Zona Komputer P-ISSN 2087-7269. E-ISSN 2798-9003 Volume 15. Nomor 02 (Agustus 2. TATA KELOLA TEKNOLOGI INFORMASI PADA SEKTOR PENDIDIKAN DAN KESEHATAN: PENERAPAN FRAMEWORK COBIT 2019 UNTUK MENINGKATKAN EFEKTIVITAS LAYANAN PUBLIK Ade Kurniawan1 . John Friadi2. Gandhi Sutjahjo3. Eisyaniah Desvazulinda4 Program Studi Sistem Informasi. Fakultas Teknik. Universitas Batam. Indonesia adewawan28@gmail. com1, john. friadi@univbatam. id2, gandhi. sutjahjo@univbatam. eisyaniahdesvazulinda96@gmail. Abstract Digital transformation has become a major driver in improving the quality of public services, including in the education and health sectors. However, without adequate information technology (IT) governance, technology utilization can experience significant obstacles. This study examines the application of the COBIT 2019 framework in managing IT in educational institutions and health Using a case study approach and qualitative analysis, this study evaluates the level of IT governance capabilities and provides strategic recommendations. The results show that the structured application of COBIT 2019 can improve service effectiveness and strengthen the foundation of sustainable digital transformation. Keywords: COBIT 2019. IT Governance. Education. Healthcare. Digital Transformation. Abstrak Transformasi digital telah menjadi pendorong utama dalam peningkatan kualitas layanan publik, termasuk di sektor pendidikan dan kesehatan. Namun, tanpa tata kelola teknologi informasi (TI) yang memadai, pemanfaatan teknologi dapat mengalami hambatan signifikan. Penelitian ini mengkaji penerapan framework COBIT 2019 dalam mengelola TI di institusi pendidikan dan fasilitas Dengan menggunakan pendekatan studi kasus dan analisis kualitatif, penelitian ini mengevaluasi tingkat kapabilitas tata kelola TI dan memberikan rekomendasi strategis. Hasilnya menunjukkan bahwa penerapan COBIT 2019 secara terstruktur mampu meningkatkan efektivitas layanan serta memperkuat fondasi transformasi digital yang berkelanjutan. Kata Kunci: COBIT 2019. Tata Kelola TI. Pendidikan. Kesehatan. Transformasi Digital. Pendahuluan Teknologi informasi telah menjadi tulang punggung dalam penyelenggaraan layanan publik modern di berbagai sektor, termasuk pendidikan dan kesehatan. Perkembangan pesat teknologi digital telah mengubah cara organisasi beroperasi, berinteraksi, dan memberikan pelayanan kepada masyarakat. Di era Revolusi Industri 4. 0, tuntutan terhadap efisiensi, transparansi, dan akurasi semakin tinggi sehingga lembaga publik perlu beradaptasi dengan memanfaatkan teknologi informasi mendukung tata kelola dan pelayanan. Transformasi digital bukan lagi sekadar Zona Komputer P-ISSN 2087-7269. E-ISSN 2798-9003 pilihan, melainkan menjadi kebutuhan strategis untuk menjawab dinamika masyarakat yang semakin bergantung pada layanan berbasis teknologi. Dalam pemanfaatan teknologi informasi telah membawa perubahan signifikan terhadap model pelayanan publik. Pemerintah di berlomba-lomba mengembangkan konsep e-Government, eHealth, dan e-Education sebagai bagian dari strategi modernisasi birokrasi. Layanan publik yang sebelumnya bersifat manual kini beralih menjadi sistem digital yang memungkinkan integrasi data dan proses secara real-time. Hal ini tidak hanya meningkatkan efisiensi administratif, tetapi juga memperluas akses masyarakat terhadap layanan publik yang inklusif dan Indonesia sebagai negara berkembang turut menghadapi tantangan dalam mempercepat transformasi digital di sektor-sektor strategis tersebut. Pandemi COVID-19 momentum penting yang mempercepat penerapan teknologi informasi dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk pendidikan dan kesehatan. Kebijakan pembatasan sosial mendorong lembaga pendidikan untuk beralih ke sistem pembelajaran daring, sementara rumah mengoptimalkan layanan digital seperti rekam medis elektronik, telemedicine, dan sistem pendaftaran daring. Perubahan mendadak ini menunjukkan bahwa kesiapan teknologi dan kapasitas sumber daya manusia menjadi faktor krusial dalam menjaga keberlanjutan pelayanan publik di masa krisis. Namun, pandemi juga mengungkap kesenjangan digital yang cukup lebar di berbagai wilayah Indonesia. Volume 15. Nomor 02 (Agustus 2. Data dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menunjukkan bahwa hanya sekitar 70 persen sekolah di Indonesia pembelajaran daring yang memadai selama masa pandemi. Hal ini menandakan masih adanya hambatan dalam pemerataan infrastruktur dan kemampuan teknologi