JRIP: Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran ISSN 2776-8872 Penggunaan Video Tutorial Penyelesaian Garis Leher: Pengaruhnya Terhadap Hasil Belajar Dasar-Dasar Busana Siswa SMK Eighteen Meilina1*. Puapaneli2 . Sri Zulfia Novrita3 . Melda Mahniza4 1*2,3,4 Program Studi Pendidikan Kesejahtraan Keluarga. Fakultas Pariwisata Dan Perhotelan. Universitas Negeri Padang. Padang. Indonesia Article Info Article history: Received Aug 25, 2025 Accepted Sep 12, 2025 Published Online Oct 25, 2025 Keywords: Dasar-Dasar Busana Garis Leher Hasil Belajar Video Tutorial ABSTRACT Rendahnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran Dasar-Dasar Busana, khususnya materi penyelesaian garis leher, menjadi permasalahan yang dihadapi di SMKN 8 Padang. Lebih dari 60% siswa belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) karena metode pembelajaran yang masih konvensional menggunakan powerpoint dan fragmen, sehingga siswa kesulitan memahami detail langkah Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penggunaan video tutorial sebagai media pembelajaran yang dinilai mampu memberikan pengalaman belajar lebih interaktif, fleksibel, dan dapat diulang sesuai kebutuhan siswa. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan metode Quasi Experiment menggunakan desain Posttest-Only Design with Nonequivalent Groups. Subjek penelitian adalah 48 siswa kelas X Busana SMKN 8 Padang tahun ajaran 2025/2026 yang terbagi menjadi 24 siswa kelas eksperimen dan 24 siswa kelas kontrol. Instrumen yang digunakan berupa tes keterampilan, sedangkan analisis data dilakukan melalui uji deskriptif, uji normalitas, homogenitas, uji-t, dan perhitungan effect size. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata post-test kelas eksperimen 79,13 dengan ketuntasan 58%, sedangkan kelas kontrol 65,58 dengan ketuntasan 25%. Uji-t menghasilkan Sig. -taile. < 0,05 yang berarti terdapat pengaruh signifikan penggunaan video tutorial terhadap hasil belajar siswa. Nilai effect size sebesar 1,1 termasuk kategori tinggi. Dengan demikian, video tutorial efektif digunakan sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan siswa pada materi This is an open access under the CC-BY-SA licence Corresponding Author: Eighteen Meilina. Program Studi Pendidikan Kesejahtraan Keluarga. Fakultas Pariwisata Dan Perhotelan. Universitas Negeri Padang. Padang. Indonesia. Jln. Prof. Dr. Hamka Kompleks UNP. Air Tawar Padang Ae25131. Indonesia Email: eighteenmeilina180502@gmail. How to cite: Meilina. Puspaneli. Novrita. , & Mahniza. Penggunaan Video Tutorial Penyelesaian Garis Leher: Pengaruhnya Terhadap Hasil Belajar Dasar-Dasar Busana Siswa SMK. Jurnal Riset Dan Inovasi Pembelajaran, 5. , 1038Ae1053. https://doi. org/10. 51574/jrip. Vol. 5 No 3. Tahun 2025, hal. 1038 Ae 1053 JRIP: Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran ISSN 2776-8872 Penggunaan Video Tutorial Penyelesaian Garis Leher: Pengaruhnya Terhadap Hasil Belajar Dasar-Dasar Busana Siswa SMK Pendahuluan Pendidikan sering dipandang sebagai pijakan paling mendasar dalam membangun kualitas sumber daya manusia yang kompetitif dan berdaya saing (Aulia et al. , 2. Perkembangan teknologi yang begitu cepat kini memberi pengaruh nyata terhadap cara belajar-mengajar di berbagai jenjang pendidikan. Salah satu bentuk inovasi teknologi yang kerap dimanfaatkan ialah video tutorial. Media ini mempermudah proses penyampaian materi, khususnya pada mata pelajaran berbasis praktik seperti Tata Busana. Misalnya, ketika siswa mempelajari pembuatan garis leher, metode ceramah dan penyajian materi melalui PowerPoint sering kali tidak cukup untuk menjelaskan detail langkah-langkahnya. Penelitian Wahyuni dan Ramadhani . menegaskan bahwa pendekatan berbasis visual membantu peserta didik dalam memahami konsep yang dianggap rumit. Oleh karena itu, video tutorial dapat menjadi pilihan alternatif, sebab memungkinkan siswa mengamati setiap tahap pengerjaan, sekaligus memberi kesempatan untuk mengulanginya kapan pun dan di mana pun sesuai kebutuhan. Keberadaan media pembelajaran berfungsi penting dalam meningkatkan kualitas sekaligus efektivitas proses belajar mengajar, terlebih pada bidang keterampilan praktik. Dewasa ini, penggunaan video tutorial telah meluas di berbagai tingkat pendidikan maupun sekolah kejuruan (Aprilia et al. , 2. Kusairoh et al. menemukan bahwa media ini mempermudah siswa dalam memahami prosedur kerja yang bersifat