Jurnal Peduli Masyarakat Volume 7 Nomor 4. Juli 2025 e-ISSN 2721-9747. p-ISSN 2715-6524 http://jurnal. com/index. php/JPM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BERISIKO TINGGI MELALUI EDUKASI DAN BIMBINGAN TEKNIS MANAJEMEN DOTS DALAM UPAYA MENINGKATKAN KEPATUHAN TERHADAP PENGOBATAN TB Ari Sukma Nela*. Armen patria. Sandra Andriani Universitas Mitra Indonesia. Jl. ZA. Pagar Alam No. Gedong Meneng. Rajabasa. Bandar Lampung. Lampung 40115. Indonesia *arisukmanela@umitra. ABSTRAK Tuberkulosis (TB) masih menjadi prioritas masalah kesehatan yang harus ditangani dengan cepat. Indonesia menjadi penyumbang nomor dua terbanyak kasus TB setelah India. Namun hingga saat ini, masih terdapat banyak indikator program penanggulangan TBC yang belum tercapai bahkan jauh dari target, salah satunya masih rendahnya ketersediaan dan kualitas aspek program penanggulangan TBC, seperti DOTS termasuk di wilayah kerja Puskesmas Gedong Tataan. Lampung. Rendahnya tingkat kepatuhan terhadap pengobatan TB, terutama di kelompok masyarakat berisiko tinggi, menjadi tantangan utama dalam upaya pengendalian penyakit ini. Strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcours. yang telah diterapkan belum berjalan optimal tanpa adanya edukasi dan pendampingan yang intensif di tingkat masyarakat. Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah untuk pemberdayaan masyarakat beresiko tinggi melalui edukasi dan bimbingan teknis manajemen DOTS guna meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan keterlibatan aktif masyarakat dalam mendukung keberhasilan terapi TB, sekaligus mencegah resistensi obat dan penularan lebih lanjut. Kegiatan berlangsung selama 1 bulan, dimulai dengan tahap sosialisasi, dilanjutkan dengan sesi edukasi kelompok dan bimbingan teknis manajemen DOTS (Directly Observed Treatment Short-Cours. Jumlah peserta sebanyak 30 orang, yang terdiri dari kader kesehatan, anggota keluarga pasien TB, dan tokoh masyarakat di wilayah Puskesmas Gedong Tataan. Persiapan kegiatan dilakukan selama dua minggu, mencakup koordinasi dengan puskesmas, rekrutmen peserta, penyusunan materi edukasi, dan pelatihan bagi fasilitator. Pelaksanaan kegiatan berlangsung selama dua hari secara luring di aula kecamatan. Setelah kegiatan, evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test, observasi partisipatif, serta kuisioner kepuasan peserta. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan skor pengetahuan peserta sebesar rata-rata 62,32% setelah intervensi edukasi dan pelatihan, serta meningkatnya motivasi kader dan keluarga pasien untuk turut memantau kepatuhan pengobatan. Partisipasi aktif masyarakat dalam mendukung manajemen DOTS juga terlihat dari komitmen pembentukan kelompok pemantau berbasis komunitas. Kegiatan ini berhasil meningkatkan pemahaman dan peran serta masyarakat dalam pengendalian TB melalui strategi DOTS. Pendekatan edukatif dan partisipatif terbukti efektif dalam memperkuat kolaborasi antara tenaga kesehatan dan masyarakat, dan menjadi model yang dapat direplikasi di wilayah lain. Kata kunci: tuberculosis. manajamen DOTS. pengobatan TB EMPOWERING HIGH-RISK COMMUNITIES THROUGH EDUCATION AND TECHNICAL GUIDANCE ON DOTS MANAGEMENT IN AN EFFORT TO IMPROVE ADHERENCE TO TB TREATMENT ABSTRACT Tuberculosis (TB) is still a priority health problem that must be addressed quickly. Indonesia contributes the second highest number of TB cases after India. However, until now, there are still many indicators of the TB control program that have not been achieved and even far from the target, one of which is still the low availability and quality of aspects of the TB control program, such as DOTS, including in the working Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 4. Juli 2025 Global Health Science Group area of Puskesmas Gedong Tataan. Lampung. The low level of adherence to TB treatment, especially in high-risk communities, is a major challenge in efforts to control this disease. The DOTS (Directly Observed Treatment Short-cours. strategy