Jurnal Kajian Ilmiah e-ISSN: 2597-792X. ISSN: 1410-9794 Vol. 26 No. 2 (Mei 2. Halaman: 175 Ae 184 Terakreditasi Peringkat 3 (SINTA . sesuai SK RISTEKDIKTI Nomor. 295/C/C3/KPT/2026 Gambaran Budaya Organisasi Dan Konsep Diri Kepala Sekolah: Studi Deskriptif Rina Nurhidayati 1,*. Rimsa Rusmiland 1 Fakultas Teknik. Universitas Indraprasta PGRI. e-mail: rin4nurhidayati@gmail. rrfj60@gmail. * Korespondensi: e-mail: rin4nurhidayati@gmail. Submitted: 09/04/2026. Revised: 10/04/2026. Accepted: 20/04/2026. Published: 30/05/2026 Abstract This study used a descriptive approach and was conducted on elementary school principals in Jagakarsa District. South Jakarta. The aim was to analyze the influence of organizational culture and self-concept on principal decision-making. The study population included all elementary school principals in Jagakarsa District, namely 62 people. the sample studied was 54 principals, selected using the Simple Random Sampling technique. Data were collected through a 5-point Likert scale questionnaire, consisting of 24 statements for the organizational culture variable and 25 statements for the self-concept variable. Data analysis was conducted descriptively to describe the condition of organizational culture and self-concept of school principals objectively. The results showed that a positive organizational culture goes hand in hand with a good self-concept of school principals, thus supporting the creation of a conducive school environment. This finding emphasizes the importance of strengthening organizational culture as a supporting factor in the formation of a positive self-concept of school principals. Keywords: Elementary school. Headmaster. Organizational culture. Self concept Abstrak Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dan dilaksanakan pada kepala sekolah SD Negeri di wilayah Kecamatan Jagakarsa. Kota Jakarta Selatan. Tujuannya untuk menganalisis pengaruh budaya organisasi dan konsep diri terhadap pengambilan keputusan kepala sekolah. Populasi penelitian meliputi seluruh kepala sekolah SD Negeri di Kecamatan Jagakarsa, yaitu 62 orang. sampel yang diteliti sebanyak 54 kepala sekolah, dipilih dengan teknik Simple Random Sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner skala Likert 5 poin, terdiri dari 24 pernyataan untuk variabel budaya organisasi dan 25 pernyataan untuk variabel konsep diri. Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk menggambarkan kondisi budaya organisasi dan konsep diri kepala sekolah secara objektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya organisasi yang positif beriringan dengan konsep diri kepala sekolah yang baik, sehingga mendukung terciptanya lingkungan sekolah yang kondusif. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan budaya organisasi sebagai faktor penunjang pembentukan konsep diri kepala sekolah yang positif. Kata kunci: Sekolah Dasar. Kepala sekolah. Budaya organisasi. Konsep diri Pendahuluan Jakarta Selatan merupakan salah satu kota administrasi di DKI Jakarta dengan jumlah sekolah dasar yang cukup besar. Berdasarkan data terbaru dari Kemendikbudristek, terdapat sekitar 598 SD negeri dan swasta di wilayah Jakarta Selatan. khususnya di Kecamatan Jagakarsa tercatat 94 SD (Kemendikdasmen, 2. Hal ini menunjukkan bahwa SD Negeri Available Online at http://ejurnal. id/index. php/JKI Rina Nurhidayati. Rimsa Rusmiland Jagakarsa menjadi bagian dari ratusan sekolah dasar di kawasan