Lifelong Education Journal https://journal. id/index. php/lej Vol. No. Bulan APRIL Tahun 2023 ISSN: e 2776-785X Implementasi Prinsip Pendidikan Orang Dewasa pada Pelatihan Tata Busana di Satuan Pendidikan Non Formal SKB Ungaran Rana Indah Setiawati11A. Imam Shofwan2 1,2 Pendidikan Luar Sekolah. Universitas Negeri semarang Email : ranaindahsetia@students. id, ishofwan@mail. Article history: Received: 2023-01-25 Revised: 2023-04-16 Accepted: 2023-04-28 ABSTRACT Pelatihan dan kursus memiliki peran penting dalam menyiapkan sumber daya manusia yang terampil, tetapi pada kenyataannya masih banyak program pendidikan orang dewasa yang mengabaikan kualitas pembelajaran. Berdasarkan hal tersebut perlu adanya pembelajaran partisipatif sesuai dengan prinsip-prinsip pendidikan orang dewasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: . Implementasi Konsep Diri dalam pembelajaran pelatihan Tata Busana. Implementasi pengalaman belajar dalam pembelajaran pelatihan Tata Busana. Implementasi kesiapan belajar pada pelatihan Tata Busana. Implementasi orientasi belajar orang dewasa pada pelatihan Tata Busana. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif menggunakan teknik pengumpulan data melalui observasi pelaksanaan kegiatan pelatihan Tata Busana, wawancara tentang kegiatan pembelajaran dengan jumlah kepala SKB, 2 instruktur, dan 5 peserta pelatihan. Dokumentasi yang dibutuhkan berupa modul. RPP, dan laporan pelaksanaan pelatihan. Keabsahan data menggunakan triangulasi sumber . awancara,dokumentasi,dan observas. dan teknik analisis data dilakukan dengan cara mengumpulkan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil Penelitian ini meliputi: . Implementasi konsep diri: peserta pelatihan tidak terlibat langsung dalam proses perencanaan pembelajaran, tetapi dilibatkan dalam kesepakatan-kesepakatan saat proses pembelajaran dan pada tahap evaluasi. Implementasi pengalaman belajar: pembelajaran yang diterapkan SKB Ungaran berbasis proyek . roject based learnin. Implementasi kesiapan belajar: pembelajaran orang dewasa di SKB Ungaran relevan dengan karir dan kehidupan peserta pelatihan. Implementasi orientasi belajar: para peserta pelatihan mendapat dorongan yang cukup dari instruktur saat mendapat masalah dalam pembelajaran. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu pelaksanaan pembelajaran orang dewasa perlu menerapkan prinsip-prinsip orang dewasa dengan melibatkan peserta didik dalam pembelajaran, merancang pembelajaran menekankan pada prinsip eksperimental, menyesuaikan pembelajaran yang dapat langsung diterapkan . Kata Kunci: Prinsip Pendidikan Orang Dewasa. Pendidikan Orang Dewasa. Pelatihan Tata Busana ABSTRACT Training and courses play a vital role in training qualified human resources, yet many adult education programs still overlook learning quality. Based on this, interactive learning in accordance with adult education principles is required. The purpose of this study is to discover: . the implementation of self-concept in fashion training. the implementation of learning experiences in fashion training. the implementation of learning readiness in fashion training. the implementation of adult learning orientation in clothing design training. This study is a descriptive qualitative study that collected data by monitoring the execution of Clothing Design training activities, conducting interviews regarding learning activities with a number of LCS heads, two instructors, and five training students. Modules, lesson plans, and training implementation reports are all necessary documents. The validity of the data is determined through source triangulation . nterviews, documents, and observation. , and data analysis techniques are used to acquire data, reduce data, present data, and make conclusions. This study's findings include: . Self-concept implementation: trainees are not directly involved in the learning planning process, but they do participate in agreements during the learning process and at the evaluation stage. Learning experience implementation: project-based learning is applied in the Ungaran SKB. Learning readiness implementation: adult learning at SKB Ungaran is relevant to trainees' vocations and lives. Learning orientation implementation: trainees receive adequate encouragement from the teacher when they encounter difficulties in learning. This study concluded that adult learning implementation must apply adult principles by incorporating students in learning, designing learning that emphasizes experimental principles, adapting learning that can be directly applied, and having a learning orientation. Keywords: Principles of Adult Education. Adult Education. Fashion Training Lifelong Education Journal https://journal. id/index. php/lej Vol. No. Bulan APRIL Tahun 2023 ISSN e 2776-785X PENDAHULUAN Pelatihan dan kursus memiliki peran penting dalam menyiapkan sumber daya manusia yang Lebih lanjut, sumber daya manusia (SDM) dinilai sebagai masalah yang sangat urgen pada era globalisasi saat ini. Tantangan tersebut justru hadir dari dalam negeri yaitu, bagaimana cara meningkatkan kualitas tenaga kerja agar memiliki daya saing yang tinggi. Tenaga kerja harus memiliki kemampuan untuk memasuki pasar kerja secara global, memiliki kemampuan untuk mandiri, dan dapat membuka peluang kerja sendiri(Widiastuti, 2021: . Era globalisasi memungkinkan kemajuan teknologi yang begitu pesat sehingga memudahkan pengguna. Ini memiliki efek pada mobilitas dan perubahan signifikan di banyak sektor di sekitarnya. Penggunaan alat-alat industri yang semula menggunakan mesin dan peralatan sederhana namun kemudian beralih ke yang lebih canggih dan modern, merupakan salah satu industri yang mengalami Era revolusi 4. 0 telah menstimulasi beberapa perkembangan signifikan yang terjadi di berbagai ranah industri, salah satunya adalah kebutuhan akan kompetensi kerja (Verawadina et al. Kompetensi merupakan salah satu aspek yang menentukan dalam mendongkrak kinerja dalam melaksanakan pekerjaan sesuai dengan target industri (Tanjung & Elizar, 2018: . Kompetensi diperlukan bagi calon tenaga kerja untuk dapat diterapkan di dunia industri agar tidak terjadi disparitas antara kemampuan dan kenyataan yang ada. Alhasil, setiap pekerja diharapkan memiliki standar kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri. Kompetensi merupakan modal awal bagi siapa saja untuk mengembangkan diri, mengasah bakat, dan mencari pekerjaan sesuai bidang ilmunya (Sulistyanto et al. , 2021: . Kemampuan sumber daya manusia yang ada di suatu negara dapat dimaksimalkan dengan memberikan pendidikan yang sebaik-baiknya guna mewujudkan masyarakat yang hebat. Karena kemampuannya, sumber daya manusia yang kompeten dianggap mampu membangun suatu negara menjadi lebih maju. Setiap potensi individu bercita-cita mewujudkan fungsi makhluk sosial agar mampu beradaptasi dan bertransformasi secara optimal guna menjalani kehidupan yang lebih sejahtera (Kisworo, 2012: . Sumber daya manusia yang berkualitas merupakan unsur penggerak laju pertumbuhan, demikian pula sebaliknya, sehingga masyarakat memegang peranan penting dalam pembangunan suatu negara. Pendidikan nonformal merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja potensial. Pendidikan nonformal berfungsi untuk mengembangkan potensi dengan menekankan pada pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pembentukan sikap dan kepribadian profesional (Husein & Sutarto, 2017: . Pendidikan nonformal menunjang pembelajaran sepanjang hayat dalam masyarakat dengan berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan pelengkap pendidikan formal. Sistem pembelajaran pendidikan nonformal digunakan secara fleksibel, tanpa batas usia atau status sosial, sehingga