Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 Vol. No. Oktober 2025: 231-237 MEMBATIK SEBAGAI UPAYA PEMBENTUKAN KARAKTER SISWA SISWI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA Anggraeni Purnama Dewi Program Studi Sastra Rusia. Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Padjadjaran Email: anggraeni. purnama@unpad. ABSTRAK. Penulisan artikel ini bertujuan untuk memaparkan hasil penelitian terkait dengan upaya pembentukan karakter siswa siswi Sekolah Menengah Pertama melalui kegiatan membatik. Kunjungan siswa siswi Sekolah Menengah Pertama Bintang Madani Kota Bandung ke Rumah Batik Komar yang berada di kota Bandung, telah berhasil memberikan pemahaman kepada para siswa akan nilai penting dan istimewa dari kesenian batik yang ada di Indonesia. Batik sebagai warisan budaya nasional tentu memiliki nilai historis tersendiri yang harus dipahami oleh para siswa. Dengan memahami nilai sejarah dan budaya bangsa, yaitu batik, maka para siswa akan memiliki nilai kepedulian yang lebih tinggi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur dan observasi ke lapangan, yaitu kegiatan membatik yang diikuti para siswa secara langsung di Rumah Batik Komar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa siswi yang mengikuti kegiatan membatik, dapat belajar lebih sabar, tekun, disiplin, dan berhati-hati. Mereka mengetahui bahwa membuat batik, baik batik tulis dengan metode manual canting, maupun batik cap dengan menggunakan cap logam, diperlukan proses yang tidak mudah dan sangat menuntut kesabaran, ketekunan, dan ketelitian. Secara otomatis, dengan mengetahui proses pembuatan batik, maka mereka memiliki rasa menghargai terhadap karya seni batik yang ada selama ini. Kata kunci: Budaya. Batik. Pendidikan. Karakter. Siswa Siswi Sekolah Menengah Pertama BATIK AS A CHARACTER-FORMING METHOD FOR JUNIOR HIGH SCHOOL STUDENTS ABSTRACT. This article aims to present the results of research related to efforts to shape the character of junior high school students through batik activities. The visit of Bintang Madani Junior High School students in Bandung City to Rumah Batik Komar in Bandung City has succeeded in providing students with an understanding of the important and special value of batik art in Indonesia. Batik as a national cultural heritage certainly has its own historical value that must be understood by students. By understanding the historical and cultural values of the nation, namely batik, students will have a higher level of concern. The method used in this study is a literature study and field observation, namely batik activities that students participated in directly at Rumah Batik Komar. The results showed that students who participated in batik activities could learn to be more patient, diligent, disciplined, and careful. They learned that making batik, both hand-drawn batik using the manual canting method, and stamped batik using a metal stamp, requires a process that is not easy and requires patience, perseverance, and precision. Automatically, by understanding the batik-making process, they develop a sense of appreciation for the art of batik that has existed throughout history. Keywords: Culture. Batik. Education. Character. Junior High School Students PENDAHULUAN Pendidikan karakter adalah suatu sistem penamaan nilai-nilai karakter yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun Pengembangan karakter bangsa dapat dilakukan melalui perkembangan karakter individu seseorang. Akan tetapi, karena manusia hidup dalam lingkungan sosial dan budaya tertentu, maka perkembangan karakter individu seseorang hanya dapat dilakukan dalam lingkungan sosial dan budaya yang bersangkutan (Rico & Nadilla, 2024: . Pendidikan karakter menjadi isu populer sebagai diskursus bagi perbaikan moral suatu bangsa sehingga penting untuk ditanamkan pada anak usia dini dalam kaitannya dengan masa tumbuh kembang dan relasi sosial anak (Cheung & Lee, 2010. Mei-Ju. Chen-Hsin, & Pin-Chen, 2. Salah satu faktor pembentuk nilai karakter pada seseorang adalah kearifan lokal yang ada di sekitarnya. Kearifan lokal menjadi sumber alternatif nilai-nilai kebijaksanaan hidup yang berisi ide atau gagasan dan perilaku bijak yang dapat digunakan sebagai pedoman aktivitas sehari-hari dalam hubungannya dengan relasi keluarga, tetangga, dan orang lain yang tinggal di sekitarnya sebagai media pembentukan karakter bagi institusi pendidikan formal seperti sekolah (Prihanto. Soemanto, & Haryono, 2. Pendidikan Karakter mempunyai peran yang signifikan. Melalui pendidikan karakter ini, akan tercapai tujuan pendidikan bangsa yang cerdas dan berkahlak mulia, serta menjadi manusia yang seutuhnya. Pendidikan karakter Membatik Sebagai Upaya Pembentukan Karakter Siswa Siswi Sekolah Menengah Pertama (Anggraeni Purnama Dew. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 penting sebagai penyeimbang kecakapan kognitif, yang mempunyai ciri adanya koherensi atau membangun percaya diri, adanya otonomi dan adanya keteguhan. Pendidikan karakter akan melahirkan pribadi unggul yang tidak hanya memiliki kemampuan kognitif saja namun memiliki karakter yang mampu mewujudkan kesuksesan (Sudarwanto, et al. , 2022: . Pendidikan Sejarah bertujuan untuk menanamkan dan mengembangkan kesadaran sejarah dalam diri generasi muda terutama para peserta Sejarah bukan warisan, melainkan pembelajaran tentang aktivitas manusia dalam mencapai gagasannya pada ruang dan waktu. Mempelajari sejarah dapat dimaknai sebagai mempelajari masa lampau, tetapi hidup bukan untuk masa lampau, melainkan memperoleh maknanya untuk diimplementasikan dengan masa sekarang yang hasilnya sangat diperlukan sebagai bentuk perjuangan untuk merancang masa yang akan datang. Sejarah memberikan informasi, bahwa tidak ada gagasan yang tetap sepanjang kehidupan, dan tidak akan bermakna apabila segala hal hanya dalam keadaan yang stabil dan bernilai. (Anis. , & Mardiani, 2020: . Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, bahwa salah satu faktor pembentuk nilai karakter pada seseorang adalah kearifan lokal yang ada di sekitarnya. Salah satu kearifan lokal yang dapat dijadikan pembelajaran nilai karakter adalah seni batik yang merupakan budaya bangsa dengan ciri khas motif yang unik dan penuh makna simbolik (Miranti, et al. , 2021: . Membatik merupakan salah satu kegiatan positif yang saat ini sering dijumpai di dunia Selain sebagai sarana untuk mengenalkan warisan budaya Indonesia yang sangat istimewa, kegiatan membatik ini dapat menjadi salah satu upaya untuk menyalurkan minat siswa dan membentuk karakter siswa. Dengan melakukan kegiatan membatik, maka terjadi proses Pada proses membatik sangat dibutuhkan kesabaran dan ketelitian untuk mencapai hasil yang optimal. Kegiatan membatik yang dilakukan secara terus menerus akan berpengaruh pada kemampuan mengendalikan diri seseorang baik secara langsung maupun tidak Kesenian membatik merupakan salah satu kesenian atau budaya asli Indonesia yang diakui oleh mancanegara. Di dalam proses membatik terdapat nilai-nilai kearifan lokal yang selaras dengan nilai-nilai pendidikan. Kesenian membatik dapat diajarkan kepada siswa sejak di bangku Sekolah Dasar. Hal ini disebabkan karena proses membatik tidak terlalu sulit dan masih sesuai bagi siswa usia Sekolah Dasar untuk mempelajarinya. Batik pada masa globalisasi merupakan identittas kultural bangsa Indonesia (Iskandar & Kustiyah, 2. Batik merupakan warisan budaya bangsa yang pada akhirnya dunia mengakui sebagai warisan budaya tak benda bangsa Indonesia (Intangible cultural heritag. Selain itu batik sudah ditetapkan sebagai Indonesian Cultural Heritage oleh badan dunia yang menangani masalah pendidikan, pengetahuan, dan kebudayaan, yaitu United Nations Educational. Scientific and Cultural Orgnisation (UNESCO). Sejak tanggal 2 Oktober 2009. Batik oleh badan dunia tersebut telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia tak benda bangsa Indonesia. Karena batik sudah menjadi warisan budaya dunia, maka kita perlu menjaga dan melestarikannya. Untuk menjaga kelestariannya, maka perlu adanya usaha-usaha untuk menjaganya agar tidak punah. Salah satu cara untuk melestarikannya adalah dengan merawat dan mempelajari proses pembuatan batik sejak dini, yaitu minimal di tingkat Sekolah Dasar (Kurniawan, et al. 2023: . Batik merupakan keragaman corak yang menjadi bagian kehidupan masyarakat Jawa sejak lama, dan merupakan ekspresi yang menggambarkan pengharapan maupun cita-cita, sehingga dapat dikatakan bahwa batik merupakan hasil kebudayaan yang perlu dipelajari dan dikembangkan sejak usia Sekolah Dasar. Hal ini disebabkan karena batik sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat. Selain itu, pentingnya mengenal dan mempelajari batik pada anak usia Sekolah Dasar adalah: . Menumbuhkan kecintaan pada batik sebagai warisan seni budaya Indonesia. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan pendidikan membatik sehingga anak bisa langsung merasakan, menggoreskan motif dengan canting yang sudah diisi cairan . Menumbuhkan pendidikan berkarakter budaya ketimuran yang sekarang ini mulai Selain itu, kegiatan membatik dapat mengatasi anak yang memiliki ketergantungan gadget di dalam aktivitasnya sehari-hari. Dengan belajar membatik anak akan terbiasa melakukan kegiatan positif dan sebagai media kreativitas anak dalam berkarya (Sudarwanto, 2. Telah banyak penelitian terdahulu yang membahas terkait kesenian batik dalam dunia pendidikan dengan segala sudut pandangnya. Penelitian ini merujuk pada beberapa penelitian Penelitian pertama adalah yang dituliskan dalam artikel berjudul AuMakna Dalam Mempelajari Seni Batik Agar Menciptakan Pendidikan Membatik Sebagai Upaya Pembentukan Karakter Siswa Siswi Sekolah Menengah Pertama (Anggraeni Purnama Dew. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 Karakter Dalam Sejarah KebudayaanAy yang ditulis oleh Rico dan Nadilla tahun 2024. Dalam penelitiannya dijelaskan bahwa makna dalam mempelajari seni batik agar menciptakan pendidikan karakter dalam sejarah kebudayaan, yaitu dengan mengimplementasikan seni batik dalam kegiatan pembelajarannya oleh para peserta didik. Hal ini disebabkan karena dalam seni batik secara tidak langsung diajarkan nilainilai karakter yang baik, yang pada kain batik tersebut terdapat motif yang terbentuk dari hewan, tumbuhan, atau alam. Motif tersebut mengajarkan hubungan manusia dengan pencipta, manusia dengan manusia, maupun manusia dengan lingkungan alam, sehingga mampu menciptakan keselarasan dalam hidup Dengan memahami dan memaknai nilainilai positif yang terkandung dalam kesenian batik, maka para peserta didik telah menyukseskan kegiatan pembelajaran yaitu pendidikan Adanya perkembangan zaman yang ditandai dengan adanya era globalisasi, keseniaan batik dalam beberapa penggunaannya telah Pada zaman dahulu kesenian batik hanya boleh berada di ruang lingkup keraton saja, para rakyat biasa tidak boleh menggunakannya. Adapun pada zaman sekarang, kesenian batik merupakan kesenian yang bisa dipakai oleh berbagai kalangan dan dapat diimplementasikan dalam pendidikan karakter para peserta didik. Penelitian selanjutnya adalah artikel yang ditulis oleh Kurniawan, et al. , 2023. Artikel tersebut berjudul AuBatik: Nilai-Nilai Pendidikan Dalam Kegiatan Membatik di Sekolah DasarAy. Dalam artikelnya dijelaskan bahwa nilai-nilai pendidikan dalam kegiatan membatik adalah ranah afektif, yaitu terdapat pendidikan karakter di dalam kegiatan membatik yang meliputi, ketelitian, kesabaran, kreativitas, saling menghargai dan lain sebagainya. Hal ini tentunya sangat bermanfaat untuk ditanamkan kepada anak sejak usia dini, bukan hanya teori namun pengalaman langsung, agar menjadi pembelajaran yang berdampak positif bagi perkembangan Pendidikan karakter tidak bisa