Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2026. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 ANALISIS FAKTOR RISIKO KECEMASAN PADA SISWA SMA NEGERI 01 SEMENDE DARAT ULU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS Meri Kastini1. Arie Wahyudi2. Gema Asiani 3 Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat. STIK Bina Husada Palembang1,2,3 Email: merikastini@gmail. ariew@binahusada. gema_asiani@yahoo. ABSTRAK Latar Belakang: Kecemasan merupakan gangguan mental yang sering terjadi pada remaja dan menunjukkan peningkatan baik secara global maupun nasional. Kondisi ini menunjukkan perlunya identifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian kecemasan pada remaja sekolah. Tujuan: Menganalisis faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian kecemasan pada siswa sekolah menengah atas tahun 2026. Metode: Penelitian kuantitatif pendekatan cross-sectional dilakukan pada 178 siswa yang dipilih menggunakan teknik proportional stratified purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis secara univariat, bivariat menggunakan uji Chisquare, serta multivariat menggunakan regresi logistik berganda dengan tingkat kemaknaan =0,05. Hasil: Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan dengan guru sekolah . =0,003. OR=2,. dukungan keluarga . =0,000. OR=6,. , dan hubungan teman sebaya . =0,001. OR=2,. dengan kejadian kecemasan. Sementara itu, status ekonomi . =0,. , penggunaan media sosial . =0,. , aktivitas fisik . =0,. , dan pola makan . =0,. tidak berhubungan dengan kecemasan. Analisis multivariat menunjukkan dukungan keluarga merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan kecemasan (OR=9,. Saran: Puskesmas dan sekolah perlu mengembangkan program promosi kesehatan jiwa remaja yang melibatkan keluarga, meningkatkan peran guru dalam memberikan dukungan psikososial, serta membentuk kelompok dukungan teman sebaya sebagai upaya pencegahan kecemasan pada siswa. Kata Kunci: Dukungan Keluarga. Faktor Risiko. Kecemasan. Remaja. Teman Sebaya ABSTRACT Background: Anxiety is a mental disorder that often occurs in adolescents and shows an increase both globally and nationally. This condition indicates the need to identify factors related to the occurrence of anxiety among school adolescents. Objective: To analyse the risk factors associated with the occurrence of anxiety among high school students in 2026. Method: A cross-sectional quantitative study was conducted on 178 students selected using the proportional stratified purposive sampling technique. Data were collected using a questionnaire and analysed univariately, bivariately using the Chi-square test, and multivariately using multiple logistic regression with a significance level of =0. Results: The analysis results show a relationship with school teachers . =0. OR=2. , family support . =0. OR=6. , and peer relationships . =0. OR=2. with the occurrence of anxiety. Meanwhile, economic status . =0. , social media use . =0. , physical activity . =0. , and diet . =0. are not related to anxiety. Multivariate analysis shows that family support is the most dominant factor related to anxiety (OR=9. Suggestion: Community health centers and schools need to develop mental health promotion programs for adolescents that involve families, enhance the role of teachers in providing psychosocial support, and form peer support groups as efforts to prevent anxiety Among students. Keywords: Family Support. Risk Factors. Anxiety. Adolescents. Peers | 186 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2026. