KONSEP WANITA MODERN DALAM NOVEL MONDANG VERSUS JAKARTA KARYA SINAR YUNITA Betty Ayunda Wulandari1. Ahmad Zaimul Umam2 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang1. Universitas Pendidikan Indonesia2 bettyayunda22@gmail. com1, ahmadzaimul07@gmail. Abstrak: Artikel ini menguraikan pemikiran Qasim Amin tentang konsep wanita modern dalam Novel Mondang versus Jakarta. Ia merupakan salah satu tokoh pembaharuan Islam yang lahir pada akhir abad 19. Pemikirannya bagi gerakan feminisme bukan hanya sebatas dalam pendidikan saja, tetapi juga pada pokok-pokok lain seperti konsep hijab, poligami, dan talak. Pemikirannya memilki pengaruh besar dilihat dari berbagai karya yang ia lahirkan, diantaranya adalah al-MarAoah al-Jadidah dan Tahrir al-MarAoah. Menurutnya, alasan mundurnya umat islam adalah karena wanita Mesir pada masanya tidak menerima pendidikan yang layak. Dalam bukunya yang berjudul al-MarAoah alJadidah ia menekankan pada kebebasan wanita. Wanita menurutnya juga mempunyai hak-hak yang umumnya hanya ada pada laki-laki. Wanita harus memiliki status sosial yang dihormati oleh laki-laki juga. Karena hakikatnya baik laki-laki maupun wanita, menurutnya memilki kesetaraan dan kekuasaan hak yang sama. Sehingga tidak adanya penindasan bagi wanita seperti yang terjadi pada masa dahulu. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan konsep wanita modern dalam novel yang berjudul Mondang versus Jakarta karya Sinar Yunita. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif Adapun sumber data utamanya adalah novel Mondang versus Jakarta, alMarAoah al-Jadidah, buku-buku teori feminisme, jurnal, skripsi dan beberapa referensi lain sebagai penunjang. Analisis data yang digunakan adalah teori feminisme Qasim Amin yang menguraikan pembebasan hak-hak perempuan dalam berbagai bidang. Hasil penelitian ini adalah ditemukan beberapa fenomena yang berkaitan dengan teori tersebut, yaitu . perempuan dan pendidikan, . perempuan dan keberanian, . perempuan dan kemandirian, dan . perempuan dan kecerdasan. Kata kunci: Feminisme. Qasim Amin. Mondang versus Jakarta, perempuan PENDAHULUAN Ketimpangan relasional antara laki-laki dan wanita mengundang para pemikir Islam untuk mengkaji secara mendalam mengenai penyebab tersebut. Kajian mengenai ketimpangantersebut telah melahirkan sebuah gerakan yang kemudian disebut dengan feminisme Islam (Syaiful, 2014: . Konsep wanita modern merupakan gagasan pemikiran feminisme yang di lahirkan oleh Qasim Amin, ia adalah seorang pembaharu islam yang hidup di akhir abad ke-19. Pemikirannya mempunyai pola kontemporer (Eliana, 2017: . Pemikirannya tentang wanita modern memberi andil yang cukup besar dan berpengaruh dalam mengangkat derajat perempuan, baik yang berada di Mesir maupun dalam dunia Islam secara keseluruhan, oleh karenanya kemajuan wanita sangat berpengaruh dalam kemajuan suatu bangsa (Hamidah, 2011: . Uraian konsep akan dijelaskan dalam penelitian novel Mondang Versus Jakarta dengan teori feminisme Qasim Amin yang mencakup beberapa uraian. Pertama perempuan dan perjuangan pendidikan yang merepresentasikan kebebasan perempuan dalam menentukan hak mereka dalam menentukan pendidikan mereka, ini bertujuan untuk membebaskan perempuan dari kebodohan. Kedua, perempuan dan keberanian yang mengungkapkan tentang sifat keberanian yang harus dimiliki oleh seorang perempuan untuk membela diri mereka, hal ini bertujuan agar kaum perempuan memiliki kebebasan dan keluar dari keterkekangan. Ketiga, perempuan dan kemandirian yang menjelaskan tentang kemandirian merupakan faktor