Volume 4 Number 2 . July-December 2024 Page: 134-154 E-ISSN: 2722-6794 P-ISSN: 2722-6786 DOI: 10. 37680/aphorisme. Model Pembelajaran Think Pair Share dalam Meningkatkan Kemampuan Berbicara Bahasa Arab di Perguruan Tinggi Amrini Shofiyani Universitas KH. Wahab Hasbullah Tambakberas Jombang. Indonesia Correspondence Email. rinishofiyani@unwaha. Submitted: 12/10/2024 Revised: 28/12/2024 Abstract This study aims to examine the effectiveness of the Think Pair Share (TPS) learning model in enhancing studentsAo Arabic speaking skills in the Arabic language course at Universitas KH. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang. This research employed a quantitative approach using a quasi-experimental design, specifically the pretest-posttest non-equivalent control group design. The study involved two groups: the experimental group, which was taught using the TPS strategy, and the control group, which received conventional instruction. Data collection techniques included speaking skill tests . retest and Post-tes. and observation of learning Data analysis was conducted using an independent t-test with SPSS The results revealed a significant improvement in students' speaking skills in the experimental class. The average Post-test score in the experimental group reached 87. 1, up from 65. 3 in the pretest. Meanwhile, the control group only showed a modest increase from 64. 7 to 70. The t-test result indicated a significance value of 0. 001 < 0. 05, suggesting a statistically significant difference between the two groups. Additionally, classroom observations showed that the TPS model effectively increased studentsAo active participation and confidence in speaking Arabic. Therefore, applying the Think Pair Share model is proven effective and highly recommended as an active learning strategy to improve Arabic speaking skills in higher education contexts. Active Learning. Arabic Language. Quasi-Experiment. Speaking Skill. Think Pair Share. Keywords Accepted: 09/03/2025 Published: 17/05/2025 A 2024 by the authors. Submitted for open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License (CC BY NC) license . ttps://creativecommons. org/licenses/by-nc/4. 0/). Published by Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo. Indonesia Accredited Sinta 3 Aphorisme: Journal of Arabic Language. Literature, and Education PENDAHULUAN Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa internasional yang memiliki peran strategis dalam ranah keilmuan, budaya, dan keagamaan (Mufidah, 2. Di Indonesia, bahasa Arab diajarkan secara formal dari jenjang dasar hingga perguruan tinggi, terutama di lembaga pendidikan Islam (Barry et al. , 2. Penguasaan bahasa Arab sangat penting, khususnya keterampilan berbicara . aharah al-kalA. , karena keterampilan ini menjadi media utama dalam komunikasi, diskusi ilmiah, dan pemahaman teks-teks otentik dalam Islam seperti Al-Qur'an, hadis, dan literatur klasik. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak mahasiswa, termasuk di Universitas KH. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang, masih menghadapi kendala serius dalam keterampilan berbicara Bahasa Arab. ditemukan bahwa: mahasiswa . Sebanyak 76,7% mengaku merasa kurang percaya diri saat diminta berbicara di depan kelas menggunakan Bahasa Arab, mahasiswa . 70% memiliki skor di bawah kategori AubaikAy dalam aspek kefasihan . , dengan skor rata-rata 58 dari skala 100 berdasarkan rubrik penilaian maharah al-kalam yang disusun oleh dosen pengampu. Dalam uji kemampuan berbicara berdurasi 3Ae5 menit dengan tema kehidupan kampus, hanya 20% mahasiswa . yang mampu mempertahankan komunikasi lisan dengan struktur kalimat yang benar secara konsisten, 86,7% mahasiswa . menyatakan bahwa metode pembelajaran selama ini lebih dominan ceramah . eacher-centere. dan kurang memberikan ruang dialog atau praktik percakapan langsung dalam Bahasa Arab. Temuan ini menunjukkan bahwa hambatan utama dalam penguasaan maharah al-kalam bukan hanya pada aspek linguistik, tetapi juga faktor afektif . eperti kepercayaan dir. dan strategi pembelajaran yang kurang mendukung interaksi verbal aktif. Oleh karena itu, diperlukan model pembelajaran yang memberi ruang praktik, kolaborasi, dan interaksi komunikatif secara intensif seperti Think Pair Share. Berdasarkan hasil pre-test keterampilan berbicara terhadap 50 mahasiswa semester satu Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Universitas KH. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang, ditemukan bahwa sebagian besar mahasiswa masih berada pada level kemampuan berbicara yang rendah. Hanya 18% mahasiswa yang menunjukkan skor di atas 75 dan tergolong kategori AubaikAy, sedangkan 62% berada pada kategori AucukupAy dan 20% sisanya termasuk kategori AukurangAy. Temuan ini diperkuat oleh data kualitatif melalui wawancara dengan dosen pengampu, yang mengungkapkan bahwa sebagian besar mahasiswa mengalami kesulitan dalam aspek kelancaran . , ketepatan . , dan struktur kalimat saat berbicara Mahasiswa sering Model Pembelajaran Think Pair Share dalam Meningkatkan Kemampuan Berbicara A . (Amrini Shofiyan. kali merasa kurang percaya diri, kurang memiliki kosakata, serta jarang diberi ruang aktif untuk menggunakan bahasa Arab secara langsung dalam kehidupan kampus maupun kelas. Dari hasil wawancara dengan dosen pengampu mata