Center of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Gamelan Palegongan Desa Adat Pemogan Kajian Organologi. Musikalitas, dan Fungsi I Gede Teguh Jati Baskara1. I Komang Sudirga2. I Gede Mawan3 1,2,3 Institut Seni Indonesia Bali. Indonesia Corresponding Author : teguhjatibaskara5598@gmail. ABSTRACT Seni karawitan Bali memiliki peran penting dalam kehidupan religius dan sosial masyarakat Bali. Gamelan Palegongan, yang awalnya diciptakan sebagai pengiring tari Legong Keraton, mengalami pergeseran fungsi signifikan seiring perubahan zaman. Kini. Palegongan lebih banyak digunakan dalam pelawatan seperti Telek. Barong, dan Rangda. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji Gamelan Palegongan di Desa Adat Pemogan secara mendalam melalui tiga aspek utama: organologi, musikalitas, dan fungsi. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan metode observasi, wawancara mendalam, dokumentasi, serta studi pustaka. Melalui pendekatan etnomusikologis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran holistik tentang bagaimana Gamelan Palegongan diposisikan dalam struktur budaya masyarakat Pemogan saat ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gamelan Palegongan di Desa Adat Pemogan memiliki organologis dengan struktur laras pelog lima nada. Secara musikal, terdapat teknik permainan yang mengedepankan estetika meditatif. Namun secara fungsional, gamelan ini mulai tersisih oleh jenis barungan lain yang dianggap lebih AusakralAy dan energik oleh Temuan ini mempertegas perlunya strategi pelestarian yang tidak hanya bersifat dokumentatif, tetapi juga adaptif terhadap dinamika sosial dan spiritual masyarakat Bali. Keywords Gamelan Palegongan. Organologi. Musikalitas. Karawitan Bali PENDAHULUAN Seiring berjalannya waktu, fungsi Gamelan Palegongan mengalami pergeseran yang signifikan. Dari yang semula secara eksklusif digunakan untuk mengiringi tari Legong, kini lebih sering difungsikan untuk mengiringi pertunjukkan tari Telek. Barong, dan Rangda di beberapa wilayah di Bali. Pergeseran ini tidak hanya menunjukkan adaptasi terhadap perubahan kebutuhan masyarakat, tetapi juga menggambarkan bagaimana nilai-nilai estetika dan simbolik gamelan berubah dari waktu ke waktu (Sanger, 2020:. Pergeseran fungsi ini menimbulkan statement kritis mengenai transformasi makna yang terjadi: dengan pergeseran ini apakah akan memperkaya fungsi Gamelan Palegongan, atau justru menggeser makna sakral dan nilai artistiknya. Fenomena pergeseran fungsi ini juga tampak jelas dalam konteks Gamelan Palegongan di Desa Adat Pemogan. Denpasar Selatan. Desa ini Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 168-180 memiliki sejarah unik terhadap Gamelan Palegongan, yang ditemukan pada tahun 1930 dalam kondisi rusak, dan direstorasi kembali pada tahun 2011. Meskipun upaya revitalisasi telah dilakukan, saat ini Gamelan Palegongan di desa tersebut menghadapi tantangan yang tidak kalah besar, yaitu menurunnya kepercayaan beberapa oknum masyarakat terhadap kelayakannya sebagai penunjang dalam kegiatan upacara keagamaan. Oknum masyarakat ini menilai bahwa nuansa musikal pada Gamelan Palegongan yang lembut dan meditatif dianggap kurang mampu membangun suasana khusyuk dan sakral dalam upacara di pura. Akibatnya. Gamelan Palegongan mulai tergeser oleh barungan gamelan lain seperti Gong Kebyar atau Baleganjur, yang dianggap lebih kuat dalam menciptakan nuansa spiritual (Ardana, 2021:. Kondisi ini mengindikasikan dua bentuk pergeseran fungsi yang perlu disoroti secara akademik. Pertama, pergeseran historis fungsi Gamelan Palegongan dari pengiring tari Legong ke pelawatan seperti Barong dan Rangda. Kedua, pergeseran nilai dalam konteks lokal Desa Adat Pemogan, di mana Gamelan Palegongan mulai kehilangan relevansinya