Med-Com Empowerment Journal Vol. 1 No. Bulan Tahun. Hal. 12 Ae 19 Edukasi Berbasis Video Audio-Visual Deteksi Dini Carcinoma Cervix Audio-Visual Video-Based Education for Early Detection Of Carcinoma Cervix Aisyah Lahdji1 Fakultas Kedokteran. Universitas Muhammadiyah Semarang *Aisyah Lahdji Email: lahdjiaa@unimus. RiwayatArtikel: Dikirim: 5 Juni 2024 Diterima: 6 Agustus 2024 Diterbitkan: 27 Agustus 2024 Abstrak Latar belakang: Kanker berdasarkan data World Health Organization (WHO) merupakan penyebab kematian terbanyak di dunia, juga mengintai di Indonesia. Pemerintah telah melakukan serangkaian langkah untuk menangani penyakit kanker, termasuk kanker serviks yang bersama Ae sama dengan kanker payudara, mencatat korban jiwa tertinggi di Indonesia. Sebagai upaya pencegahan kanker, khususnya kanker serviks frekuensi tes pap yang dianjurkan bervariasi mulai dari 1 kali per tahun sampai 1 kali setiap lima tahun. Metode: Pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan dengan menggunakan media YouTube dengan jumlah penonton sebanyak 474. Tahapan pembuatan video dibagi menjadi empat, yaitu. praproduksi, produksi, pasca produksi, dan sosialisasi video. Hasil: Pengabdian kepada masyarakat ini dirasa sudah efektif dilihat dari banyaknya penonton. Hal tersebut dapat diasumsikan sebanyak 474 pemirsa mengalami peningkatan pengetahuan terkait kanker serviks. Kesimpulan: Kegiatan pengabdian masyarakat melalui sosialisasi video edukasi bertema kesehatan reproduksi remaja dalam rangka upaya peningkatan kesehatan remaja memberikan peningkatan secara signifikan pengetahuan pemirsanya. Pendidikan kesehatan melalui pesan yang diwujudkan dalam bentuk gambar, animasi video dinilai praktis dan cukup efektif sebagai sarana penyebarluasan informasi. Kata kunci: Kanker Serviks. Deteksi Dini. Edukasi Abstract Background: Cancer, according to the World Health Organization (WHO), is the leading cause of death in the world, as well as in Indonesia. The government has taken a series of steps to deal with cancer, including cervical cancer which together with breast cancer, recorded the highest death toll in Indonesia. As an effort to prevent cancer, especially cervical cancer, the recommended frequency of pap tests varies from 1 time per year to 1 time every five years. Methods: This community service was carried out using YouTube media with a total audience of 474. The stages of video making are divided into four, namely. pre-production, production, post-production, and video socialisation. Results: This community service is considered effective as seen from the number of viewers. It can be assumed that 474 viewers have increased knowledge related to cervical cancer. Conclusion: Community service activities through the socialisation of educational videos on the theme of adolescent reproductive health in the context of efforts to improve adolescent health provide a significant increase in the knowledge of its viewers. Health education through messages embodied in the form of images, video animation is considered practical and quite effective as a means of disseminating information. Keywords: Carvcinoma Servix. Screening. Education Med-Com Empowerment Journal Vol. 1 No. Agustus 2024. Hal. 12 Ae 19 Pendahuluan Kanker berdasarkan data World Health Organization (WHO) merupakan penyebab kematian terbanyak di dunia, juga mengintai di Indonesia. Pemerintah telah melakukan serangkaian langkah untuk menangani penyakit kanker, termasuk kanker serviks yang bersama Ae sama dengan kanker payudara, mencatat korban jiwa tertinggi di Indonesia (Kementerian Kesehatan RI, 2. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. tahun 2013, prevalensi kanker di Indonesia adalah 1,4 per 1000 penduduk. Prevalensi kanker tertinggi terdapat di DI Yogyakarta . ,1%), diikuti Jawa Tengah . ,1%). Bali . %). Bengkulu, dan DKI Jakarta masing-masing 1,9 per mil (Kementerian Kesehatan RI, 2. Kanker tertinggi di Indonesia pada perempuan adalah kanker payudara dan kanker leher rahim. Kanker serviks adalah pertumbuhan sel yang berlebihan dan tidak terkontrol di sekitar serviks, daerah leher Rahim atau mulut Rahim. Kanker serviks dapat berasal dari sel-sel di leher Rahim, mulut Rahim, maupun keduanya. Sebagian besar kanker serviks dimulai pada zona transformasi yang merupakan perpindahan dari tipe sel skuamosa ke tipe sel silindris. Sel-sel ini tidak berlangsung berubah menjadi kanker serviks. Sel normal kanker serviks karena pengaruh zat karsinogen dapat berkembang secara bertahap menjadi sel pra kanker kemudian menjadi sel kanker . renac & Mikov, 2. Deteksi dini kanker yaitu usaha untuk mengidentifikasi penyakit atau kelainan yang secara klinis belum jelas dengan menggunakan test, pemeriksaan, atau prosedur tertentu yang dapat digunakan secara cepat untuk membedakan orang-orang yang kelihatannya sehat. Deteksi Dini Kanker Serviks bisa dilakukan dengan cara IVA test dan Papsmear. Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) adalah tes visual menggunakan larutan asam cuka . sam asetat 3-5%) pada serviks dan melihat perubahan warna yang terjadi setelah dilakukan olesan (Lee et al. , 2. Tujuan tes ini adalah untuk melihat adanya sel yang mengalami displasi sebagai salah satu metode skrining kanker serviks atau mulut Rahim, sedangkan Test papsmear . es pa. adalah mengambil epitel permukaan serviks yang mengelupas atau eksofilasi dimana epitel permukaan serviks selalu mengalami regenerasi dan digantikan lapisan epitel dibawahnya. Epitel yang mengelupas diwarnai secara khusus dan dilihat di bawah mikroskop untuk diintepretasi lebih lanjut. Frekuensi tes pap yang dianjurkan bervariasi mulai dari 1 kali per tahun sampai 1 kali setiap lima tahun. American Cancer Society Med-Com Empowerment Journal Vol. 1 No. Agustus 2024. Hal. 12 Ae 19 (ACS) merekomendasikan pemeriksaan papsmear dilakukan pada wanita yang sudah menikah / seksual aktif selama 3 tahun dan atau sebelum berusia 21 tahun, sedangkan pemeriksaan rutin tes Papsmear dapat dihentikan pada usia 70 tahun pada wanita yang tidak memiliki abnormalitas pada hasil pemeriksaan papsmear. Tes Papsmear memiliki tingkat sensivitas 90% apabila dilakukan setiap tahun, 87% bila dilakukan setiap dua tahun, 78% setiap tiga tahun (Kauffman et al. , 2. METODE Pengabdian kepada Masyarakat ini dilakukan secara langsung pada tanggal 10 Desember https://w. com/watch?v=4e_owhVwcyk. yang melibatkan 474 pemirsa. Sosialisasi video dilakukan secara online melalui penyebarluasan melalui sarana media social baik Instagram, whatsapp group, telegram dan facebook untuk meningkatkan Tahapan pengabdian akan dijelaskan dalam tabel 1. Tabel 1: Tahapan Pengabdian Masyarakat Kegiatan Pra Produksi Deskripsi kegiatan Penentuan Tema Pengabdi menentukan tema yang akan diangkat sebagai bahan edukasi bagi masyarakat Pembagian Tugas Pengabdi melakukan pembagian tugas kepada anggota berkaitan dengan tanggungjawab masing masing dalam rangka kegiatan ini. Pengumpulan Data Pengabdi melakukan perancangan story line, studi literatur untuk mendapatkan materi yang akan disampaikan Produksi Pembuatan Pengabdi melakukan pembuatan video , dubbing suara dan video, dubbing melakukan editing video agar menjadi suatu video edukasi. dan editing Pasca Produksi Med-Com Empowerment Journal Vol. 1 No. Agustus 2024. Hal. 12 Ae 19 Pengunggahan Sosialisasi video Pengabdi melakukan pengunggahan file video ke dalam channel https://w. com/watch?v=4e_owhVwcyk Pengabdi melakukan penyebarluasan link video melalui media baik Instagram, whatsapp group, telegram dan facebook untuk meningkatkan pemirsa HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan dengan metode sosialisasi video https://w. com/watch?v=4e_owhVwcyk yang melibatkan 2. 350 pemirsa dengan 474 pemirsa menanggapi dengan baik. Sosialisasi video dilakukan secara online dengan cara penyebarluasan melalui sarana dan media sosial yang terdiri dari Instagram, whatsapp group, telegram dan facebook untuk meningkatkan pemirsa. Video edukasi berisi tentang deteksi dini carcinoma cervix yang termasuk bagian dari kesehatan reprodsuki remaja. Video edukasi diunggal di channel youtube Fakultas Kedokteran UNIMUS Official seperi pada gambar berikut. Med-Com Empowerment Journal Vol. 1 No. Agustus 2024. Hal. 12 Ae 19 Gambar 1. Video edukasi tentang deteksi dini Carcinoma Cervix yang diunggah di channel Youtube Fakultas Kedokteran UNIMUS Official Gambar 2. Video edukasi tentang Deteksi Dini Carcinoma Cervix Masa remaja merupakan salah satu dari periode perkembangan manusia. Masa ini merupakan masa perubahan atau peralihan dari masa kanak Ae kanak ke masa dewasa yang meliputi perubahan biologis, psikologis, dan social. Usia remaaj biasanya dimulai pada usia 10 -13 tahun dan berakhir pada usia 18 Ae 22 tahun. Sedangkan menurut WHO remaaj merupakan individu yang sedang mengalami masa peralihan yang secara berangsur Ae angsur mencapai