praktis karena menampilkan tahapan secara visual serta dapat diputar berulang. Pandangan tersebut sejalan dengan hasil penelitian Erni dan Farihah . yang menyimpulkan bahwa video tutorial terbukti efektif dalam menunjang keterampilan menjahit, sebab menghadirkan pengalaman belajar yang lebih fleksibel sekaligus menarik. Salah satu institusi yang relevan untuk ditinjau adalah SMKN 8 Padang, yang berlokasi di Jalan Raya PadangAeIndarung. Cangkeh Nan XX. Kecamatan Lubuk Begalung. Kota Padang. Sumatera Barat. Sekolah ini memiliki program keahlian Tata Busana yang memberi siswa bekal pengetahuan sekaligus keterampilan menjahit, termasuk penguasaan penyelesaian garis leher sebagai kompetensi pokok. Dalam implementasinya, sekolah telah mengadopsi Kurikulum Merdeka Belajar. Konsep ini menekankan fleksibilitas, memberikan ruang bagi siswa untuk mengeksplorasi berbagai sumber belajar, baik formal maupun nonformal (Siregar et al. , 2. Pembelajaran Teknik Dasar Menjahit di program tersebut melibatkan kegiatan teori dan praktik. Salah satu kompetensi utama yang ditargetkan ialah penguasaan teknik penyelesaian garis leher. Materi ini meliputi tiga jenis, yaitu depun, serip, dan rompok. Penyelesaian garis leher dengan lapisan, atau dikenal juga dengan facing, yang dilakukan ketika model busana tidak menggunakan kerah. Menurut Mayangsari dan Adriani dalam Adenelia dan Nelmira . , teknik ini memanfaatkan bahan pelapis atau interfacing yang dijahitkan pada garis leher. Adapun variasi tekniknya antara lain: depun, yaitu lapisan mengikuti bentuk kelim ke arah dalam. serip, yakni lapisan serong dengan hasil akhir menghadap ke luar. dan rompok, yaitu teknik penyelesaian pinggir pakaian dengan kumai serong atau bisban. Peneliti melakukan wawancara dengan guru DDB pada 8 April 2025 mengungkapkan bahwa metode yang digunakan masih bersifat konvensional. Guru umumnya menyampaikan materi melalui demonstrasi langsung serta memanfaatkan PowerPoint dengan Vol. 5 No 3. Tahun 2025, hal. 1038 Ae 1053 JRIP: Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran ISSN 2776-8872 contoh fragmen. Metode ini menuntut guru menjelaskan ulang setiap kali ada siswa yang belum memahami, sementara keterbatasan waktu membuat layanan belajar tidak merata. Akibatnya, efektivitas pembelajaran menurun dan capaian siswa kurang memuaskan. Data hasil belajar memperlihatkan bahwa hanya 24% siswa kelas X Busana 1 dan 34% siswa kelas X Busana 2 yang mencapai KKTP. Sementara itu, mayoritas siswa, yakni 76% dan 66% pada masing-masing kelas, belum tuntas. Berbagai strategi telah ditempuh guru untuk meningkatkan pemahaman siswa, mulai dari demonstrasi langsung, penggunaan fragmen nyata, hingga diskusi kelompok dan Namun, bukti empiris menunjukkan bahwa media video masih menjadi pilihan paling efektif. Penelitian Rachmawati dan Russanti . serta Ramandhani et al. menegaskan manfaat video tutorial dalam meningkatkan hasil praktik busana. Hal serupa ditunjukkan oleh Minarizma dan Marniati . , yang menemukan bahwa video pola busana anak di SMK mampu mendorong peningkatan capaian belajar secara signifikan. Perbedaan penelitian ini dengan studi sebelumnya terletak pada fokus kajian, yakni penyelesaian garis leher . epun, serip, dan rompo. yang hingga kini belum pernah dieksplorasi dengan media video tutorial di SMKN 8 Padang. Metode Penelitian Penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian kuantitatif karena data yang diperoleh berbentuk angka. Ali et al. menjelaskan bahwa pendekatan kuantitatif merupakan suatu proses sistematis yang dimulai dari penyusunan teori, perumusan hipotesis, penyusunan desain penelitian, pemilihan subjek, pengumpulan serta pengolahan data, hingga analisis dan penarikan kesimpulan. Hal ini sejalan dengan Herdani et al. 0 dalam Anjani et al. , 2. yang menegaskan bahwa penelitian kuantitatif selalu diawali dengan perumusan hipotesis untuk kemudian diuji melalui prosedur penelitian. Jenis penelitian yang digunakan adalah Quasi Eksperimen, yaitu pendekatan yang bertujuan menguji hipotesis mengenai hubungan sebab-akibat melalui pemberian perlakuan tertentu serta mengamati dampaknya. Dalam konteks ini, terdapat dua kelompok: kelompok eksperimen yang memperoleh pembelajaran dengan bantuan media video, serta kelompok kontrol yang tetap menggunakan metode konvensional sebagai pembanding. Desain penelitian yang dipilih adalah Posttest-Only Design with Nonequivalent Groups. Pemilihan