sebagai musik pengiring Bila tren ini tidak direspons secara serius, maka eksistensi Gamelan Palegongan sebagai bagian dari ekspresi budaya lokal terancam mengalami pengaburan fungsi hingga pada akhirnya ditinggalkan. Urgensi penelitian ini menjadi semakin tinggi karena belum terdapat kajian etnomusikologis yang secara khusus menelaah Gamelan Palegongan di Desa Adat Pemogan secara mendalam dari tiga aspek penting: organologi . entuk fisik dan bahan instrume. , musikalitas . truktur musikal dan teknik permaina. , dan fungsi . eran sosial dan religiu. Padahal, pengkajian terhadap aspek-aspek tersebut sangat penting untuk merumuskan strategi pelestarian yang tidak hanya bersifat dokumentatif, tetapi juga partisipatif dan kontekstual dengan realitas masyarakat adat saat ini (Sedyawati, 2006:. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya ditujukan untuk mengisi kekosongan literatur ilmiah mengenai Gamelan Palegongan, tetapi juga untuk mendorong kesadaran kultural akan pentingnya pelestarian seni tradisi sebagai identitas kolektif masyarakat Bali, serta memberikan dasar bagi pengembangan kebijakan kebudayaan yang inklusif dan berkelanjutan. METODE PENELITIAN Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan yang terstruktur untuk menjawab tiga fokus kajian, yaitu bentuk, musikalitas, dan fungsi Gamelan Palegongan di Desa Adat Pemogan (Sugiyono, 2. Data yang digunakan terdiri atas data primer, yang diperoleh melalui observasi lapangan dan wawancara dengan informan kunci A. Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 168-180 Ngurah Berata serta informan pendukung, dan data sekunder yang diperoleh melalui studi pustaka dari buku, jurnal, artikel, dan dokumen relevan. Instrumen penelitian mencakup peneliti sebagai instrumen utama, dengan dukungan pedoman observasi, pedoman wawancara, kamera, perekam audio, dan dokumentasi audio-visual. Penentuan informan dilakukan dengan teknik purposive sampling, memilih tokoh atau pihak yang memahami secara mendalam objek penelitian (Moleong, 2002. Arikunto, 2. Teknik pengumpulan data meliputi observasi non-partisipatif, wawancara semi-terstruktur, dokumentasi kegiatan, dan studi kepustakaan. Analisis data dilakukan mengikuti model Miles dan Huberman yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara berkelanjutan hingga data jenuh. Reduksi data dilakukan dengan memilah informasi relevan sesuai fokus penelitian, sedangkan penyajian data dilakukan dalam bentuk uraian naratif, tabel, dan bagan. Verifikasi dilakukan untuk memastikan validitas temuan, dan kesimpulan disusun untuk menjawab permasalahan penelitian. Hasil analisis disajikan secara formal dan informal, menggabungkan visualisasi seperti tabel atau diagram dengan uraian deskriptif untuk memperjelas temuan penelitian (Sudaryanto, 1993. Kesuma, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Teori struktural fungsional menyatakan bahwa ketika masyarakat hendak menciptakan suatu kestabilan dan keharmonisan dalam lingkungan atau dalam suatu lembaga, maka struktur dan sistem yang ada di dalamnya harus Karena tujuan utama dari teori struktural fungsional Talcot Parsons ini yaitu menciptakan suatu keteraturan sosial dalam masyarakat. Teori ini memandang bahwa integrasi dalam masyarakat akan berjalan dengan baik dan normal jika elemen atau aktor-aktor yang berkaitan mampu menjalankan fungsi dan strukturnya dengan semestinya (Ritzer, 2011:. Teori struktural fungsional yang dikemukakan oleh Talcott Parsons beranggapan bahwa setiap struktur dalam sistem sosial pada masyarakat akan berfungsi pada tatanan atau struktur yang lainnya, sehingga apabila suatu sistem atau struktur pada suatu masyarakat tersebut tidak ada atau tidak berfungsi, maka undang-undang dalam masyarakat pun tidak akan