penting yang bertujuan untuk membawa kemajuan pendidikan mereka. Keempat, perempuan dan kecerdasan yang menguraikan kecerdasan bukan lah hak yang hanya boleh dimilki oleh laki-laki, namun perempuan pun berhak memilikinya hal ini guna mengangkat derajat perempuan dari kehinaan. Studi penelitian dalam hal ini melihat dari dua kecenderungan. Kecenderungan pertama, yaitu kajian feminisme. Peneliti menemukan 7 penelitian terdahulu yang mengkaji feminisme (Djara, 2020. Tasya Isarina Maghfira, 2020. Ramadhaniati et al. Hamid, 2022. Octaviani et al. , 2022. Pitriani, 2022. Tarigan et al. , 2. Kedua, cenderung akan teori feminisme Qasim amin. Peneliti menemukan 5 penelitian terdahulu yang mengkaji teori feminisme Qasim Amin (Ch. Basri, & Sholihah, 2021. Zulgafrin, 2021. Ch. Basri. IAoif, et al. , 2021. Putri, 2022. Sastrawaty et al. , 2. Berdasarkan studi pendahuluan diatas, peneliti menemukan persamaan dan Persamaanya yaitu terkait kajian yang dikaji yaitu kajian feminisme, teori yang dipakai. Perbedaanya yaitu terletak pada objek kajian yang dipakai. Peneliti belum menemukan novel Mondang Versus Jakarta dikaji melalui kajian feminisme, terkhusus menggunakan teori feminisme Qasim Amin. Posisi penelitian ini diantara penelitian-penelitian terdahulu adalah untuk menambahkan temuan baru akan teori feminisme Qasim Amin dalam sebuah novel. Peneliti melihat, novel Mondang Versus Jakarta tergolong novel yang baru rilis, dan kajian feminisme merupakan kajian perempuan modern, sehingga peneliti berharap, dengan peneliti dapat memberikan sumbangsih terhadap kajian feminisme dalam sebuah karya sastra. Tujuan penelitian ini adalah untuk memaparkan konsep perempuan modern melalui novel Mondang Versus Jakarta dengan menggunakan teori feminisme Qasim Amin. Selain itu, peneliti dapat menambahkan kajian feminisme Qasim Amin dalam novel sebagai displin ilmu baru. KAJIAN TEORI Feminisme dan Feminisme Qasim Amin Feminisme mempunyai sejumlah pengertian. Seperti yang diungkapkan oleh tokoh feminis dari Asia Selatan. Kamla Bhasim dan Nighat Said Khan bahwa definisi feminisme ditentukan oleh pemahaman, ideologi dan budaya femnisme tersebut (Fandi, 2008: . Menurut Humm, dia berpendapat bahwa feminisme menggabungkan doktrin persamaan hak perempuan yang menjadi gerakan terorganisasi untuk mencapai hak asasi manusia dengan berupa ideologi transfomasi sosial yang bertujuan untuk mencipatakan dunia bagi perempuan. Kemudian dia menyatakan bahwa feminisme merupakan ideologi pembebasan perempuan yang mengalami ketidakadilan karena jenis kelamin mereka. Feminisme menawarkan berbagai analisis mengenai penyebab, pelaku dari penindasan Kemudian menurut Ruthven berpendapat bahwa pemikiran dan gerakan feminisme muncul untuk mengakhiri dominasi laki- laki terhadap perempuan yang terjadi di masyarakat. Melalui feminisme harus dihancurkan strukur budaya, seni, hukum, sistem keluarga yang berdasarkan pada kekuasaan ayah dan negara, institusi, adat istiadat, dan kebiasaan lain yang menjadikan perempuan sebagai korban yang tidak dihargai dan tidak tampak (Wiyatmi, 2012: . Begitu juga yang diungkapkan oleh Abrams . , feminisme merupakan aliran pemikiran dan gerakan yang berawal dari kemunculan era pencerahan di Eropa yang di pelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet. Perkumpulan untuk perempuan sendiri pertama kali diadakan pada tahun 1785 di Middelburg, sebuha kota di selatan Belanda. Menjelang abad 19, feminisme muncul menjadi gerakan yang cukup memperoleh perhatian dari para perempuan kulit putih Eropa. Perempuan di negara-negara