hanya dipelajari secara teori atau lisan, namun para peserta didik harus benar-benar mengalami dan merasakannya langsung, maka dalam kegiatan membatik yang memiliki nilai-nilai pendidikan seharusnya bisa dipraktikan di sekolah-sekolah dengan catatan gurunya memiliki kompetensi untuk mengajarkannya. Untuk itu harus ada dukungan dari pihak Kepala Sekolah dan Institusi Dengan adanya pelatihan dan workshop, hal ini berarti turut melestarikan warisan budaya dunia yang telah ditetapkan oleh UNESCO. Adapun rujukan yang ke tiga dari penelitian ini adalah artikel yang berjudul AuAnalisis Makna Simbolik dan Nilai-Nilai Motif Batik Jetis Sebagai Implementasi Etnopedagogi Untuk Penguatan Karakter Profil Pelajar PancasilaAy, yang ditulis oleh Anindya, et al. Dalam artikelnya dipaparkan bahwa Batik Jetis memiliki beberapa motif yang masingmasing motifnya memiliki makna simbolik dan mengandung sebuah nilai. Nilai yang terkandung dalam motif batik jetis selaras dengan nilai karakter profil pelajar Pancasila. Motif batik jetis mengandung nilai kerja keras, peduli lingkungan, kejurjuran, cinta damai, mandiri, keindahan, dan Nilai karakter profil pelajar Pancasila meliputi: . Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, . Mandiri, . Bergotong-royong, . Berkebinekaan global, . Bernalar kritis, dan . Kreatif. Kesinambungan antara elemen tersebut kemudian ditransformasikan dalam pembelajaran dengan berbasis pendidikan karakter. Pendidikan karakter ini selaras dengan teori Thomas Lickona yang memandang bahwa pendidikan memiliki tujuan utama untuk menciptakan karakter yang baik pada peserta didik. METODE Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alami, yang mana peneliti adalah instrument kunci (Moleong, 2007: . Penelitian kualitatif digunakan dengan tujuan agar hasil penelitan didasarkan pada pengembangan teori-teori yang telah ada. Metode penelitian ini menggunakan tinjauan pustaka atau studi literatur, yaitu metode pengumpulan data dengan cara memahami dan mempelajari teori-teori dari berbagai sumber literatur yang relevan dengan penelitian tersebut. (Adlini et al. , 2. Adapun tahapan dalam penelitian studi literatur meliputi: . Penelusuran sumber, yaitu tahap mencari berbagai karya ilmiah yang relevan dengan topik penelitian, . Klasifikasi berbagai sumber yang ditemukan berdasarkan formula penelitian, . Pengolahan data yaitu melakukan sitasi, . Menampilkan data, . Abstraksi data, . Interpretasi data, dan . Menarik kesimpulan (Darmalaksana, 2. Lebih fokus lagi, jenis studi literatur yang digunakan ialah systematic literature review yang bertujuan untuk menjawab rumusan Membatik Sebagai Upaya Pembentukan Karakter Siswa Siswi Sekolah Menengah Pertama (Anggraeni Purnama Dew. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 masalah dengan spesifik, terfokus, dan relevan (Anindya, et al. , 2024: 350-. HASIL DAN PEMBAHASAN Paradigma Baru Pendidikan dan Urgensitas Pendidikan Karakter di SMP Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan Penyelenggaraan Pendi-dikan pada Pasal 17 Ayat . menyebutkan bahwa pendidikan dasar, termasuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) bertujuan membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang . beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. berakhlak mulia, dan berkepribadian . berilmu, cakap, kritis, kreatif, dan . sehat, mandiri, dan percaya diri. toleran, peka sosial, demokratis, dan bertanggungjawab. Berdasarkan hal tersebut, maka jelas bahwa tujuan pendidikan di setiap jenjang, termasuk SMP sangat berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik (Barus, 2015: 224-. Menyadari pentingnya karakter, dewasa ini banyak pihak menuntut peningkatan intensitas dan kualitas pelaksanaan pendidikan karakter pada lembaga pendidikan formal. Tuntutan tersebut didasarkan pada fenomena sosial yang berkembang, yakni meningkatnya kenakalan remaja dalam masyarakat, seperti perkelahian