that has been implemented has not run optimally without intensive education and assistance at the community level. The purpose of this activity is to empower high-risk communities through education and technical guidance on DOTS management to increase knowledge, awareness, and active community involvement in supporting the success of TB therapy, while preventing drug resistance and further transmission. The activity lasted for 1 month, starting with the socialization stage, followed by group education sessions and technical guidance on DOTS (Directly Observed Treatment Short-Cours. The number of participants was 30 people, consisting of health cadres, family members of TB patients, and community leaders in the Gedong Tataan Puskesmas Preparation for the activity was carried out for two weeks, including coordination with the puskesmas, recruitment of participants, preparation of educational materials, and training for facilitators. The implementation of the activity took place over two days offline at the sub-district hall. After the activity, evaluation was conducted through pre-test and post-test, participatory observation, and participant satisfaction questionnaire. The results of the activity showed an increase in the participants' knowledge score by an average of 62. 32% after the education and training intervention, as well as increased motivation of cadres and patient families to participate in monitoring treatment compliance. Active community participation in supporting DOTS management is also evident from the commitment to form a community-based monitoring group. In conclusion, this activity succeeded in increasing community understanding and participation in TB control through the DOTS strategy. The educative and participatory approach proved effective in strengthening collaboration between health workers and the community, and became a model that can be replicated in other areas. Keywords: DOTS management. TB treatment. PENDAHULUAN Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi menular yang hingga kini masih menjadi isu kesehatan yang serius secara global maupun di Indonesia. Menurut laporan Global Tuberculosis Report tahun 2022, penyakit TB penyebab kematian sekitar 1,3 juta jiwa di seluruh dunia, dengan estimasi jumlah kasus mencapai 10,6 juta dan angka insiden sebesar 133 per 100. 000 penduduk. Organisasi Kesehatan Dunia. WHO (World Health Organizatio. telah meluncurkan strategi AuEnd TuberculosisAy yang ditargetkan tercapai pada tahun 2030, dengan tujuan utama mengakhiri epidemi TB secara global. Indonesia sendiri menempati peringkat kedua tertinggi sebagai negara dengan beban kasus TB terbesar . %) setelah India . %) . Kondisi ini menjadi tantangan serius yang menuntut perhatian dan kolaborasi semua pihak karena tingginya angka kesakitan dan kematian akibat TB(Susanti et al. , 2. Jumlah Kasus TB teridentifikasi di Indonesia menurut Data Kementerian Kesehatan per 2 Januari tahun 2024 meningkat menjadi 809. Angka kenaikan kasus ini menjadi tantangan baru bagi Indonesia yang menargetkan untuk mengeliminasi TBC pada tahun 2030. Dan berdasarkan data yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan RI untuk Provinsi Lampung estimasi jumlah kasus TB hingga bulan Mei 2024 terdapat sebanyak 31. 302 orang terjangkit TBC dan hanya 50% dari kasus tersebut yang berhasil teridentifikasi, sementara sisanya belum diketahui. Situasi ini tentu menjadi perhatian yang serius. Salah satu program pemerintah dalam pengendalian penyebaran TB adalah strategi DOTS. Penerapan strategi DOTS (Directly Observed Treatment. Short-cours. telah menjadi pendekatan utama dalam pengendalian TB secara global. Namun, keberhasilan strategi ini sangat bergantung pada tingkat kepatuhan pasien terhadap pengobatan yang teratur dan tuntas. Faktanya, masih banyak pasien TB yang menunjukkan kepatuhan rendah dalam menjalani terapi, terutama di lingkungan kelompok masyarakat berisiko tinggi. Faktor-faktor seperti kurangnya pemahaman, stigma sosial, dan dukungan sistem layanan kesehatan yang belum optimal turut memengaruhi rendahnya keberhasilan pengobatan(Lemos et al. , 2. Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 4. Juli 2025 Global Health Science Group Pemberdayaan masyarakat berisiko tinggi menjadi salah satu pendekatan strategis yang berorientasi pada penguatan kapasitas individu dan komunitas dalam mengenali, memahami, dan terlibat aktif dalam pengelolaan TB. Melalui edukasi dan bimbingan teknis terkait manajemen DOTS, diharapkan individu tidak hanya menjadi objek intervensi, tetapi juga subjek aktif dalam menjalani dan memantau pengobatan(Lemos et al. , 2. Puskesmas sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan primer, memiliki peran sentral dalam memfasilitasi program pemberdayaan tersebut melalui pendekatan promotif dan preventif yang terintegrasi. Puskesmas merupakan ujung tombak dalam pelayanan kesehatan masyarakat di tingkat desa/ kelurahav salah satu dukungannya melalui pemberdayaan Kader. Keterampilan kader dalam memahami dan menerapkan ilmu manajemen DOTS dalam memberikan pelayanan di Puskesmas terutama dalam pengobatan TB dan pendampingan DOTS. Edukasi tentang pengobatan TB, termasuk pendampingan DOTS terhadap kader juga berkontribusi pada pencegahan penyakit pernafasan menular dan dapat meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat yang akan berdampak pada kualitas sumber daya manusia di masa depan. Peningkatan kualitas hidup masyarakat Indonesia melalui pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial, yang selaras dengan tujuan dari edukasi dan bimtek yang diberikan kepada kader posyandu (N. L & Arda, 2. Kegiatan ini berkaitan dengan salah satu tujuan SDGs yaitu End TB Strategy demi Demi terwujudnya dunia yang sehat dan bebas TB, karena TB termasuk kedalam 10 besar penyebab kematian karena peningkatan pemahaman dan keterampilan kader dalam edukasi dan pendampingan DOTS dapat membantu memastikan bahwa penderita dan kelompok risiko paham cara pengobatan dan pendampingan sehingga risiko penularan TB atau TB putus obat dapat dicegah. Edukasi pengobatan TB dan pendampingan DOTS pada kader posyandu dapat membantu meningkatkan kesehatan masyarakat, termasuk dalam pencegahan penyakit menular. Peningkatan pemahaman tentang pengobatan TB dan pendampingan DOTS juga membantu mencegah masalah komplikasi kesehatan. Kader posyandu yang teredukasi dapat memberikan informasi yang lebih akurat dan berbasis bukti kepada masyarakat, sehingga meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengobatan TB dan pendampingan DOTS. Puskesmas Gedong Tataan, yang terletak di Kabupaten Pesawaran. Provinsi Lampung, merupakan salah satu wilayah yang memiliki tantangan dalam pengendalian TB, termasuk rendahnya tingkat kepatuhan terhadap pengobatan. Oleh karena itu, diperlukan intervensi yang terstruktur dan berbasis pemberdayaan untuk meningkatkan efektivitas program DOTS. Kegiatan edukasi dan bimbingan teknis kepada masyarakat berisiko tinggi menjadi strategi potensial untuk mengatasi hambatan kepatuhan, meningkatkan pemahaman masyarakat, serta memperkuat dukungan sosial dalam mendampingi proses pengobatan TB secara menyeluruh. Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah untuk pemberdayaan masyarakat beresiko tinggi melalui edukasi dan bimbingan teknis manajemen DOTS guna meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan keterlibatan aktif masyarakat dalam mendukung keberhasilan terapi TB, sekaligus mencegah resistensi obat dan penularan lebih lanjut. METODE Pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan partisipatif melalui model edukasi dan bimbingan teknis yang terstruktur. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat berisiko tinggi dalam memahami serta menjalankan manajemen pengobatan tuberkulosis (TB) berbasis strategi Directly Observed Treatment. Shortcourse (DOTS), guna meningkatkan kepatuhan terhadap terapi yang dijalankan. Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 4. Juli 2025 Global Health Science Group Kegiatan ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Gedong Tataan. Kabupaten Pesawaran. Provinsi Lampung pada tanggal 14 Maret 2025 selama 1 bulan, sasaran utama dalam kegiatan ini adalah individu yang tergolong dalam kelompok masyarakat berisiko tinggi, yaitu pasien TB aktif, keluarga pasien, kader kesehatan, serta masyarakat yang tinggal di lingkungan padat penduduk dengan prevalensi TB yang tinggi dengan jumlah sasaran 30 orang, terdiri dari 6 Kader, 2 pasien TB aktif dengan pegobatan dan 22 kelompok masyarakat dengan risiko tinggi. Pelaksanaan program ini menggunakan metode community empowerment yang dikombinasikan dengan pendekatan capacity building melalui dua strategi utama, yaitu edukasi kesehatan dan bimbingan teknis. Metode ini dipilih untuk memastikan adanya peningkatan pengetahuan sekaligus keterampilan dalam mempraktikkan manajemen pengobatan TB berbasis DOTS secara mandiri maupun dalam peran pendampingan. Media yang digunakan yaitu berupa slide PPT, video, panduan dan juga leaflet, tentang penyakit TBC dan cara manajemen untuk pendampingan DOTS. Tahapan Pelaksanaan Kegiatan ini dilaksanakan melalui beberapa tahapan sebagai berikut: Tahap Persiapan Tahap ini melakukan Kerjasama dan koordinasi dengan pihak Puskesmas Gedong Tataan, terkait pemetaan wilayah dan sasaran kegiatan, penyusunan materi edukasi, serta persiapan instrumen dan instrument evaluasi. Pada tahap ini juga dilakukan penentuan indikator capaian dan penyusunan instrument pre-test dan post-test. Tahap Pelaksanaan Edukasi Tahap ini dilakukan secara kelompok dengan menggunakan media visual . ideo, poster, leaflet, panduan dan slide presentas. yang menjelaskan tentang penyakit TB, pentingnya kepatuhan dalam pengobatan, dan prinsip dasar manajemen DOTS. Materi disampaikan oleh tim pengabdian dan petugas TB dari Puskesmas dalam bentuk penyuluhan interaktif. Tahap Bimbingan Teknis (Bimte. Kegiatan Bimtek difokuskan pada pemberian pelatihan keterampilan praktis kepada kader dan keluarga pasien dalam memantau kepatuhan minum obat, pencatatan, serta pelaporan harian sesuai prosedur DOTS. Bimbingan ini dilakukan melalui simulasi, diskusi kelompok kecil, dan role-play . eragaan pera. Tahap Evaluasi dan Monitoring Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan Selain itu, dilakukan monitoring terhadap pelaksanaan manajemen pengobatan pasca kegiatan melalui kunjungan rumah, wawancara mendalam, dan pengisian format kepatuhan yang disediakan. Teknik Analisis Data Data yang diperoleh dari instrumen pre-test dan post-test dianalisis secara deskriptif kuantitatif untuk mengetahui perubahan tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah kegiatan. Sementara itu, data kualitatif dari hasil observasi dan wawancara dianalisis secara tematik untuk mengevaluasi ketercapaian proses bimbingan teknis dan tantangan pelaksanaan di Metode yang dilakukan dengan ceramah, diskusi tanya jawab, dan demonstrasi manajemen untuk manajemen DOTS. Penggunaan leaflet memiliki kelebihan agar peserta dapat dengan mudah mengingat penyakit TB serta dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Evaluasi dilakukan pada akhir sesi, evaluasi dilaksanakan dengan tujuan untuk menilai keberhasilan kegiatan. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini mendapatkan respon yang baik dari masyarakat di wilah keja puskesmas Gedong Tataan. Kegiatan ini dilaksanakan dengan pendekatan Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 4. Juli 2025 Global Health Science Group partisipatif melalui edukasi dan bimbingan teknis kepada masyarakat berisiko tinggi yang terdiri dari pasien TB, keluarga pasien, serta kader kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Gedong Tataan. Kegiatan berlangsung selama 1 bulan, dimulai dengan tahap sosialisasi, dilanjutkan dengan sesi edukasi kelompok dan bimbingan teknis manajemen DOTS (Directly Observed Treatment Short-Cours. Hasil evaluasi ketercapaian tahap persiapan kegiatan dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 1. Hasil evaluasi ketercapaian