ada atau bahkan hilang dengan sendirinya. Begitupun sebaliknya, ketika masyarakat tidak dapat memerankan fungsinya dengan semestinya, maka struktur tersebut tidak akan berjalan. Karena struktur dan fungsi dalam suatu masyarakat sangat berhubungan erat dan saling mempengaruhi satu sama lain. Teori struktural fungsional memandang bahwa realitas sosial adalah sebagai hubungan sistem, yaitu sistem masyarakat yang berada di dalam Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 168-180 yaitu kesatuan yang terdiri dari bagian-bagian yang saling Sehingga ketika sistem atau struktur sosial mengalami suatu perubahan, maka akan menimbulkan perubahan pula pada sistem yang Teori ini beranggapan bahwa setiap elemen masyarakat memberikan fungsi terhadap elenten masyarakat yang lainnya. Perubahan yang muncul dalam suatu masyarakat akan menimbulkan perubahan pula pada masyarakat yang lainnya. Teori ini mengkaji fungsi atau peran suatu institusi sosial ataupun struktur sosial serta tindakan sosial tertentu dalam suatu masyarakat dan mengkaji pola hubungannya dengan komponen-komponen sosial lainnya. Dalam pembahasan mengenai teori struktural fungsional. Talcot Parsons menjelaskan bahwa sistem sosial yang ada dalam masyarakat terdiri atas beberapa aktor individu, dimana aktor individu tersebut melakukan interaksi dengan individu lainnya secara terstruktur dalam suatu institusi atau lembaga. Parsons dengan teori struktural fungsionalnya memfokuskan kajiannya pada beberapa sistem dan struktur sosial yang terdapat dalam masyarakat yang saling mendukung untuk menciptakan suatu keseimbangan yang dinamis. Gamelan Bali memiliki fungsi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Bali. Fungsi gamelan Bali dikelompokkan berdasarkan seni wali, bebali, dan balih-balihan. Pada awalnya, menurut Usana Bali - Usana Jawa, kesenian Bali muncul sebagai wewalen, seni upacara keagamaan semata. Berhubung adanya perubahan zaman dan waktu, kesenian Bali bergeser pula fungsinya dari seni wali . , menjadi seni bebali . eni sakra. dan seni balihbalihan . Seni wali lahir di jeroan pura . tama mandal. , seni bebali lahir di jaba tengah . adya mandal. , dan seni balih-balihan lahir di jaba pura . ista Setiap kelompok seni ini memiliki wujud, sifat . , perlengkapan, dan upakara yang berbeda menurut adagium desa . , kala . dan patra . Sejalan dengan hal di atas. Gamelan Palegongan Desa Adat Pemogan dalam khasanah kehidupan masyarakat pendukungnya memegang peranan penting dalam kehidupan sosial kemasyarakatannya. Berbagai aktivitas Gamelan Palegongan telah banyak memberikan kontribusi terhadap perkembangan dan geliat kehidupan seni yang ada di Desa Adat Pemogan. Gamelan Palegongan juga telah banyak memberikan inspirasi terhadap lahirnya karya-karya baru yang bernuansa kekinian, serta lahirnya senimanseniman muda yang sangat aktif dan kreatif dalam mengolah seni menjadi lebih bergairah dan bernuansa kekinian. Berdasarkan uraian yang disampaikan oleh para tokoh-tokoh di atas tentang berbagai fungsi seni dalam kehidupan masyarakat. Gamelan Palegongan di Desa Adat Pemogan mempunyai korelasi yang erat dengan Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 168-180 fungsi-fungsi tersebut. Keberadaannya sangat diperlukan dalam kehidupan masyakat yang dapat difungsikan dalam berbagai pola kegiatan Dalam perkembangannya di masyarakat. Gamelan Palegongan mempunyai beberapa fungsi. Berikut akan dijelaskan beberapa fungsi Gamelan Palegongan di Desa Adat Pemogan Sebagai Penunjang Upacara Sebagai alat bunyi-bunyian, gamelan tak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Bali, hampir tak ada suatu upacara keagamaan yang sempurna tanpa ikut sertanya gamelan. Dalam tradisi agama Hindu terdapat berbagai upacara agama Hindu seperti Dewa