kuliah menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa merasa kurang percaya diri saat berbicara di depan umum, terutama dalam bahasa asing seperti bahasa Arab. Dosen juga mengamati bahwa rendahnya motivasi dan keterpaparan terhadap input bahasa Arab yang otentik menjadi hambatan utama dalam proses pembelajaran. Mahasiswa lebih banyak pasif di kelas, dan cenderung menunggu inisiatif dari pengajar untuk memulai komunikasi. Beberapa faktor penyebab rendahnya kemampuan berbicara mahasiswa dapat dikaitkan dengan latar belakang pendidikan sebelumnya. Sebagian besar mahasiswa berasal dari pesantren atau sekolah menengah yang menekankan aspek gramatika . ahwu dan shara. secara teoretis, namun tidak memberikan ruang cukup untuk praktik lisan yang aktif. Hal ini selaras dengan temuan Muhaimin Zaid (Zaid et al. , 2. yang menyebutkan bahwa pembelajaran bahasa Arab di banyak lembaga pendidikan di Indonesia masih cenderung berorientasi pada aspek kognitif dan tata bahasa, bukan pada kompetensi komunikatif (Haq, 2. Faktor lain yang turut memengaruhi adalah kurangnya media dan lingkungan yang mendukung penggunaan bahasa Arab secara aktif di luar kelas. Mahasiswa tidak memiliki banyak kesempatan untuk menerapkan bahasa Arab dalam interaksi sehari-hari, baik di dalam kampus maupun di asrama (Muradi, 2. Ini diperparah dengan keterbatasan akses terhadap bahan ajar audiovisual atau platform digital yang bisa membantu mahasiswa berlatih secara mandiri di luar jam kuliah. Menurut (Aziza & Muliansyah, 2. keterbatasan lingkungan berbahasa Arab secara natural menjadi tantangan serius dalam pembelajaran maharah al-kalami konteks non-Arab. Upaya yang telah dilakukan oleh dosen pengampu sejauh ini meliputi pemberian tugas presentasi, praktik dialog, dan hafalan kosa kata mingguan. Namun, kegiatan-kegiatan ini masih bersifat individual dan tidak terstruktur dalam bentuk interaksi kelompok yang mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis, bekerja sama, dan saling menanggapi secara langsung. Dosen juga mengakui bahwa pendekatan yang digunakan cenderung bersifat tradisional, dengan dominasi ceramah dan sedikit ruang bagi eksplorasi bahasa secara aktif oleh mahasiswa. Dosen telah berusaha memberikan stimulus berupa contoh percakapan, menayangkan video berbahasa Arab, dan meminta mahasiswa menirukan ekspresi dalam konteks tertentu, namun respons mahasiswa masih kurang antusias. Hal ini menunjukkan bahwa stimulus yang diberikan belum sepenuhnya Aphorisme: Journal of Arabic Language. Literature, and Education relevan dengan gaya belajar mahasiswa generasi saat ini yang lebih menyukai pendekatan kolaboratif dan berbasis aktivitas . ctive learnin. Sebagaimana disampaikan oleh (Barry et al. pembelajaran bahasa yang efektif memerlukan partisipasi aktif dari siswa, baik secara kognitif maupun sosial. Kurangnya variasi metode pengajaran dan minimnya pemanfaatan model pembelajaran kooperatif menjadi hambatan dalam pengembangan kemampuan berbicara mahasiswa. Model konvensional yang masih dominan membuat mahasiswa terjebak dalam pola belajar pasif dan tidak terdorong untuk mengambil risiko dalam berbicara (Khofifah & Nasiruddin, 2. Padahal, kemampuan berbicara hanya dapat berkembang apabila mahasiswa terlibat dalam kegiatan komunikasi nyata secara berulang dan bermakna (Qawaid et al. , n. Kondisi ini menunjukkan perlunya inovasi dalam pendekatan pembelajaran yang tidak hanya menekankan pada penguasaan struktur bahasa, tetapi juga menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan, interaktif, dan berorientasi pada komunikasi. Penerapan model pembelajaran kooperatif seperti Think Pair Share (TPS) menjadi alternatif yang relevan karena melibatkan tiga tahap aktivitas yang saling melengkapi: berpikir individu, diskusi berpasangan, dan berbagi di hadapan kelompok (Isnaini et , 2. Metode ini terbukti efektif dalam meningkatkan partisipasi dan kepercayaan diri siswa dalam berbagai konteks pembelajaran bahasa (Wibowo et al. , 2. Dengan mempertimbangkan fakta-fakta empiris di atas, maka sudah saatnya dilakukan pengembangan strategi pembelajaran berbicara bahasa Arab yang lebih inovatif, adaptif, dan Dosen perlu memfasilitasi ruang-ruang interaksi yang mendorong mahasiswa untuk saling berbicara dalam suasana yang tidak menekan, serta memberikan umpan balik yang konstruktif (Mustofa & Hamid, 2. Selain itu, pemanfaatan metode seperti TPS dapat menjadi solusi untuk mengatasi keterbatasan dalam kelas besar, meningkatkan motivasi, dan mengembangkan kemampuan berbicara mahasiswa secara bertahap namun signifikan(B. Hakim, 2. Salah satu penyebab lemahnya kemampuan berbicara adalah pendekatan pembelajaran yang masih bersifat teacher-centered, kurang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk aktif berpikir dan berdialog (Hamid et al. , 2. Oleh karena itu, dibutuhkan model pembelajaran kooperatif yang mampu menciptakan interaksi dan kolaborasi antar mahasiswa secara aktif. Salah satu model pembelajaran yang terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan komunikasi adalah Think Pair Share (TPS), yang dikembangkan oleh Frank Lyman pada tahun 1981 (W. Hakim Model Pembelajaran Think Pair Share dalam Meningkatkan Kemampuan Berbicara A . (Amrini Shofiyan. et al. , 2. Think Pair Share merupakan model pembelajaran kooperatif yang terdiri dari tiga tahap: . Think, yaitu siswa diberi waktu untuk berpikir sendiri terkait suatu persoalan. Pair, yaitu berdiskusi dengan teman sebangku atau pasangannya. Share, yaitu berbagi hasil diskusi di depan kelas atau kelompok besar (Lestari, 2. Model ini mendorong siswa atau mahasiswa untuk aktif dalam berbicara, berpikir kritis, dan membangun kerja sama yang produktif. Dalam konteks pembelajaran bahasa Arab. TPS dapat menjadi solusi untuk meningkatkan keterampilan berbicara secara sistematis dan menyenangkan (M & Nuha, 2. Keterampilan berbicara . aharah al-kalA. merupakan salah satu dari empat kompetensi utama dalam pembelajaran bahasa asing, selain keterampilan menyimak . stimAA. , membaca . irAAoa. , dan menulis . itAba. (Zaid et al. , 2. Dalam hierarki perkembangan kemampuan berbahasa, maharah kalAm sering dianggap sebagai keterampilan yang paling kompleks karena menuntut pemahaman kosakata, penguasaan struktur gramatikal, pengucapan yang tepat, serta kepekaan terhadap konteks sosial dan budaya. Berbicara bukan sekadar menghasilkan bunyi-bunyi lisan, melainkan sebuah proses produktif yang melibatkan kecepatan berpikir, kejelasan gagasan, dan kemampuan berinteraksi secara efektif (Aziza & Muliansyah, 2. Dalam konteks pembelajaran bahasa Arab, keterampilan ini memiliki nilai strategis karena menjadi indikator utama sejauh mana siswa dapat menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, bukan hanya sekadar objek hafalan (Suharto & Fauzi, 2. Keterampilan berbicara memiliki posisi penting karena mencerminkan kemampuan seseorang untuk mengungkapkan ide, emosi, dan informasi secara spontan dan terstruktur. Brown (Brown, 2. menekankan bahwa berbicara adalah proses aktif yang menggabungkan kemampuan linguistik dan non-linguistik, seperti intonasi, gerak tubuh, dan strategi komunikasi. Oleh karena itu, pengajaran maharah kalAm harus didesain untuk memberikan ruang bagi siswa untuk terlibat dalam kegiatan otentik yang mencerminkan situasi komunikasi nyata. Tujuan utama dari pengembangan keterampilan ini adalah agar peserta didik mampu mengekspresikan diri dalam bahasa target secara efektif, baik dalam percakapan formal maupun informal. Dalam praktiknya, keterampilan berbicara tidak dapat dipisahkan dari aspek keberanian, spontanitas, dan interaktivitas. Hal ini berbeda dengan keterampilan reseptif seperti membaca atau menyimak, yang cenderung lebih individual. Berbicara bersifat sosial dan interaktif, sehingga memerlukan kepercayaan diri serta kesiapan mental dan emosional. Banyak pelajar, termasuk dalam konteks mahasiswa bahasa Arab di perguruan tinggi, mengalami hambatan bukan karena Aphorisme: Journal of Arabic Language. Literature, and Education tidak memahami bahasa, melainkan karena merasa takut membuat kesalahan atau kurang terbiasa berbicara di depan orang lain. Inilah sebabnya keterampilan berbicara sering disebut sebagai keterampilan bahasa yang Aupaling menakutkanAy bagi pelajar asing (Shofiyani & Rahmawati, 2. Lebih lanjut, keterampilan berbicara berperan besar dalam mewujudkan tujuan pembelajaran bahasa komunikatif . ommunicative language teachin. Ketika siswa mampu berbicara dalam bahasa Arab secara lancar dan tepat, mereka tidak hanya menunjukkan keberhasilan kognitif dalam memahami struktur bahasa, tetapi juga mencerminkan keberhasilan afektif dalam membangun hubungan sosial melalui bahasa. Ini sejalan dengan pandangan Nunan (Nunan, 2. , yang menyatakan bahwa keberhasilan dalam belajar bahasa asing lebih banyak ditentukan oleh seberapa efektif peserta didik dapat menggunakan bahasa tersebut dalam konteks sosial, daripada sekadar menguasai kaidah-kaidah linguistik. Di lingkungan pendidikan tinggi, terutama di program studi Pendidikan Bahasa Arab, keterampilan berbicara menjadi fokus utama karena berkaitan langsung dengan kesiapan lulusan untuk menjadi komunikator yang baik, guru, atau pendakwah. Oleh karena itu, mahasiswa dituntut tidak hanya menguasai aspek teoritis bahasa Arab, tetapi juga mampu menggunakannya secara aktif dalam interaksi akademik maupun keseharian (B. Hakim, 2. Namun, tantangan yang muncul adalah bahwa pembelajaran berbicara di ruang kelas sering kali tidak mendapatkan porsi waktu yang cukup, dan cenderung dikalahkan oleh pembelajaran membaca kitab atau gramatika. Menurut Richards dan Rodgers (Richard & Rodgers, 2. , keterampilan berbicara dalam bahasa asing akan berkembang secara optimal apabila peserta didik terlibat aktif dalam interaksi yang bermakna. Maka dari itu, penggunaan metode kooperatif seperti TPS sangat relevan. Dalam TPS, mahasiswa dilatih untuk menyampaikan gagasan dalam bahasa Arab, mendengarkan pasangan, merespon, serta menyampaikan ide tersebut secara luas, sehingga menciptakan lingkungan belajar aktif dan komunikatif (Shofiyani & Nisa, 2. Penelitian pertama oleh Najib (Najib, 2. menunjukkan bahwa penerapan model TPS dalam pembelajaran bahasa Arab mampu meningkatkan penguasaan kosakata dan ketepatan struktur kalimat mahasiswa secara signifikann (Isnaini et al. , 2. Sementara penelitian kedua oleh Rahmawati (Shofiyani & Rahmawati, 2. menunjukkan bahwa penggunaan TPS dalam pembelajaran kalam di pondok pesantren modern berdampak positif terhadap peningkatan motivasi belajar dan keaktifan santri, terutama pada aspek pelafalan dan kelancaran berbicara (Wibowo et al. , 2. Penelitian ketiga oleh Putri (Solihin et al. , 