desain ini didasarkan pada pertimbangan bahwa kondisi awal kedua kelas relatif seimbang, sehingga tidak diperlukan pre-test untuk mengetahui kemampuan awal Desain ini dianggap tepat karena memungkinkan peneliti membandingkan hasil belajar antara dua kelompok yang meskipun tidak dipilih secara acak, memiliki karakteristik yang hampir sama, seperti halnya kelas X Busana 1 dan X Busana 2 di SMKN 8 Padang. Dalam pelaksanaannya, kelompok kontrol tidak menerima perlakuan khusus dan tetap menggunakan metode konvensional, sedangkan kelompok eksperimen diberikan perlakuan berupa pembelajaran melalui video tutorial. Variabel dependen, yakni hasil belajar siswa, kemudian dibandingkan antara kedua kelompok. Melalui desain ini, peneliti dapat menilai secara langsung efektivitas penggunaan media video tutorial dalam meningkatkan pemahaman siswa dibandingkan dengan pembelajaran tradisional. Tabel 1. Desain Penelitian Kelompok Treatment Post-Test Kelas Eksperimen Kelas Kontrol Keterangan: : Diberi perlakuan . menggunakan video tutorial : Post-test untuk kelas eksperimen : Post-test untuk kelas kontrol Vol. 5 No 3. Tahun 2025, hal. 1038 Ae 1053 JRIP: Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran ISSN 2776-8872 Populasi penelitian ini mencakup seluruh siswa kelas X Busana di SMKN 8 Padang. Populasi tersebut terdiri dari dua kelas, yaitu X Busana 1 yang berjumlah 24 siswa dan X Busana 2 dengan jumlah yang sama, sehingga total keseluruhan peserta didik yang menjadi populasi adalah 48 orang. Penentuan sampel dilakukan dengan teknik probability sampling, yakni suatu metode yang memberikan peluang yang sama bagi setiap anggota populasi untuk terpilih sebagai sampel penelitian. Dalam penelitian ini digunakan metode sampling jenuh . otal samplin. , yaitu teknik penarikan sampel di mana seluruh anggota populasi dijadikan sampel. Metode ini dipilih karena jumlah populasi relatif kecil, yakni kurang dari 100 orang, sehingga semua siswa dapat dilibatkan secara langsung sebagai responden penelitian (Lena et al. , 2. Dengan demikian, hasil penelitian diharapkan dapat mencerminkan kondisi populasi secara menyeluruh tanpa adanya bias pemilihan sampel. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tes praktik yang diberikan langsung kepada siswa. Instrumen ini bertujuan untuk mengukur kemampuan sekaligus keterampilan peserta didik, khususnya pada kompetensi penyelesaian garis leher. Dalam pelaksanaannya, penilaian dilakukan menggunakan lembar penilaian siswa yang telah disusun. Instrumen tersebut membantu menilai sejauh mana keterampilan siswa dalam menerapkan langkahlangkah penyelesaian garis leher secara tepat, sehingga hasil tes benar-benar merepresentasikan penguasaan kompetensi praktik yang ditargetkan. Tabel 2. Lembar Penilaian Siswa Komponen penilaian Nilai Unjuk Kerja Persiapan Kerja Menyiapkan/ membersihkan tempat Menyediakan peralatan hingga alat siap pakai Skor Komponen: Proses Ketepatan ukuran Ketepatan bentuk Ketepatan hasil jahitan Keluwesan jahitan Skor Komponen Hasil Kerja Skor Komponen: Sikap Kerja Skor Komponen: Waktu Skor Komponen: ycyeUyeayee yeUyeayeayecyeayeayeIyea ycAyeOyesyeCyeO yeCyeUyeOyeOyee = ycyayaya ycyeUyeayee yeayeCyeUyeiyeOyeayeCyes yeUyeayeayecyeayeayeIyea Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah validasi video. Uji validasi video dilakukan oleh dua dosen ahli media, satu dosen ahli materi dan satu guru pengampu Menurut Arikunto, . validasi media merupakan validasi terhadap rancangan produk yang dihasilkan dengan kriteria penilaian aspek rekayasa perangkat lunak dan aspek komunikasi visual sedangkan validasi ahli materi dilakukan dan ditinjau dari empat aspek yaitu tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, sumber pembelajaran dan kegiatan Vol. 5 No 3. Tahun 2025, hal. 1038 Ae 1053 JRIP: Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran ISSN 2776-8872 Pada penelitian ini metode yang diterapkan dalam validasi video menggunakan rumus hasil dan data diinterpretasikan dengan kriteria kevalidan yang di jelaskan oleh Arikunto dalam (Putri et al. , 2. Gambar 1. Rumus Validasi Tabel 3. Kriteria Kevalidan Persentase Kriteria Kevalidan < 21% Sangat Tidak Valid 21% - 40% Tidak Valid 41% - 60% Cukup Valid 61% - 80% Valid 81% - 100% Sangat Valid Tabel 4. Hasil Validasi Ahli Media 1 dan 2 Aspek Kelayakan Rata-Rata Kategori Validasi Ahli Media 1 Aspek Rekayasa Perangkat 97,14% Lunak Aspek Komunikasi Visual Validasi