Yadnya . pacara untuk dewadewi dan Tuhan Yang Maha Es. Pitra Yadnya . embakaran mayat atau kremas. Manusa Yadnya . itus kehidupan dari lahir sampai mat. Bhuta Yadnya . pacara kurban kepada alam semesta, dan Rsi Yadnya . pacara pengangkatan pendet. yang memerlukan gamelan sebagai pengiring upacara. Setiap melakukan kegiatan adat dan agama masyarakat Desa Adat Pemogan selalu mempergunakan berbagai sarana penunjang dalam pelaksanaannya tak terkecuali gamelan itu sendiri. Gamelan memiliki posisi penting dalam rangkaian kegiatan upacara baik yang dilakukan di lingkungan banjar adat maupun di desa adat. Desa Adat Pemogan memiliki beberapa pura yang yang pelaksanaan upacaranya berdasarkan perhitungan pawukon dan kalender saka. Kalender pawukon siklusnya berlangsung selama 210 hari, sedangkan kalender saka siklusnya kurang lebih 354 hari. Bukan hanya upacara piodalan saja yang menggunakan sistem pawukon, tetapi juga perhitungan upacara keagamaan yang lain Penggunaan gamelan saat pelaksanaan suatu upacara keagamaan di Desa Adat Pemogan mutlak dilakukan untuk mendukung kekhidmatan dan kekusukan dalam pelaksanaan upacara tersebut. Selain tujuan tersebut penggunaan gamelan terasa sangat penting untuk menambah semangat dan kemeriahan suatu upacara yang dilakukan. Gamelan Palegongan sebagai kesenian klasik dan merakyat juga menduduki fungsi penting dalam suatu rangkaian upacara keagamaan yang ada di Desa Adat Pemogan. Seperti yang dituturkan oleh A. A Ketut Arya Ardana. ST selaku Bendesa Adat Pemogan dalam wawancara yang dilakukan pada tanggal, 13 Oktober 2024 menyatakan sebagai berikut. Saya sangat bersyukur di warisi Gamelan Palegongan yang ada di Desa Adat Pemogan saat ini, karena sangat membantu sebagai penunjang jalannya upacara. Dan dengan adanya gamelan ini kami disini memiliki sekaa Palegongan Desa. Dimana Gamelan Palegongan ini difungsikan sebagai pengiring tari/pelawatan Ratu Ayu. Barong. Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 168-180 dan Telek yang dipentaskan pada saat Pujawali yang berdasarkan Pawokon yang jatuh tepat pada hari Banyupinaruh. Lalu di pentaskan juga pada saat hari raya suci Kuningan yang bertempat di pura sakenan". Berkaitan dengan hal tersebut mengindikasikan bahwa Gamelan Palegongan di Desa Adat Pemogan dapat digunakan dalam rangkaian kegiatan upacara keagamaan khususnya penggunaan Gamelan Palegongan digunakan dalam upacara dewa yadnya dan barungan gamelan inilah yang selalu digunakan saat ada upacara piodalan khususnya di Pura Desa lan Puseh Adat Pemogan. Gambar 1. Gamelan Palegongan Sebagai Pengiring Upacara (Dokumentasi: Teguh Jati Baskara, 2. Sebagai Media Komunikasi Gamelan Palegongan berfungsi sebagai bahasa simbolik antara manusia dengan roh leluhur dan dewa-dewi. Pola tabuhan tertentu dianggap sebagai bentuk AuucapanAy atau AupermohonanAy dalam bentuk sonik. Di samping itu, ia menjadi media komunikasi budaya antar komunitas, karena pertunjukan gamelan kerap melibatkan undangan dari desa lain dan mempererat hubungan sosial masyarakat Bali secara lebih luas . Komunikasi pada hakekatnya menyampaikan ide atau pesan dari seniman kepada penikmati seni. Ide atau pesan yang disampaikan dituangkan melalui interpretasi lewat media ungkap terhadap apa yang menjadi sumber inspirasi, kemudian dipilih beberapa alat yang dijadikan sebagai medium sesuai kebutuhan dari seniman itu sendiri. Gamelan Palegongan sebagai media komunikasi merupakan jembatan penghubung antara gagasan seniman penciptanya dengan penonton dan juga simbolik roh leluhur dan dewa-dewi. Dengan jalan mempertunjukkannya merupakan sebuah cara untuk mengkomunikasikan gagasan melalui aktivitas estetik dan simbolik. Sedikitnya ada tiga elemen yang berperan penting dalam melakukan komunikasi dalam Ketiga elemen