar, bagian pinggiran rata dan terdapat lekukan di bagian puncaknya dan pada bagian ujung terdapat dua lapisan sel. australis ditemukan di daerah rataan terumbu karang yang sering terkena hempasan (Palallo, 2. australis berwarna coklat karena kandungan pigmen fucoxantin (Budi et al. , 2. Kemenangan et al. , . melaporkan bahwa P. australis dapat dimanfatkan untuk pengembangan produk. australis termasuk kelompok alga coklat bernilai ekonomi telah dimanfaatkan untuk pakan ternak, supplemen, pupuk hingga antimikroba (Saloso et al. , 2. Makroalga merupakan bahan pangan yang mudah rusak sehingga harus segera ditangani pasca panen. Umumnya alga dijemur setelah di panen. Pengeringan adalah proses yang penting untuk meningkatkan umur simpan dan memudahkan proses penyimpanan serta Faktor-faktor seperti suhu, kelembaban, aliran udara, dan waktu pengeringan dapat mempengaruhi proses pengeringan. Analisa kadar air penting dilakukan untuk produk pangan segar maupun kering dan dihubungkan dengan indeks kestabilan selama penyimpanan. Produk kering cenderung lebih awet daripada produk segar karena kadar airnya lebih rendah dari produk segar. Analisa kadar abu produk pangan menunjukkan kandungan mineral, deteksi kebersihan atau kemurnian bahan tersebut. Penentuan kadar abu merupakan tahapan awal untuk analisis kadar mineral. Analisa kadar air dan abu adalah bagian dari kandungan proksimat untuk evaluasi nilai nutrisi produk pangan. Analisis kadar air dan kadar abu rumput laut kering memiliki beberapa manfaat, antara lain dapat membantu mengontrol kualitas produk rumput laut kering, mengoptimalkan proses pengolahan rumput laut agar hemat waktu dan biaya dan mengurangi risiko kerusakan produk selama penyimpanan dan transportasi. Kadar air dan abu rumput laut kering dapat bervariasi tergantung pada jenis rumput laut, metode pengeringan, dan kondisi penyimpanan. Kadar air rumput laut berkisar 10-15%. Jika kadar air tinggi dapat terjadi pertumbuhan mikroorganisme hingga kerusakan rumput laut tetapi rumput laut dapat menjadi rapuh dan mudah pecah jika kadar air terlampau rendah. Kadar abu rumput laut kering berkisar 15-25%. Kadar abu yang tinggi dapat menyebabkan rumput laut menjadi tidak seimbang atau tidak stabil. Sedangkan kadar abu yang sangat rendah dapat menyebabkan rumput laut menjadi kurang efektif dalam mengikat ion-ion logam berat. Nilai kadar air dan abu rumput laut dapat bervariasi tergantung pada jenis rumput ISSN : 2615-1537 E-ISSN : 2615-2371 Jurnal Perikanan Pantura (JPP) Volume 9 . Nomor 1. Maret 2026 laut dan metode pengeringan. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis kimia untuk menentukan kadar air dan abu yang tepat untuk rumput laut kering P. Kandungan bioaktif dari organisme laut menjadi fokus riset para peneliti karena senyawa bioaktif memiliki struktur kimia dan aktivitas farmakologi seperti anti kanker, antioksidan, antibakteri dan lain lain. Senyawa bioaktif adalah nutrisi atau non nutrisi yang dapat menghasilkan efek fisiologis di luar sifat nutrisinya. Senyawa bioaktif alga bermacammacam baik karakteristik, kandungan maupun aktivitas biologisnya, dan dipengaruhi oleh lokasi dan habitat tempat tumbuh alga meliputi faktor lingkungan seperti radiasi cahaya ultra violet, suhu, tekanan osmotik, desikasi, pencemaran logam berat serta polutan. yang berpotensi untuk membentuk radikal bebas sebagai penyebab utama reaksi