memungkinkan semua lapisan masyarakat untuk berpartisipasi (Saputra & Mulyono, 2015: . Problem utama yang kerap ditemui dalam lembaga pendidikan orang dewasa adalah tidak adanya proses pembelajaran yang interaktif. Peran para warga belajar hanya menjadi penerima materi kemudian minim partisipasi selama kegiatan pembelajaran (Kisworo, 2017: . Keadaan pembelajaran seperti itu sudah mengabaikan terhadap prinsip pembelajaran orang Lembaga pendidikan yang melayani pendidikan orang dewasa seperti Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Ungaran tentunya memiliki urgensi untuk menerapkan konsep pendidikan orang dewasa agar dapat menghasilkan sumber daya manusia berkualitas, berbakat, serta mencerminkan tujuan SKB, yang diwujudkan dalam visi lembaga. Pasalnya, untuk menyelenggarakan pendidikan yang efektif, diperlukan penerapan prinsip-prinsip yang memadai (Budiwan, 2. Page 40 of 21 Implementasi Prinsip Pendidikan Orang Dewasa pada Pelatihan Tata Busana di Satuan Pendidikan Non Formal SKB Ungaran Rana Indah Setiawati1 Imam Shofwan2 Malcolm Knowles . menyebutkan terdapat 4 asumsi prinsip-prinsip pendidikan orang dewasa . Orang dewasa harus terlibat dalam perancangan dan penetapan tujuan pembelajaran. Pengalaman adalah salah satu bentuk pendidikan. Orang dewasa lebih tertarik untuk belajar tentang topik yang sangat relevan dengan karir dan kehidupan pribadi mereka. Pembelajaran yang berpusat pada masalah membutuhkan dorongan dan motivasi karena lebih terfokus pada kesulitan (Knowles, 1980: . Sangat penting bagi lembaga pendidikan seperti SKB Ungaran yang terlibat langsung dalam pendidikan orang dewasa untuk menggunakan prinsip-prinsip tersebut sebagai pedoman ketika melaksanakan program pendidikannya. Secara umum, pendidikan dapat dibagi menjadi dua: pendidikan pedagogi dan pendidikan Secara harfiah pedagogi dapat diartikan sebagai memimpin anak. Dari bahasa Latin. Pedagogi bermakna mengajari anak. Sedangkan dalam bahasa Inggris, istilah pedagogi . merujuk pada teori pengajaran. Secara Tradisional istilah pedagogi memiliki arti seni mengajar (Hiryanto, 2017:. Murphy . dalam(Shah. K, 2021: . menjabarkan arti dari pedagogi sebagai gambaran hubungan dan interaksi antara guru, siswa dan lingkungan belajar serta tugas Sedangkan, pendidikan orang dewasa yang juga dikenal sebagai pengajaran orang dewasa adalah studi tentang memimpin atau membimbing orang dewasa, sering dikenal sebagai andragogi (Padmowihardjo, 2014: . Perbedaan mencolok dari keduanya adalah pedagogi merupakan pendidikan anak, sedangkan andragogi adalah pendidikan orang dewasa. Kesimpulannya. Andragogi adalah proses belajar terus menerus yang akan terus ada selama manusia itu ada. Pendidikan andragogi menempatkan warga belajar sebagai orang yang mandiri yang dirasa cakap menuntun diri sendiri. Dengan begitu, elemen penting dari pendidikan orang dewasa adalah kegiatan belajar yang dilakukan secara mandiri dan mengacu pada komunitas belajar secara keseluruhan, bukan tindakan guru yang mengajarkan sesuatu (Alif, 2018: . Pendidikan orang dewasa adalah suatu proses untuk mengembangkan minat belajar dan bertanya secara terus menerus sepanjang hidup. Orang dewasa belajar mengenai bagaimana mengarahkan diri sendiri pada rasa penasaran dan mencari jawabannya (Alamsyah, 2021: . Kegiatan pendidikan orang dewasa sendiri sangat luas. Mulai dari pelajaran membaca, menulis, sampai latihan-latihan yang sifatnya umum dan teknis. Orang dewasa memiliki kaitan langsung dengan permasalahan yang tengah terjadi di masyarakat. Maka kecakapan orang dewasa untuk menyelesaikan masalah merupakan kunci dari perkembangan masyarakat. Pemerintah Indonesia menciptakan suatu lembaga bernama Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) untuk memastikan semangat pendidikan orang dewasa ini terus berjalan. Pasal 1 Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 4 Tahun 2016 tentang Pengalihan Fungsi Sanggar Kegiatan Belajar menjadi Satuan Pendidikan Non Formal Sejenis. Sanggar Kegiatan Belajar memuat ketentuan pelaksanaan SKB . isingkat SKB) (Riyanto, 2020: . SKB merupakan satuan pendidikan non formal di bagian pelaksana teknis kedinasan yang bertanggung jawab ihwal pendidikan di kabupaten/kota. Sedangkan program Pendidikan Nonformal (PNF) merupakan program pemberdayaan masyarakat yang menitikberatkan pada pendidikan anak usia dini, pendidikan pemuda, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, dan pendidikan lainnya. Tujuannya adalah mengembangkan kemampuan warga belajar. Tanggung jawab umum SKB antara lain meluncurkan program pendidikan nonformal dan menghasilkan materi pembelajaran muatan lokal sesuai dengan kebijakan dinas pendidikan kabupaten/kota dan potensi lokal masing-masing daerah. SKB Ungaran yang berada di Kabupaten Semarang adalah salah satu SKB yang aktif menyelenggarakan pendidikan orang dewasa di Jawa tengah. Di bawah Disdikbudpora Kabupaten Semarang. SKB Ungaran merupakan satuan pelaksana teknis resmi berupa satuan pendidikan nonformal yang berfokus pada penyelenggaraan pendidikan masyarakat dan pendidikan anak usia SKB Ungaran memiliki semangat dalam mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas dengan karakter, produktivitas, inovasi yang mumpuni serta menguasai IPTEK. Untuk mewujudkan 41 | P a g e Lifelong Education Journal https://journal. id/index. php/lej Vol. No. Bulan APRIL Tahun 2023 ISSN e 2776-785X hal tersebut. SKB Ungaran berusaha memfasilitasi masyarakat dengan program pendidikan yang profesional dan berkelas. Terdapat dua jenis pendidikan yang ada di SKB Ungaran yaitu Pendidikan Anak Usia Dini berupa kelompok belajar dan taman kanak-kanak (KB dan TK) dan Pendidikan Orang Dewasa, meliputi Pendidikan kesetaraan, kursus, pelatihan kecakapan hidup, pelatihan kecakapan kerja, dan taman bacaan masyarakat. Menurut Artasasmita . dalam (Septiani, 2019: . kursus merupakan kegiatan pendidikan berbasis masyarakat yang sengaja, direncanakan, dan sistematis dilakukan untuk memberikan materi pelajaran tertentu kepada orang dewasa dalam waktu yang relatif singkat agar mereka memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dapat digunakan untuk mengembangkan diri dan masyarakat. Program kursus yang tersedia di SKB Ungaran di antaranya adalah Kursus Tata Kecantikan Kulit. Tata Boga. Tata Kecantikan Rambut. Menjahit. Hantaran. Technopreneurship. Teknologi Informasi (TI) untuk anak, dan Microsoft Office. SKB Ungaran, yang dikepalai oleh Bapak Imam Roos W. S Pd. berlokasi di Jl. Rindang Asih. Sembungan. Ungaran. Kecamatan Ungaran Barat. Semarang. Jawa Tengah. Ungaran Barat tercatat sebagai wilayah yang penduduknya sangat dominan bekerja di sektor Industri. Terdapat tiga lapangan kerja yang mendominasi sektor industri dan non industri di Kecamatan Ungaran Barat di antaranya adalah jasa kemasyarakatan, pemerintah & perseorangan, perdagangan dan industri. Sektor industri di Ungaran Barat telah mempekerjakan sebagian besar penduduk, dengan 6. 736 pekerja (Rofiah, 2018: . Kondisi ini memungkinkan SKB Ungaran menjadi lembaga strategis untuk mengakomodir orang-orang dewasa agar dapat meningkatkan kapasitas sesuai yang dibutuhkan. Maka pada riset ini peneliti ingin membahas mengenai sejauh mana prinsip-prinsip pendidikan orang dewasa ditegakkan di lembaga pendidikan nonformal seperti SKB Ungaran. SKB menjadi lembaga pendidikan nonformal yang strategis untuk mengambil peran sebagai ruang pendidikan orang dewasa di Ungaran. Kabupaten Semarang. Dengan lingkungan Ungaran yang marak dengan industri tekstil, maka peneliti perlu melakukan riset tentang implementasi pendidikan orang dewasa di program pelatihan tata busana SKB Ungaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan realitas lapangan mengenai penerapan pendidikan orang dewasa di kelas pelatihan tata busana SKB Ungaran. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti yaitu menggunakan penelitian kualitatif. Metode penelitian kualitatif adalah metode yang digunakan untuk meneliti pada obyek yang alamiah, dimana peneliti sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi, analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian yang didapatkan lebih menekankan terhadap makna dibandingkan pada generalisasi (Sugiyono, 2016:. Peneliti menggunakan pendekatan penelitian kualitatif deskriptif, karena dalam penyajian data berupa kata-kata, kalimat atau gambar yang memiliki makna dengan tujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih nyata. Selain itu, penelitian kualitatif deskriptif menekankan catatan pada deskripsi dengan kalimat yang lengkap, rinci, mendalam yang menggambarkan situasi yang sebenarnya dengan tujuan untuk mendukung penyajian data (Nugrahani, 2014: . Menurut Sugiono . metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat pospositivisme digunakan atau interpretif, digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah , dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi, data yang diperoleh cenderung data kualitatif , analisis data bersifat induktif/kualitatif dan hasil penelitian kualitatif bersifat untuk memahami makna, memahami keunikan, mengkontruksi fenomena, dan menentukan hipotesis. Bogdan dan Taylor dalam (Mamik, 2. mengemukakan metodotologi kualitatif sebagai prosedur penelitian Page 42 of 21 Implementasi Prinsip Pendidikan Orang Dewasa pada Pelatihan Tata Busana di Satuan Pendidikan Non Formal SKB Ungaran Rana Indah Setiawati1 Imam Shofwan2 yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif untuk menggambarkan situasi dan kondisi yang sebenarnya terjadi sesuai dengan fakta-fakta yang ada di Data yang sudah terkumpul kemudian diolah, dianalisis dan di proses lebih lanjut. Bodgan dan Taylor dalam (Moleong, 2. menyebutkan bahwa metode kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata tertulis maupun lisan dari sumber daya manusia yang telah diamati. Data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar dan bukan angka (Moleong, 2. Peneliti menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif ini dikarenakan untuk menggambarkan secara detail mengenai hal yang berkaitan dengan Implementasi Prinsip Pendidikan Orang Dewasa pada Pelatihan tata Busana di SKB Ungaran. Partisipan penelitian terdiri dari 2 instruktur Pelatihan dan Kursus Tata Busana dan 1 pengelola SKB, dan 5 peserta pelatihan. Penelitian berfokus pada . Implementasi Konsep Diri dalam pembelajaran pelatihan Tata Busana di SKB Ungaran. Implementasi pengalaman belajar dalam pembelajaran pelatihan Tata Busana di SKB Ungaran. Implementasi kesiapan belajar pada pelatihan Tata Busana di SKB Ungaran. Implementasi orientasi belajar orang dewasa pada pelatihan Tata Busana di SKB Ungaran. Kabupaten Semarang. Sumber data yang digunakan yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara: Observasi tentang proses pembelajaran yang dilaksanakan Wawancara tentang kegiatan pembelajaran terhadap narasumber dengan jumlah 2 instruktur Tata Busana. Kepala SKB Ungaran, dan 5 peserta pelatihan Dokumentasi yang dibutuhkan berupa modul pelatihan menjahit. RPP, kurikulum yang digunakan dan jadwal pembelajaran. Teknik analisis data dilakukan menggunakan milles and huberman. Teknik keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan teknik triangulasi data. Kriteria keabsahan data diaplikasikan dalam rangka memvalidasi hasil lapangan dengan fakta yang berada di lapangan. Keabsahan data dilakukan dengan meneliti kredibilitasnya menggunakan teknik triangulasi. Teknik triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data (Moleong, 2. Wiersma dalam (Sugiyono, 2. menjelaskan bahwa triangulasi dalam pengujian kredibilitas diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan waktu. Triangulasi data ini bertujuan untuk mencari kesamaan dari data/informasi yang didapatkan dengan sumber dan metode yang berbeda. Keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan teknik. Triangulasi ialah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu di luar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data yang telah ditemukan (Moleong, 2014: . Triangulasi sumber dilakukan untuk menguji kredibilitas data yang diperoleh melalui berbagai sumber dengan teknik yang sama untuk menghasilkan suatu kesimpulan (Sugiyono, 2018: . Sedangkan triangulasi teknik dilakukan untuk menguji keabsahan data dengan menggunakan teknik yang berbeda terhadap sumber yang sama (Sugiyono, 2018: . Adapun teknik riangulasi sumber yang eneliti lakukan yaitu mengumpulkan data melalui hasil wawancara dari beberapa sumber sehingga menghasilkan data yang sama. Proses penelitian dapat dijelaskan sebagai berikut: mengumpulkan data melalui observasi proses pembelajaran, wawancara dengan partisipan tentang kegiatan pelatihan Tata Busana, dan dokumentasi modul. RPP, kurikulum, dan kegiatan reduksi data dilakukan dengan memilih atau merangkum data-data yang diperlukan dari hasil penyajian data yang dilakukan oleh peneliti yaitu berupa kata-kata, kalimat, dan gambar dengan tujuan memberikan pemahaman yang lebih nyata. penarikan kesimpulan dilakukan berdasarkan hasil penelitian yang telah didapatkan di lapangan dengan menemukan penemuan seperti, peserta pelatihan tidak dilibatkan dalam proses perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran didasarkan pada kompetensi esensial yg 43 | P a g e Lifelong Education Journal https://journal. id/index. php/lej Vol. No. Bulan APRIL Tahun 2023 ISSN e 2776-785X dibutuhkan, menggunakan metode project based learning, dan mendorong motivasi peserta dengan penyediaan sarana prasarana yang mendukung proses pembelajaran. Berikut komponen analisis data Miles dan Huberman (Miles & Huberman, 1. Gambar 1 komponen analisis data Miles dan Huberman Adapun pengertian dari langkah-langkah tersebut yaitu: pengumpulan data, peneliti mendapatkan data melalui observasi secara langsung di lapangan, wawancara terhadap narasumber, serta dokumentasi berupa buku-buku yang mendukung dan sesuai dengan penelitian. Tahap reduksi data dilakukan untuk menyeleksi dan memfokuskan dan mengarahkan data-data dan informasi yang didapat selama pengamatan sehingga keseluruhan data yang didapat dapat lebih bermakna dan mendukung adanya penarikan kesimpulan. Penyajian data, penyajian data yang digunakan adalah dalam bentuk naratif, dimana informasi dan data-data yang didapatkan selama tahapan pengumpulan data disusun secara sistematis sehingga dapat mudah dipahami. Tahap verifikasi, peneliti akan mendapatkan jawaban secara singkat dari perumusan masalah yang telah dibuat sebelumnya. Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan sebelum dan selama penelitian berlangsung melalui berbagai sumber relevan dan berbagai cara yang telah ditetapkan. Reduksi data dilakukan dengan merangkum hal-hal yang akan diteliti yaitu mengenai Implementasi Prinsip Pendidikan Orang Dewasa pada Pelatihan Tata Busana di Satuan Pendidikan Non Formal SKB Ungaran. Data disajikan melalui tulisan atau teks yang bersifat dekskriptif/naratif. Kesimpulan dibuat berdasarkan pemahaman terhadap data yang telah disajikan dan dibuat dalam pernyataan singkat dan mudah dipahami berkaitan dengan pokok permasalahan yang diteliti. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Implementasi Konsep Diri Konsep diri mengisyaratkan bahwa orang dewasa memiliki kecenderungan untuk memilih bagaimana orang dewasa ingin diperlakukan dalam sebuah pembelajaran. Orang dewasa memandang dirinya mampu mengatur dirinya sendiri. Konsep diri adalah penilaian seseorang terhadap kemampuan dirinya sendiri dibandingkan dengan orang lain. Konsep diri terbagi menjadi dua, konsep diri akademik dan konsep diri sosial (Biney, 2015: . Hal inilah yang membuat orang dewasa ingin dihargai. Secara psikologis, (Knowles, 1977: . menyebut bahwa seseorang sudah mencapai tahap dewasa saat dirinya sudah memiliki konsep diri untuk bertanggung jawab atas hidupnya sendiri dan mengarahkan dirinya sendiri. Konsep diri dapat menjadi faktor pembeda Page 44 of 21 Implementasi Prinsip Pendidikan Orang Dewasa pada Pelatihan Tata Busana di Satuan Pendidikan Non Formal SKB Ungaran Rana Indah Setiawati1 Imam Shofwan2 antara anak-anak dan orang dewasa. Munculnya konsep diri ini ketika seseorang sudah menyelesaikan sekolah atau perguruan tinggi kemudian mendapatkan pekerjaan penuh waktu, menikah, dan memulai sebuah keluarga. Konsep diri terbentuk dari berbagai tahapan yaitu dari pengalaman sejak kecil hingga Pengalaman yang didapat di masa anak-anak menjadi basis utama untuk pembentukan konsep diri. Hurlock menyebut bahwa konsep diri seseorang berasal dari berbagai pengalaman yang pernah dialaminya. Konsep diri merupakan elemen yang penting bagi setiap orang dewasa karena termasuk ke dalam salah satu dari bagian pengembangan kepribadian. Kepribadian ini menyangkut sikap dan perasaan seseorang terhadap dirinya sendiri dan segala proses psikologis yang mengontrol perilaku dan penyesuaian diri (SyafiAouddin, 2016: . Burn menafsirkan konsep diri sebagai harga diri, penerimaan diri, keyakinan dan penilaian tentang diri sendiri. Hal ini akan menentukan siapa dirinya, bagaimana pola pikirnya, apa yang dapat dia lakukan dalam pikirannya, dan menjadi apa nantinya dalam pikirannya (Burns, 1993: . Terdapat 5 asumsi yang dapat menjelaskan mengenai konsep diri di antaranya: . Suasana belajar, temuan yang didapatkan peneliti tentang elemen suasana belajar di SKB Ungaran meliputi: penataan ruang yang modern, kondusivitas peserta pelatihan, dan keterlibatan peserta dalam Penataan ruang. SKB Ungaran menyediakan tiga ruangan untuk kegiatan pelatihan menjahit yang diperuntukan sesuai fungsinya yaitu, ruang praktik, ruang teori, dan ruang pameran Ruang praktik merupakan ruangan yang didesain dengan nuansa kafe modern. Sentuhan dekorasi lampu dan interior yang estetik membuat suasana belajar begitu tenang sehingga terciptalah pembelajaran yang kondusif. Pada ruang teori, terdapat jendela-jendela besar di sisi kiri ruang yang terhubung langsung dengan ruang praktik pelatihan tata kecantikan dan pemandangan Ini membuat udara dan cahaya masuk secara massif, memungkinkan peserta untuk menerima udara segar dan cahaya matahari yang hangat. Suasana belajar merupakan keadaan lingkungan belajar yang dirasakan secara langsung oleh para peserta pelatihan/pelatihan. Menurut (Febriyanti, 2014: . suasana belajar besar pengaruhnya terhadap proses pembelajaran. Suasana belajar yang memiliki kelengkapan sarana dan prasarana yang memadai dapat memudahkan para pendidik dan peserta pelatihan dalam melaksanakan proses pembelajaran. Istilah suasana belajar memiliki banyak arti dan definisi, berdasarkan berbagai studi, suasana belajar meliputi komponen-komponen dalam kelas, misalnya nilai-nilai pribadi siswa, keyakinan mereka, perilaku, ruang kelas, administrasi, dan lain-lain. Singkatnya, segala sesuatu yang berfungsi untuk memperjelas apa yang terjadi di kelas(Radovan & Makovec, 2015: . Keberhasilan pembelajaran salah satunya dipengaruhi oleh suasana belajar. Suasana belajar mestinya tenang atau tidak terganggu oleh perangsang-perangsang dari sekitar. Tata letak atau pengaturan ruangan menjadi hal yang krusial dalam suasana belajar. Penataan kursi mesti memungkinkan siswa dapat nyaman dalam berdiskusi dan akses untuk fasilitator leluasa agar dapat mudah membantu para peserta pelatihan ketika mengalami kesulitan. Menurut Rukmana dalam Febriyanti . 4: . suasana belajar yang baik dapat dibangun dengan penataan meja dan kursi yang rapi dan variatif. 45 | P a g e Lifelong Education Journal https://journal. id/index. php/lej Vol. No. Bulan APRIL Tahun 2023 ISSN e 2776-785X Gambar 1. Suasana belajar dan penataan ruang Diagnosis kebutuhan belajar, cara lembaga SKB Ungaran untuk mendiagnosis kebutuhan belajar adalah dengan melibatkan para instruktur dalam pembuatan model pembelajaran. Peran instruktur tidak hanya mengajar di kelas saat pembelajaran tetapi juga mesti bisa mempertimbangkan prinsip-prinsip pembelajaran orang dewasa ketika merancang kurikulum yang berfokus pada kebutuhan pembelajar dewasa (Caruth, 2014: . Mereka mendapatkannya dari evaluasi-evaluasi dari tiap pelatihan yang pernah dilakukan. Model pembelajaran tersebut kemudian langsung dipraktekkan saat pelatihan berikutnya berlangsung. Para instruktur kemudian melakukan asesmen kepada para peserta sejauh mana kompetensi mereka dalam bidang Tata Busana. Hal itu menjadi bahan untuk memenuhi kebutuhan para peserta pelatihan. Instruktur juga terus melibatkan para peserta dalam proses pembelajaran, memberi kesempatan mereka untuk mempelajari apa yang belum dipahaminya. Temuan tersebut sesuai dengan prinsip andragogi yang digagas Knowles . 7: . yang memberi penekanan terhadap keterlibatan pelajar dewasa dalam suatu proses diagnosis kebutuhan Knowles tidak menyebut secara khusus apakah pelibatan ini mesti ditempuh dalam perencanaan pembelajaran atau saat proses pembelajaran berlangsung. Diagnosis kebutuhan belajar sendiri terdiri atas tiga tahap: . membangun model kompetensi atau karakteristik, . memberikan pengalaman diagnostik di mana pembelajar dapat menilai tingkat kompetensi mereka saat ini secara baik sebagaimana yang digambarkan dalam model pembelajaran, . membantu peserta pelatihan untuk mengukur kesenjangan antara kompetensi mereka saat ini dan yang kompetensi yang mesti dicapai dalam model pembelajaran. Merujuk pada prinsip andragogi, kegiatan pembelajaran mesti berpusat pada peserta Pembelajaran yang dilakukan orang dewasa prinsipnya adalah disusun dan dilakukan secara bersama-sama atara fasilitator atau guru dan peserta pelatihan yang berlaku sampai tahap evaluasi (Herwina & Soepudin, 2020: . Diagnosis kebutuhan belajar ini berguna untuk mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan yang relevan dengan berbagai faktor pendukung pembelajaran bagi orang dewasa. Analisis kebutuhan pembelajaran ini berfungsi untuk mengidentifikasi kebutuhan yang sesuai dengan pekerjaan dan tugas sekarang, mengidentifikasi kebutuhan mendesak terkait finansial, keamanan atau masalah lain yang mengganggu pekerjaan atau lingkungan pendidikan, menyajikan skala prioritas untuk memilih tindakan yang tepat dalam mengatasi masalah-masalah pembelajaran, dan memberikan data basis untuk mengatasi efektivitas kegiatan pembelajaran. Page 46 of 21 Implementasi Prinsip Pendidikan Orang Dewasa pada Pelatihan Tata Busana di Satuan Pendidikan Non Formal SKB Ungaran Rana Indah Setiawati1 Imam Shofwan2 Asas perencanaan pembelajaran ada empat di antaranya adalah materi ajar, tutor, durasi pembelajaran, dan standar kompetensi yang ingin ditempuh. Program pelatihan Tata Busana di SKB Ungaran menggunakan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) sebagai instrumen perencanaan pembelajaran. Temuan dari penelitian menunjukkan bahwa SKKNI ini digunakan sebagai pedoman bagi lembaga dan tutor. Perencanaan pembelajaran itu kemudian ditujukan untuk memenuhi kompetensi esensial dalam bidang Tata Busana. Perencanaan pembelajaran tersebut meliputi berbagai peraturan yang ditetapkan saat pembelajaran berlangsung. Para peserta diwajibkan untuk mengenakan apron, alas kaki, dan box yang berisi bahan untuk menjahit. Materi ajar yang diterapkan adalah yang berkaitan dengan kemampuan inti dalam Tata Busana. Durasi pembelajaran dilakukan pada pukul 08. 