di lingkungan pendidikan. Keterbatasan jaringan internet, perangkat pembelajaran, memanfaatkan teknologi menjadi kendala Ketimpangan ini tidak hanya berdampak pada kualitas pembelajaran, tetapi juga berpotensi memperlebar kesenjangan pendidikan antara wilayah perkotaan dan Sementara itu, di sektor kesehatan, permasalahan serupa juga terjadi. Banyak rumah sakit dan puskesmas yang belum memiliki sistem informasi kesehatan yang terintegrasi secara menyeluruh. Kondisi ini berdampak langsung terhadap kecepatan, akurasi, dan efisiensi pelayanan kepada Sistem yang masih terfragmentasi keputusan berbasis data, terutama dalam hal koordinasi antarunit dan pelaporan ke instansi pemerintah. Padahal, ketersediaan data yang akurat dan real-time menjadi fondasi penting dalam pengambilan kebijakan kesehatan publik yang responsif dan efektif. Kendala teknologi informasi di sektor publik umumnya disebabkan oleh beberapa faktor utama, antara lain keterbatasan anggaran, kurangnya sumber daya manusia yang kompeten, serta lemahnya tata kelola dan integrasi sistem. Banyak institusi belum memiliki perencanaan strategis teknologi informasi yang selaras dengan tujuan Zona Komputer P-ISSN 2087-7269. E-ISSN 2798-9003 Akibatnya, investasi teknologi sering kali bersifat parsial dan tidak Selain itu, rendahnya kesadaran akan pentingnya manajemen risiko dan keamanan informasi juga menjadi tantangan yang signifikan dalam memastikan keberhasilan transformasi Dalam tersebut, diperlukan suatu pendekatan tata kelola teknologi informasi yang sistematis, terukur, dan berorientasi pada peningkatan nilai organisasi. Framework tata kelola TI seperti COBIT 2019 hadir sebagai panduan komprehensif yang membantu pemanfaatan teknologi agar selaras dengan strategi bisnis. COBIT 2019 menawarkan prinsip, tujuan, dan praktik terbaik untuk memastikan bahwa teknologi memberikan kontribusi nyata terhadap pencapaian tujuan organisasi. Melalui penerapan meningkatkan efektivitas, efisiensi, serta kepatuhan dalam pengelolaan TI. COBIT 2019 tidak hanya berfungsi sebagai alat evaluasi dan kontrol, tetapi juga sebagai kerangka kerja strategis dalam memperkuat tata kelola digital di sektor publik. Dengan menekankan integrasi antara tujuan bisnis dan tujuan TI, framework ini memungkinkan lembaga pendidikan maupun kesehatan untuk membangun sistem informasi yang terstruktur, terukur, dan berorientasi pada Penerapan prinsip COBIT 2019 dapat membantu meningkatkan kapabilitas organisasi dalam mengelola aset digital, memperkuat manajemen risiko, serta mendorong inovasi pelayanan publik berbasis data. Dalam konteks Indonesia, penerapan kerangka tata kelola TI ini Volume 15. Nomor 02 (Agustus 2. transformasi digital yang berkelanjutan dan inklusif di sektor pendidikan dan Tinjauan Pustaka COBIT (Control Objectives Information and Related Technolog. 2019 merupakan framework internasional yang dikembangkan oleh ISACA untuk membantu organisasi dalam menerapkan tata kelola dan manajemen teknologi informasi secara efektif, efisien, dan Framework ini berfungsi sebagai menghubungkan tujuan bisnis dengan strategi teknologi, sehingga organisasi dapat memastikan bahwa setiap investasi dan aktivitas TI memberikan nilai tambah terhadap pencapaian sasaran strategis. COBIT 2019 hadir dengan pendekatan berbasis prinsip yang adaptif terhadap fleksibilitas penerapan pada berbagai sektor, baik publik maupun swasta. COBIT 2019 dirancang untuk menjawab kebutuhan tata kelola TI yang semakin kompleks di era digital, di mana organisasi memastikan kepatuhan terhadap regulasi, serta memaksimalkan manfaat dari teknologi yang diterapkan. Framework ini menekankan pentingnya hubungan yang organisasi dengan peran teknologi informasi dalam mendukung keputusan dan operasional. Dengan demikian. COBIT 2019 berperan sebagai kerangka kerja yang tidak hanya fokus pada kontrol berkelanjutan melalui pemanfaatan TI yang optimal. Zona Komputer P-ISSN 2087-7269. E-ISSN 2798-9003 Struktur COBIT 2019 mencakup lima domain utama yang mencerminkan siklus tata kelola dan manajemen teknologi informasi secara menyeluruh. Domain pertama. Evaluate. Direct and Monitor (EDM), berfokus pada pengambilan keputusan strategis dan pengawasan tingkat eksekutif untuk memastikan keselarasan antara tujuan bisnis dan TI. Domain kedua. Align. Plan and Organize (APO), menitikberatkan pada penyelarasan strategi TI dengan visi dan misi organisasi melalui perencanaan dan pengorganisasian sumber daya yang tepat. Domain ketiga. Build. Acquire