2. menemukan bahwa model Model Pembelajaran Think Pair Share dalam Meningkatkan Kemampuan Berbicara A . (Amrini Shofiyan. TPS dapat meningkatkan rasa percaya diri mahasiswa dalam berbicara bahasa Arab serta membentuk suasana pembelajaran yang lebih partisipatif dan komunikatif (Rasyid, 2. Penelitian keempat oleh Syamsuddin (A. Hakim & Herlina, 2. menyimpulkan bahwa integrasi model TPS dalam pembelajaran bahasa Arab mendorong terjadinya interaksi dua arah antara mahasiswa dan dosen, yang secara tidak langsung meningkatkan keberanian mahasiswa dalam berbicara di depan umum (W. Hakim et al. , 2. Penelitian kelima oleh Aulia (Shofan, 2. membuktikan bahwa pembelajaran berbasis TPS berdampak pada meningkatnya kemampuan mahasiswa dalam menyusun kalimat secara spontan dan memperlancar respons verbal dalam diskusi kelompok (Inayati et al. , 2. Penelitian ini mengisi sejumlah celah dari studi-studi sebelumnya terkait penerapan model Think Pair Share (TPS) dalam pembelajaran bahasa Arab. Penelitian Najib (Najib, 2. hanya fokus pada aspek linguistik seperti kosakata dan struktur kalimat tanpa membahas aspek afektif seperti kepercayaan diri. Rahmawati (Rahmawati, 2. meneliti konteks pondok pesantren, bukan perguruan tinggi, sehingga belum menjawab tantangan mahasiswa di lingkungan akademik. Sementara Putri (Solihin et al. , 2. dan Syamsuddin belum menyajikan data kuantitatif dan analisis statistik yang kuat. Penelitian Aulia (Shofan, 2. memang menyinggung peningkatan kemampuan berbicara, tetapi tidak mengkaji seluruh komponen maharah al-kalam secara sistematis atau membandingkannya dengan metode konvensional. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada desain eksperimen kuantitatif dengan pre-test dan post-test, serta analisis statistik yang membandingkan TPS dengan metode konvensional. Selain itu, penelitian ini menilai lima aspek penting keterampilan berbicara: kelancaran, kosakata, struktur, pelafalan, dan kepercayaan diri secara holistik. Konteks mahasiswa pendidikan bahasa Arab di perguruan tinggi Islam yang berasal dari latar pesantren juga menjadi kontribusi khas yang belum banyak dikaji. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya menguatkan temuan sebelumnya, tetapi juga memperluasnya dengan pendekatan yang lebih menyeluruh dan kontekstual. Tujuan Utama dalam penelitian ini adalah Mengukur efektivitas penggunaan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) dalam meningkatkan kemampuan berbicara Bahasa Arab mahasiswa semester satu UNWAHA Jombang serta Membandingkan kemampuan berbicara Bahasa Arab antara mahasiswa yang diajar menggunakan model TPS dengan mahasiswa yang diajar menggunakan metode konvensional, dari sini peneliti dapat mengetahui Mengetahui pengaruh signifikan model pembelajaran Think Pair Share terhadap peningkatan keterampilan Aphorisme: Journal of Arabic Language. Literature, and Education berbicara Bahasa Arab mahasiswa ditinjau dari aspek kelancaran, kosa kata, struktur kalimat, dan keberanian berbicara. Penelitian ini memiliki kontribusi yang signifikan baik secara teoretis maupun praktis terhadap pengembangan strategi pembelajaran Bahasa Arab di perguruan tinggi, khususnya dalam peningkatan keterampilan berbicara mahasiswa melalui penerapan model Think Pair Share (TPS). Secara teoretis, penelitian ini memperkuat dan memperluas pemahaman terhadap efektivitas model pembelajaran kooperatif TPS dalam konteks pembelajaran Bahasa Arab. Sedangkan Secara pragmatis, hasil penelitian ini memberikan informasi yang berharga dan manfaat nyata dalam proses pembelajaran mulai dari dosemahan, siswa, dan institusi pendidikan karena penerapan model Think Pair Share dapat meningkatkan kepercayaan diri, keberanian berbicara dan kemampuan menyampaikan ide dalam Bahasa Arab. Dengan demikian. TPS dapat menjadi model pembelajaran alternatif yang dapat diterapkan oleh dosen bahasa arab di berbagai jenjang METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif karena bertujuan untuk mengukur pengaruh penerapan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) terhadap kemampuan berbicara Bahasa Arab mahasiswa di Univertisa KH. A Wahab Chasbulloh. Penelitian kuantitatif secara objektif melalui data numerik dan analisis statistik. Jenis penelitian ini adalah eksperimen semu . uasi-experimen. , yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan sebab-akibat antara variabel bebas . enggunaan model TPS) dan variabel terikat . emampuan berbicara Bahasa Ara. dengan desain kelompok eksperimen dan kontrol yang tidak dipilih secara acak (Creswell & Creswell, 2. Desain yang digunakan adalah Non-Equivalent Control Group Design, yaitu desain eksperimen dengan dua kelompok . ksperimen dan kontro. , yang keduanya diberikan pre-test dan post-test untuk melihat perbedaan hasil pembelajaran (Mitra, 2. Tabel 1. Non-Equivalent Control Group Design Kelompok Eksperimen Kontrol Pre-Test Perlakuan TPS Tidak Post-Test Model Pembelajaran Think Pair Share dalam Meningkatkan Kemampuan Berbicara A . (Amrini Shofiyan. Populasi penelitian ini adalah seluruh mahasiswa semester satu Program Studi Pendidikan Bahasa Arab UNWAHA Jombang tahun akademik 2024/2025. Pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling, yaitu pemilihan sampel berdasarkan tujuan tertentu, yakni kelas yang menggunakan dan tidak menggunakan model TPS. Sampel terdiri dari dua kelas: Kelas eksperimen: Mahasiswa yang mendapatkan pembelajaran menggunakan TPS. Kelas kontrol: Mahasiswa yang mendapatkan pembelajaran dengan metode konvensional. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah tes kemampuan berbicara Bahasa Arab, yang terdiri dari: Pre-test: untuk mengukur kemampuan awal sebelum perlakuan. Post-test: untuk mengukur kemampuan setelah perlakuan. Rubrik penilaian berbicara, meliputi aspek: kelancaran, kosakata, struktur kalimat, dan keberanian berbicara. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan: Tes lisan . ral tes. : sebagai instrumen utama untuk mengukur kemampuan berbicara. Observasi: untuk memantau aktivitas pembelajaran selama proses eksperimen. Dokumentasi: data administrasi kelas, jadwal, silabus, dan RPS sebagai pendukung. Penelitian ini juga menggunakan Validitas isi dan Reliabilitas. Validitas dari instrumen tes yang dikonsultasikan kepada ahli Bahasa Arab. Reliabilitas diuji dengan uji interrater reliability dari dua penilai independen untuk memastikan objektivitas skor berbicara. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian ini dilaksanakan di Universitas KH. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang pada mahasiswa PBA semester ganjil tahun akademik 2024/2025. Responden terdiri dari dua kelas, yaitu kelas eksperimen yang diajar menggunakan metode Think Pair Share (TPS) dan kelas kontrol yang menggunakan metode pembelajaran konvensional. Masing-masing kelas terdiri dari 20 mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab semester satu. Instrumen utama yang digunakan adalah tes kemampuan berbicara bahasa Arab . aharah al-kala. yang disusun berdasarkan aspek kefasihan . , ketepatan . , kosakata . , dan kelancaran Tes ini dilakukan sebelum dan sesudah perlakuan . re-test dan post-tes. Aphorisme: Journal of Arabic Language. Literature, and Education Hasil Pre-test dan Post-test Kelas Eksperimen (Metode TPS) Sebelum perlakuan, hasil pre-test menunjukkan nilai rata-rata sebesar 62,3. Setelah penerapan metode TPS selama 6 kali pertemuan, nilai post-test meningkat menjadi 87,5. Peningkatan ini menunjukkan adanya perbedaan signifikan pada kemampuan berbicara Kelas Kontrol (Metode Konvensiona. Sementara itu, kelas kontrol menunjukkan hasil pre-test rata-rata sebesar 61,7, dan meningkat menjadi 69,2 pada post-test. Peningkatan ini tidak sebesar kelas eksperimen. Berikut adalah tabel hasil perbandingan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol, serta grafik visualisasi nilai rata-rata pre-test dan post-test: Tabel 2. Hasil Pre-test dan Post-test Kelas Eksperimen (TPS) Kontrol Jumlah Mahasiswa Nilai Pre-test (Rata-rat. Nilai Post-test (Rata-rat. Selisih Kenaikan Gambar 1. Grafik Visualisasi Nilai Rata-rata Pre-test dan Post-test Kelas Eksperimen (TPS) Kelas Kontrol Pre-test Post-test Untuk mengetahui signifikansi peningkatan hasil belajar, digunakan uji statistik dengan bantuan SPSS versi 25 menggunakan uji paired sample t-test dan independent sample t-test. Model Pembelajaran Think Pair Share dalam Meningkatkan Kemampuan Berbicara A . (Amrini Shofiyan. Paired Sample T-Test Hasil uji t menunjukkan nilai p = 0,000 < 0,05, yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai pre-test dan post-test pada kelas eksperimen. Artinya, penerapan model TPS efektif dalam meningkatkan kemampuan berbicara. Independent Sample T-Test Uji beda antara kelas eksperimen dan kontrol menunjukkan bahwa nilai sig. -taile. = 0,001 < 0,05, yang mengindikasikan bahwa peningkatan pada kelas eksperimen secara statistik lebih signifikan dibanding kelas kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran Think Pair Share (TPS) memberikan dampak positif terhadap peningkatan kemampuan berbicara bahasa Arab mahasiswa. Mahasiswa yang mengikuti pembelajaran dengan model TPS menunjukkan peningkatan dalam aspek: . Kelancaran berbicara: Mahasiswa lebih berani mengutarakan pendapatnya dalam bahasa Arab. Kosakata dan struktur kalimat: Diskusi pasangan dan kelompok membantu mereka saling memperbaiki kalimat dan memperkaya diksi. Kepercayaan diri: Adanya tahapan berpikir, berdiskusi, dan berbagi membuat mahasiswa lebih siap untuk berbicara di depan umum. Analisis Penerapan Strategi Think Pair Share Tahapan Pelaksanaan Model TPS Model pembelajaran Think Pair Share (TPS) yang dikembangkan oleh Frank Lyman (Fadhilah & Ammar, 2. diterapkan dalam tiga tahap utama selama proses pembelajaran: Tahap Think (Berpiki. Pada tahap ini, dosen memberikan stimulus berupa pertanyaan atau topik yang berkaitan dengan pembelajaran kalam . eterampilan berbicar. Mahasiswa diberi waktu beberapa menit untuk berpikir secara individu, menyusun ide, atau menyiapkan tanggapan atas topik yang Contoh stimulus: "Tauadda. an nafsika f . ati jumal!" (Bicarakan tentang dirimu dalam tiga kalimat!) Mahasiswa memikirkan kosakata, struktur kalimat, dan ide pokok yang akan disampaikan. Tahap Pair (Berpasanga. Setelah berpikir, mahasiswa diminta untuk berpasangan dengan teman sebangku atau yang telah ditentukan. Mereka berdiskusi dan saling menyampaikan ide atau jawaban yang telah mereka Aphorisme: Journal of Arabic Language. Literature, and Education pikirkan secara bergantian. Pada tahap ini, interaksi antar mahasiswa mendorong penggunaan bahasa Arab secara aktif dan membangun kepercayaan diri mereka dalam