00 dari hari Senin-Jumat dan ditempuh selama dua Perencanan pembelajaran berfungsi untuk menerjemahkan kebutuhan pembelajaran yang sudah didiagnosis menjadi tujuan dari pembelajaran itu sendiri, merancang, dan menempuh pengalaman belajar dalam mencapai tujuan tersebut, serta mengevaluasi sejauh mana tujuan-tujuan itu telah tercapai. Pendidikan andragogi mengartikan tanggung jawab perencanaan pembelajaran ini diartikan sebagai hubungan timbal balik antara siswa dan guru. Perencanaan pembelajaran dalam pendidikan orang dewasa mesti melibatkan para peserta pelatihan. Berdasarkan penelitian, pembelajaran profesional dapat mencapai hasil yang diinginkan ketika orang dewasa didukung untuk merencanakan dan menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap baru untuk memecahkan masalah dalam diri mereka(Harps & Lamitie, 2020: . Seseorang cenderung bisa memegang komitmen selama mereka terlibat dalam pembentukan komitmen tersebut. Pelibatan para peserta pelatihan dapat meningkatkan komitmen mereka dalam pembelajaran. Perencanaan pembelajaran yang tidak partisipatif biasanya menimbulkan sikap apatis, kebencian, dan mungkin penarikan diri dari para peserta pelatihan (Knowles, 1977: . Perencanan ini bersifat memaksa yang tidak sesuai dengan konsep diri orang dewasa tentang pengarahan pengarahan diri. Pendidikan andragogi memiliki penekanan pada pelibatan peserta pelatihan dalam perencanaan pembelajaran yang akan ditempuh oleh mereka Guru dijadikan panduan prosedural dan sumber konten. Pelibatan peserta pelatihan secara menyeluruh dapat dilakukan saat jumlahnya cukup kecil, tetapi jika jumlahnya lebih dari tiga puluh orang, di antara mereka ada yang mewakili para peserta lainnya untuk dilibatkan dalam perencanaan Kegiatan pembelajaran yang berhasil tentu dipengaruhi oleh perencanaan karena rencana merupakan aspek prosedural yang dapat mempengaruhi keberhasilan kegiatan pendidikan orang Kowalski . dalam (Mustangin, 2018: . menyebut bahwa perencanaan pembelajaran orang dewasa terdapat lima langkah: menentukan apa yang dibutuhkan para peserta pelatihan, meminta peserta pelatihan untuk berpartisipasi, merumuskan tujuan belajar secara jelas, merumuskan program, dan merencanakan serta melaksanakan evaluasi pembelajaran. Perencanaan pembelajaran ini juga menyangkut kegiatan mengenali peserta pelatihan . ama serta latar belakang pekerjaa. , menentukan tujuan pembelajaran untuk melacak perubahan apa yang ingin dicapai peserta pelatihan dari segi pengetahuan, keterampilan, dan sika. , dan merumuskan jenis pembelajaran yang akan dikembangkan (Mustangin, 2018: . Pelaksanaan pengalaman belajar adalah kondisi aktual yang dialami para peserta pelatihan saat proses pembelajaran berlangsung. Hal ini ditunjang oleh instruktur yang memiliki kompetensi Hasil temuan dari penelitian menunjukkan bahwa para instruktur Tata Busana di SKB Ungaran memiliki kriteria yang mumpuni untuk menunjang pelaksanaan pengalaman belajar yang efektif karena sudah berpengalaman di bidang Tata Busana baik secara praktek maupun teorinya. Seorang instruktur bertugas sebagai teknisi prosedural, narasumber, dan katalisator untuk pengalaman belajar para peserta pelatihannya. 47 | P a g e Lifelong Education Journal https://journal. id/index. php/lej Vol. No. Bulan APRIL Tahun 2023 ISSN e 2776-785X Setiap peserta pelatihan memiliki pengalaman yang khas meski berada dalam satu ruangan dan dalam satu waktu saat proses pembelajaran, karena masing-masing dari mereka memiliki latar belakang tingkat kompetensi dan ketertarikan yang berbeda. Pengalaman ini mesti cocok dengan materi pembelajaran karena pembelajaran orang dewasa harus berbasis pengalaman. Arti dari pengalaman ini juga berkaitan dengan kehidupan nyata yang dialaminya. Orang dewasa termotivasi untuk mencurahkan energi untuk mempelajari sesuatu sejauh mereka merasa bahwa itu akan membantu mereka melakukan tugas atau menangani masalah yang mereka hadapi dalam situasi kehidupan mereka. Selanjutnya, mereka belajar pengetahuan baru, pemahaman, keterampilan, nilai, dan sikap yang paling efektif ketika disajikan dalam konteks penerapannya pada situasi kehidupan nyata (Gagne, 2017: . Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa para peserta pelatihan datang dari yang sudah berpengalaman dan yang belum berpengalaman. Mereka kemudian diperlakukan oleh para instruktur secara proporsional dan interaktif. Para instruktur pelatihan Tata Busana di SKB Ungaran melayani para peserta secara sigap. Mereka langsung mendatangi para peserta dan pembelajaran berlangsung secara interaktif dan partisipatif. Baik antara instruktur dan peserta pelatihan, maupun antar peserta pelatihan. Pelaksanaan pengalaman belajar ini sesuai dengan asumsi yang dipaparkan oleh Knowles . 7: . bahwa pembelajaran harus dijalankan secara interaktif antara instruktur dan peserta Pengalaman pembelajaran orang dewasa diartikan sebagai suatu tanggung jawab bersama antara guru dan murid. Hal ini berbeda dengan praktik pedagogis yang mendefinisikan guru sebagai AupengajarAy. Guru bertanggung jawab penuh atas apa yang terjadi dalam proses pembelajaran. Murid berperan hanya sebagai penerima instruksi dan cenderung pasif. Praktik andragogis menekankan bahwa proses belajar-mengajar merupakan tanggung jawab bersama antara peserta pelatihan dan guru, karena guru di sini diartikan sebagai teknisi prosedural, narasumber, dan katalisator. Pendidikan orang dewasa mengasumsikan bahwa seorang guru bukanlah bertugas sekadar "mengajar" dalam arti AumembuatAy seseorang belajar, tetapi guru itu hanya bisa AumembantuAy orang lain belajar (Knowles, 1977: . Para pembelajar kemudian dapat berbagi tanggung jawab secara bertanggung jawab untuk pembelajaran mereka sendiri. Pelaksanaan belajar berkaitan dengan apa yang disebut Alfarabi . 5: . sebagai experiential learning cycle, yaitu proses belajar berdasarkan pengalaman. Orang dewasa telah menempuh kehidupan yang kompleks hingga sampai pada tahap usia dewasa. Kaya akan pengalaman tersebutlah yang menjadikan orang dewasa menjadikan pengalaman sebagai salah satu sumber belajarnya. Pembelajaran yang sedang diikuti orang dewasa akan dijadikan sebagai upaya untuk memperoleh pengalaman baru. Pembelajaran melalui pengalaman ini pada gilirannya menghadirkan metode dan teknik pembelajaran tertentu. Pembelajaran maupun pelatihan orang dewasa lebih banyak menggunakan diskusi kelompok, brainstorming, kerja laboratori, praktik lapangan, dan sebagainya (Alfarabi, 2015:. Evaluasi belajar merupakan alur pembelajaran yang berguna untuk menjadi bahan penilaian sejauh mana praktek pembelajaran sejalan dengan tujuan pembelajaran. Evaluasi juga berguna untuk menilai efektivitas model pembelajaran yang sudah diterapkan (Hidayat & Asyafah, 2019: Waktu evaluasi belajar biasanya dilakukan setelah pembelajaran rampung. Program pelatihan Tata Busana SKB Ungaran menerapkan waktu evaluasi setiap hari saat materi yang sudah disampaikan instruktur sudah selesai. Para instruktur bertanya mengenai kesulitan yang dialami setiap peserta pelatihan. Instruktur kemudian memberi tahu apa yang harus diperbaiki oleh para Program Pelatihan Tata Busana di SKB Ungaran tidak memberikan pretest dan pos-test kepada para peserta pelatihan. Hal yang dijadikan evaluasi adalah hasil karya yang telah dibuat oleh para peserta. Page 48 of 21 Implementasi Prinsip Pendidikan Orang Dewasa pada Pelatihan Tata Busana di Satuan Pendidikan Non Formal SKB Ungaran Rana Indah Setiawati1 Imam Shofwan2 Gambar 2. Karya salah satu peserta pelatihan menjahit Praktik pendidikan tradisional melakukan evaluasi belajar dengan cara guru memberi nilai kepada muridnya. Hal ini tidak bisa diterapkan dalam pendidikan