penjajah Eropa memperjuangkan apa yang mereka sebut sebagai Universal Sisterhood . ersaudaraan perempuan yang bersifat universa. (Abrams, 1981: Feminisme dalam perkembangannya mempunyai beberapa aliran, setidaknya ada delapan aliran feminisme. Meski gerakan feminisme timbul di Barat, namun di daerah Timur gerakan feminisme juga muncul bahkan hingga saat ini. Di dunia islam terdapat banyak tokoh- tokoh feminis yang memperjuangakan kebebasan hak-hak perempuan. Diantaranya adalah Qasim Amin dari Mesir. Fatimah Mernissi dari Maroko. Asghar Ali Engineer dari India. Riffat Hassan dari Pakistan, dan Amina Wadud Muhsin dari Malaysia. Dalam hal pembahasan kali ini. Qasim Amin adalah salah satu tokoh feminis yang terkenal juga disebut sebagai bapak feminis Arab, karena itu jika berbicara tentang feminisme Arab, nama Amin tidak boleh lepas dari kajian tersebut. Pada masanya, beliau merupakan pioner perjuangan hak-hak perempuan di Mesir. Tulisan-tulisan beliau yang bersifat kritis dan tajam hingga mempengaruhi tokoh- tokoh feminis setelahnya, seperti Huda SyaAorawi. Zaenab Fawwaz. Nawwal SaAodawy. May Ziyadah. Aisya Taymoriyah, dan yang Sehingga tidak salah jika berkat konstribusi besarnya beliau dijuluki sebagai bapak feminisme Arab (Ludya, 2013: . Qasim Amin Bik, lahir di bulan Desember 1863 di kota Inkandaria. Mesir. Ayahnya Muhammad Bik Amin merupakan keturunan Turki yang tinggal di Mesir (Yusran, 1996: Latar belakang pemikiran feminisme Qasim Amin, beliau menggambarkan wanita pada masanya dengan sangat memprihatinkan. Dimana wanita kehidupan wanita tidak untuk dirinya melainkan mereka hidup untuk pria hingga mereka mati. Wanita tidak dapat hidup bebas sebab kaum laki-laki yang selalu membodoh-bodohkan, memandang rendah, dan dianggap tidak pantas dalam diri wanita untuk menghadapi persoalanpersoalan dunia. Laki- laki memperlakukan wanita seperti budak yang tidak bisa melakukan keinginanya, menjaga cara berjalan, tingkah laku, bahkan wanita harus menjauhkan dirinya agar tidak terlihat oleh orang dan tidak berbicara jika tidak ada Sedangkan laki-laki memposisikan dirinya sebagai pemilik mutlak seorang wanita atau istri, sehingga ia berhak atas segalanya terhadap istrinya, memberikan batasan yakni untuk memuaskan tubuh mereka. Qasim juga melihat bahwa wanita yang terlalu bersandar pada walinya, misalnya ketika suaminya meninggal atau bercerai, tidak mempunyai anak atau saudara laki-laki. Karena itu wanita tidak berpendidikan sehingga tidak memiliki keterampilan. Hal ini karena mereka tidak diberikan kesempatan untuk Adanya perbedaan antara kemampuan wanita dan laki-laki juga menjadi penyebab yang memicu konflik dalam rumah tangga atau dalam masyarakat (Dewi. Muhajirin. Almunadi, 2020: . Pemikiran Qasim ditinjau dari karakteristik feminis lebih mengacu pada tipe AuReformisAy, karena: . Qasim berhasil menciptakan mainstream dan aksi-aksi kaum Hawa ditengah budaya patrialkal yang berkembang di masyarakat pada waktu itu, . Qasim melakukan pembaruan di bidang sosial, diantaranya permasalahan kaum wanita, ia menafsirkan kembali . , dengan mengkritisi. AudekontruksiAy dan rekontruksi pada syariat islam yang menjadi pemicu adanya diskriminasi dan subordinasi terhadap kaum wanita. Secara menyeluruh, corak pemikiran Qasim memiliki corak pemikiran pertama secara Sintesis,yakni corak pemikiran yang memadukan pemikiran islam dengan barat. Kedua secara Reformis, yakni corak pemikiran yang memadukan pemikiran berdasarkan budaya patriarki yang berkembang di masyarakat dengan teks yang berdasarkan atas interpretasi (Khoirul, 2014: . Dalam konsep pendidikan yang Qasim jelaskan di bukunya Al MarAoah al jadidah, perempuan berhak mendapatkan pendidikan seperti halnya laki-laki yang dapat memperoleh pendidikan setinggi-tingginya. Seperti halnya dalam pendidikan jasmani perempuan, bahwa mereka dapat memperoleh kesehatan jasmani seperti halnya lakilaki. Oleh karenanya tidak disalahkan bagi perempuan yang mengikuti atau melakukan kegiatan-kegiatan olahraga seperti hal nya dilakukan oleh laki-laki pada umunya. Jika tidak demikian, perempuan akan mudah terkena penyakit jika dibatasi kegiatan jasmani Adapun dalam pendidikan moralnya, mereka berhak mendapatkannya, karena merekalah adalah orang pertama yang menularkan moralnya kepada anak-anak mereka kelak dan mewariskannya. Sehingga perempuan perlu mendapatkan pendidikan moral untuk membentuk anak-anak generasi bangsa yang bermoral tinggi. Dalam kaitannya perempuan memperoleh pendidikan keilmuannya, tidak ada batasan bagi mereka sama seperti halnya laki-laki, mereka berhak mengetahui keilmuan dan menjelajahinya. Yang terpenting dalam pendidikan ini adalah bagaimana mereka bisa memanfaatkan pendidikan ini untuk mencari kebenaran yang baik untuk dirinya (Qasim, 2011: . Oleh karena itu, peneliti menggunakan teori feminisme Qasim Amin sebagai analisa Karena dalam konsep femisnisme Qasim Amin di jelaskan tentang kebebasan sebagai wanita untuk menentukan pendidikannya dan kebebasan meraih dan menentukan hidupnya dengan terlepas dari tradisi-tradisi adat zaman dahulu. METODE Penelitian ini menggunakan jenis penelitian Kualitatif Deskriptif. Kulitatif adalah pengumpulan data-data akurat yang menjadi analisis subjektif untuk mengungkapkan fenomena dari suatu data (Musthafa, 2018: . Penelitian kualitatif deskriptif adalah penelitian yang berupaya mengeksplorasi atau mengklarifikasi suatu gejala, fenomena atau kenyataan sosial yang ada. Penelitian ini juga berusaha mendeskripsikan sejumlah variabel yang berkaitan dengan masalah dan unit yang diteliti. Adapun penelitian kualitatif deskriptif mempunyai tujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan suatu keadaan, persitiwa, objek apakah orang, atau segala sesuatu yang berkaitan dengan variabel-variabel yang bisa dijelaskan baik dengan angka-angka maupun kata-kata (Samsu, 2017: . Berkaitan dengan penelitian kali ini, dengan penelitian jenis kualitatif deskriptif bertujuan untuk menemukan representasi konsep perempuan modern Qasim Amin dalam novel Mondang Versus Jakarta karya Sinar Yunita. Sumber data yang digunakan dalam penelitian kali ini yaitu: Pertama, sumber data primer berupa Novel Mondang Versus Jakarta karya Sinar Yunita. Kedua, sumber data sekunder berupa buku-buku kajian teori sastra feminisme, jurnal, skripsi, dan beberapa referensi buku bacaan lain yang terkait dengan penelitian. PEMBAHASAN Perempuan dan Perjuangan Pendidikan Dalam novel Mondang Versus Jakarta merupakan sebuah novel dimana Mondang seorang perempuan yang digambarkan sebagai perempuan yang mempunyai semangat yang tinggi dan mempunyai keinginan dan cita-cita yang tinggi. Dikisahkan bahwa Mondang sudah ditinggalkan oleh kedua orang tua nya sejak ia masih kecil berusia enam tahun kemudian ia tinggal dengan kakek, nenek, tantenya, dan saudara lainnya. Perjalanan pendidikannya sejak ia kecil, ia disekolahkan oleh kakek dan neneknya hingga mencapai sekolah menengah atas. Setelah itu. Mondang yang sudah dewasa merasa tidak ingin direpotkan oleh kakek dan neneknya, ia merasa harus berjuang dan mandiri guna bisa memperoleh pendidikan lanjutnya