massal, premanisme, tindak kekerasan, penipuan, pencurian, seks bebas, dan berbagai kasus dekadensi moral lainnya. Bahkan di kota-kota besar tertentu, gejala tersebut telah sampai pada taraf yang sangat meresahkan. Terdapat kecenderungan bahwa emotional behavior tampaknya meningkat di semua lapisan masyarakat kita (Astuti, 1999: . Oleh karena itu, lembaga pendidikan formal sebagai wadah resmi Pembinaan generasi muda diharapkan dapat meningkatkan peranannya dalam pemben-tukan kepribadian peserta didik melalui peningkatan intensitas dan kualitas pendidikan karakter. Tujuan Pendidikan Karakter di SMP Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik SMP mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuan, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari (Suyanto, 2010:. Karakter dikembangkan melalui tahap pengetahuan . , pelaksanaan . , dan kebiasaan . Dengan demikian, diperlukan tiga komponen karakter yang baik . omponents of good characte. , yaitu moral knowing . engetahuan tentang mora. , moral feeling atau perasaan . enguatan emos. tentang moral, dan moral action atau perbuatan Dimensi-dimensi yang termasuk dalam moral knowing yang akan mengisi ranah kognitif adalah kesadaran moral . oral awarenes. , pengetahuan tentang nilai-nilai moral . nowing moral value. , penentuan sudut pandang . erspective takin. , logika moral . oral reasonin. , keberanian mengambil sikap . ecision makin. , dan pengenalan diri . elf Moral feeling merupakan penguatan aspek emosi peserta didik untuk menjadi manusia Pendidikan Karakter Melalui Seni Batik Seni batik dan pendidikan karakter erat Peserta didik yang mengenal seni batik akan lebih memiliki karakter yang positif. Hal ini disebabkan karena dalam seni batik peserta didik dapat memahami dan memaknai nilai-nilai positif pada motif yang ada di kain Peserta didik akan dapat memahami, menerima orang lain, saling menghormati, memiliki kebijakan dalam membuat keputusan dan melakukan tindakan, serta melaksanakan aturan berdasarkan segenap hati dan tidak melakukan pelanggaran. Oleh karena itu dalam seni batik secara tidak langsung mengajarkan nilai-nilai karakter yang positif kepada peserta Contohnya dalam motif batik jawa yang mempunyai pesan tersirat dalam batik sidomukti sebagai lambang kemakmuran, sido luhur sebagai lambang kebahagiaan, parang rusak barong sebagai raja dengan segala tugas kewajibannya, dan kesadaran sebagai seorang manusia yang kecil di hadapan Sang Maha Pencipta. Parang barong mengandung sesuatu yang besar tercermin pada besarnya ukuran motif tersebut pada kain. Parang barong hanya dikenakan oleh seorang raja. Motif ini mempunyai makna agar seorang raja selalu hatihati dan dapat mengendalikan diri. Makna tersebut dapat diserap oleh peserta didik dan dapat mereka terapkan dalam kehidupan keseharian mereka. (Antari. Purnamasari. , & Adiputra. 2019: . Metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam pendidikan karakter melaui seni batik yaitu dapat menggunakan metode Karya Wisata dengan mengunjungi tempattempat bersejarah, khususnya terkait dengan kesenian batik. Hal ini dapat menjadikan peserta didik tertarik dengan kegiatan pembelajaran. Apabila metode karya wisata sulit dilaksanakan, maka dapat diganti dengan bantuan media Guru memberikan informasi Membatik Sebagai Upaya Pembentukan Karakter Siswa Siswi Sekolah Menengah Pertama (Anggraeni Purnama Dew. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 tentang kesenian batik kepada peserta didik dengan menayangkan video dokumenter tentang sejarah batik dan video tentang makna-makna positif yang terkandung dalam motif batik, sehingga makna tersebut dapat diserap para peserta didik dan diambil nilai positifnya. Peserta didik juga diberi tugas untuk berkreasi sesuai dengan imajinasi mereka, yaitu dengan masingmasing peserta didik membuat infografis terkait makna positif pada motif batik yang ada dikain Dengan cara tersebut maka para peserta didik dapat menyerap nilai-nilai positif yang ada di kain batik dan memaknainya sehingga dapat menciptakan adanya pendidikan karakter (Rico, et al. , 2. Kunjungan ke Batik Komar Melanjutkan dari penelitian terdahulu, maka dalam penelitian ini akan dibahas terkait kegiatan membatik yang dilakukan oleh siswa siswi Sekolah Bintang Madani. Bandung. Jawa Barat. Kegiatan membatik yang diikuti oleh siswa siswi kelas 7 dan 8, dengan jumlah siswa sekitar 90 orang, merupakan bagian dari Outing Class yang merupakan salah satu program pendi-dikan karakter yang diberikan oleh pihak sekolah. Dalam kegiatan tersebut, para siswa mengunjungi Rumah Batik Komar yang merupakan tempat produksi batik di Kota Bandung. Batik Komar adalah satu-satunya perajin batik tradisional di Indonesia yang memiliki latar belakang sebagai akademisi dan praktisi yang handal dan terpercaya serta concern terhadap dokumentasi karya yang lengkap dan detail, dimulai dari pengumpulan sketsa/gambar dasar dari ukuran A4 hingga A0 dilengkapi dengan format data digital dalam format vector yang lengkap. Koleksi desain batik yang dimilikinya lebih dari 10. 000 sketsa, tersusun rapih dalam bentuk dokumentasi fisik dan digital yang bisa dijadikan referensi bagi siapa saja yang memiliki minat untuk mempelajarinya. Batik Komar memiliki 150 desain batik yang telah mendapatkan sertifikasi Hak Cipta di Kementerian Hukum dan HAM. Koleksi cap batik yang dimilikinya berupa ragam hias batik seluruh nusantara yang berjumlah lebih dari 4000 desain, tersusun rapi dalam rak penyimpan cap dengan kode inventaris berdasarkan jenis dan bentuk cap yang tersedia. Selain koleksi desain dan cap batik tersebut. Batik Komar memiliki buku-buku dokumentasi batik lebih dari 50 judul buku dan sebagian telah mendapatkan ISBN dan telah beredar serta dijadikan referensi bagi perajin batik di berbagai daerah . ttps://batikkomar. profile-komarudin-kudiy. Batik Komar memiliki visi dan misi. Visi Batik Komar adalah melestarikan dan menumbuhkan tradisi batik tulis dan cap sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat perajin batik tradisional pada khususnya, dan menumbuhkan industri kerajinan batik Indonesia pada umumnya. Adapun misinya adalah: . Batik Tradisional Trusmi Cirebon bisa lebih dikenal di kancah dunia batik nasional dan internasional. Meningkatkan kesejahteraan karyawan melalui lingkungan tempat kerja dan tempat tinggal yang bersih dan sehat, pemberian upah yang wajar sesuai dengan keahlian dan prestasi kerja yang diberikan kepada . Meningkatkan kualitas dan daya saing yang berpotensi untuk memasuki pasar . Memperkaya desain motif untuk menambah perbendaharaan motif-motif tradisional yang sudah ada dan memasyarakat. Melakukan inovasi pada bidang bahan dasar kain, melalui pengembangan desain tekstur tenun dan melakukan kombinasi serat alam. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang industri kerajinan batik dengan cara mendidik tenaga-tenaga terampil dan produktif yang diambil dari daerah-daerah di luar pusat pengrajin batik. Memperluas jaringan kerja dengan pusat-pusat industri kerajinan batik melalui pertukaran informasi desain dan proses . Berbagi ilmu dan informasi tentang berbagai proses batik bagi pengrajin batik di daerah-daerah tertentu yang ingin mengembangkan industri kerajinan batik. Dalam kunjungan tersebut, para siswa mendengarkan dan memperhatikan bagaimana cara membuat batik. Mereka juga diperkenalkan tahapan-tahapan pembuatan batik. Setelah itu para siswa secara bergantian memasuki ruang pencetakan batik. Mereka secara langsung mempraktekkan teknik mencetak atau mencap Para siswa dapat memilih gambar yang disukainya untuk kemudian ditempelkan ke kain batik yang telah disediakan. Para siswa dengan penuh kesabaran mengikuti petunjuk cara membuat batik. Metode pembuatan batik meliputi batik tulis . anual dengan cantin. , batik cap . enggunakan cap loga. , batik lukis . enggunakan kuas dan ca. , batik celup ikat . engikat kain sebelum dicelu. , dan batik printing . eknik modern menggunakan mesi. Adapun para siswa Sekolah Bintang Madani yang mengunjungi Rumah Batik Komar tersebut, diajarkan cara pembuatan batik dengan metode manual menggunakan canting, atau yang dikenal dengan batik tulis, dan metode cap, atau membatik dengan menggunakan cap logam. Membatik Sebagai Upaya Pembentukan Karakter Siswa Siswi Sekolah Menengah Pertama (Anggraeni Purnama Dew. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 Gambar 1. Siswa belajar membuat batik tulis Sumber: Dokumentasi Pribadi Gambar 2. Siswa belajar membuat dengan menggunakan canting secara manual batik cap Sumber: Dokumentasi Pribadi merasakan secara langsung proses membuat batik, yang selama ini belum pernah mereka Bahkan tidak sedikit dari mereka yang menginginkan adanya ektrakulikuler atau mulok membatik yang diselenggarakan di sekolah. Adapun sisi lain dari perasaan senang, para siswa juga memperoleh kesulitan dalam kegiatan membatik, khususnya ketika praktek membuat batik tulis yang dibuat secara manual dengan Mereka mengatakan bahwa teknik ini lebih sulit dari teknik cap karena diperlukan kesabaran dan konsentrasi yang kuat untuk proses pengerjaannya. Menurut (Sunaryo, 2. proses pembuatan batik tulis dapat dimulai dari membuat sketsa di atas kain catoon dengan Setelah itu di atasnya dituliskan dengan cairan lilin malam yang menggunakan canting. Proses selanjutnya adalah memberi warna tekstil. Setelah diberi warna, proses terakhir yaitu menghilangkan lilin malam dari kain agar motif-motif yang dibuat nampak dengan jelas konturnya. Selain ilmu membatik yang mereka dapatkan, para siswa merasa sangat bahagia karena mereka memperoleh buah tangan hasil karya mereka sendiri. Setiap siswa mendapatkan satu buah syal bermotif batik yang telah mereka buat dengan teknik cap, ada yang mendapatkan warna merah, dan ada juga yang berwarna biru. Kegiatan membatik di Rumah Batik Komar ini telah memberikan pengalaman yang sangat berharga bagi para siswa Sekolah Bintang Madani. SIMPULAN Gambar 3. Siswa sedang mengeringkan batik Sumber: Dokumentasi Pribadi Dalam kegiatan tersebut, para siswa sangat antusias untuk dapat mengikuti semua rangkaian acara, dari mulai memperhatikan para pembatik di sana melakukan kegiatan membatiknya, dilanjutkan dengan memperhatikan materi pembuatan batik yang disampaikan oleh staf di sana, sampai praktek langsung membuat batik dengan didampingi para pekerja di Rumah Batik Komar. Sebagian besar dari merasa senang dan mengakui bahwa kegiatan membatik sangat memberikan dampak positif, khususnya terhadap emosi Mereka mengakui dan menyadari bahwa proses pembuatan batik memerlukan waktu yang lama untuk menghasilkan produk yang istimewa. Para siswa merasa senang karena dapat Kunjungan siswa siswi Sekolah Menengah Pertama Bintang Madani ke Rumah Batik Komar telah memberikan dampak positif dan mencerminkan nilai-nilai pembentukan karakter. Nilai-nilai Pendidikan dalam kegiatan membatik adalah ranah afektif, yaitu terdapat pendidikan karakter di dalam kegiatan membatik yang meliputi, ketelitian kesabaran, kreativitas, saling menghargai dan lain sebagainya, hal ini tentunya sangat bermanfaat untuk ditanamkan kepada anak sejak usia dini. Bukan hanya teori, namun pengalaman secara langsung. Pendidikan karakter tidak bisa hanya dipelajari secara teori atau lisan, namun harus benar-benar dialami dan dirasakan secara Oleh karena itu, dalam kegiatan membatik yang memiliki nilai-nilai pendidikan, seharusnya bisa dipraktikan di sekolah-sekolah dengan catatan bahwa guru pendamping memiliki kompetensi untuk mengajarkannya. Untuk itu harus ada dukungan dari pihak Kepala Sekolah dan Institusi terkait. Membatik Sebagai Upaya Pembentukan Karakter Siswa Siswi Sekolah Menengah Pertama (Anggraeni Purnama Dew. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 DAFTAR PUSTAKA