orang dewasa karena cara tersebut kekanak-kanakkan. Teori andragogi menyebut proses evaluasi belajar dilakukan dengan cara guru mencurahkan energi untuk membantu orang dewasa untuk mendapatkan bukti tentang kemajuan yang telah mereka tempuh dan bagaimana kesesuaiannya dengan tujuan pendidikan yang mereka inginkan (Knowles, 1977: . Instruktur juga perlu meninjau kekuatan dan kelemahan dari program pendidikan yang dijalankan. Evaluasi dalam hal ini merupakan usaha bersama antara instruktur dan peserta pelatihan. Evaluasi belajar juga berguna untuk diagnosis kebutuhan belajar demi membantu peserta pelatihan mengetahui kompetensi tertentu. Instruktur dapat menguji para peserta pelatihan dengan membandingkan kemampuan mereka di awal pembelajaran dan saat di akhir pembelajaran. Evaluasi ini berbasis pengalaman, karena peserta pelatihan dapat dengan tepat mengukur perubahan kompetensi dirinya yang dihasilkan oleh pengalaman (Knowles, 1977: . Evaluasi belajar ini pada akhirnya merupakan proses rediagnosis kebutuhan belajar. Knowles menyebut apa yang mereka lakukan di akhir belajar adalah diagnosis ulang daripada mengevaluasi, biasanya para peserta pelatihan saat kembali belajar cenderung lebih antusias. Semua hal ini bisa ditempuh saat instruktur memberi masukan secara terbuka untuk para peserta pelatihan mengenai kinerja mereka saat Instruktur harus terampil dalam membangun suasana belajar yang mendukung tersampainya evaluasi yang objektif. Instruktur juga harus kreatif menemukan cara agar siswa bisa mendapatkan data komprehensif tentang kemampuan mereka sendiri. Evaluasi pembelajaran untuk orang dewasa memiliki tujuh asas, sebagaimana yang dijelaskan Morgan . dalam (Winarti, 2018: . di antaranya adalah . Sasaran evaluasi sudah pasti. Evaluasi menggunakan sasaran perilaku yang terjangkau dan pasti. Ada bukti mengenai perbaikan dalam diri individu. Evaluasi dilaksanakan dengan alat atau instrumen yang . Ada kolaborasi antara peneliti dan seseorang yang dinilai perubahannya saat evaluasi. Saat evaluasi tidak perlu menilai semua hal yang berkaitan dengan hasil pembelajaran. Evaluasi harus dilakukan secara berkelanjutan. 49 | P a g e Lifelong Education Journal https://journal. id/index. php/lej Vol. No. Bulan APRIL Tahun 2023 ISSN e 2776-785X Implementasi Pengalaman Belajar Pembelajaran yang menekankan pada teknik eksperimental memungkinkan para peserta pelatihan untuk menempuh pembelajaran secara praktik. Hal ini demi membangun pengalaman peserta pelatihan dalam bidang yang sedang dipelajarinya. Teknik eksperimental yang diterapkan dalam program pelatihan Tata Busana di SKB Ungaran menekankan materi praktek 70% dan teori Para instruktur memberi pelajaran-pelajaran praktis yang dapat diterapkan secara langsung oleh para peserta pelatihan, hingga nantinya mereka dapat menghasilkan karya Tata Busana. Para instruktur juga memberi ruang diskusi kepada para peserta pelatihan agar kelas lebih hidup. Terjadilah proses pembelajaran tutor sebaya, peserta yang lebih pengalaman akan terlibat dalam diskusi para peserta nonpengalaman. Pembelajaran orang dewasa yang menekankan pada teknik eksperimental karena orang dewasa itu sendiri adalah sumber belajar yang lebih kaya daripada anak-anak, penekanan proses pembelajaran yang lebih besar dapat ditempatkan pada teknik yang memanfaatkan pengalaman pembelajar dewasa. seperti diskusi kelompok, metode kasus, proses kejadian kritis, simulasi latihan, bermain peran, latihan keterampilan-praktik, proyek lapangan, proyek aksi, metode laboratorium, supervisi konsultatif, demonstrasi, seminar, konferensi kerja, konseling, terapi kelompok, dan pengembangan masyarakat (Knowles, 1977: . Idealnya pembelajaran eksperimental ini dilakukan secara partisipatif, tidak menekankan pada ceramah, bacaan yang ditugaskan, dan berbagai presentasi audiovisual. Partisipasi orang dewasa adalah kunci bagi implementasi pembelajaran teknik eksperimental. Hal ini berkenaan dengan karakteristik pembelajaran orang dewasa yang disebut Sunhaji . dalam (Rohmah, 2022: . pendidikan orang dewasa dilakukan agar para peserta pelatihan memperoleh pemahaman dan kematangan diri demi daya survival hidup yang baik. Hal tersebut mesti ditempuh dengan pembelajaran yang mengadopsi aktivitas diskusi, eksperimen, pemecahan masalah, pelatihan, simulasi, dan praktek lapangan. Pembelajaran yang menekankan pada penerapan secara praktis memiliki konsekuensi pada pemahaman para peserta pelatihan terhadap pembelajaran yang ditempuhnya. Bobot materi praktis pelatihan Tata Busana di SKB Ungaran adalah 70%. Luaran dari pelatihan juga menekankan kemampuan praktis dari para peserta pelatihan, yaitu membuat karya. Pembelajaran itu, berdasarkan hasil penelitian, berasal dari pengembangan kurikulum dan menyesuaikan dengan kebutuhan kebutuhan belajar para peserta pelatihan. Instruktur pelatihan menargetkan peserta pelatihannya agar menguasai materi sesuai kurikulum yang ditetapkan. Praktiknya, mereka harus bisa mengoperasikan mesin jahit high speed dan membuat pola sederhana. Peserta dari pelatihan ini menilai bahwa para instruktur mumpuni dalam menjawab segala problem yang dihadapinya. Idealnya, pendidik orang dewasa yang terampil selalu memperhatikan generalisasi kemampuan para peserta pelatihannya. Hal itu tercermin dari pengalaman hidup peserta pelatihan. Knowles . 7: . menyebut bahwa orang dewasa cenderung akan berusaha untuk mencari hal yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Para peserta pelatihan orang dewasa cenderung akan giat berlatih selama materi tersebut dapat diterapkan dalam kebutuhan sehari-hari mereka. Hal ini selaras dengan tujuan dari pendidikan orang dewasa. Suprijanto . dalam (E. Rohmah, 2014: menyebutkan bahwa orientasi dari pendidikan orang dewasa adalah pendekatannya lebih ditekankan pada peningkatan kemampuan dan keterampilan praktis di waktu sesingkat mungkin untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Orang dewasa berbeda dari anak-anak karena kehidupan mereka sudah melalui banyak hal sehingga memiliki pengalaman yang banyak. Pengalaman tersebut kemudian berguna untuk bahan pembelajaran orang dewasa. Hasil penelitian praktek pendidikan orang dewasa di program pelatihan Tata Busana di SKB Ungaran menunjukkan bahwa para peserta banyak belajar dari pengalaman teman-temannya. Peserta pelatihan yang sebelumnya sudah memiliki pengalaman di bidang Tata Busana mengajarkan teman-temannya yang belum berpengalaman di bidang tersebut. Peserta yang mengajarkan temannya tersebut kemudian merasakan manfaat belajar dari pengalaman, yaitu bisa mengingat kembali dan bisa memahami materi lebih baik. Praktek secara Page 50 of 21 Implementasi Prinsip Pendidikan Orang Dewasa pada Pelatihan Tata Busana di Satuan Pendidikan Non Formal SKB Ungaran Rana Indah Setiawati1 Imam Shofwan2 langsung adalah bagian dari belajar dari pengalaman. Para peserta pelatihan di Tata Busana SKB Ungaran dapat mengalami langsung bagaimana mengoperasikan mesin jahit dan membuat pola di Gambar 3. praktik menjahit menggunakan mesin jahit high speed Praktek di atas sesuai dengan apa yang disebut Knowles . 7: . sebagai aktivitas pendidikan andragogi yang dapat membantu para peserta pelatihan untuk dapat melihat sendiri kemampuan mereka masing-masing secara objektif dan membebaskannya dari perasangkaperasangka. Praktek belajar dari pengalaman ini mesti memiliki alur yang jelas, agar proses pembelajaran tidak membekukan pikiran para peserta pelatihan. Peserta pelatihan yang dapat melihat dirinya sendiri secara objektif merupakan tanda bahwa pelatihan yang diikutinya berbasiskan pengalaman yang "tidak membekukan". Padmowihardjo . 