tahap persiapan kegiatan Kegiatan Survei tempat pelaksanaan kegiatan Pengurusan administrasi dan izin lokasi pelaksanaan pengabdian masyarakat Persiapan alat dan bahan pelaksanaan kegiatan serta materi pelaksanaan kegiatan Intervensi edukasi Bimtek Ketercapaian tahap Ketercapaian 100% Terlaksana Belum Terlaksana Hasil yang telah dicapai dalam kegiatan ini yaitu: Terjadi peningkatan pengetahuan Masyarakat Berdasarkan hasil pre-test dan post-test yang diberikan kepada 30 peserta, terjadi peningkatan skor rata-rata dari 62,3 menjadi 100 . kala 0Ae. , menunjukkan peningkatan pengetahuan yang signifikan mengenai TB, mekanisme penularan, pentingnya pengobatan hingga tuntas, serta peran manajemen DOTS dalam mendukung kepatuhan pasien. Peningkatan Kepatuhan Terhadap Pengobatan Data dari Puskesmas menunjukkan peningkatan jumlah pasien yang menjalani pengobatan sesuai jadwal dari 67% sebelum intervensi menjadi 100% setelah pelaksanaan program. Hal ini menunjukkan efektivitas pendekatan edukatif dan pendampingan langsung dalam memotivasi pasien untuk lebih patuh terhadap regimen pengobatan. Pemberdayaan Kader dan Keluarga Sebanyak 6 kader kesehatan dilatih secara intensif dalam penerapan manajemen DOTS, termasuk teknik komunikasi suportif dan pemantauan minum obat harian. Kader juga dibekali dengan alat bantu edukasi seperti leaflet dan buku saku pengawasan terapi TB. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa 100% kader merasa lebih percaya diri dan kompeten dalam menjalankan peran sebagai pengawas minum obat. Komitmen Lintas Sektor Terjadi peningkatan keterlibatan lintas sektor, seperti perangkat desa dan tokoh masyarakat, yang berperan dalam mendukung keberlangsungan program. Komitmen ini diwujudkan dalam bentuk regulasi lokal . yang mendorong partisipasi masyarakat dalam program penanggulangan TB. Peningkatan pengetahuan masyarakat berisiko tinggi melalui edukasi terbukti efektif dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengobatan TB secara tuntas. Hasil ini sejalan dengan Marwah . yang menyatakan bahwa peningkatan persepsi terhadap kerentanan dan manfaat tindakan akan mempengaruhi perilaku kesehatan individu (Marwah et al. , 2. Manajemen DOTS yang dilaksanakan melalui pendekatan bimbingan teknis kepada kader dan keluarga terbukti mampu meningkatkan kepatuhan pasien TB dalam menjalani pengobatan. Hal ini menguatkan hasil penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa pengawasan langsung dari petugas atau keluarga dapat meningkatkan keberhasilan terapi TB (Damayanti & Sofyan, 2. Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 4. Juli 2025 Global Health Science Group Kegiatan ini juga memperlihatkan pentingnya sinergi antar pihak, baik dari sektor kesehatan maupun diluar Kesehatan dalam mendukung keberhasilan program ini. Partisipasi aktif kader dan dukungan kebijakan tingkat lokal seperti puskesmas menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan intervensi berbasis masyarakat. Secara keseluruhan, kegiatan pengabdian ini berhasil memberdayakan masyarakat berisiko tinggi dan memperkuat sistem pengawasan pengobatan TB di tingkat primer melalui pendekatan edukatif dan teknis yang berkesinambungan. Keberhasilan program ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis komunitas dapat menjadi strategi efektif dalam meningkatkan kepatuhan pasien terhadap pengobatan, khususnya dalam upaya mendukung program eliminasi TB di Indonesia tahun 2030. Berdasarkan kegiatan skrining yang dilaksanakan di wilayah Puskesmas Gedong Tataan. Kabupaten Pesawaran. Provinsi Lampung, diketahui bahwa sebagian besar masyarakat yang termasuk dalam kategori berisiko tinggi menunjukkan tingkat kepatuhan yang rendah terhadap pengobatan tuberkulosis (TB). Hasil temuan menunjukkan bahwa permasalahan utama terletak pada rendahnya pemahaman masyarakat, khususnya pada kelompok dewasa dan lansia, mengenai pentingnya kepatuhan menjalani pengobatan TB secara tuntas melalui strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-cours. Kurangnya pemahaman tentang manajemen pengobatan TB, termasuk faktor-faktor yang dapat memengaruhi kesembuhan seperti pola minum obat yang tidak teratur, asupan nutrisi yang buruk, serta gaya hidup yang tidak mendukung proses penyembuhan, menjadi faktor yang memperburuk kondisi tersebut. Sebagaimana diketahui, tuberkulosis lebih rentan menyerang individu dengan sistem imun yang lemah dan sering ditemukan pada usia produktif maupun lanjut usia. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap tingginya angka ketidakpatuhan adalah minimnya pengetahuan masyarakat mengenai mekanisme penyebaran penyakit TB, pentingnya kepatuhan minum obat sesuai waktu, dan risiko resistensi obat jika pengobatan tidak dilakukan secara konsisten. Selain itu, perilaku tidak sehat seperti merokok, kurangnya aktivitas fisik, serta kondisi sosial ekonomi yang rendah semakin memperburuk ketidakpatuhan terhadap terapi TB. Pengetahuan merupakan komponen kunci dalam membentuk perilaku kesehatan masyarakat. Melalui kegiatan edukasi dan bimbingan teknis yang dilakukan, diharapkan dapat terjadi perubahan perilaku positif yang mendukung peningkatan kepatuhan terhadap pengobatan TB. Pendidikan kesehatan mengenai manajemen DOTS merupakan bagian dari upaya promotif dan preventif yang ditujukan bagi individu maupun kelompok yang memiliki risiko tinggi terhadap penyakit TB. Dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini, dilakukan penyuluhan secara langsung kepada warga yang teridentifikasi menderita TB maupun berisiko tinggi. Materi penyuluhan mencakup pemahaman tentang TB, gejala klinis, faktor risiko, upaya pencegahan, serta pentingnya menjalani pengobatan secara tuntas sesuai dengan protokol DOTS. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan masyarakat tentang TB dan pengelolaan terapinya, baik melalui pendekatan farmakologis maupun non-farmakologis, serta meningkatnya motivasi dalam menjaga kepatuhan pengobatan. Pemberian edukasi dan bimbingan teknis terbukti memberikan kontribusi positif dalam upaya meningkatkan kepatuhan masyarakat terhadap pengobatan TB. Selain itu, pendekatan ini juga diharapkan mampu mendorong perubahan perilaku sehat yang berkelanjutan di kalangan masyarakat Desa Gedong Tataan, sehingga pengendalian dan eliminasi TB dapat tercapai secara optimal melalui partisipasi aktif masyarakat. Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 4. Juli 2025 Global Health Science Group SIMPULAN Pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Gedong Tataan. Kabupaten Pesawaran. Provinsi Lampung ini menunjukkan bahwa upaya pemberdayaan melalui edukasi dan bimbingan teknis manajemen DOTS (Directly Observed Treatment Shortcours. mampu memberikan kontribusi positif dalam meningkatkan pemahaman serta kepatuhan masyarakat berisiko tinggi terhadap pengobatan tuberkulosis (TB). Kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai bentuk pendampingan yang memperkuat kapasitas individu dan kelompok dalam menghadapi tantangan pengobatan TB yang bersifat jangka panjang. Melalui pendekatan partisipatif dan komunikatif, peserta program menunjukkan peningkatan pengetahuan tentang TB, peran penting pengobatan tuntas, serta prosedur dalam program DOTS. Di samping itu, keterlibatan aktif masyarakat dalam edukasi dan simulasi teknis terbukti memperkuat motivasi internal pasien maupun kader kesehatan dalam menjalani dan mendampingi proses pengobatan. Dengan demikian, program ini secara nyata berkontribusi terhadap penguatan sistem pelayanan kesehatan berbasis masyarakat dan mendukung upaya nasional dalam eliminasi TB. Berikut adalah evalausi hasil kegiatan tersebut . 100% Terjadi peningkatan pengetahuan Masyarakat, . 100% terjadi peningkatan kepatuhan terhadap pengobatan, . 100% peningkatan pemberdayaan kader. UCAPAN TERIMAKASIH Kami mengucapkan terimakasi kepada Masyarakat Gedong Tataan Kabupaten Pesawaran dan institusi Universitas Mitra Indonesia atas fasilitas dan izin administrasi yang digunakan dalam melakukan kegiatan pengabdian masyarakat. DAFTAR PUSTAKA