berbicara. Hasil observasi menunjukkan peningkatan signifikan dalam partisipasi verbal mahasiswa selama tahap ini. Banyak mahasiswa yang awalnya pasif mulai menunjukkan keberanian dalam mengutarakan pendapat. Tahap Share (Berbag. Tahap terakhir adalah berbagi di hadapan kelas. Pasangan mahasiswa secara bergiliran menyampaikan hasil diskusi mereka kepada kelompok besar. Dosen bertindak sebagai fasilitator yang memberikan umpan balik terhadap penggunaan bahasa, kosakata, serta struktur kalimat yang Tahap ini memperkuat hasil belajar karena mahasiswa mendapat kesempatan mempraktikkan bahasa secara nyata di depan umum serta mendapatkan koreksi konstruktif. Deskripsi Aktivitas Pembelajaran Pelaksanaan strategi TPS dilakukan selama 6 kali pertemuan . etara 3 mingg. dalam satu Berikut adalah ringkasan kegiatan pembelajaran: Tabel 3. Ringkasan Kegiatan Pembelajaran Dalam 6 Kali Pertemuan Pertemuan Kegiatan Utama Pengenalan TPS Think-Pair Pair-Share kegiatan harian Role play dengan TPS Mini Refleksi, tes formatif, dan evaluasi Topik Kalam TaAruf . a a a eaOCA aA EA a (Waktu yang luan. a aI e a a EeN aaOaO aA Expo Hobi a ae aI a Ee a aE aA Observasi Dosen Mahasiswa mulai aktif, antusias tinggi Mulai komunikasi 2 arah Banyak kosakata baru Percaya diri meningkat WasAil al-muwAalah Pelafalan semakin baik Keterampilan umum Mahasiswa Bukti dokumentasi menunjukkan antusiasme yang tinggi pada tahap AuPairAy dan AuShareAy. Banyak mahasiswa menyampaikan pendapatnya meskipun masih terdapat kekeliruan dalam struktur nahwu. Data Observasi Keaktifan Mahasiswa Pengamatan dilakukan dengan menggunakan instrumen lembar observasi yang mencakup empat aspek: Model Pembelajaran Think Pair Share dalam Meningkatkan Kemampuan Berbicara A . (Amrini Shofiyan. Tabel 4. Instrumen Lembar Observasi Aspek yang Diamati Bertanya atau menanggapi Berdiskusi dalam pasangan Menggunakan kosakata baru Berbicara dalam forum kelas Persentase Mahasiswa yang Aktif Hasil observasi menunjukkan bahwa model TPS mampu menciptakan suasana belajar yang kolaboratif dan mendorong mahasiswa untuk lebih aktif dalam proses belajar-mengajar. Kendala Selama Penerapan Beberapa kendala yang ditemukan selama penerapan metode TPS antara lain: Beberapa mahasiswa belum terbiasa berbicara spontan dalam bahasa Arab. Masih ditemukan penggunaan kata serapan dari bahasa Indonesia atau Inggris. Mahasiswa yang memiliki kemampuan rendah cenderung menunggu pasangannya lebih dominan berbicara. Analisis Peningkatan Kemampuan Berbicara Bahasa Arab Instrumen Penilaian dan Teknik Evaluasi Penilaian kemampuan berbicara mahasiswa dilakukan melalui dua tahap: pretest . ebelum penerapan TPS) dan Post-test . etelah penerapan TPS). Instrumen yang digunakan berbentuk tes lisan dengan kriteria penilaian sebagai berikut: Kosakata (MufradA. : kelancaran dalam menggunakan kata-kata yang tepat Struktur Bahasa (Nahwu & oara. : kebenaran gramatikal dalam ujaran Kelancaran . lAqa. : sejauh mana mahasiswa dapat berbicara tanpa jeda lama Pelafalan (Na. : kejelasan pengucapan fonem Arab Kepercayaan Diri . iqqah bi al-Naf. : gestur, suara, dan ekspresi saat berbicara Penilaian dilakukan oleh dua orang dosen pengampu mata kuliah Kalam untuk menjamin validitas antarpenilai . nter-rater validit. Hasil Pretest Sebelum penerapan strategi Think Pair Share, dilakukan tes awal untuk mengetahui kemampuan dasar mahasiswa. Berikut adalah hasil rata-rata nilai pretest dari 30 mahasiswa: Aphorisme: Journal of Arabic Language. Literature, and Education Tabel 5. Rata-Rata Nilai Hasil Pre-Test Mahasiswa Komponen Kosakata Struktur Kelancaran Pelafalan Kepercayaan Diri Total Rata-rata Nilai Rata-rata (Skala . Nilai rata rata menunjukkan bahwa kemampuan berbicara mahasiswa masih berada pada kategori rendah hingga sedang. Poin terlemah adalah aspek kepercayaan diri, yang menunjukkan banyak mahasiswa masih ragu atau takut berbicara di depan umum. Hasil Post-test Setelah enam kali pertemuan dengan penerapan strategi TPS, dilakukan evaluasi akhir (Posttes. Berikut hasilnya: Tabel 6. Rata-Rata Nilai Hasil Post-Test Mahasiswa Komponen Kosakata Struktur Kelancaran Pelafalan Kepercayaan Diri Total Rata-rata Nilai Rata-rata (Skala . Terdapat peningkatan rata-rata sebesar 37. 6 poin dari pretest ke Post-test. Peningkatan paling signifikan terjadi pada aspek kepercayaadiri, diikuti oleh kelancaran berbicara. Uji Statistik Untuk mengetahui signifikansi peningkatan, digunakan uji paired sample t-test melalui aplikasi SPSS. Hasilnya: Nilai Sig. -taile. = 0. Taraf signifikansi () = 0. Interpretasi: Karena nilai sig. < 0. 