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 kecemasan (SMAN 01, 2. Hasil PENDAHULUAN Kecemasan mengungkapkan bahwa sebagian besar bentuk emosi negatif yang ditandai dengan siswa yang dirujuk ke layanan BK perasaan khawatir, rasa was-was, dan perubahan pada sistem fisiologis seseorang. Secara kondisi psikologis yang penuh dengan rasa takut dan khawatir terhadap sesuatu hal dengan teman sebaya maupun guru. Selain yang belum pasti terjadi, dan menjadi itu, sejumlah siswa juga dilaporkan berasal dari keluarga dengan komunikasi yang berlebihan serta mengganggu aktivitas kurang terbuka dan minim pemberian sehari-hari (Hutasoit, 2. Di Indonesia, kecemasan merupakan gangguan mental berkontribusi terhadap munculnya gejala yang paling dominan pada remaja, dengan Kondisi ini mencerminkan prevalensi mencapai 26,7% pada kelompok adanya masalah kesehatan mental yang usia adolescent . Ae19 tahu. (Aryani et nyata di kalangan siswa, namun hingga saat , 2. Studi terbaru menunjukkan ini belum tersedia kajian ilmiah yang secara kecemasan, merupakan gejala dominan kecemasan di sekolah tersebut. pada remaja dengan prevalensi mencapai 30,1%, yang dipengaruhi oleh faktor Remaja usia sekolah menengah atas regulasi emosi, pola komunikasi keluarga, merupakan kelompok yang sangat rentan dan tekanan akademik (R et al. , 2. berada pada fase transisi perkembangan Fenomena yang terjadi di lapangan Berdasarkan Penelitian Kristiyanti Ardhanaputra . menunjukkan bahwa Bimbingan dan Konseling (BK) Tahun kualitas hubungan antara siswa dan guru Ajaran 2025Ae2026 di SMA Negeri 01 memiliki peran penting dalam menurunkan Semende Darat Ulu, dari total 319 siswa kecemasan akademik, sementara Luh et al. membuktikan bahwa penurunan dukungan teman sebaya secara langsung . ,9%) | 187 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2026. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 berkorelasi dengan peningkatan tingkat dependen, tingkat kecemasan dikategorikan kecemasan remaja. Aeni et al. "Mengalami menambahkan bahwa dukungan keluarga kuesioner Ou14 dan "Tidak Mengalami merupakan prediktor kuat yang secara Kecemasan" jika skor <14. Sementara itu. Kecemasan" kecemasan pada remaja yang menghadapi hubungan dengan guru, dukungan keluarga, tekanan sosial. Temuan-temuan tersebut status ekonomi, hubungan teman sebaya, penggunaan media sosial, aktivitas fisik, memerlukan pendekatan analisis yang berdasarkan nilai Mean atau Median komprehensif terhadap berbagai faktor sebagai cut-off point. risiko secara simultan. tahapan editing, coding, tabulating, dan entry, data dianalisis secara bertahap METODE PENELITIAN Penelitian Setelah melalui melalui tiga tahapan. Analisis univariat pendekatan cross-sectional ini dilaksanakan frekuensi dan persentase setiap variabel. FebruariAeMaret 2026 di SMA Negeri 01 Analisis bivariat dilakukan menggunakan Semende Darat Ulu. Dari populasi 319 uji Chi-square, lalu variabel dengan p-value siswa, sampel sebanyak 178 responden <0,25 diambil menggunakan teknik proportional Akhirnya, analisis multivariat diterapkan menggunakan uji regresi logistik rincian 60 siswa kelas X, 56 siswa kelas XI, dan 62 siswa kelas XII. Data dikumpulkan perancu sekaligus menentukan faktor risiko yang paling dominan terhadap kejadian Pada kecemasan siswa. HASIL PENELITIAN Tabel 1. Distribusi Frekuensi Faktor Risiko Kecemasan pada Siswa SMA Negeri No. Variabel Frekuensi . Persentase (%) Kecemasan Tidak Mengalami Mengalami | 188 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2026. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 Hubungan dengan Guru Sekolah Baik Kurang Baik Mendukung Kurang Mendukung Tinggi Rendah Baik Kurang Baik Rendah Tinggi Aktif Kurang Aktif Baik Kurang Baik Dukungan Keluarga Status Ekonomi Hubungan dengan Teman Sebaya Penggunaan Media Sosial Aktivitas Fisik Pola Makan Tabel 1 menunjukkan bahwa proporsi tertinggi kejadian kecemasan ditemukan pada kategori dukungan keluarga kurang mendukung, yaitu sebanyak 109 responden . ,2%). Pada dimensi hubungan teman sebaya, sebagian besar responden memiliki hubungan yang kurang baik sebanyak 107 responden . ,1%). Adapun variabel hubungan dengan guru sekolah terdistribusi merata antara kategori baik dan kurang baik, masing-masing 89 responden . ,0%). Tabel 2. Hubungan Faktor Risiko dengan Kejadian Kecemasan pada Siswa SMA Variabel Hub. Guru Sekolah Baik Mengalami Kecemasan Tidak Cemas Total p Value 0,003 2,496 | 189 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2026. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 Mengalami Kecemasan Variabel Tidak Cemas Total Hub. Guru Sekolah Kurang Baik Dukungan Keluarga Mendukung Dukungan Keluarga Kurang Mendukung Status Ekonomi Tinggi Status Ekonomi Rendah Teman Sebaya Baik Teman Sebaya Kurang Baik Media Sosial Rendah Media Sosial Tinggi Aktivitas Fisik Aktif Aktivitas Fisik Kurang Aktif Pola Makan Baik Pola Makan Kurang Baik p Value 0,000 6,446 0,461 0,001 2,915 0,179 0,234 0,234 Tabel 2 memperlihatkan bahwa tiga dukungan keluarga kurang mendukung variabel menunjukkan hubungan yang berisiko 6,4 kali lebih tinggi mengalami signifikan dengan kejadian kecemasan. Hubungan teman sebaya juga Hubungan p=0,003 OR=2,. , menunjukkan siswa dengan OR=2,496, artinya siswa yang memiliki hubungan teman sebaya kurang baik hubungan kurang baik dengan guru berisiko berisiko 2,9 kali lebih tinggi mengalami 2,5 kali lebih tinggi mengalami kecemasan Sebaliknya, variabel status Dukungan . =0,. , aktivitas fisik . =0,. , dan menunjukkan hubungan paling kuat pada pola makan . =0,. tidak menunjukkan analisis bivariat dengan nilai p=0,000 dan hubungan yang bermakna secara statistik OR=6,446, yang berarti siswa dengan . >0,. =0,. , . =0,001. | 190 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2026. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 Analisis Multivariat Tabel 3. Hasil Akhir Analisis Multivariat Faktor Risiko Kecemasan pada Siswa SMA Variabel p Value 95% CI Lower 95% CI Upper Dukungan Keluarga 2,235 0,000 9,346 4,196 20,813 Hubungan Teman Sebaya 1,366 0,001 3,921 1,812 8,483 Media Sosial 0,653 0,072 1,921 0,944 3,908 Pola Makan -0,927 0,025 0,396 0,175 0,892 Nagelkerke R Square = 0,323 Berdasarkan hasil akhir analisis PEMBAHASAN multivariat, terdapat dua variabel yang memiliki nilai p<0,05, yaitu dukungan Hubungan Guru keluarga (OR=9,346. 95% CI: 4,196Ae Kecemasan Siswa 20,. dan hubungan teman sebaya Hasil Sekolah 1,812Ae8,. terdapat hubungan yang bermakna antara Dukungan keluarga merupakan faktor yang kualitas hubungan dengan guru sekolah dan kejadian kecemasan pada siswa SMA kecemasan siswa (OR=9,. , yang berarti Negeri 01 Semende Darat Ulu . =0,003. responden dengan dukungan keluarga yang OR=2,. Siswa yang mempersepsikan baik memiliki peluang 9,346 kali lebih hubungan dengan guru sebagai kurang baik besar untuk tidak mengalami kecemasan berisiko 2,5 kali lebih tinggi mengalami dibandingkan yang mendapat dukungan keluarga kurang baik. Model persamaan memiliki hubungan baik dengan guru. Dari regresi yang terbentuk adalah: Z = -5,467 89 siswa yang memiliki hubungan kurang 2,235 (Dukungan Keluarg. 1,366 baik dengan guru, sebanyak 54 siswa (Teman Sebay. 0,653 (Media Sosia. Ae . ,3%) mengalami kecemasan, sedangkan 0,927 (Pola Maka. Nilai Nagelkerke R dari 89 siswa yang memiliki hubungan baik Square sebesar 0,323 menunjukkan bahwa dengan guru, hanya 34 siswa . ,1%) yang model mampu menjelaskan 32,3% variasi mengalami kecemasan. (OR=3,921. CI: kejadian kecemasan. | 191 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2026. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 Guru merupakan figur sentral yang kurangnya motivasi dari guru, diejek di berinteraksi langsung dengan siswa di kelas depan kelas, dan dipanggil guru untuk berbicara tanpa persiapan yang memadai. Atifnigar . menambahkan bahwa kondusif dan suportif (Metri, 2. peran aktif guru dalam menciptakan Hubungan guru-siswa yang positif ditandai lingkungan belajar yang suportif dan tidak menghakimi merupakan salah satu strategi pemberian umpan balik yang konstruktif, paling efektif dalam mereduksi kecemasan dan penciptaan suasana kelas yang tidak siswa di lingkungan sekolah. Guru Adapun asumsi peneliti bahwa menciptakan atmosfer kelas yang non- interaksi yang kurang suportif antara guru mengancam dan mendorong kesalahan dan siswa seperti kurangnya perhatian sebagai bagian dari proses belajar secara individual, minimnya apresiasi terhadap signifikan mampu mengurangi tingkat usaha siswa, atau gaya komunikasi yang cenderung menghakimi, dapat menciptakan Sebaliknya, tekanan psikologis yang berkontribusi pada harmonis antara siswa dan guru dapat munculnya kecemasan. Oleh karena itu, memunculkan perasaan tidak aman, takut penguatan kompetensi interpersonal guru dihakimi, dan enggan berpartisipasi aktif melalui pelatihan komunikasi efektif dan dalam pembelajaran, yang pada akhirnya konseling psikopedagogik perlu menjadi memicu timbulnya kecemasan. prioritas program pengembangan tenaga (Bensalem. Hasil ini sejalan dengan penelitian Kristiyanti & Ardhanaputra . yang menemukan adanya hubungan signifikan antara kualitas interaksi guru dengan pendidik di sekolah tersebut. Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kecemasan Siswa Hasil kecemasan siswa, di mana dukungan guru melalui pemberian umpan balik konstruktif dan dorongan positif terbukti berkontribusi pada penurunan kecemasan. Penelitian Halawa et al. juga memperkuat temuan ini dengan menyatakan bahwa bahwa dukungan keluarga merupakan variabel yang paling bermakna, baik pada analisis bivariat . =0,000. OR=6,. maupun analisis multivariat (OR=9,. Dari dukungan keluarga kurang mendukung, | 192 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2026. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 sebanyak 72 siswa . ,4%) mengalami menunjukkan hubungan signifikan antara Sebaliknya, dari 69 siswa mendukung, hanya 16 siswa . ,0%) yang bullying, di mana keluarga yang suportif terbukti menjadi pelindung psikologis yang menunjukkan bahwa kurangnya dukungan Penelitian Solehah et al. juga keluarga merupakan faktor risiko paling dominan terhadap kejadian kecemasan membuktikan bahwa dukungan emosional orang tua secara signifikan menurunkan Temuan tingkat kecemasan siswa yang menghadapi aspek emosional melalui rasa empati, ujian sekolah dan ujian masuk perguruan dukungan pengharapan melalui dorongan Lumiu et al. menambahkan untuk maju, dukungan instrumental melalui bahwa ketersediaan dukungan keluarga yang konsisten berkaitan langsung dengan informatif melalui pemberian nasihat dan rendahnya tingkat kecemasan pada anak (Supartini. Keluarga dan remaja dalam berbagai situasi penuh Dukungan perawatan anak karena anak adalah bagian Berdasarkan yang tidak terpisahkan dari lingkungan ditemukan di lapangan, peneliti berasumsi keluarganya (Lumiu et al. , 2. Pada fase bahwa rendahnya dukungan keluarga pada remaja, keluarga berfungsi sebagai sistem sebagian besar siswa di SMA Negeri 01 pendukung primer yang memberikan rasa Semende Darat Ulu berkaitan erat dengan aman, stabilitas emosi, dan landasan latar belakang sosial dan budaya setempat, kepercayaan diri. Ketika dukungan ini tidak di mana sebagian orang tua bekerja di tersedia