Ahli Media 2 Sangat Valid Aspek Rekayasa Perangkat Lunak Aspek Komunikasi Visual Sangat Valid 90,5% Tabel 5. Validasi Ahli Materi 1 dan 2 Aspek Kelayakan Rata-Rata Kategori Validasi Ahli Materi 1 Tujuan Pembelajaran Materi Pembelajaran 90,6% Sangat Sumber Pembelajaran Valid Kegiatan Pembelajaran Validasi Ahli Materi 2 Tujuan Pembelajaran Materi Pembelajaran 90,6% Sangat Sumber Pembelajaran Valid Kegiatan Pembelajaran Dari tabel empat dan lima analisis data tersebut nilai rata-rata dari ahli media satu yaitu 97,14% dan ahli media dua 90,5% sedangkan hasil nilai rata-rata dari ahli materi satu dan dua yaitu 90,6%. Dari hasil rata-rata yang diperoleh maka kevalidan video di kategorikan sangat valid. Penelitian ini juga dilakukan oleh Puspaneli et al. , . yang mengembangkan media video tutorial pembuatan kamisol dalam mata kuliah adi busana, yang memperoleh Vol. 5 No 3. Tahun 2025, hal. 1038 Ae 1053 JRIP: Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran ISSN 2776-8872 nilai 90% dengan kategori sangat valid. Hasil dan Pembahasan Data penelitian ini bersumber dari penilaian keterampilan siswa dalam praktik penyelesaian pembuatan garis leher. Fokus utama penelitian adalah mengkaji sejauh mana penggunaan media berupa video tutorial dapat memengaruhi capaian belajar pada mata pelajaran Dasar-Dasar Busana siswa kelas X Program Keahlian Tata Busana di SMKN 8 Padang. Pelaksanaan penelitian melibatkan dua kelas yang dijadikan sampel. Kelas X Busana 2 diposisikan sebagai kelas eksperimen, di mana proses pembelajaran disampaikan dengan bantuan media video tutorial. Sementara itu, kelas X Busana 1 berperan sebagai kelompok kontrol yang tetap memperoleh pembelajaran melalui metode konvensional, yaitu penjelasan langsung dari guru disertai penggunaan fragmen sebagai contoh konkret. Dengan demikian, perbandingan hasil belajar antar kedua kelas dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai efektivitas media video dalam mendukung proses pembelajaran. Hasil Belajar Kelas Kontrol Dan Kelas Eksperimen Pada penelitian ini kedua kelas diberi perlakuan yang berbeda antara kelas kontrol dan kelas eksperimen. Waktu penelitian diberikan perlakuan yang sama yaitu, sebanyak dua kali pertemuan dengan durasi 120 menit baik kelas kontrol maupun kelas eksperimen. Berikut penjelasan hasil belajar kelas kontrol dan kelas eksperimen. Hasil Belajar Kelas Kontrol Hasil belajar pada kelas kontrol diperoleh dari siswa kelas X Busana 1, yang berjumlah 24 siswa diberi perlakukan secara konvensional dengan bantuan media PowerPoint dan fargmen dalam bentuk nyata dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Tabel 6. Distribusi Frekuensi Nilai Post-test Kelas Kontrol NO SKOR POST-TEST Jumlah Rata-Rata Nilai Terendah Nilai Tertinggi Standar Deviatioan Ketuntasan Tabel di atas menggambarkan nilai post-test kelas kontrol dengan nilai rata-rata yaitu Vol. 5 No 3. Tahun 2025, hal. 1038 Ae 1053 ISSN 2776-8872 JRIP: Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran 65,58, standar deviatioan 12,413, nilai terendah 44, nilai tertinggi 86. Hasil belajar siswa sesuai dengan Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang ditetapkan oleh sekolah yaitu 80 untuk setiap kompetensi didalam keterampilan. Berikut dapat dilihat tabel ketuntasan hasil belajar siswa. Tabel 7. Ketuntasan Hasil Belajar Post-Tes Kelas Kontrol Rentang Nilai Banyak Keterangan Siswa Siswa Ketuntasan Tidak Tuntas Tuntas Jumlah Berdasarkan tabel di atas, hasil belajar post-test kelas kontrol dinyatakan dari 24 orang siswa, sebanyak 18 orang dengan persentase 75% siswa tidak tuntas, dan 6 orang dengan persentase 25% tuntas. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa nilai post-test setelah diberikan perlakuan secara konvensional nilai siswa yang tidak tuntas lebih banyak dari jumlah siswa yang nilainya tuntas. Dari penjelasan hasil kelas kontrol di atas dapat di simpulkan rendahnya hasil belajar pada kelas kontrol ini dapat dijelaskan melalui teori belajar kognitivisme yang dikemukakan oleh Bruner (Dahar, 2. bahwa proses pembelajaran yang hanya bersifat verbal dan berpusat pada guru cenderung membuat siswa pasif, sehingga kemampuan berpikir dan pemahaman konseptual tidak berkembang optimal. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rachmawati & Russanti, . tentang AuEfektivitas Penggunaan Media Video dalam Meningkatkan Hasil Belajar Praktik Siswa SMK Tata BusanaAy juga menunjukkan bahwa pembelajaran konvensional memiliki keterbatasan dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Dalam penelitiannya, kelas yang menggunakan metode ceramah hanya mencapai rata-rata 67,15, jauh di bawah kelas yang menggunakan media video dengan ratarata 78,52. Temuan ini mengindikasikan bahwa pembelajaran konvensional tanpa dukungan media visual kurang mampu memfasilitasi siswa dalam memahami langkah-langkah teknis secara detail. Hasil Belajar Kelas Eksperimen Hasil belajar pada kelas eksperimen diperoleh dari siswa kelas X Busana 2 dengan jumlah sebanyak 24 orang siswa. Kelas eksperimen diberikan perlakuan dengan menggunakan media video tutorial dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Tabel 8. Distribusi Frekuensi Nilai Post-test Kelas Eksperimen SKOR POST-TEST Vol. 5 No 3. Tahun 2025, hal. 1038 Ae 1053 JRIP: Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran ISSN 2776-8872 Jumlah Rata-Rata Nilai Terendah Nilai Tertinggi Standar Deviatioan Ketuntasan Tabel di atas menggambarkan nilai post-test kelas eksperimen dengan nilai rata-rata yaitu 79,13, standar deviatioan 12,667, nilai terendah 58, nilai tertinggi 97. Hasil belajar siswa sesuai dengan Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang ditetapkan oleh sekolah yaitu 80 untuk setiap kompetensi didalam keterampilan. Berikut dapat dilihat tabel ketuntasan hasil belajar siswa: Tabel 9. Ketuntasan Hasil Belajar Post-Tes Kelas Eksperimen Rentang Banyak Keterangan Nilai Siswa Siswa Ketuntasan Tidak Tuntas Tuntas Jumlah Berdasarkan tabel di atas, hasil belajar post-test kelas eksperimen dinyatakan dari 24 orang siswa, sebanyak 10 orang dengan persentase 42% siswa tidak tuntas, dan 14 orang dengan persentase 58% tuntas. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa nilai post-test setelah diberikan perlakuan dengan menggunakan video tutorial nilai siswa sudah banyak yang di atas KKM. Peningkatan capaian belajar pada kelas eksperimen ini selaras dengan teori pembelajaran multimedia yang dipaparkan oleh Mayer . Menurut teori tersebut, proses pembelajaran akan lebih optimal apabila materi disampaikan melalui perpaduan unsur visual dan audio karena kombinasi ini mampu memperkuat pemahaman konseptual sekaligus meningkatkan daya ingat siswa. Dengan demikian, penggunaan video tutorial menjadi relevan karena mampu mengakomodasi gaya belajar visual maupun kinestetik. Hal ini membuat peserta didik lebih mudah dalam memahami langkah-langkah prosedural, misalnya dalam kegiatan menjahit atau penyelesaian garis leher. Temuan penelitian ini juga diperkuat oleh studi Gunawan et al. berjudul Penerapan Media Video Tutorial pada Elemen Pembuatan Pola Dasar Badan terhadap Hasil Belajar Siswa di Kelas X Tata Busana SMK Negeri 3 Kediri. Berdasarkan hasil yang diperoleh, diketahui bahwa setelah penerapan media video, terdapat 14,7% siswa yang belum mencapai ketuntasan, 20,6% siswa berada pada kategori cukup, dan 64,7% siswa berhasil Data tersebut mengindikasikan bahwa video tutorial mampu meningkatkan efektivitas pembelajaran, khususnya dalam materi pembuatan pola dasar badan wanita, karena memberikan kejelasan visual yang membantu siswa memahami sekaligus mempraktikkan keterampilan secara lebih baik. Perbandingan Hasil Belajar Kelas Kontrol Dan Eksperimen Pada penelitian ini, peneliti melakukan tahapan post-test untuk memperoleh data yang akan diteliti. Cara ini memerlukan dua kelas yaitu kelas eksperimen siswa X Busana 2 dan kelas kontrol siswa X Busana 1, dimana kelas eksperimen yaitu kelas yang diberi perlakuan dengan video tutorial dan kelas kontrol diberi perlakuan secara konvensional. Kedua kelas ini diberi materi yang sama dengan metode ajar yang berbeda Tujuan dari melakukan hal tersebut adalah untuk mengetahui hasil belajar siswa sebelum dan sesudah diberikan perlakuan, ternyata dibuktikan bahwa rata-rata siswa dikelas eksperimen pada data post-test lebih tinggi dibandingkan dengan nilai posttest kelas Kontrol, lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Vol. 5 No 3. Tahun 2025, hal. 1038 Ae 1053 JRIP: Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran ISSN 2776-8872 Tabel 10. Perbandingan Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen Posttest Kelas Posttest Kelas Eksperimen Kontrol Jumlah Siswa Rata-Rata Nilai Tertinggi Nilai Terendah Jumlah Nilai Dari penjelasan tabel di atas terlihat kelas eksperimen lebih tinggi jumlah nilainya dibandingkan