perkotaan tersebut. Pemerintah terus berupaya meningkatkan mutu pendidikan dasar melalui kebijakan seperti Kurikulum Merdeka, digitalisasi sekolah, dan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) (Indarti. Dalam kerangka tersebut, sangat penting bagi sekolah untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Penelitian menunjukkan bahwa iklim dan budaya sekolah yang positif membuat siswa lebih antusias, guru merasa dihargai, serta orang tua dan masyarakat ikut terlibat dalam kegiatan belajar (Mustikawati. et al. , 2023. Yuda & Junaidi, 2. Selain itu. Kemendikbudristek juga menekankan pentingnya budaya sekolah aman dan nyaman, sebagaimana diatur dalam Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 (Kemendikdasmen, 2. Dengan demikian, kondisi pendidikan dasar di Jakarta Selatan terutama di Jagakarsa, menuntut manajemen sekolah yang memerhatikan budaya organisasi sekolah dan kualitas kepemimpinan agar proses pembelajaran berjalan efektif dan tercapai sesuai target. Budaya sekolah merupakan sekumpula nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh kepala sekolah, guru, petugas administrasi, siswa, dan masyarakat sekitar sekolah (Sukadari, 2. Menurut Suryanti, budaya sekolah memiliki pengaruh signifikan terhadap efektivitas operasional dan mutu pendidikan sebuah sekolah (Suryanti, 2. Budaya sekolah yang positif berfungsi sebagai kerangka utama dalam pencapaian mutu. nilai-nilai bersama ini mendorong seluruh warga sekolah untuk bekerja mengarah pada lulusan yang berkualitas dan berakhlak baik (Adi et al. Penelitian Rismawatidan Nugraha menyatakan bahwa kepala sekolah harus menjadi agen perubahan yang visioner. melalui kepemimpinan ini, kepala sekolah membangun budaya sekolah yang adaptif, inovatif, dan kolaboratif sesuai tuntutan zaman (Rismawati & Nugraha. Praktiknya, kepala sekolah yang berhasil menanamkan budaya inklusif dan berorientasi masa depan akan membentuk lingkungan belajar yang lebih fleksibel dan dinamis. Oleh karena itu, budaya organisasi sekolah dapat dipandang sebagai fondasi utama dalam meningkatkan motivasi kerja guru, kualitas pembelajaran, serta prestasi siswa (Hasibuan & Hadijaya, 2. Selain budaya organisasi, aspek internal kepala sekolah yang turut menentukan kualitas kepemimpinan adalah konsep diri . elf-concep. Konsep diri . elf-concep. merujuk pada pandangan individu tentang dirinya sendiri yang mencakup persepsi, pemikiran, dan perasaan mengenai identitas diri serta pengaruh perilaku terhadap orang lain (Kartikasari et al. Rahmawati et al. , 2. Dalam konteks kepemimpinan sekolah, kepala sekolah dengan konsep diri positif umumnya lebih percaya diri dalam mempengaruhi orang lain dan berperan sebagai pemotivator. Studi Elfisa dkk juga menemukan bahwa konsep diri yang kuat pada kepala sekolah berhubungan positif signifikan dengan akuntabilitas dalam kepemimpinannya (Elfisa & Saukani, 2. Kepala sekolah sebagai pemimpin memiliki peran strategis yang tidak hanya berfokus pada fungsi administratif, tetapi juga sebagai penggerak utama dalam membangun budaya organisasi sekolah dan meningkatkan mutu pembelajaran. Dalam perspektif kepemimpinan pendidikan, kepala sekolah berperan sebagai instructional leader yang mengarahkan visi dan Jurnal Karya Ilmiah 26 . : 175 - 184 (Mei 2. Gambaran Budaya Organisasi Dan KonsepA misi sekolah, mengelola proses pembelajaran, serta menciptakan iklim sekolah yang kondusif dan berorientasi pada hasil belajar