secara memadai, remaja menjadi sektor pertanian atau merantau sehingga lebih rentan terhadap tekanan psikologis termasuk kecemasan, karena mereka belum emosional antara orang tua dan anak sepenuhnya memiliki kapasitas regulasi menjadi terbatas. Kondisi ini menjadikan emosi yang matang untuk menghadapi siswa kurang memiliki tempat untuk berbagai tantangan secara mandiri. berbagi kekhawatiran dan memperoleh Hasil penelitian ini sejalan dengan Aeni penguatan emosional, sehingga kecemasan lebih mudah berkembang. Oleh karena itu, | 193 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2026. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 signifikan antara pendapatan keluarga melibatkan orang tua secara aktif melalui dengan kecemasan pada mahasiswa profesi puskesmas dan sekolah sangat penting Ners. Karatas & Oktem . juga dikembangkan sebagai upaya preventif. Hubungan Status Ekonomi Kecemasan Siswa terdapat hubungan bermakna antara status ekonomi keluarga dengan kecemasan siswa . =0,. Dari 100 siswa dengan status ekonomi tinggi, sebanyak 47 siswa . ,4%) mengalami kecemasan, sedangkan dari 78 siswa dengan status ekonomi rendah, tambahan bagi remaja akibat keterbatasan kebutuhan sosial, dan gizi yang memadai. Namun demikian, kecemasan pada remaja dipengaruhi oleh banyak dimensi sekaligus, sehingga faktor finansial tidak selalu menjadi pemicu utama apabila kebutuhan emosional dan sosial siswa terpenuhi dengan baik melalui dukungan keluarga dan lingkungan sebaya. dukungan lingkungan yang lebih berperan. Kansil et al. memperkuat temuan ini dengan menyimpulkan bahwa kecemasan pada remaja lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi materi keluarga. Peneliti berasumsi bahwa tidak penelitian Koapaha & Pitoy . yang karakteristik wilayah Semende Darat Ulu yang merupakan daerah perdesaan dengan standar kebutuhan hidup yang relatif Dalam konteks komunitas yang sebagian besar berada pada tingkat ekonomi yang serupa, perbedaan status ekonomi tidak menciptakan kesenjangan sosial yang cukup signifikan untuk memicu kecemasan. Faktor psikologis seperti kualitas dukungan tampaknya jauh lebih berpengaruh terhadap Hasil penelitian ini sejalan dengan adanya hubungan antara status ekonomi dan Secara teoritis, status ekonomi yang psikososial seperti kepercayaan diri dan terdapat 41 siswa . ,0%) yang mengalami kecemasan pada remaja, melainkan faktor Hasil analisis menunjukkan tidak kondisi finansial keluarga. | 194 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2026. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 Hubungan Teman Sebaya Kecemasan Siswa Hasil membina hubungan baik dengan teman sebaya dapat mengembangkan kemampuan bahwa hubungan dengan teman sebaya mengekspresikan perasaan secara sehat, terbukti memiliki hubungan bermakna yang pada akhirnya menjadi pelindung terhadap timbulnya gangguan kecemasan . =0,001. OR=2,. , dan tetap signifikan dalam (Luh et al. , 2. analisis multivariat (OR=3,. Dari 107 Hasil ini sejalan dengan penelitian siswa yang memiliki hubungan teman Luh et al. yang membuktikan bahwa sebaya kurang baik, sebanyak 64 siswa penurunan dukungan teman sebaya secara . ,0%) langsung meningkatkan tingkat kecemasan. Sebaliknya, dari 71 siswa dengan hubungan stres, dan depresi pada remaja SMA. teman sebaya yang baik, hanya 24 siswa Khoirunnisa ,5%) Ariati . menunjukkan bahwa kualitas hubungan dukungan sosial teman sebaya, semakin sebaya yang buruk meningkatkan risiko rendah tingkat kecemasan yang dialami, kecemasan hampir tiga kali lipat. karena kelompok sebaya berfungsi sebagai Dukungan sosial teman sebaya sumber validasi emosional yang penting merupakan perhatian dan dukungan yang bagi remaja. Febriana et