dengan kelas kontrol. Nilai siswa kelas eksperimen mendapatkan nilai rata-rata post-test 79,13 dan kelas kontrol yang diberi perlakuan dengan media powerpoint dan fragmen mendapatkan nilai rata-rata 65,58. Selisih nilai rata-rata hasil post-test antara kedua kelas yaitu 13,55. Hasil belajar post-test kelas eksperimen memiliki nilai tertinggi 97 dan nilai terendah 58, sedangkan nilai post-test kelas kontrol memiliki nilai tertinggi 86 dan nilai Temuan penelitian ini konsisten dengan hasil studi yang dilakukan oleh Ulfah et al. berjudul Pengaruh Penggunaan Video Eksperimen Terhadap Hasil Belajar Siswa SMA Pada Pokok Bahasan Larutan Penyangga. Dalam penelitian tersebut, rata-rata nilai posttest kelas eksperimen tercatat sebesar 83,03, sedangkan kelas kontrol memperoleh skor 76,44. Perbedaan ini menunjukkan bahwa siswa yang belajar dengan bantuan media video mampu mencapai hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang mengikuti pembelajaran Sebelum menguji hipotesis, peneliti terlebih dahulu melaksanakan uji prasyarat yang mencakup uji normalitas dan homogenitas. Kedua uji ini dilakukan dengan memanfaatkan perangkat lunak SPSS versi 26. Uji normalitas digunakan untuk memastikan apakah distribusi data pada kelas eksperimen maupun kontrol berada dalam keadaan normal. Sementara itu, uji homogenitas bertujuan untuk menguji kesamaan varians dari kedua kelompok, sehingga hasil analisis statistik yang diperoleh dapat dianggap sahih (Saleha & Nadar, 2. Data Uji Normalitas Dalam penelitian ini, metode Kolmogorov-Smirnov dipilih sebagai dasar pengujian Suatu data dianggap berdistribusi normal apabila nilai signifikansi (Sig. ) yang dihasilkan pada output uji Kolmogorov-Smirnov lebih besar dibandingkan taraf signifikansi () yang ditetapkan, yaitu 5% atau 0,05. Adapun hasil pengujian normalitas post-test pada kedua kelas, baik eksperimen maupun kontrol, dapat diamati melalui tabel berikut: Tabel 11. Hasil Uji Normalitas Tests of Normality KolmogorovSmirnova Shapiro-Wilk Kelas Statistic Df Sig. Statistic Sig. Hasil Posttest Penyelesaian Eksperimen Garis Leher Posttest Kontrol Lilliefors Significance Correction Berdasarkan hasil pada tabel, diketahui bahwa nilai signifikansi Kolmogorov-Smirnov untuk post-test kelas kontrol sebesar 0,200, yang lebih besar dari taraf signifikansi 0,05. Dengan demikian, data dinyatakan berdistribusi normal karena kriteria uji menyebutkan Vol. 5 No 3. Tahun 2025, hal. 1038 Ae 1053 JRIP: Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran ISSN 2776-8872 bahwa data dapat dianggap normal apabila nilai Sig. melebihi nilai alpha yang ditetapkan, yaitu 5% . Sugiyono . menegaskan bahwa uji normalitas berfungsi untuk memastikan apakah data penelitian mengikuti distribusi normal atau tidak. Distribusi normal merupakan prasyarat penting dalam penerapan analisis statistik parametrik, misalnya uji t, karena metode parametrik mengandaikan bahwa sampel berasal dari populasi dengan sebaran data yang Sejalan dengan hal tersebut. Santoso dan Madiistriyatno . menyatakan bahwa data yang terdistribusi normal menandakan sampel yang digunakan telah mencerminkan populasi secara proporsional, sehingga hasil analisis yang diperoleh memiliki validitas untuk Temuan uji normalitas ini juga konsisten dengan penelitian Ramandhani et . yang melaporkan nilai signifikansi Kolmogorov-Smirnov sebesar 0,132 > 0,05. Hasil tersebut membuktikan bahwa data berdistribusi normal dan memberikan landasan yang kuat untuk melanjutkan analisis menggunakan uji t dua sampel independen. Uji Homogenitas Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui apakah dua kelompok data yang dibandingkan memiliki varians yang sama atau berasal dari populasi yang homogen. Menurut Sianturi, . uji homogenitas penting dilakukan sebelum analisis statistik parametrik, karena asumsi kesamaan varians menjadi dasar validitas hasil uji perbedaan rata-rata antar Pada penelitian ini, uji homogenitas dilakukan menggunakan LeveneAos Test. Suatu data dinyatakan homogen apabila nilai signifikansi (Sig. ) pada hasil uji Levene lebih besar daripada taraf signifikansi yang ditetapkan, yaitu = 0,05. Adapun hasil uji homogenitas data post-test pada kelas eksperimen dan kelas kontrol disajikan pada tabel berikut. Tabel 12. Hasil Uji Homogenitas Post-Test Hasil Belajar Siswa Test of Homogeneity of Variance Levene Statistic Sig. Hasil Based on Mean Penyelesaian Based on Median Garis Leher Based on