oksidasi lipida. (Crig et al. 2001 dalam Lalopua, 2. Padina sp dilaporkan mengandung senyawa fenolik berupa florotanin yang berfungsi sebagai barier terhadap radiasi sinar ultra violet (Henry & Alystyne 2004. Chojnacka et al. Padina sp mengandung senyawa flavonoid dan fenolik (Svobodovy et Prasiddha et al. Beberapa riset telah dibuktikan bahwa Padina sp memiliki aktivitas anti fungi dan anti bakteri. Eksplorasi senyawa bioaktif berbagai organisme di wilayah pesisir untuk pendayagunaan sumberdaya laut yang berfokus pada bioteknologi kelautan sangat penting dilakukan. Eksplorasi kandungan kimia termasuk bioaktif P. australis dari perairan Teluk Ambon belum ada informasinya sehingga penelitian ini penting dilakukan. Tujuan penelitian untuk mengkaji kadar air dan abu serta deteksi keberadaan senyawa golongan flavonoid dan fenolik dari ekstrak metanol alga P. australis di perairan pantai Eri. Laha dan Tawiri. METODE PENELITIAN Bahan Dan Alat. Bahan baku yang digunakan adalah makroalga P. australis yang diambil dari pantai Eri. Tawiri dan Laha pada bulan Maret 2024 waktu pagi . 00 wit. Bahan kimia untuk deteksi senyawa fenol adalah besi . klorida dan serbuk magnesium dan asam klorida pekat untuk deteksi flavonoid. Peralatan yang digunakan adalah pisau, keranjang, wadah plastik dan blender. Cawan porselin, timbangan analitik, oven, penjepit cawan, dan desikator untuk analisa kadar air dan Peralatan untuk skrining senyawa bioaktif adalah peralatan gelas (Gelas ukur, gelas kimia, tabung reaksi,pipet, corong, stirer, pengadu. timbangan analitik, kertas saring, pompa vakum, lemari asam, rotary evaporator. Metode Metode yang digunakan adalah metode analisa Laboratorium dan kualitatif deskriptif. Prosedur Kerja penelitiian dilakukan dalam tahapan berikut ini Preparasi sampel Alga P. australis diperoleh dari pantai Eri. Tawiri dan Laha pada saat surut . ulan Maret 2024, 08. 00 wi. kemudian dicuci dengan air laut hingga bersih dan dibilas dengan air Sampel dikering anginkan dan dipotong untuk memperkecil ukuran. Setelah itu dihaluskan dengan blender menjadi serbuk. Analisa kadar air dan kadar abu Analisa kadar air dan kadar abu mengacu pada metode AOAC ( 2. Kadar air dihitung sebagai selisih bobot sampel sebelum dan sesudah proses pengeringan. Analisa kadar abu dilakukan dengan mendestruksi komponen organik contoh pada suhu tinggi sekitar 50025 ISSN : 2615-1537 E-ISSN : 2615-2371 Jurnal Perikanan Pantura (JPP) Volume 9 . Nomor 1. Maret 2026 600AC di dalam tanur pengabuan sampai terbentuk abu berwarna putih keabuan dan mencapai berat konstan. Data kadar air dan abu merupakan rataan dari 3 ulangan analisa. Ekstraksi dan deteksi bioaktif Sampel sebanyak 100 gram kering dimaserasi dengan 500 mL pelarut metanol pa . :5 b/. dalam gelas erlenmeyer. Maserasi berlangsung 3 hari kemudian filtrat disaring dan residu. Filtrat dievaporasi pada suhu 40AC dengan rotary evaporator hingga memperoleh bentuk lebih pekat. Skrining senyawa Flavonoid (Gritter et al, 1. Ambil ekstrak pekat masukkan dalam tabung reaksi kemudian tetesi dengan HCl pekat dan serbuk magnesium. Amati perubahan warna. Adanya flavonoid ditandai dengan terbentuk warna merah . Skrining Senyawa Fenolik (Gritter et al. , 1. Ambil ekstrak pekat, masukkan dalam tabung reaksi dan tambahkan larutan FeCl 3, jika timbul warna hijau sampai ungu menunjukkan positif adanya senyawa fenol. HASIL DAN