and Implement (BAI), pembangunan, dan penerapan solusi teknologi yang mendukung kebutuhan Domain keempat. Deliver. Service and Support (DSS), berkaitan dengan penyampaian layanan TI secara operasional, termasuk pengelolaan insiden dan ketersediaan sistem. Terakhir, domain Monitor. Evaluate and Assess (MEA) difokuskan pada evaluasi kinerja, audit, dan pemantauan untuk memastikan efektivitas implementasi tata kelola TI. Penerapan COBIT memberikan kontribusi nyata terhadap informasi di berbagai sektor. Studi terdahulu yang dilakukan oleh Novianda et . menunjukkan bahwa penerapan COBIT 2019 pada instansi publik mampu meningkatkan efisiensi alokasi sumber daya, transparansi dalam manajemen data, serta memperkuat kemampuan organisasi dalam pengambilan keputusan berbasis Temuan tersebut menegaskan bahwa framework ini tidak hanya berfungsi sebagai pedoman administratif, tetapi juga sebagai alat strategis dalam meningkatkan kualitas manajemen informasi dan layanan Volume 15. Nomor 02 (Agustus 2. Lebih lanjut, penelitian Weill dan Ross . juga menegaskan bahwa tata kelola TI yang baik memiliki hubungan yang erat dengan peningkatan kinerja organisasi secara keseluruhan. Menurut mereka, organisasi yang menerapkan prinsipprinsip tata kelola TI yang jelas dan kemampuan adaptasi yang lebih tinggi terhadap perubahan lingkungan bisnis dan Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan implementasi teknologi tidak hanya bergantung pada aspek teknis, tetapi juga pada efektivitas tata kelola dan peran pemanfaatan TI sesuai dengan visi Dalam framework COBIT 2019 berperan penting sebagai acuan dalam memastikan bahwa pemanfaatan teknologi informasi berjalan selaras dengan prinsip akuntabilitas, transparansi, dan efisiensi birokrasi. Melalui penerapan COBIT 2019, instansi pemerintah dapat memperkuat integrasi sistem informasi, meningkatkan keandalan data, serta menciptakan tata kelola digital Dengan demikian, framework ini menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem tata kelola TI yang profesional, adaptif, dan berkelanjutan di sektor publik. Metodologi Penelitian Penelitian pendekatan kualitatif eksploratif dengan metode studi kasus. Objek penelitian meliputi satu institusi pendidikan tinggi dan satu rumah sakit pemerintah di Provinsi Kepulauan Riau. Zona Komputer P-ISSN 2087-7269. E-ISSN 2798-9003 Teknik pengumpulan data: Wawancara mendalam dengan 15 tenaga pendidik dan 10 profesional TI di rumah sakit. Studi dokumen, termasuk laporan kinerja dan audit TI tahunan. Observasi sistem dan proses operasional TI. Evaluasi kapabilitas dilakukan berdasarkan framework COBIT 2019, khususnya pada domain APO dan BAI, menggunakan skala maturity level dari 0 . idak ada prose. hingga 5 . engelolaan optimal dan inovati. Hasil dan Pembahasan Kapabilitas tata kelola TI pada institusi pendidikan dan kesehatan rata-rata berada pada level 2-3. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kapabilitas tata kelola TI pada kedua sektor umumnya masih berada di level 2 hingga 3, artinya proses telah terdefinisi namun belum sepenuhnya Beberapa temuan utama antara lain: Keterbatasan Pelatihan SDM Kurangnya tentang COBIT 2019 menyebabkan implementasi tidak maksimal. Alokasi Anggaran yang Minim Prioritas anggaran lebih banyak sistem TI. Sistem Informasi Tidak Terintegrasi Data tersebar di berbagai sistem memadai, menyebabkan proses berbasis data real-time. Kesenjangan Digital Wilayah Institusi di daerah urban memiliki Volume 15. Nomor 02 (Agustus 2. kapabilitas TI yang lebih baik dibandingkan daerah pinggiran. Rekomendasi strategis: Pelatihan rutin berbasis framework untuk seluruh level organisasi. Penyusunan peta jalan digital (IT roadma. untuk pengembangan jangka panjang. Audit TI berkala untuk memantau organisasi dan praktik operasional TI. Kesimpulan Penerapan framework COBIT 2019 di sektor pendidikan dan kesehatan terbukti memberikan dampak positif dalam meningkatkan tata kelola TI, terutama dalam hal efisiensi layanan, integrasi sistem, dan akuntabilitas organisasi. Implementasi yang terarah memungkinkan organisasi bertransformasi secara digital tanpa mengabaikan prinsip tata kelola yang baik. Implikasi dari penelitian ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga strategis, terutama dalam mendorong pembentukan kebijakan TI yang berkelanjutan. Institusi yang ingin meningkatkan daya saing dan kualitas layanannya harus menempatkan tata kelola TI sebagai bagian dari strategi inti organisasi. Daftar Pustaka