yaitu di perguruan tinggi. Oleh karenanya, setelah Mondang lulus sekolah dia menunda keinginannya untuk kuliah dulu. Karena ia merasa harus berjuang dan mandiri, setelah kelulusannya dari sekolah, ia memutuskan untuk kerja di bengkel milik saudaranya sendiri sembari mencari kesempatan untuk melanjutkan pendidikannya dan mengasah keahliannya dibidang permesinan. Seperti yang ada di ungkapan cuplikan ini : Cita-cita Rumondang adalah menjadi pionir baru yang menciptakan mobil hasil rakitannya sendiri Mercedes Bens menjadi mobil termewah kala itu. Sampai saat ini pun masih jadi salah satu brand otomotif terbaik (Sinar, 2018:. Cuplikan tersebut menggambarkan bahwa Mondang yang mempunyai impian sangat tinggi untuk bisa menjadi seorang pencipta mobil hasil rakitannya sendiri yang bisa disejajarkan dengan merek-merek terkenal di dunia internasional. Untuk bisa menggapainya tentu ia ingin sangat sekali untuk bisa melanjutkan pendidikan tingginya terlebih dahulu. Begitu sempurna sebuah impian ketika ada seseorang mendukung penuh tekad si pemimpi untuk impian itu. Maka kehadiran seseorang itu sudah sama pentingnya dengan impian yang akan diraih (Sinar, 2018:. Dari penggalan cerita tersebut menyatakan bahwa begitu beruntungnya Mondang, di saat ia ingin menggapai impian dia untuk melanjutkan pendidikan tingginya dan menggapai cita- cita tingginya, dia di kelilingi oleh orang-orang yang selalu menuntun dan menyemangatinya di setiap saat hingga ia dapat meraih impiannya. Mereka bagi mondang begitu sangat penting sama pentingnya dengan impian itu sendiri. Ia ingin menggapai impiannya secepat mungkin. Dia ingin Tuhan tahu betapa kuatnya dia bertahan dengan binar mata keoptimisannya yang selalu terpancar menunjukkan sebuah ambisi (Sinar, 2018:. Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa Mondang sangat mempunyai ambisi dan impian yang sangat besar untuk meraih cita-citanya. Ia berharap Tuhan tahu bahwa ia merupakan wanita yang sangat tangguh sehingga ia bisa bersabar menahan impiannya tersebut sampai saat ini dan harus rela mengubur impiannya terlebih dahulu hingga suatu saat nanti ia bisa menggalinya kembali dan menggapai keinginan terbesarnya Dalam perjuangan seorang pendidikan dalam meraih pendidikannya, hal ini serasi dengan apa yang menjadi konsep pemikiran Qasim mengenai hak perempuan untuk mendapatkan pendidikannya. Seperti yang diungkapkan beliau dalam kitab Al-MarAoah AlJadidah , beliau berkata: Perempuan mempunyai kesamaan dengan laki-laki dalam kebutuhannya untuk mendapatkan ilmu. Tidak ada perbedaan diantara keduanya dalam keinginan mereka untuk mengetahui kejaiban alam semesta dan mempelajari rahasia di Entah perempuan itu berforfesi sebagai apapun, menikah atau belum menikah, mempunyai anak atau tidak. Mereka mempunyai hak dalam waktu mereka untuk mendapatkan pendidikannya (Qasim, 2011: . Perempuan dan Keberanian Keberanian umumnya sifat yang melekat pada laki-laki. Dimana keberanian menjadi karakteristik yang harus dimiliki seorang lelaki. Oleh karenanya dengan sifat keberanian, laki- laki dianggap unggul dari perempuan. Namun pada novel Mondang versus Jakarta ini, digambarkan seorang wanita bernama Mondang yang mempunyai sifat ketangguhan dan keberanian seperti laki-laki pada umumnya. Seperti pada penggalan ceritanya berikut ini : AuKembalikan dompet pak tua itu. Pak!Ay kata Mondang sambil meraih tangan kanan pria gemuk itu dengan sigap. Kali ini Mondang berhasil menoleh ke arah pukulan yang datang lalu menangkisnya dengan lengan kanannya. Pria jangkung itu rupanya masih tertarik kembali