4: . menyebut bahwa pengalaman seorang dewasa adalah guru yang paling baik baginya. Orang dewasa merupakan seorang yang kaya dengan pengalaman dalam Orang dewasa tidak hidup seperti gelas yang kosong. Hidup orang dewasa sudah diisi dengan banyak pengalaman selama hidupnya. Proses pembelajaran pengalaman tersebut merupakan sumber belajar yang baik bagi orang dewasa. Seorang dewasa harus dapat belajar dari pengalaman meski pengalaman yang dialaminya pahit. Implementasi Kesiapan Belajar Setiap orang akan siap mempelajari segala hal yang berguna bagi kehidupannya. Hal ini disebut juga sebagai tugas untuk perkembangan untuk melangkah ke fase hidup yang lebih Tugas-tugas perkembangan itu melahirkan kesiapan belajar bagi orang dewasa. Momen tersebut disebut Knowles . 7: . sebagai momentum bisa diajar . eachable momen. Waktu belajar menentukan kesiapan belajar orang dewasa. Hal ini berkaitan dengan waktu luang yang dimiliki oleh peserta pelatihan dan suasana yang tercipta dalam waktu tertentu. Program pelatihan Tata Busana SKB Ungaran memilih waktu belajar di pagi hari hingga siang pada pukul Salah seorang peserta pelatihan menyebut bahwa waktu tersebut sangat cocok bagi kesibukannya sebagai ibu rumah tangga. Belajar di pagi hari juga menurut instruktur pelatihan merupakan waktu produktif. Durasi pembelajaran tersebut menurut salah seorang peserta cukup 51 | P a g e Lifelong Education Journal https://journal. id/index. php/lej Vol. No. Bulan APRIL Tahun 2023 ISSN e 2776-785X untuk digunakan dalam mempelajari pola tata busana tetapi tidak cukup untuk membuka jahitan. Materi pembelajaran yang diterima para peserta pelatihan disampaikan secara bertahap. Urutan pembelajaran yang ada di kurikulum sangat menentukan pemahaman para peserta pelatihan terhadap materi yang disampaikan (A. A Duludu, 2. Urutan materi pembelajaran harus diatur waktunya agar disampaikan setahap demi setahap berikut dengan tugas yang akan diberikan para peserta pelatihan. Langkah ini merupakan prinsip pengorganisasian yang tepat untuk digunakan dalam program pendidikan orang dewasa. Knowles . 7: . memberi contoh: program orientasi untuk pekerja baru sebaiknya tidak dimulai dengan materi sejarah dan filosofi korporasi, melainkan membahas tentang keprihatinan kehidupan nyata para pekerja baru yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan: di mana saya akan bekerja? Dengan siapa saya akan bekerja? Apa yang diharapkan dari saya? Bagaimana orang berpakaian di perusahaan ini? Apa jadwal waktunya? Kepada siapa saya bisa meminta bantuan? Pertanyaan itu merupakan tugas pengembangan diri yang paling aktual bagi dirinya sebagai pekerja baru. Pengelompokan partisipan . eserta pelatiha. adalah bagian dari upaya untuk menyiasati kesiapan belajar orang dewasa. Program pelatihan Tata Busana di SKB Ungaran secara umum mengelompokkan peserta pelatihan: berpengalaman dan nonpengalaman. Prakteknya di ruang belajar, kedua kelompok tersebut tidak dipisahkan melainkan digabung menjadi satu kelas. Penggabungan tersebut tidak mempengaruhi tersendatnya pemahaman para peserta pelatihan. Ada peserta yang terbantu dengan model kelas seperti ini karena ketika ia kesulitan bisa belajar dari teman yang sudah berpengalaman. Pengelompokan di sini adalah manajemen dalam mengelompokkan para peserta pelatihan Menurut Imron . 2: . dalam (Al-ghifary, 2019: 31-. pengelompokan atau grouping merupakan pengelompokan peserta pelatihan yang didasarkan pada karakteristik-karakteristik di antara mereka. Setiap peserta pelatihan memiliki karakteristik yang khas dan berbeda satu sama lain, maka dari itu perlu dikelompokkan agar mereka berada dalam kondisi yang sama saat masuk dalam kelas pelatihan atau pembelajaran. Karakteristik ini amat berkaitan dengan dapat memudahkan fasilitator pelatihan untuk memberikan layanan yang adil. Pengelompokan peserta pelatihan ini masih berkaitan dengan konsep tugas perkembangan . ask developmen. Knowles . 7: . menyebut bahwa untuk kasus tertentu kelompok belajar yang homogen berdasarkan tugas perkembangannya bisa berlangsung lebih efektif. Misalnya, dalam program pengasuhan anak, orang tua muda akan memiliki serangkaian minat yang sangat berbeda dari orang tua dari anak-anak remaja. Pembelajaran lain yang membutuhkan peserta pelatihan yang heterogen juga sangat diperlukan saat pembelajaran menyangkut tentang keberagaman. Contohnya dalam pembelajaran program pelatihan hubungan manusia yang tujuannya adalah untuk membantu orang belajar berinteraksi lebih baik dengan semua orang. Implementasi Orientasi Belajar Orientasi belajar berkaitan dengan dorongan dari dalam diri untuk mencapai hal tertentu dalam belajar. Orientasi adalah perspektif peserta pelatihan tentang tujuannya untuk belajar. Knowles . 7: . membagi dua perspektif orientasi belajar, yakni dari perspektif anak dan dari perspektif orang dewasa. Anak-anak memiliki orientasi belajar untuk investasi kehidupan di masa Sementara orientasi belajar orang dewasa cenderung untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapinya. Wahono et al. , . 0: . menyebut bahwa orientasi pembelajaran orang dewasa berdasarkan orientasi kehidupan,berbeda dengan anak-anak yang mendasarkan pada pelajaran atau berpusatkan partisipan pelajaran bukan masalah. Setiap perkara yang dipelajari orang dewasa adalah berkaitan dengan hidup mereka. Page 52 of 21 Implementasi Prinsip Pendidikan Orang Dewasa pada Pelatihan Tata Busana di Satuan Pendidikan Non Formal SKB Ungaran Rana Indah Setiawati1 Imam Shofwan2 Orientasi pendidik, adalah visi pengajaran yang dimiliki pendidik dalam menjalankan tugasnya kepada para peserta pelatihan. Para instruktur Tata Busana SKB Ungaran didorong oleh lembaga tersebut untuk dapat memahami metode pembelajaran. Para instruktur mendorong peserta pelatihan untuk menjadi tutor sebaya saat pembelajaran berlangsung. Para peserta yang sudah berpengalaman di bidang Tata Busana dimungkinkan untuk mengajari temannya yang belum mengerti materi pembelajaran. Hal ini dilakukan karena menurut salah seorang instruktur pembelajaran yang dilakukan dengan teman sebaya lebih efektif dibandingkan dengan instrukturnya Para instruktur pelatihan juga menekankan agar para peserta bisa mengikuti pembelajaran dengan interaktif, tidak malu bertanya saat ada kesulitan. Tidak hanya peserta pelatihan, di antara pengajar anak dan dewasa pun memiliki perbedaan Para pendidik anak atau remaja mungkin dapat dengan tepat dalam memperhatikan pengembangan logis materi pelajaran dan artikulasinya dari kelas ke kelas sesuai dengan tingkatan dan kompleksitasnya, sementara itu pendidik orang dewasa harus memiliki perhatian terhadap kapasitas individu peserta pelatihan dan lembaga yang mereka layani kemudian mampu mengembangkan pengalaman belajar yang baik (Knowles, 1977: . Pendidik dalam artian di pendidikan orang dewasa adalah bisa berupa agen, tutor, guru, instruktur, dan semacamnya. Orang dewasa cenderung berorientasi belajarnya pada pemecahan masalah kehidupan (Wahono et al. 2020: . Hal ini menunjukkan bahwa orientasi pendidik orang dewasa mesti berpusat pada masalah masing-masing peserta pelatihan. Pengorganisasian materi pembelajaran, merupakan upaya lembaga pendidikan dan pelatihan untuk bisa menyajikan bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan para peserta pelatihan atau peserta pelatihan (Herlinda, 2017: . Program Tata Busana SKB Ungaran pengorganisasian materi pembelajaran pelatihan diberikan kepada para peserta pelatihan secara bertahap. Para peserta pelatihan juga diberikan materi praktis yang berkaitan dengan pembuatan baju berikut dengan waktu tahapan proses dan saran durasi pengerjaannya. Pengorganisasian materi pembelajaran juga dilakukan secara rutin berdasarkan hasil evaluasi dan rapat kerja lembaga pasca pelatihan selesai. Maulidayani . 