Median and with adjusted df Based on trimmed mean Berdasarkan hasil uji homogenitas yang ditampilkan pada tabel, nilai signifikansi LeveneAos Statistic untuk post-test hasil belajar siswa pada kelas kontrol dan kelas eksperimen tercatat sebesar 0,925, yang lebih besar daripada taraf signifikansi 0,05. Kondisi ini menandakan bahwa kedua kelompok memiliki varians yang homogen, sehingga memenuhi prasyarat untuk dilanjutkan pada tahap analisis statistik berikutnya. Temuan ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Fahmi et al. , di mana uji Levene yang digunakan untuk menguji homogenitas antara kelas eksperimen dan kontrol menunjukkan nilai signifikansi 0,654 > 0,05. Hasil tersebut memperlihatkan bahwa varians antar kelompok adalah homogen. Dengan demikian, perbedaan hasil belajar yang muncul di antara kedua kelompok dapat dianggap sah secara statistik karena telah memenuhi asumsi dasar analisis parametrik. Uji Hipotesis Untuk menarik kesimpulan dari hasil pengujian hipotesis pada taraf signifikansi 5% ( = 0,. , digunakan kriteria pengambilan keputusan sebagai berikut. Apabila nilai t hitung lebih kecil daripada t tabel atau nilai signifikansi (Sig. ) melebihi 0,05, maka hipotesis nol (HCA) diterima dan hipotesis alternatif (HCA) ditolak. Hal ini berarti tidak terdapat perbedaan yang Vol. 5 No 3. Tahun 2025, hal. 1038 Ae 1053 JRIP: Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran ISSN 2776-8872 signifikan antara hasil belajar siswa yang diajar dengan media video tutorial dan mereka yang mengikuti pembelajaran konvensional. Sebaliknya, jika nilai t hitung lebih besar dari t tabel atau nilai signifikansi (Sig. ) lebih kecil dari 0,05, maka hipotesis nol (HCA) ditolak dan hipotesis alternatif (HCA) diterima. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan signifikan pada hasil belajar antara siswa yang memperoleh pembelajaran melalui video tutorial dengan siswa yang belajar menggunakan metode tradisional. Hasil uji t post-test tersebut tersaji pada tabel berikut. Tabel 13. Uji Independent Sample T-Tes Pengujian hipotesis dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan uji t melalui teknik Independent-Sample T-Test. Kriteria pengambilan keputusan ditetapkan pada taraf signifikansi 5% ( = 0,. , dengan ketentuan bahwa hipotesis nol (HCA) ditolak apabila nilai signifikansi (Sig. ) < 0,05. Sebaliknya, apabila nilai signifikansi lebih besar dari 0,05, maka HCA Berdasarkan hasil uji t pada data post-test kelas eksperimen dan kelas kontrol, diperoleh nilai t hitung sebesar 3,741 yang lebih tinggi dibandingkan t tabel sebesar 2,013. Selain itu, nilai Sig. -taile. sebesar 0,001 lebih kecil daripada 0,05. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa HCA ditolak dan HCA diterima. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan signifikan pada hasil belajar antara siswa yang memperoleh pembelajaran dengan bantuan video tutorial dan siswa yang diajar menggunakan metode konvensional. Perbedaan capaian belajar tersebut muncul sebagai akibat langsung dari perlakuan . yang diberikan kepada kelompok eksperimen. Oleh sebab itu, untuk mengetahui seberapa besar pengaruh perlakuan tersebut terhadap hasil belajar, dilakukan perhitungan menggunakan ukuran efek . ffect siz. dengan rumus CohenAos d. Adapun hasil perhitungan dapat dilihat pada tabel Gambar 2. Rumus Effect Size !"#!$ &',")#* , , "$,**& d= 1,0697086 . Berdasarkan perhitungan menggunakan rumus yang telah ditetapkan, diperoleh nilai Vol. 5 No 3. Tahun 2025, hal. 1038 Ae 1053 JRIP: Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran ISSN 2776-8872 effect size sebesar 1,1. Angka ini menegaskan bahwa penggunaan video tutorial memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap peningkatan hasil belajar siswa dalam materi penyelesaian garis leher di SMKN 8 Padang. Temuan tersebut memperlihatkan adanya perbedaan yang signifikan pada capaian akademik siswa. Hal ini tercermin dari rata-rata nilai post-test kelas eksperimen yang mencapai 79,13 dengan tingkat ketuntasan sebesar 58%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan video tutorial tidak hanya mempermudah proses belajar, tetapi juga meningkatkan efektivitas pembelajaran. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Aisyah et al. , yang menunjukkan bahwa penerapan video tutorial pada pembelajaran busana pria mampu menaikkan rata-rata nilai post-test dibandingkan pre-test dan menghasilkan perbedaan signifikan. Kajian tersebut menegaskan bahwa media video berperan penting dalam memperjelas tahapan kerja sehingga siswa lebih mudah memahami setiap proses. Kesimpulan serupa juga ditemukan dalam penelitian Ramandhani et al. berjudul AuPengaruh media pembelajaran video tutorial terhadap hasil belajar menjahit belahan busana pada siswa tata busana kelas X di SMK MaAoarif 2 Sleman tahun pelajaran 2023/2024Ay. Penelitian tersebut membuktikan bahwa hasil belajar siswa yang memanfaatkan media video tutorial lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang hanya menggunakan media presentasi PowerPoint maupun fragmen. Selain itu, penelitian Rianto et al. dalam Khairani & Nelmira . turut memperkuat temuan ini. Melalui penghitungan effect size yang menghasilkan nilai 0,77, mereka menunjukkan bahwa penggunaan media pembelajaran, khususnya video, terbukti membantu jalannya proses belajar dan berimplikasi positif terhadap hasil belajar kognitif siswa. Dengan demikian, rangkaian penelitian tersebut secara konsisten mengonfirmasi bahwa video tutorial merupakan sarana yang efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas kejuruan. Selanjutnya, penelitian Rihadah & Rahayu, . yang mengembangkan video tutorial pada kompetensi menjahit kerah rever menunjukkan bahwa media tersebut valid . kor rata-rata 3,65 dari ahli mater. dan efektif, dengan tingkat ketuntasan siswa mencapai 85%. Hal ini mendukung hasil penelitian ini bahwa video tutorial efektif tidak hanya pada materi umum busana, tetapi juga pada bagian-bagian yang lebih spesifik seperti kerah maupun garis leher. Penelitian Wati et al. , . tentang video tutorial dalam menggambar pola busana juga membuktikan bahwa media video mampu memberdayakan siswa menjadi pembelajar mandiri serta memperbaiki keterampilan menggambar pola. Dengan demikian, video tutorial tidak hanya berfungsi sebagai media praktik, tetapi juga membantu siswa membangun kemandirian belajar. Hasil ini menguatkan bahwa media video sangat relevan diterapkan pada materi praktis teknis seperti penyelesaian garis leher. Kesimpulan dan Saran Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan hasil belajar antara kelas eksperimen dan kelas kontrol pada materi penyelesaian garis leher di SMKN 8 Padang. Nilai rata-rata post-test kelas eksperimen sebesar 79,13, sedangkan kelas kontrol memperoleh rata-rata 65,58. Uji-t menghasilkan thitung 3,741 > ttabel 2,013 dengan Sig. -taile. 0,001 < 0,05, sehingga terdapat perbedaan hasil belajar siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan video tutorial dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional. Uji pengaruh perlakuan dengan effect size sebesar 1,1 berada pada kategori tinggi, yang menunjukkan bahwa penggunaan video tutorial memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan hasil belajar penyelesaian garis leher. Penelitian ini memperlihatkan bahwa pemanfaatan media video tutorial dalam pembelajaran kejuruan, khususnya pada mata pelajaran dasar-dasar busana, mampu menjadikan proses belajar lebih menarik, meningkatkan motivasi, serta memberi kesempatan bagi siswa untuk belajar secara mandiri. Media ini juga berpotensi Vol. 5 No 3. Tahun 2025, hal. 1038 Ae 1053 JRIP: Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran ISSN 2776-8872 mendukung peningkatan mutu pembelajaran di sekolah dan dapat dijadikan acuan dalam pengembangan metode pembelajaran yang lebih inovatif sesuai dengan karakteristik peserta didik dan perkembangan teknologi pendidikan. Konflik Kepentingan Penulis menyatakan tidak ada konflik kepentingan. Kontribusi Penulis M berperan dalam memahami ide penelitian yang diajukan sekaligus melakukan proses pengumpulan data. Sementara itu, tiga penulis lainnya. , dan M. terlibat secara aktif dalam pengembangan landasan teori, penyusunan metodologi, pengaturan serta analisis data, hingga pembahasan hasil penelitian serta penyusunan naskah akhir. Seluruh penulis menegaskan bahwa mereka telah membaca, menelaah, dan menyetujui versi final artikel ini sebelum dipublikasikan. Adapun pembagian kontribusi dalam kegiatan konseptualisasi, penulisan, dan perbaikan naskah adalah sebagai berikut: E. M sebesar 40%. P sebesar 20%. N sebesar 20%, dan M. M sebesar 20%. Pernyataan Ketersediaan Data Para penulis menegaskan bahwa tidak ada data baru yang dihasilkan maupun dianalisis dalam penelitian ini, sehingga proses berbagi data tidak dapat dilakukan. DAFTAR PUSTAKA