peserta didik(Noorma Fitriana M. Zain & Fauzul Andim. Waruwu et al. , 2. Peran tersebut menuntut kepala sekolah untuk mampu mengambil keputusan strategis, memberdayakan guru, serta melakukan supervisi dan evaluasi secara berkelanjutan guna meningkatkan kinerja dan profesionalisme tenaga pendidik (L. Hakim & Samiyah, 2. Dalam konteks Indonesia, kepemimpinan kepala sekolah terbukti menjadi faktor kunci dalam meningkatkan efektivitas sekolah, membangun budaya mutu, serta mendorong perubahan organisasi pendidikan secara adaptif dan inovatif (Fauzi & Samrin. Mariana, 2. Selain itu, kepala sekolah juga berperan sebagai motivator dan katalisator yang mampu membangun kolaborasi, meningkatkan kinerja guru, serta menciptakan lingkungan kerja yang produktif dan harmonis (Nizammuddin & Jaelani, 2. Dengan demikian, tugas kepala sekolah sebagai pemimpin tidak hanya bersifat manajerial, tetapi juga pengembangan sumber daya manusia untuk mencapai tujuan pendidikan secara optimal (Wiyana et al. , 2. Penelitian internasional menegaskan bahwa kepala sekolah memainkan peran kunci dalam membentuk budaya sekolah (Plaku & Leka, 2. Ozkul menemukan bahwa kepemimpinan yang kontekstual berpengaruh positif terhadap budaya organisasi sekolah melalui peningkatan komitmen dan kepuasan kerja guru . nzkul, 2. Sebaliknya, budaya organisasi yang sehat dapat menguatkan konsep diri kepala sekolah karena budaya yang suportif meningkatkan kepercayaan diri pemimpin. Dalam praktiknya, kepala sekolah yang menerapkan gaya kepemimpinan visioner dan partisipatif berhasil membangun budaya sekolah yang inklusif dan produktif. Sebagai ilustrasi. Plaku dan Leka melaporkan bahwa sekolah dengan budaya positif ditandai oleh kolaborasi staf, perayaan prestasi, dan keterlibatan komunitas yang kuat, yang bersama-sama membentuk lingkungan kerja yang mendukung kepuasan guru. Berbagai kajian terdahulu menyoroti peran penting budaya sekolah dan konsep diri kepala sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan (Suryanti, 2. Sebagai contoh. Nurhidayati . khususnya menguji pengaruh kedua variabel tersebut terhadap pengambilan keputusan di SD Jagakarsa dan menemukan hubungan positif antarkeduanya (Nurhidayati. Namun, sebagian besar studi sebelumnya bersifat kuantitatif korelasional sehingga kurang memberikan gambaran mendalam mengenai kondisi aktual budaya organisasi dan persepsi diri kepala sekolah di lapangan. Sementara itu, kebijakan terbaru seperti Permendikdasmen No. 6/2026 menegaskan perlunya budaya sekolah yang proaktif dan berkarakter kuat (Kemendikdasmen, 2. Oleh karena itu, dibutuhkan penelitian empiris terbaru yang mendeskripsikan secara komprehensif bagaimana budaya organisasi dan konsep diri kepala bekerja di SD Negeri Jagakarsa. Penelitian ini bertujuan mengisi celah tersebut dengan mendeskripsikan budaya organisasi yang tumbuh di SD Negeri Jagakarsa, serta menggambarkan konsep diri kepala sekolah di sekolah tersebut. Adapun indikator budaya Copyright A 2026 Jurnal Karya Ilmiah 26 . : 175 - 184 (Mei 2. Rina Nurhidayati. Rimsa Rusmiland organisasi dalam penelitian ini yang akan diukur adalah . kebiasaan nilai-nilai yang diajarkan, . belajar mengatasi permasalahan, . , . kebiasaan di dalam memberikan apresiasi dan . sikap anggota organisasi. Sedangkan indikator konsep diri meliputi pandangan diri terhadap fisiknya, . pandangan diri terhadap keyakinan dirinya, dan . pandangan diri terhadap perilakunya. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif yang dilaksanakan pada para kepala sekolah SD Negeri di wilayah Kecamatan Jagakarsa. Kota Jakarta Selatan, dengan tujuan untuk menganalisis budaya organisasi dan konsep diri dalam proses pengambilan keputusan kepala sekolah. Populasi penelitian mencakup semua kepala sekolah SD Negeri di Kecamatan Jagakarsa, yang secara keseluruhan berjumlah 62 orang. Sampel penelitian terdiri dari 54 kepala sekolah yang dipilih menggunakan teknik Simple Random Sampling. Teknik ini dilakukan dengan cara mengambil sampel secara acak tanpa memperhatikan perbedaan strata atau tingkatan dari anggota populasi. Pemilihan sampel tersebut didasarkan pada perhitungan rumus Slovin. Adapun cara menghitungnya menggunakan teknik Slovin seperti berikut : 1 N e2 Keterangan : n = Sampel N = Populasi e = 0,05 Adapun jumlah sampel yang digunakan dalam kegiatan penelitian dihitung sebagai berikut: 1,155 = 53,67 C 54 Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner berbentuk skala Likert 5 poin. Skala ini memiliki beberapa pilihan jawaban yaitu SS (Sangat Setuj. S (Setuj. KS (Kurang Setuj. TS (Tidak Setuj. , dan STS (Sangat Tidak Setuj. Skor diberikan pada pernyataan positif mulai dari SS = 5 hingga STS = 1, sedangkan pada pernyataan negatif skor diberikan secara terbalik, yaitu SS = 1 hingga STS = 5. Sebelum digunakan dalam penelitian, instrumen tersebut diuji terlebih dahulu kepada 20 orang responden agar data yang diperoleh tetap valid dan benar. Uji validitas setiap butir soal dihitung dengan menggunakan korelasi Pearson Product Moment. Sebuah butir dikatakan valid jika nilai rhitung lebih besar dari rtabel, yaitu 0,444 dengan jumlah sampel n=20 dan tingkat signifikansi =0,05. Uji coba instrumen budaya organisasi menunjukkan bahwa dari 30 pertanyaan awal, ada 6 pertanyaan yang tidak valid atau tidak bisa digunakan, yaitu nomor 1, 3, 9, 18, 20, dan Jurnal Karya Ilmiah 26 . : 175 - 184 (Mei 2. Gambaran Budaya Organisasi Dan KonsepA Dengan demikian, tersisa 24 pertanyaan yang valid, yang mencakup semua indikator Sementara itu, hasil uji coba instrumen konsep diri menunjukkan bahwa ada 5 butir soal yang tidak valid, yaitu nomor 6, 9, 11, 13, dan 23, dari total 30 butir soal awal, sehingga hanya tersisa 25 butir soal yang dianggap valid. Uji reliabilitas dilakukan menggunakan rumus Alpha Cronbach, dan diperoleh nilai koefisien sebesar 0,9319 untuk budaya organisasi serta 0,925 untuk konsep diri. Dengan nilai tersebut, kedua alat tersebut dianggap dapat dipercaya dan cocok digunakan untuk mengumpulkan data. Selanjutnya, analisis data dilakukan dengan menggunakan metode statistik deskriptif, yaitu menghitung rata-rata, persentase, dan frekuensi distribusi, agar dapat menggambarkan kondisi budaya organisasi serta konsep diri kepala sekolah secara objektif. Hasil dan Pembahasan Penelitian ini mengkaji dua variabel utama, yaitu budaya organisasi dan konsep diri kepala sekolah pada SD Negeri Jagakarsa. Jakarta Selatan. Analisis deskriptif dilakukan untuk memberikan gambaran umum mengenai kecenderungan data pada masing-masing variabel sebelum memasuki analisis yang lebih mendalam. Hasil deskripsi setiap variabel disajikan sebagai berikut. Tabel 1. Deskripsi data variabel budaya organisasi Keterangan Nilai Rata-Rata 111,33 Median Modus Varians 56,90 Simpangan Baku 7,54 Sumber: Hasil Penelitian . Berdasarkan Tabel 1, jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 54 orang. Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel budaya organisasi memiliki nilai rata-rata sebesar 111,33, yang menandakan bahwa secara umum persepsi responden terhadap budaya organisasi di SD Negeri Jagakarsa berada pada tingkat yang baik. Nilai median sebesar 115 menunjukkan bahwa titik tengah data berada sedikit di atas rata-rata, sehingga dapat diartikan bahwa sebagian besar skor responden cenderung berada pada rentang menengah ke atas. Hal ini semakin diperkuat oleh modus sebesar 118, yang merupakan skor yang paling sering muncul dalam data. Selain itu, varians sebesar 56,90 dan simpangan baku sebesar 7,54 menunjukkan bahwa penyebaran data relatif tidak terlalu jauh dari nilai rata-rata. Dengan demikian, persepsi responden terhadap budaya organisasi dapat dikatakan cukup homogen dan konsisten, yang mengindikasikan adanya budaya sekolah yang dirasakan secara relatif sama oleh responden. Copyright A 2026 Jurnal Karya Ilmiah 26 . : 175 - 184 (Mei 2. Rina Nurhidayati. Rimsa Rusmiland Tabel 2. Distribusi frekuensi skor budaya organisasi Kelas interval Nilai tengah Frek. Absolut Frek. Relatif (%) 5,556 20,37 7,407 7,407 11,111 40,741 7,407 Jumlah Sumber: Hasil Penelitian . Berdasarkan Tabel 2, terlihat bahwa distribusi frekuensi skor budaya organisasi paling banyak berada pada kelas interval 116Ae119, yaitu sebanyak 22 responden . ,741%). Dominasi pada interval ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden memberikan penilaian yang tinggi terhadap budaya organisasi sekolah. Kondisi ini sejalan dengan nilai ratarata, median, dan modus pada tabel sebelumnya yang juga berada pada kisaran skor menengah ke atas. Sebaliknya, frekuensi terendah terdapat pada interval 96Ae99, yaitu hanya 3 responden . ,556%), yang menunjukkan bahwa hanya sedikit responden yang memiliki persepsi rendah terhadap budaya organisasi. Secara keseluruhan, distribusi data lebih terkonsentrasi pada interval 112Ae119, sehingga dapat disimpulkan bahwa budaya organisasi di SD Negeri Jagakarsa cenderung positif, stabil, dan cukup kuat. Tabel 3. Deskripsi data variabel konsep diri Keterangan Nilai Rata-Rata 111,88 Median Modus Varians 73,53 Simpangan Baku 8,57 Sumber: Hasil Penelitian . Selanjutnya variabel konsep diri. Tabel 3 menunjukkan bahwa jumlah responden tetap sebanyak 54 orang dengan nilai rata-rata sebesar 111,88. Nilai ini menunjukkan bahwa secara umum konsep diri kepala sekolah dipersepsikan berada pada kategori yang baik. Jika dibandingkan dengan variabel budaya organisasi, rata-rata konsep diri terlihat sedikit lebih tinggi, yang menandakan adanya penilaian positif terhadap cara kepala sekolah memandang dirinya dalam konteks kepemimpinan. Nilai median sebesar 110,5 dan modus sebesar 109 menunjukkan bahwa distribusi skor cukup terpusat di sekitar rata-rata. Sementara itu, varians sebesar 73,53 dan simpangan baku sebesar 8,57 memperlihatkan bahwa data memiliki Jurnal Karya Ilmiah 26 . : 175 - 184 (Mei 2. Gambaran Budaya Organisasi Dan KonsepA penyebaran yang masih relatif kecil. Dengan demikian, jawaban responden mengenai konsep diri kepala sekolah menunjukkan pola yang cukup stabil dan seragam. Tabel 4. Distribusi frekuensi skor konsep diri Kelas interval Nilai tengah Frek. Absolut Frek. Relatif (%) 12,963 18,519 31,481 16,667 20,370 Jumlah Sumber: Hasil Penelitian . Berdasarkan Tabel 4, distribusi frekuensi skor konsep diri paling banyak berada pada kelas interval 108Ae113, yaitu sebanyak 17 responden . ,48%). Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden menilai konsep diri kepala sekolah berada pada rentang skor menengah yang cenderung tinggi. Konsentrasi data pada interval ini juga mendukung hasil deskriptif sebelumnya, di mana nilai rata-rata berada pada angka 111,88. Selain itu, interval 121Ae126 memiliki frekuensi yang cukup besar, yaitu 11 responden . ,37%), yang menunjukkan sejumlah responden yang memberikan penilaian sangat tinggi terhadap konsep diri kepala sekolah. Sementara itu, frekuensi terendah berada pada interval 96Ae101, yaitu 7 responden . ,96%). Jika kedua variabel dibandingkan, terlihat bahwa budaya organisasi dan konsep diri kepala sekolah sama-sama memiliki rata-rata yang tinggi dengan penyebaran data yang relatif homogen. Kondisi ini mengindikasikan lingkungan organisasi sekolah yang positif berjalan beriringan dengan konsep diri kepala sekolah yang juga baik. Kark dan Van Dijk menyatakan bahwa budaya organisasi termasuk salah satu faktor eksternal yang dapat mengaktifkan aspek-aspek tertentu dari konsep diri seseorang (Kark & Dijk, 2. Dengan kata lain, budaya sekolah yang positif menciptakan lingkungan sosial yang membuat kepala sekolah lebih yakin dan termotivasi. Al Hakim & Muhibbulloh, . dan Nayudyantika et al. , . menunjukkan bahwa individu dengan konsep diri positif cenderung mampu membuat keputusan dengan lebih efektif dan kreatif. Dimana bila kepala sekolah memiliki persepsi diri yang baik, hal ini mendukung tindakan kepemimpinan yang lebih tegas. Sejalan dengan itu. Sugianto et al. , . dan Suriyanti et al. , . menemukan bahwa budaya organisasi dan konsep diri sama-sama berpengaruh signifikan terhadap perilaku positif Temuan ini mempertegas bahwa budaya yang kondusif di sekolah tidak hanya meningkatkan semangat kerja, tetapi juga memperkokoh kepercayaan diri anggota organisasi sehingga kinerja organisasi menjadi lebih baik. Demikian pula. Ningsih et al. , . menegaskan bahwa konsep diri yang tinggi dari seorang kepala sekolah berdampak positif terhadap kompetensi profesional guru, yang pada akhirnya mendukung visi misi sekolah. Keterhubungan ini dapat dipahami bahwa budaya organisasi yang kuat berpotensi mendukung Copyright A 2026 Jurnal Karya Ilmiah 26 . : 175 - 184 (Mei 2. Rina Nurhidayati. Rimsa Rusmiland terbentuknya konsep diri kepala sekolah yang positif, khususnya dalam menjalankan peran kepemimpinan, pengambilan keputusan, interaksi dengan warga sekolah. Sebaliknya, konsep diri kepala sekolah yang baik juga dapat memperkuat internalisasi nilai, norma, dan kebiasaan positif dalam budaya organisasi sekolah. Dengan demikian, kedua variabel dalam penelitian ini menunjukkan pola yang saling mendukung dan membentuk ekosistem sekolah kondusif. Kesimpulan Adapun kesimpulan dari penelitian ini menyatakan bahwa budaya organisasi dan konsep diri kepala sekolah di SD Negeri Jagakarsa. Jakarta Selatan berada pada kategori baik. Hal ini terlihat dari nilai rata-rata budaya organisasi sebesar 111,33 dan konsep diri sebesar 111,88, dengan sebaran data yang relatif homogen. Temuan ini mengindikasikan bahwa budaya organisasi yang positif berjalan seiring dengan konsep diri kepala sekolah yang baik, sehingga mendukung terciptanya lingkungan sekolah yang kondusif. Temuan ini menunjukkan pentingnya penguatan budaya organisasi sekolah sebagai faktor yang dapat mendukung pembentukan konsep diri kepala sekolah yang positif Daftar Pustaka