7: . pengorganisasian kurikulum merupakan desain bahan kurikulum yang bertujuan untuk mempermudah peserta pelatihan dalam mempelajari bahan pelajaran serta bertujuan untuk mempermudah siswa dalam melakukan kegiatan belajar dan pada gilirannya tujuan pembelajaran bisa dicapai dengan efektif. Pengorganisasian kurikulum mesti memperhatikan ruang lingkup dan urutan bahan pelajaran, kesinambungan kurikulum yang berkaitan dengan substansi bahan yang dipelajari siswa, kesimbangan bahan pelajaran, dan alokasi waktu yang dibutuhkan saat proses pembelajaran (Rusman, 2011: 60-. dalam (Maulidayani, 2017: . Pengorganisasian materi pembelajaran sudah ada sejak Abad Pertengahan untuk pendidikan para pemuda. Di antaranya mencakup trivium . ata bahasa, retorika, dan logik. dan quadrivium . ritmatika, musik, geometri, dan astronom. (Knowles, 1977: . Mata pelajaran tersebut kemudian pada pendidikan orang dewasa disebut sebagai "program", di mana pelajarannya cenderung bersifat praktis. Knowles . 7: . menyebut bahwa pembelajar dewasa pada dasarnya memiliki orientasi belajar yang berpusat pada masalah, maka prinsip pengorganisasian yang tepat untuk urutan pembelajaran orang dewasa adalah bidang masalah, bukan mata pelajaran. Alih-alih menawarkan kursus tentang "Komposisi I" dan "Komposisi II", dengan yang pertama berfokus pada tata bahasa dan yang kedua pada gaya penulisan, sebaiknya jika dimasukkan pada praktek andragogi menjadi pembelajaran "Menulis Surat Bisnis yang Lebih Baik" dan "Menulis Cerita Pendek". Perancangan pengalaman belajar, sangat penting bagi keberlangsungan program pendidikan orang dewasa. Hal ini berkaitan dengan pelajaran apa yang mesti diterima para peserta Program Tata Busana SKB Ungaran dirancang dengan cara instruktur kerap bertanya kepada para peserta pelatihan tentang masalah yang sedang mereka hadapi di bidang Tata Busana. Perancangan pengalaman belajar di Tata Busana SKB Ungaran sangat bergantung pada keaktifan para peserta pelatihan dalam berkomunikasi dengan para instruktur. Para ketua program pelatihan 53 | P a g e Lifelong Education Journal https://journal. id/index. php/lej Vol. No. Bulan APRIL Tahun 2023 ISSN e 2776-785X di SKB Ungaran kemudian mengutarakan evaluasi setelah pelatihan rampung ke forum rapat bersama lembaga SKB Ungaran. Hal tersebut kemudian dapat menjadi bahan untuk perancangan pengalaman belajar untuk waktu berikutnya. Pengalaman belajar atau learning experience merupakan sekumpulan kegiatan peserta pelatihan yang dilakukan untuk mendapatkan informasi dan kemampuan baru sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai (Saidah, 2017: . Soal informasi dan kompetensi seperti apa yang harus dimiliki para peserta pelatihan, hal itu berkaitan dengan pengalaman belajar mesti didesain supaya tujuan dari pembelajaran yang sudah ditetapkan bisa dicapai oleh para peserta pelatihan. Titik awal yang tepat untuk membangun pengalaman adalah berasal masalah yang sedang dialami para peserta pelatihan orang dewasa. Sejak dari judul program, pendidikan orang dewasa mestinya menawarkan judul program yang dapat menjawab persoalan teknis dan dapat menjawab persoalan yang tengah dihadapi para peserta pelatihan. Di awal sesi pembelajaran akan ada sensus masalah atau latihan diagnostik yang akan dilakukan oleh para peserta, untuk mengidentifikasi masalah spesifik yang ingin mereka tangani dengan lebih memadai (Knowles, 1977: . Pengalaman belajar orang dewasa yang baik diawali dengan masalah yang disadari oleh peserta pelatihan bukan semata berdasarkan asumsi para pendidik. Mungkin saja ada masalah dari asumsi guru atau lembaga yang diharapkan para peserta pelatihan menanganinya. Hal itu harus dimasukkan menjadi agenda bersama dengan para peserta pelatihan lewat negosiasi antara peserta pelatihan dan instruktur. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, maka riset ini dapat disimpulkan ke dalam empat hal berikut: Pertama. Implementasi konsep diri ini terbagi menjadi lima hal: Suasana belajar pelatihan Tata Busana di SKB Ungaran berlangsung secara kondusif, didukung dengan fasilitas yang memadai meliputi ruang teori, praktek, dan ruang pameran karya. Suasana belajar juga didukung dengan instruktur yang interaktif. Diagnosis kebutuhan belajar tata busana di SKB Ungaran menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan para peserta pelatihan dan para instruktur menyesuaikan materi dengan durasi belajar tanpa mengurangi bobot kompetensi esensial. Perencanaan pembelajaran Tata Busana SKB Ungaran menggunakan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), menetapkan indikator keberhasilan peserta pelatihan, dan peserta pelatihan tidak terlibat langsung dalam rencana pembelajaran melainkan hanya menyepakati kontrak pembelajaran yang telah ditetapkan lembaga pelatihan. Pelaksanaan pengalaman belajar di pelatihan Tata Busana SKB Ungaran ditunjang oleh para instruktur yang kompeten baik secara akademik maupun secara praktik dan para instruktur secara terbuka memberikan kesempatan bertanya kepada para peserta pelatihan. Evaluasi pembelajaran yang dilakukan menggunakan produk hasil karya peserta, proses evaluasi dilakukan saat pembelajaran berlangsung dan setelahnya. Tidak ada pretest dan postest dalam evaluasi pembelajaran di sini. Kedua, implementasi pengalaman belajar terbagi menjadi 3 hal: penekanan pada teknik eksperimental dalam pengalaman belajar di pelatihan meliputi project based learning, bobot pelajaran 70% praktik dan 30% teori. Pengalaman belajar yang menekankan pada praktik menyangkut target capaian kelulusan para peserta pelatihan yang harus membuat produk, instruktur pelatihan cakap dan mengayomi peserta baik berpengalaman atau non pengalaman. Belajar dari pengalaman diterapkan dengan cara membuat ruang bertukar pengalaman antar peserta, pelibatan peserta pelatihan dalam proses tutor sebaya, kesepakatan belajar, dan terlibat dalam praktik menjahit, dan materi ajar sesuai dengan kapasitas peserta pelatihan. Page 54 of 21 Implementasi Prinsip Pendidikan Orang Dewasa pada Pelatihan Tata Busana di Satuan Pendidikan Non Formal SKB Ungaran Rana Indah Setiawati1 Imam Shofwan2 Ketiga. Kesiapan Belajar. Hal ini berkaitan dengan kesiapan belajar yang meliputi 2 hal: Waktu belajar, dimulai pada pukul 08. 00--12. 00 WIB atau 4 jam per hari, selama 5 hari, durasi belajar ditentukan berdasarkan jumlah waktu yang diperlukan untuk membuat sebuah baju dan disesuaikan dengan waktu yang perlu ditempuh untuk menguasai dasar menjahit. pengelompokan partisipan/pembelajar, tidak ada pengelompokan peserta sesuai umur, gender, atau pun secara kemampuan menjahitnya. Keempat, orientasi belajar. Aspek ini berkonotasi pada orientasi belajar yang meliputi: Orientasi pendidik, menekankan agar pada instruktur untuk mengetahui metode belajar, penyampaian materi secara bertahap dan para instruktur kerap bertanya secara berkala, selalu membantu peserta pelatihan saat mengalami kesulitan kesulitan. Pengorganisasian materi pembelajaran, perancangan materi disesuaikan dengan durasi belajar yang harus ditempuh, pelaksanaan pembelajaran diawali dengan materi dan dilanjutkan dengan praktik, dan materi yang dirancang dapat menjawab masalah yang dialami peserta. Perancangan pengalaman belajar di pelatihan Tata Busana SKB Ungaran meliputi perancangan pengalaman belajar dengan proyek membuat dress skala 1:2, instruktur selalu bertanya kepada peserta pelatihan tentang kendala yang dihadapinya, dan ada evaluasi di akhir pelatihan. 55 | P a g e Lifelong Education Journal https://journal. id/index. php/lej Vol. No. Bulan APRIL Tahun 2023 ISSN e 2776-785X UCAPAN TERIMAKASIH Ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang sudah membantu dalam proses penelitian sampai pada publikasi. REFERENSI