tersebut antara lain. adanya pengirim pesan, penerima Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 168-180 pesan, dan pesan yang ingin disampaikan. Pengrawit dipandang sebagai pengirim pesan, penonton sebagai penerima pesan, dan ide, konsep, serta gagasan yang ada dalam pertunjukan dianggap sebagai pesan itu sendiri. Proses ini berlangsung dalam konteks yang khusus yaitu terjadi dalam ranah estetik seperti pada interaksi sosial dalam kehidupan kelompok masyarakat, dengan gejala yang nampak jelas dan mudah diamati. Sebagai contoh dapat dijelaskan bahwa, sebelum sebuah pertunjukan gamelan dimulai kita sering mendengar para penonton masih ribut dan asik ngobrol dengan penonton lainnya. Namun ketika pertunjukan dimulai, para penonton segera menghentikan pembicarannya. Penonton mulai melakukan tindakan-tindakan khusus untuk mengikuti irama gamelan yang dimainkan oleh penabuh gamelan tersebut. Penonton mulai meniru-nirukan melodi instrumen yang dimainkan, contohnya seperti mengangguk-anggukkan kepala ketika ada melodi yang dirasakan enak didengarkan, terkadang ada penonton yang geleng-geleng kepala atau terlihat tidak suka ketika ada melodi atau aksen-aksen . yang dirasa tidak sesuai dengan keinginannya. Santoso . menyatakan bahwa fenomena ini menunjukkan ada interaksi yang cukup intensif antara pengrawit dengan penonton dan bisa saja terjadi dalam berbagai ranah kehidupan seperti rasa, logika, konsep, keyakinan pribadi, pandangan dunia, pemahaman tentang kehidupan, hubungan mikro-makro kosmos, dasar-dasar kehidupan jiwa, maupun sikap hidup individual dalam konteks masyarakatnya. Ketika penonton melihat dan mendengarkan pertunjukan gamelan, ranah estetik musikal mereka membentuk pandangan dunia yang menghasilkan proses asosiasi. Di dalam proses ini penonton ingin mendapatkan pesan, yaitu isi dari pertunjukan tersebut. Ranah estetik sangat penting dalam mendapatkan pesan-pesan, walaupun hal ini tidak didapat dengan sendirinya. Hal ini mempunyai hubungan yang erat dengan kehidupan sosial dan nilai sosial di dalam masyarakat. Tanpa adanya hubungan tersebut nilai-nilai estetik dalam sebuah seni pertunjukan tidak dapat dimaknai. Dengan demikian pesan-pesan yang disampaiakan melalui pertunjukan dibentuk melalui dua tingkatan proses yaitu pemahaman tentang elemen musikal dan sintesis diantara pemahaman tentang elemen tersebut dengan nilai-nilai dalam komunitasnya. Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan di atas, dikaitkan dengan teori struktural fungsional bahwasannya elemen masyarakat menyatu dengan sistem yang ada di dalamnya dan berfungsi dengan baik sehingga mampu tercipta suatu keseimbangan. Ketika masyarakat hendak menciptakan suatu kestabilan dan keharmonisan dalam lingkungan atau dalam suatu lembaga, maka struktur dan sistem yang ada di dalamnya harus fungsional. Karena tujuan utama dari Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 168-180 teori struktural fungsional Talcot Parsons yaitu menciptakan suatu keteraturan sosial dalam masyarakat. Teori ini memandang bahwa integrasi dalam masyarakat akan berjalan dengan baik dan normal jika elemen atau aktor-aktor yang berkaitan mampu menjalankan fungsi dan strukturnya dengan semestinya (Ritzer, 2011:. Teori struktural fungsional yang dikemukakan oleh Talcott Parsons beranggapan bahwa setiap struktur dalam sistem sosial pada masyarakat akan pada tatanan atau struktur yang lainnya, sehingga apabila suatu sistem atau struktur pada suatu masyarakat tersebut tidak ada atau tidak berfungsi, maka undang-undang dalam masyarakat pun tidak akan ada atau bahkan hilang dengan sendirinya. Begitupun sebaliknya, ketika masyarakat tidak dapat memerankan fungsinya dengan semestinya, maka struktur tersebut tidak akan Demikian pula halnya dengan