PEMBAHASAN Sampel di ambil dari 3 lokasi yaitu Pantai Eri. Laha dan Tawiri . australis tumbuh di antara bibir pantai yang selalu tergenang air laut baik pasang maupun surut. Pantai Eri adalah wilayah pasang surut yang cukup sempit, dengan pantai bersubstrat keras tersusun dari batu, pasir maupun karang dan hempasan gelombang yang kuat. Pantai Eri dicirikan dengan tebing yang mengelilingi disekitarnya (Lokollo,2. Pantai Laha juga adalah wilayah pasang surut yang relatif sempit dengan substrat bebatuan kecil serta hempasan gelombang yang kuat. Pantai Tawiri bersubstrat cenderung berpasir dengan sedikit bebatuan kecil. Hempasan gelombang di Pantai Tawiri cenderung lambat dan lemah. Tabel 1. Hasil Analisis kimia makroalga P. australis dari pantai Eri. Tawiri dan Laha disajikan Analisa Lokasi Eri Lokasi Lokasi Tawiri SNI Laha 2690:2015 Kadar Air (%) 16,923a 14,233b Max 30 % Kadar abu (%) 23,373c 27,69b 29,33a Max 25, 0% Hasil analisis kadar air P,australis dari 3 perairan pantai berkisar 14,23 %-16,92 % bk. Padina dari Tawiri memiliki kadar air terendah sebesar 14,233 % dan berbeda secara signifikan dari Pantai Eri dan Laha. Sementara Padina dari pantai Eri dan Laha memiliki kadar air tertinggi tetapi tidak berbeda signifikan satu dengan yang lain. Berdasarkan SNI 2690:2015 adalah Standar penetapan syarat mutu dan keamanan pangan, bahan baku, serta penanganan rumput laut kering untuk industri . Kadar Air maksimum 30,0 % dan kadar abu: maksimum 25,0%. Kadar air P. australis dipengaruhi oleh proses pengeringan yang dilakukan untuk mengurangi kandungan air. Rumput laut dengan kadar air yang baik akan memiliki kualitas yang baik. Persentase kadar air rumput laut dipengaruhi oleh habitat dan lingkungannya (Masela, 2. Karakteristik sampel maupun kondisi selama pengeringan dapat berpengaruh ISSN : 2615-1537 E-ISSN : 2615-2371 Jurnal Perikanan Pantura (JPP) Volume 9 . Nomor 1. Maret 2026 terhadap nilai kadar air (Andarwulan et al, 2. Kadar air P. australis dipengaruhi oleh suhu Menurut Destri . bahwa semakin tinggi suhu pengeringan maka kadar air akan menurun karena penguapan air dari bahan lebih cepat yang menyebabkan kadar air semakin rendah. Selain itu jenis bahan dan ukuran rumput laut juga turut mempengaruhi tinggi rendahnya kadar air. Kadar abu merupakan zat anorganik bahan hasil pembakaran. Zat anorganik tersebut berupa garam mineral seperti kalsium, kalium, fosfor, besi, magnesium dan lain-lain. Rataan kadar abu dari masing-masing perairan yang tertinggi dari pantai Tawiri, 29,33% dan berbeda signifikan dari Laha. Sedangkan kadar abu Padina dari pantai Eri terendah . ,330%) dan berbeda signifikan dengan Tawiri dan laha. Kadar abu P. australis dari 3 perairan pantai bervariasi dimana kadar abu dari pantai Eri dapat memenuhi SNI 2015 (<25 %). Hasil menunjukkan bahwa semakin rendah kadar air maka kadar abu meningkat. Menurut Destri . peningkatan kadar abu disebabkan oleh suhu dan waktu yang digunakan. Semakin tinggi suhu dan waktu pengabuan dapat meningkatkan kadar abu karena suhu tinggi akan menguapkan lebih banyak air dari bahan yang dikeringkan. Kadar abu bahan yang sebelumnya mengalami proses pengeringan cenderung meningkat karena air yang keluar dari dalam bahan semakin besar. Kandungan garam mineral pada rumput laut juga berpengaruh terhadap nilai kadar abu (Winarno, 1. Kadar abu rumput laut dapat bervariasi di lokasi yang berbeda