al. didapatkan remaja dari kelompok dengan menambahkan bahwa kualitas hubungan usia, minat, dan cita-cita yang relatif sama teman sebaya yang baik berkorelasi positif (Febriana et al. , 2. Dukungan ini dengan harga diri remaja, yang merupakan dicintai, diperhatikan, dan dihargai sebagai Peneliti berasumsi bahwa tingginya bagian dari kelompok sosial. Pada masa proporsi siswa dengan hubungan teman remaja, hubungan dengan teman sebaya sebaya yang kurang baik berkaitan dengan mengambil alih sebagian besar fungsi dinamika kelompok sosial di lingkungan afiliasi yang sebelumnya dipenuhi oleh keluarga, sehingga kualitas relasi ini terbentuknya relasi sebaya yang sehat. menjadi sangat krusial bagi keseimbangan Adanya emosional remaja. Remaja yang mampu kelompok pertemanan, minimnya kegiatan | 195 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2026. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 kooperatif antar siswa, serta kurangnya saling berbagi pengalaman secara real time (Marhaen & Evi, 2. dapat menjadi faktor yang memperlemah Hasil penelitian ini sejalan dengan kualitas hubungan teman sebaya. Kondisi penelitian Marhaen & Evi . yang ini perlu diatasi melalui pembentukan menunjukkan tidak ada hubungan antara terstruktur di sekolah, sebagai wadah kecemasan mahasiswa, di mana konten hiburan di media sosial justru dapat sekaligus sistem dukungan emosional antar mengurangi ketegangan setelah belajar. Sudarmini et al. juga menyatakan Hubungan Media Sosial dipengaruhi oleh faktor psikososial lain Kecemasan Siswa Analisis bivariat menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara penggunaan media sosial dengan kecemasan siswa . =0,. Dari penggunaan media sosial tinggi, sebanyak 47 siswa . ,4%) mengalami kecemasan, penggunaan media sosial rendah, terdapat bahwa kecemasan sosial pada remaja lebih . ,0%) seperti kualitas interaksi sosial dan regulasi emosi dibandingkan durasi penggunaan Kansil menambahkan bahwa hubungan antara media sosial dan kecemasan bersifat tidak langsung dan dimediasi oleh variabel kepribadian serta kualitas hubungan sosial yang dimiliki remaja. Peneliti berasumsi bahwa tidak Selisih proporsi yang kecil ini penggunaan media sosial dan kecemasan penggunaan media sosial secara tunggal dalam penelitian ini kemungkinan berkaitan bukan merupakan faktor penentu utama dengan pola penggunaan media sosial di kecemasan pada populasi penelitian ini. kalangan siswa SMA Negeri 01 Semende Media sosial adalah bentuk media baru yang menggabungkan teknologi komputer menciptakan komunitas pengguna yang Darat Ulu rekreatif, seperti menonton konten hiburan dan berkomunikasi dengan keluarga atau teman, bukan untuk aktivitas yang memicu perbandingan sosial atau tekanan daring. Selain itu, keterbatasan akses internet di | 196 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2026. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 wilayah perdesaan juga dapat membatasi pengaruh yang lebih dominan dibandingkan intensitas paparan konten yang berpotensi faktor fisiologis dalam konteks kecemasan memicu kecemasan, sehingga dampak Gandasari . juga menemukan negatif media sosial tidak sekuat yang ditemukan di populasi perkotaan. dipengaruhi oleh tuntutan akademik yang Hubungan Aktivitas Fisik Kecemasan Siswa ada hubungan bermakna antara aktivitas . =0,. Dari 102 siswa yang tergolong aktif secara fisik, sebanyak 53 siswa . ,8%) mengalami kecemasan, sedangkan dari 76 siswa yang kurang aktif, terdapat 35 Proporsi ini menunjukkan bahwa tingkat aktivitas fisik tidak memberikan perbedaan yang bermakna secara statistik terhadap penelitian ini. gerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot jumlah tugas, dan lingkungan belajar