hasil jarahan yang susah payah di curinya (Sinar, 2018:. Sudut pandang dari Mondang sebagai perempuan dalam novel ini adalah digambarkan sebagai perempuan yang tangguh dan mempunyai keberanian yang besar layaknya seperti laki- laki pada umumnya. Seperti diceritakan pada cuplikan tersebut, salah satu bentuk dari keberanian Mondang yaitu walaupun dia sebagai perempuan, tapi dia mempunyai keberanian besar dalam memberantas kejahatan pencurian. Diceritakan, bahwa ia mampu berkelahi dengan dua orang pencuri laki-laki dan berhasil mengalahkannya hingga ia berhasil menyelamatan barang berharga miliki seseorang yang menjadi korban kejahatan pencuri tersebut. Dengan keberaniannya, ia mampu menumpas kejahatan tersebut, yang mana pada umumnya seorang perempuan tidak akan sanggup melakukannya. Namun Mondang seorang perempuan pemberani mampu Hal ini menunjukkan bahwa tidak selamanya perempuan di bawah lakilaki dalam hal keberaniannya. Walaupun pada umumnya laki-laki lah di atas mereka, namun tidak menghilangkan kesempatan perempuan untuk menunjukkan keberanian tersebut untuk hal-hal baik seperti yang digambarkan pada kisah Mondang. Hal ini selaras dengan apa yang menjadi konsep pemikiran Qasim Amin, beliau mengatakan dalam bukunya yang berjudul al-MarAoah al-Jadidah: Pria pada umumnya hanya ingin memanfaatkan kelemahan dan ketidak tahuan wanita untuk melucuti semua miliknya dan mengambil keungtungan darinya. Dan yang wanita seharusnya lakukan adalah berusaha untuk membela dirinya. (Qasim, 2011: . Dalam pandangannya menunjukkan bahwa wanita mempunyai hak dan keharusan dalam keberanian untuk memberantas kejahatan dari seorang laki-laki. Perempuan dan Kemandirian Mondang masih sama seperti dulu. Bukan dengan jumlah upah yang akan ia terima semata, namun lebih kepada upaya agar ia bisa bertahan hidup di suatu kota yang tidak akanada satu orang pun mengasihinya jika ia malas (Sinar, 2018:. Dalam penggalan cerita tersebut menunjukkan bahwa selain Mondang merupakan perempuan yang mempunyai keberanian dan semangat yang tinggi, ia juga merupakan perempuan yang mandiri. Walaupun sebagai perempuan, ia tidak mau membebani seorang pundalam hidupnya. Ia sudah ditinggalkan oleh kedua orang tuannya sejak ia masih kecil, dari sanalah ia belajar menjadi seorang perempuan yang tangguh dan Ia tidak ingin merepotkan orang lain sekalipun adalah saudaranya sendiri. Dalam hidupnya ia mempunyai prinsip sebagai pekerja keras dan mandiri. Seperti yang diceritakan, bahwa Mondang ketika iamenjalani pendidikannya di Universitas Indonesia, ia juga menjadi pekerja di salah satu perusahaan mesin di Jakarta. Ia memilih untuk bekerja dan kuliah dalam waktu bersamaan. Alasannya, buka hanya semata karena upah yang ia dapatkan, namun ia lebih mengutamakan bagaimana ia bisa bertahan hidup dilingkungan keras seperti Jakarta. Begitulah gambaran seorang Mondang, perempuan yang memiliki semangat yang tinggi dalam meraih impiannya dan mempunyai jiwa kemandirian yang sangat tinggi. Hal yang sama di ungkapkan oleh Qasim, bahwa perempuan harus memiliki kemandirianuntuk diri mereka,ia berkata dalam bukunya yang berjudul Tahrir al-MarAoah : Kemandirian yang berada pada wanita itu sama seperti yang dimiliki oleh laki-laki, karena dengan kemandirian, seseorang dapat mengangkat derajat mereka di dunia dan menjauhkannya dari kehinaan. Oleh karea itu kemandirian menjadi tuntutan dalam pendidikan wanita (Qasim, 2016:. Dapat disimpulkan bahwa dalam pemikirian belaiu, perempuan harus memiliki kemandirian untuk diri mereka guna menciptakan pendidikan yang bagus