karena beberapa faktor, antara lain Kualitas air, jenis subsrat dan kondisi lingkungan serta jenis rumput laut. Kualitas air di lokasi budidaya rumput laut dapat mempengaruhi kadar abu. Air yang mengandung banyak mineral dan logam berat dapat meningkatkan kadar abu rumput laut. Jenis subsrat yang mengandung banyak mineral atau logam berat dapat meningkatkan nilai kadar abu. Kondisi lingkungan yang terkena polusi udara atau air dapat meningkatkan kadar abu rumput laut. Beberapa jenis rumput laut memiliki kadar abu yang lebih tinggi daripada jenis lainnya. Faktor kondisi cuaca di lokasi rumput laut dapat mempengaruhi kadar abu. Curah hujan yang tinggi dapat meningkatkan kadar abu rumput laut. Johanes et al . , . melaporkan komposisi kimia Padina sp dari perairan Woba Kabupaten Sumba Timur : kadar air 12,37% dan kadar abu 28,83% Terdapat hubungan antara kadar air dengan kadar abu rumput laut. Jika kadar air tinggi maka kadar abu akan rendah. Kadar air tinggi dapat melarutkan sebagian besar mineral atau logam berat yang terkandung dalam rumput laut, sehingga kadar abu menjadi rendah (Tamaheang, 2. Kadar air yang tinggi dalam rumput laut juga akan memperlambat proses pengabuan (Maya et al. , 2. Hal ini karena air yang terkandung dalam rumput laut harus diuapkan terlebih dahulu sebelum proses berlangsung. Proses pengeringan yang lambat dapat menyebabkan penurunan kadar abu. Kadar air yang tinggi . maka kadar abu akan turun. Maharany et al. melaporkan komposisi kimia P. australis adalah kadar air 87. 25% dan kadar abu 2. Kadar air rumput laut yang tinggi dapat memicu aktivitas mikroba yang dapat menguraikan sebagian besar mineral dan logam berat yang terkandung dalam rumput laut, sehingga kadar abu menjadi rendah. Kandungan air dalam rumput laut dapat mempengaruhi struktur sel rumput laut. Air dalam sel rumput laut dapat menyebabkan penurunan kadar abu. ISSN : 2615-1537 E-ISSN : 2615-2371 Jurnal Perikanan Pantura (JPP) Volume 9 . Nomor 1. Maret 2026 Deteksi senyawa Flavonoid dan Fenolik Tabel 2. Deteksi Senyawa Flavonoid dan Fenolik ekstrak metanol makro alga P. australis di perairan pantai Eri. Laha dan Tawiri. Lokasi Lokasi eri Lokasi Tawiri Lokasi laha Flavonoid Fenolik Keterangan Terbentuk warna Warna tidak Keterangan : = positif - = negatif Tabel 2 menunjukkan bahwa ekstrak metanol P. australis positif ( ) mengandung flavonoid tetapi negati (-) kandungan fenolik dari pantai Laha. Hasil positif pada uji flavonoid menunjukkan keberadaan senyawa flavonoid dalam ekstrak metanol P. australis yang ditunjukkan dengan terbentuk warna merah setelah ekstrak di tetesi dengan campuran HCl dan serbuk magnesium. Menurut Satyajit . flavonoid yang bereaksi dengan mg setelah penambahan asam klorida pekat akan membentuk warna merah sebagai indikasi flavonoid mengalami reaksi reduksi oleh HCl sehingga mengalami perubahan serapan cahaya ke arah panjang gelombang yang lebih besar. Penambahan serbuk Mg dan HCl pada deteksi flavonoid dimaksudkan untuk memutuskan ikatan antara glikosida dengan flavonoid. Kemudian, ditambahkan dengan amil alkohol untuk menarik flavonoid yang bersifat polar (Santos, et al. Ekstrak metanol P. australis dari pantai Eri. Tawiri dan laha terdeteksi adanya flavonoid. Jenis rumput laut tertentu dapat mengandung senyawa bioaktif yang sama pada lokasi yang berbeda, karena faktor genetik. Jenis rumput laut yang sama memiliki