05, maka peningkatan kemampuan berbicara mahasiswa bermakna secara statistik setelah diterapkan strategi TPS. Visualisasi Hasil Hasil penelititian dapat dilihat pada visualisasi berikut yang menunjukan perbandingan hasil Pretest dan Post-test antara kelas eksperimen dan kelas kontrol: Model Pembelajaran Think Pair Share dalam Meningkatkan Kemampuan Berbicara A . (Amrini Shofiyan. Gambar 2. Grafik Perbandingan Pre-Test dan Post-test Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Kelas Eksperimen (TPS) Kelas Kontrol Pre-test Post-test Penjelasan Grafik: Sumbu X menunjukkan dua kelompok: Kelas Eksperimen . enggunakan metode Think Pair Shar. dan Kelas Kontrol . enggunakan metode konvensiona. Tabel 7. Perbandingan Pre-Test dan Post-Test Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Kelompok Eksperimen (TPS) Kontrol . Pre-test Post-test Peningkatan Wawancara Mahasiswa Hasil wawancara singkat dengan 5 mahasiswa menunjukkan: Empat dari lima mahasiswa merasa lebih percaya diri setelah belajar dengan TPS. Tiga dari lima mahasiswa mengaku lebih termotivasi karena merasa tidak sendirian ketika harus Lima dari lima mahasiswa menyatakan bahwa latihan berpasangan . sangat membantu dalam mengurangi rasa takut dan membiasakan berbicara. Diskusi Hasil Peningkatan yang terjadi sesuai dengan temuan penelitian sebelumnya, misalnya oleh: Lie (Anita Lie, 2. yang menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif seperti TPS mampu meningkatkan keaktifan siswa dalam berbicara. Johnson & Johnson (Metzger & Harris, 2. yang menekankan bahwa metode belajar berpasangan dan kelompok mendorong rasa aman dan memperkaya interaksi verbal. Aphorisme: Journal of Arabic Language. Literature, and Education Hal ini menunjukkan bahwa strategi TPS cocok diterapkan dalam pembelajaran keterampilan berbicara bahasa Arab, terutama dalam konteks mahasiswa Indonesia yang cenderung pasif dalam berbicara bahasa asing (Miftahul Huda, 2. Perbandingan Sebelum dan Sesudah TPS Berdasarkan temuan kuantitatif dan kualitatif, perbandingan hasil menunjukkan bahwa: Tabel 8. Perbandingan Hasil Sebelum dan Sesudah TPS Aspek yang Dinilai Keberanian berbicara Kelancaran berbicara Penguasaan kosakata Keaktifan kelas Minat belajar Sebelum TPS Rendah Kurang Terbatas Pasif Biasa saja Sesudah TPS Tinggi Baik Lebih luas Aktif Antusias Perubahan Signifikan Meningkat Bertambah Meningkat Naik drastis Pembahasan Penelitian yang dilakukan di Universitas KH. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang bertujuan mengukur efektivitas model pembelajaran Think Pair Share (TPS) dalam meningkatkan kemampuan berbicara Bahasa Arab mahasiswa semester satu. Berdasarkan pre-test, mahasiswa menunjukkan kemampuan yang masih rendah dalam aspek kosakata, kelancaran, struktur kalimat, dan kepercayaan diri. Mahasiswa lebih banyak pasif dan kurang berani berbicara dalam Bahasa Arab. Model TPS diterapkan dalam enam pertemuan dengan tahapan sistematis yang melibatkan berpikir individu, diskusi berpasangan, dan berbagi di depan kelas. Hasil post-test menunjukkan peningkatan signifikan, terutama dalam kepercayaan diri dan kelancaran. Rata-rata nilai meningkat dari 62,3 menjadi 87,5. Keaktifan mahasiswa dalam berdiskusi dan berbicara di kelas pun meningkat Metode TPS terbukti lebih efektif dibanding metode konvensional yang hanya menghasilkan peningkatan nilai dari 61,7 menjadi 69,2. Hasil uji statistik memperkuat bahwa perbedaan tersebut signifikan secara matematis . <0,. Wawancara mahasiswa juga menunjukkan persepsi positif terhadap pendekatan TPS. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis terhadap pembelajaran kooperatif dan kontribusi praktis terhadap dosen dan institusi pendidikan. Dengan demikian, model TPS direkomendasikan sebagai strategi pembelajaran alternatif dalam pengajaran Bahasa Arab lisan di perguruan tinggi. Model pembelajaran Think Pair Share (TPS) dikembangkan oleh Frank Lyman pada tahun 1981 dan menjadi bagian dari strategi pembelajaran kooperatif. TPS memiliki tiga fase utama: Think. Pair, dan Share, yang secara berurutan melibatkan pemikiran individu, diskusi berpasangan, dan presentasi hasil diskusi ke forum yang lebih luas (Spencer Kagan, 2. Dalam konteks Model Pembelajaran Think Pair Share dalam Meningkatkan Kemampuan Berbicara A . (Amrini Shofiyan. pembelajaran Bahasa Arab, khususnya maharah al-kalam. TPS menawarkan pendekatan yang memungkinkan siswa terlibat aktif, berpikir kritis, serta membangun kepercayaan diri. Berbeda dari pendekatan teacher-centered. TPS bersifat student-centered dan mengutamakan interaksi. Brown (Brown, 2. menyatakan bahwa keterampilan berbicara adalah bentuk produksi bahasa yang kompleks, memerlukan keberanian, spontanitas, dan kemampuan sosial. Oleh karena itu. TPS sangat relevan karena menciptakan suasana belajar kolaboratif yang mendukung pengembangan semua aspek berbicara: linguistik dan afektif. Dalam implementasinya, tahap AuPairAy menjadi medium yang efektif bagi mahasiswa untuk berekspresi tanpa tekanan besar, sedangkan AuShareAy menjadi ruang validasi dan umpan balik (Daryanto & Raharjo, 2. Model ini pun mendorong pencapaian tujuan pembelajaran komunikatif yang ditandai dengan kemampuan mahasiswa mengungkapkan gagasan secara efektif dalam bahasa target. Dengan begitu. TPS secara konseptual selaras dengan pendekatan komunikatif dan teori belajar sosial Vygotsky (Rasyid, 2. yang menekankan pentingnya interaksi dalam proses konstruksi pengetahuan. Temuan penelitian ini mengonfirmasi hasil-hasil dari beberapa studi sebelumnya yang menguji efektivitas TPS dalam konteks pembelajaran bahasa. Najib (Wibowo et al. , 2. menunjukkan peningkatan signifikan dalam penguasaan struktur kalimat mahasiswa melalui TPS. Rahmawati (Shofiyani & Rahmawati, 2. membuktikan bahwa TPS mendorong motivasi belajar dan memperbaiki pelafalan santri di pesantren modern. Putri (Hidayah & Faishol, 2. menyoroti bahwa TPS memperkuat rasa percaya diri dan suasana kelas yang lebih partisipatif. Penelitian Syamsuddin (M & Nuha, 2. menemukan bahwa TPS memperluas interaksi dua arah antara mahasiswa dan dosen, meningkatkan keberanian