bagi mereka. Perempuan dan Kecerdasan Sebagai perempuan yang mempunyai semangat tinggi dalam meraih impiannya. Mondang tentu harus berusaha semaksimal mungkin dalam menjalani proses mencapai tujuannya tersebut. Seperti yang digambarkan pada cuplikan berikut. Sudah enam semester Mondang di Jakarta. Ia banyak memenuhi hari-hari baru di kampus dengan pergi ke perpustakaan. Ia sangat fokus dalam Transkip nilai sudah ia terima dan nilainya sangat memuaskan. Karna itu , sesampainya di kampus, ia pun langsung menyiapkan bukunya sebelum dosen masuk (Sinar, 2018: . Pada cuplikan tersebut menggambarkan bagaimana perjuangan seorang Mondang. Dengan semangat dan kerja keras nya dalam belajar du perguruan tinggi, ia mampu menjalaninya dengan baik. Disamping ia mampu membagi waktunya untuk bekerja, ia juga mampu menjalani kuliahnya dengan sangat baik. Dibuktikan dengan hasil belajar yang ia tempuh selama ini di dunia perkuliahan dengan nilai indeks prestasi mencapai 3,88. Sebuah pencapaian yang luar biasa yang dilakukan oleh seorang perempuan yang cerdas dan mempunyai ambisi besar dalam meraih cita-citanya. Dengan kecerdasan yang ia miliki, ia mampu menjalani perkuliahannya dengan sangat baik walaupun ia harus rela memiliki teman yang sedikit demi fokus pada perkuliahan yang ia jalani. Dalam bukunya Qasim yang berjudul Tahrir Al-MarAoah beliau mengatakan: kecerdasan adalah hak yang dapat di miliki oleh laki-laki maupun perempuan. Selama beberapa generasi, perempuan telah dirampas dan dilarang untuk berpendidikan, mereka dipaksa untuk menetap dalam keadaan kemunduran yang menyebabkan pada Dan pada umumnya masyarakat meyakini bahwa pendidikan perempuan merupakan sesuatu yang tidak harus dilakukan oleh mereka (Qasim, 2016: . SIMPULAN DAN SARAN Dalam penelitian tentang konsep wanita modern dalam novel Mondang versus Jakarta karya Sinar Yunita, peneliti menemukan beberapa fenomena yang terjadi didalamnya, yang mana sejalan dengan teori feminisme Qasim Amin. Beberapa kejadian tersebut antara lain: perempuan dan perjuangan pendidikan, perempuan dan keberanian, perempuan dan kemandirian, dan perempuan dan kecerdasan. Dari semua pembahasan tersebut sejalan dengan konsep wanita modern Qasim Amin, yang menggambarkan bahwa seorang perempuan berhak atas hidupnya dalam menentukan pendidikannya dan meraih segala keinginan dan impian- impiannya. Dalam artian, hak tersebut tidak hanya dimiliki oleh seorang laki-laki saja, namun perempuan pun berhak Dari penemuan tersebut, peneliti dapat menyimpulkan bahwa penggunaan teori feminisme Qasim Amin memiliki pengaruh besar sebagai teori dalam penelitian ini, yakni mengungkapkan bahwa perempuan berhak mempunyai kebebasan dalam menentukan hidupnya, khususnya dalam pendidikannya. Karena dengan pendidikan tersebut, seorang perempuan yang menjadi sekolah pertama bagi anak-anak yang kelak akan dilahirkannya, dengan pendidikan dapat menciptakan para generasi yang cerdas dan memiliki moral yang baik. Disamping itu, perempuan menjadi sangatlah penting dalam menentukan masa depan suatu bangsa. Oleh karenanya, mereka berhak diberikan kebebasan dalam menentukan pendidikannya dan meraih impian-impiannya. Dalam penyusunan artikel penelitian ini tentu ada beberapa kesulitan yang kami hadapi, diantaranya pencarian referensi yang sesuai dengan tema dan aplikasi dari aspekaspek tersebut dalam sebuah karya sastra. Untuk memahami materi tentang aspek-aspek kritik sastra secara rinci dan baik, penulis menyarankan agar membaca dan menggali referensi yang lebih banya mengenai materi ini. DAFTAR PUSTAKA