genetik yang sama, sehingga dapat menghasilkan senyawa bioaktif yang sama (Anne et al. , 2. Meskipun lokasi berbeda, jika kondisi lingkungan seperti suhu, salinitas, dan intensitas cahaya sama, maka jenis rumput laut yang sama dapat menghasilkan senyawa bioaktif yang sama. Selain itu rumput laut yang mampu beradaptasi dengan lingkungan baru dapat menghasilkan senyawa bioaktif yang sama. Adanya variasi pada lokasi, faktor biotik dan abiotik turut berpengaruh terhadap kandungan senyawa bioaktif. Kondisi lingkungan yang berbeda pada lokasi yang berbeda dapat mempengaruhi komposisi senyawa bioaktif pada jenis rumput laut yang sama. Faktor abiotik seperti suhu, salinitas, dan intensitas cahaya dapat mempengaruhi komposisi senyawa bioaktif pada jenis rumput laut yang sama. Faktor biotik seperti interaksi dengan organisme lain juga mempengaruhi komposisi senyawa bioaktif pada jenis rumput laut yang Tabel 2 menunjukkan bahwa ekstrak metanol P. australis dari pantai Laha tidak mengandung . otasi -) senyawa fenolik sedangkan pantai Eri dan Tawiri positif kandungan Alga coklat Padina sp dilaporkan terdeteksi kandungan senyawa fenolik oleh Hidayah et al. Padina sp asal perairan pantai Londalina Kabupaten Sumba Timur terdeteksi senyawa fenolik (Ndahawali et al. , 2. Hasil negatif adanya fenolik dalam ekstrak metanol australis diduga karena fenol rusak akibat aktivitas enzim. Senyawa fenolik sangat peka terhadap oksidasi enzim sehingga kemungkinan rusak aktivitas biologisnya. Aktivitas enzim fenolase dapat merusakan fenolik selama proses preparasi rumput laut . ambatnya proses Widyasari et al . menyatakan sedikitnya jumlah polifenol dalam ekstrak ISSN : 2615-1537 E-ISSN : 2615-2371 Jurnal Perikanan Pantura (JPP) Volume 9 . Nomor 1. Maret 2026 dapat memberi hasil negatif. Faktor internal seperti perubahan metabolisme dan struktur sel seiring pertumbuhan dan perkembangan rumput laut juga dapat mempengaruhi produksi senyawa bioaktif. Terdapat pengaruh kadar abu rumput laut dengan kandungan fenolik dan flavonoidnya. Kadar abu yang tinggi dapat menandakan adanya kontaminasi mineral dalam rumput laut. Kontaminasi mineral dapat mempengaruhi kandungan fenolik dan aktivitas antioksidannya. Kadar abu yang tinggi dapat mempengaruhi pH rumput laut. Perubahan pH dapat mempengaruhi kandungan fenolik dan aktivitas antioksidannya. Kadar abu yang tinggi dapat mempengaruhi proses oksidasi dalam rumput laut. Oksidasi dapat mempengaruhi kandungan fenolik dan aktivitas antioksidannya. Beberapa penelitian telah menemukan korelasi antara kadar abu dan kandungan fenolik/flavonoid dalam rumput laut. Kadar abu yang tinggi dapat berkorelasi dengan kandungan fenolik yang rendah dan kadar abu yang rendah dapat berkorelasi dengan kandungan flavonoid yang tinggi. Korelasi antara kadar abu dan kandungan fenolik/flavonoid dapat dipengaruhi oleh jenis rumput laut, kondisi lingkungan, dan proses pengolahan. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian kadar air makroalga P. australis kering dari perairan pantai Eri. Laha dan Tawiri di pesisir pulau Ambon memenuhi SNI rumput laut kering sedangkan kadar abu P. australis dari perairan pantai Laha dan Tawiri tidak memenuhi SNI (> 25%). Ekstrak metanol P. australis di 3 lokasi perairan pantai pesisir Teluk Ambon terdeteksi senyawa flavonoid dan fenolik kecuali P. australis negatif dari pantai Tawiri dan Laha. DAFTAR PUSTAKA