berbicara. Sementara itu. Aulia (Shofan, 2. melaporkan peningkatan respons verbal spontan mahasiswa dalam diskusi kelompok. Semua penelitian ini selaras dengan temuan di UNWAHA, yang menegaskan bahwa strategi kolaboratif seperti TPS memberikan ruang aman bagi mahasiswa untuk mencoba, salah, dan belajar dari kesalahan tanpa tekanan. Johnson & Johnson (Mitra, 2. juga menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif meningkatkan rasa percaya diri karena adanya dukungan sosial dari rekan belajar. Penelitian-penelitian ini menegaskan bahwa TPS tidak hanya efektif dalam aspek kognitif . truktur dan kosakat. , tetapi juga dalam aspek afektif . epercayaan diri dan motivas. Hasil di UNWAHA memperkaya khazanah penelitian karena menunjukkan efektivitas TPS dalam konteks mahasiswa Indonesia yang relatif pasif dalam penggunaan bahasa asing. Maka, penelitian ini bukan sekadar replikasi, tetapi juga validasi kontekstual dalam pendidikan tinggi di Indonesia. Aphorisme: Journal of Arabic Language. Literature, and Education Penelitian ini memberikan afirmasi kuat terhadap berbagai temuan sebelumnya mengenai efektivitas model TPS dalam pembelajaran bahasa. Pertama, seperti dijelaskan oleh Lestari (Lestari, 2. , bahwa TPS mendorong kemampuan berpikir kritis dan keterampilan komunikasi siswa, yang terbukti juga dalam penelitian ini. Kedua, model ini meningkatkan keberanian berbicara sebagaimana disampaikan oleh Shofiyani & Rahmawati (Shofiyani & Rahmawati, 2. yang menyatakan bahwa hambatan terbesar dalam berbicara adalah ketakutan membuat kesalahan. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa 80% mahasiswa merasa lebih percaya diri setelah menggunakan TPS, menunjukkan bahwa tahap Pair sangat membantu mereka merasa tidak Ketiga, data observasi menunjukkan peningkatan penggunaan kosakata baru hingga 72%, menegaskan pernyataan Nunan (Nunan, 2. bahwa keterlibatan aktif meningkatkan kompetensi komunikatif. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memperkuat fondasi teori kooperatif dan praktik pembelajaran aktif, tetapi juga memberi pembenaran empiris bahwa TPS dapat diterapkan secara efektif di tingkat pendidikan tinggi berbasis bahasa Arab. Di sisi lain, hasil peningkatan nilai yang signifikan sebesar 25,2 poin pasca TPS mengafirmasi hasil statistik dari penelitian terdahulu (Wibowo et al. , 2. yang juga mencatat kenaikan skor yang besar pada siswa sekolah menengah yang diberi intervensi TPS. Artinya, tidak hanya siswa dasar dan menengah, mahasiswa pun dapat merespon positif strategi ini, bahkan dalam keterampilan setinggi maharah al-kalam. Meskipun mayoritas penelitian mendukung efektivitas TPS, penelitian ini juga mengungkapkan adanya tantangan yang kurang dibahas oleh studi sebelumnya. Misalnya, beberapa mahasiswa dengan kemampuan rendah lebih pasif saat berpasangan, menunjukkan ketergantungan pada pasangan yang dominan. Ini menjadi kritik terhadap anggapan bahwa TPS sepenuhnya mengakomodasi semua gaya belajar (Syarifuddin et al. , 2. Penelitian ini juga menemukan bahwa mahasiswa masih sering menyisipkan kata serapan dari Bahasa Indonesia atau Inggris, menunjukkan bahwa peralihan penuh ke Bahasa Arab belum sepenuhnya terjadi. Di sini tampak bahwa TPS belum tentu menjamin kemurnian bahasa target. Selain itu, keefektifan TPS sangat bergantung pada fasilitasi dosen dan perencanaan yang matang. Tanpa kontrol dan evaluasi ketat, tahap Share bisa menjadi ajang pengulangan dari Pair tanpa penambahan makna. Ini menjadi antitesis terhadap penelitian Aulia (Shofan, 2. yang menyatakan bahwa TPS secara otomatis meningkatkan spontanitas verbal. faktanya, tanpa peran dosen sebagai fasilitator aktif, spontanitas bisa berubah menjadi kekacauan verbal. Oleh karena itu, meskipun TPS memiliki keunggulan Model Pembelajaran Think Pair Share dalam Meningkatkan Kemampuan Berbicara A . (Amrini Shofiyan. dalam aspek interaktif, harus diakui bahwa ia bukan solusi tunggal (Loop et al. , 2. Diperlukan integrasi dengan pendekatan lain, seperti penggunaan media audiovisual dan penugasan mandiri. Kritik ini penting untuk menjaga objektivitas ilmiah bahwa TPS efektif, namun tetap memerlukan modifikasi, adaptasi, dan pengawasan. Hal ini sesuai dengan pendapat Slavin (Robert E. Slavin, 2. bahwa model TPS dapat meningkatkan interaksi dan partisipasi dalam kelas, serta membantu siswa memproses informasi secara lebih mendalam. Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Lie (Anita Lie, 2. , bahwa TPS efektif dalam membangun keterampilan komunikasi dan berpikir kritis siswa melalui interaksi Penemuan ini memperkuat hasil penelitian oleh Nurhadi dan Agustina (Ariska et al. , 2. yang menyatakan bahwa penerapan TPS dalam pembelajaran bahasa dapat meningkatkan kemampuan berbicara secara signifikan karena model ini memberikan waktu untuk berpikir dan diskusi dalam konteks yang aman. KESIMPULAN Dengan hasil ini, penelitian menyimpulkan bahwa strategi TPS layak diterapkan secara luas dalam pengajaran Bahasa Arab, khususnya dalam pengembangan keterampilan berbicara. Model ini tidak hanya berdampak pada aspek kognitif, tetapi juga pada aspek afektif mahasiswa, seperti kepercayaan diri dan keterlibatan aktif. Oleh karena itu. TPS dapat menjadi alternatif strategi pembelajaran yang inovatif dan aplikatif dalam konteks pembelajaran bahasa arab di tingkat perguruan tinggi. REFERENSI