kematangan seksual, mengalami perubahan jiwa dari jiwa anak Ae anak menjadi dewasa, dan mengalami perubahan keadaan ekonomi dari ketergantungan menjadi relative mandiri. Ada dua aspek pokok dalam perubahan pada remaja, yakni perubahan fisik atau biologis dan perubahan psikologis. Masa remaja diawali dengan pertumbuhan yang sangat cepat dan biasanya disebut Dengan adanya perubahan yang cepat itu terjadilah perubahan fisik yang dapat diamati seperti pertambahan tinggi dan berat badan yang biasa disebut pertumbuhan, dan kematangan seksual sebagai hasil perubahan hormonal. Masa remaja juga adalah masa transisi antara masa kanak Ae kanak dan masa dewasa. Masa transisi seringkali menghadapkan individu yang bersangkutan pada situasi yang membingungkan, disatu pihak masih kanak Ae kanak dan dilain pihak ia harus bertingkah laku seperti orang Med-Com Empowerment Journal Vol. 1 No. Agustus 2024. Hal. 12 Ae 19 Hal ini dapat menimbulkan konflik dalam diri remaja yang sering menimbulkan banyak tingkah laku yang aneh, canggung, dan kalau tidak dikontrol akan menimbulkan kenakalan pada remaja salah satunya berupa risiko perilaku seksual berisiko. Banyak masalah yang akan timbul akibat mengabaikan kesehatan reproduksi. Masalah masalah yang timbul akibat kurangnya pengetahuan terhadap kesehatan reproduksi yaitu Kehamilan yang Tidak Diinginkan (KTD), aborsi, perkawinan dan pernikahan dini. IMS atau PMS dan HIV/AIDS. Menurut data PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesi. Jawa Tengah tahun 2010, remaja yang berhubungan seksual pra nikah sebanyak 863 orang, hamil pra nikah 452 orang. Infeksi menular seksual 283 orang, masturbasi 337 orang, aborsi 244 orang. Kasus ini meningkat dari tahun 2009 dimana kasus remaja yang berhubungan seksual pra nikah 765 orang, hamil pra nikah 367 orang, infeksi menular seksual 275 orang, masturbasi 322 orang, aborsi 166 orang. Data lain menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2016. Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta mencatat jumlah remaja yang melakukan persalinan sebanyak 720 orang. Kemudian, sebanyak 340 kasus dispensasi nikah untuk remaja dengan alasanHamil diluar nikah. Tahun 2018, angka pernikahan dini di Yogyakarta sekitar 240 kasus, dengan kehamilan tidak diinginkan (KTD). Sementara itu, sepanjang tahun 2019 terdapat 74 kasus kehamilan tidak diinginkan (KTD), dengan usia remaja dibawah 18 tahun. Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk menekan angka Ae angka tersebut adalah dengan melakukan edukasi edukasi kesehatan mengenai cara perawatan organ reproduksi, edukasi mengenai perkembangan remaja saat pubertas, edukasi kesehatan edukasi kesehatan mengenai kehamilan tidak diinginkan (KTD) dan aborsi,edukasi k esehatan mengenai HIV/AIDS dan infeksi menular seksual, serta edukasi ke sehatan mengenai pendewasaan usia pernikahan dengan melibatkan peran Pemerintah, orang tua, dan juga peer group. Dengan melakukan kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan remaja, sehingga dapat meningkatkan kesadaran remaja akan pentingnya masalah kesehatan reproduksi. Dan menekan angka kejadian kasus Ae kasus kesehatan reproduksi remaja. Salah satu upaya untuk meningkatkan pengetahuan remaja atau masyarakat pada umumnya adalah melalui penyebarluasan video edukasi hasil karya Med-Com Empowerment Journal Vol. 1 No. Agustus 2024. Hal. 12 Ae 19 mahasiswa Fakultas Kedokteran Unimus sebagai wujud kegiatan pengabdian kepada Pengabdi memilih media video untuk edukasi dan melalui edukasi ini memberikan hasil yang positif. Hasil pengabdian ini sejalan dengan studi penelitian yang membuktikan bahwa edukasi melalui video sama efektifnya dengan penggunaan leaflet dalam meningkatkan pengetahuan ibu hamil terhadap preeklampsia. Hal ini membuktikan bahwa edukasi melalui video ini cukup efektif dalam mendukung pendidikan kesehatan bagi ibu hamil. Edukasi kesehatan melalui video audio visual dinilai lebih mudah dipahami oleh pemirsa karena menggunakan kata kata yang disampaikan dalam bentuk gambar, animasi digital. KESIMPULAN Kegiatan pengabdian masyarakat melalui sosialisasi video edukasi bertema kesehatan reproduksi remaja dalam rangka upaya peningkatan kesehatan remaja memberikan peningkatan secara signifikan pengetahuan pemirsanya. Pendidikan kesehatan melalui pesan yang diwujudkan dalam bentuk gambar, animasi video dinilai praktis dan cukup efektif sebagai sarana penyebarluasan informasi. DAFTAR PUSTAKA