yang aktivitas fisik harian. Halimah et al. remaja, variabel psikososial seperti tekanan lingkungan dan kualitas hubungan sosial cenderung lebih kuat menentukan kondisi mental dibandingkan variabel perilaku kesehatan seperti aktivitas fisik. Peneliti berasumsi bahwa tidak adanya hubungan antara aktivitas fisik dan kecemasan dalam penelitian ini berkaitan sebagian besar siswa tergolong aktif secara fisik, aktivitas tersebut lebih banyak Aktivitas fisik adalah segala bentuk tinggi, hasil tes yang tidak sesuai harapan, siswa . ,7%) yang mengalami kecemasan. kurang kondusif dibandingkan intensitas Hasil penelitian menunjukkan tidak energi lebih besar daripada saat istirahat (WHO, 2. Temuan bersifat rutin dalam konteks pelajaran olahraga di sekolah dan bukan merupakan aktivitas fisik yang dilakukan secara sadar sebagai strategi manajemen stres. Dengan demikian, manfaat psikologis dari aktivitas fisik tidak terasakan secara optimal oleh penelitian Wewengkang et al. yang Perlu adanya edukasi mengenai menunjukkan tidak terdapat hubungan kecemasan pada remaja, mengindikasikan memanfaatkan olahraga sebagai salah satu mekanisme koping terhadap kecemasan. | 197 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2026. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 Hubungan Pola Makan Kecemasan Siswa faktor psikologis dan sosial lain yang dapat memengaruhi kondisi mental secara lebih Pada analisis bivariat, pola makan langsung, sehingga pola makan tidak selalu tidak menunjukkan hubungan bermakna tampak sebagai faktor utama penyebab dengan kecemasan . =0,. Dari 97 kecemasan dalam analisis tunggal. siswa dengan pola makan baik, sebanyak 44 Hasil ini sejalan dengan penelitian siswa . ,7%) mengalami kecemasan, dan Saputra . yang menemukan tidak ada dari 81 siswa dengan pola makan kurang hubungan signifikan antara pola makan dan baik, juga terdapat 44 siswa . ,7%) yang kecemasan pada remaja secara bivariat. Meskipun demikian, variabel ini dimasukkan ke protektif pola makan sehat dalam model dalam model multivariat karena memenuhi Kumalasari et al. juga kriteria seleksi . <0,. dan memberikan menyatakan bahwa dampak pola makan kontribusi signifikan dalam model akhir terhadap kondisi psikologis remaja bersifat . =0,025. tidak langsung dan lebih terasa dalam mengindikasikan bahwa pola makan yang jangka panjang, sehingga sulit terdeteksi baik bersifat protektif terhadap kecemasan dalam desain cross-sectional. Gandasari dalam konteks analisis bersama variabel memperkuat temuan ini dengan menjelaskan bahwa kecemasan pada siswa OR=0,. Pola makanan setiap hari yang dipengaruhi oleh SMA lebih dipengaruhi secara langsung dibandingkan kebiasaan makan harian. faktor budaya, ekonomi, dan kebiasaan Peneliti berasumsi bahwa tidak (Kumalasari et al. , 2. Secara ilmiah, ditemukannya hubungan langsung antara terdapat hubungan bidireksional antara pola pola makan dan kecemasan pada penelitian makan dan kesehatan mental melalui jalur gut-brain axis, di mana asupan nutrisi yang kesamaan pola konsumsi makanan di antara siswa yang tinggal di wilayah yang sama produksi neurotransmiter seperti serotonin dan dopamin yang berperan penting dalam homogen, sehingga variasi antar kelompok regulasi suasana hati dan kecemasan. tidak cukup besar untuk menghasilkan Namun pada remaja, terdapat berbagai perbedaan bermakna. Meskipun demikian, | 198 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2026. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 nilai OR=0,396 pada analisis multivariat dukungan primer bagi remaja. Hubungan mengindikasikan bahwa siswa dengan pola makan baik memiliki peluang lebih rendah memberikan stabilitas, kepercayaan, dan mengalami kecemasan, sehingga edukasi perhatian yang dapat meningkatkan rasa gizi dan pembiasaan pola makan sehat tetap kepemilikan, harga diri, dan penerimaan relevan sebagai bagian dari program diri siswa (Aeni et al. , 2. Keluarga yang kesehatan holistik di sekolah. suportif tidak hanya memenuhi kebutuhan Faktor Paling Dominan Berhubungan dengan Kecemasan Siswa Hasil berhubungan dengan kecemasan siswa (OR=9,346. 95% CI: 4,196Ae20,. Hal ini menunjukkan bahwa siswa dengan dukungan keluarga yang memadai memiliki peluang 9,346 kali lebih besar untuk tidak mengalami kecemasan dibandingkan siswa yang kurang mendapat dukungan keluarga. Faktor dominan kedua adalah hubungan teman sebaya (OR=3,921. 95% CI: 1,812Ae 8,. , yang menunjukkan bahwa jaringan sosial sebaya juga berkontribusi signifikan. Secara bersama-sama, seluruh variabel dalam model mampu menjelaskan 32,3% variasi kejadian kecemasan (Nagelkerke R Square=0,. , terdapat faktor-faktor lain di luar model yang turut berperan. materi, tetapi juga membangun fondasi psikologis yang kuat sehingga remaja lingkungan sekolah maupun sosialnya. Hasil ini dikuatkan oleh penelitian Solehah et al. yang membuktikan bahwa dukungan emosional orang tua merupakan prediktor terkuat penurunan kecemasan siswa dibandingkan variabel lingkungan lainnya. Luh et al. menambahkan bahwa kombinasi dukungan keluarga yang kuat dan hubungan teman sebaya yang berkualitas secara sinergis membentuk sistem pelindung psikologis yang paling efektif bagi remaja dalam menghadapi tekanan kehidupan sekolah. Aeni et al. menegaskan bahwa intervensi yang menargetkan penguatan sistem dukungan sosial remaja, baik dari keluarga maupun sebaya, terbukti lebih efektif dalam menurunkan kecemasan Temuan ini menegaskan peran memiliki ketahanan . dalam berfokus pada faktor individu. | 199 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2026. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 Peneliti Status ekonomi . =0,. , penggunaan dominannya peran dukungan keluarga media sosial . =0,. , aktivitas fisik masih sangat bergantung pada lingkungan . =0,. , dan pola makan . =0,. keluarga sebagai sumber utama rasa aman dan kepercayaan diri, sejalan dengan nilai bermakna secara statistik. budaya lokal yang menempatkan keluarga Analisis multivariat mengidentifikasi sebagai institusi sosial paling fundamental. dukungan keluarga sebagai faktor Namun ketika keluarga tidak mampu risiko paling dominan (OR=9,. , memenuhi kebutuhan dukungan emosional diikuti oleh hubungan teman sebaya tersebutAibaik karena keterbatasan waktu, (OR=3,. jarak, maupun kesadaran orang tuaAisiswa Kolaborasi antara puskesmas SARAN Bagi Puskesmas diharapkan dapat dan sekolah dalam bentuk program edukasi parenting dan konseling keluarga berbasis kesehatan jiwa remaja berbasis sekolah, komunitas menjadi langkah strategis yang khususnya dalam memperkuat dukungan permasalahan ini secara komprehensif. keluarga dan edukasi orang tua mengenai cara mendampingi anak secara emosional. KESIMPULAN DAN SARAN Bagi SMA Negeri 01 Semende Darat Ulu. Kesimpulan sekolah perlu mendorong guru untuk Dari 178 responden, sebanyak 88 siswa menciptakan suasana kelas yang aman dan . ,4%) suportif, serta membentuk program peer Terdapat hubungan bermakna antara . =0,003. OR=2,. =0,000. OR=6,. , dan hubungan teman sebaya . =0,001. OR=2,. support yang dapat memperkuat kualitas Bagi menambahkan variabel lain seperti tekanan akademik, kualitas tidur, dan riwayat trauma dalam pengembangan model faktor risiko kecemasan yang lebih komprehensif. | 200 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. id/index. php/Kep/article/view/126 Vol. No. Juni 2026. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 DAFTAR PUSTAKA