Gamelan Palegongan yang ada di Desa Adat Pemogan, bahwa keberadaannya sangat diperlukan dalam kehidupan masyarakatnya dalam berbagai fungsi sosial kemasyarakatan. Karena struktur dan fungsi dalam suatu masyarakat sangat berhubungan erat dan saling mempengaruhi satu sama lain. Teori struktural fungsional memandang bahwa realitas sosial adalah sebagai hubungan sistem, yaitu sistem masyarakat yang berada di dalam keseimbangan, yaitu kesatuan yang terdiri dari bagian-bagian yang saling bergantung. Sehingga ketika sistem atau struktur sosial mengalami suatu perubahan, maka akan menimbulkan perubahan pula pada sistem yang Teori ini beranggapan bahwa setiap elemen masyarakat memberikan fungsi terhadap elemen masyarakat yang lainnya. Perubahan yang muncul dalam suatu masyarakat akan menimbulkan perubahan pula pada masyarakat yang lainnya. Gambar 2. Gamelan Palegongan Sebagai Media Komunikasi (Dokumentasi: Teguh Jati Baskara, 2. Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 168-180 Sebagai Media Pendidikan Gamelan Palegongan merupakan salah satu barungan gamelan klasik yang berkembang di Bali, khususnya sebagai pengiring tari legong yang sarat nilai estetika dan simbolik. Namun, lebih dari sekadar fungsi pertunjukan. Gamelan Palegongan berperan penting sebagai media pendidikan dalam masyarakat desa, khususnya dalam lingkungan adat. Pendidikan dalam konteks ini tidak hanya mengacu pada transfer keterampilan musikal, tetapi juga pada proses pewarisan nilai-nilai budaya, religiusitas, dan etika sosial yang terintegrasi dalam praktik keseharian komunitas. Pembelajaran gamelan tradisional Bali berlangsung dalam sistem sosialkomunal, bukan melalui metode formal. Anak-anak belajar secara alami dengan menyaksikan dan meniru para penabuh yang lebih senior. Metode ini disebut ngelagakin, yaitu meniru gerakan, teknik pukulan, dan pola melodi tanpa partitur tertulis. Dengan demikian, gamelan menjadi bagian dari proses belajar yang berbasis pengalaman, di mana anak-anak menyerap keterampilan musikal sekaligus nilai-nilai disiplin, rasa hormat, dan tanggung jawab kolektif. Fungsi pendidikan gamelan juga sangat erat kaitannya dengan peran sekaa gong, yaitu kelompok musik tradisional yang beranggotakan warga Dalam sekaa, setiap anggota memiliki peran sosial yang mengikat mereka secara kolektif untuk hadir, berlatih, dan tampil dalam upacara adat atau kegiatan desa. Melalui keanggotaan ini, generasi muda secara langsung terlibat dalam kegiatan gotong royong, belajar menghargai struktur sosial adat, serta memahami tata cara upacara. Seperti dikemukakan oleh Sukerta . , gamelan adalah media pendidikan sosial-spiritual karena musiknya selalu menyatu dalam konteks upacara Hindu Bali. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan melalui gamelan juga mencakup aspek moral dan spiritual. Pendidikan melalui gamelan di Desa Adat Pemogan berlangsung tidak hanya sebagai proses penguasaan keterampilan teknis musik, tetapi juga sebagai wahana membangun kesadaran budaya, spiritualitas, dan tanggung jawab sosial. Proses ini berakar kuat dalam sistem sosial Bali yang berbasis desa adat, di mana segala aspek kehidupan masyarakat terintegrasi dengan nilainilai agama dan tradisi. Seperti dijelaskan oleh Sukerta . 8: . , fungsi gamelan dalam desa adat tidak hanya sebagai pengiring tari atau upacara, melainkan sebagai alat pendidikan nilai dan karakter generasi muda yang lahir dari tradisi. Melalui latihan gamelan Palegongan yang berlangsung secara rutin di Pura Desa Adat Pemogan, anak-anak tidak hanya diajarkan teknik tabuh, tetapi juga dibimbing untuk mengenal konteks sakral seperti peran gamelan dalam pelawatan Barong. Tari Telek, dan upacara Dewa Yadnya. Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 168-180 Tokoh lokal seperti bapak I Wayan Putu Artawa dan A. A Bagus Sukania memainkan peran penting sebagai guru informal yang mengajarkan tabuh klasik serta konteks budaya dan keagamaannya. Latihan gamelan tidak hanya diarahkan untuk pementasan, tetapi juga untuk pengiring upacara penting seperti Pelawatan Barong dan Rangda serta Tari Telek, yang merupakan ciri khas religius Desa Pemogan. Dengan demikian. Gamelan Palegongan menjadi sarana pendidikan kultural dan spiritual, tempat anak-anak belajar langsung dari lingkungan hidupnya. Bandem . 3: . menekankan bahwa Aupembelajaran gamelan yang menyatu dengan upacara adalah bentuk pendidikan budaya yang tidak bisa digantikan oleh sistem formal, karena menyatu langsung dengan kehidupan dan kesadaran kolektif masyarakat. Ay Berikut hasil wawancara bersama bapak A. A Bagus Sukania terkait pelatihan Gamelan Palegongan di Desa Adat Pemogan, wawancara dilaksakan pada tanggal 14 Oktober 2024: Au. Di lingkungan Desa Adat Pemogan, fungsi pendidikan gamelan semakin nyata. Gamelan Palegongan don lima yang telah diwarisi sejak tahun 1930 sampai saat ini oleh leluhur kita, menjadi alat utama dalam pelatihan seni tradisional generasi muda khususnya di Desa Adat Pemogan. Di desa ini, kelompok sekaa gong tidak hanya berfungsi sebagai kelompok musik, tetapi juga sebagai lembaga sosial tempat anak-anak dan remaja belajar memahami struktur musikal, dan nilai Diharapkan dengan adanya pelatihan ini, kesenian klasik di daerah Desa Adat Pemogan ini dapat berkembang lagi dan minat anakanak serta remaja semakin meningkat dan tertarik untuk mempelajari. Karena mereka yang akan meneruskan kesenian yang ada di Desa Adat PemoganAy. Di tengah derasnya arus modernisasi dan tekanan budaya luar, keberadaan Gamelan Palegongan sebagai media pendidikan lokal berfungsi sebagai benteng identitas dan pelestarian warisan tak benda . ntangible Sistem pendidikan gamelan Bali secara turun-temurun merupakan contoh keberhasilan masyarakat dalam mentransmisikan nilai-nilai kompleks melalui praktik kesenian. Di Desa Adat Pemogan, hal ini terbukti dari bagaimana gamelan Palegongan tetap menjadi bagian aktif dari kehidupan generasi muda, bukan hanya sebagai hiburan, tetapi sebagai alat pembentukan jati diri budaya. Fungsi Gamelan Palegongan sebagai media pendidikan di Desa Adat Pemogan dapat dijelaskan melalui teori struktural fungsional Talcott Parsons, menekankan bahwa masyarakat adalah suatu sistem sosial yang terdiri dari bagian-bagian yang saling terkait, dan setiap bagian memiliki fungsi untuk Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 168-180 menjaga stabilitas dan keteraturan sosial. Dalam konteks ini, gamelan Palegongan berfungsi sebagai institusi budaya yang mendukung sistem nilai, norma, dan integrasi sosial, terutama dalam kerangka kehidupan desa adat Bali. Gamelan Palegongan menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga keberlangsungan struktur sosial adat, karena ia bukan hanya mentransmisikan keterampilan musikal, tetapi juga nilai kebersamaan, spiritualitas, dan keharmonisan sosial, yang semuanya berfungsi menjaga stabilitas masyarakat (Bandem, 2013:. Maka, keberadaan gamelan Palegongan dalam masyarakat adat Pemogan menunjukkan bagaimana kesenian tradisional memiliki fungsi strategis dalam sistem sosial, selaras dengan kerangka teori struktural fungsional yang menyatakan bahwa setiap unsur budaya memiliki kontribusi terhadap kelangsungan sistem masyarakat secara keseluruhan. Gambar 3. Gamelan Palegongan sebagai media Pendidikan dalam meregenerasi Sekaa Palegongan Di Desa Adar Pemogan (Dokumentasi: Teguh Jati Baskara, 2. KESIMPULAN Penelitian ini membahas Gamelan Palegongan di Desa Adat Pemogan secara menyeluruh melalui tiga aspek utama, yaitu bentuk fisik . , bentuk musikalitas, dan fungsi sosial-budayanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gamelan Palegongan bukan hanya sebuah ensambel musik tradisional, melainkan sebuah sistem budaya yang hidup dan berfungsi secara integral dalam struktur sosial masyarakat Bali, khususnya masyarakat adat di Desa Pemogan. Dari sisi bentuk fisik . Gamelan Palegongan Desa Adat Pemogan memiliki struktur yang cukup sederhana, baik dari aspek material maupun konstruksi bentuk. Bilah-bilah nada dibuat dari perunggu dengan komposisi logam tradisional . embaga dan timah puti. , yang menghasilkan kualitas suara dengan resonansi khas Bali. Pelawah atau wadah bilah dibuat dari kayu keras pilihan seperti kayu nangka atau Tewel tidak hanya berfungsi Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 168-180 sebagai penyangga tetapi juga menampilkan nilai estetika dan simbolik melalui motif ukiran seperti patra punggel dan karang tapel. Keberadaan resonator di bawah bilah-bilah juga menjadi bagian penting dalam menghasilkan kualitas Proses pembuatan gamelan dilakukan oleh pande atau pengrajin gamelan yang memiliki keahlian turun-temurun. Mereka tidak hanya memperhatikan aspek teknis, tetapi juga memperlakukan pembuatan gamelan sebagai proses spiritual, dengan memperhatikan hari baik, memohon restu leluhur, dan melakukan upacara sebelum dan sesudah pembuatan. Dengan demikian, organologi gamelan di Pemogan mencerminkan sinergi antara teknik, tradisi, dan keyakinan lokal. Pada aspek bentuk musikalitas. Gamelan Palegongan memiliki struktur musik yang kompleks dan artistik. Gamelan ini menggunakan laras pelog dengan lima nada . on lim. yang menjadi ciri khas Palegongan klasik. Struktur musikal terdiri dari bagian-bagian seperti pepeson, pangawak, pengecet, dan pakaad, yang membentuk narasi musikal dalam pengiringan tari atau tabuh instrumental. Pola permainan seperti kotekan, ngembat, dan ngoncang memperkaya tekstur bunyi yang dinamis dan ritmis. Setiap instrumen memiliki fungsi spesifik: gender rambat sebagai pembawa melodi utama, suling dan rebab sebagai pelengkap ekspresif, dan jublag-jegog sebagai fondasi harmonik. Karakter suara gamelan Palegongan Pemogan dipengaruhi oleh bentuk bilah yang metundu klipes dan sistem pemasangan bilah yang mepacek, menghasilkan suara pendek namun padat. Musikalitas ini tidak hanya mencerminkan keindahan sonik, tetapi juga membawa nilai simbolik dan spiritual karena selalu dihadirkan dalam konteks upacara keagamaan. Sementara itu, aspek fungsi menunjukkan bahwa Gamelan Palegongan memiliki peran yang luas dan multidimensional. Secara ritual, gamelan ini digunakan dalam upacara keagamaan, khususnya sebagai pengiring pelawatan Barong dan Rangda. Tari Telek, serta upacara Dewa Yadnya. Fungsi sosial tercermin dari peran gamelan dalam mempererat solidaritas warga melalui wadah sekaa gong dan banjar, di mana masyarakat secara kolektif berpartisipasi dalam latihan dan pementasan. Fungsi pendidikan pun sangat gamelan menjadi media pembelajaran yang efektif bagi generasi muda melalui metode ngelagakin . , serta menjadi sarana penanaman nilai disiplin, etika, spiritualitas, dan tanggung jawab terhadap warisan budaya. Dalam konteks teori struktural-fungsional Talcott Parsons. Secara keseluruhan. Gamelan Palegongan di Desa Adat Pemogan merupakan refleksi utuh dari kesenian Bali yang tidak hanya berfungsi dalam konteks estetika, tetapi juga memiliki peran penting dalam struktur sosial, spiritualitas, pendidikan, dan identitas budaya masyarakatnya. Eksistensinya hingga saat ini menandakan Center Of Knowledge : Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat Volume 5 Nomor 2 Agustus 2025 Page 168-180 keberhasilan masyarakat nilai-nilai tantangan globalisasi. lokal dalam merawat, menyesuaikan, dan DAFTAR PUSTAKA